Site Logo

Penelitian Mahasiswa UNG Soroti Kemiskinan Multidimensi dalam Novel Tere Liye

Penelitian
Abdul Wahid Rauf
16 May 2026
13:10 WITA
133 dilihat
Penelitian Mahasiswa UNG Soroti Kemiskinan Multidimensi dalam Novel Tere Liye

Kemiskinan sering kali dipahami sebatas keterbatasan ekonomi. Namun, penelitian terbaru dari mahasiswa Fakultas Sastra dan Budaya Universitas Negeri Gorontalo (UNG) menunjukkan bahwa kemiskinan memiliki dimensi yang jauh lebih kompleks. Hal ini terungkap dalam penelitian yang dilakukan oleh Salsabila Talaa, mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, yang mengkaji novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye.

Melalui pendekatan deskriptif kualitatif dan analisis isi, penelitian ini menelusuri bagaimana kemiskinan direpresentasikan dalam novel berdasarkan teori kemiskinan multidimensi yang dikemukakan oleh Robert Chambers. Hasilnya menunjukkan bahwa kemiskinan dalam karya sastra tersebut tidak hanya berkaitan dengan kekurangan materi, tetapi juga menyentuh aspek sosial, fisik, dan psikologis masyarakat.

Salsabila menemukan bahwa novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar menggambarkan lima dimensi kemiskinan sekaligus, yaitu kemiskinan material, kelemahan jasmani, keterisolasian, kerentanan menghadapi situasi darurat, dan ketidakberdayaan. Berbagai dimensi tersebut hadir melalui perjalanan hidup tokoh-tokohnya yang harus menghadapi ketimpangan sosial dan tekanan kehidupan yang tidak mudah.

Salah satu temuan menarik dalam penelitian ini adalah keterkaitan antara kemiskinan dan eksploitasi lingkungan. Novel menggambarkan bagaimana aktivitas pertambangan berdampak pada kehidupan masyarakat lokal, memperburuk kondisi ekonomi mereka, sekaligus menciptakan ketidakadilan sosial yang semakin dalam. Situasi tersebut memperlihatkan bahwa kemiskinan sering kali lahir dari persoalan struktural yang melibatkan relasi kuasa dan pengelolaan sumber daya alam.

Menurut penelitian ini, Tere Liye tidak hanya menghadirkan cerita tentang kehidupan masyarakat kecil, tetapi juga menyampaikan kritik sosial terhadap berbagai bentuk ketimpangan yang masih terjadi di tengah masyarakat. Melalui alur cerita dan konflik yang dibangun, pembaca diajak melihat bahwa kemiskinan merupakan persoalan multidimensi yang tidak dapat diselesaikan hanya melalui pendekatan ekonomi semata.

Penelitian yang dibimbing oleh Dr. Sitti Rachmi Masie, S.Pd., M.Pd., dan Ayu Hidayanti Ali, S.Pd., M.Pd., ini juga menegaskan bahwa karya sastra memiliki fungsi yang lebih luas daripada sekadar hiburan. Novel dapat menjadi ruang refleksi sosial yang membantu masyarakat memahami realitas kehidupan kelompok-kelompok yang terpinggirkan serta berbagai persoalan yang melatarbelakanginya.

Lebih dari itu, hasil penelitian ini dinilai memiliki nilai praktis dalam dunia pendidikan. Temuan mengenai representasi kemiskinan dalam sastra dapat dimanfaatkan sebagai bahan ajar yang mendorong siswa untuk lebih peka terhadap isu-isu sosial, lingkungan, dan kemanusiaan. Melalui pembelajaran sastra, peserta didik tidak hanya mengembangkan kemampuan berbahasa, tetapi juga membangun empati dan kesadaran kritis terhadap berbagai persoalan yang terjadi di sekitarnya.

Penelitian ini menunjukkan bahwa sastra mampu menjadi jendela untuk memahami realitas sosial secara lebih mendalam. Melalui novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar, pembaca diajak menyadari bahwa kemiskinan bukan sekadar persoalan kurangnya pendapatan, melainkan juga berkaitan dengan akses, kesempatan, keadilan, dan hak hidup yang layak bagi setiap warga masyarakat. Dengan demikian, karya sastra hadir sebagai medium penting untuk menyuarakan persoalan kemanusiaan dan mendorong lahirnya kesadaran sosial yang lebih luas. (Artikel penelitian selengkapnya dapat dilihat disini)

Ikuti berita lainnya

Jelang Akhir Tahun, Kepala BKKU UNG Ingatkan Tendik Tuntaskan Target Kinerja
02 Nov 2026
00:45 WITA

Jelang Akhir Tahun, Kepala BKKU UNG Ingatkan Tendik Tuntaskan Target Kinerja

Abdul Wahid Rauf

GORONTALO – Menjelang berakhirnya tahun kerja 2026, Universitas Negeri Gorontalo (UNG) terus mendorong optimalisasi kinerja seluruh tenaga kependidikan (tendik) dalam menuntaskan berbagai program dan tanggung jawab di masing-masing unit kerja.Kepala Biro Keuangan, Kerja Sama, dan Umum (BKKU) UNG, Arief Rachman Hakim Abdul, S.Pd., M.Pd., mengingatkan jajaran tendik, untuk semakin meningkatkan produktivitas dan memastikan seluruh pekerjaan dapat diselesaikan tepat waktu.Menurut Arief, penghujung tahun menjadi momentum penting bagi seluruh pegawai untuk mengevaluasi capaian pekerjaan, sekaligus mempercepat penyelesaian berbagai agenda yang masih berjalan. Hal ini diperlukan agar seluruh program kerja yang telah direncanakan dapat dituntaskan sesuai target dan ketentuan yang berlaku.“Peningkatan kinerja tidak hanya berkaitan dengan kecepatan menyelesaikan pekerjaan, tetapi juga kualitas pelaksanaan tugas, kedisiplinan, serta tanggung jawab setiap pegawai dalam mendukung kelancaran penyelenggaraan layanan universitas,” ujar Arief.Untuk mewujudkan hal tersebut, Arief mengimbau seluruh tendik agar terus memperkuat koordinasi dan komunikasi dengan berbagai pihak, baik di lingkungan unit kerja masing-masing maupun antar unit di tingkat universitas.“Koordinasi yang efektif menjadi kunci dalam mengatasi berbagai kendala pekerjaan, menyelaraskan pelaksanaan program, serta memastikan setiap tugas dapat diselesaikan secara optimal tanpa mengabaikan prosedur dan ketentuan yang berlaku,” terangnya.Arief juga mengingatkan agar seluruh pegawai tetap menjaga semangat kerja, serta tidak menunda penyelesaian tugas yang menjadi tanggung jawabnya. Dengan waktu kerja yang semakin mendekati akhir tahun, setiap unit diharapkan mampu mengoptimalkan pelaksanaan program melalui kerja sama dan pembagian tugas yang terarah.Melalui penguatan kinerja dan sinergi antarseluruh tenaga kependidikan, Arief berharap berbagai program kerja tahun 2026 dapat diselesaikan dengan hasil yang maksimal. Langkah ini sekaligus menjadi fondasi untuk mendukung peningkatan kualitas layanan dan pelaksanaan program universitas pada tahun berikutnya. (**)

Perkuat Kiprah Internasional, Akademisi UNG Ikuti Simposium Perikanan Berkelanjutan dan Blue Transformation di Tiongkok
02 Nov 2026
00:34 WITA

Perkuat Kiprah Internasional, Akademisi UNG Ikuti Simposium Perikanan Berkelanjutan dan Blue Transformation di Tiongkok

Abdul Wahid Rauf

GORONTALO – Kiprah akademisi Universitas Negeri Gorontalo (UNG) di kancah internasional terus menunjukkan perkembangan positif. Kali ini, dosen Fakultas Kelautan dan Teknologi Perikanan (FKTP), Dr. Arfiani Rizki Paramata, S.Pi., M.Si., turut ambil bagian dalam International Symposium on Sustainable Fisheries and Aquaculture and Blue Transformation yang berlangsung dalam rangkaian China Fisheries and Seafood Expo 2026 di Qingdao, Tiongkok.Kegiatan internasional yang berlangsung pada 28–30 Oktober 2026 di Qingdao Hongdao International Convention and Exhibition Center tersebut menjadi ajang pertemuan akademisi, peneliti, praktisi, serta pelaku industri perikanan dari berbagai negara untuk membahas inovasi dan masa depan sektor perikanan dan akuakultur yang berkelanjutan.Keikutsertaan Arfiani dalam forum internasional tersebut menjadi langkah penting dalam memperluas wawasan keilmuan sekaligus memperkuat jejaring akademik global, khususnya dalam menghadapi tantangan pengelolaan sumber daya kelautan dan perikanan.Salah satu isu utama yang menjadi perhatian dalam simposium tersebut adalah konsep Blue Transformation atau transformasi biru, sebuah pendekatan yang mendorong pengembangan sektor perikanan dan akuakultur melalui inovasi teknologi, peningkatan produktivitas, ketahanan pangan, serta pengelolaan sumber daya perairan yang tetap memperhatikan kelestarian lingkungan.Menurut Arfiani, transformasi biru menjadi salah satu pendekatan penting dalam menjawab tantangan pembangunan perikanan global. Konsep tersebut menekankan bahwa peningkatan produksi hasil perikanan perlu berjalan beriringan dengan perlindungan ekosistem serta pemanfaatan sumber daya secara bertanggung jawab.“Melalui pendekatan ini, sektor perikanan diharapkan tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan pangan masyarakat, tetapi juga membuka peluang ekonomi yang lebih luas, meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir, dan mendukung keberlanjutan sumber daya perairan bagi generasi mendatang,” ujarnya.Selain mengikuti simposium, kehadiran Arfiani dalam rangkaian China Fisheries and Seafood Expo juga memberikan kesempatan untuk mengenal berbagai perkembangan industri perikanan dunia. Mulai dari inovasi teknologi budidaya, pengolahan hasil perikanan, pengemasan produk, pengendalian mutu, hingga perkembangan perdagangan produk perikanan di pasar internasional.Berbagai pengetahuan dan pengalaman yang diperoleh dari forum tersebut, diharapkan dapat memberikan kontribusi terhadap pengembangan pendidikan dan penelitian di lingkungan FKTP UNG. Khususnya dalam memperkaya pembelajaran mahasiswa, mendorong inovasi penelitian, serta memperluas perspektif akademik mengenai pengelolaan potensi kelautan dan perikanan yang berkelanjutan.“Partisipasi dalam forum internasional ini juga menjadi peluang bagi akademisi UNG untuk membangun komunikasi, dan membuka kesempatan kolaborasi dengan akademisi maupun praktisi dari berbagai negara,” terangnya.Melalui keikutsertaan dosen pada forum ilmiah berskala internasional, Universitas Negeri Gorontalo terus menunjukkan komitmennya dalam mendorong peningkatan kapasitas dan daya saing akademisi, sekaligus memperkuat kontribusi perguruan tinggi terhadap pengembangan ilmu pengetahuan.Kehadiran Arfiani di Tiongkok diharapkan menjadi salah satu langkah dalam memperluas peran FKTP UNG sebagai institusi pendidikan tinggi yang aktif mendukung inovasi, keberlanjutan lingkungan, dan transformasi sektor kelautan dan perikanan di tingkat nasional maupun global.

Kolaborasi Reels Kampus Berdampak 2026
30 Oct 2026
10:43 WITA

Kolaborasi Reels Kampus Berdampak 2026

Abdul Wahid Rauf

Dalam rangka penyelenggaraan Konferensi Puncak Pendidikan Tinggi Indonesia (KPPTI) 2026 yang diprakarsai oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia dan akan dilaksanakan pada 11–13 November 2026 di Universitas Airlangga, Surabaya, kami mengajak seluruh Perguruan Tinggi Negeri dan Perguruan Tinggi Swasta di Indonesia untuk turut menyemarakkan rangkaian kegiatan KPPTI 2026 melalui publikasi cerita keberdampakan perguruan tinggi.KPPTI 2026 mengusung semangat transformasi pendidikan tinggi menuju keberdampakan, dengan menempatkan perguruan tinggi sebagai pusat lahirnya talenta, riset, teknologi, inovasi, dan solusi yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Semangat tersebut diharapkan tidak hanya hadir dalam rangkaian konferensi, tetapi juga terbangun melalui cerita-cerita nyata mengenai kontribusi perguruan tinggi dari berbagai daerah di Indonesia. Sehubungan dengan hal tersebut, kami mengharapkan partisipasi Bapak/Ibu untuk menyiapkan konten Instagram Reels bertema “Kampus Berdampak” yang menampilkan salah satu praktik baik, program, inovasi, atau inisiatif unggulan dari perguruan tinggi masing-masing yang telah memberikan dampak positif dan nyata bagi masyarakat.Konten dapat mengangkat berbagai bentuk keberdampakan perguruan tinggi, antara lain melalui pendidikan dan pembelajaran, riset dan inovasi, pemanfaatan teknologi, pengabdian kepada masyarakat, pemberdayaan ekonomi dan sosial, penguatan kearifan lokal, maupun bentuk kontribusi lain yang relevan. Penyajian konten diharapkan menonjolkan permasalahan atau kebutuhan yang dijawab, inisiatif yang dilakukan oleh perguruan tinggi, serta dampak nyata yang telah dihasilkan.Informasi Selengkapnya Dapat Dilihat Melalui Tautan Berikut

Lihat Semua Berita