Site Logo

Mahasiswa UNG Siap Tampil di Peksiminas XVIII 2026, Bawa Misi Harumkan Gorontalo di Tingkat Nasional

Siaran PersKemahasiswaan
Abdul Wahid Rauf
07 Sep 2026
07:23 WITA
43 dilihat
Mahasiswa UNG Siap Tampil di Peksiminas XVIII 2026, Bawa Misi Harumkan Gorontalo di Tingkat Nasional

GORONTALO — Sebanyak 27 mahasiswa Universitas Negeri Gorontalo (UNG) bersiap menunjukkan kemampuan terbaiknya, pada Pekan Seni Mahasiswa Nasional (Peksiminas) XVIII Tahun 2026. Dalam ajang seni mahasiswa tingkat nasional yang mempertemukan talenta-talenta terbaik dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia tersebut, mahasiswa UNG mewakili BPSMI Provinsi Gorontalo akan tampil pada 19 tangkai lomba di Universitas Jember, Jawa Timur.

Keikutsertaan ini menjadi momentum penting bagi mahasiswa UNG untuk membawa nama Provinsi Gorontalo sekaligus menunjukkan kualitas dan kreativitas mahasiswa di panggung nasional.

Beragam bidang seni akan diikuti oleh kontingen mahasiswa UNG, mulai dari vokalia pop putri dan putra, fotografi, tari, penulisan cerpen, baca puisi putra dan putri, penulisan lakon, keroncong putra dan putri, seriosa putra dan putri, dangdut putra dan putri, komik strip, desain poster, penulisan puisi, monolog, hingga lukis.

Rektor UNG Prof. Dr. Ir. Eduart Wolok, S.T., M.T., menyampaikan apresiasi keikutsertaan mahasiswa UNG, menjadi bagian dari Kontingen Provinsi Gorontalo yang akan berlaga pada kompetisi nasional tersebut.

Menurutnya, keikutsertaan dalam Peksiminas bukan sekadar kesempatan untuk berkompetisi, tetapi juga menjadi ruang bagi mahasiswa untuk mengembangkan kemampuan, menunjukkan kreativitas, sekaligus mengukir prestasi.

“Keikutsertaan mahasiswa UNG dalam ajang nasional ini, merupakan kesempatan untuk menunjukkan kemampuan terbaik sekaligus mengukir prestasi. Kami tentu memberikan apresiasi dan dukungan kepada mahasiswa yang telah terpilih,” ujar Eduart.

Ia berharap seluruh peserta mampu tampil percaya diri, dan memberikan penampilan terbaik selama kompetisi. Lebih dari itu, para mahasiswa diharapkan dapat membawa pulang prestasi, yang membanggakan bagi Provinsi Gorontalo dan mengharumkan nama UNG di tingkat nasional.

Sementara itu, Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Alumni Prof. Dr. Mohamad Amir Arham, M.E., menjelaskan bahwa, keikutsertaan UNG pada Peksiminas XVIII telah dipersiapkan melalui proses pembinaan yang dilakukan secara bertahap.

Persiapan diawali dengan proses seleksi mulai dari tingkat fakultas hingga universitas. Mahasiswa yang terpilih kemudian mendapatkan pembinaan melalui karantina dan pendampingan, yang melibatkan dosen-dosen berkompeten di bidang seni, tari, maupun musik.

“Persiapan ini dilakukan untuk mengasah kemampuan teknis, kreativitas, sekaligus membangun kesiapan mental mahasiswa agar mampu tampil maksimal pada kompetisi tingkat nasional,” jelas Amir Arham.

Menurutnya, proses pembinaan tersebut menjadi bagian penting untuk memastikan mahasiswa tidak hanya memiliki kemampuan di bidang yang dilombakan, tetapi juga memiliki kesiapan menghadapi persaingan dengan peserta dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia. Dengan persiapan yang telah dilakukan, Amir optimistis kontingen mahasiswa UNG mampu memberikan penampilan terbaik dan bersaing pada 19 tangkai lomba yang diikuti. (**)

Ikuti berita lainnya

Di Balik Jas Putih Tersimpan Talenta Seni, Mahasiswa Fakultas Kedokteran UNG Tembus Peksiminas XVIII 2026
07 Sep 2026
10:16 WITA

Di Balik Jas Putih Tersimpan Talenta Seni, Mahasiswa Fakultas Kedokteran UNG Tembus Peksiminas XVIII 2026

Abdul Wahid Rauf

GORONTALO – Selama ini mahasiswa Fakultas Kedokteran UNG identik dengan aktivitas akademik yang padat, buku-buku tebal, praktikum, hingga berbagai tuntutan pembelajaran di bidang kesehatan. Namun, anggapan bahwa mahasiswa kedokteran hanya berkutat dengan dunia medis ternyata tidak sepenuhnya benar.Di balik keseriusan mereka menekuni ilmu kedokteran, ternyata tersimpan talenta seni yang tak kalah luar biasa. Hal tersebut dibuktikan oleh tiga mahasiswa Fakultas Kedokteran (FK) UNG, yang berhasil menjadi yang terbaik di tingkat universitas dan berhak mewakili UNG pada Pekan Seni Mahasiswa Nasional (Peksiminas) XVIII Tahun 2026 di Universitas Jember, Jawa Timur.Ketiga mahasiswa tersebut yakni, Alya Zulfah Halada, Sania Wahyuniar Baderan, Fatimah Daniyah. Mereka akan tampil pada tiga tangkai lomba berbeda, yakni penulisan puisi, monolog, dan lukis. Keikutsertaan ini sekaligus menjadi sejarah tersendiri bagi Fakultas Kedokteran UNG, karena untuk pertama kalinya berhasil mengirimkan wakil pada ajang Peksiminas.Prestasi tersebut menjadi semakin istimewa karena Fakultas Kedokteran, merupakan salah satu fakultas yang relatif muda di lingkungan UNG. Meski demikian, usia fakultas ternyata bukan menjadi penghalang bagi mahasiswanya untuk menunjukkan kemampuan di luar bidang akademik.Justru melalui Peksimitas, mahasiswa Fakultas Kedokteran mampu membuktikan bahwa kemampuan soft skill, kreativitas, dan ekspresi seni dapat tumbuh berdampingan dengan kompetensi akademik yang mereka miliki.Keberhasilan tiga mahasiswa Fakultas Kedokteran tampil di Peksiminas tersebut, bahkan menjadi kejutan tersendiri bagi Rektor UNG Prof. Dr. Ir. Eduart Wolok, S.T., M.T. Menurutnya, selama ini mahasiswa Fakultas Kedokteran lebih dikenal dengan karakter akademiknya yang serius. Namun, pencapaian pada Peksimitas menunjukkan adanya sisi lain dari mahasiswa FK yang patut diapresiasi.“Ini sebuah kejutan. Selama ini mahasiswa fakultas kedokteran dikenal sebagai orang yang serius dan kutu buku. Tapi faktanya mereka mampu bersaing di tingkat universitas, kemudian berhasil mewakili UNG di tingkat nasional,” ungkap Eduart.Eduart mengaku bangga melihat mahasiswa UNG, khususnya mahasiswa Fakultas Kedokteran, yang mampu mengembangkan potensi diri melalui bidang seni sekaligus menorehkan prestasi.Menurutnya, keberhasilan tersebut menjadi bukti bahwa mahasiswa tidak hanya dituntut memiliki kemampuan akademik, tetapi juga perlu mengembangkan berbagai potensi dan keterampilan yang dapat mendukung pembentukan karakter serta prestasi mereka.“Ini menunjukkan bahwa mahasiswa kita memiliki soft skill dan mampu berprestasi tidak hanya pada bidang akademik, tetapi juga di bidang seni,” tambahnya.Eduart pun memberikan apresiasi kepada tiga mahasiswa FK yang telah berhasil melewati persaingan di tingkat universitas. Ia berharap kesempatan tampil pada Peksiminas XVIII dapat dimanfaatkan sebaik mungkin untuk memberikan pengalaman sekaligus prestasi terbaik bagi almamater. (**)

Perkenalkan Teknologi Eco-Cooler untuk Masyarakat, Peneliti UNG Hadirkan Solusi Rumah Sejuk Tanpa Listrik Dari Limbah Tongkol Jagung
07 Sep 2026
05:17 WITA

Perkenalkan Teknologi Eco-Cooler untuk Masyarakat, Peneliti UNG Hadirkan Solusi Rumah Sejuk Tanpa Listrik Dari Limbah Tongkol Jagung

Abdul Wahid Rauf

Tongkol jagung yang selama ini lebih banyak berakhir sebagai sisa hasil panen, mulai mendapat kehidupan baru di tangan dosen Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Negeri Gorontalo (UNG).Melalui kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat, tim dosen UNG memperkenalkan eco-cooler, sebuah inovasi modul ventilasi alami berbahan limbah tongkol jagung kepada masyarakat Desa Bongopini, Kecamatan Tilongkabila, Kabupaten Bone Bolango,.Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya hilirisasi hasil penelitian UNG, dengan membawa inovasi yang sebelumnya dikembangkan melalui riset untuk diperkenalkan dan diterapkan secara langsung di tengah masyarakat.Eco-cooler dikembangkan menggunakan campuran semen, pasir, dan limbah tongkol jagung. Modul ini dibuat dalam ukuran 20×20 cm dan 30×30 cm, atau setara dengan ukuran roster yang umum digunakan pada bangunan.Dengan bentuk tersebut, eco-cooler dirancang agar relatif mudah diaplikasikan sebagai bagian dari bangunan. Menariknya, modul ini tidak membutuhkan listrik ataupun perangkat mekanis untuk menjalankan fungsinya.Prinsip kerjanya memanfaatkan aliran udara alami yang melewati modul ventilasi untuk membantu menciptakan kondisi ruang yang lebih sejuk. Berdasarkan hasil pengujian tim peneliti, penggunaan eco-cooler mampu menurunkan suhu ruang dari sekitar 29°C menjadi kisaran 26,6–27,1°C.Temuan tersebut kemudian menjadi pijakan bagi tim untuk membawa inovasi dari ruang penelitian menuju ruang pengabdian, sehingga manfaat riset tidak berhenti pada hasil pengujian, tetapi dapat dipelajari dan dikembangkan bersama masyarakat.Ketua Tim Pengabdian, Dr. Ir. Ernawati, S.T., M.T., bersama lima dosen Arsitektur FT UNG, yakni Rahmat Firdaus Bouty, S.Ars., M.Ars.; Niniek Pratiwi, S.T., M.T.; Nurnaningsih N. Abdul, S.T., M.T.; Syafriani, S.T., M.Ars.; serta Nur Mutmainnah, S.T., M.Ars., memandu langsung proses sosialisasi.Dalam kegiatan tersebut, masyarakat tidak hanya diperkenalkan pada konsep dan manfaat eco-cooler, tetapi juga diajak melihat potensi lain dari limbah pertanian yang tersedia di lingkungan sekitar.Tongkol jagung yang selama ini dipandang sebagai sisa produksi pertanian diperkenalkan sebagai salah satu material yang dapat diolah menjadi bagian dari elemen bangunan. Pendekatan ini mempertemukan dua kebutuhan sekaligus, yakni mengurangi potensi limbah pertanian dan menghadirkan alternatif pendekatan pasif untuk mendukung kenyamanan termal bangunan.Tidak berhenti pada sosialisasi, mahasiswa yang tergabung dalam tim pelaksana turut mendemonstrasikan proses pembuatan modul eco-cooler kepada masyarakat.Keterlibatan mahasiswa menjadi bagian penting dari kegiatan tersebut. Mereka mendapatkan kesempatan untuk menerjemahkan pengetahuan mengenai arsitektur dan material bangunan yang diperoleh di bangku kuliah menjadi solusi yang dapat dijelaskan, dipraktikkan, dan dikembangkan bersama masyarakat.Sebagai persiapan menuju tahapan pelatihan berikutnya, masyarakat Desa Bongopini juga diajak mulai mengumpulkan, menyisihkan, dan mengeringkan tongkol jagung sisa panen. Bahan tersebut nantinya akan digunakan dalam praktik pembuatan eco-cooler.Dengan demikian, masyarakat tidak hanya menjadi penerima informasi, tetapi dipersiapkan untuk memiliki pengalaman langsung dalam mengolah material yang tersedia di lingkungan mereka.Bagi tim UNG, pemanfaatan tongkol jagung dalam eco-cooler menunjukkan bahwa material sederhana yang berada di sekitar masyarakat, dapat memiliki nilai guna baru ketika dipadukan dengan pengetahuan dan inovasi.Lebih dari sekadar menghasilkan sebuah produk, kegiatan ini memperlihatkan bagaimana riset arsitektur dapat bergerak dari laboratorium menuju masyarakat. Pengetahuan mengenai material, ventilasi alami, dan desain bangunan diterjemahkan menjadi inovasi yang dekat dengan kebutuhan dan potensi lokal.Hilirisasi eco-cooler pun menjadi bagian dari upaya UNG untuk memastikan hasil penelitian tidak berhenti sebagai karya akademik, tetapi dapat terus dikembangkan menjadi solusi yang memberi manfaat bagi masyarakat.

UNG Mengajar Batch 10 Terjunkan 1.108 Mahasiswa, Hadirkan Dampak Nyata di Sekolah
07 Sep 2026
02:50 WITA

UNG Mengajar Batch 10 Terjunkan 1.108 Mahasiswa, Hadirkan Dampak Nyata di Sekolah

Abdul Wahid Rauf

GORONTALO – Sebagai komitmen mendukung penuatan kualitas pembelajaran di sekolah, Universitas Negeri Gorontalo kembali melaksanakan program UNG Mengajar  Batch 10 untuk tiga wilayah di Provinsi Gorontalo. Dalam program UNG Mengajar ini, kampus kerakyatan UNG akan menerjunkan sebanyak 1.108 mahasiswa yang berasal dari 18 program studi kependidikan di lingkungan UNG.Ketiga wilayah tersebut meliputi Kabupaten Gorontalo, Kota Gorontalo, dan Kabupaten Bone Bolango. Selama kurang lebih empat bulan, para mahasiswa akan terlibat langsung dalam aktivitas pendidikan dan pembelajaran di sekolah mitra, sekaligus membawa semangat pengabdian untuk memberikan kontribusi nyata bagi kemajuan pendidikan.Ketua Lembaga Penjaminan Mutu dan Pengembangan Pembelajaran (LPMPP) UNG, Prof. Dr. Elya Nusantari, M.Pd., menjelaskan bahwa pelaksanaan UNG Mengajar terus mengalami perkembangan, seiring dengan perubahan kebijakan dan arah pengembangan program pendidikan tinggi.Menurutnya, UNG Mengajar yang sebelumnya menjadi bagian dari kebijakan Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM), kini diarahkan menjadi bagian dari semangat Kampus Berdampak.“Artinya, kehadiran mahasiswa bukan hanya untuk belajar di lapangan, tetapi harus benar-benar memberikan dampak nyata bagi sekolah dan masyarakat,” jelas Prof. Elya.Melalui program ini, mahasiswa mendapatkan ruang untuk mengaplikasikan pengetahuan dan kompetensi yang diperoleh selama perkuliahan secara langsung di lingkungan sekolah. Kehadiran mereka diharapkan dapat memperkuat berbagai aspek pembelajaran, terutama dalam pengembangan literasi, numerasi, serta karakter peserta didik.Lebih dari sekadar pengalaman mengajar, UNG Mengajar menjadi ruang bagi mahasiswa untuk memahami secara langsung dinamika pendidikan di lapangan. Mereka dituntut mampu membaca kebutuhan sekolah, beradaptasi dengan lingkungan, serta menghadirkan gagasan dan pendekatan pembelajaran yang relevan.Rektor UNG melalui Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Alumni, Prof. Dr. Mohamad Amir Arham, M.E., menegaskan bahwa keterlibatan mahasiswa dalam program UNG Mengajar, merupakan salah satu bentuk nyata kontribusi UNG terhadap peningkatan kualitas pendidikan di Gorontalo.Ia berharap para mahasiswa tidak hanya hadir untuk membantu menjalankan aktivitas pembelajaran yang sudah berlangsung di sekolah, tetapi mampu memberikan nilai tambah melalui inovasi dan gagasan baru.“Kehadiran mahasiswa bukan hanya untuk menggantikan peran guru yang ada di sekolah. Mahasiswa harus hadir membawa inovasi, sistem, serta pendekatan baru yang kalian miliki untuk memberikan dampak positif terhadap proses pembelajaran,” tegas Amir.Pesan tersebut menjadi penekanan penting dalam pelaksanaan UNG Mengajar Batch 10. Sebagai mahasiswa dari berbagai program studi kependidikan, para peserta diharapkan mampu menjadikan sekolah sebagai ruang belajar sekaligus ruang pengabdian. (**)

Mahasiswa KKN-PK UNG Olah Jeruk Nipis Jadi Aromaterapi untuk Bantu Redakan Kecemasan Ibu Hamil
04 Sep 2026
05:37 WITA

Mahasiswa KKN-PK UNG Olah Jeruk Nipis Jadi Aromaterapi untuk Bantu Redakan Kecemasan Ibu Hamil

Abdul Wahid Rauf

GORONTALO – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Profesi Kesehatan (KKN-PK) Universitas Negeri Gorontalo (UNG) menghadirkan inovasi berbasis potensi lokal, melalui pemanfaatan jeruk nipis menjadi aromaterapi roll-on. Inovasi tersebut dikembangkan sebagai salah satu pendekatan nonfarmakologis, untuk membantu menciptakan rasa rileks dan mengurangi kecemasan ibu hamil menjelang persalinan.Program pemberdayaan masyarakat ini dilaksanakan di Desa Tolotio, Kecamatan Tibawa, Kabupaten Gorontalo, dengan mengusung tema “Pemberdayaan Ibu Hamil Melalui Pembuatan Aromaterapi Jeruk sebagai Terapi Nonfarmakologis untuk Mengurangi Kecemasan Menjelang Persalinan.”Melalui program tersebut, mahasiswa KKN-PK tidak hanya memberikan edukasi mengenai pemanfaatan bahan alam, tetapi juga mendampingi masyarakat secara langsung dalam mengolah kulit jeruk nipis, menjadi minyak atsiri yang kemudian diformulasikan sebagai produk aromaterapi roll-on.Minyak atsiri jeruk nipis diketahui memiliki kandungan senyawa aromatik, termasuk limonene, yang berpotensi memberikan efek relaksasi. Aroma segar yang dihasilkan diharapkan dapat membantu, menciptakan suasana nyaman bagi ibu hamil dalam menghadapi masa menjelang persalinan.Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) KKN-PK UNG, Dr. Mohamad Adam Mustapa, M.Sc., mengatakan program tersebut merupakan bentuk nyata upaya mahasiswa, mentransformasikan pengetahuan yang diperoleh di bangku kuliah menjadi inovasi yang dapat dimanfaatkan masyarakat.“Melalui kegiatan ini, mahasiswa tidak hanya belajar menerapkan ilmu pengetahuan, tetapi juga menghadirkan produk tepat guna dengan memanfaatkan potensi sumber daya lokal yang tersedia di masyarakat,” ujarnya.Menurutnya pemanfaatan jeruk nipis sebagai bahan baku aromaterapi, juga membuka peluang pemberdayaan masyarakat melalui pengembangan keterampilan baru. Dengan pendampingan yang berkelanjutan, produk berbasis bahan lokal tersebut berpotensi dikembangkan menjadi produk usaha mikro masyarakat.Kepala Desa Tolotio bersama pengurus PKK menyambut positif inovasi yang diperkenalkan mahasiswa KKN-PK UNG. Selain memberikan alternatif pemanfaatan bahan alam, keterampilan tersebut dinilai memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi kegiatan produktif masyarakat.Dalam pelaksanaannya, mahasiswa memberikan pendampingan mulai dari proses persiapan bahan baku hingga pengemasan produk. Kulit jeruk nipis segar terlebih dahulu dipilah dan dicuci bersih, kemudian dipotong kecil atau diparut tipis untuk membantu melepaskan kandungan minyak atsiri.Bahan selanjutnya diproses melalui distilasi uap. Uap air panas dialirkan melewati bahan untuk melepaskan molekul minyak atsiri. Campuran uap minyak dan air kemudian dialirkan menuju kondensor hingga mengalami proses pengembunan.Hasil kondensasi selanjutnya ditampung dan dipisahkan untuk memperoleh minyak atsiri. Minyak yang diperoleh kemudian diformulasikan menggunakan minyak pembawa seperti virgin coconut oil dengan memperhatikan formulasi yang sesuai untuk penggunaan pada kulit.Setelah proses formulasi selesai, produk dimasukkan ke dalam botol roll-on berukuran 10 ml sehingga lebih praktis, higienis, dan mudah digunakan.Melalui program ini, mahasiswa KKN-PK UNG berupaya menghadirkan model pengabdian yang menghubungkan ilmu pengetahuan, kesehatan, dan pemberdayaan ekonomi masyarakat. Pemanfaatan potensi lokal seperti jeruk nipis diharapkan tidak berhenti sebagai kegiatan selama masa KKN, tetapi dapat terus dikembangkan oleh masyarakat Desa Tolotio. (**)

Lihat Semua Berita