Site Logo

Riset Peneliti Fakultas Kedokteran Ungkap Pengetahuan Gizi Dan Pola Asuh Orang Tua Jadi Salah Satu Kunci Cegah Stunting

PenelitianSiaran Pers
Abdul Wahid Rauf
15 Jun 2026
05:23 WITA
380 dilihat
Riset Peneliti Fakultas Kedokteran Ungkap Pengetahuan Gizi Dan Pola Asuh Orang Tua Jadi Salah Satu Kunci Cegah Stunting

GORONTALO – Stunting masih menjadi salah satu tantangan kesehatan terbesar yang dihadapi Indonesia. Selama ini, banyak orang menganggap stunting hanya sebagai kondisi tubuh anak yang lebih pendek dibandingkan teman seusianya. Padahal, dampak stunting jauh lebih kompleks dan dapat memengaruhi kualitas sumber daya manusia di masa depan.

Secara medis, stunting merupakan kondisi gagal tumbuh akibat kekurangan gizi kronis yang berlangsung dalam waktu lama, terutama pada periode 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), yakni sejak masa kehamilan hingga anak berusia dua tahun. Kondisi ini tidak hanya menghambat pertumbuhan fisik, tetapi juga perkembangan otak, kemampuan belajar, serta meningkatkan risiko penyakit kronis ketika anak dewasa.

Karena itu, upaya menurunkan angka stunting tidak lagi hanya berfokus pada penyediaan makanan tambahan atau bantuan pangan. Para ahli kini menyadari bahwa akar persoalan stunting juga berada di dalam rumah tangga, terutama terkait pengetahuan gizi dan pola pengasuhan orang tua.

Temuan ini diperkuat oleh penelitian yang dilakukan tim peneliti Fakultas Kedokteran Universitas Negeri Gorontalo yang terdiri atas Amelia Oktaviani Noe, Cecy Rahma Karim, Sri Manovita Pateda, Sri Andriani Ibrahim, dan Isman Jusuf. Penelitian tersebut dilaksanakan di Desa Tabumela, Kecamatan Tilango, Kabupaten Gorontalo, pada tahun 2025.

Melalui pendekatan observasional analitik dengan desain cross-sectional, para peneliti melibatkan 69 responden untuk melihat hubungan antara pengetahuan gizi, pola asuh, dan kejadian stunting pada balita. Hasilnya cukup mengkhawatirkan: sebanyak 42 persen balita di desa tersebut teridentifikasi mengalami stunting.

Angka ini menunjukkan bahwa hampir setengah anak di wilayah penelitian menghadapi risiko gangguan pertumbuhan yang dapat berdampak hingga masa dewasa.

Ketika Pengetahuan Gizi Menentukan Masa Depan Anak

Salah satu temuan terpenting dari penelitian ini adalah adanya hubungan yang signifikan antara tingkat pengetahuan gizi orang tua dan kejadian stunting. Analisis statistik menunjukkan nilai signifikansi p = 0,003 dengan korelasi positif yang cukup kuat.

Artinya, semakin baik pemahaman orang tua tentang gizi, semakin kecil kemungkinan anak mengalami stunting.

Pengetahuan gizi mencakup banyak hal, mulai dari pentingnya pemberian ASI eksklusif selama enam bulan pertama kehidupan, pemilihan makanan pendamping ASI (MPASI) yang tepat, hingga pemahaman mengenai kebutuhan nutrisi anak sesuai usia.

Sebaliknya, kurangnya pengetahuan dapat menimbulkan berbagai kesalahan pengasuhan yang berdampak jangka panjang. Misalnya, pemberian MPASI terlalu dini, makanan yang tidak seimbang gizinya, atau kurangnya perhatian terhadap masa emas 1.000 HPK.

Menariknya, penelitian ini menunjukkan bahwa ibu dengan pengetahuan gizi yang baik tetap mampu memenuhi kebutuhan nutrisi anak meskipun berasal dari keluarga dengan kondisi ekonomi terbatas. Dengan kata lain, pengetahuan sering kali menjadi modal penting yang dapat mengurangi dampak keterbatasan ekonomi.

Pola Asuh: Lebih dari Sekadar Memberi Makan

Selain pengetahuan gizi, penelitian juga menemukan bahwa pola asuh orang tua memiliki pengaruh signifikan terhadap kejadian stunting, dengan nilai signifikansi p = 0,014.

Pola asuh tidak hanya berkaitan dengan bagaimana orang tua memberi makan anak, tetapi juga mencakup kebiasaan menjaga kebersihan, memantau pertumbuhan anak, hingga kedisiplinan membawa balita ke Posyandu atau fasilitas kesehatan.

Orang tua dengan pola asuh yang kurang baik cenderung membiarkan anak mengonsumsi jajanan tidak sehat, kurang memperhatikan variasi menu makanan, atau terlambat mencari bantuan kesehatan saat anak mengalami gangguan pertumbuhan.

Sebaliknya, pola asuh yang baik dapat membantu memastikan anak memperoleh asupan gizi yang cukup, lingkungan yang sehat, serta pemantauan tumbuh kembang secara rutin.

Pendidikan dan Ekonomi Masih Menjadi Tantangan

Penelitian ini juga menggambarkan kondisi sosial ekonomi masyarakat di wilayah penelitian. Mayoritas responden merupakan ibu rumah tangga berusia produktif dengan tingkat pendidikan dominan lulusan sekolah dasar dan sekolah menengah atas.

Dari sisi ekonomi, sebagian besar keluarga memiliki pendapatan antara Rp500 ribu hingga Rp1 juta per bulan. Kondisi ini menunjukkan bahwa keterbatasan ekonomi masih menjadi tantangan dalam pemenuhan kebutuhan gizi keluarga.

Namun demikian, hasil penelitian menegaskan bahwa faktor ekonomi bukan satu-satunya penentu. Pengetahuan dan pola pengasuhan yang tepat dapat menjadi pelindung penting bagi tumbuh kembang anak.

Melawan Stunting dari Hulu

Temuan penelitian ini memberikan pesan penting bahwa penanganan stunting tidak dapat dilakukan hanya melalui bantuan pangan sesaat. Upaya pencegahan harus dimulai dari peningkatan kapasitas keluarga, terutama ibu, sebagai pengasuh utama anak.

Program edukasi gizi, kelas parenting, pendampingan selama masa kehamilan, serta penguatan peran Posyandu menjadi strategi yang perlu terus diperkuat. Selain itu, pemanfaatan pangan lokal bergizi dan terjangkau juga dapat menjadi solusi berkelanjutan bagi masyarakat.

Pada akhirnya, mencegah stunting berarti melindungi masa depan bangsa. Anak yang tumbuh sehat dan optimal memiliki peluang lebih besar untuk menjadi generasi yang cerdas, produktif, dan mampu bersaing di masa depan. Karena itu, perjuangan melawan stunting sesungguhnya dimulai dari rumah—melalui pengetahuan, pengasuhan, dan kepedulian orang tua terhadap tumbuh kembang anak.

(Artikel penelitian ini dipublikasikan melalui laman berikut)

Ikuti berita lainnya

Akademisi Fakultas Sastra dan Budaya UNG Raih Penghargaan pada Konferensi Internasional Kesusastraan
29 Oct 2026
02:00 WITA

Akademisi Fakultas Sastra dan Budaya UNG Raih Penghargaan pada Konferensi Internasional Kesusastraan

Abdul Wahid Rauf

GORONTALO – Pencapaian akademik membanggakan, berhasil ditorehkan akademisi Universitas Negeri Gorontalo (UNG) di tingkat internasional. Dosen Fakultas Sastra dan Budaya (FSB), Jafar Lantowa, S.Pd., M.A., berhasil meraih penghargaan sebagai Pemakalah Favorit dan Presenter Terbaik, pada Konferensi Internasional Kesusastraan (KIK) ke-35 yang diselenggarakan di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), 26–27 Oktober 2026.Penghargaan yang diumumkan pada penutupan konferensi tersebut menjadi capaian membanggakan bagi UNG, sekaligus menunjukkan kualitas dan kontribusi akademisi kampus dalam pengembangan kajian sastra di forum ilmiah internasional.Keberhasilan tersebut diraih Jafar melalui presentasi karya ilmiah berjudul “Constructing Images of Indonesia and France in Leila S. Chudori’s Home”, yang mengkaji bagaimana citra Indonesia dan Prancis dikonstruksi melalui pengalaman tokoh-tokoh dalam novel Home, versi bahasa Inggris dari novel Pulang karya Leila S. Chudori.Dalam penelitiannya, Jafar yang saat ini tengah menempuh pendidikan doktoral pada Program Studi Ilmu-Ilmu Humaniora Universitas Gadjah Mada (UGM) dengan konsentrasi Sastra Indonesia, mengangkat persoalan identitas kebangsaan, pengasingan politik, serta ingatan budaya yang tergambar dalam karya sastra.“Melalui pendekatan imagologi Joep Leerssen, penelitian ini mengungkap bagaimana Indonesia dan Prancis direpresentasikan secara berbeda berdasarkan pengalaman dan sudut pandang para tokoh dalam novel,” ujarnya.Hasil kajian menunjukkan bahwa Indonesia digambarkan sebagai tanah air yang tetap hidup dalam ingatan dan kecintaan para eksil politik, meskipun pada saat bersamaan menjadi negara yang membatasi kepulangan mereka. Sementara itu, Prancis hadir sebagai tempat perlindungan dan ruang kebebasan berekspresi, namun tidak sepenuhnya mampu menggantikan ikatan emosional terhadap tanah air.Menariknya, penelitian Jafar juga menyoroti perbedaan cara pandang antargenerasi melalui tokoh Dimas dan Lintang. Dimas memandang Indonesia sebagai tanah air yang tidak pernah hilang dari ingatannya meskipun harus menjalani kehidupan dalam pengasingan. Sebaliknya, Lintang yang tumbuh besar di Prancis membangun pemahamannya tentang Indonesia melalui cerita keluarga, warisan budaya, dan pengalaman ketika mengunjungi Jakarta.“Temuan tersebut memperlihatkan bahwa identitas kebangsaan tidak semata-mata ditentukan oleh tempat kelahiran maupun tempat tinggal seseorang, tetapi juga dibentuk oleh pengalaman sejarah, ingatan kolektif, serta interaksi dengan kebudayaan lain,” jelas Jafar.Melalui kajian tersebut, Jafar menunjukkan bahwa karya sastra memiliki peran penting dalam merepresentasikan sejarah, membangun pemahaman lintas budaya, serta memperkenalkan pengalaman bangsa Indonesia kepada masyarakat dunia.Konferensi Internasional Kesusastraan ke-35 sendiri mengusung tema “Dinamika Sastra Bandingan: Sastra Indonesia sebagai Warga Sastra Dunia”. Forum ilmiah ini diselenggarakan oleh Himpunan Sarjana-Kesusastraan Indonesia (HISKI) bekerja sama dengan Fakultas Bahasa, Seni, dan Budaya Universitas Negeri Yogyakarta. (**)

Mahasiswa KKN Tematik UNG Sulap Ikan Mujair Danau Limboto Jadi Kerupuk Bernilai Ekonomi
29 Oct 2026
00:20 WITA

Mahasiswa KKN Tematik UNG Sulap Ikan Mujair Danau Limboto Jadi Kerupuk Bernilai Ekonomi

Abdul Wahid Rauf

GORONTALO – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik Tahap II Tahun 2026 Universitas Negeri Gorontalo (UNG) menghadirkan inovasi pengolahan hasil perikanan melalui pembuatan kerupuk ikan mujair bermerek “Desaku” di Desa Tabumela, Kecamatan Tilango, Kabupaten Gorontalo. Inovasi ini menjadi salah satu upaya mahasiswa dalam membantu masyarakat, untuk mengoptimalkan potensi perikanan Danau Limboto sekaligus membuka peluang usaha berbasis sumber daya lokal.Dosen Pembimbing Lapangan (DPL), Sitti Nursinar, S.Pi., M.Si., mengungkapkan melalui program pemberdayaan masyarakat tersebut, mahasiswa KKN Tematik UNG mengajak warga memanfaatkan ikan mujair. Jika selama ini ikan tersebut ini lebih banyak dipasarkan dalam kondisi segar, kini mahasiswa mengolahnya menjadi produk yang memiliki nilai tambah dan berpotensi dikembangkan sebagai usaha rumah tangga.“Pengembangan kerupuk ikan mujair dilatarbelakangi oleh kondisi harga ikan, yang kerap mengalami penurunan ketika hasil tangkapan nelayan melimpah. Melalui pengolahan menjadi produk pangan yang lebih tahan simpan, masyarakat diharapkan memiliki alternatif untuk meningkatkan nilai jual hasil perikanan sekaligus mengurangi ketergantungan pada penjualan ikan segar,” ujarnya.Dalam pelaksanaannya, mahasiswa tidak hanya memperkenalkan produk kerupuk ikan mujair, tetapi juga memberikan pendampingan langsung kepada masyarakat mulai dari persiapan bahan, pengolahan daging ikan, pembuatan adonan, pengukusan, pengirisan, hingga proses pengeringan dan pengemasan.Proses pembuatan kerupuk diawali dengan membersihkan ikan mujair dan memisahkan daging dari tulangnya. Daging ikan kemudian dihaluskan dan dicampurkan dengan bahan pendukung hingga membentuk adonan. Selanjutnya, adonan dibentuk, dikukus, didinginkan, dan diiris tipis sebelum dijemur selama dua hingga tiga hari. Kerupuk yang telah kering kemudian digoreng hingga mengembang dan menghasilkan tekstur renyah.“Produk kerupuk ikan mujair “Desaku” diharapkan dapat menjadi salah satu produk unggulan masyarakat Desa Tabumela. Selain memperkenalkan inovasi pangan berbahan dasar ikan lokal, kegiatan ini juga memberikan pengetahuan mengenai pentingnya menjaga kualitas produk, kebersihan selama proses produksi, serta pengemasan yang menarik agar memiliki daya saing di pasaran,” terangnya.Kehadiran mahasiswa di tengah masyarakat menjadi wujud nyata pengabdian Universitas Negeri Gorontalo dalam mendorong pemanfaatan potensi daerah, memperkuat ketahanan pangan, serta meningkatkan kualitas sumber daya manusia melalui edukasi dan pemberdayaan masyarakat.Tidak hanya berfokus pada pengembangan ekonomi masyarakat, sebanyak 15 mahasiswa KKN Tematik UNG yang ditempatkan di Desa Tabumela turut melaksanakan berbagai program edukasi sosial, di antaranya sosialisasi pencegahan stunting dan bahaya penyalahgunaan narkoba.(**)

Berhasil Kembangkan Kawasan Teluk Tomini, Kemenko PM Berikan Penghargaan untuk Rektor UNG pada Anugerah Mandaya Awards 2026
27 Oct 2026
08:06 WITA

Berhasil Kembangkan Kawasan Teluk Tomini, Kemenko PM Berikan Penghargaan untuk Rektor UNG pada Anugerah Mandaya Awards 2026

Abdul Wahid Rauf

GORONTALO – Komitmen Universitas Negeri Gorontalo (UNG) dalam mendorong pemberdayaan masyarakat, dan pengembangan kawasan Teluk Tomini mendapat pengakuan dari pemerintah pusat. Rektor UNG, Prof. Dr. Ir. Eduart Wolok, S.T., M.T., menerima penghargaan sebagai Kampus Inspiratif Pemberdayaan Masyarakat pada ajang Anugerah Mandaya Awards 2026, yang diserahkan langsung Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat (Menko PM) Dr. (H.C.) Drs. H. Abdul Muhaimin Iskandar, M.Si, Selasa (27/10).Penghargaan tersebut menjadi bentuk apresiasi atas dedikasi dan komitmen UNG dalam menjadikan perguruan tinggi sebagai penggerak pemberdayaan masyarakat, khususnya di kawasan pesisir Teluk Tomini. Dalam konteks tersebut, UNG berupaya mengambil peran sebagai penggerak yang menghubungkan kapasitas akademik dengan kebutuhan pembangunan masyarakat.Komitmen tersebut sejalan dengan visi UNG sebagai The Engine of Tomini Bay, yang menempatkan pengembangan kawasan Teluk Tomini sebagai salah satu fokus strategis universitas. Melalui visi ini, UNG mendorong kontribusi sivitas akademika agar potensi kawasan dapat dikembangkan secara berkelanjutan dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat, terutama komunitas pesisir.Rektor UNG, Prof. Dr. Ir. Eduart Wolok, ST., MT., menyambut baik penghargaan tersebut dan menyampaikan rasa syukur atas apresiasi yang diberikan pemerintah pusat. Menurutnya, penghargaan ini bukan sekadar simbol pencapaian institusi, melainkan bentuk pengakuan terhadap upaya bersama seluruh sivitas akademika UNG, dalam mendukung peningkatan kesejahteraan masyarakat.Ia menegaskan bahwa pengembangan kawasan Teluk Tomini tidak dapat dilepaskan dari komitmen kolektif seluruh elemen universitas. Pemberdayaan masyarakat pesisir perlu terus didorong agar potensi lokal dapat memberikan nilai tambah, membuka peluang pengembangan ekonomi, serta mendukung pembangunan daerah dan nasional.“Penghargaan menjadi motivasi bagi UNG untuk terus memperkuat kontribusinya dalam pembangunan masyarakat. Dengan mengedepankan peran pendidikan tinggi, riset, inovasi, dan kolaborasi, UNG berkomitmen menghadirkan manfaat yang relevan dengan kebutuhan masyarakat di kawasan Teluk Tomini,” ujar Prof. Eduart.Melalui semangat The Engine of Tomini Bay, UNG terus berkomitmen untuk terus mengambil bagian dalam pembangunan kawasan yang berkelanjutan dan inklusif. Pengakuan melalui Mandaya Awards 2026 menjadi pengingat bahwa keberhasilan perguruan tinggi tidak hanya diukur dari capaian akademik, tetapi juga dari kontribusinya dalam mendorong perubahan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. (**)

Penelitian Dosen UNG Ungkap Teripang Hitam dari Perairan Gorontalo Punya Aktivitas Antioksidan Sangat Kuat
27 Oct 2026
02:53 WITA

Penelitian Dosen UNG Ungkap Teripang Hitam dari Perairan Gorontalo Punya Aktivitas Antioksidan Sangat Kuat

Abdul Wahid Rauf

Kekayaan hayati laut Gorontalo menyimpan potensi yang terus menarik perhatian peneliti. Salah satunya adalah teripang hitam (Holothuria atra) dari perairan Desa Lamu, yang berdasarkan penelitian sivitas akademika Universitas Negeri Gorontalo (UNG) menunjukkan aktivitas antioksidan sangat kuat pada ekstrak yang menggunakan pelarut metanol.Temuan tersebut diungkap dalam penelitian berjudul “Analisis Fitokimia dan Aktivitas Antioksidan Teripang Hitam (Holothuria atra) dengan Pelarut Berbeda” yang dilakukan oleh Muhammad Andika, Lukman Mile, dan Iin Susilawati Lantu dari Jurusan Teknologi Hasil Perikanan, Fakultas Kelautan dan Teknologi Perikanan (FKTP) UNG. Hasil penelitian ini dipublikasikan dalam Jambura Fish Processing Journal (JFPJ), Volume 8 Nomor 1 Tahun 2026, halaman 36–48, dengan DOI 10.37905/jfpj.v8i1.30150.Penelitian dilakukan melalui serangkaian tahapan, mulai dari pengambilan dan preparasi sampel, ekstraksi menggunakan metode maserasi, pengujian fitokimia, hingga pengukuran aktivitas antioksidan menggunakan metode DPPH. Sebanyak 6 kilogram teripang hitam dari perairan Gorontalo digunakan sebagai sampel. Ekstraksi dilakukan dengan tiga jenis pelarut, yakni metanol yang bersifat polar, etil asetat yang bersifat semipolar, dan n-heksan yang bersifat nonpolar.Hasil ekstraksi menunjukkan rendemen yang berbeda pada setiap pelarut. Ekstrak metanol menghasilkan rendemen sebesar 45 persen, sedangkan ekstrak etil asetat sebesar 27,5 persen dan ekstrak n-heksan sebesar 32,5 persen. Perbedaan tersebut memperlihatkan bahwa jenis pelarut berpengaruh terhadap hasil ekstraksi senyawa dari teripang hitam.Pengujian fitokimia juga menemukan variasi kandungan senyawa bioaktif pada ketiga ekstrak. Ekstrak metanol teridentifikasi mengandung flavonoid, alkaloid, triterpenoid, dan saponin. Ekstrak etil asetat mengandung flavonoid dan alkaloid, sedangkan ekstrak n-heksan mengandung alkaloid dan fenol. Sementara itu, senyawa steroid tidak terdeteksi pada ketiga ekstrak yang diuji.Temuan paling menonjol terlihat pada pengujian aktivitas antioksidan menggunakan metode DPPH. Ekstrak metanol mencatat nilai IC50 sebesar 29,18 ppm, yang dalam penelitian ini dikategorikan memiliki aktivitas antioksidan sangat kuat. Adapun ekstrak etil asetat memiliki nilai IC50 sebesar 76,67 ppm dan ekstrak n-heksan sebesar 68,81 ppm, yang keduanya dikategorikan memiliki aktivitas antioksidan kuat.Nilai IC50 digunakan untuk menunjukkan konsentrasi ekstrak yang diperlukan untuk menghambat 50 persen aktivitas radikal bebas DPPH. Dalam pengujian ini, semakin rendah nilai IC50, semakin kuat aktivitas antioksidan yang ditunjukkan oleh ekstrak. Hasil tersebut menempatkan ekstrak metanol sebagai ekstrak dengan aktivitas antioksidan paling tinggi di antara ketiga ekstrak yang diteliti. Peneliti juga mengaitkan temuan ini dengan keberadaan sejumlah senyawa metabolit sekunder yang teridentifikasi dalam ekstrak metanol.Penelitian ini memperlihatkan bahwa teripang hitam dari perairan Desa Lamu berpotensi menjadi objek pengembangan riset senyawa bioaktif dari sumber daya laut lokal. Potensi tersebut relevan untuk dikaji lebih lanjut dalam bidang pengolahan hasil perikanan dan eksplorasi bahan alam, termasuk kemungkinan pemanfaatannya sebagai bahan baku untuk sektor biofarmasi. Namun, hasil pengujian laboratorium ini belum dapat langsung dijadikan bukti manfaat kesehatan pada manusia ataupun dasar klaim sebagai bahan pengobatan.Melalui penelitian ini, sivitas akademika FKTP UNG turut memperluas pengetahuan ilmiah mengenai karakteristik dan potensi teripang hitam sebagai sumber senyawa bioaktif. Kajian lanjutan diperlukan untuk mengidentifikasi senyawa secara lebih spesifik, menguji keamanan, serta mengevaluasi potensi pemanfaatannya. Upaya tersebut menjadi bagian penting dalam mengembangkan kekayaan hayati laut Gorontalo menjadi sumber daya bernilai tambah yang didukung oleh bukti ilmiah.

Lihat Semua Berita