Lebih dari Sekadar Kelopak: Menguak Rahasia Simbol "Bunga" dalam Lagu The Lantis dan Rio Clappy

Siapa yang tidak tersentuh saat mendengar lirik syahdu Bunga Maaf milik The Lantis atau janji setia dalam Bunga Abadi karya Rio Clappy? Bagi telinga awam, bunga mungkin hanyalah metafora kecantikan. Namun, di tangan Yurnaningsih Guzali, mahasiswa Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia (Bastrasia) Universitas Negeri Gorontalo, kata "bunga" dibedah sebagai sebuah instrumen emosi yang kompleks.
Melalui penelitian skripsinya, Yurnaningsih mengungkap bahwa bunga dalam lagu-lagu hits tersebut bukan sekadar objek tanaman, melainkan simbol yang hidup dan bernapas dalam benak pendengarnya.
Penelitian ini menggunakan pisau analisis pragmatik sastra. Pendekatan ini tidak hanya melihat makna kata di dalam kamus, tetapi melihat bagaimana kata tersebut bekerja saat berinteraksi dengan perasaan dan pengalaman manusia.
Dalam konteks ini, bunga menjadi "jembatan" yang menghubungkan apa yang ingin disampaikan penyanyi dengan apa yang dirasakan oleh pendengar.
Meskipun sama-sama menggunakan simbol bunga, hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan pemaknaan yang kontras namun saling melengkapi:
Bunga Maaf (The Lantis): Di sini, bunga merepresentasikan sisi manusia yang rapuh. Ia adalah simbol dari penyesalan yang mendalam, sebuah permohonan untuk memperbaiki retakan hubungan, sekaligus sisa-sisa kerinduan yang masih tertinggal.Bunga Abadi (Rio Clappy): Berbeda dengan sisi rapuh di atas, bunga di lagu ini adalah simbol kekuatan. Ia menjadi representasi dari ketulusan dan cinta yang tidak lekang oleh waktu, sebuah janji bahwa rasa tersebut akan tetap mekar meski musim berganti.
Temuan menarik lainnya adalah bahwa pemaknaan bunga ini sangat subjektif. Bagaimana seorang pendengar memaknai lirik tersebut sangat bergantung pada latar belakang, pengalaman pribadi, hingga kondisi emosional mereka saat mendengarnya.
"Kata ‘bunga’ dalam kedua lagu ini tidak hadir sebagai objek konkret yang bisa disentuh, melainkan sebagai simbol yang dibentuk melalui kesepakatan sosial dan representasi pengalaman emosional," ungkap Yurnaningsih dalam penelitiannya.
Simbol bunga menciptakan ruang interpretasi yang luas. Hal inilah yang membuat lagu-lagu tersebut terasa sangat personal bagi setiap orang. Terjadi sebuah relasi interaktif; penyanyi melemparkan simbol, dan pendengar mengisi simbol tersebut dengan warna-warna dari kisah hidup mereka sendiri.
Melalui penelitian ini, kita diajak untuk menyadari bahwa keindahan sebuah lagu tidak hanya terletak pada melodinya, tetapi pada bagaimana satu kata sederhana seperti "bunga" mampu menampung samudera makna yang tak terbatas.
Artikel penelitian selengkpnya dapat dilihat melalui tautan berikut





