Site Logo

Webinar SIGAP NUSA Tekankan Kesiapsiagaan Tenaga Kesehatan Hadapi Bencana

Siaran PersUNG Berdampak
Rachmad Hidayah
17 Jun 2026
05:08 WITA
528 dilihat
Webinar SIGAP NUSA Tekankan Kesiapsiagaan Tenaga Kesehatan Hadapi Bencana

Gorontalo – Fakultas Kedokteran Universitas Negeri Gorontalo (FK UNG) bekerja sama dengan Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Wilayah Gorontalo menyelenggarakan Webinar Kebencanaan SIGAP NUSA (Sinergi Generasi Adaptif Penanggulangan Bencana Nusantara) dengan tema “Dari Gorontalo untuk Indonesia: Membangun Tenaga Kesehatan yang Adaptif, Responsif, dan Tanggap Bencana.” Kegiatan yang digelar secara daring pada Minggu 14 Juni 2026 tersebut diikuti oleh 808 peserta dari 122 instansi di berbagai daerah di Indonesia.

Ketua Panitia, Dr. dr. Zuhriana K. Yusuf, M.Kes, dalam laporannya menyampaikan bahwa webinar ini merupakan bagian dari komitmen FK UNG dalam bidang kegawatdaruratan dan kebencanaan yang menjadi salah satu keunggulan institusi.

“Webinar kebencanaan diselenggarakan oleh Fakultas Kedokteran UNG dan IDI Wilayah Gorontalo. FK UNG menyelenggarakan kegiatan ini karena keunggulan FK UNG adalah kegawatdaruratan dan bencana,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa para pemateri yang hadir merupakan mitra yang selama ini telah menjalin kerja sama dengan FK UNG dalam berbagai program pengembangan kapasitas kebencanaan.

“Partisipasi pemateri pada hari ini adalah rata-rata yang sudah menjalin kerja sama dengan FK UNG,” katanya.

Menurut Zuhriana, FK UNG selama ini aktif berkontribusi dalam berbagai respons kebencanaan di Provinsi Gorontalo maupun daerah lain. Keterlibatan tersebut menjadi bagian dari pengabdian institusi dalam mendukung upaya penanggulangan bencana.

“Beberapa kegiatan FK yang sudah dilaksanakan untuk memberikan kontribusi pada kebencanaan yaitu turun serta dalam segala tanggap darurat bencana di Provinsi Gorontalo,” ungkapnya.

Ia berharap materi yang disampaikan dalam webinar dapat menjadi sarana edukasi bagi masyarakat luas, khususnya tenaga kesehatan.

“Kami dari panitia sangat berharap materi ini menjadi edukasi bagi seluruh masyarakat, terutama bagi tenaga kesehatan yang bisa mampu nantinya akan lebih siap menghadapi bencana,” tuturnya.

Sementara itu, Rektor Universitas Negeri Gorontalo, Prof. Dr. Ir. Eduart Wolok, S.T., M.T., dalam sambutannya menegaskan bahwa kesiapsiagaan terhadap bencana merupakan kebutuhan penting, terutama bagi generasi muda.

“Tentu, terkait dengan tanggap bencana ini merupakan sebuah kebutuhan buat kita terutama juga generasi muda saat ini. Kenapa dikatakan demikian, karena berkali-kali kita sudah diingatkan pada saat ketika ada bencana, baik itu di Gorontalo atau wilayah Indonesia, kita menunjukkan penyikapan untuk mengatasi bencana dengan baik. Tetapi untuk waspada terhadap bencana itu terkadang yang harus lebih kita tingkatkan. Artinya bagaimana kita merespon, kita mempersiapkan terutama mulai dari segi peringatan dan sebagainya. Tentu ini perlu untuk terus diingatkan dan dibangun kesadaran ini terkait dengan kesadaran untuk tanggap bencana karena jauh lebih baik kita sudah bisa mempersiapkan diri sebelum bencana itu datang daripada ketika saat bencana sudah datang, tentu effort-nya akan lebih besar,” ujar Eduart.

Menurutnya, kegiatan edukatif seperti webinar memiliki peran penting dalam meningkatkan literasi kebencanaan masyarakat.

“Lewat kegiatan webinar seperti ini tentu akan memberikan pemahaman keilmuan dan wawasan buat kita semua terkait penyikapan kita terhadap bencana. Karena lazimnya bencana pasti sudah didahului dengan pertanda, peringatan dan sebagainya. Kemudian bagaimana pola atau alur kita menyikapi terhadap bencana itu, ini yang memang harus lebih terus kita share ke semua pihak agar kita siap,” katanya.

Ia menambahkan bahwa perubahan iklim global menyebabkan pola bencana semakin dinamis dan sulit diperkirakan, sehingga diperlukan respons yang lebih adaptif dari seluruh elemen masyarakat.

“Karena sebagaimana kita ketahui dengan perubahan iklim yang sedang melanda dunia saat ini, terkadang bencana itu bisa datang dengan tiba-tiba dan juga tidak sebagaimana siklus yang lazimnya kita perhitungkan. Tentu dengan dinamika kebencanaan seperti ini, dibutuhkan respon dari kita juga yang lebih adaptif terhadap dinamika bencana yang saat ini kita hadapi,” lanjutnya.

Dalam kesempatan tersebut, Eduart juga menyoroti kontribusi FK UNG dalam berbagai misi kemanusiaan dan penanganan bencana di tingkat nasional.

“Kita ketahui bersama Fakultas Kedokteran UNG juga menitikberatkan keunggulannya terhadap tanggap kedaruratan bencana dan itu sudah kita tunjukkan dengan ikut berpartisipasi secara aktif di berbagai musibah bencana yang terjadi di wilayah Indonesia, bahkan kemarin sampai ke Aceh pun kita ikut terlibat. Tentu ini merupakan bentuk respon positif daripada FK UNG dan juga Universitas Negeri Gorontalo terhadap kondisi kebencanaan,” ungkapnya.

Ia berharap webinar ini menjadi awal dari kolaborasi dan pertukaran pengetahuan yang lebih luas terkait kebencanaan.

“Dan ke depan tentu dengan adanya webinar yang saya yakin ini bukan webinar yang terakhir tetapi ini merupakan awal dari sharing-sharing kita ke depan terkait penyikapan kita akan kebencanaan ini menjadi sangat penting. InsyaAllah dengan ini kita bisa lebih responsif adaptif terhadap bencana dan tentunya tujuan akhirnya selain membantu pemulihan lebih cepat, tetapi yang tidak kalah penting adalah memitigasi korban kebencanaan yang lebih minim, tentu itu harapan kita semua,” tutupnya.

Webinar menghadirkan sejumlah narasumber nasional, di antaranya Plt. Deputi Bidang Pencegahan BNPB Drs. Pangarso Suryotomo, M.M.B., Ketua Tim Kerja Tanggap Darurat dan Klaster Kesehatan Pusat Krisis Kesehatan Kementerian Kesehatan Budiman, SKM., M.Kes., Ketua Lembaga Kemanusiaan dan Tanggap Bencana PB IDI dr. Muhammad Iqbal El Mubarak, Sp.B., serta Kepala BMKG Stasiun Geofisika Kelas II Gorontalo Dr. Andri Wijaya Bidang S.Si., M.Si.

Materi yang disampaikan mencakup penguatan sistem tenaga cadangan kesehatan, peran organisasi profesi dalam respons kemanusiaan, hingga potensi ancaman gempa bumi dan tsunami di Gorontalo. Para pemateri menekankan pentingnya peningkatan kapasitas tenaga kesehatan, kolaborasi lintas sektor, serta literasi kebencanaan sebagai langkah strategis untuk mengurangi risiko korban dan memperkuat kesiapsiagaan masyarakat menghadapi berbagai ancaman bencana.


Ikuti berita lainnya

Tingkatkan Partisipasi Alumni dalam Tracer Study, UNG Perkuat Kemampuan Komunikasi Pegawai
30 Oct 2026
01:47 WITA

Tingkatkan Partisipasi Alumni dalam Tracer Study, UNG Perkuat Kemampuan Komunikasi Pegawai

Abdul Wahid Rauf

GORONTALO – Universitas Negeri Gorontalo (UNG) terus memperkuat upaya penelusuran jejak lulusan melalui peningkatan kompetensi pegawai. Salah satu langkah yang dilakukan yakni menggelar pelatihan public speaking dan komunikasi persuasif bagi pegawai di lingkungan UNG, yang diselenggarakan oleh Biro Akademik, Kemahasiswaan, dan Perencanaan (BAKP), Kamis (29/10).Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya strategis universitas dalam mengoptimalkan pelaksanaan Tracer Study, khususnya untuk meningkatkan partisipasi alumni dalam memberikan informasi mengenai perkembangan karier dan pengalaman mereka setelah menyelesaikan pendidikan di UNG.Perwakilan BAKP UNG, Rahmat Doda, S.T., menuturkan bahwa, kemampuan komunikasi menjadi salah satu faktor penting dalam keberhasilan penelusuran alumni. Melalui pendekatan komunikasi yang tepat, pegawai diharapkan mampu membangun interaksi yang baik, sekaligus mengajak alumni untuk berpartisipasi aktif dalam pengisian Tracer Study.Menurutnya, komunikasi yang efektif tidak hanya berorientasi pada penyampaian informasi, tetapi juga bagaimana membangun pemahaman dan kesadaran alumni, mengenai pentingnya kontribusi mereka dalam mendukung pengembangan kualitas pendidikan di almamater.“Tracer Study menjadi instrumen penting bagi universitas untuk mengetahui kondisi lulusan setelah memasuki dunia kerja, sekaligus memperoleh gambaran mengenai kesesuaian kompetensi yang diperoleh selama kuliah dengan kebutuhan dunia kerja,” ungkap Rahmat.Melalui pelatihan public speaking dan komunikasi persuasif, pegawai dibekali kemampuan untuk menyampaikan informasi secara jelas, menarik, dan meyakinkan. Keterampilan tersebut diharapkan dapat mendukung proses komunikasi dengan alumni, sehingga ajakan untuk berpartisipasi dalam survei dapat diterima dan direspons dengan lebih baik.“Langkah ini menjadi bagian dari komitmen UNG dalam memperkuat pengelolaan data alumni, meningkatkan kualitas layanan akademik, serta mendukung pengambilan kebijakan berbasis data demi terwujudnya pendidikan tinggi yang unggul dan berdaya saing,” terangnya.Pelaksanaan Tracer Study sendiri memiliki peran penting dalam pengembangan mutu perguruan tinggi. Informasi yang dikumpulkan tidak hanya mencakup status pekerjaan lulusan, tetapi juga masa transisi menuju dunia kerja, relevansi bidang pekerjaan dengan pendidikan yang ditempuh, serta masukan alumni terhadap proses pembelajaran selama berada di kampus.Melalui kegiatan ini, BAKP UNG berharap peningkatan keterampilan komunikasi pegawai dapat memberikan dampak positif terhadap efektivitas penelusuran alumni, khususnya dalam meningkatkan jumlah lulusan yang berpartisipasi dan kualitas data Tracer Study yang berhasil dihimpun. (**)

Akademisi Fakultas Sastra dan Budaya UNG Raih Penghargaan pada Konferensi Internasional Kesusastraan
29 Oct 2026
02:00 WITA

Akademisi Fakultas Sastra dan Budaya UNG Raih Penghargaan pada Konferensi Internasional Kesusastraan

Abdul Wahid Rauf

GORONTALO – Pencapaian akademik membanggakan, berhasil ditorehkan akademisi Universitas Negeri Gorontalo (UNG) di tingkat internasional. Dosen Fakultas Sastra dan Budaya (FSB), Jafar Lantowa, S.Pd., M.A., berhasil meraih penghargaan sebagai Pemakalah Favorit dan Presenter Terbaik, pada Konferensi Internasional Kesusastraan (KIK) ke-35 yang diselenggarakan di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), 26–27 Oktober 2026.Penghargaan yang diumumkan pada penutupan konferensi tersebut menjadi capaian membanggakan bagi UNG, sekaligus menunjukkan kualitas dan kontribusi akademisi kampus dalam pengembangan kajian sastra di forum ilmiah internasional.Keberhasilan tersebut diraih Jafar melalui presentasi karya ilmiah berjudul “Constructing Images of Indonesia and France in Leila S. Chudori’s Home”, yang mengkaji bagaimana citra Indonesia dan Prancis dikonstruksi melalui pengalaman tokoh-tokoh dalam novel Home, versi bahasa Inggris dari novel Pulang karya Leila S. Chudori.Dalam penelitiannya, Jafar yang saat ini tengah menempuh pendidikan doktoral pada Program Studi Ilmu-Ilmu Humaniora Universitas Gadjah Mada (UGM) dengan konsentrasi Sastra Indonesia, mengangkat persoalan identitas kebangsaan, pengasingan politik, serta ingatan budaya yang tergambar dalam karya sastra.“Melalui pendekatan imagologi Joep Leerssen, penelitian ini mengungkap bagaimana Indonesia dan Prancis direpresentasikan secara berbeda berdasarkan pengalaman dan sudut pandang para tokoh dalam novel,” ujarnya.Hasil kajian menunjukkan bahwa Indonesia digambarkan sebagai tanah air yang tetap hidup dalam ingatan dan kecintaan para eksil politik, meskipun pada saat bersamaan menjadi negara yang membatasi kepulangan mereka. Sementara itu, Prancis hadir sebagai tempat perlindungan dan ruang kebebasan berekspresi, namun tidak sepenuhnya mampu menggantikan ikatan emosional terhadap tanah air.Menariknya, penelitian Jafar juga menyoroti perbedaan cara pandang antargenerasi melalui tokoh Dimas dan Lintang. Dimas memandang Indonesia sebagai tanah air yang tidak pernah hilang dari ingatannya meskipun harus menjalani kehidupan dalam pengasingan. Sebaliknya, Lintang yang tumbuh besar di Prancis membangun pemahamannya tentang Indonesia melalui cerita keluarga, warisan budaya, dan pengalaman ketika mengunjungi Jakarta.“Temuan tersebut memperlihatkan bahwa identitas kebangsaan tidak semata-mata ditentukan oleh tempat kelahiran maupun tempat tinggal seseorang, tetapi juga dibentuk oleh pengalaman sejarah, ingatan kolektif, serta interaksi dengan kebudayaan lain,” jelas Jafar.Melalui kajian tersebut, Jafar menunjukkan bahwa karya sastra memiliki peran penting dalam merepresentasikan sejarah, membangun pemahaman lintas budaya, serta memperkenalkan pengalaman bangsa Indonesia kepada masyarakat dunia.Konferensi Internasional Kesusastraan ke-35 sendiri mengusung tema “Dinamika Sastra Bandingan: Sastra Indonesia sebagai Warga Sastra Dunia”. Forum ilmiah ini diselenggarakan oleh Himpunan Sarjana-Kesusastraan Indonesia (HISKI) bekerja sama dengan Fakultas Bahasa, Seni, dan Budaya Universitas Negeri Yogyakarta. (**)

Mahasiswa KKN Tematik UNG Sulap Ikan Mujair Danau Limboto Jadi Kerupuk Bernilai Ekonomi
29 Oct 2026
00:20 WITA

Mahasiswa KKN Tematik UNG Sulap Ikan Mujair Danau Limboto Jadi Kerupuk Bernilai Ekonomi

Abdul Wahid Rauf

GORONTALO – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik Tahap II Tahun 2026 Universitas Negeri Gorontalo (UNG) menghadirkan inovasi pengolahan hasil perikanan melalui pembuatan kerupuk ikan mujair bermerek “Desaku” di Desa Tabumela, Kecamatan Tilango, Kabupaten Gorontalo. Inovasi ini menjadi salah satu upaya mahasiswa dalam membantu masyarakat, untuk mengoptimalkan potensi perikanan Danau Limboto sekaligus membuka peluang usaha berbasis sumber daya lokal.Dosen Pembimbing Lapangan (DPL), Sitti Nursinar, S.Pi., M.Si., mengungkapkan melalui program pemberdayaan masyarakat tersebut, mahasiswa KKN Tematik UNG mengajak warga memanfaatkan ikan mujair. Jika selama ini ikan tersebut ini lebih banyak dipasarkan dalam kondisi segar, kini mahasiswa mengolahnya menjadi produk yang memiliki nilai tambah dan berpotensi dikembangkan sebagai usaha rumah tangga.“Pengembangan kerupuk ikan mujair dilatarbelakangi oleh kondisi harga ikan, yang kerap mengalami penurunan ketika hasil tangkapan nelayan melimpah. Melalui pengolahan menjadi produk pangan yang lebih tahan simpan, masyarakat diharapkan memiliki alternatif untuk meningkatkan nilai jual hasil perikanan sekaligus mengurangi ketergantungan pada penjualan ikan segar,” ujarnya.Dalam pelaksanaannya, mahasiswa tidak hanya memperkenalkan produk kerupuk ikan mujair, tetapi juga memberikan pendampingan langsung kepada masyarakat mulai dari persiapan bahan, pengolahan daging ikan, pembuatan adonan, pengukusan, pengirisan, hingga proses pengeringan dan pengemasan.Proses pembuatan kerupuk diawali dengan membersihkan ikan mujair dan memisahkan daging dari tulangnya. Daging ikan kemudian dihaluskan dan dicampurkan dengan bahan pendukung hingga membentuk adonan. Selanjutnya, adonan dibentuk, dikukus, didinginkan, dan diiris tipis sebelum dijemur selama dua hingga tiga hari. Kerupuk yang telah kering kemudian digoreng hingga mengembang dan menghasilkan tekstur renyah.“Produk kerupuk ikan mujair “Desaku” diharapkan dapat menjadi salah satu produk unggulan masyarakat Desa Tabumela. Selain memperkenalkan inovasi pangan berbahan dasar ikan lokal, kegiatan ini juga memberikan pengetahuan mengenai pentingnya menjaga kualitas produk, kebersihan selama proses produksi, serta pengemasan yang menarik agar memiliki daya saing di pasaran,” terangnya.Kehadiran mahasiswa di tengah masyarakat menjadi wujud nyata pengabdian Universitas Negeri Gorontalo dalam mendorong pemanfaatan potensi daerah, memperkuat ketahanan pangan, serta meningkatkan kualitas sumber daya manusia melalui edukasi dan pemberdayaan masyarakat.Tidak hanya berfokus pada pengembangan ekonomi masyarakat, sebanyak 15 mahasiswa KKN Tematik UNG yang ditempatkan di Desa Tabumela turut melaksanakan berbagai program edukasi sosial, di antaranya sosialisasi pencegahan stunting dan bahaya penyalahgunaan narkoba.(**)

Berhasil Kembangkan Kawasan Teluk Tomini, Kemenko PM Berikan Penghargaan untuk Rektor UNG pada Anugerah Mandaya Awards 2026
27 Oct 2026
08:06 WITA

Berhasil Kembangkan Kawasan Teluk Tomini, Kemenko PM Berikan Penghargaan untuk Rektor UNG pada Anugerah Mandaya Awards 2026

Abdul Wahid Rauf

GORONTALO – Komitmen Universitas Negeri Gorontalo (UNG) dalam mendorong pemberdayaan masyarakat, dan pengembangan kawasan Teluk Tomini mendapat pengakuan dari pemerintah pusat. Rektor UNG, Prof. Dr. Ir. Eduart Wolok, S.T., M.T., menerima penghargaan sebagai Kampus Inspiratif Pemberdayaan Masyarakat pada ajang Anugerah Mandaya Awards 2026, yang diserahkan langsung Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat (Menko PM) Dr. (H.C.) Drs. H. Abdul Muhaimin Iskandar, M.Si, Selasa (27/10).Penghargaan tersebut menjadi bentuk apresiasi atas dedikasi dan komitmen UNG dalam menjadikan perguruan tinggi sebagai penggerak pemberdayaan masyarakat, khususnya di kawasan pesisir Teluk Tomini. Dalam konteks tersebut, UNG berupaya mengambil peran sebagai penggerak yang menghubungkan kapasitas akademik dengan kebutuhan pembangunan masyarakat.Komitmen tersebut sejalan dengan visi UNG sebagai The Engine of Tomini Bay, yang menempatkan pengembangan kawasan Teluk Tomini sebagai salah satu fokus strategis universitas. Melalui visi ini, UNG mendorong kontribusi sivitas akademika agar potensi kawasan dapat dikembangkan secara berkelanjutan dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat, terutama komunitas pesisir.Rektor UNG, Prof. Dr. Ir. Eduart Wolok, ST., MT., menyambut baik penghargaan tersebut dan menyampaikan rasa syukur atas apresiasi yang diberikan pemerintah pusat. Menurutnya, penghargaan ini bukan sekadar simbol pencapaian institusi, melainkan bentuk pengakuan terhadap upaya bersama seluruh sivitas akademika UNG, dalam mendukung peningkatan kesejahteraan masyarakat.Ia menegaskan bahwa pengembangan kawasan Teluk Tomini tidak dapat dilepaskan dari komitmen kolektif seluruh elemen universitas. Pemberdayaan masyarakat pesisir perlu terus didorong agar potensi lokal dapat memberikan nilai tambah, membuka peluang pengembangan ekonomi, serta mendukung pembangunan daerah dan nasional.“Penghargaan menjadi motivasi bagi UNG untuk terus memperkuat kontribusinya dalam pembangunan masyarakat. Dengan mengedepankan peran pendidikan tinggi, riset, inovasi, dan kolaborasi, UNG berkomitmen menghadirkan manfaat yang relevan dengan kebutuhan masyarakat di kawasan Teluk Tomini,” ujar Prof. Eduart.Melalui semangat The Engine of Tomini Bay, UNG terus berkomitmen untuk terus mengambil bagian dalam pembangunan kawasan yang berkelanjutan dan inklusif. Pengakuan melalui Mandaya Awards 2026 menjadi pengingat bahwa keberhasilan perguruan tinggi tidak hanya diukur dari capaian akademik, tetapi juga dari kontribusinya dalam mendorong perubahan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. (**)

Lihat Semua Berita