Berpotensi Jadi Alternatif Nonalkohol, Penelitian UNG Kembangkan Hand Sanitizer Berbahan Kitosan Tulang Sotong

Pemanfaatan limbah hasil perikanan menjadi bahan bernilai guna terus membuka peluang pengembangan produk yang lebih ramah lingkungan. Salah satu potensi tersebut diteliti oleh akademisi Universitas Negeri Gorontalo (UNG) melalui pengembangan hand sanitizer berbentuk semprot berbahan kitosan yang berasal dari tulang sotong (Sepia sp.).
Penelitian yang dilakukan Febriyanti Rasyid, Asri Silvana Naiu, dan Lukman Mile dari Fakultas Teknologi Kelautan dan Perikanan UNG ini mengkaji formulasi serta karakteristik spray hand sanitizer berbasis kitosan tulang sotong.
Penelitian ini berangkat dari pentingnya menjaga kebersihan tangan sebagai salah satu upaya pencegahan infeksi. Produk hand sanitizer berbahan alkohol telah banyak digunakan karena praktis, tetapi penggunaan berulang dapat dikaitkan dengan kulit kering, rasa perih, hingga gangguan pada lapisan pelindung kulit. Kondisi tersebut mendorong pengembangan bahan alternatif yang memiliki aktivitas antibakteri sekaligus berpotensi mendukung penggunaan produk kebersihan tangan secara lebih nyaman.
Dalam penelitian ini, tulang sotong dipilih sebagai sumber kitosan, yaitu polimer alami yang diperoleh melalui proses pengolahan kitin. Kitosan memiliki gugus amina yang dapat berinteraksi dengan membran bakteri, sehingga berpotensi menghambat pertumbuhan mikroorganisme tertentu. Pemanfaatan bahan dari tulang sotong juga membuka peluang pengolahan hasil samping perikanan menjadi bahan yang memiliki nilai tambah.
Untuk memperoleh kitosan, peneliti melakukan beberapa tahapan pengolahan, meliputi deproteinasi, demineralisasi, dan deasetilasi. Hasil proses tersebut menghasilkan kitosan dengan rendemen 30 persen, kadar air 5,23 persen, kadar abu 3,36 persen, serta derajat deasetilasi 74,78 persen. Berdasarkan parameter yang diuji, karakteristik kitosan yang dihasilkan memenuhi batas standar yang digunakan dalam penelitian, yakni SNI 7949:2013.
Kitosan tersebut kemudian diformulasikan menjadi hand sanitizer berbentuk semprot dengan tiga variasi konsentrasi, yaitu 5 persen, 10 persen, dan 15 persen. Setiap formula diuji untuk mengetahui karakteristik pH, viskositas atau tingkat kekentalan, serta aktivitas antibakterinya terhadap Escherichia coli, salah satu bakteri yang digunakan dalam pengujian mikrobiologi.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa peningkatan konsentrasi kitosan berhubungan dengan meningkatnya aktivitas antibakteri. Formula dengan konsentrasi kitosan 5 persen menghasilkan zona hambat rata-rata 9,07 milimeter, sedangkan formula 10 persen menghasilkan 22,03 milimeter. Pada konsentrasi 15 persen, zona hambat mencapai 25,43 milimeter.
Zona hambat merupakan area di sekitar bahan uji yang menunjukkan terhambatnya pertumbuhan bakteri pada media pengujian. Semakin besar zona hambat yang terbentuk, semakin kuat aktivitas penghambatan yang ditunjukkan dalam pengujian tersebut. Meski demikian, hasil ini menggambarkan aktivitas antibakteri terhadap E. coli dalam kondisi laboratorium dan belum dapat langsung disamakan dengan efektivitas penggunaan produk pada tangan manusia.
Selain aktivitas antibakteri, penelitian ini juga menemukan bahwa konsentrasi kitosan memengaruhi tingkat kekentalan formulasi. Formula 5 persen memiliki viskositas rata-rata 750 cP, formula 10 persen mencapai 2.917 cP, sedangkan formula 15 persen mencapai 4.517 cP. Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa semakin tinggi konsentrasi kitosan, semakin kental pula sediaan yang dihasilkan.
Kekentalan menjadi aspek penting dalam pengembangan produk semprot karena berkaitan dengan kemampuan cairan mengalir melalui nosel, pembentukan butiran semprotan, serta kenyamanan saat diaplikasikan. Formula dengan konsentrasi rendah memiliki karakteristik lebih mudah disemprotkan, tetapi aktivitas antibakterinya relatif lebih rendah. Sebaliknya, konsentrasi tinggi memberikan aktivitas antibakteri lebih besar, namun kekentalannya berpotensi memengaruhi kualitas semprotan dan kenyamanan penggunaan.
Berdasarkan perbandingan tersebut, formula dengan konsentrasi kitosan 10 persen dinilai memberikan kompromi terbaik antara aktivitas antibakteri dan karakteristik kekentalan. Formula ini menghasilkan zona hambat yang tergolong kuat dalam pengujian serta memiliki viskositas yang masih berada dalam rentang sediaan semprot-gel yang dibahas dalam penelitian. Sementara itu, formula 15 persen menghasilkan zona hambat terbesar, tetapi memiliki kekentalan lebih tinggi yang berpotensi mengurangi kenyamanan dan konsistensi penyemprotan.
Meski menunjukkan potensi, penelitian ini juga menemukan aspek penting yang perlu diperbaiki sebelum formulasi dapat dikembangkan lebih lanjut. Seluruh formula memiliki nilai pH yang cenderung basa, yakni berkisar antara 8,38 hingga 9,26. Formula 10 persen memiliki pH 9,02, sedangkan formula 15 persen mencapai 9,26. Nilai tersebut masih berada di atas rentang pH yang dinilai sesuai untuk produk yang digunakan pada kulit dalam penelitian.
Temuan ini menunjukkan bahwa pengembangan hand sanitizer berbasis kitosan tidak cukup hanya mempertimbangkan kemampuan menghambat bakteri. Pengaturan pH juga menjadi perhatian penting agar formulasi memiliki karakteristik yang lebih sesuai dengan penggunaan pada kulit. Peneliti menyebutkan perlunya optimasi sistem penyangga atau buffer, termasuk melalui pendekatan berbasis sitrat atau laktat, untuk membantu mengendalikan pH pada rentang yang lebih sesuai.
Penelitian ini juga menegaskan bahwa aktivitas antibakteri kitosan memiliki karakteristik yang berbeda dibandingkan hand sanitizer berbahan alkohol. Kitosan bekerja melalui interaksi dengan membran bakteri dan aktivitasnya dipengaruhi oleh kondisi formulasi, seperti pH, konsentrasi, serta karakteristik polimer. Karena itu, hasil pengujian menunjukkan potensi kitosan sebagai bahan aktif, tetapi belum membuktikan bahwa produk tersebut dapat menggantikan alkohol secara langsung dalam penggunaan sehari-hari.
Ke depan, pengembangan formulasi masih memerlukan pengujian lebih lanjut, terutama untuk mengoptimalkan pH, kekentalan, kemampuan penyemprotan, dan kestabilan produk. Pengujian keamanan pada kulit, termasuk potensi iritasi dan kenyamanan penggunaan berulang, juga diperlukan sebelum produk dapat dinilai lebih jauh untuk aplikasi praktis.
Secara keseluruhan, penelitian ini memperlihatkan potensi tulang sotong sebagai sumber kitosan untuk pengembangan hand sanitizer berbentuk semprot. Hasilnya memberikan dasar ilmiah bagi pemanfaatan bahan hasil samping perikanan dalam pengembangan produk kebersihan tangan. Dengan pengendalian karakteristik formulasi dan pengujian lanjutan, kitosan tulang sotong berpeluang dikembangkan sebagai salah satu alternatif bahan aktif nonalkohol yang lebih ramah lingkungan.





