Site Logo

Peneliti UNG Berhasil Mengungkap Potensi Sumber Air Tanah di Wilayah Gorontalo Dari Batu Gamping

Penelitian
Abdul Wahid Rauf
27 Apr 2026
09:34 WITA
307 dilihat
Peneliti UNG Berhasil Mengungkap Potensi Sumber Air Tanah di Wilayah Gorontalo Dari Batu Gamping

Ketersediaan air bersih masih menjadi persoalan klasik di banyak wilayah pesisir Indonesia, termasuk di Kabupaten Bone Bolango, Gorontalo. Di tengah keterbatasan sumber air permukaan, masyarakat setempat masih bergantung pada sumur dangkal yang rentan terhadap kekeringan dan intrusi air laut. Namun, sebuah penelitian terbaru menghadirkan secercah harapan—air ternyata bisa “disimpan” di dalam batuan.

Tim peneliti dari Universitas Negeri Gorontalo mengungkap bahwa batu gamping (limestone) yang banyak ditemukan di kawasan pesisir Gorontalo memiliki potensi besar sebagai reservoir alami air tanah. Studi yang didanai oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Indonesia ini menyoroti satu kunci penting: porositas batuan.

Batu yang Menyimpan Air

Sekilas, batu gamping tampak seperti batu biasa. Namun di dalamnya, terdapat rongga-rongga kecil yang disebut pori. Rongga inilah yang berfungsi sebagai “ruang penyimpanan” air. Semakin banyak dan besar pori yang dimiliki batuan, semakin besar pula kemampuannya menampung air tanah.

Penelitian yang dilakukan di lima desa pesisir—Botubarani, Huangobotu, Biluango, Modelomo, dan Botutonuo—menunjukkan bahwa sebagian besar batu gamping di wilayah tersebut memiliki tingkat porositas sedang hingga tinggi. Bahkan, beberapa sampel menunjukkan porositas lebih dari 30 persen, angka yang tergolong sangat baik untuk penyimpanan air.

Secara sederhana, porositas dapat dibayangkan seperti spons. Semakin berongga spons tersebut, semakin banyak air yang bisa diserap dan disimpan.

Menguji dari Lapangan hingga Laboratorium

Untuk memastikan temuan ini, peneliti tidak hanya mengandalkan pengamatan lapangan, tetapi juga melakukan analisis laboratorium secara detail. Batuan diuji menggunakan metode petrografi—yakni pengamatan struktur batuan di bawah mikroskop—serta uji berat jenis dan daya serap air.

Hasilnya konsisten: batuan dengan kemampuan menyerap air tinggi juga memiliki porositas yang besar. Artinya, semakin “haus” batu tersebut, semakin besar potensinya menjadi penyimpan air tanah.

Jejak Masa Lalu yang Menentukan Masa Depan

Menariknya, kemampuan batu gamping menyimpan air ternyata sangat dipengaruhi oleh proses geologi masa lalu. Peneliti mengidentifikasi empat jenis utama batu gamping di wilayah ini—wackestone, packstone, rudstone, dan boundstone—yang masing-masing memiliki struktur berbeda.

Selain itu, ditemukan pula berbagai tipe pori, mulai dari pori antar kristal hingga rongga bekas fosil. Semua ini merupakan “jejak sejarah” pembentukan batuan yang terjadi jutaan tahun lalu, yang kini justru menjadi kunci ketersediaan air bagi masyarakat.

Desa dengan Potensi Terbaik

Dari seluruh lokasi penelitian, Desa Biluango dan Botutonuo menonjol sebagai wilayah dengan kualitas porositas terbaik. Artinya, kawasan ini memiliki potensi terbesar sebagai sumber cadangan air tanah yang dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan.

Temuan ini penting, terutama bagi wilayah pesisir yang selama ini kesulitan mendapatkan akses air bersih.

Lebih dari Sekadar Sumber Air

Penelitian ini tidak hanya berhenti pada identifikasi potensi. Tim peneliti juga menyusun peta sebaran batu gamping yang dapat digunakan sebagai dasar perencanaan konservasi geologi.

Hal ini krusial, karena batu gamping bukan hanya “gudang air”, tetapi juga bagian penting dari sistem ekologi bawah tanah. Jika dieksploitasi secara berlebihan—misalnya melalui penambangan—maka cadangan air yang tersimpan bisa rusak atau hilang.

Harapan untuk Masa Depan Pesisir

Temuan ini membuka peluang baru dalam pengelolaan sumber daya air di wilayah pesisir Gorontalo. Dengan pendekatan ilmiah, potensi alam yang selama ini tersembunyi dapat dimanfaatkan secara lebih bijak.

Namun, satu hal yang tidak boleh dilupakan: pemanfaatan harus berjalan seiring dengan konservasi. Tanpa pengelolaan yang hati-hati, solusi hari ini bisa menjadi masalah di masa depan.

Pada akhirnya, batu gamping mengajarkan satu hal sederhana—bahwa di balik sesuatu yang tampak keras dan kaku, bisa tersimpan sumber kehidupan yang sangat berharga. Tinggal bagaimana manusia memahami dan menjaganya. (Artikel penelitian ini dipublikasikan melalui laman berikut)

Ikuti berita lainnya

Bukan Formalitas, Rektor UNG Tekankan Program KKN Jadi Ruang Belajar dan Pengabdian Mahasiswa
10 Aug 2026
03:22 WITA

Bukan Formalitas, Rektor UNG Tekankan Program KKN Jadi Ruang Belajar dan Pengabdian Mahasiswa

Abdul Wahid Rauf

GORONTALO – Rektor Universitas Negeri Gorontalo, Prof. Dr. Ir. Eduart Wolok, ST., MT, hadir untuk memberikan pembekalan kepada ribuan mahasiswa UNG, yang akan terjun melakukan program pengabdian kepada masyarakat melalui progarm Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik Tahap II Tahun 2026.Dalam penyampaiannya, Rektor mengajak mahasiswa peserta KKN Tematik Tahap II untuk mengubah cara pandang terhadap KKN. Menurutnya, KKN bukan sekadar kewajiban akademik, tetapi menjadi kesempatan bagi mahasiswa untuk belajar langsung dari masyarakat sekaligus memberikan kontribusi nyata.Dalam arahannya, Rektor meminta mahasiswa memanfaatkan 45 hari masa pengabdian sebagai ruang untuk memahami dinamika kehidupan masyarakat, menimba pengalaman, serta mengimplementasikan ilmu pengetahuan yang diperoleh selama perkuliahan.“Jadikan masa 45 hari ini sebagai momentum untuk belajar langsung dari dinamika masyarakat, menimba ilmu, sekaligus memberikan solusi atas problematika yang dihadapi warga setempat,” pesan Rektor.Menurutnya, pengalaman berinteraksi langsung dengan masyarakat akan memberikan pembelajaran yang tidak selalu diperoleh di ruang kelas. Karena itu, mahasiswa diharapkan mampu melihat berbagai persoalan di lokasi KKN secara objektif, kemudian merancang kontribusi yang sesuai dengan kebutuhan dan potensi masyarakat.Dalam menjalankan program kerja, mahasiswa diminta tetap berpegang pada Tri Dharma Perguruan Tinggi, memahami batas kewenangan, serta aktif berkonsultasi dengan Dosen Pendamping Lapangan (DPL). Setiap program juga harus dirancang dan dilaksanakan berdasarkan kondisi nyata masyarakat, bukan sekadar mengejar penyelesaian kegiatan.“Jangan bekerja sendiri. Jika menghadapi persoalan atau membutuhkan arahan, segera berkoordinasi dengan DPL maupun LPPM. Program yang dijalankan harus tepat sasaran dan sesuai dengan kondisi masyarakat di lokasi KKN,” tegasnya.Lebih dari sekadar menjalankan program, Rektor mengingatkan bahwa setiap mahasiswa KKN merupakan representasi UNG di tengah masyarakat. Sikap dan perilaku mahasiswa selama berada di desa akan turut menentukan bagaimana masyarakat memandang almamater. Karena itu, mahasiswa diminta menjaga etika, tutur kata, perilaku, serta menghormati masyarakat dan kearifan lokal yang berlaku di masing-masing wilayah.“Jaga nama baik almamater. Etika, tutur kata, perilaku, dan kemampuan menghargai masyarakat merupakan bagian penting dari pengabdian. Ingat bahwa selama berada di lokasi KKN, saudara-saudara adalah representasi UNG,” ujarnya.Rektor juga mengingatkan mahasiswa untuk tidak menjadikan KKN sebagai formalitas yang membebani. Sebaliknya, masa pengabdian harus dijalani dengan kegembiraan, semangat, dan rasa tanggung jawab."Jalani KKN dengan penuh tanggung jawab, jaga nama baik almamater, dan manfaatkan kesempatan ini untuk belajar serta memberikan manfaat bagi masyarakat," pesan Rektor.Melalui KKN Tematik Tahap II Tahun 2026, UNG berharap mahasiswa tidak hanya pulang membawa pengalaman menyelesaikan program kerja, tetapi juga membawa pemahaman yang lebih mendalam tentang masyarakat, pengalaman memecahkan persoalan nyata, serta karakter sebagai insan akademis yang peduli terhadap lingkungan dan kehidupan sosial. (**)

Mahasiswa Akuntansi FEB UNG Raih Silver Medal pada 3rd International Student Competition 2026 di Thailand
09 Aug 2026
23:31 WITA

Mahasiswa Akuntansi FEB UNG Raih Silver Medal pada 3rd International Student Competition 2026 di Thailand

Rachmad Hidayah

GORONTALO – Prestasi membanggakan kembali ditorehkan mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Negeri Gorontalo (UNG) di tingkat internasional. Moh. Akbar Ibrahim, mahasiswa Jurusan Akuntansi FEB UNG, berhasil meraih Juara II atau Silver Medal pada ajang 3rd International Student Competition (3rd ISC) 2026 yang berlangsung pada 8 sampai 9 Agustus 2026 di Chiang Mai University, Thailand.Prestasi tersebut diraih melalui karya ilmiah berjudul “TRUST System: Empowering Youth to Build Inclusive and Sustainable Financial Governance.” Sebelumnya, Akbar bersama timnya telah dinyatakan lolos sebagai finalis kompetisi internasional tersebut. Dalam tim, Akbar bertindak sebagai Team Leader, bersama Nafaldin Subula dari Universitas Ichsan Gorontalo dan Nur Ilmi Khair dari Universitas Halu Oleo.3rd International Student Competition 2026 diselenggarakan oleh International Student Community bekerja sama dengan Faculty of Agro-Industry, Chiang Mai University. Kompetisi ini mempertemukan mahasiswa dari enam negara dan mencakup sejumlah rangkaian kegiatan, mulai dari exhibition, penjurian, presentasi final delapan besar, seminar internasional, hingga awarding ceremony.Karya yang diusung tim Akbar menghadirkan TRUST System (Transparent, Reliable, and Unified System for Tracking), sebuah sistem pelaporan keuangan sederhana berbasis Microsoft Excel yang dirancang untuk membantu meningkatkan transparansi, akuntabilitas, dan tata kelola keuangan organisasi mahasiswa.Gagasan tersebut juga diarahkan untuk menjawab kebutuhan organisasi nirlaba skala kecil terhadap sistem pelaporan yang mudah diterapkan serta selaras dengan standar akuntansi non profit di Indonesia, khususnya ISAK 335. Inovasi ini sekaligus membawa isu pemberdayaan generasi muda dalam membangun tata kelola yang baik (good governance) serta mendukung sejumlah tujuan pembangunan berkelanjutan atau SDGs.Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis UNG, Dr. Raflin Hinelo, S.Pd., M.Si., menyampaikan apresiasi atas capaian yang diraih Moh. Akbar Ibrahim. Prestasi tersebut dinilai menunjukkan kemampuan mahasiswa FEB UNG untuk menghasilkan gagasan inovatif sekaligus bersaing dalam kompetisi di tingkat internasional.Raflin juga menilai keterlibatan mahasiswa dalam berbagai kompetisi internasional merupakan bagian penting dari upaya FEB UNG memperkuat kapasitas akademik dan daya saing global mahasiswa.Komitmen tersebut sejalan dengan langkah FEB UNG yang terus mendorong mahasiswa untuk memperluas pengalaman akademik dan membangun kompetensi melalui berbagai kegiatan internasional.Sementara itu, Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan dan Alumni FEB UNG, Dr. Melan Angriani Asnawi, S.Pd., M.Si., turut mengapresiasi prestasi yang diraih Akbar. Menurutnya, capaian mahasiswa dalam kompetisi internasional merupakan bagian dari proses pembinaan kemahasiswaan yang mendorong mahasiswa untuk berani mengembangkan potensi dan berkompetisi di tingkat yang lebih tinggi.Melan menilai prestasi tersebut diharapkan dapat menjadi motivasi bagi mahasiswa FEB UNG lainnya untuk aktif mengikuti kompetisi, mengembangkan kreativitas, serta meningkatkan kemampuan akademik maupun non akademik.Pernyataan tersebut sejalan dengan komitmen bidang kemahasiswaan FEB UNG yang selama ini mendorong mahasiswa untuk mengikuti berbagai kompetisi sebagai bagian dari pengembangan potensi dan daya saing.Dalam kompetisi tersebut, Akbar juga mendapatkan pendampingan dari Hendra Pratama Danial, S.E., M.Ak., dosen Jurusan Akuntansi FEB UNG. Pendampingan dosen menjadi bagian penting dalam mempersiapkan mahasiswa menghadapi kompetisi internasional.Raihan Juara II atau Silver Medal pada 3rd International Student Competition 2026 menjadi tambahan prestasi bagi FEB UNG sekaligus membawa nama Universitas Negeri Gorontalo ke panggung internasional.Capaian ini diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi mahasiswa FEB UNG lainnya untuk terus mengembangkan gagasan, meningkatkan kompetensi, dan berani mengambil kesempatan untuk berkompetisi di tingkat nasional maupun internasional.

1.518 Mahasiswa UNG Turun ke 102 Desa, Bawa Misi Generasi Emas Lewat KKN Tematik
09 Aug 2026
11:11 WITA

1.518 Mahasiswa UNG Turun ke 102 Desa, Bawa Misi Generasi Emas Lewat KKN Tematik

Abdul Wahid Rauf

GORONTALO – Sebanyak 1.518 mahasiswa Universitas Negeri Gorontalo (UNG) kembali diterjunkan ke tengah masyarakat melalui Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik Tahap II Tahun 2026. Mengusung tema “KKN Tematik Generasi Emas: Pencegahan Narkoba, Stunting, dan Penguatan Pangan Keluarga”, program ini diarahkan untuk menghadirkan kontribusi nyata mahasiswa dalam menjawab berbagai persoalan strategis di masyarakat.Sebelum diterjunkan ke lokasi pengabdian, para mahasiswa terlebih dahulu mengikuti coaching dan pelepasan sebagai bagian dari persiapan pelaksanaan KKN. Pembekalan ini menjadi momentum bagi mahasiswa untuk memahami tema, menyusun program kerja, sekaligus mempersiapkan diri menghadapi dinamika kehidupan masyarakat di desa.Kepala Pusat KKN UNG, Dr. Rosbin Pakaya, M.Pd., menjelaskan bahwa KKN Tematik Tahap II tahun ini melibatkan 220 Dosen Pendamping Lapangan (DPL). Para mahasiswa akan disebar ke 102 desa yang berada di Kabupaten Gorontalo, Kabupaten Boalemo, dan Kabupaten Bone Bolango.Menurutnya, keterlibatan mahasiswa dalam tiga isu utama, yakni pencegahan narkoba, penanganan stunting, dan penguatan pangan keluarga, diharapkan mampu memberikan dampak positif bagi masyarakat sekaligus menjadi ruang bagi mahasiswa untuk mengimplementasikan ilmu yang diperoleh selama berada di bangku kuliah.“Melalui tema yang diangkat, mahasiswa diharapkan mampu menjalankan program yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat di masing-masing desa. Pendampingan dari DPL juga menjadi bagian penting agar seluruh kegiatan dapat berjalan secara terarah dan memberikan manfaat,” jelas Rosbin.Sementara itu, Rektor UNG Prof. Dr. Ir. Eduart Wolok, S.T., M.T., mengingatkan mahasiswa agar tidak menjadikan KKN sekadar kewajiban akademik, tetapi sebagai kesempatan untuk belajar sekaligus memberikan solusi atas persoalan yang dihadapi masyarakat.Rektor meminta mahasiswa terlebih dahulu memahami karakteristik, potensi, dan kebutuhan masyarakat di lokasi masing-masing sebelum menjalankan program.“Manfaatkan masa KKN ini dengan sebaik-baiknya untuk memberikan kontribusi yang nyata bagi masyarakat. Pahami tema dan program kerja, kemudian sesuaikan dengan potensi serta kebutuhan masyarakat di masing-masing desa,” pesan Eduart.Menurutnya, keberhasilan KKN tidak hanya diukur dari terlaksananya program kerja, tetapi juga dari sejauh mana mahasiswa mampu membangun hubungan yang baik dan meninggalkan manfaat, yang dapat dilanjutkan masyarakat setelah masa pengabdian berakhir.“Jangan menyikapi KKN sebagai formalitas belaka agar tidak terasa memberatkan. Jalani dengan gembira, penuh semangat, dan rasa tanggung jawab. KKN adalah momentum untuk belajar langsung dari dinamika masyarakat, menimba pengalaman, sekaligus memberikan solusi terhadap persoalan yang ada,” tegasnya.Dengan waktu pengabdian selama 45 hari, ribuan mahasiswa UNG diharapkan mampu menghadirkan berbagai program yang bersentuhan langsung dengan kebutuhan masyarakat. Melalui kolaborasi mahasiswa, DPL, pemerintah desa, dan masyarakat, KKN Tematik Tahap II 2026 diharapkan menjadi bagian dari upaya bersama membangun masyarakat yang lebih sehat, mandiri, dan tangguh menuju terwujudnya Generasi Emas Indonesia.

Warek Bidang Akademik Tegaskan Penguatan Kapasitas Satgas PPKPT, Wujud Nyata UNG Bangun Kampus Bebas Kekerasan
06 Aug 2026
03:38 WITA

Warek Bidang Akademik Tegaskan Penguatan Kapasitas Satgas PPKPT, Wujud Nyata UNG Bangun Kampus Bebas Kekerasan

Abdul Wahid Rauf

GORONTALO — Komitmen Universitas Negeri Gorontalo (UNG) dalam menciptakan lingkungan akademik yang aman kembali ditegaskan. Wakil Rektor Bidang Akademik UNG, Prof. Dr. Abdul Hafidz Olii, S.Pi., M.Si., menyampaikan bahwa pembentukan dan penguatan Satuan Tugas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di Lingkungan Perguruan Tinggi (Satgas PPKPT), merupakan langkah konkret universitas dalam menjalankan amanat Permendikbudristek Nomor 30 Tahun 2021.Menurut Hafidz, dengan jumlah mahasiswa dan tenaga kependidikan yang mencapai puluhan ribu orang, UNG mengemban tanggung jawab besar untuk memastikan seluruh sivitas akademika dapat belajar, bekerja, dan beraktivitas dalam suasana yang aman serta bebas dari segala bentuk kekerasan."Keberadaan Satgas PPKPT bukan sekadar memenuhi regulasi, melainkan bentuk tanggung jawab moral universitas," tegasnya, sembari menambahkan bahwa kampus harus menjadi rumah bersama yang menjunjung tinggi nilai kemanusiaan dan penghormatan terhadap martabat setiap individu.Dalam kesempatan tersebut, Hafidz turut memberikan apresiasi kepada Satgas PPKPT UNG yang selama ini dinilai konsisten bekerja secara profesional, objektif, dan menjunjung tinggi prinsip kerahasiaan dalam setiap proses penanganan laporan.Integritas tinggi yang ditunjukkan Satgas dalam menuntaskan setiap laporan, menurutnya, menjadi fondasi penting bagi tumbuhnya kepercayaan sivitas akademika terhadap sistem perlindungan yang dimiliki universitas.Guna memperkuat kelembagaan Satgas, UNG menggelar Pelatihan Peningkatan Kapasitas Investigasi bagi anggota Satgas PPKPT. Hafidz optimistis, melalui pelatihan ini kapasitas kelembagaan Satgas akan semakin kuat, adaptif, dan responsif dalam menjalankan fungsi pencegahan maupun penanganan kekerasan di lingkungan kampus.“Upaya semacam ini, menjadi bagian dari komitmen berkelanjutan UNG untuk menghadirkan ekosistem pendidikan tinggi yang aman, nyaman, inklusif, serta mendukung terciptanya budaya akademik yang sehat dan bermartabat bagi seluruh sivitas akademika. Satgas PPKPT, Wujud Nyata UNG Bangun Kampus Bebas Kekerasan,” tegasnya. (**)

Lihat Semua Berita