
Magang Berdampak
Program magang untuk menyiapkan lulusan yang adaptif, siap kerja, dan terhubung dengan kemitraan lintas sektor.
Selengkapnya
Diktisaintek Berdampak adalah gerakan strategis pendidikan tinggi untuk menjawab kebutuhan masyarakat dan pembangunan bangsa melalui ilmu pengetahuan, teknologi, riset, inovasi, dan pengabdian.
Bagi Universitas Negeri Gorontalo, semangat ini memperkuat peran kampus sebagai ruang belajar, pusat pengetahuan, dan mitra pembangunan yang menghasilkan manfaat langsung bagi Gorontalo, kawasan Teluk Tomini, dan Indonesia.
Program unggulan menjadi jalur bagi mahasiswa, dosen, organisasi kemahasiswaan, dan mitra untuk mengembangkan kapasitas sekaligus memberi kontribusi langsung.

Program magang untuk menyiapkan lulusan yang adaptif, siap kerja, dan terhubung dengan kemitraan lintas sektor.
Selengkapnya
Penguatan kapasitas organisasi kemahasiswaan melalui pembinaan, pengabdian, dan pemberdayaan masyarakat.
Selengkapnya
Dukungan pengembangan usaha mahasiswa melalui pendanaan, pendampingan, dan pelatihan usaha.
Selengkapnya
Akselerasi gagasan kreatif dan inovatif mahasiswa untuk berkontribusi pada ilmu pengetahuan dan masyarakat.
Selengkapnya
Jalur percepatan akademik bagi sarjana unggul untuk menempuh pendidikan magister menuju doktor.
Selengkapnya
Kolaborasi sosial yang menghubungkan riset, inovasi, dan kebutuhan masyarakat agar solusi kampus lebih aplikatif.
Selengkapnya
GORONTALO - Sebagai daerah penghasil jagung terbesar di kawasan Timur Indonesia, Gorontalo sering kali dihadapkan pada masalah klasik: tumpukan limbah tongkol jagung yang hanya berakhir sebagai sampah atau bahan bakar tradisional. Namun, di tangan tim peneliti Universitas Negeri...

Hipertensi atau tekanan darah tinggi masih menjadi salah satu ancaman kesehatan terbesar di Indonesia. Penyakit ini sering disebut sebagai silent killer karena berkembang tanpa gejala yang jelas, tetapi diam-diam dapat merusak organ vital. Jutaan orang hidup dengan tekanan darah tinggi tanpa menyadari bahwa kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko stroke, serangan jantung, gagal ginjal, hingga kematian mendadak.Selama ini, pengobatan hipertensi identik dengan konsumsi obat-obatan. Padahal, para ahli kini semakin menekankan pentingnya pendekatan yang lebih menyeluruh. Selain terapi medis, perubahan gaya hidup dan terapi komplementer dapat membantu menjaga tekanan darah tetap terkendali. Salah satu pendekatan yang mulai menarik perhatian adalah pijat kaki menggunakan minyak esensial lavender.Sebuah penelitian yang dilakukan oleh akademisi Fakultas Kedokteran Universitas Negeri Gorontalo memberikan bukti bahwa terapi sederhana ini berpotensi membantu menurunkan tekanan darah pada penderita hipertensi.Terapi Sederhana dengan Hasil MenjanjikanPenelitian dilakukan di Puskesmas Kabila dengan melibatkan 30 pasien hipertensi. Para peserta dibagi ke dalam dua kelompok. Kelompok pertama mendapatkan terapi pijat kaki menggunakan minyak lavender selama 20 menit, sedangkan kelompok lainnya berperan sebagai kelompok kontrol yang tidak memperoleh perlakuan khusus.Hasil penelitian menunjukkan perubahan yang cukup menarik. Pada kelompok yang menerima terapi, rata-rata tekanan darah sistolik menurun dari 156,20 mmHg menjadi 150,20 mmHg. Sementara itu, tekanan darah diastolik turun dari 92 mmHg menjadi 81 mmHg.Sebaliknya, kelompok kontrol tidak menunjukkan perubahan tekanan darah yang berarti.Analisis statistik memperkuat temuan tersebut. Penurunan tekanan darah pada kelompok yang mendapatkan terapi terbukti signifikan dengan nilai p sebesar 0,001. Bahkan ketika dibandingkan langsung dengan kelompok kontrol, perbedaan hasilnya tetap bermakna secara statistik.Temuan ini menunjukkan bahwa kombinasi pijat kaki dan aromaterapi lavender memiliki potensi sebagai terapi pendamping dalam pengelolaan hipertensi.Mengapa Pijat Kaki Dapat Menurunkan Tekanan Darah?Sekilas, pijat kaki mungkin hanya dianggap sebagai aktivitas relaksasi. Namun, di balik sentuhan tersebut terjadi berbagai respons fisiologis yang memengaruhi kerja sistem saraf dan sistem peredaran darah.Ketika telapak kaki dipijat, reseptor saraf pada kulit menerima rangsangan yang kemudian diteruskan ke sistem saraf pusat. Respons ini membantu menekan aktivitas sistem saraf simpatis, yaitu bagian dari sistem saraf yang bekerja lebih aktif ketika seseorang mengalami stres, cemas, atau berada dalam kondisi tertekan.Saat aktivitas saraf simpatis menurun, pembuluh darah menjadi lebih rileks sehingga aliran darah mengalir lebih lancar. Pada saat yang sama, denyut jantung juga cenderung melambat. Kombinasi kedua proses tersebut berkontribusi terhadap penurunan tekanan darah.Lavender Menambah Efek RelaksasiEfek pijatan dalam penelitian ini diperkuat oleh penggunaan minyak lavender.Lavender telah lama dikenal sebagai salah satu tanaman aromatik yang memiliki efek menenangkan. Minyak esensialnya mengandung senyawa aktif seperti linalool dan linalyl acetate, yang diketahui mampu memberikan sensasi relaksasi pada tubuh.Saat aroma lavender dihirup, sistem penciuman mengirimkan sinyal ke bagian otak yang mengatur emosi dan respons terhadap stres. Proses ini membantu menurunkan produksi hormon stres seperti kortisol dan norepinefrin yang selama ini diketahui berperan dalam meningkatkan tekanan darah.Dengan demikian, terapi ini bekerja melalui dua jalur sekaligus: sentuhan fisik melalui pijatan dan stimulasi psikologis melalui aromaterapi. Kombinasi keduanya menciptakan efek relaksasi yang lebih optimal dibandingkan hanya menggunakan salah satu metode saja.Terapi Pendamping, Bukan Pengganti ObatTemuan ini menjadi kabar baik, terutama bagi penderita hipertensi yang mengalami kesulitan menjalani pengobatan secara rutin. Tidak sedikit pasien yang menghentikan konsumsi obat karena efek samping, keterbatasan biaya, atau sulit menjangkau fasilitas kesehatan.Dalam kondisi tersebut, terapi sederhana seperti pijat kaki dapat menjadi alternatif pendamping yang relatif murah, mudah dilakukan, dan memberikan rasa nyaman bagi pasien.Meski demikian, para peneliti mengingatkan bahwa terapi ini bukanlah pengganti obat antihipertensi. Pengobatan yang diresepkan dokter tetap menjadi terapi utama untuk mengendalikan tekanan darah.Pijat kaki dengan minyak lavender lebih tepat diposisikan sebagai bagian dari pendekatan komplementer yang melengkapi pengobatan medis, bersama pola makan sehat, aktivitas fisik yang cukup, pengelolaan berat badan, dan pengendalian stres.Menuju Penanganan Hipertensi yang Lebih HolistikHasil penelitian ini memberikan pesan penting bahwa penanganan hipertensi sebaiknya tidak hanya berfokus pada pemberian obat.Edukasi mengenai pola hidup sehat, manajemen stres, aktivitas fisik, hingga pemanfaatan terapi relaksasi berbasis bukti ilmiah perlu menjadi bagian dari pelayanan kesehatan, termasuk di tingkat puskesmas.Pendekatan yang lebih holistik diyakini mampu meningkatkan kualitas hidup penderita hipertensi sekaligus membantu menurunkan risiko komplikasi jangka panjang.Menjaga tekanan darah tidak selalu membutuhkan langkah yang rumit. Kadang, perubahan kecil yang dilakukan secara konsisten dapat memberikan manfaat besar bagi kesehatan. Meluangkan waktu sekitar dua puluh menit untuk relaksasi melalui pijat kaki dengan aromaterapi, disertai pola hidup sehat dan pengobatan yang tepat, dapat menjadi salah satu cara sederhana untuk membantu menjaga kesehatan jantung. Sebab, kesehatan bukan hanya ditentukan oleh angka pada alat pengukur tekanan darah, tetapi juga oleh kemampuan kita merawat tubuh dan mengelola stres dalam kehidupan sehari-hari.

Ancaman kegagalan panen akibat serangan hama dan penyakit adalah momok abadi bagi petani jagung. Keterbatasan petugas penyuluh lapangan dan minimnya pengetahuan seringkali berujung pada diagnosis yang keliru, membuat pengelolaan tanaman tidak tepat dan berakibat fatal pada produk...

Bone Bolango – Pemerintah Desa Botutonuo, Kecamatan Kabila Bone, Kabupaten Bone Bolango, secara resmi menerima mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Kolaboratif Universitas Negeri Gorontalo (UNG) dan Universitas Gadjah Mada (UGM) pada Sabtu, 20 Juni 2026.Penerimaan mahasiswa berlangsung di Desa Botutonuo dan dihadiri oleh Dosen Pembimbing Lapangan (DPL), pemerintah desa, serta mahasiswa peserta KKN Kolaboratif UNG–UGM yang akan melaksanakan pengabdian selama 45 hari di desa tersebut.Tim DPL KKN Kolaboratif terdiri atas Ervan Hasan Harun selaku ketua, didampingi Rosbin Pakaya dan Jumiati Ilham. Program KKN di Desa Botutonuo mengusung tema pengembangan Desa Wisata Mandiri Energi berbasis tenaga surya untuk mendukung sport tourism berkelanjutan dan ekonomi kreatif berbasis kearifan lokal di Desa Botutonuo.Kepala Desa Botutonuo, Nuzzul Abdul Radjak, menyampaikan apresiasi dan menyambut baik kehadiran mahasiswa KKN Kolaboratif di wilayahnya. Ia menyatakan bahwa pemerintah desa menerima dengan terbuka pelaksanaan program tersebut dan berharap seluruh rangkaian kegiatan dapat berjalan dengan lancar serta memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.Sementara itu, Ketua DPL KKN Kolaboratif, Ervan Hasan Harun, menjelaskan bahwa program yang akan dijalankan berorientasi pada pengembangan potensi Desa Botutonuo sebagai desa wisata yang berkelanjutan melalui penguatan sport tourism, ekonomi kreatif, pemasaran digital, serta pemanfaatan energi surya sebagai energi ramah lingkungan. Program ini juga melibatkan mahasiswa lintas disiplin ilmu untuk mendukung pembangunan desa berbasis potensi lokal.Melalui pelaksanaan KKN Kolaboratif ini, diharapkan terbangun sinergi antara perguruan tinggi dan masyarakat dalam mengembangkan potensi wisata pesisir Desa Botutonuo sekaligus menghasilkan berbagai luaran yang dapat menjadi dasar pengembangan kawasan wisata berkelanjutan di masa mendatang. Program ini juga menjadi bagian dari upaya mendukung pembangunan kawasan Teluk Tomini melalui pendekatan pemberdayaan masyarakat, penguatan ekonomi kreatif, dan pemanfaatan energi terbarukan.

GORONTALO – Universitas Negeri Gorontalo (UNG) kembali menunjukkan komitmennya, dalam mendukung pembangunan masyarakat melalui program pengabdian. Sebanyak 38 mahasiswa resmi dilepas untuk mengikuti Kuliah Kerja Nyata (KKN) Kolaboratif UNG–UGM Tahun 2026 yang mengusung tema “Mewujudkan Desa Cerdas, Sejahtera, dan Berkelanjutan Berbasis Potensi Lokal.”Program kolaboratif yang melibatkan Universitas Negeri Gorontalo dan Universitas Gadjah Mada (UGM) ini menjadi wadah bagi mahasiswa untuk menghadirkan solusi nyata bagi masyarakat desa melalui penerapan ilmu pengetahuan, teknologi, dan inovasi.Kegiatan coaching dan pelepasan peserta berlangsung secara resmi dengan dibuka oleh Wakil Rektor Bidang Akademik UNG, Prof. Dr. Abdul Hafidz Olii, S.Pi., M.Si. Dalam kesempatan tersebut, mahasiswa dibekali berbagai pengetahuan dan keterampilan yang akan menjadi bekal selama menjalankan pengabdian di tengah masyarakat.Kepala Pusat KKN UNG, Dr. Rosbin Pakaya, M.Pd., menjelaskan bahwa para peserta akan melaksanakan program pengabdian di lima desa yang tersebar pada tiga kecamatan di dua kabupaten. Melalui KKN kolaboratif ini, mahasiswa diharapkan mampu berkontribusi dalam pengembangan desa berbasis potensi lokal sekaligus mendorong peningkatan kesejahteraan masyarakat.“Mahasiswa tidak hanya hadir sebagai peserta KKN, tetapi juga sebagai agen perubahan yang mampu menghadirkan inovasi dan solusi bagi berbagai persoalan di desa,” ujar Rosbin.Menurutnya, program ini dirancang untuk memperkuat peran mahasiswa dalam mendukung pembangunan desa melalui pendekatan yang terintegrasi, mulai dari pengembangan ekonomi lokal, transformasi digital, pemberdayaan masyarakat, hingga pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan.Dalam arahannya, Prof. Abdul Hafidz Olii, M.Si., menegaskan bahwa KKN merupakan sarana pembelajaran yang sangat penting bagi mahasiswa. Melalui interaksi langsung dengan masyarakat, mahasiswa dapat memahami berbagai dinamika sosial sekaligus mengembangkan kemampuan kepemimpinan, komunikasi, kolaborasi, dan pemecahan masalah.“KKN memberikan pengalaman nyata yang tidak diperoleh di ruang kelas. Mahasiswa harus mampu membangun sinergi dengan pemerintah desa dan masyarakat untuk merancang program yang memberikan manfaat jangka panjang,” ungkap Hafidz.Ia juga menekankan bahwa kegiatan coaching sebelum keberangkatan menjadi bagian penting untuk memastikan mahasiswa siap menghadapi tantangan di lapangan. Berbagai materi pembekalan diberikan, mulai dari strategi pemberdayaan masyarakat, pemetaan potensi desa, penguatan ekonomi berbasis lokal, transformasi digital, hingga pembangunan berkelanjutan.

GORONTALO – Ketika mendengar kata daun pandan, kebanyakan orang mungkin langsung membayangkan aroma harum pada nasi, kue, atau minuman tradisional. Selama ini, tanaman bernama ilmiah Pandanus amaryllifolius itu memang lebih dikenal sebagai penyedap alami dalam berbagai hidangan khas Nusantara. Namun, siapa sangka bahwa tanaman yang akrab di dapur ini ternyata menyimpan potensi besar di bidang kesehatan?Temuan menarik tersebut diungkap melalui penelitian yang dilakukan oleh Mohamad A. Paneo bersama tim peneliti yang terdiri atas Nurain Thomas, Fika N. Ramadhani, Multiani S. Latif, Faradila R. Moo, Lisa E. Puluhulawa, Intan Nusi, dan Angreni Ayuhastuti. Penelitian ini mengkaji pengembangan gel berbahan ekstrak daun pandan sebagai kandidat terapi topikal untuk membantu penyembuhan luka bakar.Hasil penelitian menunjukkan bahwa daun pandan tidak sekadar menghadirkan aroma khas, tetapi juga memiliki senyawa bioaktif yang berpotensi mendukung proses regenerasi jaringan kulit.Luka Bakar dan Tantangan PenanganannyaLuka bakar merupakan salah satu cedera yang sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari, baik akibat kecelakaan rumah tangga, paparan panas, maupun bahan kimia. Pada kasus luka bakar derajat dua, kerusakan tidak hanya terjadi pada lapisan kulit terluar, tetapi juga mencapai lapisan di bawahnya.Proses penyembuhan luka bakar memerlukan penanganan yang tepat karena luka yang terbuka rentan mengalami infeksi bakteri. Jika tidak ditangani dengan baik, infeksi dapat memperlambat penyembuhan bahkan menyebabkan komplikasi yang lebih serius.Karena itu, pengembangan bahan alami yang aman, efektif, dan mudah diperoleh menjadi salah satu fokus penelitian di bidang farmasi modern.Mengubah Daun Pandan Menjadi Gel Penyembuh LukaDalam penelitian ini, para peneliti menggunakan ekstrak etanol 70 persen daun pandan yang kemudian diformulasikan menjadi gel topikal. Tiga formulasi disiapkan dengan konsentrasi ekstrak berbeda, yaitu 30 persen, 35 persen, dan 40 persen.Setiap formulasi diuji secara menyeluruh untuk menilai kualitas dan kestabilannya. Beberapa parameter yang diamati meliputi tingkat keasaman (pH), viskositas atau kekentalan gel, serta kestabilan selama penyimpanan pada berbagai kondisi suhu.Hasilnya cukup menggembirakan. Seluruh formulasi menunjukkan karakteristik fisik yang stabil dan memenuhi kriteria yang dibutuhkan untuk sediaan gel pada kulit. Artinya, formulasi tersebut memiliki peluang untuk dikembangkan lebih lanjut sebagai produk farmasi berbasis bahan alam.Aman bagi KulitSelain efektivitas, aspek keamanan juga menjadi perhatian utama dalam pengembangan produk kesehatan. Untuk itu, peneliti melakukan uji iritasi guna melihat apakah gel dapat menimbulkan reaksi yang tidak diinginkan pada kulit.Selama masa pengamatan, tidak ditemukan tanda-tanda kemerahan maupun pembengkakan pada area aplikasi. Temuan ini menunjukkan bahwa formulasi gel ekstrak daun pandan memiliki kompatibilitas yang baik terhadap kulit dalam kondisi penelitian yang dilakukan.Meskipun demikian, para peneliti menegaskan bahwa pengujian lebih lanjut tetap diperlukan untuk memastikan keamanan penggunaan jangka panjang pada manusia.Konsentrasi Lebih Tinggi, Penyembuhan Lebih CepatSalah satu hasil paling menarik dari penelitian ini adalah kemampuan gel daun pandan dalam mendukung penyembuhan luka bakar.Pada model praklinis yang digunakan, formulasi dengan konsentrasi ekstrak 40 persen menunjukkan proses penutupan luka yang lebih cepat dibandingkan formulasi berkonsentrasi lebih rendah maupun kelompok pembanding.Temuan ini mengindikasikan bahwa semakin tinggi konsentrasi ekstrak daun pandan, semakin besar pula potensi efektivitasnya dalam mendukung regenerasi jaringan kulit.Namun, para peneliti mengingatkan bahwa hubungan tersebut masih perlu dikaji lebih mendalam melalui penelitian lanjutan untuk memahami mekanisme biologis yang mendasarinya.Rahasia di Balik Khasiat Daun PandanApa yang membuat daun pandan berpotensi membantu penyembuhan luka?Jawabannya terletak pada kandungan senyawa bioaktif yang dimilikinya. Daun pandan diketahui mengandung flavonoid, tanin, dan polifenol—kelompok senyawa yang telah lama dikenal memiliki aktivitas antioksidan dan antiinflamasi.Antioksidan berfungsi melindungi sel-sel tubuh dari kerusakan akibat radikal bebas, sedangkan sifat antiinflamasi membantu meredakan peradangan yang sering muncul selama proses penyembuhan luka.Kombinasi kedua aktivitas ini diduga berperan penting dalam mempercepat regenerasi jaringan kulit yang mengalami kerusakan.Melawan Bakteri Penyebab InfeksiTidak hanya membantu penyembuhan, gel ekstrak daun pandan juga menunjukkan aktivitas antibakteri.Penelitian menguji kemampuan gel dalam menghambat pertumbuhan dua bakteri yang sering menyebabkan infeksi luka, yaitu Staphylococcus aureus dan Pseudomonas aeruginosa.Hasilnya menunjukkan bahwa formulasi gel mampu menghambat pertumbuhan kedua bakteri tersebut, dengan efek yang lebih kuat terhadap Staphylococcus aureus.Temuan ini membuka peluang baru bagi pemanfaatan daun pandan sebagai sumber senyawa antimikroba alami untuk pengembangan produk perawatan luka di masa depan.Dari Tanaman Tradisional Menuju Inovasi FarmasiMeskipun hasil penelitian ini sangat menjanjikan, para peneliti menegaskan bahwa seluruh temuan masih berada pada tahap praklinis. Sebelum dapat digunakan secara luas dalam layanan kesehatan, formulasi ini masih memerlukan serangkaian penelitian lanjutan, termasuk uji klinis pada manusia dan evaluasi keamanan jangka panjang.Namun demikian, studi ini memberikan gambaran bahwa kekayaan hayati Indonesia menyimpan potensi besar yang belum sepenuhnya tergali. Tanaman sederhana yang selama ini digunakan sebagai pewangi makanan ternyata memiliki peluang untuk berkembang menjadi produk kesehatan bernilai tinggi.Pada akhirnya, penelitian ini mengingatkan kita bahwa inovasi sering kali berawal dari hal-hal yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Daun pandan yang biasa hadir di dapur keluarga Indonesia kini menunjukkan potensi untuk melangkah lebih jauh—dari penyedap masakan menuju kandidat terapi penyembuhan luka berbasis bahan alam.(Artikel penelitian ini dipublikasikan melalui laman berikut)

Gorontalo – Fakultas Kedokteran Universitas Negeri Gorontalo (FK UNG) bekerja sama dengan Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Wilayah Gorontalo menyelenggarakan Webinar Kebencanaan SIGAP NUSA (Sinergi Generasi Adaptif Penanggulangan Bencana Nusantara) dengan tema “Dari Gorontalo untuk Indonesia: Membangun Tenaga Kesehatan yang Adaptif, Responsif, dan Tanggap Bencana.” Kegiatan yang digelar secara daring pada Minggu 14 Juni 2026 tersebut diikuti oleh 808 peserta dari 122 instansi di berbagai daerah di Indonesia.Ketua Panitia, Dr. dr. Zuhriana K. Yusuf, M.Kes, dalam laporannya menyampaikan bahwa webinar ini merupakan bagian dari komitmen FK UNG dalam bidang kegawatdaruratan dan kebencanaan yang menjadi salah satu keunggulan institusi.“Webinar kebencanaan diselenggarakan oleh Fakultas Kedokteran UNG dan IDI Wilayah Gorontalo. FK UNG menyelenggarakan kegiatan ini karena keunggulan FK UNG adalah kegawatdaruratan dan bencana,” ujarnya.Ia menjelaskan bahwa para pemateri yang hadir merupakan mitra yang selama ini telah menjalin kerja sama dengan FK UNG dalam berbagai program pengembangan kapasitas kebencanaan.“Partisipasi pemateri pada hari ini adalah rata-rata yang sudah menjalin kerja sama dengan FK UNG,” katanya.Menurut Zuhriana, FK UNG selama ini aktif berkontribusi dalam berbagai respons kebencanaan di Provinsi Gorontalo maupun daerah lain. Keterlibatan tersebut menjadi bagian dari pengabdian institusi dalam mendukung upaya penanggulangan bencana.“Beberapa kegiatan FK yang sudah dilaksanakan untuk memberikan kontribusi pada kebencanaan yaitu turun serta dalam segala tanggap darurat bencana di Provinsi Gorontalo,” ungkapnya.Ia berharap materi yang disampaikan dalam webinar dapat menjadi sarana edukasi bagi masyarakat luas, khususnya tenaga kesehatan.“Kami dari panitia sangat berharap materi ini menjadi edukasi bagi seluruh masyarakat, terutama bagi tenaga kesehatan yang bisa mampu nantinya akan lebih siap menghadapi bencana,” tuturnya.Sementara itu, Rektor Universitas Negeri Gorontalo, Prof. Dr. Ir. Eduart Wolok, S.T., M.T., dalam sambutannya menegaskan bahwa kesiapsiagaan terhadap bencana merupakan kebutuhan penting, terutama bagi generasi muda.“Tentu, terkait dengan tanggap bencana ini merupakan sebuah kebutuhan buat kita terutama juga generasi muda saat ini. Kenapa dikatakan demikian, karena berkali-kali kita sudah diingatkan pada saat ketika ada bencana, baik itu di Gorontalo atau wilayah Indonesia, kita menunjukkan penyikapan untuk mengatasi bencana dengan baik. Tetapi untuk waspada terhadap bencana itu terkadang yang harus lebih kita tingkatkan. Artinya bagaimana kita merespon, kita mempersiapkan terutama mulai dari segi peringatan dan sebagainya. Tentu ini perlu untuk terus diingatkan dan dibangun kesadaran ini terkait dengan kesadaran untuk tanggap bencana karena jauh lebih baik kita sudah bisa mempersiapkan diri sebelum bencana itu datang daripada ketika saat bencana sudah datang, tentu effort-nya akan lebih besar,” ujar Eduart.Menurutnya, kegiatan edukatif seperti webinar memiliki peran penting dalam meningkatkan literasi kebencanaan masyarakat.“Lewat kegiatan webinar seperti ini tentu akan memberikan pemahaman keilmuan dan wawasan buat kita semua terkait penyikapan kita terhadap bencana. Karena lazimnya bencana pasti sudah didahului dengan pertanda, peringatan dan sebagainya. Kemudian bagaimana pola atau alur kita menyikapi terhadap bencana itu, ini yang memang harus lebih terus kita share ke semua pihak agar kita siap,” katanya.Ia menambahkan bahwa perubahan iklim global menyebabkan pola bencana semakin dinamis dan sulit diperkirakan, sehingga diperlukan respons yang lebih adaptif dari seluruh elemen masyarakat.“Karena sebagaimana kita ketahui dengan perubahan iklim yang sedang melanda dunia saat ini, terkadang bencana itu bisa datang dengan tiba-tiba dan juga tidak sebagaimana siklus yang lazimnya kita perhitungkan. Tentu dengan dinamika kebencanaan seperti ini, dibutuhkan respon dari kita juga yang lebih adaptif terhadap dinamika bencana yang saat ini kita hadapi,” lanjutnya.Dalam kesempatan tersebut, Eduart juga menyoroti kontribusi FK UNG dalam berbagai misi kemanusiaan dan penanganan bencana di tingkat nasional.“Kita ketahui bersama Fakultas Kedokteran UNG juga menitikberatkan keunggulannya terhadap tanggap kedaruratan bencana dan itu sudah kita tunjukkan dengan ikut berpartisipasi secara aktif di berbagai musibah bencana yang terjadi di wilayah Indonesia, bahkan kemarin sampai ke Aceh pun kita ikut terlibat. Tentu ini merupakan bentuk respon positif daripada FK UNG dan juga Universitas Negeri Gorontalo terhadap kondisi kebencanaan,” ungkapnya.Ia berharap webinar ini menjadi awal dari kolaborasi dan pertukaran pengetahuan yang lebih luas terkait kebencanaan.“Dan ke depan tentu dengan adanya webinar yang saya yakin ini bukan webinar yang terakhir tetapi ini merupakan awal dari sharing-sharing kita ke depan terkait penyikapan kita akan kebencanaan ini menjadi sangat penting. InsyaAllah dengan ini kita bisa lebih responsif adaptif terhadap bencana dan tentunya tujuan akhirnya selain membantu pemulihan lebih cepat, tetapi yang tidak kalah penting adalah memitigasi korban kebencanaan yang lebih minim, tentu itu harapan kita semua,” tutupnya.Webinar menghadirkan sejumlah narasumber nasional, di antaranya Plt. Deputi Bidang Pencegahan BNPB Drs. Pangarso Suryotomo, M.M.B., Ketua Tim Kerja Tanggap Darurat dan Klaster Kesehatan Pusat Krisis Kesehatan Kementerian Kesehatan Budiman, SKM., M.Kes., Ketua Lembaga Kemanusiaan dan Tanggap Bencana PB IDI dr. Muhammad Iqbal El Mubarak, Sp.B., serta Kepala BMKG Stasiun Geofisika Kelas II Gorontalo Dr. Andri Wijaya Bidang S.Si., M.Si.Materi yang disampaikan mencakup penguatan sistem tenaga cadangan kesehatan, peran organisasi profesi dalam respons kemanusiaan, hingga potensi ancaman gempa bumi dan tsunami di Gorontalo. Para pemateri menekankan pentingnya peningkatan kapasitas tenaga kesehatan, kolaborasi lintas sektor, serta literasi kebencanaan sebagai langkah strategis untuk mengurangi risiko korban dan memperkuat kesiapsiagaan masyarakat menghadapi berbagai ancaman bencana.

GORONTALO — Di balik ketenangan Danau Limboto yang membentang di jantung Provinsi Gorontalo, tersimpan kekayaan hayati yang selama ini belum banyak dikenal masyarakat luas. Salah satunya adalah ikan Hulu'u — ikan lokal yang kini mulai menarik perhatian dunia ilmu pengetahuan karena potensinya dalam mendukung proses penyembuhan luka.Pada Rabu (10/6), dosen Jurusan Farmasi Fakultas Olahraga dan Kesehatan Universitas Negeri Gorontalo (FOK UNG) hadir langsung ke SMA Negeri 1 Paguyaman untuk memperkenalkan potensi luar biasa ikan lokal ini kepada para siswa melalui kegiatan Pengabdian Masyarakat .Siapa sangka ikan yang hidup di Danau Limboto ini menyimpan kandungan istimewa? Ikan Hulu'u atau Giuris margaritacea ternyata kaya akan albumin — sejenis protein yang memiliki peran penting dalam proses regenerasi jaringan tubuh.Dalam sesi edukasi tersebut, para siswa diajak memahami bagaimana albumin yang terkandung dalam ikan Hulu'u dapat berpotensi mendukung proses penyembuhan luka bakar dan luka terbuka, membantu mengurangi peradangan, dan menunjang pemulihan jaringan tubuh secara alami. Sebuah temuan yang tidak hanya menarik secara ilmiah, tetapi juga sangat dekat dengan kehidupan masyarakat Gorontalo sehari-hari.Ketua tim pengabdian, Apt. Mohomad Aprianto Paneo, M.Farm., menjelaskan bahwa kegiatan ini lahir dari keinginan, untuk mendekatkan ilmu pengetahuan dengan potensi lokal yang ada di sekitar masyarakat Gorontalo. Melalui kegiatan pengabdian ini, akademisi UNG ingin memberikan edukasi kepada siswa bahwa Gorontalo memiliki sumber daya lokal yang potensial, salah satunya ikan Hulu'u dari Danau Limboto.“Kandungan albumin pada ikan ini menjadi hal menarik untuk dikenalkan karena memiliki peran penting dalam mendukung proses regenerasi jaringan dan penyembuhan luka,” ujarnya.Ia juga menekankan bahwa pengenalan potensi ikan lokal kepada siswa merupakan bagian dari upaya membangun kesadaran ilmiah sejak dini, sekaligus mengajak generasi muda tidak hanya mengenal kekayaan hayati daerahnya, tetapi juga memahami bagaimana ilmu farmasi dan kesehatan dapat mengkaji dan mengembangkan manfaat bahan alam bagi masyarakat.Suasana kegiatan berlangsung hidup dan penuh semangat. Para siswa SMA Negeri 1 Paguyaman terlihat antusias mengikuti pemaparan materi, mengajukan pertanyaan, dan berdiskusi tentang ikan Hulu'u, kandungan albumin, serta kaitannya dengan proses penyembuhan luka — topik yang terasa baru namun langsung menyentuh kehidupan nyata mereka.“Seluruh tim berharap para siswa kelak memahami bahwa potensi daerah bukan hanya kekayaan yang perlu dijaga, tetapi juga ilmu yang bisa dikembangkan untuk mendukung kesehatan dan kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan,” pungkasnya. (**)

GORONTALO – Ruang pertemuan Desa Lobuto Timur, Kecamatan Biluhu, Kabupaten Gorontalo tampak hidup pada Jumat (6/6). Warga desa berkumpul bukan untuk rapat biasa — melainkan untuk mengikuti sesi edukasi yang menyentuh isu paling mendasar dalam kehidupan mereka: keluarga.Dosen Jurusan Bimbingan dan Konseling (BK) Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Gorontalo (FIP UNG), Mohamad Awal Lakadjo, M.Pd., hadir langsung ke tengah masyarakat membawa pengetahuan sekaligus semangat pengabdian dalam kegiatan bertema "Penguatan Kesadaran Sosial Masyarakat Desa Lobuto Timur Melalui Layanan Bimbingan dan Konseling."Kegiatan ini merupakan wujud nyata komitmen dosen FIP UNG dalam mengimplementasikan Tri Dharma Perguruan Tinggi — khususnya pilar pengabdian kepada masyarakat. Universitas bukan hanya tempat belajar di balik tembok kelas, tetapi juga agen perubahan yang hadir langsung di tengah kehidupan nyata masyarakat.Dalam sesi tersebut, Mohamad Awal Lakadjo membawakan materi bertajuk "Hidup Berkeluarga yang Sehat" — sebuah kajian mendalam yang membahas berbagai aspek vital kehidupan keluarga, mulai dari: Pernikahan yang sehat dan bertanggung jawab, Membangun keluarga yang harmonis, Peran dan tanggung jawab setiap anggota keluarga hingga Strategi menghadapi tantangan dalam kehidupan rumah tangga.Bagi Mohamad Awal Lakadjo, keluarga bukan sekadar unit terkecil masyarakat — ia adalah pondasi utama yang menentukan kualitas karakter individu dan kesehatan kehidupan sosial secara keseluruhan."Ketahanan keluarga menjadi salah satu faktor penting dalam menciptakan masyarakat yang harmonis. Ketika keluarga mampu menjalankan fungsi-fungsinya dengan baik, maka lingkungan sosial yang sehat dan produktif juga akan lebih mudah terwujud," tuturnya.Oleh karena itu, setiap anggota keluarga perlu membangun komunikasi yang sehat, saling menghargai, dan menjalankan tanggung jawab masing-masing dengan penuh kesadaran.Materi yang disampaikan rupanya menyentuh langsung kebutuhan masyarakat. Para peserta terlihat antusias mengikuti sesi diskusi — berbagi pengalaman, mengajukan pertanyaan, dan saling bertukar cerita tentang dinamika kehidupan keluarga yang mereka hadapi sehari-hari.Melalui kegiatan ini, Mohamad Awal Lakadjo berharap benih kesadaran yang ditanam hari ini akan tumbuh menjadi perubahan yang berkelanjutan — masyarakat yang semakin memahami pentingnya membangun keluarga harmonis, bertanggung jawab, dan sejahtera sebagai fondasi terciptanya kehidupan sosial yang lebih peduli, kuat, dan berkualitas.Salah seorang warga mengungkapkan bahwa edukasi ini sangat relevan karena memberikan pemahaman praktis tentang cara membangun hubungan keluarga yang harmonis dan bertanggung jawab — sesuatu yang dibutuhkan namun jarang mereka dapatkan sebelumnya.Kegiatan ini bukan kerja sendiri. Program pengabdian ini merupakan bagian dari proyek kolaboratif Mata Kuliah BK di Masyarakat, BK Sosial, dan Kearifan Lokal yang diampu oleh Dr. Ilham Khairi Siregar, S.Pd., M.Pd. dan Mohamad Rizal Pautina, S.Pd., M.Pd.Lebih istimewa lagi, program ini melibatkan langsung mahasiswa BK FIP UNG Angkatan 2023 dan 2025 bersama para remaja Desa Lobuto Timur — menjadikannya sebuah pembelajaran berbasis pengabdian yang nyata, bukan sekadar teori di dalam kelas.

GORONTALO – Semangat menjaga bumi diwujudkan secara nyata oleh mahasiswa Jurusan Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA). Dalam rangka memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026, Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Biologi FMIPA menggelar kegiatan SEL (Satu Ekosistem Lestari) 2026 di kawasan Pantai Botutonuo Lorong 5, Kecamatan Kabila Bone, Kabupaten Bone Bolango, Sabtu (6/6).Mengusung tema “Satu Aksi untuk Lingkungan Hidup, Seribu Dampak untuk Masa Depan”, kegiatan ini menghadirkan kolaborasi antara mahasiswa, dosen, masyarakat, pemerintah daerah, serta PT Gorontalo Minerals sebagai mitra strategis dalam upaya pelestarian lingkungan pesisir dan laut di Gorontalo.Suasana Pantai Botutonuo sejak pagi dipenuhi semangat gotong royong. Para peserta tidak hanya membersihkan kawasan pantai dari sampah, tetapi juga terlibat langsung dalam aksi konservasi bawah laut melalui transplantasi terumbu karang. Kegiatan ini menjadi simbol kepedulian generasi muda terhadap masa depan ekosistem laut yang semakin menghadapi berbagai ancaman lingkungan.Dosen Pembimbing Mahasiswa, Dr. Abubakar Sidik Katili, S.Pd, M.Sc, menjelaskan bahwa SEL 2026 difokuskan pada dua agenda utama, yakni rehabilitasi terumbu karang dan aksi bersih pantai. Menurutnya, kedua kegiatan tersebut memiliki dampak penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem pesisir.“Melalui transplantasi terumbu karang, kami berupaya membantu pemulihan ekosistem bawah laut dengan menanam fragmen karang pada media yang telah disiapkan. Sementara aksi bersih pantai dilakukan untuk mengurangi akumulasi sampah, terutama sampah plastik yang menjadi ancaman serius bagi kehidupan laut,” jelas Sidik.Ia menambahkan bahwa keberhasilan kegiatan ini tidak lepas dari dukungan berbagai pihak, termasuk PT Gorontalo Minerals yang menunjukkan komitmennya dalam mendukung program pelestarian lingkungan dan pemberdayaan masyarakat melalui kemitraan bersama perguruan tinggi dan komunitas lokal.Tidak hanya melibatkan mahasiswa, SEL 2026 juga dirangkaikan dengan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat oleh dosen-dosen Jurusan Biologi FMIPA UNG di Desa Botutonuo. Sinergi antara kegiatan kemahasiswaan, pengabdian dosen, serta dukungan sektor industri menjadi wujud nyata implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi yang memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan dan Alumni FMIPA UNG, Dr. Lilan Dama, M.Si., berharap kegiatan ini dapat menumbuhkan kesadaran lingkungan yang lebih kuat di kalangan generasi muda sekaligus mempererat jejaring kolaborasi lintas sektor.“Pelestarian lingkungan tidak bisa dilakukan sendiri. Dibutuhkan sinergi antara perguruan tinggi, masyarakat, pemerintah, dan dunia industri agar upaya konservasi dapat berjalan berkelanjutan dan memberikan dampak yang lebih luas,” ujarnya.Dukungan serupa disampaikan Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Alumni UNG, Prof. Dr. Mohamad Amir Arham, M.E., yang mengapresiasi inisiatif mahasiswa FMIPA dalam menginisiasi aksi konservasi lingkungan. Menurutnya, kepedulian terhadap lingkungan harus diwujudkan melalui tindakan nyata dan dilakukan secara konsisten.“Lingkungan yang lestari tidak tercipta dalam satu hari. Ia dibangun melalui kepedulian, kolaborasi, dan aksi nyata yang dilakukan secara berkelanjutan. Apa yang dilakukan mahasiswa hari ini merupakan langkah kecil yang memiliki dampak besar bagi masa depan,” ungkap Amir.Melalui SEL 2026, mahasiswa Biologi FMIPA UNG tidak hanya memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia secara seremonial, tetapi juga menghadirkan aksi konkret untuk menjaga kelestarian pesisir Gorontalo. Dari bibit terumbu karang yang ditanam hingga sampah yang berhasil dikumpulkan, setiap langkah menjadi pengingat bahwa menjaga lingkungan adalah tanggung jawab bersama demi masa depan yang lebih hijau dan berkelanjutan.

GORONTALO – Siapa sangka tumpukan sabut kelapa yang selama ini hanya menjadi limbah tak berguna di sudut-sudut kebun warga Desa Dunggala, kini menjelma menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi. Itulah yang berhasil diwujudkan oleh mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik Tahap I Universitas Negeri Gorontalo (UNG) melalui program inovatif bertajuk GALAPEAT.Program yang resmi diluncurkan di Desa Dunggala, Kecamatan Tapa, Kabupaten Bone Bolango ini mengolah sabut kelapa menjadi cocopeat — media tanam organik yang memiliki nilai ekonomi sekaligus mendukung pelestarian lingkungan.GALAPEAT merupakan salah satu program unggulan dalam kegiatan KKN Tematik bertema "Dunggala Digital Hub: Sinergi Multidisiplin dalam Branding Kearifan Lokal melalui Konten Edukasi Berbahasa Inggris untuk Global Marketing."Dari Limbah ke PeluangGALAPEAT lahir bukan sekadar dari ide di atas kertas. Program ini hadir sebagai jawaban nyata atas persoalan lingkungan sekaligus peluang ekonomi yang selama ini terlewatkan begitu saja oleh warga desa.Ketua tim KKN Tematik, Haris Danial, S.Pd., M.A., mengungkapkan bahwa, potensi besar desa ini selama ini tersembunyi di balik tumpukan sabut kelapa yang tak terurus."Sabut kelapa yang sebelumnya dianggap limbah ternyata dapat diolah menjadi produk bernilai ekonomi. Melalui GALAPEAT, kami ingin mendorong masyarakat agar mampu mengembangkan potensi lokal sekaligus membangun identitas desa yang kuat berbasis kearifan lokal," ujar Haris.Program ini dipimpin oleh tim multidisiplin yang solid, terdiri atas Prof. Nonny Basalama, M.A., Ph.D., Muh. Rezky Friesta Payu, M.Si., dan Dr. Indri Wirahmi Bay, M.A. — membuktikan bahwa inovasi terbaik lahir dari kolaborasi lintas ilmu.Warga Belajar, Warga BerdayaTak hanya sekadar sosialisasi, program GALAPEAT mengajak langsung masyarakat, para petani, dan anggota Karang Taruna Desa Dunggala untuk terjun dalam proses produksi cocopeat dari awal hingga akhir.Dalam sesi pelatihan, peserta diperkenalkan pada berbagai manfaat cocopeat — mulai dari fungsinya sebagai media tanam ramah lingkungan yang menyerap air dengan baik, hingga peluangnya sebagai produk siap jual yang menjanjikan. Dengan terlibat langsung dalam proses produksi, warga tidak hanya menonton, tetapi benar-benar memahami dan menguasai keterampilan baru.Desa Inovatif Berbasis Kearifan LokalKehadiran GALAPEAT dan berbagai program pendampingan lainnya semakin menegaskan posisi Desa Dunggala sebagai desa yang inovatif, edukatif, dan berakar pada kearifan lokal. Lebih dari sekadar program pengabdian, GALAPEAT membuka babak baru bagi ekonomi kreatif desa — sebuah bukti bahwa mahasiswa tidak hanya datang untuk mengabdi, tetapi mampu meninggalkan jejak perubahan yang nyata dan berkelanjutan bagi masyarakat.

Indonesia dikenal sebagai negara yang kaya akan sumber daya hayati. Namun, tidak semua potensi lokal telah dimanfaatkan secara optimal untuk mendukung pengembangan produk kesehatan. Di Gorontalo, salah satu kekayaan hayati yang selama ini lebih dikenal sebagai bahan pangan ternyata menyimpan potensi besar di bidang farmasi. Ikan Hulu’u (Giuris margaritacea), ikan air tawar yang banyak ditemukan di perairan lokal, kini menjadi perhatian para peneliti karena kandungan albuminnya yang berpotensi membantu proses penyembuhan luka bakar.Potensi tersebut terungkap melalui penelitian yang dilakukan oleh tim peneliti Universitas Negeri Gorontalo yang dipimpin oleh Mohamad Aprianto Paneo bersama Endah Nurrohwinta Djuwarno, Sitty Ainsyah Habibie, Nurain Thomas, Multiani S. Latif, Nur Alifia Karina Munafri, dan Rayhan Firman Anasiru. Hasil penelitian mereka dipublikasikan dalam jurnal ilmiah Science and Technology Indonesia tahun 2026 dengan judul Biopotential of Gorontalo Hulu’u Fish (Giuris margaritacea) Albumin in a Novel Spray Gel Formulation for the Treatment of Burn Wounds: In Vivo Evaluation in Rats.Mengapa Luka Bakar Sulit Disembuhkan?Luka bakar merupakan salah satu jenis cedera yang memerlukan penanganan khusus karena melibatkan kerusakan jaringan kulit dalam berbagai tingkat keparahan. Selain menimbulkan rasa nyeri, luka bakar juga berisiko menyebabkan infeksi, kehilangan cairan tubuh, hingga gangguan fungsi organ apabila tidak ditangani dengan baik.Proses penyembuhan luka bakar membutuhkan regenerasi jaringan yang kompleks. Tubuh harus membentuk jaringan baru, memperbaiki pembuluh darah yang rusak, serta menghasilkan kolagen untuk mengembalikan struktur kulit. Karena itu, berbagai penelitian terus dilakukan untuk menemukan bahan alami yang mampu mempercepat proses pemulihan jaringan tersebut.Albumin, Protein Penting untuk Regenerasi JaringanSalah satu zat yang banyak diteliti dalam proses penyembuhan luka adalah albumin. Protein ini memiliki berbagai fungsi biologis penting, mulai dari menjaga keseimbangan cairan tubuh hingga mendukung perbaikan jaringan yang rusak.Dalam dunia medis, albumin diketahui berperan dalam mempercepat proliferasi sel, merangsang pembentukan kolagen, serta membantu proses regenerasi jaringan baru. Kemampuan inilah yang membuat albumin menjadi kandidat menarik untuk dikembangkan sebagai bahan terapi luka.Tim peneliti UNG menemukan bahwa ikan Hulu’u memiliki kandungan albumin yang cukup tinggi dan berpotensi dimanfaatkan sebagai bahan baku produk kesehatan. Berbekal potensi tersebut, mereka mengembangkan albumin ikan Hulu’u ke dalam bentuk sediaan modern berupa spray gel.Mengapa Dipilih Bentuk Spray Gel?Berbeda dengan salep atau krim konvensional, spray gel menawarkan sejumlah keunggulan praktis. Produk ini dapat diaplikasikan dengan cara disemprotkan langsung ke area luka tanpa perlu banyak sentuhan, sehingga risiko kontaminasi dapat diminimalkan.Selain itu, spray gel mampu membentuk lapisan pelindung yang merata di permukaan luka. Lapisan ini membantu menjaga kelembapan area luka, yang merupakan salah satu faktor penting dalam proses penyembuhan jaringan.Dalam penelitian tersebut, albumin ikan Hulu’u diformulasikan ke dalam beberapa variasi spray gel dengan konsentrasi yang berbeda. Para peneliti menggunakan kombinasi polimer hidrofilik yang dirancang untuk menghasilkan gel yang stabil sekaligus mampu melepaskan albumin secara bertahap pada area luka.Hasil yang Menjanjikan di LaboratoriumSebelum diuji efektivitasnya, seluruh formulasi spray gel menjalani berbagai pengujian kualitas. Peneliti mengevaluasi stabilitas fisik, tingkat keasaman (pH), viskositas, daya sebar, daya lekat, hingga kemampuan pelepasan albumin dari sistem gel.Hasilnya menunjukkan bahwa seluruh formulasi memiliki karakteristik yang baik dan aman digunakan pada kulit. Nilai pH berada dalam rentang yang sesuai sehingga tidak berpotensi menimbulkan iritasi.Menariknya, formulasi dengan kandungan albumin tertinggi, yaitu 20 persen, menunjukkan performa paling optimal. Formulasi ini memiliki kestabilan yang lebih baik serta kemampuan pelepasan albumin yang lebih tinggi dibandingkan formulasi lainnya.Pada pengujian in vitro, spray gel dengan albumin 20 persen mampu melepaskan sekitar 81 persen kandungan albuminnya dalam waktu 180 menit. Temuan ini menunjukkan bahwa semakin tinggi konsentrasi albumin dalam formulasi, semakin besar pula potensi zat aktif yang dapat tersedia untuk mendukung proses penyembuhan luka.Terbukti Mempercepat Penyembuhan Luka BakarKeunggulan formulasi tersebut tidak hanya terlihat di laboratorium. Tim peneliti juga melakukan pengujian in vivo menggunakan hewan coba untuk melihat efektivitasnya dalam penyembuhan luka bakar.Hasil pengamatan menunjukkan bahwa kelompok yang mendapatkan spray gel dengan kandungan albumin tertinggi mengalami penyusutan diameter luka yang lebih cepat dibandingkan kelompok kontrol. Dengan kata lain, luka bakar pada kelompok tersebut sembuh lebih baik dan lebih cepat.Efek ini diduga berkaitan dengan kemampuan albumin dalam mendukung pembentukan jaringan baru, mempercepat sintesis kolagen, serta meningkatkan aktivitas sel-sel yang berperan dalam proses regenerasi kulit.Mengangkat Potensi Lokal ke Tingkat yang Lebih TinggiPenelitian ini tidak hanya menawarkan alternatif terapi luka bakar yang menjanjikan, tetapi juga menunjukkan bagaimana sumber daya lokal dapat diolah menjadi produk kesehatan bernilai tinggi. Ikan Hulu’u yang selama ini dikenal sebagai bahan konsumsi masyarakat ternyata menyimpan potensi besar sebagai sumber biomaterial untuk pengembangan produk farmasi modern.Temuan ini sekaligus membuka peluang baru bagi pengembangan industri kesehatan berbasis sumber daya alam lokal. Dengan riset yang berkelanjutan, pemanfaatan ikan Hulu’u dapat memberikan nilai tambah ekonomi sekaligus mendorong lahirnya inovasi kesehatan yang berasal dari daerah.Pada akhirnya, penelitian ini menjadi contoh nyata bagaimana kekayaan biodiversitas Indonesia dapat bertransformasi menjadi solusi kesehatan masa depan. Dari perairan Gorontalo, ikan Hulu’u kini tidak hanya menjadi sumber pangan, tetapi juga berpotensi menjadi bahan baku terapi penyembuhan luka bakar yang inovatif, efektif, dan bernilai tinggi.(Artikel penelitian dipublikasikan melalui laman berikut)

Pemerintah Kecamatan Dumbo Raya mendeklarasikan Gerakan Pilah Sampah pada Selasa, 19 Mei 2026 sebagai langkah strategis dalam mendorong pengelolaan sampah berkelanjutan dari sumbernya. Gerakan tersebut diwujudkan melalui Pernyataan Komitmen Bersama Pemilahan Sampah dari Sumbernya se-Kecamatan Dumbo Raya yang turut didukung oleh SDGs Center Universitas Negeri Gorontalo (UNG).

Aplikasi Hallo Stroke yang dikembangkan oleh tim peneliti Fakultas Kedokteran UNG hadir sebagai media edukasi dan layanan kesehatan untuk membantu masyarakat mengenali gejala stroke serta memperoleh penanganan lebih cepat dan tepat.

Selama ini, sambiloto dikenal luas sebagai tanaman herbal dengan rasa pahit yang identik dengan pengobatan tradisional. Namun, siapa sangka tanaman bernama ilmiah Andrographis paniculata ini kini menunjukkan potensi baru-bukan untuk manusia, melainkan untuk meningkatkan kualitas...

Di tengah tantangan perubahan iklim, degradasi lahan, dan meningkatnya kebutuhan pangan, dunia pertanian dituntut menghadirkan solusi yang tidak hanya produktif, tetapi juga berkelanjutan. Salah satu pendekatan yang kini semakin banyak dikembangkan adalah pemanfaatan mikroorganis...

Di tengah meningkatnya perhatian dunia terhadap ketahanan pangan dan pengurangan limbah, para peneliti terus mencari cara agar bahan pangan dapat bertahan lebih lama tanpa bergantung pada pengawet sintetis. Salah satu pendekatan yang kini berkembang adalah penggunaan edible coati...

Penyakit jantung koroner masih menjadi salah satu penyebab kematian tertinggi di dunia. Penyakit ini terjadi ketika pembuluh darah koroner mengalami penyempitan akibat penumpukan lemak, sehingga aliran darah menuju jantung terganggu. Kondisi tersebut dapat memicu nyeri dada, sera...

Ekosistem mangrove selama ini dikenal sebagai benteng alami pesisir yang melindungi daratan dari abrasi dan gelombang laut. Namun, penelitian terbaru dari akademisi Universitas Negeri Gorontalo menunjukkan bahwa mangrove memiliki potensi yang jauh lebih besar: sebagai sumber pang...

GORONTALO - Semangat pengabdian mahasiswa Fakultas Olahraga dan Kesehatan Universitas Negeri Gorontalo (UNG) kembali menyala. Himpunan Mahasiswa Ilmu Keperawatan (HIMIKA FOK UNG) sukses menggelar aksi kemanusiaan berupa khitanan massal dan pemeriksaan kesehatan gratis bagi lansia...