Site Logo

Dari Dapur ke Dunia Medis: Peneliti UNG Temukan Potensi Daun Pandan untuk Membantu Penyembuhan Luka Bakar

PenelitianSiaran PersUNG Berdampak
Abdul Wahid Rauf
17 Jun 2026
07:34 WITA
604 dilihat
Dari Dapur ke Dunia Medis: Peneliti UNG Temukan Potensi Daun Pandan untuk Membantu Penyembuhan Luka Bakar

GORONTALO – Ketika mendengar kata daun pandan, kebanyakan orang mungkin langsung membayangkan aroma harum pada nasi, kue, atau minuman tradisional. Selama ini, tanaman bernama ilmiah Pandanus amaryllifolius itu memang lebih dikenal sebagai penyedap alami dalam berbagai hidangan khas Nusantara. Namun, siapa sangka bahwa tanaman yang akrab di dapur ini ternyata menyimpan potensi besar di bidang kesehatan?

Temuan menarik tersebut diungkap melalui penelitian yang dilakukan oleh Mohamad A. Paneo bersama tim peneliti yang terdiri atas Nurain Thomas, Fika N. Ramadhani, Multiani S. Latif, Faradila R. Moo, Lisa E. Puluhulawa, Intan Nusi, dan Angreni Ayuhastuti. Penelitian ini mengkaji pengembangan gel berbahan ekstrak daun pandan sebagai kandidat terapi topikal untuk membantu penyembuhan luka bakar.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa daun pandan tidak sekadar menghadirkan aroma khas, tetapi juga memiliki senyawa bioaktif yang berpotensi mendukung proses regenerasi jaringan kulit.

Luka Bakar dan Tantangan Penanganannya

Luka bakar merupakan salah satu cedera yang sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari, baik akibat kecelakaan rumah tangga, paparan panas, maupun bahan kimia. Pada kasus luka bakar derajat dua, kerusakan tidak hanya terjadi pada lapisan kulit terluar, tetapi juga mencapai lapisan di bawahnya.

Proses penyembuhan luka bakar memerlukan penanganan yang tepat karena luka yang terbuka rentan mengalami infeksi bakteri. Jika tidak ditangani dengan baik, infeksi dapat memperlambat penyembuhan bahkan menyebabkan komplikasi yang lebih serius.

Karena itu, pengembangan bahan alami yang aman, efektif, dan mudah diperoleh menjadi salah satu fokus penelitian di bidang farmasi modern.

Mengubah Daun Pandan Menjadi Gel Penyembuh Luka

Dalam penelitian ini, para peneliti menggunakan ekstrak etanol 70 persen daun pandan yang kemudian diformulasikan menjadi gel topikal. Tiga formulasi disiapkan dengan konsentrasi ekstrak berbeda, yaitu 30 persen, 35 persen, dan 40 persen.

Setiap formulasi diuji secara menyeluruh untuk menilai kualitas dan kestabilannya. Beberapa parameter yang diamati meliputi tingkat keasaman (pH), viskositas atau kekentalan gel, serta kestabilan selama penyimpanan pada berbagai kondisi suhu.

Hasilnya cukup menggembirakan. Seluruh formulasi menunjukkan karakteristik fisik yang stabil dan memenuhi kriteria yang dibutuhkan untuk sediaan gel pada kulit. Artinya, formulasi tersebut memiliki peluang untuk dikembangkan lebih lanjut sebagai produk farmasi berbasis bahan alam.

Aman bagi Kulit

Selain efektivitas, aspek keamanan juga menjadi perhatian utama dalam pengembangan produk kesehatan. Untuk itu, peneliti melakukan uji iritasi guna melihat apakah gel dapat menimbulkan reaksi yang tidak diinginkan pada kulit.

Selama masa pengamatan, tidak ditemukan tanda-tanda kemerahan maupun pembengkakan pada area aplikasi. Temuan ini menunjukkan bahwa formulasi gel ekstrak daun pandan memiliki kompatibilitas yang baik terhadap kulit dalam kondisi penelitian yang dilakukan.

Meskipun demikian, para peneliti menegaskan bahwa pengujian lebih lanjut tetap diperlukan untuk memastikan keamanan penggunaan jangka panjang pada manusia.

Konsentrasi Lebih Tinggi, Penyembuhan Lebih Cepat

Salah satu hasil paling menarik dari penelitian ini adalah kemampuan gel daun pandan dalam mendukung penyembuhan luka bakar.

Pada model praklinis yang digunakan, formulasi dengan konsentrasi ekstrak 40 persen menunjukkan proses penutupan luka yang lebih cepat dibandingkan formulasi berkonsentrasi lebih rendah maupun kelompok pembanding.

Temuan ini mengindikasikan bahwa semakin tinggi konsentrasi ekstrak daun pandan, semakin besar pula potensi efektivitasnya dalam mendukung regenerasi jaringan kulit.

Namun, para peneliti mengingatkan bahwa hubungan tersebut masih perlu dikaji lebih mendalam melalui penelitian lanjutan untuk memahami mekanisme biologis yang mendasarinya.

Rahasia di Balik Khasiat Daun Pandan

Apa yang membuat daun pandan berpotensi membantu penyembuhan luka?

Jawabannya terletak pada kandungan senyawa bioaktif yang dimilikinya. Daun pandan diketahui mengandung flavonoid, tanin, dan polifenol—kelompok senyawa yang telah lama dikenal memiliki aktivitas antioksidan dan antiinflamasi.

Antioksidan berfungsi melindungi sel-sel tubuh dari kerusakan akibat radikal bebas, sedangkan sifat antiinflamasi membantu meredakan peradangan yang sering muncul selama proses penyembuhan luka.

Kombinasi kedua aktivitas ini diduga berperan penting dalam mempercepat regenerasi jaringan kulit yang mengalami kerusakan.

Melawan Bakteri Penyebab Infeksi

Tidak hanya membantu penyembuhan, gel ekstrak daun pandan juga menunjukkan aktivitas antibakteri.

Penelitian menguji kemampuan gel dalam menghambat pertumbuhan dua bakteri yang sering menyebabkan infeksi luka, yaitu Staphylococcus aureus dan Pseudomonas aeruginosa.

Hasilnya menunjukkan bahwa formulasi gel mampu menghambat pertumbuhan kedua bakteri tersebut, dengan efek yang lebih kuat terhadap Staphylococcus aureus.

Temuan ini membuka peluang baru bagi pemanfaatan daun pandan sebagai sumber senyawa antimikroba alami untuk pengembangan produk perawatan luka di masa depan.

Dari Tanaman Tradisional Menuju Inovasi Farmasi

Meskipun hasil penelitian ini sangat menjanjikan, para peneliti menegaskan bahwa seluruh temuan masih berada pada tahap praklinis. Sebelum dapat digunakan secara luas dalam layanan kesehatan, formulasi ini masih memerlukan serangkaian penelitian lanjutan, termasuk uji klinis pada manusia dan evaluasi keamanan jangka panjang.

Namun demikian, studi ini memberikan gambaran bahwa kekayaan hayati Indonesia menyimpan potensi besar yang belum sepenuhnya tergali. Tanaman sederhana yang selama ini digunakan sebagai pewangi makanan ternyata memiliki peluang untuk berkembang menjadi produk kesehatan bernilai tinggi.

Pada akhirnya, penelitian ini mengingatkan kita bahwa inovasi sering kali berawal dari hal-hal yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Daun pandan yang biasa hadir di dapur keluarga Indonesia kini menunjukkan potensi untuk melangkah lebih jauh—dari penyedap masakan menuju kandidat terapi penyembuhan luka berbasis bahan alam.

(Artikel penelitian ini dipublikasikan melalui laman berikut)

Ikuti berita lainnya

PKKMB UNG 2026 Resmi Perkenalkan Logo dan Maskot, Simbol Semangat Kampus Kerakyatan yang Berdampak
31 Jul 2026
08:41 WITA

PKKMB UNG 2026 Resmi Perkenalkan Logo dan Maskot, Simbol Semangat Kampus Kerakyatan yang Berdampak

Abdul Wahid Rauf

Universitas Negeri Gorontalo (UNG) secara resmi memperkenalkan logo dan maskot Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) UNG 2026, sebagai identitas yang akan mewarnai seluruh rangkaian pelaksanaan PKKMB tahun ini. Peluncuran logo dan maskot tersebut menjadi penanda dimulainya semangat baru bagi ribuan mahasiswa baru, yang akan bergabung menjadi bagian dari keluarga besar Universitas Negeri Gorontalo.Mengusung tema "UNG Kampus Kerakyatan, Berdampak untuk Semua", logo dan maskot PKKMB 2026 merepresentasikan komitmen UNG dalam membangun kampus yang inklusif, adaptif, dan mampu menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat melalui pendidikan, penelitian, pengabdian, serta kolaborasi yang berkelanjutan.Pada PKKMB tahun ini, Hulo dan Langi tampil sebagai maskot resmi yang akan menemani seluruh rangkaian kegiatan mahasiswa baru. Keduanya hadir sebagai representasi nilai-nilai keberanian, persatuan, optimisme, dan semangat untuk terus belajar serta berkembang.Hulo dan Langi tidak hanya menjadi karakter visual, tetapi juga membawa pesan bahwa setiap mahasiswa baru memiliki kesempatan yang sama, untuk mengembangkan potensi diri, membangun prestasi, serta memberikan kontribusi positif bagi masyarakat.Melalui kehadiran kedua maskot tersebut, mahasiswa baru diharapkan mampu memulai perjalanan akademik dengan penuh percaya diri, menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan, menghargai keberagaman, serta memiliki kepedulian terhadap lingkungan dan masyarakat.Melalui logo dan maskot PKKMB 2026 ini, UNG kembali menegaskan komitmennya dalam menghadirkan proses pengenalan kehidupan kampus yang edukatif, inspiratif, dan membangun karakter. PKKMB UNG 2026 diharapkan menjadi langkah awal bagi mahasiswa baru untuk mengenal budaya akademik kampus sekaligus mempersiapkan diri menjadi generasi unggul yang siap berkarya, berprestasi, dan memberikan manfaat bagi masyarakat sesuai semangat "UNG Kampus Kerakyatan, Berdampak untuk Semua."

UNG Mengukuhkan Ratusan Lulusan pada Prosesi Wisuda ke-62
31 Jul 2026
00:50 WITA

UNG Mengukuhkan Ratusan Lulusan pada Prosesi Wisuda ke-62

Abdul Wahid Rauf

GORONTALO – Universitas Negeri Gorontalo (UNG) kembali menorehkan langkah penting, dalam mencetak ratusan sumber daya manusia berkualitas melalui pelaksanaan Wisuda ke-62. Sebanyak 700 lulusan dari berbagai program studi resmi dikukuhkan dalam prosesi akademik yang berlangsung khidmat, menandai lahirnya generasi baru yang siap berkarya dan mengabdi bagi masyarakat.Wisudawan yang dikukuhkan berasal dari berbagai jenjang pendidikan, mulai dari program diploma, sarjana, profesi, magister maupun doktor. Prosesi wisuda dipimpin langsung oleh Rektor UNG, Prof. Dr. Ir. Eduart Wolok, S.T., M.T., serta dihadiri jajaran pimpinan universitas, senat akademik, keluarga wisudawan, dan para tamu undangan yang turut menjadi saksi keberhasilan para lulusan menuntaskan perjalanan akademiknya.Suasana haru dan penuh kebanggaan menyelimuti Auditorium UNG ketika satu per satu lulusan dikukuhkan. Tepuk tangan keluarga dan sivitas akademika menjadi bentuk apresiasi atas perjuangan panjang para mahasiswa dalam menyelesaikan pendidikan tinggi di Kampus Kerakyatan.Dalam sambutannya, Rektor UNG, Prof. Dr. Ir. Eduart Wolok, S.T., M.T., menegaskan bahwa wisuda bukanlah garis akhir dari perjalanan, melainkan awal dari babak baru untuk memberikan kontribusi nyata kepada masyarakat."Hari ini bukan akhir dari perjuangan, tetapi awal dari pengabdian. Ilmu yang diperoleh selama di bangku kuliah harus menjadi bekal untuk menghadirkan inovasi, solusi, dan karya nyata bagi masyarakat, daerah, dan bangsa," ujar Rektor.Menurutnya, lulusan UNG harus mampu menjadi insan yang adaptif terhadap perubahan, memiliki integritas, serta mampu bersaing di tengah dinamika global yang terus berkembang. Tantangan masa depan membutuhkan sumber daya manusia yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki karakter kuat, kreativitas, dan kepedulian sosial.Rektor juga mengajak seluruh lulusan untuk terus menjaga nama baik almamater melalui dedikasi dan prestasi di berbagai bidang profesi. Ia meyakini bahwa keberhasilan para alumni akan menjadi cerminan kualitas pendidikan yang dibangun Universitas Negeri Gorontalo."Jadilah agen perubahan di mana pun berada. Bangun karya, ciptakan inovasi, dan berikan manfaat bagi masyarakat sesuai dengan bidang keilmuan yang dimiliki. Itulah makna sesungguhnya dari sebuah pendidikan tinggi," pesannya.Rektor menuturkan momentum wisuda ke-62 menjadi bukti konsistensi UNG dalam menjalankan misinya, sebagai perguruan tinggi yang melahirkan lulusan berdaya saing dan berkarakter. Selain membekali mahasiswa dengan kompetensi akademik dan profesional, UNG juga terus menanamkan nilai-nilai integritas, kepemimpinan, kolaborasi, serta semangat pengabdian yang menjadi fondasi dalam menghadapi tantangan dunia kerja maupun kehidupan bermasyarakat. (**)

Gandeng Organisasi IDI, TBM Cutaneus Fakultas Kedokteran UNG Layani Ratusan Anak pada Sirkumsisi Massal di Kabupaten Gorontalo
30 Jul 2026
04:43 WITA

Gandeng Organisasi IDI, TBM Cutaneus Fakultas Kedokteran UNG Layani Ratusan Anak pada Sirkumsisi Massal di Kabupaten Gorontalo

Abdul Wahid Rauf

GORONTALO – Semangat pengabdian kepada masyarakat kembali ditunjukkan, melalui sinergi antara organisasi profesi kedokteran dan perguruan tinggi. Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Cabang Kabupaten Gorontalo bersama Tim Bantuan Medis (TBM) Cutaneus Fakultas Kedokteran UNG menggelar Bakti Sosial Sirkumsisi Massal di Puskesmas Pilohayanga, Kabupaten Gorontalo, Minggu (26/7/).Kegiatan kemanusiaan tersebut mendapat sambutan luar biasa dari masyarakat. Sekitar 100 anak memperoleh layanan sirkumsisi secara gratis melalui penanganan tim medis yang profesional. Program ini menjadi bagian dari upaya memperluas akses layanan kesehatan yang aman, berkualitas, dan mudah dijangkau, sekaligus memperkuat kolaborasi antara organisasi profesi, fasilitas pelayanan kesehatan, dan institusi pendidikan.Dalam pelaksanaannya, TBM Cutaneus FK UNG menerjunkan tim medis yang dipimpin oleh dr. Rizky Asri, Sp.B. sebagai dokter penanggung jawab. Tim juga diperkuat oleh dr. Randi Mokodoto, dr. Bryan Achmad Otoluwa, dan dr. Dean Gusti Daniel Purba, S.Ked., bersama anggota TBM Cutaneus yang berperan aktif dalam seluruh rangkaian pelayanan.Tidak hanya memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat, kegiatan ini juga menjadi ruang pembelajaran klinis bagi mahasiswa Fakultas Kedokteran UNG. Mahasiswa yang tergabung dalam TBM Cutaneus terlibat langsung dalam berbagai tahapan pelayanan, mulai dari skrining peserta, persiapan tindakan, sterilisasi peralatan, pendampingan selama prosedur sirkumsisi, hingga observasi pascatindakan di bawah supervisi tenaga medis profesional.Ketua Umum TBM Cutaneus FK UNG, Muh. Syahrul Ramadhan, mengatakan bahwa partisipasi organisasi dalam kegiatan sosial merupakan bagian dari komitmen mahasiswa kedokteran untuk terus berkontribusi dalam bidang kesehatan sekaligus memperkuat kerja sama dengan berbagai mitra strategis."Kolaborasi seperti ini tidak hanya memberikan manfaat bagi masyarakat, tetapi juga menjadi wadah bagi mahasiswa untuk belajar, mengasah keterampilan klinis, serta menumbuhkan jiwa pengabdian sebagai calon tenaga kesehatan," ujarnya.Pelaksanaan bakti sosial berlangsung tertib dengan dukungan penuh dari tenaga kesehatan, mahasiswa, serta berbagai pihak yang terlibat. Antusiasme masyarakat menunjukkan tingginya kebutuhan terhadap layanan kesehatan yang mudah diakses sekaligus menjadi bukti bahwa kolaborasi antara organisasi profesi dan perguruan tinggi mampu menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat.“Melalui keterlibatan tersebut, mahasiswa memperoleh pengalaman praktik lapangan yang sangat berharga dalam mengasah keterampilan klinis, meningkatkan kemampuan bekerja dalam tim, serta menumbuhkan empati dan jiwa pengabdian sebagai calon dokter,” terangnya. Melalui kegiatan ini, FK UNG kembali menegaskan komitmennya dalam mendukung peningkatan derajat kesehatan masyarakat melalui pendidikan, pelayanan, dan pengabdian. Sinergi antara IDI Cabang Kabupaten Gorontalo dan TBM Cutaneus FK UNG diharapkan terus berlanjut sebagai model kolaborasi yang tidak hanya memperluas akses pelayanan kesehatan, tetapi juga mencetak tenaga kesehatan yang kompeten, profesional, dan memiliki kepedulian sosial yang tinggi.

Peneliti UNG Ungkap Tepung Ikan Cakalang Berpotensi Tingkatkan Produktivitas Ayam Lokal
30 Jul 2026
02:33 WITA

Peneliti UNG Ungkap Tepung Ikan Cakalang Berpotensi Tingkatkan Produktivitas Ayam Lokal

Abdul Wahid Rauf

Kebutuhan bahan baku pakan unggas terus meningkat, sementara harga tepung ikan sebagai salah satu sumber protein utama dalam pakan cenderung semakin mahal dan sebagian masih bergantung pada pasokan dari luar negeri. Kondisi tersebut mendorong para peneliti mencari bahan baku alternatif yang lebih ekonomis, mudah diperoleh, sekaligus mampu mendukung produktivitas ternak. Salah satu sumber yang dinilai menjanjikan adalah limbah pengolahan ikan cakalang yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal.Potensi tersebut menjadi fokus penelitian kolaboratif yang dilakukan oleh Srisukmawati Zainudin, Hartutik, Edhy Sudjarwo, dan Osfar Sjofjan melalui penelitian berjudul The Effects of Replacing Fish Meal with Skipjack Tuna Offal Meal on the Growth Performance and Carcase Quality of Local Chickens. Penelitian ini mengevaluasi tingkat penggunaan tepung limbah ikan cakalang kukus (steamed skipjack tuna offal meal/SSFO) sebagai pengganti tepung ikan dalam pakan ayam lokal untuk memperoleh tingkat penggunaan yang paling optimal dalam meningkatkan performa pertumbuhan dan kualitas karkas ayam.Penelitian ini memiliki relevansi yang tinggi bagi Indonesia, khususnya Gorontalo, yang merupakan salah satu daerah penghasil ikan cakalang. Data yang dikutip dalam penelitian menunjukkan bahwa produksi cakalang di Gorontalo mencapai lebih dari 13 ribu ton pada tahun 2020. Selama ini, bagian sisa pengolahan seperti usus, lambung, hati, jantung, paru-paru, dan telur ikan masih belum dimanfaatkan secara maksimal, padahal memiliki kandungan nutrisi yang berpotensi menjadi bahan baku pakan ternak.Untuk menguji potensinya, para peneliti mengganti tepung ikan dalam ransum dengan tepung limbah ikan cakalang kukus pada beberapa tingkat penggunaan. Selama pemeliharaan, berbagai parameter diamati, mulai dari konsumsi pakan, pertambahan bobot badan, rasio konversi pakan (feed conversion ratio/FCR), nilai income over feed cost (IOFC), bobot karkas, persentase karkas, hingga kandungan protein dan lemak daging ayam.Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan 5% tepung limbah ikan cakalang kukus memberikan performa terbaik. Pada tingkat ini, ayam lokal menghasilkan bobot badan akhir dan bobot karkas yang lebih tinggi, disertai nilai FCR yang lebih rendah dibandingkan perlakuan lainnya. Artinya, ayam mampu memanfaatkan pakan secara lebih efisien untuk menghasilkan pertambahan bobot badan. Selain itu, nilai IOFC juga menjadi yang tertinggi, menunjukkan bahwa penggunaan bahan pakan tersebut berpotensi meningkatkan keuntungan usaha peternakan.Dari sisi kualitas daging, penelitian menemukan bahwa penggantian tepung ikan dengan tepung limbah ikan cakalang kukus tidak memberikan pengaruh nyata terhadap kandungan protein daging, sehingga kualitas protein tetap terjaga. Sementara itu, kandungan lemak daging mengalami perubahan, namun masih berada dalam kisaran normal untuk daging ayam. Peneliti juga melaporkan bahwa persentase karkas dada tidak berbeda nyata antarperlakuan, meskipun bobot karkas meningkat pada tingkat penggunaan tertentu.Temuan ini menunjukkan bahwa limbah ikan cakalang memiliki potensi besar untuk dimanfaatkan sebagai bahan baku pakan alternatif. Selain membantu mengurangi ketergantungan terhadap tepung ikan, pemanfaatan hasil samping industri perikanan juga dapat mengurangi limbah organik sekaligus meningkatkan efisiensi pemanfaatan sumber daya. Pendekatan ini sejalan dengan konsep ekonomi sirkular, yaitu mengubah limbah menjadi produk yang memiliki nilai tambah.Bagi peternak, hasil penelitian ini membuka peluang untuk memanfaatkan bahan baku lokal yang lebih mudah diperoleh tanpa mengorbankan performa produksi ayam. Di daerah penghasil cakalang seperti Gorontalo, inovasi ini berpotensi menekan biaya pakan sekaligus meningkatkan nilai ekonomi limbah hasil perikanan.Secara keseluruhan, penelitian ini menunjukkan bahwa tepung limbah ikan cakalang kukus dapat digunakan sebagai pengganti tepung ikan hingga tingkat 5% dalam pakan ayam lokal. Penggunaan pada tingkat tersebut terbukti mampu meningkatkan performa pertumbuhan, memperbaiki efisiensi penggunaan pakan, meningkatkan bobot karkas, serta berpotensi meningkatkan keuntungan peternak. Temuan ini menjadi salah satu alternatif inovasi pakan yang tidak hanya lebih ekonomis, tetapi juga mendukung pemanfaatan sumber daya lokal dan pengembangan peternakan yang lebih berkelanjutan. (Artikel penelitian ini dipublikasikan melalui laman berikut)

Lihat Semua Berita