Site Logo
Mengenal

Diktisaintek Berdampak

Diktisaintek Berdampak

Diktisaintek Berdampak adalah gerakan strategis pendidikan tinggi untuk menjawab kebutuhan masyarakat dan pembangunan bangsa melalui ilmu pengetahuan, teknologi, riset, inovasi, dan pengabdian.

Bagi Universitas Negeri Gorontalo, semangat ini memperkuat peran kampus sebagai ruang belajar, pusat pengetahuan, dan mitra pembangunan yang menghasilkan manfaat langsung bagi Gorontalo, kawasan Teluk Tomini, dan Indonesia.

Program Unggulan

Ruang kolaborasi untuk dampak nyata

Program unggulan menjadi jalur bagi mahasiswa, dosen, organisasi kemahasiswaan, dan mitra untuk mengembangkan kapasitas sekaligus memberi kontribusi langsung.

Magang Berdampak

Magang Berdampak

Program magang untuk menyiapkan lulusan yang adaptif, siap kerja, dan terhubung dengan kemitraan lintas sektor.

Selengkapnya
PPK Ormawa

PPK Ormawa

Penguatan kapasitas organisasi kemahasiswaan melalui pembinaan, pengabdian, dan pemberdayaan masyarakat.

Selengkapnya
Program Pembinaan Mahasiswa Wirausaha

Program Pembinaan Mahasiswa Wirausaha

Dukungan pengembangan usaha mahasiswa melalui pendanaan, pendampingan, dan pelatihan usaha.

Selengkapnya
Program Kreativitas Mahasiswa

Program Kreativitas Mahasiswa

Akselerasi gagasan kreatif dan inovatif mahasiswa untuk berkontribusi pada ilmu pengetahuan dan masyarakat.

Selengkapnya
Pendidikan Magister menuju Doktor untuk Sarjana Unggul

Pendidikan Magister menuju Doktor untuk Sarjana Unggul

Jalur percepatan akademik bagi sarjana unggul untuk menempuh pendidikan magister menuju doktor.

Selengkapnya
Kosabangsa

Kosabangsa

Kolaborasi sosial yang menghubungkan riset, inovasi, dan kebutuhan masyarakat agar solusi kampus lebih aplikatif.

Selengkapnya
Publikasi

UNG Kampus Berdampak

Lihat Semua Publikasi
Pendekatan Berbasis Ekosistem untuk Pengelolaan Cumi-Cumi di Teluk Tomini
08 Oct 2026
00:19 WITA

Pendekatan Berbasis Ekosistem untuk Pengelolaan Cumi-Cumi di Teluk Tomini

Abdul Wahid Rauf

Teluk Tomini menyimpan potensi perikanan yang besar, termasuk sumber daya cumi-cumi (Loligo spp.) yang menjadi salah satu komoditas penting bagi masyarakat pesisir. Namun, di balik potensi tersebut, keberlanjutan sumber daya cumi-cumi menghadapi sejumlah tantangan. Penelitian Universitas Negeri Gorontalo (UNG) menunjukkan adanya kecenderungan penurunan hasil tangkapan yang perlu menjadi perhatian dalam pengelolaan perikanan di kawasan Teluk Tomini.Penelitian bertajuk “Integration of ecosystem approach in Loligo spp. resource management in Tomini Bay” dilakukan oleh Yuniarti Koniyo, Abdul H. Olii, Wila R. Nento, dan Muhammad R. Gobel. Penelitian tersebut mengkaji status pengelolaan perikanan cumi-cumi dengan menggunakan pendekatan Ecosystem Approach to Fisheries Management (EAFM) dan Flag Model. Pendekatan ini tidak hanya melihat kondisi sumber daya ikan, tetapi juga mempertimbangkan aspek habitat, teknologi penangkapan, sosial, ekonomi, serta kelembagaan.Salah satu temuan penting penelitian terlihat dari perubahan Catch Per Unit Effort (CPUE), yaitu jumlah hasil tangkapan yang diperoleh dalam setiap satuan upaya penangkapan. Data menunjukkan CPUE cumi-cumi di Teluk Tomini turun dari 21,78 kg per perjalanan pada 2019 menjadi 17,02 kg per perjalanan pada 2023. Pada periode yang sama, produksi cumi-cumi juga mengalami penurunan, dari sekitar 4,79 juta kilogram pada 2019 menjadi 3,72 juta kilogram pada 2023.Penurunan tersebut menjadi sinyal bahwa tekanan terhadap sumber daya cumi-cumi perlu diperhatikan. Penelitian mengindikasikan bahwa peningkatan aktivitas penangkapan belum selalu menghasilkan tangkapan yang lebih tinggi. Kondisi ini dapat berkaitan dengan meningkatnya tekanan penangkapan maupun perubahan lingkungan yang memengaruhi ketersediaan cumi-cumi di perairan.Dari sisi teknologi, nelayan di kawasan Teluk Tomini menggunakan sejumlah alat tangkap, dengan pancing cumi dan circle gill net menjadi alat yang dominan di beberapa wilayah. Penelitian menilai teknologi penangkapan yang digunakan relatif selektif, meskipun risiko tertangkapnya spesies non-target masih ada. Karena itu, peningkatan selektivitas alat tangkap tetap diperlukan agar pemanfaatan sumber daya dapat berlangsung lebih berkelanjutan.Tantangan pengelolaan juga berkaitan dengan kondisi habitat. Penelitian mencatat adanya kerusakan ekosistem terumbu karang akibat aktivitas manusia, termasuk praktik penangkapan yang merusak. Padahal, kondisi habitat memiliki hubungan penting dengan keberadaan dan keberlanjutan sumber daya perikanan. Perubahan lingkungan dan dampak perubahan iklim juga menjadi faktor yang perlu diperhitungkan dalam pengelolaan Teluk Tomini.Persoalan keberlanjutan tidak berhenti pada aspek ekologi. Penelitian menemukan bahwa kondisi ekonomi rumah tangga nelayan cumi-cumi masih relatif rendah, dengan pendapatan yang dalam banyak kasus berada di bawah upah minimum provinsi. Kepemilikan aset produktif dan kemampuan menabung juga masih terbatas. Di sisi sosial, partisipasi berbagai pemangku kepentingan dalam pengelolaan dinilai tinggi, tetapi konflik antara nelayan maupun antara nelayan dan pemerintah masih terjadi.Hasil penilaian enam domain EAFM menunjukkan nilai rata-rata pengelolaan sebesar 58 yang masuk kategori sedang. Domain teknologi penangkapan dan sosial memperoleh kategori baik, sementara sumber daya ikan dan aspek ekonomi masih berada pada kategori kurang. Aspek kelembagaan juga memerlukan penguatan, terutama karena belum adanya rencana pengelolaan perikanan Teluk Tomini yang secara khusus diterapkan sebagai dasar pengelolaan bersama.Temuan tersebut menegaskan bahwa menjaga keberlanjutan cumi-cumi di Teluk Tomini membutuhkan pendekatan yang lebih menyeluruh. Peneliti merekomendasikan penggunaan alat tangkap yang semakin selektif, rehabilitasi ekosistem, peningkatan kesejahteraan nelayan, serta penguatan kerja sama antarlembaga dan keterlibatan para pemangku kepentingan.Dengan pendekatan berbasis ekosistem, pengelolaan cumi-cumi tidak hanya diarahkan untuk mempertahankan hasil tangkapan, tetapi juga menjaga keseimbangan lingkungan dan memastikan sumber daya tersebut tetap dapat dimanfaatkan oleh masyarakat pesisir dalam jangka panjang.Artikel Penelitian Dipublikasikan Melalui Tautan Berikut

Mahasiswa KKN UNG Kenalkan Pirolisis, Ubah Sampah Plastik Jadi Peluang Edukasi Energi di Desa Luhu
06 Oct 2026
01:42 WITA

Mahasiswa KKN UNG Kenalkan Pirolisis, Ubah Sampah Plastik Jadi Peluang Edukasi Energi di Desa Luhu

Abdul Wahid Rauf

GORONTALO — Tumpukan sampah plastik yang selama ini dipandang sebagai persoalan lingkungan mulai dilihat dari sudut pandang berbeda oleh mahasiswa KKN Tematik Infrastruktur Universitas Negeri Gorontalo (UNG) Tahun 2026. Melalui kegiatan edukasi dan demonstrasi di Desa Luhu, mahasiswa memperkenalkan teknologi pirolisis sebagai salah satu alternatif pengolahan sampah plastik sekaligus mengajak masyarakat memperkuat kebiasaan memilah sampah sejak dari sumbernya.Kegiatan tersebut menjadi ruang pembelajaran bagi masyarakat untuk mengenal bagaimana plastik tertentu dapat diolah melalui proses pemanasan dalam kondisi oksigen terbatas. Dalam proses pirolisis, uap yang dihasilkan kemudian didinginkan hingga membentuk cairan yang dikenal sebagai minyak pirolisis.Mahasiswa KKN juga menjelaskan bahwa hasil pengolahan tidak hanya ditentukan oleh proses pemanasan, tetapi turut dipengaruhi oleh jenis plastik, kondisi proses, hingga penanganan produk dan residu yang dihasilkan. Karena itu, teknologi pirolisis diperkenalkan bukan sebagai solusi tunggal persoalan sampah, melainkan sebagai bagian dari edukasi dan penjajakan teknologi yang perlu dilakukan secara tepat dan aman.Koordinator Desa KKN, Haikal, mengatakan bahwa perubahan dalam pengelolaan sampah dapat dimulai dari langkah sederhana yang dilakukan secara konsisten oleh masyarakat.“Melalui kegiatan ini, kami ingin menunjukkan bahwa pengelolaan sampah dapat dimulai dari langkah sederhana, terutama pemilahan. Teknologi pengolahan perlu dijalankan secara aman dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat,” ujarnya.Dalam edukasi tersebut, mahasiswa turut menekankan bahwa minyak pirolisis tidak dapat langsung dianggap setara dengan bahan bakar seperti bensin atau solar. Pemanfaatannya membutuhkan pengujian mutu, penilaian emisi, pengelolaan residu, serta perhatian terhadap aspek keselamatan.Pendekatan tersebut sekaligus menempatkan kegiatan KKN sebagai ruang untuk membangun pemahaman masyarakat secara lebih utuh. Sebelum berbicara mengenai teknologi pengolahan, masyarakat diajak terlebih dahulu memahami pentingnya mengurangi penggunaan plastik dan memilah sampah agar jenis sampah yang terkumpul dapat dikelola sesuai karakteristiknya.Melalui KKN Tematik Infrastruktur 2026, mahasiswa berharap kegiatan ini dapat membuka ruang diskusi yang lebih luas antara masyarakat dan pemerintah Desa Luhu mengenai sistem pengumpulan sampah plastik, pilihan teknologi yang sesuai, serta langkah tindak lanjut yang dapat dikelola secara berkelanjutan. (**)

Sirup Sorgum Manis, Dari Batang Tanaman Menjadi Pemanis Fungsional untuk Pangan Berkelanjutan
05 Oct 2026
01:13 WITA

Sirup Sorgum Manis, Dari Batang Tanaman Menjadi Pemanis Fungsional untuk Pangan Berkelanjutan

Abdul Wahid Rauf

GORONTALO – Batang sorgum manis ternyata menyimpan potensi lebih dari sekadar bagian tanaman. Melalui kajian ilmiah, peneliti Universitas Negeri Gorontalo (UNG) bersama peneliti dari sejumlah institusi mengungkap peluang pemanfaatan batang sorgum menjadi sirup alami yang tidak hanya berfungsi sebagai pemanis, tetapi juga berpotensi dikembangkan sebagai bahan fungsional dalam berbagai produk pangan.Potensi tersebut dibahas dalam artikel review berjudul Sweet sorghum (Sorghum bicolor var. saccharatum (L.) Mohlenbr.) syrup: sustainable food upcycling and functional enhancement in animal products yang diterbitkan dalam Discover Food Volume 5 Tahun 2025.Dalam kajian tersebut, Agus Bahar Rachman dan Eduart Wolok dari Universitas Negeri Gorontalo turut berkontribusi bersama peneliti dari sejumlah institusi lainnya. Artikel ini merangkum berbagai hasil penelitian mengenai sirup sorgum manis, mulai dari proses produksi, komposisi nutrisi dan senyawa fenolik, hingga pemanfaatannya dalam pengembangan produk pangan berbasis susu, daging, maupun bakery.Kajian ini sekaligus menempatkan pemanfaatan sirup sorgum dalam perspektif food upcycling, yaitu upaya meningkatkan nilai guna suatu sumber daya pangan melalui pengolahan menjadi produk yang memiliki nilai tambah. Dalam konteks sorgum manis, batang tanaman yang mengandung sari manis dapat diekstraksi, dijernihkan, kemudian melalui proses evaporasi untuk menghasilkan sirup.Pemanfaatan tersebut membuka peluang pengembangan produk pangan berbasis hasil pertanian sekaligus mendukung pendekatan yang lebih berkelanjutan dalam pemanfaatan sumber daya.Tidak Hanya Menghasilkan Rasa ManisMenariknya, sirup sorgum tidak hanya memiliki kandungan gula yang memberikan rasa manis. Berdasarkan berbagai penelitian yang dirangkum dalam kajian, sirup sorgum mengandung karbohidrat, protein, mineral, serta sejumlah senyawa fenolik.Kandungan tersebut dapat berbeda bergantung pada varietas sorgum, kondisi lingkungan, dan proses pengolahan. Sirup sorgum juga mengandung glukosa, fruktosa, dan sukrosa, dengan tingkat kemanisan yang dilaporkan sekitar 66–88 persen dibandingkan sukrosa.Salah satu aspek yang mendapat perhatian adalah keberadaan senyawa fenolik, antara lain asam ferulat, asam kafeat, p-kumarat, dan sinapat. Berbagai senyawa tersebut menjadi bagian dari karakter sirup sorgum yang menarik untuk dikaji lebih lanjut karena berkaitan dengan potensi aktivitas antioksidan dan fungsi tambahan dalam produk pangan.Berpeluang Dikembangkan pada Beragam Produk PanganKajian yang dilakukan menunjukkan bahwa sirup sorgum telah diteliti dalam berbagai formulasi pangan. Pada produk berbasis daging, misalnya, penggunaan sirup sorgum pada sosis dilaporkan dapat membantu memperlambat oksidasi lipid selama penyimpanan. Komponen sirup juga berpotensi berinteraksi dengan protein dan memengaruhi sifat gel serta tekstur produk.Sementara itu, pada produk berbasis susu, sirup sorgum telah dikaji dalam pengembangan soft ice cream. Hasil penelitian yang dirangkum menunjukkan bahwa produk hasil reaksi Maillard dapat memengaruhi karakter fisik dan kimia es krim, termasuk tekstur dan kapasitas antioksidannya.Potensi serupa juga terlihat pada produk bakery. Salah satu penelitian yang dirangkum menunjukkan bahwa penggunaan hingga 20 persen sirup sorgum sebagai pengganti gula dalam pembuatan kue masih mampu mempertahankan tinggi, volume, dan tekstur produk. Hasil pengujian sensori juga tidak menunjukkan perbedaan rasa yang signifikan dibandingkan kue berbahan gula biasa.Selain itu, sirup sorgum telah dikaji dalam berbagai produk lain, seperti kukis, biskuit, roti manis, permen, dan toffee. Temuan tersebut memperlihatkan luasnya peluang pengembangan sirup sorgum dalam inovasi formulasi pangan.Pentingnya Pengendalian Proses PengolahanMeskipun menawarkan berbagai peluang, kajian tersebut juga menekankan pentingnya pengendalian selama proses pengolahan, terutama terkait reaksi Maillard.Reaksi antara gula dan protein selama pemanasan berperan dalam pembentukan warna, aroma, dan cita rasa makanan. Dalam kondisi yang terkendali, reaksi tersebut dapat memberikan karakter yang diinginkan pada produk. Namun, pemanasan yang berlebihan berpotensi menghasilkan senyawa yang tidak diinginkan.Karena itu, pengaturan suhu dan waktu pemrosesan menjadi aspek penting dalam pengembangan produk pangan berbasis sirup sorgum.Memperkuat Pemanfaatan Sumber Daya PertanianKontribusi Agus Bahar Rachman dan Eduart Wolok bersama peneliti lainnya dalam kajian tersebut memperkaya pembahasan mengenai peluang pemanfaatan sorgum manis sebagai bahan pangan bernilai tambah.Kajian ini menunjukkan bahwa pemanfaatan sorgum dapat diarahkan tidak hanya pada hasil bijinya, tetapi juga pada bagian batang melalui pengolahan menjadi sirup. Pendekatan tersebut sejalan dengan upaya mengoptimalkan sumber daya pertanian sekaligus mendorong inovasi produk pangan yang lebih berkelanjutan.Bagi pengembangan pangan berbasis bahan lokal, sirup sorgum memiliki peluang untuk terus dikaji, terutama dalam menentukan formulasi, kondisi pengolahan, serta karakteristik produk yang paling sesuai.Melalui kajian tersebut, sorgum manis menunjukkan potensi sebagai salah satu sumber bahan pangan alternatif yang dapat dikembangkan lebih jauh. Dari batang tanaman yang sederhana, terbuka peluang menghadirkan produk pemanis sekaligus bahan fungsional yang dapat digunakan dalam berbagai inovasi pangan.Kontribusi peneliti UNG dalam kajian tersebut menjadi bagian dari upaya memperluas pemanfaatan hasil penelitian untuk mendukung inovasi pangan, peningkatan nilai tambah sumber daya pertanian, serta pengembangan pangan yang lebih berkelanjutan.Artikel Penelitian Dipublikaskan Melalui Laman Berikut

Buah Mangrove Jadi Pengawet Alami, Inovasi UNG untuk Menjaga Mutu Ikan Cakalang
05 Oct 2026
00:32 WITA

Buah Mangrove Jadi Pengawet Alami, Inovasi UNG untuk Menjaga Mutu Ikan Cakalang

Abdul Wahid Rauf

Mangrove selama ini dikenal sebagai benteng alami yang melindungi kawasan pesisir dari abrasi sekaligus menjadi habitat berbagai biota laut. Namun, di balik fungsi ekologisnya, tanaman mangrove ternyata menyimpan potensi lain yang menarik untuk dikembangkan, khususnya dalam pengolahan hasil perikanan.Potensi tersebut terungkap melalui penelitian yang dilakukan oleh Risky S. Maulanan, Lukman Mile, dan Fernandy M. Djailani dari Departemen Teknologi Hasil Perikanan, Fakultas Kelautan dan Teknologi Perikanan (FKTP), Universitas Negeri Gorontalo. Penelitian mereka mengkaji pemanfaatan buah mangrove Rhizophora mucronata sebagai bahan pengawet alami untuk menjaga kualitas fillet ikan cakalang (Katsuwonus pelamis).Penelitian yang diterbitkan dalam Applied Environmental Science Vol. 2 No. 2 Tahun 2025 tersebut berjudul “Effectiveness of Water Extract of Mangrove Fruit Flour (Rhizophora mucronata) as a Natural Preservative in Skipjack Fish Fillets (Katsuwonus pelamis)”.Dari Hutan Mangrove ke Teknologi Pengawetan IkanGagasan penelitian ini berangkat dari dua potensi yang dimiliki Gorontalo, yakni kekayaan ekosistem mangrove dan besarnya potensi perikanan tangkap, terutama ikan cakalang.Ikan cakalang merupakan salah satu komoditas perikanan yang bernilai ekonomi, tetapi seperti produk ikan segar lainnya, kualitasnya relatif mudah mengalami penurunan. Aktivitas mikroorganisme menjadi salah satu faktor yang dapat mempercepat kerusakan ikan sehingga diperlukan teknologi penanganan pascapanen yang mampu mempertahankan mutu produk.Di sisi lain, buah Rhizophora mucronata diketahui mengandung sejumlah senyawa bioaktif. Para peneliti kemudian mengeksplorasi kemungkinan pemanfaatannya sebagai sumber bahan pengawet alami.Dalam penelitian tersebut, buah mangrove dikeringkan dan diolah menjadi tepung. Tepung kemudian diekstraksi menggunakan air melalui proses pemanasan pada suhu 70°C selama 30 menit. Ekstrak yang dihasilkan selanjutnya digunakan untuk merendam fillet ikan cakalang.Peneliti menguji beberapa lama waktu perendaman, yakni 10, 12, dan 14 jam. Kualitas ikan kemudian diamati melalui sejumlah parameter, antara lain penilaian organoleptik, pH, serta Total Plate Count (TPC) untuk mengetahui jumlah mikroorganisme yang terdapat pada ikan setelah perlakuan.Senyawa Alami yang Menahan Pertumbuhan BakteriHasil uji fitokimia memberikan petunjuk penting. Ekstrak tepung buah Rhizophora mucronata diketahui mengandung alkaloid dan triterpenoid.Kedua kelompok senyawa tersebut dikaitkan dengan aktivitas antibakteri sehingga berpotensi membantu menghambat pertumbuhan bakteri pembusuk pada bahan pangan. Temuan inilah yang menjadi salah satu dasar pemanfaatan ekstrak buah mangrove sebagai bahan pengawet alami pada fillet ikan cakalang.Salah satu indikator yang menarik terlihat dari hasil pengujian TPC. Pada ikan yang tidak mendapatkan perlakuan perendaman, nilai TPC tercatat sekitar 27,09 × 10³. Setelah direndam selama 10 jam, nilainya turun menjadi 15,39 × 10³.Penurunan lebih lanjut terlihat pada perendaman selama 12 jam, dengan nilai TPC mencapai 8,38 × 10³. Sementara itu, pada perendaman selama 14 jam, nilai TPC tercatat 10,82 × 10³.Data tersebut menunjukkan adanya kemampuan ekstrak buah mangrove dalam menahan pertumbuhan bakteri. Nilai TPC terendah dalam penelitian justru ditemukan pada perlakuan perendaman selama 12 jam.Tidak Hanya Bakteri, Mutu Ikan Juga DiamatiPengawetan bahan pangan tentu tidak hanya berbicara mengenai jumlah bakteri. Karakteristik yang dapat dilihat dan dirasakan konsumen juga menjadi bagian penting dalam menentukan kualitas produk. Karena itu, penelitian turut mengamati penampakan, aroma, dan tekstur fillet ikan.Pada parameter aroma, ikan yang mendapat perlakuan perendaman masih menunjukkan karakteristik aroma yang relatif segar. Peneliti mengaitkan kondisi tersebut dengan keberadaan senyawa antibakteri dalam ekstrak mangrove yang dapat membantu menghambat aktivitas mikroorganisme penyebab penurunan mutu.Namun, lama perendaman tetap perlu diperhatikan. Pada parameter tekstur, terjadi perubahan antara ikan tanpa perlakuan dan ikan yang direndam selama 10, 12, maupun 14 jam. Hal ini menunjukkan bahwa penggunaan ekstrak alami sebagai bahan pengawet tetap membutuhkan pengaturan waktu yang tepat agar efektivitas pengawetan tidak mengorbankan karakteristik fisik produk.Sementara itu, hasil pengukuran pH berada pada kisaran 5,46–6,04 dan menunjukkan kecenderungan menurun seiring bertambahnya lama perendaman. Dalam penelitian tersebut, seluruh perlakuan berada pada kondisi asam.Menjaga Ikan, Memanfaatkan Potensi LokalTemuan penelitian ini menarik bukan semata-mata karena buah mangrove dapat digunakan untuk membantu menghambat pertumbuhan bakteri. Lebih jauh, penelitian tersebut memperlihatkan bagaimana sumber daya lokal dapat dihubungkan dengan kebutuhan teknologi pengolahan hasil perikanan.Gorontalo memiliki kawasan mangrove sekaligus potensi perikanan tangkap yang besar. Menghubungkan kedua sumber daya tersebut melalui penelitian membuka peluang lahirnya inovasi yang berbasis pada kekayaan lokal.Pemanfaatan bahan alami juga dapat menjadi salah satu arah pengembangan teknologi pengawetan yang lebih berkelanjutan. Namun, penerapannya tentu tetap membutuhkan kajian lanjutan untuk menentukan formulasi, konsentrasi, waktu perendaman, keamanan pangan, serta karakteristik produk yang paling sesuai.Dalam artikel penelitian tersebut, perendaman selama 10 jam disebut sebagai waktu optimal berdasarkan indikator kualitas organoleptik, aroma, dan tekstur. Sementara hasil pengujian TPC menunjukkan bahwa ekstrak tetap memiliki kemampuan menahan pertumbuhan bakteri hingga periode perendaman yang lebih panjang.Pada bagian kesimpulan, penelitian juga menunjukkan bahwa ekstrak buah Rhizophora mucronata dapat memberikan daya tahan hingga 14 jam berdasarkan parameter aroma. Namun, perubahan penampakan dan tekstur tetap perlu diperhatikan karena berkaitan dengan proses oksidasi kimia.Dari Konservasi ke InovasiPenelitian yang dilakukan para akademisi FKTP UNG ini memberikan gambaran bahwa mangrove tidak hanya penting untuk dipertahankan karena fungsi ekologisnya. Potensi sumber daya yang terkandung di dalamnya juga dapat menjadi objek penelitian untuk menghasilkan inovasi yang bermanfaat bagi masyarakat.Pemanfaatan buah mangrove sebagai bahan pengawet alami mempertemukan dua kepentingan sekaligus: menjaga kualitas hasil perikanan dan mengeksplorasi potensi sumber daya lokal secara lebih bijaksana.Bagi Gorontalo, pendekatan semacam ini membuka ruang pengembangan teknologi pascapanen yang tidak hanya berorientasi pada peningkatan kualitas produk, tetapi juga pada pemanfaatan kekayaan hayati daerah.Pada akhirnya, penelitian ini mengingatkan bahwa inovasi tidak selalu harus datang dari bahan atau teknologi yang jauh dari lingkungan sekitar. Di kawasan pesisir Gorontalo, salah satu jawabannya mungkin justru tumbuh di antara akar-akar mangrove—menunggu untuk diteliti, dikembangkan, dan dimanfaatkan secara berkelanjutan.Artikel Penelitian Dipublikasikan Melalui Tautan Berikut

Dari Hasil Laut ke Produk Bernilai, KKN UNG Dorong UMKM Pesisir Huangobotu Naik Kelas
22 Sep 2026
07:17 WITA

Dari Hasil Laut ke Produk Bernilai, KKN UNG Dorong UMKM Pesisir Huangobotu Naik Kelas

Abdul Wahid Rauf

Potensi hasil perikanan di Desa Huangobotu, Kecamatan Kabila Bone, Kabupaten Bone Bolango, tidak hanya dapat dimanfaatkan sebagai sumber pangan keluarga. Jika diolah dan dipasarkan dengan baik, hasil perikanan juga memiliki peluang untuk berkembang menjadi produk usaha yang bernilai ekonomi.Melihat potensi tersebut, mahasiswa KKN Tematik Tahap II Universitas Negeri Gorontalo (UNG) menggelar sosialisasi pengembangan UMKM pesisir di Kantor Desa Huangobotu. Kegiatan ini menjadi bagian dari program KKN Tematik Tahap II UNG yang bertajuk “Penguatan Pangan Keluarga Melalui Peningkatan Daya Saing Produk Hasil Perikanan Berbasis Branding, Kemasan, dan Kemitraan Pemasaran.”Kegiatan ini diikuti pemerintah desa, Karang Taruna, pelaku UMKM, serta masyarakat setempat. Sosialisasi menghadirkan akademisi UNG yakni Wila Rumina Nento, S.Pi., M.Si., dan Sri Fitriani Monoarfa, S.Pi., M.Si., sebagai narasumber.Dalam materinya, Wila Rumina Nento, S.Pi., M.Si., mengangkat topik “Penguatan Pangan Keluarga melalui Peningkatan Daya Saing Produk Hasil Perikanan Berbasis Branding dan Kemasan.” Ia mengaitkan pemanfaatan ikan dengan ketahanan pangan keluarga sekaligus peluang pengembangan produk olahan skala rumah tangga.Peserta juga diperkenalkan pada berbagai aspek yang dapat meningkatkan daya saing produk, mulai dari pemilihan nama atau merek, desain dan jenis kemasan yang sesuai dengan karakteristik produk, hingga penyusunan label. Aspek legalitas dan jaminan mutu turut menjadi bagian penting agar produk yang dikembangkan tidak hanya menarik secara tampilan, tetapi juga memiliki dasar yang mendukung kepercayaan konsumen.Selanjutnya, Sri Fitriani Monoarfa, S.Pi., M.Si., membahas strategi pemasaran produk olahan hasil perikanan. Materi diarahkan pada hal-hal yang dekat dengan kebutuhan pelaku usaha, seperti mengenali pasar, menghitung harga pokok produksi (HPP) secara tepat, menentukan saluran penjualan, membangun kemitraan pemasaran, serta memilih strategi promosi yang sesuai.Pencatatan penjualan juga menjadi bagian yang ditekankan agar pelaku UMKM dapat mengetahui perkembangan usahanya secara lebih terukur. Dengan demikian, pengembangan produk tidak berhenti pada proses produksi, tetapi berlanjut hingga bagaimana produk tersebut dapat diterima pasar dan memberikan manfaat ekonomi bagi keluarga.Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) KKN Tematik II UNG Desa Huangobotu, Sitty Ainsyah Habibie, S.Pi., M.Sc., mengatakan bahwa potensi hasil perikanan di wilayah pesisir, perlu diikuti dengan kemampuan masyarakat dalam mengembangkan produk dan memasarkannya. Menurutnya hasil perikanan memiliki potensi yang besar untuk dikembangkan, menjadi produk pangan keluarga sekaligus produk usaha.“Peningkatan daya saing tidak cukup hanya dengan menghasilkan produk, tetapi juga perlu memperhatikan branding, kemasan, dan strategi pemasaran agar produk lebih mudah dikenali dan memiliki nilai jual,” ujarnya. Dengan adanya program ini,  Sitty berharap masyarakat Desa Huangobotu diharapkan semakin melihat hasil perikanan sebagai potensi yang dapat dikembangkan dari hulu hingga hilir. Produk yang berasal dari sumber daya lokal tidak hanya dapat memenuhi kebutuhan pangan keluarga, tetapi juga memiliki peluang untuk menjadi bagian dari pengembangan usaha masyarakat pesisir. (**)

Untuk Lindungi Laut, Mahasiswa KKN Infrastruktur UNG Desain Pengelolaan Air Limbah dan Persampahan Pesisir Leato Selatan
14 Sep 2026
06:29 WITA

Untuk Lindungi Laut, Mahasiswa KKN Infrastruktur UNG Desain Pengelolaan Air Limbah dan Persampahan Pesisir Leato Selatan

Rachmad Hidayah

Gorontalo — Mahasiswa KKN Tematik Infrastruktur Universitas Negeri Gorontalo (UNG) di Kelurahan Leato Selatan, Kecamatan Dumbo Raya, Kota Gorontalo, mengangkat tema “Kemitraan Multipihak untuk Pengelolaan Sanitasi dan Persampahan Berkelanjutan”.Melalui tema tersebut, mahasiswa mendesain pengelolaan air limbah domestik melalui biofilter dan cubluk kembar, serta merancang sistem pengelolaan sampah pesisir berbasis ekonomi sirkular.Rancangan mahasiswa KKN yang dibimbing oleh Dr. Raghel Yunginger, Mulyani Z. Paramata, M.T., dan Dr. Boby R. Payu tersebut berangkat dari hasil survei lapangan dan pendataan Identifikasi Masalah dan Analisis Potensi (IMAP). Hasil pendataan tersebut telah dipaparkan mahasiswa pada FGD pertama kepada OPD terkait, Balai Penataan Bangunan, Prasarana dan Kawasan (BPBPK) Gorontalo, pemerintah kecamatan dan kelurahan, SDGs Center UNG, masyarakat, serta pemerhati lingkungan Rosyid A. Adzhar.Pada FGD kedua yang dilaksanakan pada 12 September 2026, mahasiswa memaparkan dua desain pengolahan air limbah rumah tangga, yaitu sistem biofilter untuk greywater dan cubluk kembar untuk blackwater. Kedua sistem tersebut dirancang untuk menurunkan beban pencemar antropogenik sebelum air limbah masuk ke lingkungan perairan.Di samping itu, untuk pengelolaan persampahan pesisir, mahasiswa mendata profil sampah dan volumenya untuk mendesain sistem pengelolaan terpadu mulai dari pemilahan, pengangkutan, hingga daur ulang berbasis ekonomi sirkular.Pengelolaan sampah organik diarahkan menjadi pupuk kompos dan pellet pakan. Sementara itu, sampah anorganik difokuskan pada pengepakan sampah sesuai dengan profil sampah anorganik yang bernilai jual.Dengan demikian, material yang masih bernilai dapat diolah secara terpadu di TPS3R Leato Selatan, sekaligus mengurangi sumber pencemaran antropogenik yang dapat mencemari kawasan permukiman dan perairan laut.Integrasi desain tersebut diarahkan untuk memutus jalur utama pencemaran dari daratan, yaitu air limbah domestik dan sampah yang berpotensi terbawa hingga ke kawasan pantai dan laut.Camat Dumbo Raya, Heriyanto M. Abas, S.E., menyampaikan apresiasi terhadap desain inovatif mahasiswa yang disusun berbasis data dan kondisi nyata di lapangan.Menurutnya, solusi yang ditawarkan sangat inovatif, ilmiah, dan dapat menjadi masukan penting bagi pemerintah dalam menentukan arah kebijakan, khususnya terkait sanitasi, persampahan, dan perlindungan lingkungan pesisir.Inovasi ini penting karena Leato Selatan merupakan kawasan pesisir yang terhubung langsung dengan perairan Teluk Tomini, salah satu kekayaan alam Gorontalo yang memiliki fungsi ekologis, ekonomi, sosial, dan pariwisata.Melalui KKN Tematik Infrastruktur, kerja sama LP2M-UNG dengan Kementerian PUPR, mahasiswa menghadirkan desain ilmiah dan aksi nyata pengelolaan air limbah dan persampahan yang diharapkan dapat mendukung arah kebijakan pemerintah dalam pencapaian pembangunan berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs), terutama tujuan 11 (kota dan permukiman berkelanjutan), 13 (penanganan perubahan iklim), dan 14 (ekosistem lautan).Melalui desain tersebut, mahasiswa KKN menunjukkan bahwa perlindungan laut dapat dimulai dari pembenahan sanitasi dan persampahan di tingkat rumah tangga yang didukung dengan tata kelola berbasis kemitraan multipihak secara berkelanjutan, yang selaras dengan SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan.

Perkenalkan Teknologi Eco-Cooler untuk Masyarakat, Peneliti UNG Hadirkan Solusi Rumah Sejuk Tanpa Listrik Dari Limbah Tongkol Jagung
07 Sep 2026
05:17 WITA

Perkenalkan Teknologi Eco-Cooler untuk Masyarakat, Peneliti UNG Hadirkan Solusi Rumah Sejuk Tanpa Listrik Dari Limbah Tongkol Jagung

Abdul Wahid Rauf

Tongkol jagung yang selama ini lebih banyak berakhir sebagai sisa hasil panen, mulai mendapat kehidupan baru di tangan dosen Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Negeri Gorontalo (UNG).Melalui kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat, tim dosen UNG memperkenalkan eco-cooler, sebuah inovasi modul ventilasi alami berbahan limbah tongkol jagung kepada masyarakat Desa Bongopini, Kecamatan Tilongkabila, Kabupaten Bone Bolango,.Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya hilirisasi hasil penelitian UNG, dengan membawa inovasi yang sebelumnya dikembangkan melalui riset untuk diperkenalkan dan diterapkan secara langsung di tengah masyarakat.Eco-cooler dikembangkan menggunakan campuran semen, pasir, dan limbah tongkol jagung. Modul ini dibuat dalam ukuran 20×20 cm dan 30×30 cm, atau setara dengan ukuran roster yang umum digunakan pada bangunan.Dengan bentuk tersebut, eco-cooler dirancang agar relatif mudah diaplikasikan sebagai bagian dari bangunan. Menariknya, modul ini tidak membutuhkan listrik ataupun perangkat mekanis untuk menjalankan fungsinya.Prinsip kerjanya memanfaatkan aliran udara alami yang melewati modul ventilasi untuk membantu menciptakan kondisi ruang yang lebih sejuk. Berdasarkan hasil pengujian tim peneliti, penggunaan eco-cooler mampu menurunkan suhu ruang dari sekitar 29°C menjadi kisaran 26,6–27,1°C.Temuan tersebut kemudian menjadi pijakan bagi tim untuk membawa inovasi dari ruang penelitian menuju ruang pengabdian, sehingga manfaat riset tidak berhenti pada hasil pengujian, tetapi dapat dipelajari dan dikembangkan bersama masyarakat.Ketua Tim Pengabdian, Dr. Ir. Ernawati, S.T., M.T., bersama lima dosen Arsitektur FT UNG, yakni Rahmat Firdaus Bouty, S.Ars., M.Ars.; Niniek Pratiwi, S.T., M.T.; Nurnaningsih N. Abdul, S.T., M.T.; Syafriani, S.T., M.Ars.; serta Nur Mutmainnah, S.T., M.Ars., memandu langsung proses sosialisasi.Dalam kegiatan tersebut, masyarakat tidak hanya diperkenalkan pada konsep dan manfaat eco-cooler, tetapi juga diajak melihat potensi lain dari limbah pertanian yang tersedia di lingkungan sekitar.Tongkol jagung yang selama ini dipandang sebagai sisa produksi pertanian diperkenalkan sebagai salah satu material yang dapat diolah menjadi bagian dari elemen bangunan. Pendekatan ini mempertemukan dua kebutuhan sekaligus, yakni mengurangi potensi limbah pertanian dan menghadirkan alternatif pendekatan pasif untuk mendukung kenyamanan termal bangunan.Tidak berhenti pada sosialisasi, mahasiswa yang tergabung dalam tim pelaksana turut mendemonstrasikan proses pembuatan modul eco-cooler kepada masyarakat.Keterlibatan mahasiswa menjadi bagian penting dari kegiatan tersebut. Mereka mendapatkan kesempatan untuk menerjemahkan pengetahuan mengenai arsitektur dan material bangunan yang diperoleh di bangku kuliah menjadi solusi yang dapat dijelaskan, dipraktikkan, dan dikembangkan bersama masyarakat.Sebagai persiapan menuju tahapan pelatihan berikutnya, masyarakat Desa Bongopini juga diajak mulai mengumpulkan, menyisihkan, dan mengeringkan tongkol jagung sisa panen. Bahan tersebut nantinya akan digunakan dalam praktik pembuatan eco-cooler.Dengan demikian, masyarakat tidak hanya menjadi penerima informasi, tetapi dipersiapkan untuk memiliki pengalaman langsung dalam mengolah material yang tersedia di lingkungan mereka.Bagi tim UNG, pemanfaatan tongkol jagung dalam eco-cooler menunjukkan bahwa material sederhana yang berada di sekitar masyarakat, dapat memiliki nilai guna baru ketika dipadukan dengan pengetahuan dan inovasi.Lebih dari sekadar menghasilkan sebuah produk, kegiatan ini memperlihatkan bagaimana riset arsitektur dapat bergerak dari laboratorium menuju masyarakat. Pengetahuan mengenai material, ventilasi alami, dan desain bangunan diterjemahkan menjadi inovasi yang dekat dengan kebutuhan dan potensi lokal.Hilirisasi eco-cooler pun menjadi bagian dari upaya UNG untuk memastikan hasil penelitian tidak berhenti sebagai karya akademik, tetapi dapat terus dikembangkan menjadi solusi yang memberi manfaat bagi masyarakat.

UNG Mengajar Batch 10 Terjunkan 1.108 Mahasiswa, Hadirkan Dampak Nyata di Sekolah
07 Sep 2026
02:50 WITA

UNG Mengajar Batch 10 Terjunkan 1.108 Mahasiswa, Hadirkan Dampak Nyata di Sekolah

Abdul Wahid Rauf

GORONTALO – Sebagai komitmen mendukung penuatan kualitas pembelajaran di sekolah, Universitas Negeri Gorontalo kembali melaksanakan program UNG Mengajar  Batch 10 untuk tiga wilayah di Provinsi Gorontalo. Dalam program UNG Mengajar ini, kampus kerakyatan UNG akan menerjunkan sebanyak 1.108 mahasiswa yang berasal dari 18 program studi kependidikan di lingkungan UNG.Ketiga wilayah tersebut meliputi Kabupaten Gorontalo, Kota Gorontalo, dan Kabupaten Bone Bolango. Selama kurang lebih empat bulan, para mahasiswa akan terlibat langsung dalam aktivitas pendidikan dan pembelajaran di sekolah mitra, sekaligus membawa semangat pengabdian untuk memberikan kontribusi nyata bagi kemajuan pendidikan.Ketua Lembaga Penjaminan Mutu dan Pengembangan Pembelajaran (LPMPP) UNG, Prof. Dr. Elya Nusantari, M.Pd., menjelaskan bahwa pelaksanaan UNG Mengajar terus mengalami perkembangan, seiring dengan perubahan kebijakan dan arah pengembangan program pendidikan tinggi.Menurutnya, UNG Mengajar yang sebelumnya menjadi bagian dari kebijakan Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM), kini diarahkan menjadi bagian dari semangat Kampus Berdampak.“Artinya, kehadiran mahasiswa bukan hanya untuk belajar di lapangan, tetapi harus benar-benar memberikan dampak nyata bagi sekolah dan masyarakat,” jelas Prof. Elya.Melalui program ini, mahasiswa mendapatkan ruang untuk mengaplikasikan pengetahuan dan kompetensi yang diperoleh selama perkuliahan secara langsung di lingkungan sekolah. Kehadiran mereka diharapkan dapat memperkuat berbagai aspek pembelajaran, terutama dalam pengembangan literasi, numerasi, serta karakter peserta didik.Lebih dari sekadar pengalaman mengajar, UNG Mengajar menjadi ruang bagi mahasiswa untuk memahami secara langsung dinamika pendidikan di lapangan. Mereka dituntut mampu membaca kebutuhan sekolah, beradaptasi dengan lingkungan, serta menghadirkan gagasan dan pendekatan pembelajaran yang relevan.Rektor UNG melalui Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Alumni, Prof. Dr. Mohamad Amir Arham, M.E., menegaskan bahwa keterlibatan mahasiswa dalam program UNG Mengajar, merupakan salah satu bentuk nyata kontribusi UNG terhadap peningkatan kualitas pendidikan di Gorontalo.Ia berharap para mahasiswa tidak hanya hadir untuk membantu menjalankan aktivitas pembelajaran yang sudah berlangsung di sekolah, tetapi mampu memberikan nilai tambah melalui inovasi dan gagasan baru.“Kehadiran mahasiswa bukan hanya untuk menggantikan peran guru yang ada di sekolah. Mahasiswa harus hadir membawa inovasi, sistem, serta pendekatan baru yang kalian miliki untuk memberikan dampak positif terhadap proses pembelajaran,” tegas Amir.Pesan tersebut menjadi penekanan penting dalam pelaksanaan UNG Mengajar Batch 10. Sebagai mahasiswa dari berbagai program studi kependidikan, para peserta diharapkan mampu menjadikan sekolah sebagai ruang belajar sekaligus ruang pengabdian. (**)

Mahasiswa KKN-PK UNG Olah Jeruk Nipis Jadi Aromaterapi untuk Bantu Redakan Kecemasan Ibu Hamil
04 Sep 2026
05:37 WITA

Mahasiswa KKN-PK UNG Olah Jeruk Nipis Jadi Aromaterapi untuk Bantu Redakan Kecemasan Ibu Hamil

Abdul Wahid Rauf

GORONTALO – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Profesi Kesehatan (KKN-PK) Universitas Negeri Gorontalo (UNG) menghadirkan inovasi berbasis potensi lokal, melalui pemanfaatan jeruk nipis menjadi aromaterapi roll-on. Inovasi tersebut dikembangkan sebagai salah satu pendekatan nonfarmakologis, untuk membantu menciptakan rasa rileks dan mengurangi kecemasan ibu hamil menjelang persalinan.Program pemberdayaan masyarakat ini dilaksanakan di Desa Tolotio, Kecamatan Tibawa, Kabupaten Gorontalo, dengan mengusung tema “Pemberdayaan Ibu Hamil Melalui Pembuatan Aromaterapi Jeruk sebagai Terapi Nonfarmakologis untuk Mengurangi Kecemasan Menjelang Persalinan.”Melalui program tersebut, mahasiswa KKN-PK tidak hanya memberikan edukasi mengenai pemanfaatan bahan alam, tetapi juga mendampingi masyarakat secara langsung dalam mengolah kulit jeruk nipis, menjadi minyak atsiri yang kemudian diformulasikan sebagai produk aromaterapi roll-on.Minyak atsiri jeruk nipis diketahui memiliki kandungan senyawa aromatik, termasuk limonene, yang berpotensi memberikan efek relaksasi. Aroma segar yang dihasilkan diharapkan dapat membantu, menciptakan suasana nyaman bagi ibu hamil dalam menghadapi masa menjelang persalinan.Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) KKN-PK UNG, Dr. Mohamad Adam Mustapa, M.Sc., mengatakan program tersebut merupakan bentuk nyata upaya mahasiswa, mentransformasikan pengetahuan yang diperoleh di bangku kuliah menjadi inovasi yang dapat dimanfaatkan masyarakat.“Melalui kegiatan ini, mahasiswa tidak hanya belajar menerapkan ilmu pengetahuan, tetapi juga menghadirkan produk tepat guna dengan memanfaatkan potensi sumber daya lokal yang tersedia di masyarakat,” ujarnya.Menurutnya pemanfaatan jeruk nipis sebagai bahan baku aromaterapi, juga membuka peluang pemberdayaan masyarakat melalui pengembangan keterampilan baru. Dengan pendampingan yang berkelanjutan, produk berbasis bahan lokal tersebut berpotensi dikembangkan menjadi produk usaha mikro masyarakat.Kepala Desa Tolotio bersama pengurus PKK menyambut positif inovasi yang diperkenalkan mahasiswa KKN-PK UNG. Selain memberikan alternatif pemanfaatan bahan alam, keterampilan tersebut dinilai memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi kegiatan produktif masyarakat.Dalam pelaksanaannya, mahasiswa memberikan pendampingan mulai dari proses persiapan bahan baku hingga pengemasan produk. Kulit jeruk nipis segar terlebih dahulu dipilah dan dicuci bersih, kemudian dipotong kecil atau diparut tipis untuk membantu melepaskan kandungan minyak atsiri.Bahan selanjutnya diproses melalui distilasi uap. Uap air panas dialirkan melewati bahan untuk melepaskan molekul minyak atsiri. Campuran uap minyak dan air kemudian dialirkan menuju kondensor hingga mengalami proses pengembunan.Hasil kondensasi selanjutnya ditampung dan dipisahkan untuk memperoleh minyak atsiri. Minyak yang diperoleh kemudian diformulasikan menggunakan minyak pembawa seperti virgin coconut oil dengan memperhatikan formulasi yang sesuai untuk penggunaan pada kulit.Setelah proses formulasi selesai, produk dimasukkan ke dalam botol roll-on berukuran 10 ml sehingga lebih praktis, higienis, dan mudah digunakan.Melalui program ini, mahasiswa KKN-PK UNG berupaya menghadirkan model pengabdian yang menghubungkan ilmu pengetahuan, kesehatan, dan pemberdayaan ekonomi masyarakat. Pemanfaatan potensi lokal seperti jeruk nipis diharapkan tidak berhenti sebagai kegiatan selama masa KKN, tetapi dapat terus dikembangkan oleh masyarakat Desa Tolotio. (**)

KKN UNG Dorong Tata Kelola Partisipatif untuk Perkuat Ketahanan Pangan Keluarga di Desa Tualango
03 Sep 2026
01:57 WITA

KKN UNG Dorong Tata Kelola Partisipatif untuk Perkuat Ketahanan Pangan Keluarga di Desa Tualango

Abdul Wahid Rauf

GORONTALO – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik Tahap II (KKN-T II) UNG berupaya menghadirkan kontribusi nyata bagi masyarakat, melalui program pengabdian berbasis kebutuhan desa. Kali ini, mahasiswa menggagas pembentukan Forum Sentra Pangan Desa, yang rumuskan melalui Focus Group Discussion (FGD) bertajuk “Inovasi Tata Kelola Partisipatif dalam Penguatan Ketahanan Pangan Keluarga Berbasis Regulasi dan Kelembagaan di Desa Tualango”.Kegiatan tersebut menjadi ruang bersama bagi mahasiswa dan pemangku kepentingan di Desa Tualango untuk merumuskan langkah strategis dalam memperkuat ketahanan pangan keluarga melalui pendekatan tata kelola yang partisipatif, terstruktur, dan berbasis potensi lokal.FGD melibatkan berbagai unsur penting di tingkat desa, mulai dari Penjabat Kepala Desa Tualango, jajaran aparatur pemerintah desa, Badan Permusyawaratan Desa (BPD), hingga pengurus Badan Usaha Milik Desa (BUMDes).Dosen Pembimbing Lapangan (DPL), Abdul Hamid Tome, S.H., M.H., menjelaskan bahwa pelaksanaan FGD, merupakan bagian dari program kerja kolaboratif mahasiswa KKN-T II UNG. Pendekatan lintas disiplin ilmu yang diterapkan diharapkan mampu menghasilkan rekomendasi, yang tidak hanya relevan dengan kebutuhan masyarakat, tetapi juga memiliki landasan regulasi dan kelembagaan yang kuat.“Pendampingan ini dilakukan untuk memastikan setiap rekomendasi yang dihasilkan memiliki dasar regulasi desa yang kuat serta dapat diterapkan secara nyata,” ungkapnya.Dalam FGD tersebut, mahasiswa turut memaparkan hasil survei empiris yang dilakukan terhadap 27 kepala keluarga dengan total 106 jiwa di Desa Tualango. Hasil survei menunjukkan bahwa ketidakstabilan ekonomi keluarga menjadi salah satu faktor utama kerentanan pangan masyarakat dengan persentase mencapai 48,1 persen.Selain itu, tingkat keterjangkauan program bantuan sosial tercatat masih mencapai 33,3 persen. Dari jumlah keluarga yang menjadi responden, sebanyak 15 keluarga memiliki anggota kelompok rentan, seperti balita dan lansia, yang membutuhkan perhatian serta intervensi yang lebih terarah.Melihat potensi lokal di sektor pertanian, perikanan, UMKM, dan pekarangan produktif yang belum terintegrasi, tim mahasiswa merekomendasikan pembentukan Forum Sentra Pangan Desa. Rekomendasi ini menekankan perlunya payung tata kelola dan kelembagaan partisipatif agar pemanfaatan potensi desa berjalan berkesinambungan.Gagasan pembentukan wadah koordinasi tersebut disepakati secara aklamasi oleh seluruh unsur pemerintahan dan lembaga desa. Komitmen bersama ini ditandai dengan penandatanganan dokumen kesepakatan oleh PJ Kepala Desa Tualango, Ketua BPD, Direktur BUMDes, serta Kordes KKN-T II Desa Tualango.Komitmen bersama tersebut kemudian ditandai dengan penandatanganan dokumen kesepakatan oleh Penjabat Kepala Desa Tualango, Ketua BPD, Direktur BUMDes, serta Koordinator Desa KKN-T II UNG Desa Tualango.Penjabat Kepala Desa Tualango, Wiwin Kabaderan, memberikan apresiasi terhadap pendekatan ilmiah dan legal-formal yang ditawarkan mahasiswa KKN-T II UNG dalam merespons persoalan ketahanan pangan masyarakat. Menurutnya, gagasan yang lahir dari kegiatan tersebut perlu terus dikawal agar dapat berkembang menjadi kebijakan dan program nyata di tingkat desa.“Kami berharap gagasan yang telah dirumuskan bersama tidak hanya berhenti sebagai kegiatan seremonial, tetapi dapat ditindaklanjuti menjadi kebijakan dan program nyata yang memberikan manfaat bagi masyarakat,” ujarnya.Inisiatif ini sekaligus menjadi wujud peran mahasiswa UNG dalam mendorong pembangunan desa berbasis data, potensi lokal, regulasi, serta partisipasi masyarakat, khususnya dalam memperkuat ketahanan pangan keluarga secara berkelanjutan. (**)

Mahasiswa KKN UNG Perkuat Kesadaran Hukum Warga Desa Molombulahe
02 Sep 2026
01:11 WITA

Mahasiswa KKN UNG Perkuat Kesadaran Hukum Warga Desa Molombulahe

Abdul Wahid Rauf

GORONTALO – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Negeri Gorontalo (UNG), terus menunjukkan komitmennya dalam menghadirkan kontribusi nyata bagi masyarakat. Salah satunya melalui kegiatan sosialisasi hukum, bertajuk “Penguatan Kesadaran Hukum Masyarakat Desa Molombulahe dalam Menghadapi Dinamika Regulasi Narkotika Pasca KUHP Nasional Terbaru”.Kegiatan yang berlangsung di Kantor Desa Molombulahe tersebut, dihadiri jajaran pemerintah desa dan tokoh masyarakat setempat. Sosialisasi ini menjadi ruang edukasi bagi masyarakat, untuk memperkuat pemahaman mengenai dinamika regulasi serta aspek pencegahan tindak pidana narkotika.Pelaksanaan kegiatan turut mendapat pendampingan dari Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) Fakultas Hukum UNG, yakni Dr. Suwitno Yutye Imran, S.H., M.H., Dr. Erman I. Rahim, S.Pd., S.H., M.H., serta Irlan Puluhulawa, S.H., M.H.DPL Dr. Suwitno Yutye Imran, S.H., M.H., menjelaskan bahwa program tersebut merupakan bagian dari pengabdian nyata sivitas akademika UNG, dalam merespons perkembangan dan pembaruan hukum pidana nasional, khususnya terkait regulasi dan penegakan hukum di bidang narkotika.Menurutnya, edukasi hukum menjadi salah satu langkah penting untuk meningkatkan pemahaman masyarakat terhadap aturan yang berlaku, sekaligus memperkuat upaya pencegahan terhadap penyalahgunaan narkotika.“Melalui kegiatan ini, mahasiswa hadir untuk memberikan edukasi hukum yang komprehensif kepada masyarakat. Kami berharap masyarakat semakin memahami dinamika regulasi, serta pentingnya langkah-langkah preventif dalam menghadapi persoalan narkotika,” ujarnya.Kegiatan tersebut melibatkan kolaborasi mahasiswa Fakultas Hukum UNG, bersama mahasiswa dari berbagai fakultas lainnya. Kolaborasi lintas disiplin ilmu tersebut menjadi bagian dari upaya mahasiswa untuk menghadirkan program pengabdian yang relevan dengan kebutuhan masyarakat.Sementara itu Pemerintah Desa Molombulahe turut memberikan apresiasi terhadap inisiatif mahasiswa KKN UNG. Program sosialisasi tersebut dinilai relevan dalam meningkatkan pemahaman hukum masyarakat, khususnya terkait ketentuan terbaru mengenai tindak pidana narkotika dalam perkembangan hukum pidana nasional.Melalui kegiatan ini, masyarakat diharapkan tidak hanya memperoleh pemahaman mengenai aspek hukum, tetapi juga semakin memiliki kesadaran terhadap pentingnya pencegahan penyalahgunaan narkotika sejak dini. (**)

UNG Kawal Program Pengabdian Smart Aquaponic untuk Pangan Bergizi di Desa Ombulo Kabupaten Gorontalo
31 Aug 2026
01:53 WITA

UNG Kawal Program Pengabdian Smart Aquaponic untuk Pangan Bergizi di Desa Ombulo Kabupaten Gorontalo

Abdul Wahid Rauf

GORONTALO – Lahirnya inovasi dari para peneliti, terus berupaya dikawal Universitas negeri Gorontalo sehingga mampu memberikan solusi nyata bagi masyarakat.  Melalui Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM), UNG melakukan monitoring dan evaluasi (monev) terhadap pelaksanaan program pengabdian kepada masyarakat di Desa Ombulo.Kegiatan tersebut dilakukan untuk melihat perkembangan pelaksanaan program sekaligus memastikan inovasi yang dikembangkan oleh tim pengabdi mampu memberikan manfaat nyata dan berkelanjutan bagi masyarakat.Program pengabdian yang dimonitor mengangkat judul “Pemberdayaan Masyarakat Desa Ombulo melalui Integrated Smart Aquaponic Berbasis Green Technology untuk Mendukung Program Makan Bergizi Gratis Berkelanjutan.” Program ini dilaksanakan oleh tim pengabdi UNG yang terdiri atas Faramita Hiola, S.Farm., M.Sc., Dr. Yoyanda Bait, M.DSi., dan Dr. Djuna Lamondo, M.Si.Program tersebut memperoleh dukungan pendanaan dari Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM), Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) Tahun 2026.Melalui program ini, tim pengabdi memperkenalkan penerapan Integrated Smart Aquaponic, sebuah inovasi yang mengintegrasikan budidaya ikan dan tanaman dalam satu sistem dengan pendekatan teknologi yang lebih efisien dan ramah lingkungan.Penerapan teknologi tersebut diharapkan dapat menjadi salah satu alternatif dalam mendukung ketersediaan sumber pangan bergizi bagi masyarakat. Selain menghasilkan komoditas perikanan, sistem aquaponic juga memungkinkan masyarakat melakukan budidaya tanaman secara terintegrasi sehingga pemanfaatan sumber daya dapat dilakukan dengan lebih efektif.Dalam kegiatan monev, tim LPPM UNG meninjau langsung perkembangan pelaksanaan program, capaian kegiatan, serta penerapan teknologi Integrated Smart Aquaponic berbasis green technology yang dikembangkan bersama masyarakat Desa Ombulo.Evaluasi juga dilakukan untuk melihat sejauh mana inovasi tersebut dapat memberikan manfaat bagi masyarakat, serta peluang keberlanjutan program setelah periode pelaksanaan pengabdian berakhir.Ketua LPPM UNG, Prof. Lanto Ningrayati Amali, yang turut hadir dalam kegiatan tersebut, menegaskan bahwa pelaksanaan pengabdian kepada masyarakat harus mampu menjawab persoalan nyata yang dihadapi masyarakat melalui penerapan hasil penelitian dan inovasi.“Melalui monev ini, kami ingin memastikan program yang dilaksanakan tidak hanya berjalan sesuai rencana, tetapi juga memberikan manfaat yang dapat dirasakan masyarakat. Inovasi yang dikembangkan diharapkan dapat terus dimanfaatkan dan dikembangkan oleh masyarakat Desa Ombulo,” ujarnya.Menurutnya, kegiatan pengabdian kepada masyarakat perlu terus diarahkan pada upaya pemecahan berbagai persoalan, melalui penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi yang memiliki nilai manfaat serta keberlanjutan.Melalui pengembangan Integrated Smart Aquaponic, UNG berharap masyarakat Desa Ombulo dapat memperoleh alternatif teknologi dalam mendukung pengembangan sumber pangan yang lebih efisien, ramah lingkungan, dan berkelanjutan.Program ini sekaligus menjadi wujud komitmen UNG dalam memperkuat peran perguruan tinggi melalui kegiatan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat yang berorientasi pada inovasi, pemberdayaan, serta penyelesaian persoalan di tengah masyarakat.Dengan semangat menghadirkan kampus yang berdampak, UNG terus berupaya memastikan setiap inovasi yang lahir dari lingkungan akademik dapat melampaui ruang laboratorium dan kampus, untuk kemudian tumbuh bersama masyarakat serta memberikan manfaat nyata bagi pembangunan dan peningkatan kesejahteraan.

Mahasiswa KKN-PK Kembangkan Tong Sampah Anti Asap sebagai Alternatif Pengelolaan Sampah di Talaga Jaya
22 Aug 2026
08:19 WITA

Mahasiswa KKN-PK Kembangkan Tong Sampah Anti Asap sebagai Alternatif Pengelolaan Sampah di Talaga Jaya

Abdul Wahid Rauf

Persoalan sampah di lingkungan masyarakat mendorong mahasiswa Kuliah Kerja Nyata-Profesi Kesehatan (KKN-PK) Universitas Negeri Gorontalo untuk menghadirkan inovasi sederhana yang dapat menjadi alternatif dalam pengelolaan sampah. Bersama mahasiswa KKN-PK dari sejumlah desa di Kecamatan Talaga Jaya, mahasiswa KKN-PK Desa Buhu mengembangkan tong sampah anti asap yang diperkenalkan pada Kamis (20/8).Inovasi tersebut lahir dari pengamatan mahasiswa terhadap kondisi pengelolaan sampah di wilayah Kecamatan Talaga Jaya yang masih menghadapi berbagai tantangan, termasuk sampah yang belum dikelola secara optimal. Melalui modifikasi sederhana, mahasiswa mencoba menghadirkan wadah yang memungkinkan sampah dikumpulkan dan ditempatkan secara lebih terarah sebelum proses pembakaran.Tong yang telah dimodifikasi tersebut dirancang agar pembakaran tidak dilakukan langsung di permukaan tanah atau area terbuka tanpa wadah. Penggunaan wadah diharapkan dapat membuat lokasi pembakaran lebih tertata sekaligus membantu membatasi penyebaran abu.Meski demikian, mahasiswa menekankan bahwa inovasi tersebut bukan berarti menghilangkan risiko asap maupun dampak pembakaran sampah. Penggunaannya tetap perlu memperhatikan aspek keselamatan dan jenis sampah yang dikelola. Sampah yang mengandung bahan berbahaya atau berpotensi menghasilkan emisi berbahaya tidak seharusnya dibakar dan perlu ditangani dengan metode yang sesuai.“Pembuatan inovasi ini merupakan bentuk kreativitas mahasiswa dalam merespons permasalahan yang ditemukan di lingkungan masyarakat. Kami berharap inovasi sederhana ini dapat memberikan manfaat dan menjadi salah satu alternatif dalam pengelolaan sampah,” demikian pesan yang disampaikan dalam kegiatan tersebut.Proses pembuatan dilakukan secara kolaboratif oleh mahasiswa KKN-PK Desa Buhu bersama mahasiswa KKN-PK dari berbagai desa di Kecamatan Talaga Jaya. Selain menghasilkan produk inovasi, proses tersebut menjadi ruang bagi mahasiswa untuk bertukar gagasan dan membangun kerja sama dalam mencari solusi terhadap persoalan lingkungan yang ditemui di masyarakat.Setelah selesai dibuat, tong sampah tersebut diserahkan kepada Camat Talaga Jaya, Ronal Mertiarto Abdini, S.Pd., M.M. Penyerahan ini menjadi bagian dari tindak lanjut agar inovasi yang dihasilkan mahasiswa dapat dimanfaatkan sebagai salah satu alternatif pendukung pengelolaan sampah di wilayah Kecamatan Talaga Jaya.Melalui inovasi tersebut, mahasiswa KKN-PK UNG menunjukkan bahwa persoalan lingkungan di tingkat masyarakat dapat menjadi ruang untuk menghadirkan solusi sederhana berbasis kreativitas dan kolaborasi. Di sisi lain, pengelolaan sampah tetap membutuhkan pendekatan yang lebih luas, termasuk pemilahan, pengurangan sampah, dan pengolahan sesuai karakteristiknya, sehingga upaya menjaga lingkungan tidak hanya bergantung pada proses pembakaran.

Perkuat Kolaborasi, Polda Gorontalo Gandeng UNG Bentuk Pusat Studi Kepolisian
21 Aug 2026
05:14 WITA

Perkuat Kolaborasi, Polda Gorontalo Gandeng UNG Bentuk Pusat Studi Kepolisian

Abdul Wahid Rauf

GORONTALO – Pengembangan Pusat Studi Kepolisian menjadi langkah kolaborasi strategis, yang digagas Kepolisian Daerah Gorontalo (Polda Gorontalo) dengan menggandeng Universitas Negeri Gorontalo. Kolaborasi tersebut ditandai dengan penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS) antara UNG dan Polda Gorontalo di Ruang Rapat Rektorat UNG, Jumat (21/8).Pembentukan pusat studi ini menjadi langkah strategis untuk mempertemukan kekuatan akademik perguruan tinggi dengan pengalaman dan kebutuhan institusi kepolisian. Melalui kolaborasi tersebut, UNG dan Polda Gorontalo membuka ruang yang lebih luas bagi pengembangan penelitian, kajian ilmiah, pendidikan, serta peningkatan kapasitas sumber daya manusia.Rektor UNG yang diwakili Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Kerja Sama, dan Sistem Informasi, Dr. Harto Malik, M.Hum., menyambut baik terjalinnya kerja sama tersebut. Menurutnya, kehadiran Pusat Studi Kepolisian di UNG dapat menjadi wadah untuk menghasilkan kajian akademik yang relevan dengan berbagai persoalan keamanan, hukum, dan pelayanan publik.“Ini menjadi sebuah langkah strategis antara dunia akademik dan institusi kepolisian untuk berkolaborasi dalam mengembangkan penelitian, kajian ilmiah, dan peningkatan kapasitas sumber daya manusia,” ujarnya.Melalui kolaborasi ini perguruan tinggi memiliki peran penting, dalam memberikan perspektif berbasis ilmu pengetahuan terhadap berbagai persoalan yang berkembang di masyarakat. Karena itu, sinergi dengan institusi kepolisian diharapkan mampu menghasilkan penelitian dan rekomendasi yang tidak hanya kuat secara akademik, tetapi juga dapat memberikan manfaat dalam mendukung pelaksanaan tugas kepolisian.Pusat Studi Kepolisian UNG nantinya diarahkan menjadi ruang pengembangan kajian berbasis pengetahuan dan riset yang dapat mendukung kebutuhan institusi kepolisian maupun masyarakat. Berbagai isu strategis terkait keamanan, hukum, ketertiban, hingga pelayanan publik dapat dikaji melalui pendekatan multidisipliner dengan melibatkan dosen, peneliti, mahasiswa, serta unsur kepolisian.Dengan ini, UNG menegaskan komitmennya untuk mendukung keberadaan Pusat Studi Kepolisian, dengan menyiapkan sumber daya manusia terbaik yang dimiliki universitas. Para dosen dan peneliti akan didorong untuk terlibat aktif dalam berbagai program yang dikembangkan melalui pusat studi tersebut.“Kolaborasi UNG dan Polda Gorontalo sekaligus menjadi bagian dari upaya universitas mengimplementasikan konsep kampus berdampak melalui penguatan tiga pilar tridarma perguruan tinggi, yakni pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat,” pungkas Harto. (**)

BUSA-BALI BUMIL, Inovasi Mahasiswa KKN-PK Perkuat Peran Keluarga Deteksi Risiko Kehamilan
20 Aug 2026
06:04 WITA

BUSA-BALI BUMIL, Inovasi Mahasiswa KKN-PK Perkuat Peran Keluarga Deteksi Risiko Kehamilan

Abdul Wahid Rauf

GORONTALO — Upaya menekan angka kematian ibu dan anak tidak hanya membutuhkan layanan kesehatan yang kuat, tetapi juga keterlibatan keluarga dalam mengenali risiko kehamilan sejak dini. Semangat inilah yang mendorong mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Profesi Kesehatan (KKN-PK) Universitas Negeri Gorontalo (UNG) menghadirkan inovasi edukasi BUSA-BALI BUMIL di Desa Pentadio Timur.Program bertajuk “BUSA-BALI BUMIL (Buku Saku dan Lembar Balik) Deteksi Dini Risiko Tinggi Kehamilan: Penguatan Peran Keluarga dalam Pendampingan Ibu Hamil” tersebut dilaksanakan di Kantor Puskesmas Pembantu Desa Pentadio Timur.Program ini dirancang sebagai media edukasi praktis untuk membantu ibu hamil, keluarga, kader kesehatan, dan masyarakat memahami berbagai risiko selama kehamilan. Lebih dari sekadar menyampaikan informasi, BUSA-BALI BUMIL mendorong keluarga menjadi bagian aktif dalam sistem deteksi dini dan pendampingan ibu hamil.Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) KKN-PK UNG, Ns. Indra, S.Kep., M.Kep., menjelaskan bahwa media edukasi yang dikembangkan mahasiswa, memuat informasi yang mudah dipahami dan dapat digunakan dalam kehidupan sehari-hari.“Melalui media edukasi berupa Buku Saku dan Lembar Balik, ibu hamil, kader kesehatan, serta masyarakat memperoleh informasi praktis mengenai tanda bahaya kehamilan, faktor risiko, hingga langkah yang perlu dilakukan apabila ditemukan kondisi yang membutuhkan pertolongan,” ungkapnya.Buku Saku BUSA-BALI BUMIL dirancang sebagai panduan praktis, terutama bagi suami dan anggota keluarga dalam mendampingi ibu hamil. Sementara itu, Lembar Balik dapat dimanfaatkan bidan desa dan kader kesehatan sebagai media pendukung ketika memberikan edukasi kepada masyarakat.Koordinator Desa (Kordes) KKN-PK UNG, Ahmad Syarief Bin Zein Suweleh, mengatakan program tersebut menempatkan keluarga sebagai bagian penting, dalam upaya meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi kegawatdaruratan kehamilan.“Melalui BUSA-BALI BUMIL, edukasi kesehatan tidak hanya ditujukan kepada ibu hamil, tetapi juga kepada keluarga sebagai pendamping terdekat dan garda terdepan dalam mendeteksi risiko kehamilan,” terangnya.Menurutnya, keluarga memiliki posisi strategis karena menjadi pihak yang paling dekat dengan ibu hamil. Pengetahuan mengenai tanda bahaya dan faktor risiko diharapkan dapat membantu keluarga mengambil keputusan secara lebih cepat ketika menghadapi kondisi yang membutuhkan penanganan tenaga kesehatan.Kepala Desa Pentadio Timur, Rahman Adam, S.H., menyambut baik kehadiran program BUSA-BALI BUMIL. Menurutnya, media edukasi tersebut memiliki potensi untuk terus dimanfaatkan masyarakat bahkan setelah mahasiswa menyelesaikan masa pengabdian.“Program ini diharapkan dapat meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai pentingnya deteksi dini kehamilan risiko tinggi serta memperkuat peran keluarga dalam mendampingi ibu hamil,” ujarnya.Melalui program tersebut, mahasiswa KKN-PK UNG tidak hanya menghadirkan edukasi kesehatan, tetapi juga mendorong terbentuknya budaya kesiapsiagaan keluarga dalam menghadapi risiko kehamilan. Dengan semakin cepat risiko dikenali dan semakin tepat tindakan dilakukan, semakin besar pula peluang ibu dan bayi memperoleh pertolongan yang dibutuhkan.

UNG Resmikan Unit Layanan Disabilitas, Tegaskan Komitmen Wujudkan Kampus yang Setara dan Inklusif
18 Aug 2026
09:19 WITA

UNG Resmikan Unit Layanan Disabilitas, Tegaskan Komitmen Wujudkan Kampus yang Setara dan Inklusif

Abdul Wahid Rauf

GORONTALO — Universitas Negeri Gorontalo (UNG) terus memperkuat komitmennya, dalam menghadirkan layanan pendidikan tinggi yang inklusif dan dapat diakses oleh semua. Komitmen tersebut diwujudkan melalui peresmian Unit Layanan Disabilitas (ULD) oleh Rektor UNG, Prof. Dr. Ir. Eduart Wolok, S.T., M.T., Selasa (18/8).Dalam penyampaiannya Rektor UNG, Prof. Dr. Ir. Eduart Wolok, S.T., M.T., menyebut peresmian ULD menjadi langkah strategis UNG, dalam membangun lingkungan kampus yang semakin aksesibel, setara, dan responsif terhadap keberagaman kebutuhan mahasiswa, khususnya penyandang disabilitas.“Layana disabilitas ini diharapkan tidak sekadar menjadi unit layanan administratif, tetapi berkembang sebagai pusat dukungan yang mampu memastikan mahasiswa penyandang disabilitas memperoleh kesempatan yang sama dalam menjalani proses pendidikan di lingkungan UNG,” ungkap Rektor.Ia menegaskan bahwa keberadaan ULD merupakan bagian dari komitmen institusi, untuk memastikan seluruh mahasiswa mendapatkan hak dan kesempatan yang setara dalam mengakses pendidikan tinggi. ULD diharapkan menjadi pusat layanan yang menyediakan dukungan akademik, pendampingan, serta berbagai bentuk fasilitasi aksesibilitas bagi mahasiswa penyandang disabilitas.“Pendidikan tinggi tidak hanya berbicara mengenai penyelenggaraan pembelajaran, tetapi juga bagaimana perguruan tinggi mampu menciptakan lingkungan yang memberikan ruang bagi setiap individu untuk berkembang sesuai dengan potensi yang dimiliki,” tegasnya.Karena itu, keberadaan ULD menjadi bagian penting dalam memperkuat ekosistem pendidikan yang menghargai keberagaman, sekaligus memastikan tidak ada mahasiswa yang menghadapi hambatan untuk belajar dan berpartisipasi dalam kehidupan kampus.Menariknya kehadiran unit ini nantinya tidak hanya diperuntukkan untuk memberikan layanan bagi civitas akademika UNG semata, tetapi terbuka bagi masyarakat di Provinsi Gorontalo yang membutuhkan informasi, konsultasi, dan dukungan terkait layanan disabilitas.“Keterbukaan tersebut mempertegas peran UNG sebagai perguruan tinggi yang tidak hanya menjalankan fungsi pendidikan, tetapi juga hadir memberikan manfaat bagi masyarakat luas dengan turut menghadirkan layanan untuk masyarakat penyandang disabilitas,” pungkasnya. (**)

Ajak Masyarakat Hidup Sehat, Mahasiswa UNG Gencar Edukasi Masyarakat Perilaku Hidup Bersih dan Sehat
18 Aug 2026
01:35 WITA

Ajak Masyarakat Hidup Sehat, Mahasiswa UNG Gencar Edukasi Masyarakat Perilaku Hidup Bersih dan Sehat

Abdul Wahid Rauf

GORONTALO – Upaya menanamkan kebiasaan hidup bersih dan sehat sejak usia dini terus dilakukan mahasiswa, melalui kegiatan edukasi kesehatan di lingkungan sekolah. Melalui program Kuliah Kerja Nyata (KKN) Profesi Kesehatan, mahasiswa menggelar edukasi Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) bagi siswa di Desa Lauwonu, Gorontalo.Kegiatan tersebut menjadi bagian dari kontribusi mahasiswa KKN Profesi Kesehatan, dalam meningkatkan pengetahuan kesehatan. Selain itu juga mendorong terbentuknya kebiasaan hidup bersih dan sehat, pada anak-anak melalui pendekatan edukatif, interaktif, dan mudah dipahami.Materi PHBS disampaikan oleh Anissa O.R. Pakaya. Dalam pemaparannya, ia menjelaskan berbagai kebiasaan sederhana yang dapat diterapkan anak-anak dalam kehidupan sehari-hari, seperti menjaga kebersihan diri, mencuci tangan menggunakan sabun dan air mengalir, menjaga kebersihan lingkungan, serta menerapkan pola hidup sehat sebagai bagian dari upaya mencegah berbagai penyakit.“Para siswa diajak memahami bahwa perilaku hidup bersih dan sehat bukan sekadar materi pembelajaran, melainkan kebiasaan sederhana yang perlu dilakukan secara konsisten, baik di rumah maupun di lingkungan sekolah,” ujarnya.Penyampaian materi dilakukan dengan bahasa sederhana dan disesuaikan dengan karakteristik peserta didik. Para siswa tidak hanya mendengarkan materi, tetapi juga diberikan kesempatan untuk menjawab pertanyaan dan berbagi pengalaman mengenai kebiasaan menjaga kebersihan diri maupun lingkungan. Keterlibatan guru wali kelas dan guru pendamping juga menjadi bagian penting dalam mendukung keberlanjutan pesan kesehatan yang disampaikan.“Guru diharapkan dapat terus mendampingi siswa dalam menerapkan kebiasaan hidup bersih dan sehat sehingga edukasi yang diberikan tidak berhenti pada kegiatan penyuluhan, tetapi dapat diterapkan dalam aktivitas sehari-hari,” terangnya.Antusiasme siswa terlihat sepanjang kegiatan berlangsung. Mereka aktif merespons pertanyaan yang diberikan oleh moderator maupun pemateri serta terlibat dalam diskusi mengenai kebiasaan hidup bersih dan sehat. Interaksi tersebut menunjukkan bahwa edukasi kesehatan dengan metode yang komunikatif dan menyenangkan dapat menjadi salah satu pendekatan efektif untuk memperkenalkan pentingnya PHBS kepada anak-anak. (**)

Perkuat Kesehatan Ibu Hamil, Mahasiswa KKN-PK Latih Kader Masyarakat Dalam Pemantauan Kehamilan Berbasis Teknologi
18 Aug 2026
01:18 WITA

Perkuat Kesehatan Ibu Hamil, Mahasiswa KKN-PK Latih Kader Masyarakat Dalam Pemantauan Kehamilan Berbasis Teknologi

Abdul Wahid Rauf

GORONTALO – Upaya memperkuat kesehatan ibu dan bayi terus dilakukan mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Profesi Kesehatan (KKN-PK) Universitas Negeri Gorontalo (UNG). Salah satunya melalui Pelatihan dan Penguatan Kapasitas Kader yang digelar di Aula Kantor Desa Isimu Utara, Kecamatan Tibawa, Kabupaten Gorontalo, Senin (10/8/2026).Mengusung tema “Meningkatkan Kompetensi Kader dalam Pendampingan Ibu Hamil melalui Kalender ANC dan Website Monitoring”, kegiatan ini tidak hanya memberikan penguatan pengetahuan kepada kader, tetapi juga memperkenalkan pemanfaatan teknologi untuk membantu memantau kesehatan ibu hamil secara lebih terstruktur.Pelatihan diikuti oleh kader kesehatan dan sejumlah unsur masyarakat, serta dihadiri Kepala Desa Isimu Utara Wawan Pipii bersama jajaran pemerintah desa, Karang Taruna, dan pendamping sosial. Kolaborasi tersebut menjadi bagian penting dalam membangun sistem pendampingan kesehatan ibu yang melibatkan masyarakat sejak tingkat desa.Kepala Desa, Wawan Pipii, mengapresiasi pelaksanaan kegiatan tersebut. Menurutnya, pelatihan yang diberikan mahasiswa KKN-PK dapat menjadi bekal bagi kader dalam menjalankan tugas pendampingan ibu hamil di Desa Isimu Utara.“Diharapkan pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh selama pelatihan dapat diterapkan secara optimal sehingga memberikan manfaat bagi masyarakat,” harapnya.Koordinator Desa KKN-PK UNG Desa Isimu Utara, Moh. Saputra Ali, menjelaskan bahwa pelatihan merupakan bagian dari program pengabdian mahasiswa, untuk meningkatkan kapasitas kader dalam melakukan pendampingan ibu hamil.“Melalui pelatihan ini, mendorong kader dapat lebih memahami perannya dalam mendampingi ibu hamil dan mampu memanfaatkan Kalender ANC serta website monitoring sebagai media pendukung pemantauan kehamilan,” ujarnya.Dalam kegiatan pelatihan, kader terlebih dahulu mendapatkan materi mengenai peran dan fungsi mereka dalam pendampingan ibu hamil. Materi mencakup pentingnya pemantauan kondisi ibu, pengingat jadwal pemeriksaan kehamilan, hingga pemberian dukungan dan informasi kepada ibu hamil beserta keluarganya.Mahasiswa kemudian memperkenalkan Kalender ANC sebagai media sederhana untuk membantu kader mencatat dan memantau jadwal pemeriksaan antenatal care (ANC). Kader diberikan pemahaman mengenai cara pencatatan jadwal pemeriksaan serta pemantauan kunjungan ibu hamil.Tidak berhenti pada pencatatan manual, mahasiswa KKN-PK juga memperkenalkan website monitoring yang dikembangkan sebagai media pendukung pemantauan ibu hamil di Desa Isimu Utara.Melalui platform tersebut, kader dikenalkan pada sistem pemantauan data dan informasi ibu hamil. Kehadiran teknologi ini diharapkan dapat membantu kader mengelola informasi secara lebih terstruktur sehingga pendampingan dapat dilakukan secara lebih terarah.Bagi mahasiswa KKN-PK UNG, penguatan kapasitas kader menjadi langkah penting karena kader merupakan salah satu unsur yang paling dekat dengan masyarakat. Dengan pengetahuan yang memadai dan dukungan sistem pemantauan, kader diharapkan mampu membantu memastikan ibu hamil memperoleh perhatian dan pendampingan yang dibutuhkan.Pemanfaatan Kalender ANC dan website monitoring juga menjadi contoh bagaimana teknologi sederhana dapat dipadukan dengan peran masyarakat untuk memperkuat layanan kesehatan berbasis komunitas. (**)

Peneliti UNG Ungkap Pengetahuan Ekosistem Dorong Partisipasi Masyarakat Menjaga Danau Limboto
16 Aug 2026
11:03 WITA

Peneliti UNG Ungkap Pengetahuan Ekosistem Dorong Partisipasi Masyarakat Menjaga Danau Limboto

Abdul Wahid Rauf

Menjaga keberlanjutan Danau Limboto tidak hanya membutuhkan upaya pemulihan lingkungan, tetapi juga keterlibatan masyarakat yang tinggal di sekitarnya. Riset Ramla H. Melo, Moch R. Pambudi, dan Alim Niode dari Universitas Negeri Gorontalo menemukan adanya hubungan positif antara kondisi sosial ekonomi, pengetahuan tentang ekosistem danau, dan partisipasi masyarakat dalam pengelolaan Danau Limboto secara berkelanjutan.Danau Limboto menghadapi berbagai persoalan lingkungan yang mengancam keberlanjutannya. Deforestasi di kawasan daerah aliran sungai meningkatkan sedimentasi sehingga daya tampung danau terus berkurang. Kondisi ini turut mengganggu fungsi danau sebagai pengendali banjir, yang berdampak pada munculnya persoalan banjir saat musim hujan dan kekeringan pada musim kemarau. Luas Danau Limboto juga tercatat mengalami penurunan, dari sekitar 3.644,5 hektare pada 1991 menjadi sekitar 2.693,9 hektare pada 2017.Persoalan tersebut diperparah oleh penebangan pohon, erosi akibat aktivitas pertanian berpindah, pertumbuhan eceng gondok, serta masuknya limbah rumah tangga ke perairan. Berbagai tekanan ini dapat menurunkan kualitas air dan mengganggu fungsi danau sebagai habitat biota perairan maupun sebagai bagian penting dari sistem pengelolaan air di wilayah sekitarnya.Melihat kondisi tersebut, penelitian ini mengkaji keterkaitan antara kondisi sosial ekonomi dan pengetahuan masyarakat mengenai ekosistem danau dengan tingkat partisipasi mereka dalam pengelolaan Danau Limboto. Penelitian dilakukan melalui survei terhadap masyarakat di Kecamatan Limboto dan Limboto Barat dengan melihat aspek sosial ekonomi, pengetahuan ekosistem danau, serta partisipasi dalam pengelolaan danau.Hasil penelitian menunjukkan bahwa kedua faktor tersebut memiliki hubungan yang signifikan dengan partisipasi masyarakat. Menariknya, pengetahuan mengenai ekosistem danau menunjukkan pengaruh yang lebih besar dibandingkan kondisi sosial ekonomi. Dalam analisis penelitian, peningkatan pengetahuan tentang ekosistem danau memberikan pengaruh lebih besar terhadap peningkatan partisipasi masyarakat dalam pengelolaan danau.Temuan ini menunjukkan bahwa pemahaman masyarakat tentang Danau Limboto menjadi salah satu bagian penting dalam mendorong keterlibatan mereka. Pengetahuan tersebut mencakup pemahaman mengenai komponen ekosistem, fungsi danau, serta hubungan berbagai unsur di dalam ekosistem. Pemahaman yang lebih baik dapat menjadi dasar bagi masyarakat untuk ikut menjaga dan mengelola danau secara lebih berkelanjutan.Penelitian juga memperlihatkan bahwa masyarakat memiliki posisi penting dalam keberlanjutan pengelolaan Danau Limboto. Partisipasi tidak hanya berkaitan dengan kegiatan menjaga dan memanfaatkan danau, tetapi juga mencakup keterlibatan dalam perencanaan, pelaksanaan, serta pemantauan pengelolaan danau. Keterlibatan tersebut diperlukan agar manfaat Danau Limboto dapat terus dirasakan oleh masyarakat saat ini maupun generasi mendatang.Para peneliti menyimpulkan bahwa semakin baik kondisi sosial ekonomi dan pengetahuan masyarakat tentang ekosistem danau, semakin tinggi pula tingkat partisipasi mereka dalam pengelolaan Danau Limboto secara berkelanjutan. Sebaliknya, kondisi sosial ekonomi dan pengetahuan yang lebih rendah berkaitan dengan tingkat partisipasi yang lebih rendah.Temuan ini memperlihatkan bahwa upaya menjaga Danau Limboto tidak cukup hanya berfokus pada pemulihan kondisi lingkungan. Peningkatan pemahaman masyarakat mengenai fungsi dan pentingnya ekosistem danau juga menjadi bagian penting untuk mendorong keterlibatan masyarakat dalam menjaga keberlanjutan Danau Limboto.Artikel Penelitian Dipublikasikan Melalui Tautan Berikut

Masyarakat Didorong Manfaatkan Pekarangan Produktif
14 Aug 2026
09:01 WITA

Masyarakat Didorong Manfaatkan Pekarangan Produktif

Abdul Wahid Rauf

Pemanfaatan pekarangan rumah menjadi salah satu fokus mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik Tahap 2 Universitas Negeri Gorontalo di Desa Pilobuhuta, Kecamatan Batudaa, Kabupaten Gorontalo. Kehadiran mahasiswa di desa tersebut disambut langsung oleh Kepala Desa bersama jajaran pemerintah desa Pilobuhuta.Mahasiswa membawa program “Penataan Pekarangan Hijau Produktif sebagai Strategi Penguatan Ketahanan Pangan Keluarga dan Peningkatan Kualitas Lingkungan di Desa Pilobuhuta, Kecamatan Batudaa, Kabupaten Gorontalo.” Program ini diarahkan untuk mendorong masyarakat memanfaatkan ruang di sekitar rumah menjadi lahan yang produktif sekaligus mendukung terciptanya lingkungan yang lebih hijau.Pekarangan rumah memiliki potensi untuk dimanfaatkan sebagai ruang budidaya berbagai tanaman pangan dan tanaman produktif. Karena itu, mahasiswa akan mengajak masyarakat menata dan mengoptimalkan pekarangan sesuai dengan kondisi serta ketersediaan lahan di masing-masing rumah.Selain menghasilkan tanaman yang dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan keluarga, penataan pekarangan juga diharapkan dapat memberikan dampak terhadap kualitas lingkungan. Kehadiran tanaman di sekitar rumah dapat menciptakan ruang yang lebih hijau, asri, dan nyaman sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pemanfaatan lingkungan secara berkelanjutan.Kepala Desa Pilobuhuta, Hamzah Meluko, menyambut baik kehadiran mahasiswa UNG dan program yang akan dilaksanakan di desanya. Menurutnya, pemanfaatan pekarangan merupakan kegiatan yang dekat dengan kehidupan masyarakat dan dapat memberikan manfaat apabila dilakukan secara berkelanjutan.“Kami menyambut baik program yang dibawa mahasiswa. Pekarangan yang selama ini mungkin belum dimanfaatkan secara maksimal dapat diarahkan menjadi lebih produktif dan memberikan manfaat bagi keluarga maupun lingkungan,” ujarnya.Dalam pelaksanaan program, mahasiswa didampingi oleh Lydia Surijani Tatura dan Niniek Pratiwi sebagai dosen pembimbing lapangan (DPL). Para DPL akan mendampingi mahasiswa dalam pelaksanaan kegiatan serta memastikan program berjalan sesuai dengan kondisi dan kebutuhan masyarakat di Desa Pilobuhuta.Kegiatan ini diharapkan dapat mendorong masyarakat untuk memandang pekarangan bukan sekadar ruang kosong di sekitar rumah, tetapi sebagai sumber daya yang dapat dimanfaatkan secara produktif. Dengan keterlibatan masyarakat, penataan pekarangan hijau diharapkan dapat menjadi bagian dari upaya memperkuat ketahanan pangan keluarga sekaligus menjaga kualitas lingkungan Desa Pilobuhuta.