Site Logo

Buah Mangrove Jadi Pengawet Alami, Inovasi UNG untuk Menjaga Mutu Ikan Cakalang

PenelitianSiaran PersUNG Berdampak
Abdul Wahid Rauf
05 Oct 2026
00:32 WITA
29 dilihat
Buah Mangrove Jadi Pengawet Alami, Inovasi UNG untuk Menjaga Mutu Ikan Cakalang

Mangrove selama ini dikenal sebagai benteng alami yang melindungi kawasan pesisir dari abrasi sekaligus menjadi habitat berbagai biota laut. Namun, di balik fungsi ekologisnya, tanaman mangrove ternyata menyimpan potensi lain yang menarik untuk dikembangkan, khususnya dalam pengolahan hasil perikanan.

Potensi tersebut terungkap melalui penelitian yang dilakukan oleh Risky S. Maulanan, Lukman Mile, dan Fernandy M. Djailani dari Departemen Teknologi Hasil Perikanan, Fakultas Kelautan dan Teknologi Perikanan (FKTP), Universitas Negeri Gorontalo. Penelitian mereka mengkaji pemanfaatan buah mangrove Rhizophora mucronata sebagai bahan pengawet alami untuk menjaga kualitas fillet ikan cakalang (Katsuwonus pelamis).

Penelitian yang diterbitkan dalam Applied Environmental Science Vol. 2 No. 2 Tahun 2025 tersebut berjudul “Effectiveness of Water Extract of Mangrove Fruit Flour (Rhizophora mucronata) as a Natural Preservative in Skipjack Fish Fillets (Katsuwonus pelamis)”.

Dari Hutan Mangrove ke Teknologi Pengawetan Ikan

Gagasan penelitian ini berangkat dari dua potensi yang dimiliki Gorontalo, yakni kekayaan ekosistem mangrove dan besarnya potensi perikanan tangkap, terutama ikan cakalang.

Ikan cakalang merupakan salah satu komoditas perikanan yang bernilai ekonomi, tetapi seperti produk ikan segar lainnya, kualitasnya relatif mudah mengalami penurunan. Aktivitas mikroorganisme menjadi salah satu faktor yang dapat mempercepat kerusakan ikan sehingga diperlukan teknologi penanganan pascapanen yang mampu mempertahankan mutu produk.

Di sisi lain, buah Rhizophora mucronata diketahui mengandung sejumlah senyawa bioaktif. Para peneliti kemudian mengeksplorasi kemungkinan pemanfaatannya sebagai sumber bahan pengawet alami.

Dalam penelitian tersebut, buah mangrove dikeringkan dan diolah menjadi tepung. Tepung kemudian diekstraksi menggunakan air melalui proses pemanasan pada suhu 70°C selama 30 menit. Ekstrak yang dihasilkan selanjutnya digunakan untuk merendam fillet ikan cakalang.

Peneliti menguji beberapa lama waktu perendaman, yakni 10, 12, dan 14 jam. Kualitas ikan kemudian diamati melalui sejumlah parameter, antara lain penilaian organoleptik, pH, serta Total Plate Count (TPC) untuk mengetahui jumlah mikroorganisme yang terdapat pada ikan setelah perlakuan.

Senyawa Alami yang Menahan Pertumbuhan Bakteri

Hasil uji fitokimia memberikan petunjuk penting. Ekstrak tepung buah Rhizophora mucronata diketahui mengandung alkaloid dan triterpenoid.

Kedua kelompok senyawa tersebut dikaitkan dengan aktivitas antibakteri sehingga berpotensi membantu menghambat pertumbuhan bakteri pembusuk pada bahan pangan. Temuan inilah yang menjadi salah satu dasar pemanfaatan ekstrak buah mangrove sebagai bahan pengawet alami pada fillet ikan cakalang.

Salah satu indikator yang menarik terlihat dari hasil pengujian TPC. Pada ikan yang tidak mendapatkan perlakuan perendaman, nilai TPC tercatat sekitar 27,09 × 10³. Setelah direndam selama 10 jam, nilainya turun menjadi 15,39 × 10³.

Penurunan lebih lanjut terlihat pada perendaman selama 12 jam, dengan nilai TPC mencapai 8,38 × 10³. Sementara itu, pada perendaman selama 14 jam, nilai TPC tercatat 10,82 × 10³.

Data tersebut menunjukkan adanya kemampuan ekstrak buah mangrove dalam menahan pertumbuhan bakteri. Nilai TPC terendah dalam penelitian justru ditemukan pada perlakuan perendaman selama 12 jam.

Tidak Hanya Bakteri, Mutu Ikan Juga Diamati

Pengawetan bahan pangan tentu tidak hanya berbicara mengenai jumlah bakteri. Karakteristik yang dapat dilihat dan dirasakan konsumen juga menjadi bagian penting dalam menentukan kualitas produk. Karena itu, penelitian turut mengamati penampakan, aroma, dan tekstur fillet ikan.

Pada parameter aroma, ikan yang mendapat perlakuan perendaman masih menunjukkan karakteristik aroma yang relatif segar. Peneliti mengaitkan kondisi tersebut dengan keberadaan senyawa antibakteri dalam ekstrak mangrove yang dapat membantu menghambat aktivitas mikroorganisme penyebab penurunan mutu.

Namun, lama perendaman tetap perlu diperhatikan. Pada parameter tekstur, terjadi perubahan antara ikan tanpa perlakuan dan ikan yang direndam selama 10, 12, maupun 14 jam. Hal ini menunjukkan bahwa penggunaan ekstrak alami sebagai bahan pengawet tetap membutuhkan pengaturan waktu yang tepat agar efektivitas pengawetan tidak mengorbankan karakteristik fisik produk.

Sementara itu, hasil pengukuran pH berada pada kisaran 5,46–6,04 dan menunjukkan kecenderungan menurun seiring bertambahnya lama perendaman. Dalam penelitian tersebut, seluruh perlakuan berada pada kondisi asam.

Menjaga Ikan, Memanfaatkan Potensi Lokal

Temuan penelitian ini menarik bukan semata-mata karena buah mangrove dapat digunakan untuk membantu menghambat pertumbuhan bakteri. Lebih jauh, penelitian tersebut memperlihatkan bagaimana sumber daya lokal dapat dihubungkan dengan kebutuhan teknologi pengolahan hasil perikanan.

Gorontalo memiliki kawasan mangrove sekaligus potensi perikanan tangkap yang besar. Menghubungkan kedua sumber daya tersebut melalui penelitian membuka peluang lahirnya inovasi yang berbasis pada kekayaan lokal.

Pemanfaatan bahan alami juga dapat menjadi salah satu arah pengembangan teknologi pengawetan yang lebih berkelanjutan. Namun, penerapannya tentu tetap membutuhkan kajian lanjutan untuk menentukan formulasi, konsentrasi, waktu perendaman, keamanan pangan, serta karakteristik produk yang paling sesuai.

Dalam artikel penelitian tersebut, perendaman selama 10 jam disebut sebagai waktu optimal berdasarkan indikator kualitas organoleptik, aroma, dan tekstur. Sementara hasil pengujian TPC menunjukkan bahwa ekstrak tetap memiliki kemampuan menahan pertumbuhan bakteri hingga periode perendaman yang lebih panjang.

Pada bagian kesimpulan, penelitian juga menunjukkan bahwa ekstrak buah Rhizophora mucronata dapat memberikan daya tahan hingga 14 jam berdasarkan parameter aroma. Namun, perubahan penampakan dan tekstur tetap perlu diperhatikan karena berkaitan dengan proses oksidasi kimia.

Dari Konservasi ke Inovasi

Penelitian yang dilakukan para akademisi FKTP UNG ini memberikan gambaran bahwa mangrove tidak hanya penting untuk dipertahankan karena fungsi ekologisnya. Potensi sumber daya yang terkandung di dalamnya juga dapat menjadi objek penelitian untuk menghasilkan inovasi yang bermanfaat bagi masyarakat.

Pemanfaatan buah mangrove sebagai bahan pengawet alami mempertemukan dua kepentingan sekaligus: menjaga kualitas hasil perikanan dan mengeksplorasi potensi sumber daya lokal secara lebih bijaksana.

Bagi Gorontalo, pendekatan semacam ini membuka ruang pengembangan teknologi pascapanen yang tidak hanya berorientasi pada peningkatan kualitas produk, tetapi juga pada pemanfaatan kekayaan hayati daerah.

Pada akhirnya, penelitian ini mengingatkan bahwa inovasi tidak selalu harus datang dari bahan atau teknologi yang jauh dari lingkungan sekitar. Di kawasan pesisir Gorontalo, salah satu jawabannya mungkin justru tumbuh di antara akar-akar mangrove—menunggu untuk diteliti, dikembangkan, dan dimanfaatkan secara berkelanjutan.

Artikel Penelitian Dipublikasikan Melalui Tautan Berikut

Ikuti berita lainnya

Sirup Sorgum Manis, Dari Batang Tanaman Menjadi Pemanis Fungsional untuk Pangan Berkelanjutan
05 Oct 2026
01:13 WITA

Sirup Sorgum Manis, Dari Batang Tanaman Menjadi Pemanis Fungsional untuk Pangan Berkelanjutan

Abdul Wahid Rauf

GORONTALO – Batang sorgum manis ternyata menyimpan potensi lebih dari sekadar bagian tanaman. Melalui kajian ilmiah, peneliti Universitas Negeri Gorontalo (UNG) bersama peneliti dari sejumlah institusi mengungkap peluang pemanfaatan batang sorgum menjadi sirup alami yang tidak hanya berfungsi sebagai pemanis, tetapi juga berpotensi dikembangkan sebagai bahan fungsional dalam berbagai produk pangan.Potensi tersebut dibahas dalam artikel review berjudul Sweet sorghum (Sorghum bicolor var. saccharatum (L.) Mohlenbr.) syrup: sustainable food upcycling and functional enhancement in animal products yang diterbitkan dalam Discover Food Volume 5 Tahun 2025.Dalam kajian tersebut, Agus Bahar Rachman dan Eduart Wolok dari Universitas Negeri Gorontalo turut berkontribusi bersama peneliti dari sejumlah institusi lainnya. Artikel ini merangkum berbagai hasil penelitian mengenai sirup sorgum manis, mulai dari proses produksi, komposisi nutrisi dan senyawa fenolik, hingga pemanfaatannya dalam pengembangan produk pangan berbasis susu, daging, maupun bakery.Kajian ini sekaligus menempatkan pemanfaatan sirup sorgum dalam perspektif food upcycling, yaitu upaya meningkatkan nilai guna suatu sumber daya pangan melalui pengolahan menjadi produk yang memiliki nilai tambah. Dalam konteks sorgum manis, batang tanaman yang mengandung sari manis dapat diekstraksi, dijernihkan, kemudian melalui proses evaporasi untuk menghasilkan sirup.Pemanfaatan tersebut membuka peluang pengembangan produk pangan berbasis hasil pertanian sekaligus mendukung pendekatan yang lebih berkelanjutan dalam pemanfaatan sumber daya.Tidak Hanya Menghasilkan Rasa ManisMenariknya, sirup sorgum tidak hanya memiliki kandungan gula yang memberikan rasa manis. Berdasarkan berbagai penelitian yang dirangkum dalam kajian, sirup sorgum mengandung karbohidrat, protein, mineral, serta sejumlah senyawa fenolik.Kandungan tersebut dapat berbeda bergantung pada varietas sorgum, kondisi lingkungan, dan proses pengolahan. Sirup sorgum juga mengandung glukosa, fruktosa, dan sukrosa, dengan tingkat kemanisan yang dilaporkan sekitar 66–88 persen dibandingkan sukrosa.Salah satu aspek yang mendapat perhatian adalah keberadaan senyawa fenolik, antara lain asam ferulat, asam kafeat, p-kumarat, dan sinapat. Berbagai senyawa tersebut menjadi bagian dari karakter sirup sorgum yang menarik untuk dikaji lebih lanjut karena berkaitan dengan potensi aktivitas antioksidan dan fungsi tambahan dalam produk pangan.Berpeluang Dikembangkan pada Beragam Produk PanganKajian yang dilakukan menunjukkan bahwa sirup sorgum telah diteliti dalam berbagai formulasi pangan. Pada produk berbasis daging, misalnya, penggunaan sirup sorgum pada sosis dilaporkan dapat membantu memperlambat oksidasi lipid selama penyimpanan. Komponen sirup juga berpotensi berinteraksi dengan protein dan memengaruhi sifat gel serta tekstur produk.Sementara itu, pada produk berbasis susu, sirup sorgum telah dikaji dalam pengembangan soft ice cream. Hasil penelitian yang dirangkum menunjukkan bahwa produk hasil reaksi Maillard dapat memengaruhi karakter fisik dan kimia es krim, termasuk tekstur dan kapasitas antioksidannya.Potensi serupa juga terlihat pada produk bakery. Salah satu penelitian yang dirangkum menunjukkan bahwa penggunaan hingga 20 persen sirup sorgum sebagai pengganti gula dalam pembuatan kue masih mampu mempertahankan tinggi, volume, dan tekstur produk. Hasil pengujian sensori juga tidak menunjukkan perbedaan rasa yang signifikan dibandingkan kue berbahan gula biasa.Selain itu, sirup sorgum telah dikaji dalam berbagai produk lain, seperti kukis, biskuit, roti manis, permen, dan toffee. Temuan tersebut memperlihatkan luasnya peluang pengembangan sirup sorgum dalam inovasi formulasi pangan.Pentingnya Pengendalian Proses PengolahanMeskipun menawarkan berbagai peluang, kajian tersebut juga menekankan pentingnya pengendalian selama proses pengolahan, terutama terkait reaksi Maillard.Reaksi antara gula dan protein selama pemanasan berperan dalam pembentukan warna, aroma, dan cita rasa makanan. Dalam kondisi yang terkendali, reaksi tersebut dapat memberikan karakter yang diinginkan pada produk. Namun, pemanasan yang berlebihan berpotensi menghasilkan senyawa yang tidak diinginkan.Karena itu, pengaturan suhu dan waktu pemrosesan menjadi aspek penting dalam pengembangan produk pangan berbasis sirup sorgum.Memperkuat Pemanfaatan Sumber Daya PertanianKontribusi Agus Bahar Rachman dan Eduart Wolok bersama peneliti lainnya dalam kajian tersebut memperkaya pembahasan mengenai peluang pemanfaatan sorgum manis sebagai bahan pangan bernilai tambah.Kajian ini menunjukkan bahwa pemanfaatan sorgum dapat diarahkan tidak hanya pada hasil bijinya, tetapi juga pada bagian batang melalui pengolahan menjadi sirup. Pendekatan tersebut sejalan dengan upaya mengoptimalkan sumber daya pertanian sekaligus mendorong inovasi produk pangan yang lebih berkelanjutan.Bagi pengembangan pangan berbasis bahan lokal, sirup sorgum memiliki peluang untuk terus dikaji, terutama dalam menentukan formulasi, kondisi pengolahan, serta karakteristik produk yang paling sesuai.Melalui kajian tersebut, sorgum manis menunjukkan potensi sebagai salah satu sumber bahan pangan alternatif yang dapat dikembangkan lebih jauh. Dari batang tanaman yang sederhana, terbuka peluang menghadirkan produk pemanis sekaligus bahan fungsional yang dapat digunakan dalam berbagai inovasi pangan.Kontribusi peneliti UNG dalam kajian tersebut menjadi bagian dari upaya memperluas pemanfaatan hasil penelitian untuk mendukung inovasi pangan, peningkatan nilai tambah sumber daya pertanian, serta pengembangan pangan yang lebih berkelanjutan.Artikel Penelitian Dipublikaskan Melalui Laman Berikut

UNG Laksanakan Uji Publik Pedoman Akademik, Serap Masukan untuk Perkuat Tata Kelola Akademik
29 Sep 2026
09:34 WITA

UNG Laksanakan Uji Publik Pedoman Akademik, Serap Masukan untuk Perkuat Tata Kelola Akademik

Abdul Wahid Rauf

GORONTALO — Universitas Negeri Gorontalo (UNG) terus memperkuat tata kelola akademik melalui penyempurnaan pedoman, yang menjadi acuan penyelenggaraan kegiatan akademik di lingkungan kampus. Langkah tersebut dilakukan melalui uji publik Draf Pedoman Akademik 2026 yang dilaksanakan secara daring dan luring, Selasa (29/9).Uji publik yang dipimpin langsung Wakil Rektor Bidang Akademik UNG, Prof. Dr. Abdul Hafidz Olii, M.Si., tersebut melibatkan berbagai unsur civitas akademika, mulai dari pimpinan jurusan, program studi, penjamin mutu fakultas, hingga Gugus Penjamin Mutu Program Studi. Keterlibatan berbagai unsur tersebut menjadi ruang untuk memastikan, pedoman yang disusun dapat mengakomodasi kebutuhan akademik secara lebih komprehensif.Wakil Rektor Bidang Akademik UNG, Prof. Dr. Abdul Hafidz Olii, M.Si., menjelaskan, penyusunan Draf Pedoman Akademik 2026 merupakan bagian dari upaya UNG, untuk menyempurnakan sekaligus memperkuat tata kelola kegiatan akademik di lingkungan kampus kerakyatan UNG.“Pedoman tersebut nantinya diharapkan dapat memberikan acuan yang lebih jelas, terarah, dan terukur bagi pelaksanaan berbagai aktivitas akademik,” ujar Hafidz.Menurutnya, uji publik memiliki posisi penting dalam proses penyusunan pedoman karena menjadi ruang untuk menghimpun berbagai masukan, kritik, maupun saran konstruktif dari pihak-pihak yang terlibat langsung dalam penyelenggaraan akademik. Berbagai perspektif tersebut diperlukan agar aturan yang disusun tidak hanya bersifat normatif, tetapi juga relevan dengan kebutuhan pelaksanaan akademik di lapangan.“Sebelum ditetapkan dan disahkan secara resmi, substansi dalam pedoman akademik perlu melalui proses penyempurnaan secara menyeluruh. Karena itu, berbagai masukan menjadi bagian penting, untuk mengidentifikasi hal-hal yang masih perlu diperbaiki maupun diperjelas dalam draf pedoman,” terangnya.Melalui proses uji publik ini, UNG menunjukkan komitmennya untuk membangun tata kelola akademik secara partisipatif. Pedoman Akademik 2026 diharapkan nantinya tidak hanya menjadi dokumen administratif, tetapi menjadi instrumen yang mampu memberikan arah yang seragam, menyempurnakan mekanisme penyelenggaraan akademik, serta mendukung peningkatan mutu pendidikan di seluruh lingkungan UNG. (**)

Alat Deteksi Kualitas Air dan Objek Dipasang di Laut Botubarani, Dukung Keselamatan Wisatawan dan Prediksi Kemunculan Hiu Paus
26 Sep 2026
01:13 WITA

Alat Deteksi Kualitas Air dan Objek Dipasang di Laut Botubarani, Dukung Keselamatan Wisatawan dan Prediksi Kemunculan Hiu Paus

Abdul Wahid Rauf

GORONTALO - Alat deteksi kualitas air dan alat deteksi objek mulai dipasang di kawasan perairan Botubarani, Kabupaten Bone Bolango, pada hari Rabu 23 September 2026, sebagai bagian dari kegiatan riset yang didanai melalui skema RIIM BRIN-LPDP (multiyears) dengan melibatkan mitra Dinas Pariwisata, Pemuda dan Olahraga (Disparpora) Kabupaten Bone Bolango.Pemasangan kedua perangkat tersebut ditujukan untuk menghasilkan data kondisi perairan secara berkelanjutan selama satu tahun. Data yang dikumpulkan dalam bentuk time series diharapkan dapat memberikan informasi mengenai kondisi lingkungan laut sekaligus mendukung pengelolaan aktivitas wisata bahari di kawasan Botubarani, khususnya wisata interaksi dengan hiu paus.Salah satu manfaat utama riset ini adalah membantu wisatawan maupun pengelola wisata dalam mengambil keputusan terkait aktivitas snorkeling dan diving bersama hiu paus. Informasi mengenai kondisi kualitas air dan keberadaan objek di perairan dapat menjadi salah satu bahan pertimbangan sebelum wisatawan melakukan aktivitas di laut.Selain untuk mendukung aktivitas wisata, data yang dihasilkan perangkat tersebut memiliki potensi pemanfaatan yang lebih luas. Rekaman kondisi perairan selama satu tahun dapat digunakan untuk mempelajari pola kemunculan hiu paus serta berbagai organisme laut lainnya.Data tersebut juga diharapkan dapat membantu mengidentifikasi pola kemunculan ubur-ubur yang pada kondisi tertentu dapat mengganggu kenyamanan wisatawan karena menyebabkan rasa gatal pada kulit. Kemunculan organisme laut tersebut berkaitan dengan kondisi lingkungan perairan yang mendukung siklus hidupnya. Dengan tersedianya data kualitas air secara berkala, pola hubungan antara kondisi perairan dan kemunculan organisme tersebut dapat dipelajari lebih lanjut.Tidak hanya aspek biota laut, sistem deteksi ini juga berpotensi menghasilkan informasi mengenai aktivitas manusia di kawasan perairan Botubarani. Data yang terkumpul dapat digunakan untuk mengidentifikasi keberadaan atau tingkat kemunculan sampah plastik, material yang berasal dari aktivitas pertanian, kepadatan perahu wisatawan, aktivitas pengunjung, serta kemunculan berbagai hewan laut lainnya.Tim peneliti UNG, Dr. Mohamad Hidayat Koniyo, ST.MT., mengungkapkan teknologi deteksi objek memungkinkan berbagai objek dan aktivitas yang terlihat di perairan, untuk direkam dan diolah menjadi dataset.“Berdasarkan deteksi objek, seperti warna air laut, binatang yang bergerak dan terlihat, aktivitas wisatawan, dan lainnya, akan menghasilkan dataset yang bisa dikembangkan untuk penelitian klasifikasi hingga prediksi,” ujar Hidayat.Ia menjelaskan, dataset yang dikumpulkan secara terus-menerus menjadi bagian penting dalam pengembangan penelitian berbasis data. Dengan tersedianya rekaman selama satu tahun, peneliti dapat menganalisis pola perubahan kondisi perairan dan objek yang terdeteksi dari waktu ke waktu."Melalui pengembangan lebih lanjut, data tersebut dapat diarahkan untuk membangun model klasifikasi maupun prediksi, termasuk mempelajari hubungan antara kondisi lingkungan laut dengan kemunculan hiu paus, ubur-ubur, maupun objek dan aktivitas lain di kawasan perairan Botubarani," terangnya.Riset ini sekaligus diharapkan dapat memberikan basis data bagi pengelolaan wisata bahari yang lebih informatif. Data yang dihasilkan tidak hanya berguna untuk kepentingan penelitian, tetapi juga berpotensi menjadi bahan pendukung bagi pengelola dan pemangku kepentingan dalam memantau kondisi perairan serta aktivitas wisata di Botubarani.

Akademisi UNG Ambil Peran di Forum Nasional, Perkuat Arah Pendidikan Vokasi Teknik Elektro
25 Sep 2026
09:48 WITA

Akademisi UNG Ambil Peran di Forum Nasional, Perkuat Arah Pendidikan Vokasi Teknik Elektro

Abdul Wahid Rauf

GORONTALO – Universitas Negeri Gorontalo (UNG) turut mengambil bagian, dalam penguatan pendidikan vokasi rumpun Teknik Elektro di tingkat nasional. Keterlibatan tersebut diwujudkan melalui keikutsertaan akademisi UNG, Ervan Hasan Harun, S.T., M.T., yang juga Pengurus FORTEI Nasional sekaligus Anggota Divisi Forkom Vokasi – Direktorat Pengembangan Society, Forkom PTS dan Forkom Vokasi.Keterlibatan ini dalam rangkaian Musyawarah Nasional (Munas) FORTEI dan FORTEI-ICEE (International Conference on Electrical Engineering) 2026 di Universitas Hasanuddin, Makassar, 24–26 September 2026.Tidak sekadar menghadiri forum nasional, Ervan juga terlibat sebagai kontributor dalam penyusunan dan pembahasan sejumlah panduan pengembangan pendidikan Sarjana Terapan pada rumpun Teknik Elektro. Kontribusi tersebut menjadi bagian dari upaya FORTEI memperkuat penyelenggaraan pendidikan vokasi, agar semakin selaras dengan kebutuhan dunia kerja, dunia usaha, dan dunia industri (DUDI).Tiga dokumen panduan yang menjadi bagian dari kontribusi tersebut meliputi Panduan Kurikulum Vokasi (Sarjana Terapan) Rumpun Teknik Elektro, Panduan Magang di Dunia Usaha dan Dunia Industri (DUDI) bagi Mahasiswa Sarjana Terapan, serta Panduan Capstone Project. Ketiga panduan tersebut menjadi bagian penting, dalam mendorong pengembangan pembelajaran vokasi yang lebih dekat dengan kebutuhan kompetensi di lapangan.Menurut Ervan, salah satu agenda penting dalam forum tersebut adalah pemaparan Panduan Kurikulum Vokasi Rumpun Teknik Elektro. Dalam kesempatan tersebut, Ia turut mempresentasikan substansi panduan sebagai bagian dari pembahasan, sekaligus penguatan rekomendasi FORTEI terkait pengembangan pendidikan Sarjana Terapan bidang Teknik Elektro.“Panduan kurikulum tersebut diarahkan untuk menjadi rujukan bersama, bagi program studi Sarjana Terapan dalam mengembangkan kurikulum yang memiliki karakteristik pendidikan vokasi,” ujarnya.Selain memperkuat keterkaitan pembelajaran dengan kebutuhan DUDI, pengembangan kurikulum juga diarahkan agar tetap responsif terhadap perkembangan teknologi dan kebutuhan kompetensi tenaga kerja di bidang Teknik Elektro.Bagi Ervan, keterlibatan akademisi UNG dalam forum tersebut memiliki relevansi strategis, terhadap pengembangan pendidikan vokasi di lingkungan Sekolah Vokasi, khususnya Program Studi Sarjana Terapan Teknologi Rekayasa Energi Terbarukan (TRET).“Forum nasional ini menjadi ruang bagi UNG untuk memperoleh perspektif, sekaligus memperkuat jejaring akademik dan profesional dengan perguruan tinggi serta program studi Teknik Elektro di Indonesia,” terangnya.Melalui keterlibatan ini, UNG kata Ervan tidak hanya memperluas jejaring kelembagaan, tetapi juga berkontribusi dalam pengembangan arah pendidikan vokasi pada tingkat nasional. Partisipasi tersebut memperkuat komitmen UNG dalam menghadirkan pendidikan vokasi yang berorientasi pada kompetensi, kebutuhan dunia kerja, keterhubungan dengan industri, serta perkembangan teknologi.Kegiatan Munas FORTEI dan FORTEI-ICEE Tahun 2026 berlangsung di Universitas Hasanuddin, Makassar, pada 24–26 September 2026, dan menjadi salah satu forum nasional bagi pengembangan serta penguatan jejaring pendidikan tinggi Teknik Elektro di Indonesia.

Lihat Semua Berita