Site Logo

Prof. Eduart Wolok Dilantik Rektor UNG Periode 2023-2027 Pada Hari Ini

Rachmad Hidayah
25 Sep 2023
10:54 WITA
2.733 dilihat
Prof. Eduart Wolok Dilantik Rektor UNG Periode 2023-2027 Pada Hari Ini

Jakarta - Prof. Dr. Ir. Eduart Wolok, S.T., M.T. akan dilantik menjadi Rektor Universitas Negeri Gorontalo Periode 2023-2027 pada hari ini Senin, 25 September 2023. 

Pelantikan akan dilaksanakan di Ruang Auditorium Gedung A Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi pukul 13.00 WIB.

Eduart akan dilantik dan diambil sumpah atau janji jabatan oleh Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi. 

Ketua Panitia Tahapan Penjaringan, Penyaringan, dan Pemilihan Calon Rektor UNG Periode 2023-2027 Dr. Funco Tanipu, S.T., M.A. menjelaskan bahwa prosesi pemilihan calon Rektor UNG melewati sejumlah tahapan. Pertama adalah tahap penjaringan. Tahap panitia melakukan sosialisasi penjaringan kepada publik dari 29 Mei hingga 15 Juni. Kemudian membuka pendaftaran bakal calon pada 16 Juni - 23 Juni 2023. Pendaftar dibuka tidak hanya dari lingkungan UNG saja tetapi terbuka juga dari luar yang tentunya memenuhi syarat.

Pada pendaftaran, panitia menerima tujuh orang pendaftar yakni Raflin Hinelo, Sardi Salim, Eduart Wolok, Farid Musa, Udin Hamim, Ismail Djakaria dan Weny Musa. Dari sejumlah nama yang masuk tersebut, berdasarkan hasil verifikasi dan seleksi administrasi pada 3 Juli - 6 Juli 2023 menghasilkan empat nama bakal calon yang masuk kualifikasi. Enam nama itu adalah Eduart Wolok, Weny Musa, Raflin Hinelo, dan Sardi Salim.

"Kedua, penyaringan. Empat bakal calon tersebut kemudian mengikuti tahap penyaringan pada 25 Juli 2023. Pada tahap ini, seluruh bakal calon mempresentasikan visi, misi, tujuan dan program unggulannya untuk UNG empat tahun ke depan. Penyaringan tersebut kemudian menghasilkan tiga nama calon yakni Eduart Wolok memperoleh 60 suara, Raflin Hinelo memperoleh 3 suara dan Sardi Salim memperoleh 2 suara," ungkapnya.

Ketiga nama tersebut lalu mengikuti tahapan penelusuran rekam jejak dan wawancara mendalam yang dilakukan oleh Sekretaris Jenderal Kemendikbud Ristekdikti, Irjen Kemendikbud Ristek Dikti, Dirjen Dikti, Sesditjen Dikti dan Biro SDM.

Eduart terpilih melalui rapat senat UNG pada Rabu, 6 September 2023.

"Pada tahap pemilihan Rektor, Eduart Wolok meraih suara penuh yakni aklamasi. Proses pada tahap ini berlangsung dramatis karena seluruh anggota senat menginginkan kembali Eduart Wolok menjadi Rektor Universitas Negeri Gorontalo periode 2023 - 2027," pungkasnya. 

Ikuti berita lainnya

Pendaftaran Wisuda ke-62 UNG Resmi Dibuka, Kuota Hanya 700 Wisudawan
15 Jun 2026
08:24 WITA

Pendaftaran Wisuda ke-62 UNG Resmi Dibuka, Kuota Hanya 700 Wisudawan

Abdul Wahid Rauf

GORONTALO – Kabar gembira bagi mahasiswa tingkat akhir Universitas Negeri Gorontalo (UNG). Pendaftaran Wisuda ke-62 resmi dibuka mulai 15 Juni 2026, memberikan kesempatan bagi para calon lulusan untuk segera mengakhiri perjalanan akademiknya dan melangkah menuju dunia profesional.Universitas Negeri Gorontalo melalui Biro Akademik, Kemahasiswaan dan Perencanaan (BAKP) mengumumkan bahwa pendaftaran wisuda terbuka bagi seluruh mahasiswa program diploma, profesi, sarjana, hingga pascasarjana yang telah menyelesaikan seluruh rangkaian pendidikan akademik.Kepala BAKP UNG, Darman, S.Kom., M.Ap., menjelaskan bahwa salah satu syarat utama untuk mengikuti wisuda adalah mahasiswa telah dinyatakan menyelesaikan seluruh kewajiban akademik sesuai ketentuan universitas.“Pendaftaran wisuda ke-62 terbuka untuk seluruh mahasiswa tingkat akhir dari berbagai jenjang pendidikan yang telah menyelesaikan seluruh proses akademik di UNG,” ujar Darman.Untuk memudahkan proses administrasi, pendaftaran wisuda dilakukan secara daring melalui laman https://siat.ung.ac.id. Sistem pendaftaran online ini diharapkan dapat memberikan layanan yang lebih cepat, mudah, dan efisien bagi calon wisudawan.Namun demikian, calon peserta wisuda perlu bergerak cepat. Pada pelaksanaan Wisuda ke-62 kali ini, UNG menyediakan kuota sebanyak 700 kursi wisudawan. Pendaftaran akan ditutup secara otomatis apabila jumlah pendaftar telah mencapai batas kuota yang tersedia.Darman mengimbau para mahasiswa yang memenuhi syarat agar segera melakukan pendaftaran, serta melengkapi seluruh dokumen yang dipersyaratkan sesuai petunjuk yang telah disediakan. Keterlambatan dalam melengkapi berkas dapat berpengaruh terhadap keikutsertaan dalam prosesi wisuda.Wakil rektor bidang akademik, Prof. Dr. Abdul Hafidz Olii, M.Si., mengatakan wisuda bukan sekadar seremoni kelulusan, melainkan momentum bersejarah yang menandai berakhirnya perjalanan akademik sekaligus awal dari pengabdian dan kontribusi lulusan di tengah masyarakat. Oleh karena itu, setiap calon wisudawan diharapkan mempersiapkan seluruh tahapan administrasi dengan baik agar dapat mengikuti prosesi kelulusan tanpa kendala.“Dengan dibukanya pendaftaran Wisuda ke-62, UNG kembali bersiap melahirkan generasi lulusan baru yang kompeten, berkarakter, dan siap berkontribusi bagi pembangunan bangsa. Momen ini sekaligus menjadi bukti keberhasilan mahasiswa dalam menuntaskan perjuangan akademik dan membuka lembaran baru menuju masa depan yang lebih cerah,” pungkasnya. (**)

Riset Peneliti Fakultas Kedokteran Ungkap Pengetahuan Gizi Dan Pola Asuh Orang Tua Jadi Salah Satu Kunci Cegah Stunting
15 Jun 2026
05:23 WITA

Riset Peneliti Fakultas Kedokteran Ungkap Pengetahuan Gizi Dan Pola Asuh Orang Tua Jadi Salah Satu Kunci Cegah Stunting

Abdul Wahid Rauf

GORONTALO – Stunting masih menjadi salah satu tantangan kesehatan terbesar yang dihadapi Indonesia. Selama ini, banyak orang menganggap stunting hanya sebagai kondisi tubuh anak yang lebih pendek dibandingkan teman seusianya. Padahal, dampak stunting jauh lebih kompleks dan dapat memengaruhi kualitas sumber daya manusia di masa depan.Secara medis, stunting merupakan kondisi gagal tumbuh akibat kekurangan gizi kronis yang berlangsung dalam waktu lama, terutama pada periode 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), yakni sejak masa kehamilan hingga anak berusia dua tahun. Kondisi ini tidak hanya menghambat pertumbuhan fisik, tetapi juga perkembangan otak, kemampuan belajar, serta meningkatkan risiko penyakit kronis ketika anak dewasa.Karena itu, upaya menurunkan angka stunting tidak lagi hanya berfokus pada penyediaan makanan tambahan atau bantuan pangan. Para ahli kini menyadari bahwa akar persoalan stunting juga berada di dalam rumah tangga, terutama terkait pengetahuan gizi dan pola pengasuhan orang tua.Temuan ini diperkuat oleh penelitian yang dilakukan tim peneliti Fakultas Kedokteran Universitas Negeri Gorontalo yang terdiri atas Amelia Oktaviani Noe, Cecy Rahma Karim, Sri Manovita Pateda, Sri Andriani Ibrahim, dan Isman Jusuf. Penelitian tersebut dilaksanakan di Desa Tabumela, Kecamatan Tilango, Kabupaten Gorontalo, pada tahun 2025.Melalui pendekatan observasional analitik dengan desain cross-sectional, para peneliti melibatkan 69 responden untuk melihat hubungan antara pengetahuan gizi, pola asuh, dan kejadian stunting pada balita. Hasilnya cukup mengkhawatirkan: sebanyak 42 persen balita di desa tersebut teridentifikasi mengalami stunting.Angka ini menunjukkan bahwa hampir setengah anak di wilayah penelitian menghadapi risiko gangguan pertumbuhan yang dapat berdampak hingga masa dewasa.Ketika Pengetahuan Gizi Menentukan Masa Depan AnakSalah satu temuan terpenting dari penelitian ini adalah adanya hubungan yang signifikan antara tingkat pengetahuan gizi orang tua dan kejadian stunting. Analisis statistik menunjukkan nilai signifikansi p = 0,003 dengan korelasi positif yang cukup kuat.Artinya, semakin baik pemahaman orang tua tentang gizi, semakin kecil kemungkinan anak mengalami stunting.Pengetahuan gizi mencakup banyak hal, mulai dari pentingnya pemberian ASI eksklusif selama enam bulan pertama kehidupan, pemilihan makanan pendamping ASI (MPASI) yang tepat, hingga pemahaman mengenai kebutuhan nutrisi anak sesuai usia.Sebaliknya, kurangnya pengetahuan dapat menimbulkan berbagai kesalahan pengasuhan yang berdampak jangka panjang. Misalnya, pemberian MPASI terlalu dini, makanan yang tidak seimbang gizinya, atau kurangnya perhatian terhadap masa emas 1.000 HPK.Menariknya, penelitian ini menunjukkan bahwa ibu dengan pengetahuan gizi yang baik tetap mampu memenuhi kebutuhan nutrisi anak meskipun berasal dari keluarga dengan kondisi ekonomi terbatas. Dengan kata lain, pengetahuan sering kali menjadi modal penting yang dapat mengurangi dampak keterbatasan ekonomi.Pola Asuh: Lebih dari Sekadar Memberi MakanSelain pengetahuan gizi, penelitian juga menemukan bahwa pola asuh orang tua memiliki pengaruh signifikan terhadap kejadian stunting, dengan nilai signifikansi p = 0,014.Pola asuh tidak hanya berkaitan dengan bagaimana orang tua memberi makan anak, tetapi juga mencakup kebiasaan menjaga kebersihan, memantau pertumbuhan anak, hingga kedisiplinan membawa balita ke Posyandu atau fasilitas kesehatan.Orang tua dengan pola asuh yang kurang baik cenderung membiarkan anak mengonsumsi jajanan tidak sehat, kurang memperhatikan variasi menu makanan, atau terlambat mencari bantuan kesehatan saat anak mengalami gangguan pertumbuhan.Sebaliknya, pola asuh yang baik dapat membantu memastikan anak memperoleh asupan gizi yang cukup, lingkungan yang sehat, serta pemantauan tumbuh kembang secara rutin.Pendidikan dan Ekonomi Masih Menjadi TantanganPenelitian ini juga menggambarkan kondisi sosial ekonomi masyarakat di wilayah penelitian. Mayoritas responden merupakan ibu rumah tangga berusia produktif dengan tingkat pendidikan dominan lulusan sekolah dasar dan sekolah menengah atas.Dari sisi ekonomi, sebagian besar keluarga memiliki pendapatan antara Rp500 ribu hingga Rp1 juta per bulan. Kondisi ini menunjukkan bahwa keterbatasan ekonomi masih menjadi tantangan dalam pemenuhan kebutuhan gizi keluarga.Namun demikian, hasil penelitian menegaskan bahwa faktor ekonomi bukan satu-satunya penentu. Pengetahuan dan pola pengasuhan yang tepat dapat menjadi pelindung penting bagi tumbuh kembang anak.Melawan Stunting dari HuluTemuan penelitian ini memberikan pesan penting bahwa penanganan stunting tidak dapat dilakukan hanya melalui bantuan pangan sesaat. Upaya pencegahan harus dimulai dari peningkatan kapasitas keluarga, terutama ibu, sebagai pengasuh utama anak.Program edukasi gizi, kelas parenting, pendampingan selama masa kehamilan, serta penguatan peran Posyandu menjadi strategi yang perlu terus diperkuat. Selain itu, pemanfaatan pangan lokal bergizi dan terjangkau juga dapat menjadi solusi berkelanjutan bagi masyarakat.Pada akhirnya, mencegah stunting berarti melindungi masa depan bangsa. Anak yang tumbuh sehat dan optimal memiliki peluang lebih besar untuk menjadi generasi yang cerdas, produktif, dan mampu bersaing di masa depan. Karena itu, perjuangan melawan stunting sesungguhnya dimulai dari rumah—melalui pengetahuan, pengasuhan, dan kepedulian orang tua terhadap tumbuh kembang anak.(Artikel penelitian ini dipublikasikan melalui laman berikut)

Gelar Pengabdian Di Sekolah, Mahasiswa Profesi Dokter Berikan Edukasi Mitigasi Gempa dan Pertolongan Pertama
15 Jun 2026
00:52 WITA

Gelar Pengabdian Di Sekolah, Mahasiswa Profesi Dokter Berikan Edukasi Mitigasi Gempa dan Pertolongan Pertama

Abdul Wahid Rauf

GORONTALO – Upaya meningkatkan kesiapsiagaan bencana sejak usia dini terus dilakukan oleh Fakultas Kedokteran Universitas Negeri Gorontalo (FK UNG). Kali ini, mahasiswa Profesi Dokter stase Ilmu Kedokteran Kegawatdaruratan dan Kebencanaan (IKKB) menggelar sosialisasi mitigasi gempa bumi dan penanganan awal korban bencana di MTsN 1 Kota Gorontalo.Kegiatan edukatif yang berlangsung di aula MTsN 1 Kota Gorontalo tersebut disambut antusias oleh para siswa. Tidak hanya mendapatkan materi teori, para peserta juga diajak mempraktikkan secara langsung langkah-langkah penyelamatan diri dan pertolongan pertama saat terjadi bencana.Kegiatan ini merupakan bagian dari pengabdian masyarakat sekaligus implementasi pembelajaran kebencanaan bagi mahasiswa profesi dokter. Mengingat Indonesia berada di kawasan Ring of Fire, edukasi mitigasi bencana dinilai menjadi kebutuhan penting bagi masyarakat, khususnya generasi muda.Dalam sosialisasi tersebut, mahasiswa profesi dokter memberikan pemahaman mengenai langkah-langkah mitigasi sebelum, saat, dan setelah terjadi gempa bumi. Materi disampaikan secara interaktif sehingga mudah dipahami dan diikuti oleh para siswa.Para peserta memperoleh pengetahuan tentang pentingnya mengenali jalur evakuasi, menentukan titik kumpul aman, hingga teknik melindungi diri ketika gempa terjadi. Selain itu, siswa juga dibekali keterampilan dasar penanganan korban bencana, seperti teknik bebat tekan untuk menghentikan perdarahan, pemasangan bidai pada cedera tulang, serta cara evakuasi korban secara sederhana.Wakil Dekan FK UNG, Dr. dr. Zuhriana K. Yusuf, menegaskan bahwa edukasi kebencanaan perlu ditanamkan sejak usia sekolah agar peserta didik memiliki kesiapsiagaan dan kemampuan bertindak cepat dalam situasi darurat.“Melalui kegiatan ini, mahasiswa profesi dokter tidak hanya belajar secara klinis di rumah sakit, tetapi juga berperan aktif dalam pengabdian masyarakat melalui edukasi kesehatan dan kebencanaan,” ujarnya.Menurutnya, keterampilan dasar pertolongan pertama dan pemahaman mitigasi bencana dapat menjadi bekal penting bagi siswa untuk melindungi diri sendiri maupun membantu orang lain ketika terjadi keadaan darurat.Sementara itu, Kepala MTsN 1 Kota Gorontalo, Dr. H. Rommy Bau, S.Ag., M.Pd.I., memberikan apresiasi atas inisiatif FK UNG yang menghadirkan edukasi kebencanaan di lingkungan sekolah. Ia menilai kegiatan tersebut sangat bermanfaat dalam meningkatkan kesadaran dan kesiapan siswa menghadapi potensi bencana. (**)

Dihadapan Siswa Sekolah, Dosen Farmasi Kenalkan Khasiat Ikan Hulu'u Danau Limboto untuk Penyembuhan Luka
11 Jun 2026
03:04 WITA

Dihadapan Siswa Sekolah, Dosen Farmasi Kenalkan Khasiat Ikan Hulu'u Danau Limboto untuk Penyembuhan Luka

Abdul Wahid Rauf

GORONTALO — Di balik ketenangan Danau Limboto yang membentang di jantung Provinsi Gorontalo, tersimpan kekayaan hayati yang selama ini belum banyak dikenal masyarakat luas. Salah satunya adalah ikan Hulu'u — ikan lokal yang kini mulai menarik perhatian dunia ilmu pengetahuan karena potensinya dalam mendukung proses penyembuhan luka.Pada Rabu (10/6), dosen Jurusan Farmasi Fakultas Olahraga dan Kesehatan Universitas Negeri Gorontalo (FOK UNG) hadir langsung ke SMA Negeri 1 Paguyaman untuk memperkenalkan potensi luar biasa ikan lokal ini kepada para siswa melalui kegiatan Pengabdian Masyarakat .Siapa sangka ikan yang hidup di Danau Limboto ini menyimpan kandungan istimewa? Ikan Hulu'u atau Giuris margaritacea ternyata kaya akan albumin — sejenis protein yang memiliki peran penting dalam proses regenerasi jaringan tubuh.Dalam sesi edukasi tersebut, para siswa diajak memahami bagaimana albumin yang terkandung dalam ikan Hulu'u dapat berpotensi mendukung proses penyembuhan luka bakar dan luka terbuka, membantu mengurangi peradangan, dan menunjang pemulihan jaringan tubuh secara alami. Sebuah temuan yang tidak hanya menarik secara ilmiah, tetapi juga sangat dekat dengan kehidupan masyarakat Gorontalo sehari-hari.Ketua tim pengabdian, Apt. Mohomad Aprianto Paneo, M.Farm., menjelaskan bahwa kegiatan ini lahir dari keinginan, untuk mendekatkan ilmu pengetahuan dengan potensi lokal yang ada di sekitar masyarakat Gorontalo. Melalui kegiatan pengabdian ini, akademisi UNG ingin memberikan edukasi kepada siswa bahwa Gorontalo memiliki sumber daya lokal yang potensial, salah satunya ikan Hulu'u dari Danau Limboto.“Kandungan albumin pada ikan ini menjadi hal menarik untuk dikenalkan karena memiliki peran penting dalam mendukung proses regenerasi jaringan dan penyembuhan luka,” ujarnya.Ia juga menekankan bahwa pengenalan potensi ikan lokal kepada siswa merupakan bagian dari upaya membangun kesadaran ilmiah sejak dini, sekaligus mengajak generasi muda tidak hanya mengenal kekayaan hayati daerahnya, tetapi juga memahami bagaimana ilmu farmasi dan kesehatan dapat mengkaji dan mengembangkan manfaat bahan alam bagi masyarakat.Suasana kegiatan berlangsung hidup dan penuh semangat. Para siswa SMA Negeri 1 Paguyaman terlihat antusias mengikuti pemaparan materi, mengajukan pertanyaan, dan berdiskusi tentang ikan Hulu'u, kandungan albumin, serta kaitannya dengan proses penyembuhan luka — topik yang terasa baru namun langsung menyentuh kehidupan nyata mereka.“Seluruh tim berharap para siswa kelak memahami bahwa potensi daerah bukan hanya kekayaan yang perlu dijaga, tetapi juga ilmu yang bisa dikembangkan untuk mendukung kesehatan dan kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan,” pungkasnya. (**)

Lihat Semua Berita