Site Logo

Perkuat Kesiapsiagaan Ibu Hamil Saat Bencana, Mahasiswa KKN Profesi Kesehatan UNG Latih Kader Desa Hutadaa Lewat Program BUMIL TANGGUH

Siaran PersPengabdianUNG Berdampak
Abdul Wahid Rauf
24 Jul 2026
23:59 WITA
71 dilihat
Perkuat Kesiapsiagaan Ibu Hamil Saat Bencana, Mahasiswa KKN Profesi Kesehatan UNG Latih Kader Desa Hutadaa Lewat Program BUMIL TANGGUH

GORONTALO - Dalam mendukung peningkatan kesehatan ibu dan anak kembali diwujudkan melalui aksi nyata mahasiswa di tengah masyarakat, Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Profesi Kesehatan UNG menggelar program BUMIL TANGGUH (Ibu Hamil Tangguh) di Desa Hutadaa, Kabupaten Gorontalo, Jumat (24/7), sebagai upaya memperkuat kesiapsiagaan masyarakat menghadapi kondisi kegawatdaruratan ibu hamil, khususnya saat terjadi bencana.

Mengusung tema “Model Pemberdayaan Kader dan Tenaga Kesehatan Berbasis Buku Panduan Manajemen Kegawatdaruratan Ibu Hamil pada Situasi Bencana untuk Menurunkan Risiko Angka Kematian Ibu dan Anak di Desa Hutadaa”, kegiatan yang dipusatkan di Koperasi Desa Hutadaa ini melibatkan kader kesehatan, tenaga kesehatan, serta masyarakat sebagai mitra utama dalam membangun sistem perlindungan ibu hamil berbasis komunitas.

Program BUMIL TANGGUH dirancang sebagai bentuk pengabdian mahasiswa yang tidak hanya berfokus pada edukasi kesehatan, tetapi juga pada penguatan kapasitas kader sebagai ujung tombak pelayanan kesehatan di tingkat desa. Melalui pelatihan tersebut, para kader dibekali pengetahuan dan keterampilan untuk mengenali tanda bahaya kehamilan, memberikan respons awal terhadap kondisi darurat, serta melakukan koordinasi dan rujukan secara cepat ketika diperlukan.

Koordinator Desa KKN Profesi Kesehatan UNG di Desa Hutadaa menjelaskan bahwa keberadaan kader kesehatan memiliki peran strategis karena menjadi pihak yang paling dekat dengan masyarakat, khususnya ibu hamil dan keluarganya.

"Melalui kegiatan BUMIL TANGGUH, kami berharap kader kesehatan di Desa Hutadaa memiliki kesiapan yang lebih baik dalam mengenali kondisi darurat pada ibu hamil, terutama ketika terjadi bencana. Kader diharapkan mampu memberikan respons awal, membantu edukasi keluarga, serta segera berkoordinasi dengan tenaga kesehatan apabila ditemukan tanda-tanda kegawatdaruratan," ujarnya.

Selain meningkatkan kapasitas kader, kegiatan ini juga memperkenalkan Buku Panduan Manajemen Kegawatdaruratan Ibu Hamil pada Situasi Bencana sebagai acuan praktis dalam melakukan deteksi dini, pendampingan, hingga penanganan awal terhadap ibu hamil yang berada dalam kondisi berisiko.

Dosen Pembimbing Lapangan KKN Profesi Kesehatan UNG menilai bahwa pemberdayaan masyarakat melalui kader kesehatan merupakan strategi penting dalam mendukung percepatan penurunan Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Anak (AKA).

Menurutnya, upaya menjaga keselamatan ibu hamil tidak dapat hanya mengandalkan fasilitas pelayanan kesehatan, tetapi harus diperkuat melalui keterlibatan aktif keluarga, kader, dan masyarakat.

"Pelatihan ini menjadi langkah penting untuk membangun sistem kesiapsiagaan berbasis masyarakat. Dengan adanya buku panduan manajemen kegawatdaruratan ibu hamil pada situasi bencana, kader dan tenaga kesehatan memiliki acuan yang lebih terarah dalam melakukan pendampingan, deteksi dini, hingga koordinasi penanganan. Harapannya, program ini dapat membantu menurunkan risiko Angka Kematian Ibu dan Anak di Desa Hutadaa," jelasnya.

Selama pelatihan, peserta memperoleh materi mengenai manajemen kegawatdaruratan ibu hamil, pengenalan tanda bahaya kehamilan, prosedur respons cepat, pentingnya rujukan tepat waktu, hingga peran keluarga dan kader dalam memberikan pendampingan pada situasi darurat maupun bencana. Kegiatan juga berlangsung interaktif melalui diskusi dan berbagi pengalaman antarkader dalam menghadapi berbagai persoalan kesehatan ibu di lingkungan masing-masing.

Program BUMIL TANGGUH menjadi salah satu implementasi nyata tema KKN Profesi Kesehatan UNG Tahun 2026 yang berfokus pada optimalisasi deteksi dini dan pendampingan kehamilan risiko tinggi sebagai upaya percepatan penurunan AKI dan AKA. Melalui kolaborasi antara mahasiswa, kader kesehatan, tenaga kesehatan, pemerintah desa, dan masyarakat, UNG berharap terbentuk sistem pendampingan ibu hamil yang lebih tanggap, terkoordinasi, dan berkelanjutan.

Ikuti berita lainnya

Perkuat Mutu Akademik, UNG Siapkan Program Studi Menuju Akreditasi Unggul dan Internasional melalui Kurikulum OBE
24 Jul 2026
00:52 WITA

Perkuat Mutu Akademik, UNG Siapkan Program Studi Menuju Akreditasi Unggul dan Internasional melalui Kurikulum OBE

Abdul Wahid Rauf

GORONTALO – Komitmen memperkuat langkah menuju perguruan tinggi berdaya saing global, melalui penguatan sistem penjaminan mutu akademik terus berupaya dilakukan UNG. Salah satu upaya strategis yang dilakukan adalah menyelenggarakan Workshop dan Pendampingan Penyusunan Kurikulum Outcome Based Education (OBE), bagi program studi yang diproyeksikan meraih Akreditasi Unggul tingkat nasional maupun akreditasi internasional.Kegiatan yang digagas Lembaga Pengembangan Pembelajaran dan Penjaminan Mutu (LPMPP) tersebut, diikuti oleh para pimpinan program studi serta tim pengembang kurikulum dari seluruh fakultas di lingkungan UNG. Workshop menjadi forum penting untuk memperkuat kapasitas program studi dalam menyusun kurikulum, yang berorientasi pada capaian pembelajaran lulusan (learning outcomes) sesuai standar pendidikan tinggi nasional dan internasional.Ketua LPMPP UNG, Prof. Dr. Elya Nusantari, M.Pd., menjelaskan bahwa penyusunan kurikulum berbasis Outcome Based Education (OBE), merupakan salah satu instrumen utama dalam mendukung peningkatan kualitas akademik sekaligus memenuhi indikator akreditasi.Menurutnya, LPMPP berkomitmen memberikan pendampingan secara berkelanjutan kepada seluruh program studi, agar mampu merancang kurikulum yang adaptif terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, kebutuhan dunia kerja, serta tuntutan global."Workshop ini merupakan bagian dari komitmen LPMPP untuk terus mendampingi program studi dalam meningkatkan kualitas akademik. Melalui kurikulum OBE, program studi diharapkan mampu menghasilkan lulusan yang memiliki kompetensi terukur, relevan dengan kebutuhan pengguna lulusan, serta memenuhi standar akreditasi nasional maupun internasional," jelas Elya.Dalam kesempatan tersebut, Wakil Rektor Bidang Akademik UNG, Prof. Dr. Abdul Hafidz Olii, S.Pi., M.Si., menegaskan bahwa transformasi kurikulum menuju pendekatan Outcome Based Education merupakan, langkah strategis dalam meningkatkan mutu pendidikan tinggi di Universitas Negeri Gorontalo.Menurutnya, kurikulum OBE tidak lagi berorientasi pada proses pembelajaran semata, tetapi menitikberatkan pada kompetensi nyata yang harus dimiliki lulusan setelah menyelesaikan pendidikan."Transformasi kurikulum OBE menjadi fondasi penting dalam meningkatkan mutu lulusan dan daya saing program studi. Kurikulum yang dirancang dengan baik akan menghasilkan lulusan yang memiliki kompetensi sesuai kebutuhan masyarakat, dunia usaha, dunia industri, serta mampu bersaing di tingkat nasional maupun global," ujar Hafidz.Ia berharap seluruh program studi dapat memanfaatkan workshop dan pendampingan tersebut untuk segera menyusun sekaligus mengimplementasikan kurikulum OBE yang selaras dengan indikator penilaian Akreditasi Unggul dan berbagai skema akreditasi internasional.Lebih lanjut, Hafidz menekankan bahwa pencapaian akreditasi unggul bukan sekadar memperoleh predikat, melainkan menjadi bagian dari komitmen institusi dalam membangun budaya mutu secara berkelanjutan.Melalui penyusunan kurikulum yang berkualitas, proses pembelajaran yang berorientasi pada capaian lulusan, serta evaluasi yang berkesinambungan, UNG optimistis mampu melahirkan lulusan yang unggul, adaptif, inovatif, dan siap menghadapi tantangan global.

Tekankan Portofolio Berkualitas dan Berintegritas, UNG Bekali 43 Dosen Hadapi Proses Sertifikasi
23 Jul 2026
04:22 WITA

Tekankan Portofolio Berkualitas dan Berintegritas, UNG Bekali 43 Dosen Hadapi Proses Sertifikasi

Abdul Wahid Rauf

GORONTALO – Universitas Negeri Gorontalo (UNG) terus menunjukkan komitmennya dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia melalui penguatan profesionalisme dosen. Komitmen tersebut diwujudkan dengan menyelenggarakan Bimbingan Teknis (BIMTEK) Penyusunan Portofolio bagi Dosen yang Disertifikasi (DYS) Tahun 2026, yang digelar oleh Biro Keuangan, Kerja Sama, dan Umum bekerja sama dengan Bidang Akademik, Rabu (22/7).Kegiatan ini diikuti oleh 43 dosen peserta Sertifikasi Dosen (Serdos) Gelombang I Tahun 2026 yang telah dinyatakan lolos seleksi awal. Melalui bimbingan teknis tersebut, para peserta dibekali pemahaman menyeluruh mengenai penyusunan portofolio agar mampu menghadapi proses sertifikasi secara optimal.Bimtek dibuka secara resmi oleh Wakil Rektor Bidang Akademik, Prof. Dr. Abdul Hafidz Olii, S.Pi., M.Si. Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa sertifikasi dosen bukan sekadar proses administratif tahunan, melainkan bentuk pengakuan negara terhadap profesionalisme dosen dalam menjalankan tridarma perguruan tinggi."Sertifikasi dosen merupakan bentuk pengakuan negara terhadap profesi dosen. Karena itu, seluruh tahapan harus dipersiapkan dengan baik sehingga setiap dosen mampu menunjukkan kompetensi, integritas, dan rekam jejak akademiknya secara objektif melalui portofolio yang disusun," ujarnya.Menurut Hafidz, dari sekitar 60 dosen yang mengikuti tahapan seleksi awal, sebanyak 43 dosen berhasil memenuhi persyaratan untuk mengikuti Sertifikasi Dosen Gelombang I Tahun 2026. Ia berharap seluruh peserta dapat memanfaatkan kegiatan ini sebagai bekal penting dalam menyusun portofolio yang berkualitas dan sesuai dengan ketentuan yang berlaku.Sebagai asesor Sertifikasi Dosen, Hafidz juga berbagi pengalaman mengenai proses penilaian portofolio. Ia menjelaskan bahwa asesor tidak hanya memeriksa kelengkapan dokumen, tetapi juga melakukan verifikasi terhadap berbagai bukti pendukung yang menggambarkan kinerja akademik dosen.Aspek yang dinilai meliputi pelaksanaan pendidikan dan pengajaran, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, publikasi ilmiah, hingga kualitas video pembelajaran yang diunggah oleh peserta sebagai bagian dari instrumen penilaian. Ia mengingatkan seluruh peserta untuk menyusun portofolio secara jujur, objektif, dan sesuai kondisi nyata."Jangan pernah melebih-lebihkan capaian yang dimiliki. Kejujuran dalam mendeskripsikan pengalaman akademik justru menjadi salah satu indikator penting yang akan memberikan nilai positif dalam proses asesmen," tegasnya.Selain sesi motivasi dan penguatan, BIMTEK juga menghadirkan tim pendamping yang memberikan penjelasan teknis mengenai mekanisme pengisian portofolio, penyusunan deskripsi diri, hingga kelengkapan dokumen yang harus dipenuhi dalam sistem Sertifikasi Dosen.Melalui pelaksanaan Bimbingan Teknis ini, Hafidz berharap seluruh peserta Sertifikasi Dosen Gelombang I Tahun 2026 mampu menyusun portofolio yang berkualitas, mencerminkan kompetensi profesional, serta berhasil memperoleh sertifikat pendidik. Keberhasilan tersebut diharapkan semakin memperkuat kualitas dosen UNG dalam melaksanakan pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat, sekaligus mendukung peningkatan mutu pendidikan tinggi yang unggul dan berdaya saing.

UNG Perkuat Tata Kelola Keuangan, Lanjutkan Pemutakhiran Kodefikasi Segmen Akun Belanja BLU
23 Jul 2026
04:04 WITA

UNG Perkuat Tata Kelola Keuangan, Lanjutkan Pemutakhiran Kodefikasi Segmen Akun Belanja BLU

Abdul Wahid Rauf

GORONTALO – Penguatan tata kelola keuangan yang transparan, akuntabel, dan sesuai regulasi, terus dilakukan UNG, yang diwujudkan melalui pelaksanaan kegiatan tindak lanjut Pemutakhiran Kodefikasi Segmen Akun Belanja Badan Layanan Umum (BLU). Kegiatan ini sebagai lanjutan dari Sosialisasi Pemutakhiran Kodefikasi Segmen Akun Belanja yang telah dilaksanakan sebelumnya.Kegiatan ini menjadi langkah strategis UNG, dalam memastikan implementasi perubahan kodefikasi akun belanja berjalan optimal di seluruh unit kerja. Selain sebagai bentuk penyesuaian terhadap rekomendasi Kementerian Keuangan (Kemenkeu) Republik Indonesia, pemutakhiran tersebut juga menjadi bagian dari upaya meningkatkan kualitas tata kelola keuangan universitas secara berkelanjutan.Ketua Tim Kerja Keuangan UNG, Mukmin Dunggio, S.T., M.T., menjelaskan bahwa kegiatan tindak lanjut ini, merupakan bagian dari proses penyempurnaan sistem pengelolaan keuangan yang terus dilakukan universitas.Menurutnya, pemutakhiran kodefikasi segmen akun belanja tidak hanya berfokus pada aspek administratif, tetapi juga menjadi instrumen penting untuk memperkuat sistem pengawasan internal, meningkatkan kepatuhan terhadap regulasi, serta memastikan setiap penggunaan anggaran dapat dipertanggungjawabkan secara transparan dan akuntabel.Sementara itu, Wakil Rektor Bidang Keuangan dan Umum UNG, Dr. Mohamad Hidayat Koniyo, S.T., M.Kom., menegaskan bahwa pemutakhiran kodefikasi segmen akun belanja, merupakan bagian dari komitmen UNG dalam terus menyempurnakan sistem pengelolaan keuangan berbasis prinsip tata kelola yang baik.Menurut Hidayat, proses tersebut merupakan bagian dari tahapan migrasi kode akun yang dilakukan UNG sesuai arahan Kemenkeu, sehingga seluruh proses perencanaan, pelaksanaan, hingga pelaporan anggaran dapat berjalan lebih terstruktur, akurat, dan selaras dengan arahan ."Pemutakhiran kodefikasi akun belanja merupakan kebutuhan penting agar sistem pengelolaan keuangan semakin tertata baik. Dengan penyesuaian ini, seluruh proses administrasi keuangan diharapkan berjalan lebih efektif, efisien, dan sesuai standar yang ditetapkan pemerintah," jelasnya.Hidayat menambahkan bahwa berdasarkan hasil penilaian Kementerian Keuangan, tata kelola keuangan UNG saat ini telah menunjukkan capaian yang baik. Oleh karena itu, berbagai langkah penyempurnaan, termasuk sosialisasi dan implementasi perubahan kodefikasi akun, menjadi upaya menjaga sekaligus meningkatkan kualitas pengelolaan keuangan institusi. (**)

Kunci Kendalikan Diabetes, Peneliti UNG Ungkap Pentingnya Pola Makan dan Aktivitas Fisik
22 Jul 2026
22:45 WITA

Kunci Kendalikan Diabetes, Peneliti UNG Ungkap Pentingnya Pola Makan dan Aktivitas Fisik

Abdul Wahid Rauf

Diabetes Melitus (DM) tipe 2 masih menjadi tantangan besar bagi kesehatan masyarakat di Indonesia. Tidak hanya membebani fisik penderitanya, penyakit ini juga menjadi penyumbang utama tingginya biaya kesehatan nasional. Menanggapi hal tersebut, tim peneliti dari Universitas Negeri Gorontalo (UNG) melakukan studi mendalam untuk menemukan kunci pengendalian kadar gula darah.Penelitian yang dilakukan oleh Nadia Oktaviana Rahman bersama tim ini dilakukan di wilayah kerja Puskesmas Tapa, Kabupaten Bone Bolango. Hasilnya, yang telah dipublikasikan dalam Medic Nutricia: Jurnal Ilmu Kesehatan tahun 2025, mengungkap fakta krusial: pola makan dan aktivitas fisik adalah dua pilar yang tidak bisa dipisahkan dalam menjinakkan diabetes.Riset ini menemukan data yang cukup mengejutkan. Sebanyak 71,2 persen responden penderita diabetes tercatat memiliki kadar gula darah yang tidak terkontrol. Angka ini menjadi alarm bagi layanan kesehatan dasar, terutama di wilayah pedesaan, bahwa penanganan diabetes belum mencapai hasil yang optimal.Setelah ditelusuri lebih lanjut, perilaku harian menjadi pemicu utamanya meliputi, Pola Makan Buruk: Sebanyak 57,5 persen responden memiliki kebiasaan makan yang tidak sehat. Selain itu juga disebabkan paradoks Aktivitas Fisik, dimana hampir separuh responden melakukan aktivitas fisik berat karena tuntutan pekerjaan sebagai petani.“Namun, aktivitas fisik yang berat tidak otomatis menjamin kadar gula darah terkontrol jika tidak diimbangi dengan pola makan sehat dan kepatuhan pengobatan,” ungkap Nadia.Analisis statistik menunjukkan adanya hubungan signifikan antara pola makan dengan kadar gula darah (p = 0,032) serta aktivitas fisik dengan kadar gula darah (p = 0,028). Artinya, penderita diabetes dengan pola makan lebih teratur dan aktivitas fisik yang dikelola dengan baik cenderung memiliki kontrol gula darah yang lebih stabil.“Konsumsi makanan tinggi gula dan lemak, jadwal makan tidak teratur, serta kurangnya pemahaman gizi menjadi faktor utama sulitnya pengendalian diabetes. Di sisi lain, aktivitas fisik yang dilakukan secara berlebihan tanpa istirahat cukup juga berpotensi memperburuk kondisi metabolisme,” ujarnya.Temuan ini sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) poin ke-3, yakni menjamin kehidupan sehat dan mendorong kesejahteraan bagi semua usia. Diabetes melitus tipe 2 merupakan salah satu fokus utama dalam agenda pengendalian Penyakit Tidak Menular (PTM) yang dicanangkan pemerintah melalui program GERMAS dan penguatan layanan primer. Penelitian ini menegaskan pentingnya pendekatan promotif dan preventif, khususnya melalui edukasi pola makan sehat, aktivitas fisik terukur, serta skrining rutin di Puskesmas.“Dengan penguatan peran layanan kesehatan dasar dan peningkatan literasi kesehatan masyarakat, pengendalian diabetes diharapkan dapat menekan risiko komplikasi serius seperti penyakit jantung, gagal ginjal, dan stroke,” terangnya.Penelitian merekomendasikan agar program puskesmas dan pemerintah tidak hanya berfokus pada pemberian obat-obatan. Kunci keberhasilan jangka panjang terletak pada, (1) Edukasi Berkelanjutan: Penyuluhan kesehatan yang menggunakan bahasa sederhana agar mudah dipahami masyarakat dari berbagai tingkat pendidikan. (2) Literasi Gizi: Meningkatkan pemahaman keluarga mengenai jadwal makan dan jenis nutrisi yang aman bagi penderita diabetes. (3) Pendekatan Komunitas: Mendorong perubahan perilaku hidup sehat mulai dari tingkat keluarga.Dengan langkah tersebut, upaya pengendalian diabetes melitus tipe 2 tidak hanya mendukung target nasional kesehatan, tetapi juga berkontribusi langsung pada pencapaian SDGs dan peningkatan kualitas hidup masyarakat Indonesia. (**)

Lihat Semua Berita