Nyeri Perut Anak Jangan Dianggap Sepele, Berikut Penjelasan Peneliti Fakultas Kedokteran UNG

Melihat anak menangis sambil memegangi perut tentu menimbulkan kecemasan. Sebagian besar sakit perut memang sering kali hanya masalah pencernaan ringan. Namun, penelitian terbaru dari Fakultas Kedokteran Universitas Negeri Gorontalo (UNG) mengingatkan kita bahwa di balik keluhan tersebut, mungkin saja sedang terjadi "kekacauan mekanis" di dalam perut yang membutuhkan penanganan bedah segera.
Memahami anatomi dan bagaimana usus terbentuk sejak dalam kandungan (embriologi) ternyata menjadi kunci utama bagi dokter untuk menyelamatkan nyawa anak. Berikut adalah tiga "aktor utama" kegawatdaruratan perut pada anak yang perlu kita kenali.
Salah satu kondisi yang sering terjadi pada bayi maupun anak kecil yakni Intususepsi,ini merupakan kondisi di mana sebagian usus terlipat masuk kebagian usus selanjutnya. Gejalanya meliputi nyeri perut yang mungkin timbul dan hilang, muntah, kembung, dan tinja berdarah. Kondisi ini dapat mengakibatkan obstruksi intestinum tenue. Kondisi terjadi pada anak yang lebih besar dan kadang-kadang pada orang dewasa.
Selain Intususepsi, kondisi kerap terjadi yakni Volvulus yang merupakan kondisi medis di mana usus terpelintir pada dirinya sendiri. Kondisi ini dapat terjadi pada usia berapa pun. Namun, lebih sering terjadi pada anak-anak dan bayi. Volvulus dapat menyebabkan penyumbatan yang dapat memutus aliran darah, biasanya karena kelainan bawaan yang disebut malrotasi usus; ini dapat terjadi di bagian usus mana pun. Malrotasi usus dapat membuat bayi lebih mungkin mengalami volvulus midgut dan terjadi dalam beberapa minggu pertama kehidupan.
Selain itu juga terdapat kondisi Apendisitis akut, yang merupakan keadaan darurat bedah yang paling umum pada anak-anak dan penyebab utama nyeri perut pada anak. Kondisi ini melibatkan peradangan akut pada apendiks vermiformis dan memerlukan pengenalan dan intervensi segera. Pada setiap anak yang mengalami nyeri perut akut dan tidak memiliki riwayat apendektomi, apendisitis harus tetap menjadi pertimbangan utama dalam diagnosis banding. Secara anatomis, appendix vermivormis paling sering muncul dari dinding posteromedial caecum dan dapat menempati posisi yang bervariasi, misalnya, retrocaecalis atau discendens ke pelvis minor, yang dapat memengaruhi presentasi klinis.
Peneliti FK UNG menyoroti bahwa variasi posisi anatomis inilah yang sering membuat diagnosis menjadi sulit, terutama pada anak kecil yang belum bisa menjelaskan rasa sakitnya secara spesifik. Jika terlambat ditangani, usus buntu bisa pecah (perforasi) dan menyebabkan infeksi luas di rongga perut. Riset dari dosen FK UNG menekankan bahwa dokter serta tenaga medis lainnya tidak boleh hanya bergantung pada algoritma gejala. Dengan memahami mekanisme anatomi secara mendalam, dokter serta tenaga medis lainnya dapat menentukan pemeriksaan yang tepat serta memberikan terapi yang sesuai, baik berupa penanganan nonbedah maupun tindakan operasi.
Bagi masyarakat khususnya orang tua, memahami tanda-tanda awal dari kondisi ini menjadi sangat penting. Anak yang mengalami nyeri perut hebat, muntah berwarna hijau, tinja berdarah, atau tampak sangat lemas sebaiknya segera dibawa ke fasilitas kesehatan untuk mendapatkan pemeriksaan lebih lanjut. Penanganan yang cepat dan tepat dapat mencegah terjadinya komplikasi yang lebih serius.
Nyeri perut pada anak tidak selalu merupakan keluhan ringan, Dalam beberapa kasus keluhan tersebut dapat menjadi sinyal dari kondisi medis yang berbahaya. Oleh karena itu, kewaspadaan orang tua serta pemahaman yang baik mengenai gejala-gejala yang muncul dapat membantu mempercepat proses diagnosis dan penanganan. Dengan demikian, risiko komplikasi dapat diminimalkan dan kesehatan anak dapat terjaga dengan lebih baik. (**)





