Site Logo

Perkuat Mutu Akademik, UNG Siapkan Program Studi Menuju Akreditasi Unggul dan Internasional melalui Kurikulum OBE

Siaran PersAkreditasi
Abdul Wahid Rauf
24 Jul 2026
00:52 WITA
199 dilihat
Perkuat Mutu Akademik, UNG Siapkan Program Studi Menuju Akreditasi Unggul dan Internasional melalui Kurikulum OBE

GORONTALO – Komitmen memperkuat langkah menuju perguruan tinggi berdaya saing global, melalui penguatan sistem penjaminan mutu akademik terus berupaya dilakukan UNG. Salah satu upaya strategis yang dilakukan adalah menyelenggarakan Workshop dan Pendampingan Penyusunan Kurikulum Outcome Based Education (OBE), bagi program studi yang diproyeksikan meraih Akreditasi Unggul tingkat nasional maupun akreditasi internasional.

Kegiatan yang digagas Lembaga Pengembangan Pembelajaran dan Penjaminan Mutu (LPMPP) tersebut, diikuti oleh para pimpinan program studi serta tim pengembang kurikulum dari seluruh fakultas di lingkungan UNG. Workshop menjadi forum penting untuk memperkuat kapasitas program studi dalam menyusun kurikulum, yang berorientasi pada capaian pembelajaran lulusan (learning outcomes) sesuai standar pendidikan tinggi nasional dan internasional.

Ketua LPMPP UNG, Prof. Dr. Elya Nusantari, M.Pd., menjelaskan bahwa penyusunan kurikulum berbasis Outcome Based Education (OBE), merupakan salah satu instrumen utama dalam mendukung peningkatan kualitas akademik sekaligus memenuhi indikator akreditasi.

Menurutnya, LPMPP berkomitmen memberikan pendampingan secara berkelanjutan kepada seluruh program studi, agar mampu merancang kurikulum yang adaptif terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, kebutuhan dunia kerja, serta tuntutan global.

"Workshop ini merupakan bagian dari komitmen LPMPP untuk terus mendampingi program studi dalam meningkatkan kualitas akademik. Melalui kurikulum OBE, program studi diharapkan mampu menghasilkan lulusan yang memiliki kompetensi terukur, relevan dengan kebutuhan pengguna lulusan, serta memenuhi standar akreditasi nasional maupun internasional," jelas Elya.

Dalam kesempatan tersebut, Wakil Rektor Bidang Akademik UNG, Prof. Dr. Abdul Hafidz Olii, S.Pi., M.Si., menegaskan bahwa transformasi kurikulum menuju pendekatan Outcome Based Education merupakan, langkah strategis dalam meningkatkan mutu pendidikan tinggi di Universitas Negeri Gorontalo.

Menurutnya, kurikulum OBE tidak lagi berorientasi pada proses pembelajaran semata, tetapi menitikberatkan pada kompetensi nyata yang harus dimiliki lulusan setelah menyelesaikan pendidikan.

"Transformasi kurikulum OBE menjadi fondasi penting dalam meningkatkan mutu lulusan dan daya saing program studi. Kurikulum yang dirancang dengan baik akan menghasilkan lulusan yang memiliki kompetensi sesuai kebutuhan masyarakat, dunia usaha, dunia industri, serta mampu bersaing di tingkat nasional maupun global," ujar Hafidz.

Ia berharap seluruh program studi dapat memanfaatkan workshop dan pendampingan tersebut untuk segera menyusun sekaligus mengimplementasikan kurikulum OBE yang selaras dengan indikator penilaian Akreditasi Unggul dan berbagai skema akreditasi internasional.

Lebih lanjut, Hafidz menekankan bahwa pencapaian akreditasi unggul bukan sekadar memperoleh predikat, melainkan menjadi bagian dari komitmen institusi dalam membangun budaya mutu secara berkelanjutan.

Melalui penyusunan kurikulum yang berkualitas, proses pembelajaran yang berorientasi pada capaian lulusan, serta evaluasi yang berkesinambungan, UNG optimistis mampu melahirkan lulusan yang unggul, adaptif, inovatif, dan siap menghadapi tantangan global.

Ikuti berita lainnya

Pascasarjana UNG Perkuat Integritas Mahasiswa melalui Kuliah Umum Mitigasi Korupsi
08 Sep 2026
06:37 WITA

Pascasarjana UNG Perkuat Integritas Mahasiswa melalui Kuliah Umum Mitigasi Korupsi

Abdul Wahid Rauf

GORONTALO — Membangun institusi pendidikan yang bersih dan berintegritas tidak cukup hanya melalui aturan dan sistem. Kesadaran untuk mencegah korupsi perlu ditanamkan sejak dari lingkungan akademik, termasuk kepada mahasiswa sebagai calon pemimpin dan profesional di masa depan.Komitmen tersebut menjadi perhatian Program Pascasarjana Universitas Negeri Gorontalo (UNG), melalui pelaksanaan kuliah umum bertema “Penguatan Integritas melalui Mitigasi Korupsi dalam Mewujudkan Tata Kelola Institusi Pendidikan yang Bersih, Transparan dan Berintegritas”, Senin (7/9), di Aula Rektorat UNG.Kuliah umum ini diikuti oleh mahasiswa Program Pascasarjana UNG, dengan menghadirkan Asisten Tindak Pidana Khusus Kejaksaan Tinggi Gorontalo, Dr. Ahmad Hajar Zunaidi, S.H., M.H., sebagai pemateri utama.Kegiatan tersebut menjadi bagian dari implementasi kerja sama yang terjalin antara UNG dan Kejaksaan Tinggi Gorontalo, khususnya dalam memperkuat pemahaman mengenai integritas, pencegahan korupsi, serta pentingnya tata kelola yang baik di lingkungan institusi pendidikan.Direktur Pascasarjana UNG, Prof. Dr. Ir. Mahludin Baruwadi, M.P., mengungkapkan bahwa kuliah umum ini, menjadi bagian dari rangkaian awal proses perkuliahan di lingkungan Pascasarjana. Menurutnya, kegiatan tersebut tidak hanya memberikan wawasan tambahan, tetapi juga menjadi sarana untuk membangun pemahaman mahasiswa mengenai nilai-nilai yang harus dijunjung selama menjalani pendidikan.“Ini menjadi bagian dari proses awal perkuliahan di lingkungan Pascasarjana, dengan tujuan memberikan penguatan dan pemahaman kepada mahasiswa dalam mengikuti proses perkuliahan,” ungkap Mahludin.Ia menilai, pembentukan karakter akademik tidak hanya berkaitan dengan kemampuan intelektual, tetapi juga menyangkut integritas, tanggung jawab, serta komitmen untuk menjunjung nilai-nilai kejujuran.Sementara itu, Rektor UNG melalui Wakil Rektor Bidang Keuangan dan Umum, Hidayat Koniyo, menilai tema yang diangkat dalam kuliah umum tersebut, sangat relevan dengan kebutuhan perguruan tinggi saat ini.Menurutnya, penguatan wawasan mengenai pencegahan korupsi penting diberikan kepada mahasiswa, agar mereka memiliki pemahaman yang kuat mengenai pentingnya integritas dalam kehidupan akademik maupun ketika nantinya terjun ke dunia profesional.“Kuliah umum ini sangat penting untuk memperkuat wawasan mahasiswa. Terlebih tema yang diangkat sangat penting dalam upaya pencegahan tindak korupsi, sebagai langkah strategis mewujudkan tata kelola institusi pendidikan yang bersih, transparan dan berintegritas, khususnya di insitusi pendidikan tinggi,” jelas Hidayat.Melalui kegiatan ini, mahasiswa Pascasarjana diharapkan tidak hanya memahami korupsi dari aspek hukum, tetapi juga mampu mengenali berbagai bentuk risiko dan potensi penyimpangan yang dapat muncul dalam pengelolaan institusi.Kolaborasi dengan Kejaksaan Tinggi Gorontalo melalui kegiatan edukatif seperti ini menjadi salah satu langkah nyata, dalam memperkuat tata kelola perguruan tinggi sekaligus menanamkan budaya antikorupsi di lingkungan kampus. (**)

Di Balik Jas Putih Tersimpan Talenta Seni, Mahasiswa Fakultas Kedokteran UNG Tembus Peksiminas XVIII 2026
07 Sep 2026
10:16 WITA

Di Balik Jas Putih Tersimpan Talenta Seni, Mahasiswa Fakultas Kedokteran UNG Tembus Peksiminas XVIII 2026

Abdul Wahid Rauf

GORONTALO – Selama ini mahasiswa Fakultas Kedokteran UNG identik dengan aktivitas akademik yang padat, buku-buku tebal, praktikum, hingga berbagai tuntutan pembelajaran di bidang kesehatan. Namun, anggapan bahwa mahasiswa kedokteran hanya berkutat dengan dunia medis ternyata tidak sepenuhnya benar.Di balik keseriusan mereka menekuni ilmu kedokteran, ternyata tersimpan talenta seni yang tak kalah luar biasa. Hal tersebut dibuktikan oleh tiga mahasiswa Fakultas Kedokteran (FK) UNG, yang berhasil menjadi yang terbaik di tingkat universitas dan berhak mewakili UNG pada Pekan Seni Mahasiswa Nasional (Peksiminas) XVIII Tahun 2026 di Universitas Jember, Jawa Timur.Ketiga mahasiswa tersebut yakni, Alya Zulfah Halada, Sania Wahyuniar Baderan, Fatimah Daniyah. Mereka akan tampil pada tiga tangkai lomba berbeda, yakni penulisan puisi, monolog, dan lukis. Keikutsertaan ini sekaligus menjadi sejarah tersendiri bagi Fakultas Kedokteran UNG, karena untuk pertama kalinya berhasil mengirimkan wakil pada ajang Peksiminas.Prestasi tersebut menjadi semakin istimewa karena Fakultas Kedokteran, merupakan salah satu fakultas yang relatif muda di lingkungan UNG. Meski demikian, usia fakultas ternyata bukan menjadi penghalang bagi mahasiswanya untuk menunjukkan kemampuan di luar bidang akademik.Justru melalui Peksimitas, mahasiswa Fakultas Kedokteran mampu membuktikan bahwa kemampuan soft skill, kreativitas, dan ekspresi seni dapat tumbuh berdampingan dengan kompetensi akademik yang mereka miliki.Keberhasilan tiga mahasiswa Fakultas Kedokteran tampil di Peksiminas tersebut, bahkan menjadi kejutan tersendiri bagi Rektor UNG Prof. Dr. Ir. Eduart Wolok, S.T., M.T. Menurutnya, selama ini mahasiswa Fakultas Kedokteran lebih dikenal dengan karakter akademiknya yang serius. Namun, pencapaian pada Peksimitas menunjukkan adanya sisi lain dari mahasiswa FK yang patut diapresiasi.“Ini sebuah kejutan. Selama ini mahasiswa fakultas kedokteran dikenal sebagai orang yang serius dan kutu buku. Tapi faktanya mereka mampu bersaing di tingkat universitas, kemudian berhasil mewakili UNG di tingkat nasional,” ungkap Eduart.Eduart mengaku bangga melihat mahasiswa UNG, khususnya mahasiswa Fakultas Kedokteran, yang mampu mengembangkan potensi diri melalui bidang seni sekaligus menorehkan prestasi.Menurutnya, keberhasilan tersebut menjadi bukti bahwa mahasiswa tidak hanya dituntut memiliki kemampuan akademik, tetapi juga perlu mengembangkan berbagai potensi dan keterampilan yang dapat mendukung pembentukan karakter serta prestasi mereka.“Ini menunjukkan bahwa mahasiswa kita memiliki soft skill dan mampu berprestasi tidak hanya pada bidang akademik, tetapi juga di bidang seni,” tambahnya.Eduart pun memberikan apresiasi kepada tiga mahasiswa FK yang telah berhasil melewati persaingan di tingkat universitas. Ia berharap kesempatan tampil pada Peksiminas XVIII dapat dimanfaatkan sebaik mungkin untuk memberikan pengalaman sekaligus prestasi terbaik bagi almamater. (**)

Mahasiswa UNG Siap Tampil di Peksiminas XVIII 2026, Bawa Misi Harumkan Gorontalo di Tingkat Nasional
07 Sep 2026
07:23 WITA

Mahasiswa UNG Siap Tampil di Peksiminas XVIII 2026, Bawa Misi Harumkan Gorontalo di Tingkat Nasional

Abdul Wahid Rauf

GORONTALO — Sebanyak 27 mahasiswa Universitas Negeri Gorontalo (UNG) bersiap menunjukkan kemampuan terbaiknya, pada Pekan Seni Mahasiswa Nasional (Peksiminas) XVIII Tahun 2026. Dalam ajang seni mahasiswa tingkat nasional yang mempertemukan talenta-talenta terbaik dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia tersebut, mahasiswa UNG mewakili BPSMI Provinsi Gorontalo akan tampil pada 19 tangkai lomba di Universitas Jember, Jawa Timur.Keikutsertaan ini menjadi momentum penting bagi mahasiswa UNG untuk membawa nama Provinsi Gorontalo sekaligus menunjukkan kualitas dan kreativitas mahasiswa di panggung nasional.Beragam bidang seni akan diikuti oleh kontingen mahasiswa UNG, mulai dari vokalia pop putri dan putra, fotografi, tari, penulisan cerpen, baca puisi putra dan putri, penulisan lakon, keroncong putra dan putri, seriosa putra dan putri, dangdut putra dan putri, komik strip, desain poster, penulisan puisi, monolog, hingga lukis.Rektor UNG Prof. Dr. Ir. Eduart Wolok, S.T., M.T., menyampaikan apresiasi keikutsertaan mahasiswa UNG, menjadi bagian dari Kontingen Provinsi Gorontalo yang akan berlaga pada kompetisi nasional tersebut.Menurutnya, keikutsertaan dalam Peksiminas bukan sekadar kesempatan untuk berkompetisi, tetapi juga menjadi ruang bagi mahasiswa untuk mengembangkan kemampuan, menunjukkan kreativitas, sekaligus mengukir prestasi.“Keikutsertaan mahasiswa UNG dalam ajang nasional ini, merupakan kesempatan untuk menunjukkan kemampuan terbaik sekaligus mengukir prestasi. Kami tentu memberikan apresiasi dan dukungan kepada mahasiswa yang telah terpilih,” ujar Eduart.Ia berharap seluruh peserta mampu tampil percaya diri, dan memberikan penampilan terbaik selama kompetisi. Lebih dari itu, para mahasiswa diharapkan dapat membawa pulang prestasi, yang membanggakan bagi Provinsi Gorontalo dan mengharumkan nama UNG di tingkat nasional.Sementara itu, Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Alumni Prof. Dr. Mohamad Amir Arham, M.E., menjelaskan bahwa, keikutsertaan UNG pada Peksiminas XVIII telah dipersiapkan melalui proses pembinaan yang dilakukan secara bertahap.Persiapan diawali dengan proses seleksi mulai dari tingkat fakultas hingga universitas. Mahasiswa yang terpilih kemudian mendapatkan pembinaan melalui karantina dan pendampingan, yang melibatkan dosen-dosen berkompeten di bidang seni, tari, maupun musik.“Persiapan ini dilakukan untuk mengasah kemampuan teknis, kreativitas, sekaligus membangun kesiapan mental mahasiswa agar mampu tampil maksimal pada kompetisi tingkat nasional,” jelas Amir Arham.Menurutnya, proses pembinaan tersebut menjadi bagian penting untuk memastikan mahasiswa tidak hanya memiliki kemampuan di bidang yang dilombakan, tetapi juga memiliki kesiapan menghadapi persaingan dengan peserta dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia. Dengan persiapan yang telah dilakukan, Amir optimistis kontingen mahasiswa UNG mampu memberikan penampilan terbaik dan bersaing pada 19 tangkai lomba yang diikuti. (**)

Perkenalkan Teknologi Eco-Cooler untuk Masyarakat, Peneliti UNG Hadirkan Solusi Rumah Sejuk Tanpa Listrik Dari Limbah Tongkol Jagung
07 Sep 2026
05:17 WITA

Perkenalkan Teknologi Eco-Cooler untuk Masyarakat, Peneliti UNG Hadirkan Solusi Rumah Sejuk Tanpa Listrik Dari Limbah Tongkol Jagung

Abdul Wahid Rauf

Tongkol jagung yang selama ini lebih banyak berakhir sebagai sisa hasil panen, mulai mendapat kehidupan baru di tangan dosen Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Negeri Gorontalo (UNG).Melalui kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat, tim dosen UNG memperkenalkan eco-cooler, sebuah inovasi modul ventilasi alami berbahan limbah tongkol jagung kepada masyarakat Desa Bongopini, Kecamatan Tilongkabila, Kabupaten Bone Bolango,.Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya hilirisasi hasil penelitian UNG, dengan membawa inovasi yang sebelumnya dikembangkan melalui riset untuk diperkenalkan dan diterapkan secara langsung di tengah masyarakat.Eco-cooler dikembangkan menggunakan campuran semen, pasir, dan limbah tongkol jagung. Modul ini dibuat dalam ukuran 20×20 cm dan 30×30 cm, atau setara dengan ukuran roster yang umum digunakan pada bangunan.Dengan bentuk tersebut, eco-cooler dirancang agar relatif mudah diaplikasikan sebagai bagian dari bangunan. Menariknya, modul ini tidak membutuhkan listrik ataupun perangkat mekanis untuk menjalankan fungsinya.Prinsip kerjanya memanfaatkan aliran udara alami yang melewati modul ventilasi untuk membantu menciptakan kondisi ruang yang lebih sejuk. Berdasarkan hasil pengujian tim peneliti, penggunaan eco-cooler mampu menurunkan suhu ruang dari sekitar 29°C menjadi kisaran 26,6–27,1°C.Temuan tersebut kemudian menjadi pijakan bagi tim untuk membawa inovasi dari ruang penelitian menuju ruang pengabdian, sehingga manfaat riset tidak berhenti pada hasil pengujian, tetapi dapat dipelajari dan dikembangkan bersama masyarakat.Ketua Tim Pengabdian, Dr. Ir. Ernawati, S.T., M.T., bersama lima dosen Arsitektur FT UNG, yakni Rahmat Firdaus Bouty, S.Ars., M.Ars.; Niniek Pratiwi, S.T., M.T.; Nurnaningsih N. Abdul, S.T., M.T.; Syafriani, S.T., M.Ars.; serta Nur Mutmainnah, S.T., M.Ars., memandu langsung proses sosialisasi.Dalam kegiatan tersebut, masyarakat tidak hanya diperkenalkan pada konsep dan manfaat eco-cooler, tetapi juga diajak melihat potensi lain dari limbah pertanian yang tersedia di lingkungan sekitar.Tongkol jagung yang selama ini dipandang sebagai sisa produksi pertanian diperkenalkan sebagai salah satu material yang dapat diolah menjadi bagian dari elemen bangunan. Pendekatan ini mempertemukan dua kebutuhan sekaligus, yakni mengurangi potensi limbah pertanian dan menghadirkan alternatif pendekatan pasif untuk mendukung kenyamanan termal bangunan.Tidak berhenti pada sosialisasi, mahasiswa yang tergabung dalam tim pelaksana turut mendemonstrasikan proses pembuatan modul eco-cooler kepada masyarakat.Keterlibatan mahasiswa menjadi bagian penting dari kegiatan tersebut. Mereka mendapatkan kesempatan untuk menerjemahkan pengetahuan mengenai arsitektur dan material bangunan yang diperoleh di bangku kuliah menjadi solusi yang dapat dijelaskan, dipraktikkan, dan dikembangkan bersama masyarakat.Sebagai persiapan menuju tahapan pelatihan berikutnya, masyarakat Desa Bongopini juga diajak mulai mengumpulkan, menyisihkan, dan mengeringkan tongkol jagung sisa panen. Bahan tersebut nantinya akan digunakan dalam praktik pembuatan eco-cooler.Dengan demikian, masyarakat tidak hanya menjadi penerima informasi, tetapi dipersiapkan untuk memiliki pengalaman langsung dalam mengolah material yang tersedia di lingkungan mereka.Bagi tim UNG, pemanfaatan tongkol jagung dalam eco-cooler menunjukkan bahwa material sederhana yang berada di sekitar masyarakat, dapat memiliki nilai guna baru ketika dipadukan dengan pengetahuan dan inovasi.Lebih dari sekadar menghasilkan sebuah produk, kegiatan ini memperlihatkan bagaimana riset arsitektur dapat bergerak dari laboratorium menuju masyarakat. Pengetahuan mengenai material, ventilasi alami, dan desain bangunan diterjemahkan menjadi inovasi yang dekat dengan kebutuhan dan potensi lokal.Hilirisasi eco-cooler pun menjadi bagian dari upaya UNG untuk memastikan hasil penelitian tidak berhenti sebagai karya akademik, tetapi dapat terus dikembangkan menjadi solusi yang memberi manfaat bagi masyarakat.

Lihat Semua Berita