Site Logo

Dari Limbah Jadi Pelindung Pangan, Tim Peneliti UNG Hadirkan Inovasi Edible Coating Nasi Aking Berbasis Nano

PenelitianUNG Berdampak
Abdul Wahid Rauf
04 May 2026
13:22 WITA
447 dilihat
Dari Limbah Jadi Pelindung Pangan, Tim Peneliti UNG Hadirkan Inovasi Edible Coating Nasi Aking Berbasis Nano

Di tengah meningkatnya perhatian dunia terhadap ketahanan pangan dan pengurangan limbah, para peneliti terus mencari cara agar bahan pangan dapat bertahan lebih lama tanpa bergantung pada pengawet sintetis. Salah satu pendekatan yang kini berkembang adalah penggunaan edible coating—lapisan tipis yang dapat dimakan dan berfungsi melindungi produk pangan dari kerusakan.

Menariknya, inovasi terbaru dari Universitas Negeri Gorontalo menghadirkan sesuatu yang tidak biasa: edible coating berbahan dasar nasi aking, limbah pangan yang selama ini sering dianggap tidak bernilai.

Penelitian ini dilakukan oleh Rahmiyati Kasim, Widya Rahmawaty Saman, dan Sakinah Ayhani Dahlan melalui skema Penelitian Fundamental Reguler (PFR) tahun 2025 yang didukung DPPM Kemdiktisaintek.

Ketika Limbah Pangan Menjadi Solusi

Nasi aking merupakan nasi sisa yang dikeringkan dan biasanya dipandang sebagai limbah rumah tangga. Namun di tangan para peneliti, bahan sederhana ini justru diubah menjadi material pelapis pangan yang inovatif dan ramah lingkungan.

Alih-alih menggunakan bahan kimia sintetis, penelitian ini memanfaatkan tepung nasi aking sebagai bahan utama edible coating. Tujuannya bukan hanya memperpanjang umur simpan makanan, tetapi juga mendukung pengurangan limbah pangan melalui pendekatan ekonomi sirkular.

Konsepnya sederhana namun kuat: limbah diubah menjadi produk bernilai tambah.

Menggabungkan Teknologi Nano dan Iradiasi

Selama ini, edible coating berbasis bahan alami sering menghadapi berbagai kendala, terutama terkait stabilitas emulsi dan kekuatan lapisan pelindungnya. Untuk mengatasi masalah tersebut, tim peneliti mengombinasikan tepung nasi aking dengan Virgin Coconut Oil (VCO) dan nano selulosa (Cellulose Nanofiber/CNF).

Tidak berhenti di situ, mereka juga menerapkan teknologi iradiasi gamma untuk meningkatkan performa lapisan secara keseluruhan.

Teknologi nano digunakan untuk menghasilkan partikel berukuran sangat kecil sehingga lapisan menjadi lebih stabil dan efektif. Sementara itu, iradiasi gamma membantu memperkuat struktur material sekaligus meningkatkan sifat antimikroba.

Hasilnya cukup menjanjikan.

Stabil, Kuat, dan Antimikroba

Melalui serangkaian uji laboratorium dan optimasi formulasi, para peneliti berhasil menghasilkan nanoemulsi dengan karakteristik unggul.

Formula terbaik yang dihasilkan mengandung: sekitar 3% tepung nasi aking, 2,98% nano selulosa dan 1,35% VCO. Kombinasi tersebut menghasilkan:

1) Ukuran partikel nano yang stabil2) Distribusi partikel yang homogen3) Kemampuan menahan uap air yang baik4) Lapisan dengan kekuatan mekanik lebih tinggi

Yang lebih menarik, perlakuan iradiasi gamma juga meningkatkan kemampuan antimikroba dari lapisan tersebut. Artinya, edible coating ini tidak hanya melindungi produk pangan dari kehilangan kualitas, tetapi juga membantu menghambat pertumbuhan mikroorganisme penyebab kerusakan.

Potensi Besar untuk Buah dan Sayuran Segar

Inovasi ini memiliki peluang besar diterapkan pada produk hortikultura segar seperti buah dan sayuran. Dengan lapisan pelindung yang aman dikonsumsi, produk pangan dapat bertahan lebih lama tanpa tambahan pengawet kimia.

Hal ini menjadi penting mengingat tingginya kehilangan hasil panen akibat kerusakan pascapanen, terutama di negara berkembang.

Selain memperpanjang umur simpan, penggunaan bahan lokal seperti nasi aking juga memberikan nilai ekonomi baru bagi limbah pangan yang sebelumnya terbuang sia-sia.

Ketika Sains Membantu Masa Depan Pangan

Penelitian ini menunjukkan bahwa solusi pangan masa depan tidak selalu harus mahal atau berbasis teknologi asing. Justru, potensi lokal yang sederhana dapat menjadi inovasi besar ketika dipadukan dengan pendekatan ilmiah modern.

Melalui kombinasi bahan alami, teknologi nano, dan iradiasi, inovasi edible coating berbasis nasi aking dari UNG menjadi contoh nyata bagaimana sains dapat menghadirkan solusi yang lebih sehat, ramah lingkungan, dan berkelanjutan.

Di tengah tantangan global terkait limbah dan ketahanan pangan, inovasi seperti ini membuka harapan bahwa masa depan pangan bisa dibangun bukan hanya dari apa yang baru, tetapi juga dari apa yang selama ini terabaikan. (**)

Ikuti berita lainnya

Dosen UNG Presentasikan Hasil Risetnya Dalam Forum Akademik Internasional di Republik Ceko
27 Aug 2026
07:11 WITA

Dosen UNG Presentasikan Hasil Risetnya Dalam Forum Akademik Internasional di Republik Ceko

Abdul Wahid Rauf

Kekayaan bahasa daerah Indonesia kembali mendapat perhatian dalam forum akademik internasional. Dosen Fakultas Sastra dan Budaya Universitas Negeri Gorontalo (UNG), Rahmatan Idul, yang saat ini tengah menempuh studi doktoral di Leiden University, Belanda, berkesempatan mempresentasikan hasil risetnya pada The 19th Annual Conference on Asian Studies di Palacký University Olomouc, Republik Ceko.Dalam forum akademik bergengsi tersebut, Rahmatan mengangkat kajian tentang bahasa-bahasa daerah di Indonesia, khususnya bahasa yang dituturkan di wilayah Sulawesi. Penelitiannya menyoroti tantangan keragaman bahasa tersebut terhadap teori dan metode analisis metafora yang selama ini banyak dikembangkan berdasarkan bahasa Inggris dan bahasa-bahasa Indo-Eropa.Salah satu fokus utama kajiannya adalah bahasa Muna. Melalui bahasa tersebut, Rahmatan menunjukkan bahwa makna figuratif tidak semata-mata dibentuk melalui pilihan kata atau unsur leksikal. Makna juga dapat lahir melalui struktur gramatikal, hubungan antara bentuk dan makna, konteks budaya, praktik sosial, tradisi lisan, hingga cara masyarakat memaknai pengalaman hidupnya.Temuan tersebut menjadi menarik karena memperlihatkan bahwa teori metafora yang telah mapan tidak selalu dapat diterapkan secara langsung pada seluruh bahasa di dunia.Menurut Rahmatan, setiap bahasa memiliki struktur dan latar budaya yang khas. Karena itu, teori maupun metode analisis metafora perlu terus diuji ketika diterapkan pada bahasa-bahasa dengan karakteristik yang berbeda dari bahasa yang selama ini menjadi dasar pengembangannya.“Bahasa daerah memiliki struktur dan latar budaya yang khas. Karena itu, teori dan metode analisis metafora perlu diuji kembali ketika diterapkan pada bahasa-bahasa yang memiliki karakteristik berbeda,” ungkapnya.Riset Rahmatan membawa pesan penting bahwa bahasa-bahasa daerah di Indonesia memiliki kekayaan linguistik dan budaya yang dapat memberikan kontribusi lebih luas terhadap perkembangan ilmu bahasa.Selama ini, bahasa daerah kerap ditempatkan terutama dalam konteks dokumentasi, pelestarian, dan revitalisasi bahasa. Namun, melalui kajian tersebut, bahasa daerah ditampilkan dalam posisi yang lebih strategis, yakni sebagai sumber pengetahuan ilmiah yang dapat menguji sekaligus memperkaya teori-teori linguistik yang berkembang secara internasional.Bahasa Muna, misalnya, memperlihatkan bagaimana masyarakat membangun makna melalui perpaduan antara bahasa, budaya, pengalaman, dan tradisi. Ungkapan figuratif yang digunakan masyarakat tidak selalu dapat dipahami hanya dengan melihat bentuk bahasanya, tetapi membutuhkan pemahaman terhadap konteks sosial dan budaya yang melatarbelakanginya.Perspektif tersebut membuka ruang refleksi bagi para linguis bahwa konsep dan teori yang dianggap mapan perlu terus diuji melalui keragaman bahasa dunia.Dengan demikian, bahasa daerah Indonesia tidak hanya menjadi objek penelitian, tetapi juga dapat menjadi “penguji” teori linguistik sekaligus sumber inspirasi untuk mengembangkan pendekatan-pendekatan baru dalam memahami bahasa dan makna.Keikutsertaan Rahmatan dalam konferensi internasional di Republik Ceko sekaligus menjadi langkah penting dalam memperkenalkan kekayaan bahasa dan budaya Indonesia, khususnya dari kawasan tengah dan timur Indonesia, ke dalam percakapan akademik global.Kajian tersebut memperlihatkan bahwa setiap bahasa menyimpan cara pandang masyarakat penuturnya dalam memahami dunia. Di balik sebuah ungkapan figuratif, terdapat pengalaman, nilai, pengetahuan, tradisi, hingga cara masyarakat memandang kehidupan.Karena itu, mempelajari bahasa daerah tidak hanya berarti mempelajari sistem bahasa, tetapi juga membuka jalan untuk memahami cara manusia berpikir, merasakan, dan memaknai realitas melalui bahasa.Menariknya, kiprah Rahmatan dalam konferensi tersebut tidak berhenti pada forum presentasi. Setelah konferensi, ia mendapat undangan untuk mengembangkan gagasannya menjadi salah satu bab dalam bunga rampai akademik bertema Truths, Tensions, and Technologies in Asia yang akan diterbitkan oleh Palacký University Press.Tulisan tersebut akan dikembangkan bersama dua supervisor doktoralnya di Leiden University, yakni Prof. Marian Klamer dan Dr. Aletta Dorst.Kesempatan ini menjadi ruang lebih luas bagi Rahmatan untuk memperdalam pembahasan mengenai bahasa-bahasa daerah Indonesia dan tantangannya terhadap kajian metafora, sekaligus membawa isu tersebut kepada pembaca dan komunitas akademik internasional.

Pastikan Program Berjalan Baik, LPPM UNG Turun Langsung Monitoring Pelaksanaan KKN-PK di 28 Desa
26 Aug 2026
05:07 WITA

Pastikan Program Berjalan Baik, LPPM UNG Turun Langsung Monitoring Pelaksanaan KKN-PK di 28 Desa

Abdul Wahid Rauf

GORONTALO – Kuliah Kerja Nyata Profesi Kesehatan (KKN-PK) Universitas Negeri Gorontalo (UNG) tidak hanya diarahkan sebagai ruang belajar mahasiswa di tengah masyarakat, tetapi juga sebagai wadah untuk menghadirkan solusi terhadap persoalan kesehatan di tingkat desa. Untuk memastikan tujuan tersebut berjalan optimal, UNG melalui Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) melakukan monitoring dan evaluasi (monev) pelaksanaan KKN-PK Tahun 2026.Monitoring dilakukan untuk melihat secara langsung perkembangan program mahasiswa sekaligus memastikan setiap kegiatan yang dilaksanakan sesuai dengan rencana dan kebutuhan masyarakat di lokasi pengabdian.KKN-PK UNG Tahun 2026 melibatkan mahasiswa dari berbagai program studi bidang kesehatan dan kedokteran yang ditempatkan di 28 desa pada enam kecamatan di Kabupaten Gorontalo. Selama masa pengabdian, mahasiswa menjalankan berbagai program kesehatan dengan melibatkan pemerintah desa, tenaga kesehatan, kader, serta masyarakat.Kepala Pusat KKN UNG Dr. Rosbin Pakaya, M.Pd, menuturkan monitoring dilakukan LPPM UNG sebagai bagian dari pengendalian dan peningkatan kualitas pelaksanaan program. Tim melakukan peninjauan terhadap perkembangan kegiatan di lapangan, termasuk pelaksanaan program kerja, keterlibatan mahasiswa dengan masyarakat, koordinasi dengan pemerintah desa, serta peran Dosen Pembimbing Lapangan dalam mendampingi mahasiswa.“Selain melihat perkembangan program, monitoring menjadi ruang untuk mengidentifikasi berbagai kendala yang ditemui selama pelaksanaan KKN-PK. Temuan di lapangan selanjutnya menjadi bahan evaluasi bagi mahasiswa, DPL, maupun pengelola program untuk melakukan penyesuaian dan penguatan kegiatan hingga seluruh rangkaian KKN selesai,” ujar Rosbin.Ketua LPPM UNG, Prof. Lanto Ningrayati Amali, menegaskan bahwa monitoring dan evaluasi merupakan bagian penting, untuk memastikan KKN-PK tidak berhenti pada pemenuhan aspek administratif.“UNG ingin memastikan program yang dilaksanakan mahasiswa benar-benar sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan dapat berjalan dengan baik. Ini juga sekaligus menjadi ruang evaluasi untuk melihat apa yang sudah berjalan dan apa yang masih perlu diperbaiki selama pelaksanaan KKN-PK,” jelasnya.Menurut Ningrayati, penempatan mahasiswa di 28 desa memberikan ruang pembelajaran yang luas bagi mahasiswa, untuk mengimplementasikan kompetensi yang diperoleh selama perkuliahan dalam situasi nyata di masyarakat.“Interaksi langsung dengan warga juga menjadi kesempatan bagi mahasiswa untuk memahami bahwa persoalan kesehatan tidak hanya berkaitan dengan aspek klinis, tetapi juga dipengaruhi kondisi sosial, lingkungan, perilaku, serta keterlibatan keluarga dan masyaraka,” harapnya.Melalui pelaksanaan KKN-PK Tahun 2026, UNG berharap kehadiran mahasiswa dapat memberikan kontribusi positif di setiap desa penempatan. Berbagai program yang dijalankan diharapkan mampu mendukung upaya peningkatan kesehatan masyarakat sekaligus menjadi pengalaman profesional bagi mahasiswa. (**)

Dari Eco Enzyme Jadi Produk Bernilai, Bhayangkari Bone Bolango Belajar Bikin Sabun Ramah Lingkungan Bersama FMIPA UNG
26 Aug 2026
03:38 WITA

Dari Eco Enzyme Jadi Produk Bernilai, Bhayangkari Bone Bolango Belajar Bikin Sabun Ramah Lingkungan Bersama FMIPA UNG

Abdul Wahid Rauf

GORONTALO – Semangat memperkuat kapasitas dan keterampilan anggota Bhayangkari diwujudkan melalui kolaborasi Bhayangkari Cabang Bone Bolango, bersama Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Negeri Gorontalo (UNG), dalam Pelatihan Pembuatan Sabun Berbasis Eco Enzyme.Mengusung semangat sinergitas, edukasi, dan kepedulian terhadap lingkungan, kegiatan tersebut digelar dalam rangka memperingati Hari Kesatuan Gerak Bhayangkari (HKGB) ke-74 Tahun 2026, bertempat di Aula FMIPA Lantai 3, Kampus 4 UNG.Pelatihan ini tidak sekadar menjadi ruang untuk menambah pengetahuan, tetapi juga memberikan pengalaman praktis kepada anggota Bhayangkari dalam memahami proses pembuatan sabun, sekaligus memanfaatkan bahan berbasis eco enzyme menjadi produk yang memiliki nilai guna dan berpotensi bernilai ekonomi.Kegiatan dibuka secara resmi oleh Wakil Dekan III Bidang Kemahasiswaan FMIPA UNG, Dr. Lilan Dama. Dalam sambutannya, Lilan mengapresiasi kepercayaan dan kolaborasi yang dibangun Bhayangkari Cabang Bone Bolango bersama FMIPA UNG. Menurutnya, perguruan tinggi tidak hanya memiliki tanggung jawab dalam bidang pendidikan dan penelitian, tetapi juga perlu hadir memberikan kontribusi nyata kepada masyarakat.“Kegiatan seperti ini menjadi bentuk nyata sinergitas antara perguruan tinggi dan Bhayangkari. Ilmu pengetahuan yang ada di kampus dapat ditransformasikan menjadi keterampilan praktis yang bermanfaat dalam kehidupan sehari-hari,” ungkapnya.Ia berharap kegiatan tersebut menjadi pintu masuk bagi kerja sama yang lebih luas, khususnya dalam pengembangan keterampilan, inovasi produk, serta edukasi mengenai pemanfaatan bahan-bahan yang ramah lingkungan.Rangkaian pelatihan diawali dengan materi bertajuk “Sains di Balik Sabun: Mengenal Sejarah, Struktur Kimia, Reaksi Pembentukan, dan Mekanisme Kerjanya” yang disampaikan oleh Dr. Suleman Duengo.Melalui materi tersebut, peserta diajak melihat sabun dari perspektif ilmiah. Produk yang selama ini begitu dekat dengan kehidupan sehari-hari, ternyata memiliki proses kimia yang menarik, mulai dari sejarah penggunaannya, struktur molekul, reaksi pembentukan, hingga mekanisme sabun dalam mengangkat kotoran dan minyak.Setelah mendapatkan pemahaman mengenai dasar-dasar kimia sabun, peserta kemudian diajak menerapkan pengetahuan tersebut melalui sesi praktik. Praktik pembuatan sabun berbasis eco enzyme dipandu langsung oleh Kepala Laboratorium Pendidikan Kimia FMIPA UNG, Dr. Wiwin Rewini Kunusa, bersama mahasiswa Jurusan Kimia FMIPA UNG.Para peserta mendapatkan kesempatan mengenal bahan, memahami tahapan pembuatan, hingga mempraktikkan secara langsung proses pengolahan bahan menjadi produk sabun.Pendekatan pembelajaran yang memadukan teori dan praktik tersebut, membuat kegiatan berlangsung interaktif. Peserta tidak hanya mendengarkan penjelasan, tetapi juga dapat melihat secara langsung bagaimana konsep-konsep kimia diterapkan untuk menghasilkan produk yang bermanfaat.Wakil Ketua Bhayangkari Cabang Bone Bolango, Ny. Maya Sutrisno, menyampaikan bahwa pelatihan tersebut menjadi momentum penting untuk memperluas wawasan, sekaligus meningkatkan keterampilan anggota Bhayangkari.Peringatan HKGB ke-74 kata Maya, tidak hanya dimaknai sebagai kegiatan seremonial, tetapi juga harus mampu menghadirkan kegiatan yang memberikan manfaat dan pengetahuan baru bagi anggota.“Kami sangat mengapresiasi sinergitas dengan FMIPA UNG. Melalui pelatihan ini, anggota Bhayangkari mendapatkan wawasan baru sekaligus keterampilan yang dapat dikembangkan dan dimanfaatkan dalam kehidupan sehari-hari,” ujarnya.Ia berharap keterampilan membuat sabun berbasis eco enzyme dapat terus dikembangkan, bahkan menjadi kegiatan produktif yang memiliki nilai ekonomi.Kolaborasi Bhayangkari Cabang Bone Bolango dan FMIPA UNG tersebut, menunjukkan bahwa sinergi antara institusi pendidikan dan organisasi kemasyarakatan dapat menghadirkan kegiatan yang tidak hanya edukatif, tetapi juga aplikatif dan berdampak langsung. (**)

Malam Anugerah Prestasi Kemahasiswaan, UNG Apresiasi Kontribusi Mahasiswa dan Dosen
25 Aug 2026
01:09 WITA

Malam Anugerah Prestasi Kemahasiswaan, UNG Apresiasi Kontribusi Mahasiswa dan Dosen

Abdul Wahid Rauf

GORONTALO – Keberhasilan mahasiswa dan dosen dalam menghadirkan prestasi dalam bidang kemahasiswaan selama kurun waktu tahun 2025, mendapatkan apresiasi khusus dari Universitas Negeri Gorontalo. Apresiasi tersebut dikemas dalam Malam Anugerah Prestasi Kemahasiswaan, yang memberikan penghargaan kepada para insan berprestasi dari berbagai bidang dan tingkatan.Malam anugerah menjadi momentum bagi UNG untuk memberikan penghargaan sekaligus mengapresiasi kerja keras mahasiswa, dosen, serta fakultas yang secara konsisten mendorong lahirnya berbagai prestasi, mulai dari tingkat provinsi hingga internasional.Beragam kategori penghargaan diberikan dalam ajang tersebut. Di antaranya penghargaan bagi fakultas penyumbang prestasi terbanyak pada berbagai tingkatan, mahasiswa dengan raihan prestasi terbanyak, serta sejumlah kategori lain yang mencerminkan kontribusi sivitas akademika dalam mengembangkan prestasi kemahasiswaan.Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Alumni UNG, Dr. Mohamad Amir Arham, M.E., mengatakan, Malam Anugerah Prestasi Kemahasiswaan merupakan bentuk apresiasi universitas, terhadap mahasiswa dan fakultas yang telah memberikan kontribusi nyata melalui berbagai pencapaian.Menurutnya, penghargaan tersebut tidak hanya menjadi bentuk pengakuan atas prestasi yang telah diraih, tetapi juga diharapkan menjadi pemantik semangat bagi seluruh sivitas akademika untuk terus bergerak dan menghadirkan pencapaian yang lebih baik bagi UNG.“Bentuk apresiasi ini diharapkan semakin memotivasi civitas akademika untuk terus bergerak mendukung kemajuan UNG melalui pencapaian prestasi mahasiswa,” ujarnya.Sementara itu, Rektor UNG Prof. Dr. Ir. Eduart Wolok, S.T., M.T., menyampaikan apresiasi dan rasa bangganya, atas berbagai prestasi yang berhasil dicatatkan mahasiswa sepanjang tahun 2025.Menurut Eduart, menghadirkan ratusan prestasi dalam satu tahun bukanlah sesuatu yang mudah. Di balik setiap pencapaian terdapat kerja keras mahasiswa, dukungan dosen, serta komitmen fakultas dan universitas dalam memberikan ruang bagi mahasiswa untuk berkembang dan berkompetisi.“Tidak mudah untuk menghadirkan ratusan prestasi untuk UNG. Karena itu, saya menyampaikan terima kasih atas kontribusi yang ditunjukkan mahasiswa dan dosen melalui berbagai prestasi ini,” ungkapnya.Ia menilai, capaian tersebut menjadi bukti bahwa UNG memiliki potensi besar untuk terus berkembang melalui talenta dan kreativitas mahasiswa. Prestasi yang diraih tidak hanya menjadi kebanggaan bagi individu maupun fakultas, tetapi turut memperkuat reputasi UNG di tingkat daerah, nasional, hingga internasional.Ditahun tahun 2026 ini, Rektor berharap tradisi prestasi tersebut dapat terus dipertahankan bahkan ditingkatkan. Potensi besar yang dimiliki mahasiswa UNG harus terus didorong melalui pembinaan, pendampingan, serta kesempatan untuk berkompetisi di berbagai bidang.“Potensi yang dimiliki mahasiswa UNG saat ini sangatlah besar untuk terus mencatatkan prestasi di berbagai bidang,” tegas Eduart.Malam Anugerah Prestasi Kemahasiswaan pun menjadi lebih dari sekadar seremoni penghargaan. Momentum ini menjadi bentuk penghormatan atas dedikasi para mahasiswa dan dosen sekaligus penegasan komitmen UNG untuk membangun budaya berprestasi. Dari setiap penghargaan yang diberikan, tersimpan harapan agar semakin banyak mahasiswa UNG berani bermimpi, berkompetisi, dan membawa nama almamater semakin dikenal di berbagai penjuru. (**)

Lihat Semua Berita