Site Logo

Dari Ikan Hulu’u ke Spray Gel Penyembuh Luka Bakar, Inovasi Kesehatan Berbasis Kekayaan Hayati Gorontalo

PenelitianSiaran PersUNG Berdampak
Abdul Wahid Rauf
02 Jun 2026
03:49 WITA
995 dilihat
Dari Ikan Hulu’u ke Spray Gel Penyembuh Luka Bakar, Inovasi Kesehatan Berbasis Kekayaan Hayati Gorontalo

Indonesia dikenal sebagai negara yang kaya akan sumber daya hayati. Namun, tidak semua potensi lokal telah dimanfaatkan secara optimal untuk mendukung pengembangan produk kesehatan. Di Gorontalo, salah satu kekayaan hayati yang selama ini lebih dikenal sebagai bahan pangan ternyata menyimpan potensi besar di bidang farmasi. Ikan Hulu’u (Giuris margaritacea), ikan air tawar yang banyak ditemukan di perairan lokal, kini menjadi perhatian para peneliti karena kandungan albuminnya yang berpotensi membantu proses penyembuhan luka bakar.

Potensi tersebut terungkap melalui penelitian yang dilakukan oleh tim peneliti Universitas Negeri Gorontalo yang dipimpin oleh Mohamad Aprianto Paneo bersama Endah Nurrohwinta Djuwarno, Sitty Ainsyah Habibie, Nurain Thomas, Multiani S. Latif, Nur Alifia Karina Munafri, dan Rayhan Firman Anasiru. Hasil penelitian mereka dipublikasikan dalam jurnal ilmiah Science and Technology Indonesia tahun 2026 dengan judul Biopotential of Gorontalo Hulu’u Fish (Giuris margaritacea) Albumin in a Novel Spray Gel Formulation for the Treatment of Burn Wounds: In Vivo Evaluation in Rats.

Mengapa Luka Bakar Sulit Disembuhkan?

Luka bakar merupakan salah satu jenis cedera yang memerlukan penanganan khusus karena melibatkan kerusakan jaringan kulit dalam berbagai tingkat keparahan. Selain menimbulkan rasa nyeri, luka bakar juga berisiko menyebabkan infeksi, kehilangan cairan tubuh, hingga gangguan fungsi organ apabila tidak ditangani dengan baik.

Proses penyembuhan luka bakar membutuhkan regenerasi jaringan yang kompleks. Tubuh harus membentuk jaringan baru, memperbaiki pembuluh darah yang rusak, serta menghasilkan kolagen untuk mengembalikan struktur kulit. Karena itu, berbagai penelitian terus dilakukan untuk menemukan bahan alami yang mampu mempercepat proses pemulihan jaringan tersebut.

Albumin, Protein Penting untuk Regenerasi Jaringan

Salah satu zat yang banyak diteliti dalam proses penyembuhan luka adalah albumin. Protein ini memiliki berbagai fungsi biologis penting, mulai dari menjaga keseimbangan cairan tubuh hingga mendukung perbaikan jaringan yang rusak.

Dalam dunia medis, albumin diketahui berperan dalam mempercepat proliferasi sel, merangsang pembentukan kolagen, serta membantu proses regenerasi jaringan baru. Kemampuan inilah yang membuat albumin menjadi kandidat menarik untuk dikembangkan sebagai bahan terapi luka.

Tim peneliti UNG menemukan bahwa ikan Hulu’u memiliki kandungan albumin yang cukup tinggi dan berpotensi dimanfaatkan sebagai bahan baku produk kesehatan. Berbekal potensi tersebut, mereka mengembangkan albumin ikan Hulu’u ke dalam bentuk sediaan modern berupa spray gel.

Mengapa Dipilih Bentuk Spray Gel?

Berbeda dengan salep atau krim konvensional, spray gel menawarkan sejumlah keunggulan praktis. Produk ini dapat diaplikasikan dengan cara disemprotkan langsung ke area luka tanpa perlu banyak sentuhan, sehingga risiko kontaminasi dapat diminimalkan.

Selain itu, spray gel mampu membentuk lapisan pelindung yang merata di permukaan luka. Lapisan ini membantu menjaga kelembapan area luka, yang merupakan salah satu faktor penting dalam proses penyembuhan jaringan.

Dalam penelitian tersebut, albumin ikan Hulu’u diformulasikan ke dalam beberapa variasi spray gel dengan konsentrasi yang berbeda. Para peneliti menggunakan kombinasi polimer hidrofilik yang dirancang untuk menghasilkan gel yang stabil sekaligus mampu melepaskan albumin secara bertahap pada area luka.

Hasil yang Menjanjikan di Laboratorium

Sebelum diuji efektivitasnya, seluruh formulasi spray gel menjalani berbagai pengujian kualitas. Peneliti mengevaluasi stabilitas fisik, tingkat keasaman (pH), viskositas, daya sebar, daya lekat, hingga kemampuan pelepasan albumin dari sistem gel.

Hasilnya menunjukkan bahwa seluruh formulasi memiliki karakteristik yang baik dan aman digunakan pada kulit. Nilai pH berada dalam rentang yang sesuai sehingga tidak berpotensi menimbulkan iritasi.

Menariknya, formulasi dengan kandungan albumin tertinggi, yaitu 20 persen, menunjukkan performa paling optimal. Formulasi ini memiliki kestabilan yang lebih baik serta kemampuan pelepasan albumin yang lebih tinggi dibandingkan formulasi lainnya.

Pada pengujian in vitro, spray gel dengan albumin 20 persen mampu melepaskan sekitar 81 persen kandungan albuminnya dalam waktu 180 menit. Temuan ini menunjukkan bahwa semakin tinggi konsentrasi albumin dalam formulasi, semakin besar pula potensi zat aktif yang dapat tersedia untuk mendukung proses penyembuhan luka.

Terbukti Mempercepat Penyembuhan Luka Bakar

Keunggulan formulasi tersebut tidak hanya terlihat di laboratorium. Tim peneliti juga melakukan pengujian in vivo menggunakan hewan coba untuk melihat efektivitasnya dalam penyembuhan luka bakar.

Hasil pengamatan menunjukkan bahwa kelompok yang mendapatkan spray gel dengan kandungan albumin tertinggi mengalami penyusutan diameter luka yang lebih cepat dibandingkan kelompok kontrol. Dengan kata lain, luka bakar pada kelompok tersebut sembuh lebih baik dan lebih cepat.

Efek ini diduga berkaitan dengan kemampuan albumin dalam mendukung pembentukan jaringan baru, mempercepat sintesis kolagen, serta meningkatkan aktivitas sel-sel yang berperan dalam proses regenerasi kulit.

Mengangkat Potensi Lokal ke Tingkat yang Lebih Tinggi

Penelitian ini tidak hanya menawarkan alternatif terapi luka bakar yang menjanjikan, tetapi juga menunjukkan bagaimana sumber daya lokal dapat diolah menjadi produk kesehatan bernilai tinggi. Ikan Hulu’u yang selama ini dikenal sebagai bahan konsumsi masyarakat ternyata menyimpan potensi besar sebagai sumber biomaterial untuk pengembangan produk farmasi modern.

Temuan ini sekaligus membuka peluang baru bagi pengembangan industri kesehatan berbasis sumber daya alam lokal. Dengan riset yang berkelanjutan, pemanfaatan ikan Hulu’u dapat memberikan nilai tambah ekonomi sekaligus mendorong lahirnya inovasi kesehatan yang berasal dari daerah.

Pada akhirnya, penelitian ini menjadi contoh nyata bagaimana kekayaan biodiversitas Indonesia dapat bertransformasi menjadi solusi kesehatan masa depan. Dari perairan Gorontalo, ikan Hulu’u kini tidak hanya menjadi sumber pangan, tetapi juga berpotensi menjadi bahan baku terapi penyembuhan luka bakar yang inovatif, efektif, dan bernilai tinggi.

(Artikel penelitian dipublikasikan melalui laman berikut)

Ikuti berita lainnya

Dari Limbah Jadi Berkah, Inovasi BioNira Zero Waste UNG Buka Peluang Ekonomi di Dulamayo Selatan
14 Oct 2026
05:40 WITA

Dari Limbah Jadi Berkah, Inovasi BioNira Zero Waste UNG Buka Peluang Ekonomi di Dulamayo Selatan

Abdul Wahid Rauf

GORONTALO — Limbah pengolahan gula aren yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal, kini dikembangkan menjadi produk bernilai tambah oleh tim pengabdian kepada masyarakat Universitas Negeri Gorontalo (UNG). Melalui inovasi BioNira Zero Waste, limbah kolang-kaling dan kulitnya diolah menjadi serbuk serat Nano Fiber serta pelet biomassa, yang berpotensi membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat Desa Dulamayo Selatan, Kabupaten Gorontalo.Program bertajuk “BioNira Zero Waste: Inovasi Nano Fiber dan Pelet Biomassa Limbah Biji Nira Berbasis Pemberdayaan Karang Taruna Dulamayo Selatan” ini dilaksanakan oleh Rifka Anggraini Anggai, M.Farm., Dr. Dra. Ha. Sri Endang Saleh, M.Si., dan Angry Pratama Solihin, M.Sc. Kegiatan tersebut merupakan bagian dari program pengabdian kepada masyarakat, yang memperoleh pendanaan Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM), Kemdiktisaintek Tahun 2026.Gagasan ini berangkat dari pengamatan tim terhadap aktivitas pengolahan gula aren di Desa Dulamayo Selatan, yang melibatkan banyak pengrajin dan pelaku usaha. Di balik aktivitas ekonomi tersebut, terdapat limbah yang belum dimanfaatkan secara maksimal. Kondisi ini mendorong tim menghadirkan pendekatan zero waste dengan mengolah sisa bahan produksi, menjadi produk baru sekaligus melibatkan Karang Taruna sebagai mitra utama dalam pengembangan inovasi di tingkat desa.Ketua tim pengabdian, Rifka Anggraini Anggai, menjelaskan bahwa program ini memanfaatkan kolang-kaling dan kulit kolang-kaling untuk menghasilkan dua jenis produk berbeda. Kolang-kaling diolah menjadi serbuk serat Nano Fiber, menggunakan peralatan yang diserahkan kepada pengurus Karang Taruna, sedangkan kulitnya dimanfaatkan sebagai bahan baku pelet biomassa yang lebih ramah lingkungan.“Buah kolang-kaling kami olah dengan beberapa alat yang kami berikan kepada pengurus Karang Taruna untuk dijadikan serbuk serat Nano Fiber, sementara kulitnya dijadikan pelet biomassa yang ramah lingkungan,” jelas Rifka.Tidak berhenti pada penyediaan peralatan, tim UNG juga memberikan pendampingan agar mitra mampu menjalankan proses produksi secara lebih terarah. Pendampingan mencakup tahapan pengolahan bahan baku, hingga penyusunan Standar Operasional Prosedur (SOP) pembuatan serbuk serat Nano Fiber dan pelet biomassa. Langkah ini diharapkan menjadi fondasi bagi mitra, untuk menjaga konsistensi proses produksi dan mengembangkan kegiatan secara berkelanjutan.Penguatan kapasitas mitra juga diarahkan pada aspek pemasaran dan digital branding. Melalui pemanfaatan berbagai platform digital, produk yang dikembangkan diharapkan memiliki peluang untuk dikenal lebih luas. Dengan demikian, pemberdayaan tidak hanya berfokus pada keterampilan mengolah limbah, tetapi juga pada kemampuan mengelola produksi dan memperkenalkan produk kepada calon konsumen.Melalui BioNira Zero Waste, UNG mendorong perubahan cara pandang terhadap limbah hasil pengolahan aren, dari sisa produksi yang belum termanfaatkan menjadi sumber daya yang berpotensi menghasilkan nilai ekonomi. Keterlibatan Karang Taruna menjadi bagian penting dalam membangun kemampuan masyarakat, untuk mengelola inovasi secara mandiri sekaligus memperkuat peran generasi muda dalam pengembangan potensi desa.Program ini diharapkan menjadi langkah awal bagi pemanfaatan limbah aren yang lebih produktif di Desa Dulamayo Selatan. Dengan dukungan teknologi tepat guna, pendampingan, dan penguatan pemasaran, inovasi BioNira Zero Waste mencerminkan upaya UNG dalam menghubungkan ilmu pengetahuan dengan kebutuhan masyarakat, sekaligus membuka peluang bagi tumbuhnya kegiatan ekonomi berbasis pemanfaatan sumber daya lokal.

UNG Siapkan Lulusan Go Global, Perkuat Kerja Sama Pelatihan Calon Pekerja Migran Indonesia
13 Oct 2026
08:01 WITA

UNG Siapkan Lulusan Go Global, Perkuat Kerja Sama Pelatihan Calon Pekerja Migran Indonesia

Abdul Wahid Rauf

GORONTALO — Peluang berkarier di luar negeri kini semakin terbuka bagi lulusan Universitas Negeri Gorontalo (UNG). Melalui kerja sama dengan Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (KemenP2MI) melalui Balai Pelayanan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP3MI) Sulawesi Utara, UNG memperkuat langkah menyiapkan sumber daya manusia terdidik yang memiliki keterampilan, kemampuan bahasa asing, dan pemahaman tentang pelindungan pekerja migran.Komitmen tersebut diwujudkan melalui penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS) antara UNG dan KemenP2MI/BP2MI melalui BP3MI Sulawesi Utara, Senin (12/10/2026). Penandatanganan dilakukan langsung oleh Rektor UNG, Prof. Dr. Ir. Eduart Wolok, S.T., M.T., IPU, ASEAN Eng., dan Kepala BP3MI Sulawesi Utara, AKBP Hendrick Situmorang, S.H., S.I.K., M.Si.Kerja sama ini difokuskan pada penguatan kapasitas dan keterampilan calon pekerja migran terdidik asal Gorontalo. Melalui program prioritas SMK Go Global, UNG dipersiapkan menjadi pusat pelatihan intensif bahasa asing sekaligus pembekalan kompetensi kerja agar calon pekerja migran memiliki kesiapan yang lebih baik sebelum memasuki pasar kerja internasional.Rektor UNG, Prof. Dr. Ir. Eduart Wolok, ST., MT.,menegaskan bahwa peluang kerja global perlu ditangkap secara strategis, terutama di tengah bonus demografi Indonesia. Sejumlah negara, seperti Jepang, Korea Selatan, Selandia Baru, Australia, hingga negara-negara Eropa, menghadapi tantangan penuaan penduduk dan kebutuhan tenaga kerja produktif. Kondisi tersebut membuka peluang bagi tenaga kerja Indonesia yang memiliki kompetensi sesuai kebutuhan negara tujuan.“Perguruan tinggi memiliki peran penting untuk memastikan lulusan tidak hanya mengantongi ijazah, tetapi juga mempunyai keterampilan praktis, kemampuan berkomunikasi dalam bahasa asing, serta kesiapan menghadapi lingkungan kerja yang berbeda,” ungkapnya.Untuk mendukung program tersebut, UNG akan mengoptimalkan fasilitas Unit Pelaksana Akademik (UPA) Bahasa sebagai sarana penguatan kemampuan bahasa asing. Selain itu, fasilitas Rumah Susun Mahasiswa (Rusunawa) UNG direncanakan dapat dimanfaatkan sebagai pusat pelatihan terpadu untuk mendukung pelaksanaan program.Melalui dukungan fasilitas dan kolaborasi antarlembaga, program ini diharapkan dapat membantu mempersiapkan calon pekerja migran yang profesional, kompetitif, dan memahami hak serta mekanisme pelindungan hukum selama bekerja di luar negeri. Aspek keselamatan, prosedur penempatan yang sesuai ketentuan, dan pemahaman terhadap negara tujuan menjadi bagian penting agar peluang kerja internasional dapat dimanfaatkan secara bertanggung jawab.“Kerja sama ini sekaligus memperluas peran UNG dalam menyiapkan lulusan menghadapi tantangan dunia kerja yang semakin terbuka. Kampus tidak hanya menjadi tempat memperoleh pengetahuan, tetapi juga ruang pengembangan kompetensi yang relevan dengan kebutuhan pasar kerja global,” ujar Rektor.Melalui kemitraan tersebut, UNG berharap semakin banyak putra-putri Gorontalo yang mampu bersaing di tingkat internasional dengan bekal pendidikan, keterampilan, dan pemahaman pelindungan yang memadai. Langkah ini menjadi bagian dari komitmen UNG untuk memperluas kesempatan lulusan, memperkuat daya saing sumber daya manusia, dan menghadirkan dampak pendidikan tinggi yang lebih luas bagi masyarakat.

Raih Prestasi Gold Medal dan Best Paper, Mahasiswa Fakultas Teknik UNG Bersinar di Idea Fest 6
12 Oct 2026
01:43 WITA

Raih Prestasi Gold Medal dan Best Paper, Mahasiswa Fakultas Teknik UNG Bersinar di Idea Fest 6

Abdul Wahid Rauf

GORONTALO — Dua mahasiswa Universitas Negeri Gorontalo (UNG) membuktikan bahwa gagasan, yang dikembangkan melalui proses akademik mampu bersaing dan mendapat pengakuan di tingkat nasional. Adelia Syafarusi Sahadat dan Haida Arianti, mahasiswa Jurusan Teknik Industri, Fakultas Teknik (FT) UNG, berhasil meraih Gold Medal sekaligus penghargaan Best Paper pada ajang Idea Fest 6 yang diselenggarakan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), 10–11 Oktober 2026, di Malang.Prestasi tersebut diraih pada subtema Pariwisata dan Budaya. Raihan dua penghargaan sekaligus menjadi pencapaian membanggakan karena tidak hanya menunjukkan keberhasilan tim dalam kompetisi, tetapi juga menegaskan pengakuan terhadap kualitas karya tulis ilmiah yang mereka hasilkan.Gold Medal menjadi apresiasi atas capaian dalam kompetisi, sementara penghargaan Best Paper menunjukkan bahwa karya yang diusung memiliki kualitas penulisan ilmiah yang mendapat pengakuan dari penyelenggara. Prestasi ini sekaligus memperlihatkan kemampuan mahasiswa Teknik Industri UNG dalam mengembangkan gagasan analitis dan inovatif pada isu yang melampaui bidang keilmuan mereka.Keberhasilan Adelia dan Haida tidak terlepas dari persiapan dan pendampingan akademik yang mereka jalani. Keduanya merupakan mahasiswa bimbingan Idham Halid Lahay, S.T., M.Sc., yang mendampingi proses pengembangan gagasan hingga persiapan mengikuti kompetisi.Pendampingan dosen menjadi bagian penting dalam mempertajam ide, memperkuat substansi karya, serta mempersiapkan mahasiswa menyampaikan gagasan secara ilmiah. Kolaborasi tersebut menunjukkan bahwa proses pembelajaran di perguruan tinggi dapat berkembang menjadi karya nyata yang memperoleh apresiasi di luar lingkungan kampus.Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Alumni UNG, Prof. Dr. Mohamad Amir Arham, M.E., menyampaikan apresiasi atas pencapaian kedua mahasiswa tersebut beserta peran dosen pembimbing. Menurutnya, prestasi ini menjadi bagian dari upaya memperkuat budaya akademik yang mendorong mahasiswa untuk aktif berkarya, mengikuti kompetisi, dan mengembangkan kemampuan komunikasi ilmiah.Ia berharap capaian tersebut dapat menjadi motivasi bagi mahasiswa lainnya, agar semakin percaya diri membawa gagasan dan karya mereka ke berbagai forum kompetitif.“Penghargaan yang diraih melalui proses pembimbingan akademik juga menunjukkan pentingnya lingkungan kampus, dalam menyediakan ruang bagi mahasiswa untuk mengembangkan potensi dan kreativitas,” terangnya.Raihan Gold Medal dan Best Paper oleh Adelia Syafarusi Sahadat dan Haida Arianti menjadi kebanggaan bagi fakultas dan juga universitas. Prestasi ini diharapkan menjadi pemantik bagi lahirnya lebih banyak karya mahasiswa yang inovatif, berkualitas, dan mampu memberikan kontribusi melalui forum akademik di tingkat nasional maupun internasional. (**)

Perkuat Kelimuan Arsitektur dan Teknologi Bangunan, Dosen UNG Tempuh Doktor Double Degree di ITB dan Loughborough University
12 Oct 2026
00:48 WITA

Perkuat Kelimuan Arsitektur dan Teknologi Bangunan, Dosen UNG Tempuh Doktor Double Degree di ITB dan Loughborough University

Abdul Wahid Rauf

GORONTALO — Kesempatan menimba ilmu di dua perguruan tinggi, Indonesia dan Inggris, menjadi langkah penting bagi Abdi Gunawan Djafar, dosen Universitas Negeri Gorontalo (UNG), dalam memperdalam keilmuan sekaligus memperluas pengalaman riset bertaraf internasional. Dosen Jurusan S1 Arsitektur dan Program Studi D-IV Arsitektur Bangunan Gedung tersebut kini tengah menempuh pendidikan doktor melalui program Double Degree hasil kolaborasi Institut Teknologi Bandung (ITB) dan Loughborough University (LU), Inggris.Pendidikan doktoral Abdi didukung beasiswa Program Doktor untuk Dosen Indonesia (PDDI) skema Double Degree dari kementerian terkait, dengan pendanaan penuh. Program ini dirancang selama tiga tahun atau 36 bulan, dengan pembagian masa studi dan riset di kedua institusi untuk memberikan pengalaman akademik lintas lingkungan pendidikan dan penelitian.Memulai studi doktoral pada 2025, Abdi menjalani perkuliahan dan pendalaman teori selama 12 bulan di ITB. Tahap berikutnya adalah riset intensif selama 18 bulan di School of Architecture, Building and Civil Engineering, Loughborough University. Setelah itu, ia dijadwalkan kembali ke ITB selama enam bulan untuk menuntaskan tahap akhir penyusunan disertasi.Dalam pendidikan doktoralnya, Abdi memusatkan perhatian pada bidang Sains dan Teknologi Bangunan. Penelitian ini dibimbing oleh tim promotor dari ITB dan Loughborough University, sehingga membuka ruang untuk mengintegrasikan perspektif keilmuan, pendekatan penelitian, dan pengalaman akademik dari dua institusi.Bagi Abdi, kesempatan tersebut tidak sekadar menjadi pencapaian akademik pribadi. Pengetahuan dan pengalaman yang diperoleh selama studi di Indonesia dan Inggris diharapkan dapat dibawa kembali ke kampus untuk memperkuat pembelajaran dan penelitian di Fakultas Teknik UNG, khususnya pada bidang arsitektur dan teknologi bangunan.Pengalaman belajar di dua lingkungan akademik juga menjadi peluang untuk memperluas jejaring riset dan mengenal pendekatan pengembangan ilmu pengetahuan dalam konteks internasional. Bekal tersebut diharapkan dapat mendukung pengembangan materi pembelajaran, peningkatan kualitas penelitian, serta terbukanya peluang kolaborasi akademik yang lebih luas bagi sivitas akademika UNG.Rektor UNG, Prof. Dr. Ir. Eduart Wolok, S.T., M.T., mengapresiasi keikutsertaan Abdi dalam program doktoral Double Degree. Menurutnya, kesempatan menempuh pendidikan lanjut di perguruan tinggi terkemuka menjadi bagian penting dari upaya meningkatkan kualifikasi dan kompetensi dosen, yang pada akhirnya harus bermuara pada penguatan mutu pendidikan dan pengembangan institusi.Eduart menekankan bahwa kompetensi yang diperoleh dosen melalui pendidikan doktoral diharapkan tidak berhenti pada individu, tetapi dapat ditransfer melalui kegiatan pembelajaran, penelitian, publikasi ilmiah, dan berbagai aktivitas akademik yang memberikan manfaat bagi mahasiswa serta pengembangan program studi.“Keikutsertaan Abdi Gunawan Djafar dalam program doktoral Double Degree menjadi salah satu langkah pengembangan sumber daya manusia UNG melalui pendidikan bertaraf internasional,” ujar Eduart.Dengan penguatan kompetensi dosen dan perluasan jejaring akademik, UNG terus mendorong terciptanya lingkungan pendidikan yang inovatif, kolaboratif, dan kompetitif sebagai bagian dari upaya mewujudkan universitas yang unggul dan berdaya saing.

Lihat Semua Berita