Site Logo

Buah Mangrove Berpotensi Menjadi Pengawet Alami untuk Menjaga Kualitas Ikan Cakalang

PenelitianUNG Berdampak
Abdul Wahid Rauf
11 Oct 2026
09:13 WITA
13 dilihat
Buah Mangrove Berpotensi Menjadi Pengawet Alami untuk Menjaga Kualitas Ikan Cakalang

Buah mangrove yang selama ini lebih dikenal karena perannya menjaga ekosistem pesisir ternyata menyimpan potensi untuk mendukung pengolahan hasil perikanan. Penelitian Universitas Negeri Gorontalo (UNG) menunjukkan bahwa ekstrak buah mangrove jenis Rhizophora mucronata berpotensi dimanfaatkan sebagai bahan pengawet alami untuk membantu mempertahankan kualitas fillet ikan cakalang (Katsuwonus pelamis).

Penelitian yang dilakukan Risky S. Maulanan, Lukman Mile, dan Fernandy M. Djailani dari Fakultas Kelautan dan Teknologi Perikanan (FKTP) UNG ini mengkaji efektivitas ekstrak air tepung buah mangrove dalam menghambat pertumbuhan mikroorganisme pada ikan. Hasilnya menunjukkan bahwa perlakuan menggunakan ekstrak tersebut dapat menurunkan jumlah mikroorganisme yang terukur pada fillet ikan cakalang, meskipun efektivitasnya berbeda menurut lama perendaman.

Temuan ini dipublikasikan dalam jurnal Applied Environmental Science, Vol. 2 No. 2 Tahun 2025, melalui artikel berjudul “Effectiveness of Water Extract of Mangrove Fruit Flour (Rhizophora mucronata) as a Natural Preservative in Skipjack Fish Fillets (Katsuwonus pelamis)”.

Penelitian ini berangkat dari potensi sumber daya alam yang dimiliki kawasan pesisir, khususnya keberadaan ekosistem mangrove dan hasil perikanan tangkap. Ikan cakalang merupakan salah satu komoditas bernilai ekonomi, tetapi kualitasnya dapat menurun apabila penanganan setelah penangkapan tidak dilakukan dengan baik. Penurunan mutu ikan berkaitan dengan berbagai proses, termasuk aktivitas mikroorganisme dan perubahan biokimia setelah ikan mati. Karena itu, diperlukan penanganan pascapanen yang tepat agar kualitas ikan tetap terjaga hingga sampai kepada konsumen.

Di sisi lain, buah Rhizophora mucronata mengandung senyawa yang berpotensi dimanfaatkan dalam pengolahan pangan. Para peneliti mengeksplorasi kemungkinan pemanfaatan buah tersebut sebagai sumber bahan pengawet alami yang dapat membantu menghambat pertumbuhan mikroorganisme penyebab kerusakan ikan.

Dalam penelitian ini, buah mangrove terlebih dahulu dikeringkan dan diolah menjadi tepung. Tepung tersebut kemudian diekstraksi menggunakan air melalui pemanasan pada suhu 70 derajat Celsius selama 30 menit. Ekstrak yang diperoleh digunakan untuk merendam fillet ikan cakalang dengan variasi waktu 10, 12, dan 14 jam.

Efektivitas perlakuan kemudian dievaluasi melalui sejumlah parameter, meliputi karakteristik organoleptik, tingkat keasaman atau pH, serta Total Plate Count (TPC), yaitu metode untuk memperkirakan jumlah mikroorganisme hidup yang dapat tumbuh pada media pengujian.

Salah satu hasil penting penelitian terlihat pada pengujian TPC. Sampel ikan tanpa perlakuan perendaman memiliki nilai TPC sekitar 27,09 × 10³. Setelah direndam dalam ekstrak buah mangrove selama 10 jam, nilainya turun menjadi 15,39 × 10³. Penurunan lebih lanjut ditemukan pada perlakuan perendaman selama 12 jam, dengan nilai TPC sebesar 8,38 × 10³. Namun, pada perendaman selama 14 jam, nilainya kembali meningkat menjadi 10,82 × 10³.

Pola tersebut menunjukkan bahwa penambahan waktu perendaman tidak selalu menghasilkan penurunan jumlah mikroorganisme secara terus-menerus. Dalam kondisi pengujian yang dilakukan, perendaman selama 12 jam menghasilkan nilai TPC terendah dibandingkan perlakuan lainnya.

Hasil uji fitokimia juga mengidentifikasi keberadaan senyawa alkaloid dan triterpenoid dalam ekstrak tepung buah Rhizophora mucronata. Senyawa-senyawa tersebut memiliki potensi aktivitas biologis, termasuk kemungkinan aktivitas antimikroba. Meski demikian, keberadaan senyawa tersebut belum dengan sendirinya membuktikan mekanisme penghambatan bakteri tertentu. Efektivitasnya tetap perlu dipahami berdasarkan hasil pengujian dan kondisi perlakuan yang digunakan.

Pengawetan ikan tidak cukup dinilai hanya dari penurunan jumlah mikroorganisme. Karakteristik fisik dan sensori, seperti penampakan, aroma, dan tekstur, juga penting karena memengaruhi penerimaan konsumen terhadap produk. Karena itu, penelitian ini turut mengevaluasi perubahan karakteristik organoleptik fillet ikan setelah perendaman. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa lama perendaman perlu dipertimbangkan dalam menentukan perlakuan yang sesuai, sebab perubahan pada karakteristik produk dapat terjadi selama proses pengolahan.

Penelitian tersebut menyebutkan bahwa perendaman selama 10 jam merupakan waktu optimal berdasarkan indikator kualitas organoleptik, aroma, dan tekstur. Sementara itu, hasil pengujian mikrobiologis menunjukkan nilai TPC terendah pada perendaman selama 12 jam. Perbedaan ini memperlihatkan bahwa waktu perlakuan terbaik dapat bergantung pada parameter mutu yang dijadikan acuan.

Pengukuran pH juga menunjukkan nilai pada kisaran 5,46–6,04. Parameter ini membantu memberikan gambaran mengenai kondisi kimiawi ikan selama perlakuan, tetapi tidak dapat digunakan sendirian untuk memastikan keamanan atau tingkat kesegaran produk.

Dengan demikian, hasil penelitian perlu dipahami secara menyeluruh. Penurunan jumlah mikroorganisme merupakan temuan yang menjanjikan, tetapi belum cukup untuk menyimpulkan bahwa produk dapat disimpan lebih lama atau aman dikonsumsi tanpa pengujian tambahan. Penetapan masa simpan dan keamanan pangan memerlukan evaluasi lebih lanjut, termasuk pengujian mikrobiologis, kondisi penyimpanan, dan parameter keamanan yang relevan.

Penelitian ini memperlihatkan peluang pemanfaatan sumber daya hayati lokal untuk mendukung pengembangan teknologi pengolahan hasil perikanan. Buah mangrove yang tumbuh di kawasan pesisir berpotensi menjadi bahan yang dapat diteliti lebih lanjut untuk menghasilkan alternatif pengawetan berbasis bahan alami.

Bagi daerah yang memiliki potensi mangrove dan perikanan tangkap seperti Gorontalo, pendekatan tersebut membuka ruang bagi pengembangan inovasi yang menghubungkan kekayaan ekosistem pesisir dengan kebutuhan pengolahan hasil perikanan. Namun, pemanfaatan buah mangrove sebagai bahan pengawet pangan tetap harus mempertimbangkan aspek keberlanjutan lingkungan. Pengambilan bahan baku perlu dilakukan secara bijaksana agar tidak mengganggu regenerasi mangrove maupun fungsi ekologisnya sebagai pelindung pesisir dan habitat berbagai organisme.

Tahap penelitian selanjutnya juga penting untuk menguji konsentrasi ekstrak yang paling efektif, konsistensi hasil pada skala pengolahan yang lebih besar, keamanan pangan, serta pengaruhnya terhadap mutu ikan selama penyimpanan. Kajian tersebut diperlukan sebelum teknologi ini dapat direkomendasikan untuk diterapkan secara luas.

Melalui penelitian ini, akademisi UNG menunjukkan bahwa potensi mangrove tidak hanya berkaitan dengan perlindungan lingkungan pesisir, tetapi juga dapat menjadi sumber inspirasi bagi pengembangan teknologi pengolahan hasil perikanan. Dengan penelitian lanjutan yang memadai, pemanfaatan bahan alami dari lingkungan sekitar berpeluang memberikan nilai tambah bagi komoditas perikanan sekaligus mendorong inovasi yang tetap memperhatikan kelestarian ekosistem.

Artikel penelitian dipublikasikan pada tautan berikut

Ikuti berita lainnya

Peneliti Fakultas Hukum Terlibat Riset Internasional di Australia, Kaji Teknologi Algoritmik untuk Peradilan yang Humanis
05 Nov 2026
02:16 WITA

Peneliti Fakultas Hukum Terlibat Riset Internasional di Australia, Kaji Teknologi Algoritmik untuk Peradilan yang Humanis

Abdul Wahid Rauf

GORONTALO – Kiprah akademisi Universitas Negeri Gorontalo (UNG) di kancah internasional, terus menunjukkan perkembangan membanggakan. Kali ini, dosen Fakultas Hukum (FH) UNG, Vifi Swarianata, S.H., M.H., turut ambil bagian dalam kolaborasi penelitian internasional bersama akademisi Universitas Brawijaya, Universitas Sebelas Maret, dan Western Sydney University, Australia, untuk mengkaji pemanfaatan teknologi algoritmik dalam mewujudkan sistem peradilan pidana yang berkeadilan dan humanis.Keterlibatan Vifi diwujudkan melalui program Riset Kolaborasi Indonesia (RKI) Tahun 2026, yang dilaksanakan melalui kunjungan riset ke School of Law, Western Sydney University (WSU), New South Wales, Australia, pada 19–27 Oktober 2026.Partisipasi tersebut menjadi salah satu bentuk kontribusi akademisi UNG dalam memperluas jejaring penelitian internasional, sekaligus memperkuat kolaborasi keilmuan lintas perguruan tinggi dalam merespons perkembangan teknologi di bidang hukum.Vifi yang saat ini tengah menempuh pendidikan doktoral pada Program Doktor Fakultas Hukum Universitas Brawijaya, terlibat dalam penelitian yang memiliki keterkaitan erat dengan fokus kajian disertasinya. Kesempatan ini sekaligus dimanfaatkan untuk memperdalam perspektif akademik melalui diskusi dan pertukaran gagasan bersama para peneliti dari Indonesia dan Australia.Program RKI 2026 tersebut mengangkat tema penelitian “Humanizing Justice in Algorithmic Risk Assessment: The Use of Recidivism Risk Prediction Tools in the Indonesian and Australian Criminal Justice Systems.”Penelitian ini menyoroti penggunaan teknologi algoritmik untuk memprediksi risiko pengulangan tindak pidana atau recidivism risk prediction tools dalam sistem peradilan pidana. Kajian tersebut menjadi relevan di tengah perkembangan teknologi yang semakin membuka peluang pemanfaatan sistem berbasis data dalam mendukung proses pengambilan keputusan di bidang hukum.Dalam penelitian ini tim akademisi berupaya memahami bagaimana teknologi prediksi risiko dapat digunakan secara bertanggung jawab, tanpa mengesampingkan prinsip keadilan, perlindungan hak asasi manusia, serta nilai-nilai kemanusiaan yang menjadi landasan sistem peradilan pidana.Melalui pendekatan perbandingan antara Indonesia dan Australia, tim peneliti turut mengkaji perbedaan sistem hukum, perkembangan regulasi, serta berbagai tantangan yang dapat muncul dalam penerapan teknologi algoritmik pada sistem peradilan pidana di kedua negara.Hasil penelitian diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi pengembangan rekomendasi kebijakan mengenai penggunaan teknologi algoritmik yang transparan, akuntabel, dan bertanggung jawab. Dengan demikian, inovasi teknologi di bidang hukum dapat terus berkembang tanpa mengabaikan perlindungan hak individu dan prinsip keadilan.Bagi Vifi, keterlibatan dalam forum penelitian internasional tersebut menjadi pengalaman akademik yang penting, terutama dalam memperluas pemahaman mengenai pendekatan penelitian hukum komparatif dan interdisipliner.“Kajian yang dilakukan tidak hanya melihat teknologi dari sisi kemampuan teknis dan efisiensinya, tetapi juga mempertimbangkan potensi dampaknya terhadap hak individu, kualitas pertimbangan hukum, serta kepercayaan terhadap proses peradilan,” jelasnya.Keterlibatan Vifi dalam riset internasional ini juga menjadi bagian dari upaya penguatan kapasitas akademik dosen FH UNG, khususnya dalam mengembangkan penelitian yang relevan dengan isu-isu hukum kontemporer dan perkembangan teknologi global.“Kolaborasi ini diharapkan dapat memperluas peluang kerja sama penelitian, meningkatkan kualitas publikasi ilmiah, serta memperkuat peran akademisi UNG dalam menghadirkan gagasan dan rekomendasi kebijakan yang bermanfaat bagi pengembangan sistem hukum Indonesia,” pungkasnya. (**)

Rektor UNG Terima Kunjungan Kapolda Gorontalo, Perkuat Sinergi Bersama Institusi Pendidikan dan Kepolisian
04 Nov 2026
05:55 WITA

Rektor UNG Terima Kunjungan Kapolda Gorontalo, Perkuat Sinergi Bersama Institusi Pendidikan dan Kepolisian

Abdul Wahid Rauf

GORONTALO – Universitas Negeri Gorontalo (UNG) terus memperkuat sinergi dan kolaborasi strategis dengan berbagai institusi, termasuk Kepolisian Daerah (Polda) Gorontalo. Komitmen tersebut diwujudkan melalui kunjungan silaturahmi perdana Kapolda Gorontalo, Irjen Pol. Nurworo Danang, S.I.K., yang diterima langsung oleh Rektor UNG, Prof. Dr. Ir. Eduart Wolok, S.T., M.T., di Kampus Kerakyatan UNG, Rabu (4/11).Kedatangan orang nomor satu di jajaran Polda Gorontalo tersebut disambut hangat oleh Rektor UNG yang didampingi jajaran pimpinan universitas, mulai dari para wakil rektor hingga kepala biro. Pertemuan berlangsung dalam suasana penuh keakraban, sekaligus menjadi momentum penting untuk mempererat hubungan kelembagaan yang selama ini telah terjalin dengan baik.Dalam audiensi tersebut, kedua pimpinan institusi membahas sejumlah agenda strategis untuk memperluas ruang kolaborasi antara perguruan tinggi dan kepolisian. Beberapa bidang yang menjadi perhatian meliputi pengembangan pendidikan, penguatan keamanan dan ketertiban lingkungan kampus, pencegahan radikalisme, peningkatan wawasan kebangsaan, hingga kerja sama dalam kegiatan akademik dan pengabdian kepada masyarakat.Rektor UNG, Prof. Dr. Ir. Eduart Wolok, S.T., M.T.,  menyambut hangat kunjungan silaturahmi Kapolda Gorontalo, sebagai langkah memperkokoh hubungan dan kerja sama kedua institusi. Menurutnya, perguruan tinggi dan kepolisian memiliki peran yang saling melengkapi dalam menciptakan lingkungan pendidikan yang aman, kondusif, serta mendukung pembentukan generasi muda yang berkualitas.“Hubungan baik antara UNG dan Polda Gorontalo telah terbangun sejak lama. Sinergi tersebut perlu terus dijaga melalui komunikasi yang intensif, koordinasi yang efektif, dan komitmen bersama untuk menjawab berbagai tantangan yang dihadapi masyarakat,” ujar Eduart.Kerja sama yang telah terjalin menjadi modal penting bagi kedua institusi dalam mengantisipasi maupun menangani berbagai persoalan, baik yang muncul di lingkungan kampus maupun di tengah masyarakat. Dengan dukungan dan kolaborasi yang kuat, UNG diharapkan dapat terus menjalankan perannya sebagai institusi pendidikan tinggi yang tidak hanya berfokus pada pengembangan ilmu pengetahuan, tetapi juga memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan daerah.Sementara itu, Kapolda Gorontalo, Irjen Pol. Nurworo Danang, menyampaikan keterbukaan institusi kepolisian untuk terus memperkuat kerja sama dengan dunia pendidikan, khususnya Universitas Negeri Gorontalo.“Kolaborasi antara kepolisian dan perguruan tinggi memiliki peran penting dalam membangun kesadaran hukum, memperkuat karakter kebangsaan, serta menciptakan situasi keamanan dan ketertiban yang kondusif bagi aktivitas akademik,” terangnya.Danang juga menekankan pentingnya keterlibatan berbagai elemen masyarakat, termasuk kalangan akademisi dan mahasiswa, dalam mendukung upaya pemeliharaan keamanan serta membangun kehidupan sosial yang harmonis.Semangat tersebut sejalan dengan tagline Polri, “Polisi Bersama Masyarakat”, yang menekankan pentingnya kedekatan, komunikasi, dan kolaborasi antara kepolisian dengan seluruh lapisan masyarakat dalam menjaga keamanan dan ketertiban.Melalui pertemuan ini, UNG dan Polda Gorontalo diharapkan dapat semakin mempererat hubungan kelembagaan, sekaligus membuka peluang pengembangan program kolaboratif yang memberikan manfaat bagi sivitas akademika maupun masyarakat luas. (**)

Jelang Akhir Tahun, Kepala BKKU UNG Ingatkan Tendik Tuntaskan Target Kinerja
02 Nov 2026
00:45 WITA

Jelang Akhir Tahun, Kepala BKKU UNG Ingatkan Tendik Tuntaskan Target Kinerja

Abdul Wahid Rauf

GORONTALO – Menjelang berakhirnya tahun kerja 2026, Universitas Negeri Gorontalo (UNG) terus mendorong optimalisasi kinerja seluruh tenaga kependidikan (tendik) dalam menuntaskan berbagai program dan tanggung jawab di masing-masing unit kerja.Kepala Biro Keuangan, Kerja Sama, dan Umum (BKKU) UNG, Arief Rachman Hakim Abdul, S.Pd., M.Pd., mengingatkan jajaran tendik, untuk semakin meningkatkan produktivitas dan memastikan seluruh pekerjaan dapat diselesaikan tepat waktu.Menurut Arief, penghujung tahun menjadi momentum penting bagi seluruh pegawai untuk mengevaluasi capaian pekerjaan, sekaligus mempercepat penyelesaian berbagai agenda yang masih berjalan. Hal ini diperlukan agar seluruh program kerja yang telah direncanakan dapat dituntaskan sesuai target dan ketentuan yang berlaku.“Peningkatan kinerja tidak hanya berkaitan dengan kecepatan menyelesaikan pekerjaan, tetapi juga kualitas pelaksanaan tugas, kedisiplinan, serta tanggung jawab setiap pegawai dalam mendukung kelancaran penyelenggaraan layanan universitas,” ujar Arief.Untuk mewujudkan hal tersebut, Arief mengimbau seluruh tendik agar terus memperkuat koordinasi dan komunikasi dengan berbagai pihak, baik di lingkungan unit kerja masing-masing maupun antar unit di tingkat universitas.“Koordinasi yang efektif menjadi kunci dalam mengatasi berbagai kendala pekerjaan, menyelaraskan pelaksanaan program, serta memastikan setiap tugas dapat diselesaikan secara optimal tanpa mengabaikan prosedur dan ketentuan yang berlaku,” terangnya.Arief juga mengingatkan agar seluruh pegawai tetap menjaga semangat kerja, serta tidak menunda penyelesaian tugas yang menjadi tanggung jawabnya. Dengan waktu kerja yang semakin mendekati akhir tahun, setiap unit diharapkan mampu mengoptimalkan pelaksanaan program melalui kerja sama dan pembagian tugas yang terarah.Melalui penguatan kinerja dan sinergi antarseluruh tenaga kependidikan, Arief berharap berbagai program kerja tahun 2026 dapat diselesaikan dengan hasil yang maksimal. Langkah ini sekaligus menjadi fondasi untuk mendukung peningkatan kualitas layanan dan pelaksanaan program universitas pada tahun berikutnya. (**)

Perkuat Kiprah Internasional, Akademisi UNG Ikuti Simposium Perikanan Berkelanjutan dan Blue Transformation di Tiongkok
02 Nov 2026
00:34 WITA

Perkuat Kiprah Internasional, Akademisi UNG Ikuti Simposium Perikanan Berkelanjutan dan Blue Transformation di Tiongkok

Abdul Wahid Rauf

GORONTALO – Kiprah akademisi Universitas Negeri Gorontalo (UNG) di kancah internasional terus menunjukkan perkembangan positif. Kali ini, dosen Fakultas Kelautan dan Teknologi Perikanan (FKTP), Dr. Arfiani Rizki Paramata, S.Pi., M.Si., turut ambil bagian dalam International Symposium on Sustainable Fisheries and Aquaculture and Blue Transformation yang berlangsung dalam rangkaian China Fisheries and Seafood Expo 2026 di Qingdao, Tiongkok.Kegiatan internasional yang berlangsung pada 28–30 Oktober 2026 di Qingdao Hongdao International Convention and Exhibition Center tersebut menjadi ajang pertemuan akademisi, peneliti, praktisi, serta pelaku industri perikanan dari berbagai negara untuk membahas inovasi dan masa depan sektor perikanan dan akuakultur yang berkelanjutan.Keikutsertaan Arfiani dalam forum internasional tersebut menjadi langkah penting dalam memperluas wawasan keilmuan sekaligus memperkuat jejaring akademik global, khususnya dalam menghadapi tantangan pengelolaan sumber daya kelautan dan perikanan.Salah satu isu utama yang menjadi perhatian dalam simposium tersebut adalah konsep Blue Transformation atau transformasi biru, sebuah pendekatan yang mendorong pengembangan sektor perikanan dan akuakultur melalui inovasi teknologi, peningkatan produktivitas, ketahanan pangan, serta pengelolaan sumber daya perairan yang tetap memperhatikan kelestarian lingkungan.Menurut Arfiani, transformasi biru menjadi salah satu pendekatan penting dalam menjawab tantangan pembangunan perikanan global. Konsep tersebut menekankan bahwa peningkatan produksi hasil perikanan perlu berjalan beriringan dengan perlindungan ekosistem serta pemanfaatan sumber daya secara bertanggung jawab.“Melalui pendekatan ini, sektor perikanan diharapkan tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan pangan masyarakat, tetapi juga membuka peluang ekonomi yang lebih luas, meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir, dan mendukung keberlanjutan sumber daya perairan bagi generasi mendatang,” ujarnya.Selain mengikuti simposium, kehadiran Arfiani dalam rangkaian China Fisheries and Seafood Expo juga memberikan kesempatan untuk mengenal berbagai perkembangan industri perikanan dunia. Mulai dari inovasi teknologi budidaya, pengolahan hasil perikanan, pengemasan produk, pengendalian mutu, hingga perkembangan perdagangan produk perikanan di pasar internasional.Berbagai pengetahuan dan pengalaman yang diperoleh dari forum tersebut, diharapkan dapat memberikan kontribusi terhadap pengembangan pendidikan dan penelitian di lingkungan FKTP UNG. Khususnya dalam memperkaya pembelajaran mahasiswa, mendorong inovasi penelitian, serta memperluas perspektif akademik mengenai pengelolaan potensi kelautan dan perikanan yang berkelanjutan.“Partisipasi dalam forum internasional ini juga menjadi peluang bagi akademisi UNG untuk membangun komunikasi, dan membuka kesempatan kolaborasi dengan akademisi maupun praktisi dari berbagai negara,” terangnya.Melalui keikutsertaan dosen pada forum ilmiah berskala internasional, Universitas Negeri Gorontalo terus menunjukkan komitmennya dalam mendorong peningkatan kapasitas dan daya saing akademisi, sekaligus memperkuat kontribusi perguruan tinggi terhadap pengembangan ilmu pengetahuan.Kehadiran Arfiani di Tiongkok diharapkan menjadi salah satu langkah dalam memperluas peran FKTP UNG sebagai institusi pendidikan tinggi yang aktif mendukung inovasi, keberlanjutan lingkungan, dan transformasi sektor kelautan dan perikanan di tingkat nasional maupun global.

Lihat Semua Berita