Site Logo

Perkuat Kesiapsiagaan Ibu Hamil Saat Bencana, Mahasiswa KKN Profesi Kesehatan UNG Latih Kader Desa Hutadaa Lewat Program BUMIL TANGGUH

Siaran PersPengabdianUNG Berdampak
Abdul Wahid Rauf
24 Jul 2026
23:59 WITA
243 dilihat
Perkuat Kesiapsiagaan Ibu Hamil Saat Bencana, Mahasiswa KKN Profesi Kesehatan UNG Latih Kader Desa Hutadaa Lewat Program BUMIL TANGGUH

GORONTALO - Dalam mendukung peningkatan kesehatan ibu dan anak kembali diwujudkan melalui aksi nyata mahasiswa di tengah masyarakat, Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Profesi Kesehatan UNG menggelar program BUMIL TANGGUH (Ibu Hamil Tangguh) di Desa Hutadaa, Kabupaten Gorontalo, Jumat (24/7), sebagai upaya memperkuat kesiapsiagaan masyarakat menghadapi kondisi kegawatdaruratan ibu hamil, khususnya saat terjadi bencana.

Mengusung tema “Model Pemberdayaan Kader dan Tenaga Kesehatan Berbasis Buku Panduan Manajemen Kegawatdaruratan Ibu Hamil pada Situasi Bencana untuk Menurunkan Risiko Angka Kematian Ibu dan Anak di Desa Hutadaa”, kegiatan yang dipusatkan di Koperasi Desa Hutadaa ini melibatkan kader kesehatan, tenaga kesehatan, serta masyarakat sebagai mitra utama dalam membangun sistem perlindungan ibu hamil berbasis komunitas.

Program BUMIL TANGGUH dirancang sebagai bentuk pengabdian mahasiswa yang tidak hanya berfokus pada edukasi kesehatan, tetapi juga pada penguatan kapasitas kader sebagai ujung tombak pelayanan kesehatan di tingkat desa. Melalui pelatihan tersebut, para kader dibekali pengetahuan dan keterampilan untuk mengenali tanda bahaya kehamilan, memberikan respons awal terhadap kondisi darurat, serta melakukan koordinasi dan rujukan secara cepat ketika diperlukan.

Koordinator Desa KKN Profesi Kesehatan UNG di Desa Hutadaa menjelaskan bahwa keberadaan kader kesehatan memiliki peran strategis karena menjadi pihak yang paling dekat dengan masyarakat, khususnya ibu hamil dan keluarganya.

"Melalui kegiatan BUMIL TANGGUH, kami berharap kader kesehatan di Desa Hutadaa memiliki kesiapan yang lebih baik dalam mengenali kondisi darurat pada ibu hamil, terutama ketika terjadi bencana. Kader diharapkan mampu memberikan respons awal, membantu edukasi keluarga, serta segera berkoordinasi dengan tenaga kesehatan apabila ditemukan tanda-tanda kegawatdaruratan," ujarnya.

Selain meningkatkan kapasitas kader, kegiatan ini juga memperkenalkan Buku Panduan Manajemen Kegawatdaruratan Ibu Hamil pada Situasi Bencana sebagai acuan praktis dalam melakukan deteksi dini, pendampingan, hingga penanganan awal terhadap ibu hamil yang berada dalam kondisi berisiko.

Dosen Pembimbing Lapangan KKN Profesi Kesehatan UNG menilai bahwa pemberdayaan masyarakat melalui kader kesehatan merupakan strategi penting dalam mendukung percepatan penurunan Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Anak (AKA).

Menurutnya, upaya menjaga keselamatan ibu hamil tidak dapat hanya mengandalkan fasilitas pelayanan kesehatan, tetapi harus diperkuat melalui keterlibatan aktif keluarga, kader, dan masyarakat.

"Pelatihan ini menjadi langkah penting untuk membangun sistem kesiapsiagaan berbasis masyarakat. Dengan adanya buku panduan manajemen kegawatdaruratan ibu hamil pada situasi bencana, kader dan tenaga kesehatan memiliki acuan yang lebih terarah dalam melakukan pendampingan, deteksi dini, hingga koordinasi penanganan. Harapannya, program ini dapat membantu menurunkan risiko Angka Kematian Ibu dan Anak di Desa Hutadaa," jelasnya.

Selama pelatihan, peserta memperoleh materi mengenai manajemen kegawatdaruratan ibu hamil, pengenalan tanda bahaya kehamilan, prosedur respons cepat, pentingnya rujukan tepat waktu, hingga peran keluarga dan kader dalam memberikan pendampingan pada situasi darurat maupun bencana. Kegiatan juga berlangsung interaktif melalui diskusi dan berbagi pengalaman antarkader dalam menghadapi berbagai persoalan kesehatan ibu di lingkungan masing-masing.

Program BUMIL TANGGUH menjadi salah satu implementasi nyata tema KKN Profesi Kesehatan UNG Tahun 2026 yang berfokus pada optimalisasi deteksi dini dan pendampingan kehamilan risiko tinggi sebagai upaya percepatan penurunan AKI dan AKA. Melalui kolaborasi antara mahasiswa, kader kesehatan, tenaga kesehatan, pemerintah desa, dan masyarakat, UNG berharap terbentuk sistem pendampingan ibu hamil yang lebih tanggap, terkoordinasi, dan berkelanjutan.

Ikuti berita lainnya

Pascasarjana UNG Perkuat Integritas Mahasiswa melalui Kuliah Umum Mitigasi Korupsi
08 Sep 2026
06:37 WITA

Pascasarjana UNG Perkuat Integritas Mahasiswa melalui Kuliah Umum Mitigasi Korupsi

Abdul Wahid Rauf

GORONTALO — Membangun institusi pendidikan yang bersih dan berintegritas tidak cukup hanya melalui aturan dan sistem. Kesadaran untuk mencegah korupsi perlu ditanamkan sejak dari lingkungan akademik, termasuk kepada mahasiswa sebagai calon pemimpin dan profesional di masa depan.Komitmen tersebut menjadi perhatian Program Pascasarjana Universitas Negeri Gorontalo (UNG), melalui pelaksanaan kuliah umum bertema “Penguatan Integritas melalui Mitigasi Korupsi dalam Mewujudkan Tata Kelola Institusi Pendidikan yang Bersih, Transparan dan Berintegritas”, Senin (7/9), di Aula Rektorat UNG.Kuliah umum ini diikuti oleh mahasiswa Program Pascasarjana UNG, dengan menghadirkan Asisten Tindak Pidana Khusus Kejaksaan Tinggi Gorontalo, Dr. Ahmad Hajar Zunaidi, S.H., M.H., sebagai pemateri utama.Kegiatan tersebut menjadi bagian dari implementasi kerja sama yang terjalin antara UNG dan Kejaksaan Tinggi Gorontalo, khususnya dalam memperkuat pemahaman mengenai integritas, pencegahan korupsi, serta pentingnya tata kelola yang baik di lingkungan institusi pendidikan.Direktur Pascasarjana UNG, Prof. Dr. Ir. Mahludin Baruwadi, M.P., mengungkapkan bahwa kuliah umum ini, menjadi bagian dari rangkaian awal proses perkuliahan di lingkungan Pascasarjana. Menurutnya, kegiatan tersebut tidak hanya memberikan wawasan tambahan, tetapi juga menjadi sarana untuk membangun pemahaman mahasiswa mengenai nilai-nilai yang harus dijunjung selama menjalani pendidikan.“Ini menjadi bagian dari proses awal perkuliahan di lingkungan Pascasarjana, dengan tujuan memberikan penguatan dan pemahaman kepada mahasiswa dalam mengikuti proses perkuliahan,” ungkap Mahludin.Ia menilai, pembentukan karakter akademik tidak hanya berkaitan dengan kemampuan intelektual, tetapi juga menyangkut integritas, tanggung jawab, serta komitmen untuk menjunjung nilai-nilai kejujuran.Sementara itu, Rektor UNG melalui Wakil Rektor Bidang Keuangan dan Umum, Hidayat Koniyo, menilai tema yang diangkat dalam kuliah umum tersebut, sangat relevan dengan kebutuhan perguruan tinggi saat ini.Menurutnya, penguatan wawasan mengenai pencegahan korupsi penting diberikan kepada mahasiswa, agar mereka memiliki pemahaman yang kuat mengenai pentingnya integritas dalam kehidupan akademik maupun ketika nantinya terjun ke dunia profesional.“Kuliah umum ini sangat penting untuk memperkuat wawasan mahasiswa. Terlebih tema yang diangkat sangat penting dalam upaya pencegahan tindak korupsi, sebagai langkah strategis mewujudkan tata kelola institusi pendidikan yang bersih, transparan dan berintegritas, khususnya di insitusi pendidikan tinggi,” jelas Hidayat.Melalui kegiatan ini, mahasiswa Pascasarjana diharapkan tidak hanya memahami korupsi dari aspek hukum, tetapi juga mampu mengenali berbagai bentuk risiko dan potensi penyimpangan yang dapat muncul dalam pengelolaan institusi.Kolaborasi dengan Kejaksaan Tinggi Gorontalo melalui kegiatan edukatif seperti ini menjadi salah satu langkah nyata, dalam memperkuat tata kelola perguruan tinggi sekaligus menanamkan budaya antikorupsi di lingkungan kampus. (**)

Di Balik Jas Putih Tersimpan Talenta Seni, Mahasiswa Fakultas Kedokteran UNG Tembus Peksiminas XVIII 2026
07 Sep 2026
10:16 WITA

Di Balik Jas Putih Tersimpan Talenta Seni, Mahasiswa Fakultas Kedokteran UNG Tembus Peksiminas XVIII 2026

Abdul Wahid Rauf

GORONTALO – Selama ini mahasiswa Fakultas Kedokteran UNG identik dengan aktivitas akademik yang padat, buku-buku tebal, praktikum, hingga berbagai tuntutan pembelajaran di bidang kesehatan. Namun, anggapan bahwa mahasiswa kedokteran hanya berkutat dengan dunia medis ternyata tidak sepenuhnya benar.Di balik keseriusan mereka menekuni ilmu kedokteran, ternyata tersimpan talenta seni yang tak kalah luar biasa. Hal tersebut dibuktikan oleh tiga mahasiswa Fakultas Kedokteran (FK) UNG, yang berhasil menjadi yang terbaik di tingkat universitas dan berhak mewakili UNG pada Pekan Seni Mahasiswa Nasional (Peksiminas) XVIII Tahun 2026 di Universitas Jember, Jawa Timur.Ketiga mahasiswa tersebut yakni, Alya Zulfah Halada, Sania Wahyuniar Baderan, Fatimah Daniyah. Mereka akan tampil pada tiga tangkai lomba berbeda, yakni penulisan puisi, monolog, dan lukis. Keikutsertaan ini sekaligus menjadi sejarah tersendiri bagi Fakultas Kedokteran UNG, karena untuk pertama kalinya berhasil mengirimkan wakil pada ajang Peksiminas.Prestasi tersebut menjadi semakin istimewa karena Fakultas Kedokteran, merupakan salah satu fakultas yang relatif muda di lingkungan UNG. Meski demikian, usia fakultas ternyata bukan menjadi penghalang bagi mahasiswanya untuk menunjukkan kemampuan di luar bidang akademik.Justru melalui Peksimitas, mahasiswa Fakultas Kedokteran mampu membuktikan bahwa kemampuan soft skill, kreativitas, dan ekspresi seni dapat tumbuh berdampingan dengan kompetensi akademik yang mereka miliki.Keberhasilan tiga mahasiswa Fakultas Kedokteran tampil di Peksiminas tersebut, bahkan menjadi kejutan tersendiri bagi Rektor UNG Prof. Dr. Ir. Eduart Wolok, S.T., M.T. Menurutnya, selama ini mahasiswa Fakultas Kedokteran lebih dikenal dengan karakter akademiknya yang serius. Namun, pencapaian pada Peksimitas menunjukkan adanya sisi lain dari mahasiswa FK yang patut diapresiasi.“Ini sebuah kejutan. Selama ini mahasiswa fakultas kedokteran dikenal sebagai orang yang serius dan kutu buku. Tapi faktanya mereka mampu bersaing di tingkat universitas, kemudian berhasil mewakili UNG di tingkat nasional,” ungkap Eduart.Eduart mengaku bangga melihat mahasiswa UNG, khususnya mahasiswa Fakultas Kedokteran, yang mampu mengembangkan potensi diri melalui bidang seni sekaligus menorehkan prestasi.Menurutnya, keberhasilan tersebut menjadi bukti bahwa mahasiswa tidak hanya dituntut memiliki kemampuan akademik, tetapi juga perlu mengembangkan berbagai potensi dan keterampilan yang dapat mendukung pembentukan karakter serta prestasi mereka.“Ini menunjukkan bahwa mahasiswa kita memiliki soft skill dan mampu berprestasi tidak hanya pada bidang akademik, tetapi juga di bidang seni,” tambahnya.Eduart pun memberikan apresiasi kepada tiga mahasiswa FK yang telah berhasil melewati persaingan di tingkat universitas. Ia berharap kesempatan tampil pada Peksiminas XVIII dapat dimanfaatkan sebaik mungkin untuk memberikan pengalaman sekaligus prestasi terbaik bagi almamater. (**)

Mahasiswa UNG Siap Tampil di Peksiminas XVIII 2026, Bawa Misi Harumkan Gorontalo di Tingkat Nasional
07 Sep 2026
07:23 WITA

Mahasiswa UNG Siap Tampil di Peksiminas XVIII 2026, Bawa Misi Harumkan Gorontalo di Tingkat Nasional

Abdul Wahid Rauf

GORONTALO — Sebanyak 27 mahasiswa Universitas Negeri Gorontalo (UNG) bersiap menunjukkan kemampuan terbaiknya, pada Pekan Seni Mahasiswa Nasional (Peksiminas) XVIII Tahun 2026. Dalam ajang seni mahasiswa tingkat nasional yang mempertemukan talenta-talenta terbaik dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia tersebut, mahasiswa UNG mewakili BPSMI Provinsi Gorontalo akan tampil pada 19 tangkai lomba di Universitas Jember, Jawa Timur.Keikutsertaan ini menjadi momentum penting bagi mahasiswa UNG untuk membawa nama Provinsi Gorontalo sekaligus menunjukkan kualitas dan kreativitas mahasiswa di panggung nasional.Beragam bidang seni akan diikuti oleh kontingen mahasiswa UNG, mulai dari vokalia pop putri dan putra, fotografi, tari, penulisan cerpen, baca puisi putra dan putri, penulisan lakon, keroncong putra dan putri, seriosa putra dan putri, dangdut putra dan putri, komik strip, desain poster, penulisan puisi, monolog, hingga lukis.Rektor UNG Prof. Dr. Ir. Eduart Wolok, S.T., M.T., menyampaikan apresiasi keikutsertaan mahasiswa UNG, menjadi bagian dari Kontingen Provinsi Gorontalo yang akan berlaga pada kompetisi nasional tersebut.Menurutnya, keikutsertaan dalam Peksiminas bukan sekadar kesempatan untuk berkompetisi, tetapi juga menjadi ruang bagi mahasiswa untuk mengembangkan kemampuan, menunjukkan kreativitas, sekaligus mengukir prestasi.“Keikutsertaan mahasiswa UNG dalam ajang nasional ini, merupakan kesempatan untuk menunjukkan kemampuan terbaik sekaligus mengukir prestasi. Kami tentu memberikan apresiasi dan dukungan kepada mahasiswa yang telah terpilih,” ujar Eduart.Ia berharap seluruh peserta mampu tampil percaya diri, dan memberikan penampilan terbaik selama kompetisi. Lebih dari itu, para mahasiswa diharapkan dapat membawa pulang prestasi, yang membanggakan bagi Provinsi Gorontalo dan mengharumkan nama UNG di tingkat nasional.Sementara itu, Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Alumni Prof. Dr. Mohamad Amir Arham, M.E., menjelaskan bahwa, keikutsertaan UNG pada Peksiminas XVIII telah dipersiapkan melalui proses pembinaan yang dilakukan secara bertahap.Persiapan diawali dengan proses seleksi mulai dari tingkat fakultas hingga universitas. Mahasiswa yang terpilih kemudian mendapatkan pembinaan melalui karantina dan pendampingan, yang melibatkan dosen-dosen berkompeten di bidang seni, tari, maupun musik.“Persiapan ini dilakukan untuk mengasah kemampuan teknis, kreativitas, sekaligus membangun kesiapan mental mahasiswa agar mampu tampil maksimal pada kompetisi tingkat nasional,” jelas Amir Arham.Menurutnya, proses pembinaan tersebut menjadi bagian penting untuk memastikan mahasiswa tidak hanya memiliki kemampuan di bidang yang dilombakan, tetapi juga memiliki kesiapan menghadapi persaingan dengan peserta dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia. Dengan persiapan yang telah dilakukan, Amir optimistis kontingen mahasiswa UNG mampu memberikan penampilan terbaik dan bersaing pada 19 tangkai lomba yang diikuti. (**)

Perkenalkan Teknologi Eco-Cooler untuk Masyarakat, Peneliti UNG Hadirkan Solusi Rumah Sejuk Tanpa Listrik Dari Limbah Tongkol Jagung
07 Sep 2026
05:17 WITA

Perkenalkan Teknologi Eco-Cooler untuk Masyarakat, Peneliti UNG Hadirkan Solusi Rumah Sejuk Tanpa Listrik Dari Limbah Tongkol Jagung

Abdul Wahid Rauf

Tongkol jagung yang selama ini lebih banyak berakhir sebagai sisa hasil panen, mulai mendapat kehidupan baru di tangan dosen Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Negeri Gorontalo (UNG).Melalui kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat, tim dosen UNG memperkenalkan eco-cooler, sebuah inovasi modul ventilasi alami berbahan limbah tongkol jagung kepada masyarakat Desa Bongopini, Kecamatan Tilongkabila, Kabupaten Bone Bolango,.Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya hilirisasi hasil penelitian UNG, dengan membawa inovasi yang sebelumnya dikembangkan melalui riset untuk diperkenalkan dan diterapkan secara langsung di tengah masyarakat.Eco-cooler dikembangkan menggunakan campuran semen, pasir, dan limbah tongkol jagung. Modul ini dibuat dalam ukuran 20×20 cm dan 30×30 cm, atau setara dengan ukuran roster yang umum digunakan pada bangunan.Dengan bentuk tersebut, eco-cooler dirancang agar relatif mudah diaplikasikan sebagai bagian dari bangunan. Menariknya, modul ini tidak membutuhkan listrik ataupun perangkat mekanis untuk menjalankan fungsinya.Prinsip kerjanya memanfaatkan aliran udara alami yang melewati modul ventilasi untuk membantu menciptakan kondisi ruang yang lebih sejuk. Berdasarkan hasil pengujian tim peneliti, penggunaan eco-cooler mampu menurunkan suhu ruang dari sekitar 29°C menjadi kisaran 26,6–27,1°C.Temuan tersebut kemudian menjadi pijakan bagi tim untuk membawa inovasi dari ruang penelitian menuju ruang pengabdian, sehingga manfaat riset tidak berhenti pada hasil pengujian, tetapi dapat dipelajari dan dikembangkan bersama masyarakat.Ketua Tim Pengabdian, Dr. Ir. Ernawati, S.T., M.T., bersama lima dosen Arsitektur FT UNG, yakni Rahmat Firdaus Bouty, S.Ars., M.Ars.; Niniek Pratiwi, S.T., M.T.; Nurnaningsih N. Abdul, S.T., M.T.; Syafriani, S.T., M.Ars.; serta Nur Mutmainnah, S.T., M.Ars., memandu langsung proses sosialisasi.Dalam kegiatan tersebut, masyarakat tidak hanya diperkenalkan pada konsep dan manfaat eco-cooler, tetapi juga diajak melihat potensi lain dari limbah pertanian yang tersedia di lingkungan sekitar.Tongkol jagung yang selama ini dipandang sebagai sisa produksi pertanian diperkenalkan sebagai salah satu material yang dapat diolah menjadi bagian dari elemen bangunan. Pendekatan ini mempertemukan dua kebutuhan sekaligus, yakni mengurangi potensi limbah pertanian dan menghadirkan alternatif pendekatan pasif untuk mendukung kenyamanan termal bangunan.Tidak berhenti pada sosialisasi, mahasiswa yang tergabung dalam tim pelaksana turut mendemonstrasikan proses pembuatan modul eco-cooler kepada masyarakat.Keterlibatan mahasiswa menjadi bagian penting dari kegiatan tersebut. Mereka mendapatkan kesempatan untuk menerjemahkan pengetahuan mengenai arsitektur dan material bangunan yang diperoleh di bangku kuliah menjadi solusi yang dapat dijelaskan, dipraktikkan, dan dikembangkan bersama masyarakat.Sebagai persiapan menuju tahapan pelatihan berikutnya, masyarakat Desa Bongopini juga diajak mulai mengumpulkan, menyisihkan, dan mengeringkan tongkol jagung sisa panen. Bahan tersebut nantinya akan digunakan dalam praktik pembuatan eco-cooler.Dengan demikian, masyarakat tidak hanya menjadi penerima informasi, tetapi dipersiapkan untuk memiliki pengalaman langsung dalam mengolah material yang tersedia di lingkungan mereka.Bagi tim UNG, pemanfaatan tongkol jagung dalam eco-cooler menunjukkan bahwa material sederhana yang berada di sekitar masyarakat, dapat memiliki nilai guna baru ketika dipadukan dengan pengetahuan dan inovasi.Lebih dari sekadar menghasilkan sebuah produk, kegiatan ini memperlihatkan bagaimana riset arsitektur dapat bergerak dari laboratorium menuju masyarakat. Pengetahuan mengenai material, ventilasi alami, dan desain bangunan diterjemahkan menjadi inovasi yang dekat dengan kebutuhan dan potensi lokal.Hilirisasi eco-cooler pun menjadi bagian dari upaya UNG untuk memastikan hasil penelitian tidak berhenti sebagai karya akademik, tetapi dapat terus dikembangkan menjadi solusi yang memberi manfaat bagi masyarakat.

Lihat Semua Berita