Temuan Peneliti UNG Ungkap Kandidat Spesies Baru Hewan Tarsius Di Sulawesi

Tim peneliti dari Universitas Negeri Gorontalo menemukan fakta menarik sekaligus mengejutkan tentang tarsius di Sulawesi. Populasi yang sebelumnya diduga sebagai kandidat spesies baru, yakni tarsius bantuk akustik Labanu, justru berpotensi merupakan hasil persilangan dua spesies berbeda.
Penelitian ini dipimpin oleh Zuliyanto Zakaria bersama tim yang terdiri dari Muhammad Nur Akbar, Magfirahtul Jannah, dan Adam Suduri. Riset tersebut dilakukan untuk memvalidasi status taksonomi tarsius bentuk akustik Labanu melalui pendekatan morfometrik dan analisis spasial habitat.
Tarsius bentuk akustik Labanu sebelumnya dikenal melalui karakter vokalisasi unik atau "bentuk akustik" yang berbeda dari tarsius lain di Sulawesi. Untuk memastikan apakah populasi ini benar-benar spesies baru, tim peneliti melakukan pengukuran detail pada berbagai bagian tubuh, seperti panjang kepala, ekor, hingga bentuk jumbai ekor.
Pendekatan ini memungkinkan peneliti membandingkan ciri fisik tarsius Labanu dengan sejumlah spesies lain, termasuk Tarsius supriatnai dan Tarsius spectrumgurskyae. "Analisis kami menunjukkan bahwa karakter morfologi tarsius Labanu masih tumpang tindih dengan spesies terdekatnya,” ungkap Zuliyanto Zakaria.
Hasil analisis menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan signifikan pada ukuran kepala antar kelompok tarsius. Selain itu, bentuk jumbai ekor-yang menjadi salah satu ciri pembeda penting-juga memperlihatkan kemiripan dengan dua spesies tersebut.
Temuan paling penting dari penelitian ini adalah indikasi bahwa tarsius bentuk akustik Labanu kemungkinan merupakan hibrida stabil, yaitu hasil persilangan antara Tarsius supriatnai dan Tarsius spectrumgurskyae. Meskipun memiliki ciri unik, karakter morfologi yang saling tumpang tindih menunjukkan bahwa populasi ini belum dapat dipastikan sebagai spesies baru yang berdiri sendiri.
"Namun demikian analisis morfologi saja belum cukup untuk menarik kesimpulan final. Diperlukan analisis genetik untuk memastikan apakah Labanu merupakan spesies baru atau hasil hibridisasi,” tambahnya.
Selain aspek morfologi, penelitian ini juga menyoroti kondisi habitat tarsius bentuk akustik Labanu yang semakin terfragmentasi. Dari total wilayah persebarannya, hanya sekitar 221,8 km2 yang masih berupa hutan. Dalam beberapa tahun terakhir, deforestasi tercatat terjadi di area seluas sekitar 17,6 km2, terutama akibat ekspansi pertanian dan pemukiman. Di sisi lain, regenerasi hutan muda memang terjadi, namun belum sepenuhnya mampu menggantikan fungsi hutan alami. Kondisi ini menyebabkan habitat tarsius terpecah-pecah, sehingga berpotensi mengganggu pergerakan dan pertukaran gen antar populasi.
Sebagai primata endemik Sulawesi, tarsius memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem. Temuan mengenai tarsius Labanu tidak hanya memperkaya pengetahuan ilmiah, tetapi juga menjadi peringatan akan pentingnya upaya konservasi.
Tim peneliti berencana melanjutkan penelitian melalui analisis DNA untuk mengungkap lebih jauh asal-usul populasi ini. Hasil tersebut diharapkan dapat memberikan kepastian apakah tarsius Labanu merupakan spesies baru yang belum teridentifikasi, atau bagian dari dinamika evolusi melalui hibridisasi.
Di tengah tekanan lingkungan yang terus meningkat, para peneliti menekankan bahwa perlindungan habitat menjadi langkah mendesak. Tanpa upaya konservasi yang serius, bukan tidak mungkin kekayaan biodiversitas Sulawesi akan hilang sebelum sempat sepenuhnya dipahami.





