Site Logo

FIS UNG dan SPN Polda Gorontalo Bersatu Wujudkan Pendidikan Berkarakter dan Berintegritas

Abdul Wahid Rauf
21 Oct 2025
10:12 WITA
178 dilihat
FIS UNG dan SPN Polda Gorontalo Bersatu Wujudkan Pendidikan Berkarakter dan Berintegritas

GORONTALO - Fakultas Ilmu Sosial (FIS) Universitas Negeri Gorontalo (UNG) terus memperluas jejaring kemitraan dengan berbagai lembaga strategis. Kali ini, FIS UNG menjalin kerja sama dengan Sekolah Polisi Negara (SPN) Polda Gorontalo, yang ditandai dengan penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS) di lingkungan kampus UNG. 

Dalam sambutannya, Dekan Fakultas Ilmu Sosial UNG, Dr. Drs. Zuchri Abdussamad, S.I.K., M.Si., menyampaikan apresiasi atas terjalinnya kemitraan ini. Ia menilai kerja sama antara FIS UNG dan SPN Polda Gorontalo merupakan langkah penting dalam memperkuat kolaborasi di bidang pendidikan dan pengembangan karakter.

“Kami bersyukur atas kerja sama ini, karena semangat kedisiplinan dan integritas yang dimiliki SPN sangat sejalan dengan nilai-nilai yang kami tanamkan di lingkungan akademik FIS. Kolaborasi ini diharapkan menjadi ruang untuk saling belajar dan berbagi pengalaman dalam membentuk sumber daya manusia yang berkarakter,” ungkapnya.

Sementara itu, Kepala SPN Polda Gorontalo, Kombes Pol Agus Widodo, S.I.K., M.H., menyampaikan rasa terima kasih atas sambutan hangat dari pihak UNG. Ia menegaskan bahwa SPN Polda Gorontalo siap mendukung berbagai kegiatan sosial, pendidikan, serta riset yang digagas oleh FIS UNG.

“Kami berharap kerja sama ini tidak berhenti di atas kertas, tetapi terus berkembang dalam bentuk pendampingan, pelatihan, dan evaluasi kebutuhan bersama,” ujarnya.

Melalui sinergi ini, kedua institusi berkomitmen menciptakan program bersama yang menumbuhkan nilai-nilai disiplin, tanggung jawab, dan kepemimpinan bagi peserta didik maupun anggota lembaga. Kolaborasi antara FIS UNG dan SPN Polda Gorontalo menjadi bukti nyata peran perguruan tinggi dan aparat kepolisian dalam membangun sumber daya manusia yang unggul, berintegritas, dan berkarakter kebangsaan.

Ikuti berita lainnya

Webinar SIGAP NUSA Tekankan Kesiapsiagaan Tenaga Kesehatan Hadapi Bencana
17 Jun 2026
05:08 WITA

Webinar SIGAP NUSA Tekankan Kesiapsiagaan Tenaga Kesehatan Hadapi Bencana

Rachmad Hidayah

Gorontalo – Fakultas Kedokteran Universitas Negeri Gorontalo (FK UNG) bekerja sama dengan Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Wilayah Gorontalo menyelenggarakan Webinar Kebencanaan SIGAP NUSA (Sinergi Generasi Adaptif Penanggulangan Bencana Nusantara) dengan tema “Dari Gorontalo untuk Indonesia: Membangun Tenaga Kesehatan yang Adaptif, Responsif, dan Tanggap Bencana.” Kegiatan yang digelar secara daring pada Minggu 14 Juni 2026 tersebut diikuti oleh 808 peserta dari 122 instansi di berbagai daerah di Indonesia.Ketua Panitia, Dr. dr. Zuhriana K. Yusuf, M.Kes, dalam laporannya menyampaikan bahwa webinar ini merupakan bagian dari komitmen FK UNG dalam bidang kegawatdaruratan dan kebencanaan yang menjadi salah satu keunggulan institusi.“Webinar kebencanaan diselenggarakan oleh Fakultas Kedokteran UNG dan IDI Wilayah Gorontalo. FK UNG menyelenggarakan kegiatan ini karena keunggulan FK UNG adalah kegawatdaruratan dan bencana,” ujarnya.Ia menjelaskan bahwa para pemateri yang hadir merupakan mitra yang selama ini telah menjalin kerja sama dengan FK UNG dalam berbagai program pengembangan kapasitas kebencanaan.“Partisipasi pemateri pada hari ini adalah rata-rata yang sudah menjalin kerja sama dengan FK UNG,” katanya.Menurut Zuhriana, FK UNG selama ini aktif berkontribusi dalam berbagai respons kebencanaan di Provinsi Gorontalo maupun daerah lain. Keterlibatan tersebut menjadi bagian dari pengabdian institusi dalam mendukung upaya penanggulangan bencana.“Beberapa kegiatan FK yang sudah dilaksanakan untuk memberikan kontribusi pada kebencanaan yaitu turun serta dalam segala tanggap darurat bencana di Provinsi Gorontalo,” ungkapnya.Ia berharap materi yang disampaikan dalam webinar dapat menjadi sarana edukasi bagi masyarakat luas, khususnya tenaga kesehatan.“Kami dari panitia sangat berharap materi ini menjadi edukasi bagi seluruh masyarakat, terutama bagi tenaga kesehatan yang bisa mampu nantinya akan lebih siap menghadapi bencana,” tuturnya.Sementara itu, Rektor Universitas Negeri Gorontalo, Prof. Dr. Ir. Eduart Wolok, S.T., M.T., dalam sambutannya menegaskan bahwa kesiapsiagaan terhadap bencana merupakan kebutuhan penting, terutama bagi generasi muda.“Tentu, terkait dengan tanggap bencana ini merupakan sebuah kebutuhan buat kita terutama juga generasi muda saat ini. Kenapa dikatakan demikian, karena berkali-kali kita sudah diingatkan pada saat ketika ada bencana, baik itu di Gorontalo atau wilayah Indonesia, kita menunjukkan penyikapan untuk mengatasi bencana dengan baik. Tetapi untuk waspada terhadap bencana itu terkadang yang harus lebih kita tingkatkan. Artinya bagaimana kita merespon, kita mempersiapkan terutama mulai dari segi peringatan dan sebagainya. Tentu ini perlu untuk terus diingatkan dan dibangun kesadaran ini terkait dengan kesadaran untuk tanggap bencana karena jauh lebih baik kita sudah bisa mempersiapkan diri sebelum bencana itu datang daripada ketika saat bencana sudah datang, tentu effort-nya akan lebih besar,” ujar Eduart.Menurutnya, kegiatan edukatif seperti webinar memiliki peran penting dalam meningkatkan literasi kebencanaan masyarakat.“Lewat kegiatan webinar seperti ini tentu akan memberikan pemahaman keilmuan dan wawasan buat kita semua terkait penyikapan kita terhadap bencana. Karena lazimnya bencana pasti sudah didahului dengan pertanda, peringatan dan sebagainya. Kemudian bagaimana pola atau alur kita menyikapi terhadap bencana itu, ini yang memang harus lebih terus kita share ke semua pihak agar kita siap,” katanya.Ia menambahkan bahwa perubahan iklim global menyebabkan pola bencana semakin dinamis dan sulit diperkirakan, sehingga diperlukan respons yang lebih adaptif dari seluruh elemen masyarakat.“Karena sebagaimana kita ketahui dengan perubahan iklim yang sedang melanda dunia saat ini, terkadang bencana itu bisa datang dengan tiba-tiba dan juga tidak sebagaimana siklus yang lazimnya kita perhitungkan. Tentu dengan dinamika kebencanaan seperti ini, dibutuhkan respon dari kita juga yang lebih adaptif terhadap dinamika bencana yang saat ini kita hadapi,” lanjutnya.Dalam kesempatan tersebut, Eduart juga menyoroti kontribusi FK UNG dalam berbagai misi kemanusiaan dan penanganan bencana di tingkat nasional.“Kita ketahui bersama Fakultas Kedokteran UNG juga menitikberatkan keunggulannya terhadap tanggap kedaruratan bencana dan itu sudah kita tunjukkan dengan ikut berpartisipasi secara aktif di berbagai musibah bencana yang terjadi di wilayah Indonesia, bahkan kemarin sampai ke Aceh pun kita ikut terlibat. Tentu ini merupakan bentuk respon positif daripada FK UNG dan juga Universitas Negeri Gorontalo terhadap kondisi kebencanaan,” ungkapnya.Ia berharap webinar ini menjadi awal dari kolaborasi dan pertukaran pengetahuan yang lebih luas terkait kebencanaan.“Dan ke depan tentu dengan adanya webinar yang saya yakin ini bukan webinar yang terakhir tetapi ini merupakan awal dari sharing-sharing kita ke depan terkait penyikapan kita akan kebencanaan ini menjadi sangat penting. InsyaAllah dengan ini kita bisa lebih responsif adaptif terhadap bencana dan tentunya tujuan akhirnya selain membantu pemulihan lebih cepat, tetapi yang tidak kalah penting adalah memitigasi korban kebencanaan yang lebih minim, tentu itu harapan kita semua,” tutupnya.Webinar menghadirkan sejumlah narasumber nasional, di antaranya Plt. Deputi Bidang Pencegahan BNPB Drs. Pangarso Suryotomo, M.M.B., Ketua Tim Kerja Tanggap Darurat dan Klaster Kesehatan Pusat Krisis Kesehatan Kementerian Kesehatan Budiman, SKM., M.Kes., Ketua Lembaga Kemanusiaan dan Tanggap Bencana PB IDI dr. Muhammad Iqbal El Mubarak, Sp.B., serta Kepala BMKG Stasiun Geofisika Kelas II Gorontalo Dr. Andri Wijaya Bidang S.Si., M.Si.Materi yang disampaikan mencakup penguatan sistem tenaga cadangan kesehatan, peran organisasi profesi dalam respons kemanusiaan, hingga potensi ancaman gempa bumi dan tsunami di Gorontalo. Para pemateri menekankan pentingnya peningkatan kapasitas tenaga kesehatan, kolaborasi lintas sektor, serta literasi kebencanaan sebagai langkah strategis untuk mengurangi risiko korban dan memperkuat kesiapsiagaan masyarakat menghadapi berbagai ancaman bencana.

Pendaftaran Wisuda ke-62 UNG Resmi Dibuka, Kuota Hanya 700 Wisudawan
15 Jun 2026
08:24 WITA

Pendaftaran Wisuda ke-62 UNG Resmi Dibuka, Kuota Hanya 700 Wisudawan

Abdul Wahid Rauf

GORONTALO – Kabar gembira bagi mahasiswa tingkat akhir Universitas Negeri Gorontalo (UNG). Pendaftaran Wisuda ke-62 resmi dibuka mulai 15 Juni 2026, memberikan kesempatan bagi para calon lulusan untuk segera mengakhiri perjalanan akademiknya dan melangkah menuju dunia profesional.Universitas Negeri Gorontalo melalui Biro Akademik, Kemahasiswaan dan Perencanaan (BAKP) mengumumkan bahwa pendaftaran wisuda terbuka bagi seluruh mahasiswa program diploma, profesi, sarjana, hingga pascasarjana yang telah menyelesaikan seluruh rangkaian pendidikan akademik.Kepala BAKP UNG, Darman, S.Kom., M.Ap., menjelaskan bahwa salah satu syarat utama untuk mengikuti wisuda adalah mahasiswa telah dinyatakan menyelesaikan seluruh kewajiban akademik sesuai ketentuan universitas.“Pendaftaran wisuda ke-62 terbuka untuk seluruh mahasiswa tingkat akhir dari berbagai jenjang pendidikan yang telah menyelesaikan seluruh proses akademik di UNG,” ujar Darman.Untuk memudahkan proses administrasi, pendaftaran wisuda dilakukan secara daring melalui laman https://siat.ung.ac.id. Sistem pendaftaran online ini diharapkan dapat memberikan layanan yang lebih cepat, mudah, dan efisien bagi calon wisudawan.Namun demikian, calon peserta wisuda perlu bergerak cepat. Pada pelaksanaan Wisuda ke-62 kali ini, UNG menyediakan kuota sebanyak 700 kursi wisudawan. Pendaftaran akan ditutup secara otomatis apabila jumlah pendaftar telah mencapai batas kuota yang tersedia.Darman mengimbau para mahasiswa yang memenuhi syarat agar segera melakukan pendaftaran, serta melengkapi seluruh dokumen yang dipersyaratkan sesuai petunjuk yang telah disediakan. Keterlambatan dalam melengkapi berkas dapat berpengaruh terhadap keikutsertaan dalam prosesi wisuda.Wakil rektor bidang akademik, Prof. Dr. Abdul Hafidz Olii, M.Si., mengatakan wisuda bukan sekadar seremoni kelulusan, melainkan momentum bersejarah yang menandai berakhirnya perjalanan akademik sekaligus awal dari pengabdian dan kontribusi lulusan di tengah masyarakat. Oleh karena itu, setiap calon wisudawan diharapkan mempersiapkan seluruh tahapan administrasi dengan baik agar dapat mengikuti prosesi kelulusan tanpa kendala.“Dengan dibukanya pendaftaran Wisuda ke-62, UNG kembali bersiap melahirkan generasi lulusan baru yang kompeten, berkarakter, dan siap berkontribusi bagi pembangunan bangsa. Momen ini sekaligus menjadi bukti keberhasilan mahasiswa dalam menuntaskan perjuangan akademik dan membuka lembaran baru menuju masa depan yang lebih cerah,” pungkasnya. (**)

Riset Peneliti Fakultas Kedokteran Ungkap Pengetahuan Gizi Dan Pola Asuh Orang Tua Jadi Salah Satu Kunci Cegah Stunting
15 Jun 2026
05:23 WITA

Riset Peneliti Fakultas Kedokteran Ungkap Pengetahuan Gizi Dan Pola Asuh Orang Tua Jadi Salah Satu Kunci Cegah Stunting

Abdul Wahid Rauf

GORONTALO – Stunting masih menjadi salah satu tantangan kesehatan terbesar yang dihadapi Indonesia. Selama ini, banyak orang menganggap stunting hanya sebagai kondisi tubuh anak yang lebih pendek dibandingkan teman seusianya. Padahal, dampak stunting jauh lebih kompleks dan dapat memengaruhi kualitas sumber daya manusia di masa depan.Secara medis, stunting merupakan kondisi gagal tumbuh akibat kekurangan gizi kronis yang berlangsung dalam waktu lama, terutama pada periode 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), yakni sejak masa kehamilan hingga anak berusia dua tahun. Kondisi ini tidak hanya menghambat pertumbuhan fisik, tetapi juga perkembangan otak, kemampuan belajar, serta meningkatkan risiko penyakit kronis ketika anak dewasa.Karena itu, upaya menurunkan angka stunting tidak lagi hanya berfokus pada penyediaan makanan tambahan atau bantuan pangan. Para ahli kini menyadari bahwa akar persoalan stunting juga berada di dalam rumah tangga, terutama terkait pengetahuan gizi dan pola pengasuhan orang tua.Temuan ini diperkuat oleh penelitian yang dilakukan tim peneliti Fakultas Kedokteran Universitas Negeri Gorontalo yang terdiri atas Amelia Oktaviani Noe, Cecy Rahma Karim, Sri Manovita Pateda, Sri Andriani Ibrahim, dan Isman Jusuf. Penelitian tersebut dilaksanakan di Desa Tabumela, Kecamatan Tilango, Kabupaten Gorontalo, pada tahun 2025.Melalui pendekatan observasional analitik dengan desain cross-sectional, para peneliti melibatkan 69 responden untuk melihat hubungan antara pengetahuan gizi, pola asuh, dan kejadian stunting pada balita. Hasilnya cukup mengkhawatirkan: sebanyak 42 persen balita di desa tersebut teridentifikasi mengalami stunting.Angka ini menunjukkan bahwa hampir setengah anak di wilayah penelitian menghadapi risiko gangguan pertumbuhan yang dapat berdampak hingga masa dewasa.Ketika Pengetahuan Gizi Menentukan Masa Depan AnakSalah satu temuan terpenting dari penelitian ini adalah adanya hubungan yang signifikan antara tingkat pengetahuan gizi orang tua dan kejadian stunting. Analisis statistik menunjukkan nilai signifikansi p = 0,003 dengan korelasi positif yang cukup kuat.Artinya, semakin baik pemahaman orang tua tentang gizi, semakin kecil kemungkinan anak mengalami stunting.Pengetahuan gizi mencakup banyak hal, mulai dari pentingnya pemberian ASI eksklusif selama enam bulan pertama kehidupan, pemilihan makanan pendamping ASI (MPASI) yang tepat, hingga pemahaman mengenai kebutuhan nutrisi anak sesuai usia.Sebaliknya, kurangnya pengetahuan dapat menimbulkan berbagai kesalahan pengasuhan yang berdampak jangka panjang. Misalnya, pemberian MPASI terlalu dini, makanan yang tidak seimbang gizinya, atau kurangnya perhatian terhadap masa emas 1.000 HPK.Menariknya, penelitian ini menunjukkan bahwa ibu dengan pengetahuan gizi yang baik tetap mampu memenuhi kebutuhan nutrisi anak meskipun berasal dari keluarga dengan kondisi ekonomi terbatas. Dengan kata lain, pengetahuan sering kali menjadi modal penting yang dapat mengurangi dampak keterbatasan ekonomi.Pola Asuh: Lebih dari Sekadar Memberi MakanSelain pengetahuan gizi, penelitian juga menemukan bahwa pola asuh orang tua memiliki pengaruh signifikan terhadap kejadian stunting, dengan nilai signifikansi p = 0,014.Pola asuh tidak hanya berkaitan dengan bagaimana orang tua memberi makan anak, tetapi juga mencakup kebiasaan menjaga kebersihan, memantau pertumbuhan anak, hingga kedisiplinan membawa balita ke Posyandu atau fasilitas kesehatan.Orang tua dengan pola asuh yang kurang baik cenderung membiarkan anak mengonsumsi jajanan tidak sehat, kurang memperhatikan variasi menu makanan, atau terlambat mencari bantuan kesehatan saat anak mengalami gangguan pertumbuhan.Sebaliknya, pola asuh yang baik dapat membantu memastikan anak memperoleh asupan gizi yang cukup, lingkungan yang sehat, serta pemantauan tumbuh kembang secara rutin.Pendidikan dan Ekonomi Masih Menjadi TantanganPenelitian ini juga menggambarkan kondisi sosial ekonomi masyarakat di wilayah penelitian. Mayoritas responden merupakan ibu rumah tangga berusia produktif dengan tingkat pendidikan dominan lulusan sekolah dasar dan sekolah menengah atas.Dari sisi ekonomi, sebagian besar keluarga memiliki pendapatan antara Rp500 ribu hingga Rp1 juta per bulan. Kondisi ini menunjukkan bahwa keterbatasan ekonomi masih menjadi tantangan dalam pemenuhan kebutuhan gizi keluarga.Namun demikian, hasil penelitian menegaskan bahwa faktor ekonomi bukan satu-satunya penentu. Pengetahuan dan pola pengasuhan yang tepat dapat menjadi pelindung penting bagi tumbuh kembang anak.Melawan Stunting dari HuluTemuan penelitian ini memberikan pesan penting bahwa penanganan stunting tidak dapat dilakukan hanya melalui bantuan pangan sesaat. Upaya pencegahan harus dimulai dari peningkatan kapasitas keluarga, terutama ibu, sebagai pengasuh utama anak.Program edukasi gizi, kelas parenting, pendampingan selama masa kehamilan, serta penguatan peran Posyandu menjadi strategi yang perlu terus diperkuat. Selain itu, pemanfaatan pangan lokal bergizi dan terjangkau juga dapat menjadi solusi berkelanjutan bagi masyarakat.Pada akhirnya, mencegah stunting berarti melindungi masa depan bangsa. Anak yang tumbuh sehat dan optimal memiliki peluang lebih besar untuk menjadi generasi yang cerdas, produktif, dan mampu bersaing di masa depan. Karena itu, perjuangan melawan stunting sesungguhnya dimulai dari rumah—melalui pengetahuan, pengasuhan, dan kepedulian orang tua terhadap tumbuh kembang anak.(Artikel penelitian ini dipublikasikan melalui laman berikut)

Gelar Pengabdian Di Sekolah, Mahasiswa Profesi Dokter Berikan Edukasi Mitigasi Gempa dan Pertolongan Pertama
15 Jun 2026
00:52 WITA

Gelar Pengabdian Di Sekolah, Mahasiswa Profesi Dokter Berikan Edukasi Mitigasi Gempa dan Pertolongan Pertama

Abdul Wahid Rauf

GORONTALO – Upaya meningkatkan kesiapsiagaan bencana sejak usia dini terus dilakukan oleh Fakultas Kedokteran Universitas Negeri Gorontalo (FK UNG). Kali ini, mahasiswa Profesi Dokter stase Ilmu Kedokteran Kegawatdaruratan dan Kebencanaan (IKKB) menggelar sosialisasi mitigasi gempa bumi dan penanganan awal korban bencana di MTsN 1 Kota Gorontalo.Kegiatan edukatif yang berlangsung di aula MTsN 1 Kota Gorontalo tersebut disambut antusias oleh para siswa. Tidak hanya mendapatkan materi teori, para peserta juga diajak mempraktikkan secara langsung langkah-langkah penyelamatan diri dan pertolongan pertama saat terjadi bencana.Kegiatan ini merupakan bagian dari pengabdian masyarakat sekaligus implementasi pembelajaran kebencanaan bagi mahasiswa profesi dokter. Mengingat Indonesia berada di kawasan Ring of Fire, edukasi mitigasi bencana dinilai menjadi kebutuhan penting bagi masyarakat, khususnya generasi muda.Dalam sosialisasi tersebut, mahasiswa profesi dokter memberikan pemahaman mengenai langkah-langkah mitigasi sebelum, saat, dan setelah terjadi gempa bumi. Materi disampaikan secara interaktif sehingga mudah dipahami dan diikuti oleh para siswa.Para peserta memperoleh pengetahuan tentang pentingnya mengenali jalur evakuasi, menentukan titik kumpul aman, hingga teknik melindungi diri ketika gempa terjadi. Selain itu, siswa juga dibekali keterampilan dasar penanganan korban bencana, seperti teknik bebat tekan untuk menghentikan perdarahan, pemasangan bidai pada cedera tulang, serta cara evakuasi korban secara sederhana.Wakil Dekan FK UNG, Dr. dr. Zuhriana K. Yusuf, menegaskan bahwa edukasi kebencanaan perlu ditanamkan sejak usia sekolah agar peserta didik memiliki kesiapsiagaan dan kemampuan bertindak cepat dalam situasi darurat.“Melalui kegiatan ini, mahasiswa profesi dokter tidak hanya belajar secara klinis di rumah sakit, tetapi juga berperan aktif dalam pengabdian masyarakat melalui edukasi kesehatan dan kebencanaan,” ujarnya.Menurutnya, keterampilan dasar pertolongan pertama dan pemahaman mitigasi bencana dapat menjadi bekal penting bagi siswa untuk melindungi diri sendiri maupun membantu orang lain ketika terjadi keadaan darurat.Sementara itu, Kepala MTsN 1 Kota Gorontalo, Dr. H. Rommy Bau, S.Ag., M.Pd.I., memberikan apresiasi atas inisiatif FK UNG yang menghadirkan edukasi kebencanaan di lingkungan sekolah. Ia menilai kegiatan tersebut sangat bermanfaat dalam meningkatkan kesadaran dan kesiapan siswa menghadapi potensi bencana. (**)

Lihat Semua Berita