Site Logo

Riset Peneliti Fakultas Kedokteran Ungkap Pengetahuan Gizi Dan Pola Asuh Orang Tua Jadi Salah Satu Kunci Cegah Stunting

PenelitianSiaran Pers
Abdul Wahid Rauf
15 Jun 2026
05:23 WITA
194 dilihat
Riset Peneliti Fakultas Kedokteran Ungkap Pengetahuan Gizi Dan Pola Asuh Orang Tua Jadi Salah Satu Kunci Cegah Stunting

GORONTALO – Stunting masih menjadi salah satu tantangan kesehatan terbesar yang dihadapi Indonesia. Selama ini, banyak orang menganggap stunting hanya sebagai kondisi tubuh anak yang lebih pendek dibandingkan teman seusianya. Padahal, dampak stunting jauh lebih kompleks dan dapat memengaruhi kualitas sumber daya manusia di masa depan.

Secara medis, stunting merupakan kondisi gagal tumbuh akibat kekurangan gizi kronis yang berlangsung dalam waktu lama, terutama pada periode 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), yakni sejak masa kehamilan hingga anak berusia dua tahun. Kondisi ini tidak hanya menghambat pertumbuhan fisik, tetapi juga perkembangan otak, kemampuan belajar, serta meningkatkan risiko penyakit kronis ketika anak dewasa.

Karena itu, upaya menurunkan angka stunting tidak lagi hanya berfokus pada penyediaan makanan tambahan atau bantuan pangan. Para ahli kini menyadari bahwa akar persoalan stunting juga berada di dalam rumah tangga, terutama terkait pengetahuan gizi dan pola pengasuhan orang tua.

Temuan ini diperkuat oleh penelitian yang dilakukan tim peneliti Fakultas Kedokteran Universitas Negeri Gorontalo yang terdiri atas Amelia Oktaviani Noe, Cecy Rahma Karim, Sri Manovita Pateda, Sri Andriani Ibrahim, dan Isman Jusuf. Penelitian tersebut dilaksanakan di Desa Tabumela, Kecamatan Tilango, Kabupaten Gorontalo, pada tahun 2025.

Melalui pendekatan observasional analitik dengan desain cross-sectional, para peneliti melibatkan 69 responden untuk melihat hubungan antara pengetahuan gizi, pola asuh, dan kejadian stunting pada balita. Hasilnya cukup mengkhawatirkan: sebanyak 42 persen balita di desa tersebut teridentifikasi mengalami stunting.

Angka ini menunjukkan bahwa hampir setengah anak di wilayah penelitian menghadapi risiko gangguan pertumbuhan yang dapat berdampak hingga masa dewasa.

Ketika Pengetahuan Gizi Menentukan Masa Depan Anak

Salah satu temuan terpenting dari penelitian ini adalah adanya hubungan yang signifikan antara tingkat pengetahuan gizi orang tua dan kejadian stunting. Analisis statistik menunjukkan nilai signifikansi p = 0,003 dengan korelasi positif yang cukup kuat.

Artinya, semakin baik pemahaman orang tua tentang gizi, semakin kecil kemungkinan anak mengalami stunting.

Pengetahuan gizi mencakup banyak hal, mulai dari pentingnya pemberian ASI eksklusif selama enam bulan pertama kehidupan, pemilihan makanan pendamping ASI (MPASI) yang tepat, hingga pemahaman mengenai kebutuhan nutrisi anak sesuai usia.

Sebaliknya, kurangnya pengetahuan dapat menimbulkan berbagai kesalahan pengasuhan yang berdampak jangka panjang. Misalnya, pemberian MPASI terlalu dini, makanan yang tidak seimbang gizinya, atau kurangnya perhatian terhadap masa emas 1.000 HPK.

Menariknya, penelitian ini menunjukkan bahwa ibu dengan pengetahuan gizi yang baik tetap mampu memenuhi kebutuhan nutrisi anak meskipun berasal dari keluarga dengan kondisi ekonomi terbatas. Dengan kata lain, pengetahuan sering kali menjadi modal penting yang dapat mengurangi dampak keterbatasan ekonomi.

Pola Asuh: Lebih dari Sekadar Memberi Makan

Selain pengetahuan gizi, penelitian juga menemukan bahwa pola asuh orang tua memiliki pengaruh signifikan terhadap kejadian stunting, dengan nilai signifikansi p = 0,014.

Pola asuh tidak hanya berkaitan dengan bagaimana orang tua memberi makan anak, tetapi juga mencakup kebiasaan menjaga kebersihan, memantau pertumbuhan anak, hingga kedisiplinan membawa balita ke Posyandu atau fasilitas kesehatan.

Orang tua dengan pola asuh yang kurang baik cenderung membiarkan anak mengonsumsi jajanan tidak sehat, kurang memperhatikan variasi menu makanan, atau terlambat mencari bantuan kesehatan saat anak mengalami gangguan pertumbuhan.

Sebaliknya, pola asuh yang baik dapat membantu memastikan anak memperoleh asupan gizi yang cukup, lingkungan yang sehat, serta pemantauan tumbuh kembang secara rutin.

Pendidikan dan Ekonomi Masih Menjadi Tantangan

Penelitian ini juga menggambarkan kondisi sosial ekonomi masyarakat di wilayah penelitian. Mayoritas responden merupakan ibu rumah tangga berusia produktif dengan tingkat pendidikan dominan lulusan sekolah dasar dan sekolah menengah atas.

Dari sisi ekonomi, sebagian besar keluarga memiliki pendapatan antara Rp500 ribu hingga Rp1 juta per bulan. Kondisi ini menunjukkan bahwa keterbatasan ekonomi masih menjadi tantangan dalam pemenuhan kebutuhan gizi keluarga.

Namun demikian, hasil penelitian menegaskan bahwa faktor ekonomi bukan satu-satunya penentu. Pengetahuan dan pola pengasuhan yang tepat dapat menjadi pelindung penting bagi tumbuh kembang anak.

Melawan Stunting dari Hulu

Temuan penelitian ini memberikan pesan penting bahwa penanganan stunting tidak dapat dilakukan hanya melalui bantuan pangan sesaat. Upaya pencegahan harus dimulai dari peningkatan kapasitas keluarga, terutama ibu, sebagai pengasuh utama anak.

Program edukasi gizi, kelas parenting, pendampingan selama masa kehamilan, serta penguatan peran Posyandu menjadi strategi yang perlu terus diperkuat. Selain itu, pemanfaatan pangan lokal bergizi dan terjangkau juga dapat menjadi solusi berkelanjutan bagi masyarakat.

Pada akhirnya, mencegah stunting berarti melindungi masa depan bangsa. Anak yang tumbuh sehat dan optimal memiliki peluang lebih besar untuk menjadi generasi yang cerdas, produktif, dan mampu bersaing di masa depan. Karena itu, perjuangan melawan stunting sesungguhnya dimulai dari rumah—melalui pengetahuan, pengasuhan, dan kepedulian orang tua terhadap tumbuh kembang anak.

(Artikel penelitian ini dipublikasikan melalui laman berikut)

Ikuti berita lainnya

Gandeng Organisasi IDI, TBM Cutaneus Fakultas Kedokteran UNG Layani Ratusan Anak pada Sirkumsisi Massal di Kabupaten Gorontalo
30 Jul 2026
04:43 WITA

Gandeng Organisasi IDI, TBM Cutaneus Fakultas Kedokteran UNG Layani Ratusan Anak pada Sirkumsisi Massal di Kabupaten Gorontalo

Abdul Wahid Rauf

GORONTALO – Semangat pengabdian kepada masyarakat kembali ditunjukkan, melalui sinergi antara organisasi profesi kedokteran dan perguruan tinggi. Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Cabang Kabupaten Gorontalo bersama Tim Bantuan Medis (TBM) Cutaneus Fakultas Kedokteran UNG menggelar Bakti Sosial Sirkumsisi Massal di Puskesmas Pilohayanga, Kabupaten Gorontalo, Minggu (26/7/).Kegiatan kemanusiaan tersebut mendapat sambutan luar biasa dari masyarakat. Sekitar 100 anak memperoleh layanan sirkumsisi secara gratis melalui penanganan tim medis yang profesional. Program ini menjadi bagian dari upaya memperluas akses layanan kesehatan yang aman, berkualitas, dan mudah dijangkau, sekaligus memperkuat kolaborasi antara organisasi profesi, fasilitas pelayanan kesehatan, dan institusi pendidikan.Dalam pelaksanaannya, TBM Cutaneus FK UNG menerjunkan tim medis yang dipimpin oleh dr. Rizky Asri, Sp.B. sebagai dokter penanggung jawab. Tim juga diperkuat oleh dr. Randi Mokodoto, dr. Bryan Achmad Otoluwa, dan dr. Dean Gusti Daniel Purba, S.Ked., bersama anggota TBM Cutaneus yang berperan aktif dalam seluruh rangkaian pelayanan.Tidak hanya memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat, kegiatan ini juga menjadi ruang pembelajaran klinis bagi mahasiswa Fakultas Kedokteran UNG. Mahasiswa yang tergabung dalam TBM Cutaneus terlibat langsung dalam berbagai tahapan pelayanan, mulai dari skrining peserta, persiapan tindakan, sterilisasi peralatan, pendampingan selama prosedur sirkumsisi, hingga observasi pascatindakan di bawah supervisi tenaga medis profesional.Ketua Umum TBM Cutaneus FK UNG, Muh. Syahrul Ramadhan, mengatakan bahwa partisipasi organisasi dalam kegiatan sosial merupakan bagian dari komitmen mahasiswa kedokteran untuk terus berkontribusi dalam bidang kesehatan sekaligus memperkuat kerja sama dengan berbagai mitra strategis."Kolaborasi seperti ini tidak hanya memberikan manfaat bagi masyarakat, tetapi juga menjadi wadah bagi mahasiswa untuk belajar, mengasah keterampilan klinis, serta menumbuhkan jiwa pengabdian sebagai calon tenaga kesehatan," ujarnya.Pelaksanaan bakti sosial berlangsung tertib dengan dukungan penuh dari tenaga kesehatan, mahasiswa, serta berbagai pihak yang terlibat. Antusiasme masyarakat menunjukkan tingginya kebutuhan terhadap layanan kesehatan yang mudah diakses sekaligus menjadi bukti bahwa kolaborasi antara organisasi profesi dan perguruan tinggi mampu menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat.“Melalui keterlibatan tersebut, mahasiswa memperoleh pengalaman praktik lapangan yang sangat berharga dalam mengasah keterampilan klinis, meningkatkan kemampuan bekerja dalam tim, serta menumbuhkan empati dan jiwa pengabdian sebagai calon dokter,” terangnya. Melalui kegiatan ini, FK UNG kembali menegaskan komitmennya dalam mendukung peningkatan derajat kesehatan masyarakat melalui pendidikan, pelayanan, dan pengabdian. Sinergi antara IDI Cabang Kabupaten Gorontalo dan TBM Cutaneus FK UNG diharapkan terus berlanjut sebagai model kolaborasi yang tidak hanya memperluas akses pelayanan kesehatan, tetapi juga mencetak tenaga kesehatan yang kompeten, profesional, dan memiliki kepedulian sosial yang tinggi.

Peneliti UNG Ungkap Tepung Ikan Cakalang Berpotensi Tingkatkan Produktivitas Ayam Lokal
30 Jul 2026
02:33 WITA

Peneliti UNG Ungkap Tepung Ikan Cakalang Berpotensi Tingkatkan Produktivitas Ayam Lokal

Abdul Wahid Rauf

Kebutuhan bahan baku pakan unggas terus meningkat, sementara harga tepung ikan sebagai salah satu sumber protein utama dalam pakan cenderung semakin mahal dan sebagian masih bergantung pada pasokan dari luar negeri. Kondisi tersebut mendorong para peneliti mencari bahan baku alternatif yang lebih ekonomis, mudah diperoleh, sekaligus mampu mendukung produktivitas ternak. Salah satu sumber yang dinilai menjanjikan adalah limbah pengolahan ikan cakalang yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal.Potensi tersebut menjadi fokus penelitian kolaboratif yang dilakukan oleh Srisukmawati Zainudin, Hartutik, Edhy Sudjarwo, dan Osfar Sjofjan melalui penelitian berjudul The Effects of Replacing Fish Meal with Skipjack Tuna Offal Meal on the Growth Performance and Carcase Quality of Local Chickens. Penelitian ini mengevaluasi tingkat penggunaan tepung limbah ikan cakalang kukus (steamed skipjack tuna offal meal/SSFO) sebagai pengganti tepung ikan dalam pakan ayam lokal untuk memperoleh tingkat penggunaan yang paling optimal dalam meningkatkan performa pertumbuhan dan kualitas karkas ayam.Penelitian ini memiliki relevansi yang tinggi bagi Indonesia, khususnya Gorontalo, yang merupakan salah satu daerah penghasil ikan cakalang. Data yang dikutip dalam penelitian menunjukkan bahwa produksi cakalang di Gorontalo mencapai lebih dari 13 ribu ton pada tahun 2020. Selama ini, bagian sisa pengolahan seperti usus, lambung, hati, jantung, paru-paru, dan telur ikan masih belum dimanfaatkan secara maksimal, padahal memiliki kandungan nutrisi yang berpotensi menjadi bahan baku pakan ternak.Untuk menguji potensinya, para peneliti mengganti tepung ikan dalam ransum dengan tepung limbah ikan cakalang kukus pada beberapa tingkat penggunaan. Selama pemeliharaan, berbagai parameter diamati, mulai dari konsumsi pakan, pertambahan bobot badan, rasio konversi pakan (feed conversion ratio/FCR), nilai income over feed cost (IOFC), bobot karkas, persentase karkas, hingga kandungan protein dan lemak daging ayam.Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan 5% tepung limbah ikan cakalang kukus memberikan performa terbaik. Pada tingkat ini, ayam lokal menghasilkan bobot badan akhir dan bobot karkas yang lebih tinggi, disertai nilai FCR yang lebih rendah dibandingkan perlakuan lainnya. Artinya, ayam mampu memanfaatkan pakan secara lebih efisien untuk menghasilkan pertambahan bobot badan. Selain itu, nilai IOFC juga menjadi yang tertinggi, menunjukkan bahwa penggunaan bahan pakan tersebut berpotensi meningkatkan keuntungan usaha peternakan.Dari sisi kualitas daging, penelitian menemukan bahwa penggantian tepung ikan dengan tepung limbah ikan cakalang kukus tidak memberikan pengaruh nyata terhadap kandungan protein daging, sehingga kualitas protein tetap terjaga. Sementara itu, kandungan lemak daging mengalami perubahan, namun masih berada dalam kisaran normal untuk daging ayam. Peneliti juga melaporkan bahwa persentase karkas dada tidak berbeda nyata antarperlakuan, meskipun bobot karkas meningkat pada tingkat penggunaan tertentu.Temuan ini menunjukkan bahwa limbah ikan cakalang memiliki potensi besar untuk dimanfaatkan sebagai bahan baku pakan alternatif. Selain membantu mengurangi ketergantungan terhadap tepung ikan, pemanfaatan hasil samping industri perikanan juga dapat mengurangi limbah organik sekaligus meningkatkan efisiensi pemanfaatan sumber daya. Pendekatan ini sejalan dengan konsep ekonomi sirkular, yaitu mengubah limbah menjadi produk yang memiliki nilai tambah.Bagi peternak, hasil penelitian ini membuka peluang untuk memanfaatkan bahan baku lokal yang lebih mudah diperoleh tanpa mengorbankan performa produksi ayam. Di daerah penghasil cakalang seperti Gorontalo, inovasi ini berpotensi menekan biaya pakan sekaligus meningkatkan nilai ekonomi limbah hasil perikanan.Secara keseluruhan, penelitian ini menunjukkan bahwa tepung limbah ikan cakalang kukus dapat digunakan sebagai pengganti tepung ikan hingga tingkat 5% dalam pakan ayam lokal. Penggunaan pada tingkat tersebut terbukti mampu meningkatkan performa pertumbuhan, memperbaiki efisiensi penggunaan pakan, meningkatkan bobot karkas, serta berpotensi meningkatkan keuntungan peternak. Temuan ini menjadi salah satu alternatif inovasi pakan yang tidak hanya lebih ekonomis, tetapi juga mendukung pemanfaatan sumber daya lokal dan pengembangan peternakan yang lebih berkelanjutan. (Artikel penelitian ini dipublikasikan melalui laman berikut)

Catatkan Sejarah Baru, UNG Mengukuhkan Lulusan Perdana Program Profesi Insinyur
29 Jul 2026
04:00 WITA

Catatkan Sejarah Baru, UNG Mengukuhkan Lulusan Perdana Program Profesi Insinyur

Abdul Wahid Rauf

GORONTALO – Universitas Negeri Gorontalo (UNG) kembali menorehkan sejarah penting dalam pengembangan pendidikan tinggi, dengan berhasil mengukuhkan lulusan program Profesi Insinyur angkatan I. Momen bersejarah tersebut ditandai dengan pelaksanaan Pengukuhan dan Pengambilan Sumpah Program Profesi Insinyur, Selasa (28/7), di Ballroom TC Damhil UNG.Prosesi ini menjadi tonggak baru perjalanan UNG sebagai perguruan tinggi yang tidak hanya menghasilkan lulusan sarjana teknik, tetapi juga melahirkan insinyur profesional yang siap berkontribusi dalam pembangunan daerah maupun nasional.Ketua Koordinator Program Studi Profesi Insinyur UNG, Dr. Yuliyanti Kadir, S.T., M.T., menjelaskan bahwa angkatan pertama Program Profesi Insinyur UNG menerima sebanyak 25 mahasiswa, dan seluruhnya berhasil menyelesaikan pendidikan dengan baik hingga resmi dikukuhkan sebagai insinyur profesional.Menurutnya keberhasilan meluluskan angkatan perdana menjadi bukti kesiapan UNG, dalam menyelenggarakan pendidikan profesi yang berkualitas. Ini juga sekaligus menjadi momentum penting, untuk memperluas peran Program Profesi Insinyur di Gorontalo dan kawasan Indonesia Timur."Pengukuhan lulusan pertama ini merupakan tonggak penting, bagi pengembangan Program Profesi Insinyur di UNG. Kami berharap semakin banyak profesional yang bergabung untuk meningkatkan kompetensi sekaligus memperkuat kontribusi insinyur dalam mendukung pembangunan daerah," ujar Yuliyanti.Rektor UNG, Prof. Dr. Ir. Eduart Wolok, S.T., M.T., menyampaikan apresiasi dan ucapan selamat, kepada seluruh lulusan angkatan pertama yang telah berhasil menyelesaikan pendidikan profesi. Menurutnya, keberhasilan tersebut merupakan hasil dari dedikasi, kerja keras, dan komitmen para peserta dalam meningkatkan kompetensi profesional di bidang keinsinyuran.Ia menegaskan bahwa gelar profesi insinyur bukan sekadar pengakuan akademik, tetapi juga amanah besar untuk mengemban tanggung jawab profesi, dalam memberikan solusi atas berbagai tantangan pembangunan."Profesi insinyur memiliki peran yang sangat strategis dalam mendorong kemajuan bangsa. Karena itu, saya berharap seluruh lulusan mampu menjaga integritas, profesionalisme, keselamatan, dan tanggung jawab dalam setiap pekerjaan yang dijalankan," pesan Rektor.Lebih lanjut, Eduart berharap kompetensi yang diperoleh selama mengikuti pendidikan profesi dapat memperkuat kapasitas para lulusan, dalam menghasilkan berbagai inovasi yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat, khususnya dalam mendukung pembangunan infrastruktur, teknologi, dan berbagai sektor strategis lainnya. (**)

KKN-PK UNG Luncurkan SIGAP BUNDA, Perkuat Edukasi dan Skrining Ibu Hamil di Desa Luwoo
29 Jul 2026
01:39 WITA

KKN-PK UNG Luncurkan SIGAP BUNDA, Perkuat Edukasi dan Skrining Ibu Hamil di Desa Luwoo

Rachmad Hidayah

UNG – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Profesi Kesehatan (KKN-PK) Universitas Negeri Gorontalo (UNG) Tahun 2026 melaksanakan program kerja utama berupa Capacity Building Peningkatan Kapasitas Kader Kesehatan di Aula Kantor Desa Luwoo, Kecamatan Talaga Jaya, Kabupaten Gorontalo, Selasa, 28 Juli 2026. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat peran kader kesehatan dalam mendampingi ibu hamil serta meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan di tingkat desa.Pada kegiatan tersebut, mahasiswa KKN-PK UNG secara resmi meluncurkan dua media inovasi pendampingan kesehatan, yakni Buku Saku SIGAP BUNDA dan Kartu Skrining Ibu Hamil. Kedua media tersebut dirancang sebagai panduan praktis bagi kader kesehatan dalam melakukan deteksi dini kehamilan berisiko tinggi, pencegahan anemia dan kecacingan, edukasi sanitasi lingkungan, serta penyampaian Komunikasi, Informasi, dan Edukasi (KIE) maupun konseling kepada masyarakat.Kegiatan dihadiri oleh Kepala Desa Luwoo Ibrahim Rahman, S.Pd., beserta jajaran pemerintah desa, Kepala Puskesmas Talaga Jaya Dr. Youke Lidya Herty Lumataw, S.KM., M.Kes., dosen pembimbing lapangan (DPL), kader kesehatan Desa Luwoo, serta perwakilan Karang Taruna.Pelaksanaan program ini mendapat pendampingan dari empat dosen pembimbing lapangan KKN-PK UNG, yakni Dr. dr. Vivien Novarina A. Kasim, M.Kes., dr. Siti Rakhmatia P. Th. Kum, M.Biomed., Ns. Nur Ayun R. Yusuf, S.Kep., M.Kep., serta Ns. Sartika, S.Kep., M.Kep., Sp.Kep.K.Kepala Puskesmas Talaga Jaya, Dr. Youke Lidya Herty Lumataw, S.KM., M.Kes., mengapresiasi inovasi yang dihadirkan mahasiswa KKN-PK UNG melalui program SIGAP BUNDA. Menurutnya, inovasi tersebut menjadi solusi yang dapat mendukung peningkatan kapasitas kader kesehatan dalam memberikan pendampingan kepada masyarakat."Kami sangat mengapresiasi terobosan dari mahasiswa KKN PK UNG. Buku saku dan kartu skrining ini adalah solusi praktis yang sangat dibutuhkan kader di Desa Luwoo, bahkan layak kami replikasi ke seluruh desa di Kecamatan Talaga Jaya. Melalui pelatihan ini, para kader bisa memperbarui pengetahuan kesehatannya dan langsung mempraktekkannya saat melakukan pendampingan warga," ujar Dr. Youke Lidya Herty Lumataw, S.KM., M.Kes.Selain peluncuran media edukasi, kegiatan capacity building juga diisi dengan pelaksanaan pre-test dan post-test untuk mengukur peningkatan pengetahuan kader kesehatan. Peserta juga memperoleh materi secara interaktif serta mengikuti simulasi studi kasus pendampingan ibu hamil secara terpadu sebagai bekal dalam menjalankan tugas di lapangan.Melalui program SIGAP BUNDA, mahasiswa KKN-PK UNG tidak hanya menghadirkan inovasi berupa media edukasi kesehatan, tetapi juga memperkuat kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah desa, puskesmas, kader kesehatan, dan organisasi kepemudaan. Sinergi tersebut diharapkan mampu meningkatkan kualitas pendampingan ibu hamil, menekan risiko kehamilan, serta mendukung terwujudnya kesehatan ibu dan anak yang lebih optimal dan berkelanjutan di Desa Luwoo.

Lihat Semua Berita