Site Logo

Remaja Dulupi dan Bahasa Lokal, Menjaga Identitas di Tengah Arus Globalisasi

Penelitian
Abdul Wahid Rauf
31 Mar 2026
19:50 WITA
123 dilihat
Remaja Dulupi dan Bahasa Lokal, Menjaga Identitas di Tengah Arus Globalisasi

Di tengah derasnya arus globalisasi, banyak bahasa lokal perlahan mulai tersisih. Bahasa asing dan bahasa nasional kian mendominasi ruang komunikasi, terutama di kalangan generasi muda. Namun, di sebuah desa di Gorontalo, justru muncul cerita berbeda—cerita tentang bagaimana remaja menjadi penjaga identitas budaya melalui bahasa.

Penelitian yang dilakukan oleh Witriana Makore dari Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra dan Budaya, Universitas Negeri Gorontalo, menghadirkan gambaran optimistis tersebut. Studi ini berlokasi di Desa Dulupi, sebuah wilayah yang menunjukkan bahwa bahasa lokal masih hidup dan digunakan secara aktif oleh generasi mudanya.

Bahasa Lokal Masih Hidup di Tangan Remaja

Melalui pendekatan kualitatif, penelitian ini menggali bagaimana remaja terlibat dalam penggunaan bahasa daerah, tantangan yang mereka hadapi, serta makna bahasa sebagai identitas budaya. Hasilnya cukup menggembirakan: remaja di Desa Dulupi tidak hanya memahami bahasa lokal, tetapi juga menggunakannya secara aktif dalam kehidupan sehari-hari.

Bahasa daerah digunakan dalam percakapan di rumah, interaksi dengan teman sebaya, hingga komunikasi di lingkungan masyarakat. Ini menunjukkan bahwa bahasa lokal tidak sekadar “dipelajari”, tetapi benar-benar menjadi bagian dari praktik sosial yang hidup.

Lebih dari Sekadar Alat Komunikasi

Yang menarik, bahasa lokal di Dulupi tidak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi, tetapi juga sebagai simbol identitas kolektif. Bahasa hadir dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat, mulai dari kegiatan adat, seni budaya, hingga praktik keagamaan.

Dalam konteks ini, bahasa menjadi pengikat sosial—sesuatu yang menyatukan individu dalam satu komunitas budaya. Ketika bahasa digunakan bersama, identitas pun ikut terjaga.

Tantangan di Era Modern

Meski demikian, keberlangsungan bahasa lokal tidak sepenuhnya tanpa ancaman. Dominasi bahasa Indonesia dan pengaruh bahasa asing—terutama melalui media sosial dan sistem pendidikan formal—menjadi tantangan nyata.

Banyak remaja di berbagai daerah mulai beralih ke bahasa yang dianggap lebih “modern” atau “bergengsi”. Jika tidak diimbangi dengan kesadaran budaya, fenomena ini dapat mempercepat pergeseran bahasa lokal menuju kepunahan.

Namun, yang terjadi di Dulupi justru sebaliknya. Remaja di desa ini menunjukkan komitmen untuk tetap menggunakan bahasa daerah. Pilihan ini mencerminkan adanya kesadaran bahwa bahasa bukan sekadar alat komunikasi, tetapi juga bagian dari jati diri.

Remaja sebagai Agen Pelestari Budaya

Penelitian ini menegaskan satu hal penting: masa depan bahasa lokal sangat bergantung pada generasi muda. Remaja tidak hanya berperan sebagai pewaris budaya, tetapi juga sebagai agen pelestari.

Apa yang mereka lakukan—sesederhana berbicara menggunakan bahasa daerah dalam keseharian—sebenarnya adalah bentuk nyata dari upaya menjaga identitas budaya.

Pelestarian Dimulai dari Hal Sederhana

Temuan ini menjadi pengingat bahwa pelestarian budaya tidak selalu harus dilakukan melalui program besar atau kebijakan formal. Justru, langkah kecil yang dilakukan secara konsisten bisa memberikan dampak besar.

Menggunakan bahasa daerah di rumah, di lingkungan pertemanan, atau dalam kegiatan sosial adalah bentuk pelestarian yang paling nyata dan berkelanjutan.

Di tengah dunia yang terus berubah, kisah remaja di Desa Dulupi menunjukkan bahwa identitas budaya tetap bisa bertahan—selama ada kesadaran untuk menjaganya. (Artikel penelitian dipublikasikan melalui laman berikut)

Ikuti berita lainnya

Pembayaran UKT Semester Ganjil 2026/2027 Telah Dibuka, Mahasiswa Diimbau Segera Lakukan Pembayaran Sebelum Batas Waktu
23 Jun 2026
07:04 WITA

Pembayaran UKT Semester Ganjil 2026/2027 Telah Dibuka, Mahasiswa Diimbau Segera Lakukan Pembayaran Sebelum Batas Waktu

Abdul Wahid Rauf

GORONTALO – Tahapan pembayaran Uang Kuliah Tunggal (UKT) semester ganjil tahun akademik 2026-2027, untuk seluruh mahasiswa telah dibuka oleh Universitas Negeri Gorontalo. Pembayaran UKT menjadi salah satu tahapan penting dalam proses registrasi ulang yang wajib diselesaikan mahasiswa sebelum mengikuti kegiatan akademik pada semester mendatang.Kepala Biro Akademik, Kemahasiswaan dan Perencanaan (BAKP) UNG, Darman, S.Kom., M.Ap., menjelaskan bahwa, masa pembayaran UKT telah dibuka sejak 22 Juni 2026 dan akan berlangsung hingga 31 Juli 2026. Mahasiswa diharapkan dapat memanfaatkan rentang waktu yang tersedia, untuk menyelesaikan kewajiban administrasi akademik tepat waktu.“Pembayaran UKT dapat dilakukan melalui berbagai layanan perbankan yang telah bekerja sama dengan UNG, baik melalui teller maupun ATM. Mahasiswa terlebih dahulu harus mengakses tagihan atau kode pembayaran melalui sistem yang telah disediakan,” jelas Darman.Untuk mahasiswa program Diploma (D-3), Sarjana Terapan (D-4), dan Sarjana (S-1) angkatan 2024 dan sebelumnya, serta mahasiswa program profesi dan pascasarjana, akses tagihan pembayaran dilakukan melalui sistem SIAT (www.siat.ung.ac.id). Pembayaran dapat dilakukan melalui Bank BTN, BNI, dan BRI.Sementara itu, mahasiswa angkatan 2025 program D-3, D-4, dan S-1 dapat mengakses tagihan melalui sistem SIAKAD (www.siakad.ung.ac.id). Pembayaran UKT untuk kelompok mahasiswa ini dapat dilakukan melalui Bank BTN, BNI, maupun Bank Mandiri.Darman mengingatkan agar mahasiswa memastikan seluruh data yang digunakan dalam proses pembayaran telah sesuai sebelum melakukan transaksi. Setelah pembayaran berhasil dilakukan, mahasiswa juga diwajibkan menyimpan bukti pembayaran sebagai dokumen resmi yang dapat digunakan apabila diperlukan pada proses administrasi berikutnya.“Mahasiswa harus memastikan kode pembayaran yang digunakan sudah benar serta menyimpan bukti transaksi sebagai bukti sah pembayaran UKT,” tambahnya.Dengan berbagai pilihan kanal pembayaran yang tersedia, UNG berharap mahasiswa dapat lebih mudah menyelesaikan proses registrasi administrasi tanpa kendala. Kemudahan akses layanan ini juga menjadi bagian dari upaya universitas dalam meningkatkan kualitas pelayanan akademik berbasis digital.Sementara itu, Wakil Rektor Bidang Akademik UNG, Prof. Dr. Abdul Hafidz Olii, S.Pi., M.Si., menegaskan bahwa pembayaran UKT merupakan tahapan yang sangat penting karena menjadi penanda resmi bahwa mahasiswa terdaftar dan berhak mengikuti seluruh kegiatan akademik pada semester berjalan.“Pembayaran UKT bukan sekadar kewajiban administrasi, tetapi juga menjadi syarat utama untuk mengikuti proses perkuliahan dan berbagai aktivitas akademik lainnya,” pungkas Hafidz. (**)

Ratusan Lulusan Dikukuhkan pada Wisuda ke-61 UNG, Siap Menjadi Agen Perubahan untuk Bangsa
23 Jun 2026
04:44 WITA

Ratusan Lulusan Dikukuhkan pada Wisuda ke-61 UNG, Siap Menjadi Agen Perubahan untuk Bangsa

Abdul Wahid Rauf

GORONTALO – Kampus kerakyatan Universitas Negeri Gorontalo (UNG) kembali menorehkan tonggak penting dalam perjalanan akademiknya, dengan mengukuhkan sebanyak 700 lulusan pada prosesi Wisuda ke-61, yang berlangsung khidmat di Auditorium UNG, Selasa (23/6). Para wisudawan berasal dari berbagai jenjang pendidikan, mulai dari program diploma, sarjana, profesi, magister, hingga doktor.Prosesi pengukuhan dipimpin langsung oleh Rektor UNG, Prof. Dr. Ir. Eduart Wolok, S.T., M.T., didampingi jajaran Senat Universitas. Momen tersebut menjadi puncak dari perjalanan akademik para mahasiswa, yang telah menyelesaikan seluruh tahapan pendidikan di kampus yang dikenal sebagai kampus kerakyatan tersebut.Dalam sambutannya, Rektor UNG, Prof. Dr. Ir. Eduart Wolok, S.T., M.T., menyampaikan apresiasi dan ucapan selamat kepada seluruh lulusan yang berhasil menuntaskan pendidikan mereka. Menurutnya, gelar akademik yang diraih bukanlah sesuatu yang diperoleh secara instan, melainkan hasil dari perjuangan panjang yang penuh dedikasi, kerja keras, dan pengorbanan.“Keberhasilan hari ini bukan hanya milik para wisudawan, tetapi juga milik orang tua, keluarga, dosen, serta seluruh civitas akademika yang telah memberikan dukungan sepanjang proses pendidikan,” ujar Rektor.Ia menegaskan bahwa prosesi wisuda bukanlah garis akhir dari sebuah perjalanan, melainkan titik awal untuk memasuki babak kehidupan yang lebih luas. Para lulusan kini memiliki tanggung jawab untuk mengimplementasikan ilmu pengetahuan yang diperoleh selama menempuh pendidikan demi memberikan manfaat bagi masyarakat.Menurut Rektor, dunia saat ini membutuhkan generasi muda yang tidak hanya memiliki kompetensi akademik, tetapi juga mampu beradaptasi, berinovasi, dan menghadirkan solusi bagi berbagai tantangan yang dihadapi masyarakat.“Kelulusan ini adalah awal dari pengabdian yang sesungguhnya. Jadilah insan yang terus belajar, berinovasi, dan memberikan kontribusi nyata bagi lingkungan sekitar. Bawalah nama baik almamater dengan karya dan prestasi yang bermanfaat bagi bangsa,” pesannya.Rektor juga mengajak para lulusan untuk menjadi agen perubahan yang mampu menciptakan dampak positif di berbagai sektor kehidupan, sesuai dengan bidang keilmuan dan profesi yang mereka tekuni. Dengan bekal ilmu, pengalaman, dan nilai-nilai yang diperoleh selama menempuh pendidikan di UNG, para lulusan diharapkan mampu menjadi sumber daya manusia unggul yang siap bersaing dan berkarya di tingkat lokal, nasional, maupun global.Wisuda ke-61 ini menjadi bagian dari komitmen UNG dalam menghasilkan lulusan berkualitas yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki karakter, integritas, dan semangat pengabdian kepada masyarakat. (**)

Mahasiswa KKN Kolaboratif UNG–UGM Siap Kembangkan Potensi Wisata Desa Botutonuo
22 Jun 2026
06:09 WITA

Mahasiswa KKN Kolaboratif UNG–UGM Siap Kembangkan Potensi Wisata Desa Botutonuo

Rachmad Hidayah

Bone Bolango – Pemerintah Desa Botutonuo, Kecamatan Kabila Bone, Kabupaten Bone Bolango, secara resmi menerima mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Kolaboratif Universitas Negeri Gorontalo (UNG) dan Universitas Gadjah Mada (UGM) pada Sabtu, 20 Juni 2026.Penerimaan mahasiswa berlangsung di Desa Botutonuo dan dihadiri oleh Dosen Pembimbing Lapangan (DPL), pemerintah desa, serta mahasiswa peserta KKN Kolaboratif UNG–UGM yang akan melaksanakan pengabdian selama 45 hari di desa tersebut.Tim DPL KKN Kolaboratif terdiri atas Ervan Hasan Harun selaku ketua, didampingi Rosbin Pakaya dan Jumiati Ilham. Program KKN di Desa Botutonuo mengusung tema pengembangan Desa Wisata Mandiri Energi berbasis tenaga surya untuk mendukung sport tourism berkelanjutan dan ekonomi kreatif berbasis kearifan lokal di Desa Botutonuo.Kepala Desa Botutonuo, Nuzzul Abdul Radjak, menyampaikan apresiasi dan menyambut baik kehadiran mahasiswa KKN Kolaboratif di wilayahnya. Ia menyatakan bahwa pemerintah desa menerima dengan terbuka pelaksanaan program tersebut dan berharap seluruh rangkaian kegiatan dapat berjalan dengan lancar serta memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.Sementara itu, Ketua DPL KKN Kolaboratif, Ervan Hasan Harun, menjelaskan bahwa program yang akan dijalankan berorientasi pada pengembangan potensi Desa Botutonuo sebagai desa wisata yang berkelanjutan melalui penguatan sport tourism, ekonomi kreatif, pemasaran digital, serta pemanfaatan energi surya sebagai energi ramah lingkungan. Program ini juga melibatkan mahasiswa lintas disiplin ilmu untuk mendukung pembangunan desa berbasis potensi lokal.Melalui pelaksanaan KKN Kolaboratif ini, diharapkan terbangun sinergi antara perguruan tinggi dan masyarakat dalam mengembangkan potensi wisata pesisir Desa Botutonuo sekaligus menghasilkan berbagai luaran yang dapat menjadi dasar pengembangan kawasan wisata berkelanjutan di masa mendatang. Program ini juga menjadi bagian dari upaya mendukung pembangunan kawasan Teluk Tomini melalui pendekatan pemberdayaan masyarakat, penguatan ekonomi kreatif, dan pemanfaatan energi terbarukan.

UNG dan Pemkab Parigi Moutong Perkuat Sinergi, Buka Peluang Pengembangan SDM dan Pendidikan Kedokteran
21 Jun 2026
05:10 WITA

UNG dan Pemkab Parigi Moutong Perkuat Sinergi, Buka Peluang Pengembangan SDM dan Pendidikan Kedokteran

Abdul Wahid Rauf

GORONTALO – Komitmen untuk terus memperluas jejaring kemitraan ditunjukkan oleh Universitas Negeri Gorontalo, melalui jalinan kemitraan bersama dengan Pemerintah Kabupaten Parigi Moutong (Parimo).Kerja sama strategis tersebut ditandai dengan penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) oleh Rektor UNG, Eduart Wolok, dan Bupati Parigi Moutong, Erwin Burase, yang berlangsung di Aula Rektorat UNG, Minggu (21/6).Kolaborasi ini menjadi langkah penting dalam memperkuat sinergi antara dunia pendidikan tinggi dan pemerintah daerah untuk mendorong percepatan pembangunan serta peningkatan kualitas sumber daya manusia di Kabupaten Parigi Moutong.Bupati Parigi Moutong, Erwin Burase, menyampaikan bahwa kemitraan dengan UNG memiliki nilai strategis bagi daerah yang dipimpinnya. Menurutnya, keberadaan perguruan tinggi dapat menjadi mitra penting dalam menghadirkan berbagai program pembangunan yang berdampak langsung bagi masyarakat.“Kerja sama ini diharapkan menjadi fondasi yang kuat untuk mendukung berbagai program strategis daerah, khususnya dalam pengembangan potensi wilayah dan peningkatan kualitas sumber daya manusia,” ujar Erwin.Salah satu fokus kerja sama yang mendapat perhatian khusus adalah peluang pemanfaatan Program Afirmasi Fakultas Kedokteran UNG bagi putra-putri Kabupaten Parigi Moutong. Program tersebut diharapkan dapat membuka akses yang lebih luas bagi generasi muda Parimo untuk menempuh pendidikan kedokteran dan nantinya kembali mengabdi di daerah asal.Sementara itu, Rektor UNG, Prof. Eduart Wolok, menyambut positif terjalinnya kerja sama tersebut. Menurutnya, kolaborasi dengan pemerintah daerah merupakan bagian dari komitmen UNG dalam menjalankan Tri Dharma Perguruan Tinggi yang mencakup pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.“Kerja sama ini bukan sekadar penandatanganan dokumen, tetapi merupakan wujud nyata komitmen UNG untuk hadir dan berkontribusi dalam mendukung pembangunan daerah serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” kata Eduart.Ia menambahkan, melalui berbagai program kolaboratif yang akan dijalankan, UNG siap memberikan dukungan akademik, riset, inovasi, serta penguatan kapasitas sumber daya manusia yang dibutuhkan oleh Pemerintah Kabupaten Parigi Moutong.Dengan kemitraan ini, UNG dan Pemkab Parigi Moutong kedepan dapat menghadirkan berbagai program yang berdampak nyata bagi masyarakat, sekaligus memperkuat peran perguruan tinggi sebagai mitra strategis dalam pembangunan daerah yang berkelanjutan. (**)

Lihat Semua Berita