Site Logo

Berpotensi Jadi Alternatif Nonalkohol, Penelitian UNG Kembangkan Hand Sanitizer Berbahan Kitosan Tulang Sotong

PenelitianSiaran PersUNG Berdampak
Abdul Wahid Rauf
10 Oct 2026
10:16 WITA
9 dilihat
Berpotensi Jadi Alternatif Nonalkohol, Penelitian UNG Kembangkan Hand Sanitizer Berbahan Kitosan Tulang Sotong

Pemanfaatan limbah hasil perikanan menjadi bahan bernilai guna terus membuka peluang pengembangan produk yang lebih ramah lingkungan. Salah satu potensi tersebut diteliti oleh akademisi Universitas Negeri Gorontalo (UNG) melalui pengembangan hand sanitizer berbentuk semprot berbahan kitosan yang berasal dari tulang sotong (Sepia sp.).

Penelitian yang dilakukan Febriyanti Rasyid, Asri Silvana Naiu, dan Lukman Mile dari Fakultas Teknologi Kelautan dan Perikanan UNG ini mengkaji formulasi serta karakteristik spray hand sanitizer berbasis kitosan tulang sotong.

Penelitian ini berangkat dari pentingnya menjaga kebersihan tangan sebagai salah satu upaya pencegahan infeksi. Produk hand sanitizer berbahan alkohol telah banyak digunakan karena praktis, tetapi penggunaan berulang dapat dikaitkan dengan kulit kering, rasa perih, hingga gangguan pada lapisan pelindung kulit. Kondisi tersebut mendorong pengembangan bahan alternatif yang memiliki aktivitas antibakteri sekaligus berpotensi mendukung penggunaan produk kebersihan tangan secara lebih nyaman.

Dalam penelitian ini, tulang sotong dipilih sebagai sumber kitosan, yaitu polimer alami yang diperoleh melalui proses pengolahan kitin. Kitosan memiliki gugus amina yang dapat berinteraksi dengan membran bakteri, sehingga berpotensi menghambat pertumbuhan mikroorganisme tertentu. Pemanfaatan bahan dari tulang sotong juga membuka peluang pengolahan hasil samping perikanan menjadi bahan yang memiliki nilai tambah.

Untuk memperoleh kitosan, peneliti melakukan beberapa tahapan pengolahan, meliputi deproteinasi, demineralisasi, dan deasetilasi. Hasil proses tersebut menghasilkan kitosan dengan rendemen 30 persen, kadar air 5,23 persen, kadar abu 3,36 persen, serta derajat deasetilasi 74,78 persen. Berdasarkan parameter yang diuji, karakteristik kitosan yang dihasilkan memenuhi batas standar yang digunakan dalam penelitian, yakni SNI 7949:2013.

Kitosan tersebut kemudian diformulasikan menjadi hand sanitizer berbentuk semprot dengan tiga variasi konsentrasi, yaitu 5 persen, 10 persen, dan 15 persen. Setiap formula diuji untuk mengetahui karakteristik pH, viskositas atau tingkat kekentalan, serta aktivitas antibakterinya terhadap Escherichia coli, salah satu bakteri yang digunakan dalam pengujian mikrobiologi.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa peningkatan konsentrasi kitosan berhubungan dengan meningkatnya aktivitas antibakteri. Formula dengan konsentrasi kitosan 5 persen menghasilkan zona hambat rata-rata 9,07 milimeter, sedangkan formula 10 persen menghasilkan 22,03 milimeter. Pada konsentrasi 15 persen, zona hambat mencapai 25,43 milimeter.

Zona hambat merupakan area di sekitar bahan uji yang menunjukkan terhambatnya pertumbuhan bakteri pada media pengujian. Semakin besar zona hambat yang terbentuk, semakin kuat aktivitas penghambatan yang ditunjukkan dalam pengujian tersebut. Meski demikian, hasil ini menggambarkan aktivitas antibakteri terhadap E. coli dalam kondisi laboratorium dan belum dapat langsung disamakan dengan efektivitas penggunaan produk pada tangan manusia.

Selain aktivitas antibakteri, penelitian ini juga menemukan bahwa konsentrasi kitosan memengaruhi tingkat kekentalan formulasi. Formula 5 persen memiliki viskositas rata-rata 750 cP, formula 10 persen mencapai 2.917 cP, sedangkan formula 15 persen mencapai 4.517 cP. Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa semakin tinggi konsentrasi kitosan, semakin kental pula sediaan yang dihasilkan.

Kekentalan menjadi aspek penting dalam pengembangan produk semprot karena berkaitan dengan kemampuan cairan mengalir melalui nosel, pembentukan butiran semprotan, serta kenyamanan saat diaplikasikan. Formula dengan konsentrasi rendah memiliki karakteristik lebih mudah disemprotkan, tetapi aktivitas antibakterinya relatif lebih rendah. Sebaliknya, konsentrasi tinggi memberikan aktivitas antibakteri lebih besar, namun kekentalannya berpotensi memengaruhi kualitas semprotan dan kenyamanan penggunaan.

Berdasarkan perbandingan tersebut, formula dengan konsentrasi kitosan 10 persen dinilai memberikan kompromi terbaik antara aktivitas antibakteri dan karakteristik kekentalan. Formula ini menghasilkan zona hambat yang tergolong kuat dalam pengujian serta memiliki viskositas yang masih berada dalam rentang sediaan semprot-gel yang dibahas dalam penelitian. Sementara itu, formula 15 persen menghasilkan zona hambat terbesar, tetapi memiliki kekentalan lebih tinggi yang berpotensi mengurangi kenyamanan dan konsistensi penyemprotan.

Meski menunjukkan potensi, penelitian ini juga menemukan aspek penting yang perlu diperbaiki sebelum formulasi dapat dikembangkan lebih lanjut. Seluruh formula memiliki nilai pH yang cenderung basa, yakni berkisar antara 8,38 hingga 9,26. Formula 10 persen memiliki pH 9,02, sedangkan formula 15 persen mencapai 9,26. Nilai tersebut masih berada di atas rentang pH yang dinilai sesuai untuk produk yang digunakan pada kulit dalam penelitian.

Temuan ini menunjukkan bahwa pengembangan hand sanitizer berbasis kitosan tidak cukup hanya mempertimbangkan kemampuan menghambat bakteri. Pengaturan pH juga menjadi perhatian penting agar formulasi memiliki karakteristik yang lebih sesuai dengan penggunaan pada kulit. Peneliti menyebutkan perlunya optimasi sistem penyangga atau buffer, termasuk melalui pendekatan berbasis sitrat atau laktat, untuk membantu mengendalikan pH pada rentang yang lebih sesuai.

Penelitian ini juga menegaskan bahwa aktivitas antibakteri kitosan memiliki karakteristik yang berbeda dibandingkan hand sanitizer berbahan alkohol. Kitosan bekerja melalui interaksi dengan membran bakteri dan aktivitasnya dipengaruhi oleh kondisi formulasi, seperti pH, konsentrasi, serta karakteristik polimer. Karena itu, hasil pengujian menunjukkan potensi kitosan sebagai bahan aktif, tetapi belum membuktikan bahwa produk tersebut dapat menggantikan alkohol secara langsung dalam penggunaan sehari-hari.

Ke depan, pengembangan formulasi masih memerlukan pengujian lebih lanjut, terutama untuk mengoptimalkan pH, kekentalan, kemampuan penyemprotan, dan kestabilan produk. Pengujian keamanan pada kulit, termasuk potensi iritasi dan kenyamanan penggunaan berulang, juga diperlukan sebelum produk dapat dinilai lebih jauh untuk aplikasi praktis.

Secara keseluruhan, penelitian ini memperlihatkan potensi tulang sotong sebagai sumber kitosan untuk pengembangan hand sanitizer berbentuk semprot. Hasilnya memberikan dasar ilmiah bagi pemanfaatan bahan hasil samping perikanan dalam pengembangan produk kebersihan tangan. Dengan pengendalian karakteristik formulasi dan pengujian lanjutan, kitosan tulang sotong berpeluang dikembangkan sebagai salah satu alternatif bahan aktif nonalkohol yang lebih ramah lingkungan.

Artikel penelitian dipublikasikan pada tautan berikut

Ikuti berita lainnya

Peneliti Fakultas Hukum Terlibat Riset Internasional di Australia, Kaji Teknologi Algoritmik untuk Peradilan yang Humanis
05 Nov 2026
02:16 WITA

Peneliti Fakultas Hukum Terlibat Riset Internasional di Australia, Kaji Teknologi Algoritmik untuk Peradilan yang Humanis

Abdul Wahid Rauf

GORONTALO – Kiprah akademisi Universitas Negeri Gorontalo (UNG) di kancah internasional, terus menunjukkan perkembangan membanggakan. Kali ini, dosen Fakultas Hukum (FH) UNG, Vifi Swarianata, S.H., M.H., turut ambil bagian dalam kolaborasi penelitian internasional bersama akademisi Universitas Brawijaya, Universitas Sebelas Maret, dan Western Sydney University, Australia, untuk mengkaji pemanfaatan teknologi algoritmik dalam mewujudkan sistem peradilan pidana yang berkeadilan dan humanis.Keterlibatan Vifi diwujudkan melalui program Riset Kolaborasi Indonesia (RKI) Tahun 2026, yang dilaksanakan melalui kunjungan riset ke School of Law, Western Sydney University (WSU), New South Wales, Australia, pada 19–27 Oktober 2026.Partisipasi tersebut menjadi salah satu bentuk kontribusi akademisi UNG dalam memperluas jejaring penelitian internasional, sekaligus memperkuat kolaborasi keilmuan lintas perguruan tinggi dalam merespons perkembangan teknologi di bidang hukum.Vifi yang saat ini tengah menempuh pendidikan doktoral pada Program Doktor Fakultas Hukum Universitas Brawijaya, terlibat dalam penelitian yang memiliki keterkaitan erat dengan fokus kajian disertasinya. Kesempatan ini sekaligus dimanfaatkan untuk memperdalam perspektif akademik melalui diskusi dan pertukaran gagasan bersama para peneliti dari Indonesia dan Australia.Program RKI 2026 tersebut mengangkat tema penelitian “Humanizing Justice in Algorithmic Risk Assessment: The Use of Recidivism Risk Prediction Tools in the Indonesian and Australian Criminal Justice Systems.”Penelitian ini menyoroti penggunaan teknologi algoritmik untuk memprediksi risiko pengulangan tindak pidana atau recidivism risk prediction tools dalam sistem peradilan pidana. Kajian tersebut menjadi relevan di tengah perkembangan teknologi yang semakin membuka peluang pemanfaatan sistem berbasis data dalam mendukung proses pengambilan keputusan di bidang hukum.Dalam penelitian ini tim akademisi berupaya memahami bagaimana teknologi prediksi risiko dapat digunakan secara bertanggung jawab, tanpa mengesampingkan prinsip keadilan, perlindungan hak asasi manusia, serta nilai-nilai kemanusiaan yang menjadi landasan sistem peradilan pidana.Melalui pendekatan perbandingan antara Indonesia dan Australia, tim peneliti turut mengkaji perbedaan sistem hukum, perkembangan regulasi, serta berbagai tantangan yang dapat muncul dalam penerapan teknologi algoritmik pada sistem peradilan pidana di kedua negara.Hasil penelitian diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi pengembangan rekomendasi kebijakan mengenai penggunaan teknologi algoritmik yang transparan, akuntabel, dan bertanggung jawab. Dengan demikian, inovasi teknologi di bidang hukum dapat terus berkembang tanpa mengabaikan perlindungan hak individu dan prinsip keadilan.Bagi Vifi, keterlibatan dalam forum penelitian internasional tersebut menjadi pengalaman akademik yang penting, terutama dalam memperluas pemahaman mengenai pendekatan penelitian hukum komparatif dan interdisipliner.“Kajian yang dilakukan tidak hanya melihat teknologi dari sisi kemampuan teknis dan efisiensinya, tetapi juga mempertimbangkan potensi dampaknya terhadap hak individu, kualitas pertimbangan hukum, serta kepercayaan terhadap proses peradilan,” jelasnya.Keterlibatan Vifi dalam riset internasional ini juga menjadi bagian dari upaya penguatan kapasitas akademik dosen FH UNG, khususnya dalam mengembangkan penelitian yang relevan dengan isu-isu hukum kontemporer dan perkembangan teknologi global.“Kolaborasi ini diharapkan dapat memperluas peluang kerja sama penelitian, meningkatkan kualitas publikasi ilmiah, serta memperkuat peran akademisi UNG dalam menghadirkan gagasan dan rekomendasi kebijakan yang bermanfaat bagi pengembangan sistem hukum Indonesia,” pungkasnya. (**)

Rektor UNG Terima Kunjungan Kapolda Gorontalo, Perkuat Sinergi Bersama Institusi Pendidikan dan Kepolisian
04 Nov 2026
05:55 WITA

Rektor UNG Terima Kunjungan Kapolda Gorontalo, Perkuat Sinergi Bersama Institusi Pendidikan dan Kepolisian

Abdul Wahid Rauf

GORONTALO – Universitas Negeri Gorontalo (UNG) terus memperkuat sinergi dan kolaborasi strategis dengan berbagai institusi, termasuk Kepolisian Daerah (Polda) Gorontalo. Komitmen tersebut diwujudkan melalui kunjungan silaturahmi perdana Kapolda Gorontalo, Irjen Pol. Nurworo Danang, S.I.K., yang diterima langsung oleh Rektor UNG, Prof. Dr. Ir. Eduart Wolok, S.T., M.T., di Kampus Kerakyatan UNG, Rabu (4/11).Kedatangan orang nomor satu di jajaran Polda Gorontalo tersebut disambut hangat oleh Rektor UNG yang didampingi jajaran pimpinan universitas, mulai dari para wakil rektor hingga kepala biro. Pertemuan berlangsung dalam suasana penuh keakraban, sekaligus menjadi momentum penting untuk mempererat hubungan kelembagaan yang selama ini telah terjalin dengan baik.Dalam audiensi tersebut, kedua pimpinan institusi membahas sejumlah agenda strategis untuk memperluas ruang kolaborasi antara perguruan tinggi dan kepolisian. Beberapa bidang yang menjadi perhatian meliputi pengembangan pendidikan, penguatan keamanan dan ketertiban lingkungan kampus, pencegahan radikalisme, peningkatan wawasan kebangsaan, hingga kerja sama dalam kegiatan akademik dan pengabdian kepada masyarakat.Rektor UNG, Prof. Dr. Ir. Eduart Wolok, S.T., M.T.,  menyambut hangat kunjungan silaturahmi Kapolda Gorontalo, sebagai langkah memperkokoh hubungan dan kerja sama kedua institusi. Menurutnya, perguruan tinggi dan kepolisian memiliki peran yang saling melengkapi dalam menciptakan lingkungan pendidikan yang aman, kondusif, serta mendukung pembentukan generasi muda yang berkualitas.“Hubungan baik antara UNG dan Polda Gorontalo telah terbangun sejak lama. Sinergi tersebut perlu terus dijaga melalui komunikasi yang intensif, koordinasi yang efektif, dan komitmen bersama untuk menjawab berbagai tantangan yang dihadapi masyarakat,” ujar Eduart.Kerja sama yang telah terjalin menjadi modal penting bagi kedua institusi dalam mengantisipasi maupun menangani berbagai persoalan, baik yang muncul di lingkungan kampus maupun di tengah masyarakat. Dengan dukungan dan kolaborasi yang kuat, UNG diharapkan dapat terus menjalankan perannya sebagai institusi pendidikan tinggi yang tidak hanya berfokus pada pengembangan ilmu pengetahuan, tetapi juga memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan daerah.Sementara itu, Kapolda Gorontalo, Irjen Pol. Nurworo Danang, menyampaikan keterbukaan institusi kepolisian untuk terus memperkuat kerja sama dengan dunia pendidikan, khususnya Universitas Negeri Gorontalo.“Kolaborasi antara kepolisian dan perguruan tinggi memiliki peran penting dalam membangun kesadaran hukum, memperkuat karakter kebangsaan, serta menciptakan situasi keamanan dan ketertiban yang kondusif bagi aktivitas akademik,” terangnya.Danang juga menekankan pentingnya keterlibatan berbagai elemen masyarakat, termasuk kalangan akademisi dan mahasiswa, dalam mendukung upaya pemeliharaan keamanan serta membangun kehidupan sosial yang harmonis.Semangat tersebut sejalan dengan tagline Polri, “Polisi Bersama Masyarakat”, yang menekankan pentingnya kedekatan, komunikasi, dan kolaborasi antara kepolisian dengan seluruh lapisan masyarakat dalam menjaga keamanan dan ketertiban.Melalui pertemuan ini, UNG dan Polda Gorontalo diharapkan dapat semakin mempererat hubungan kelembagaan, sekaligus membuka peluang pengembangan program kolaboratif yang memberikan manfaat bagi sivitas akademika maupun masyarakat luas. (**)

Jelang Akhir Tahun, Kepala BKKU UNG Ingatkan Tendik Tuntaskan Target Kinerja
02 Nov 2026
00:45 WITA

Jelang Akhir Tahun, Kepala BKKU UNG Ingatkan Tendik Tuntaskan Target Kinerja

Abdul Wahid Rauf

GORONTALO – Menjelang berakhirnya tahun kerja 2026, Universitas Negeri Gorontalo (UNG) terus mendorong optimalisasi kinerja seluruh tenaga kependidikan (tendik) dalam menuntaskan berbagai program dan tanggung jawab di masing-masing unit kerja.Kepala Biro Keuangan, Kerja Sama, dan Umum (BKKU) UNG, Arief Rachman Hakim Abdul, S.Pd., M.Pd., mengingatkan jajaran tendik, untuk semakin meningkatkan produktivitas dan memastikan seluruh pekerjaan dapat diselesaikan tepat waktu.Menurut Arief, penghujung tahun menjadi momentum penting bagi seluruh pegawai untuk mengevaluasi capaian pekerjaan, sekaligus mempercepat penyelesaian berbagai agenda yang masih berjalan. Hal ini diperlukan agar seluruh program kerja yang telah direncanakan dapat dituntaskan sesuai target dan ketentuan yang berlaku.“Peningkatan kinerja tidak hanya berkaitan dengan kecepatan menyelesaikan pekerjaan, tetapi juga kualitas pelaksanaan tugas, kedisiplinan, serta tanggung jawab setiap pegawai dalam mendukung kelancaran penyelenggaraan layanan universitas,” ujar Arief.Untuk mewujudkan hal tersebut, Arief mengimbau seluruh tendik agar terus memperkuat koordinasi dan komunikasi dengan berbagai pihak, baik di lingkungan unit kerja masing-masing maupun antar unit di tingkat universitas.“Koordinasi yang efektif menjadi kunci dalam mengatasi berbagai kendala pekerjaan, menyelaraskan pelaksanaan program, serta memastikan setiap tugas dapat diselesaikan secara optimal tanpa mengabaikan prosedur dan ketentuan yang berlaku,” terangnya.Arief juga mengingatkan agar seluruh pegawai tetap menjaga semangat kerja, serta tidak menunda penyelesaian tugas yang menjadi tanggung jawabnya. Dengan waktu kerja yang semakin mendekati akhir tahun, setiap unit diharapkan mampu mengoptimalkan pelaksanaan program melalui kerja sama dan pembagian tugas yang terarah.Melalui penguatan kinerja dan sinergi antarseluruh tenaga kependidikan, Arief berharap berbagai program kerja tahun 2026 dapat diselesaikan dengan hasil yang maksimal. Langkah ini sekaligus menjadi fondasi untuk mendukung peningkatan kualitas layanan dan pelaksanaan program universitas pada tahun berikutnya. (**)

Perkuat Kiprah Internasional, Akademisi UNG Ikuti Simposium Perikanan Berkelanjutan dan Blue Transformation di Tiongkok
02 Nov 2026
00:34 WITA

Perkuat Kiprah Internasional, Akademisi UNG Ikuti Simposium Perikanan Berkelanjutan dan Blue Transformation di Tiongkok

Abdul Wahid Rauf

GORONTALO – Kiprah akademisi Universitas Negeri Gorontalo (UNG) di kancah internasional terus menunjukkan perkembangan positif. Kali ini, dosen Fakultas Kelautan dan Teknologi Perikanan (FKTP), Dr. Arfiani Rizki Paramata, S.Pi., M.Si., turut ambil bagian dalam International Symposium on Sustainable Fisheries and Aquaculture and Blue Transformation yang berlangsung dalam rangkaian China Fisheries and Seafood Expo 2026 di Qingdao, Tiongkok.Kegiatan internasional yang berlangsung pada 28–30 Oktober 2026 di Qingdao Hongdao International Convention and Exhibition Center tersebut menjadi ajang pertemuan akademisi, peneliti, praktisi, serta pelaku industri perikanan dari berbagai negara untuk membahas inovasi dan masa depan sektor perikanan dan akuakultur yang berkelanjutan.Keikutsertaan Arfiani dalam forum internasional tersebut menjadi langkah penting dalam memperluas wawasan keilmuan sekaligus memperkuat jejaring akademik global, khususnya dalam menghadapi tantangan pengelolaan sumber daya kelautan dan perikanan.Salah satu isu utama yang menjadi perhatian dalam simposium tersebut adalah konsep Blue Transformation atau transformasi biru, sebuah pendekatan yang mendorong pengembangan sektor perikanan dan akuakultur melalui inovasi teknologi, peningkatan produktivitas, ketahanan pangan, serta pengelolaan sumber daya perairan yang tetap memperhatikan kelestarian lingkungan.Menurut Arfiani, transformasi biru menjadi salah satu pendekatan penting dalam menjawab tantangan pembangunan perikanan global. Konsep tersebut menekankan bahwa peningkatan produksi hasil perikanan perlu berjalan beriringan dengan perlindungan ekosistem serta pemanfaatan sumber daya secara bertanggung jawab.“Melalui pendekatan ini, sektor perikanan diharapkan tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan pangan masyarakat, tetapi juga membuka peluang ekonomi yang lebih luas, meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir, dan mendukung keberlanjutan sumber daya perairan bagi generasi mendatang,” ujarnya.Selain mengikuti simposium, kehadiran Arfiani dalam rangkaian China Fisheries and Seafood Expo juga memberikan kesempatan untuk mengenal berbagai perkembangan industri perikanan dunia. Mulai dari inovasi teknologi budidaya, pengolahan hasil perikanan, pengemasan produk, pengendalian mutu, hingga perkembangan perdagangan produk perikanan di pasar internasional.Berbagai pengetahuan dan pengalaman yang diperoleh dari forum tersebut, diharapkan dapat memberikan kontribusi terhadap pengembangan pendidikan dan penelitian di lingkungan FKTP UNG. Khususnya dalam memperkaya pembelajaran mahasiswa, mendorong inovasi penelitian, serta memperluas perspektif akademik mengenai pengelolaan potensi kelautan dan perikanan yang berkelanjutan.“Partisipasi dalam forum internasional ini juga menjadi peluang bagi akademisi UNG untuk membangun komunikasi, dan membuka kesempatan kolaborasi dengan akademisi maupun praktisi dari berbagai negara,” terangnya.Melalui keikutsertaan dosen pada forum ilmiah berskala internasional, Universitas Negeri Gorontalo terus menunjukkan komitmennya dalam mendorong peningkatan kapasitas dan daya saing akademisi, sekaligus memperkuat kontribusi perguruan tinggi terhadap pengembangan ilmu pengetahuan.Kehadiran Arfiani di Tiongkok diharapkan menjadi salah satu langkah dalam memperluas peran FKTP UNG sebagai institusi pendidikan tinggi yang aktif mendukung inovasi, keberlanjutan lingkungan, dan transformasi sektor kelautan dan perikanan di tingkat nasional maupun global.

Lihat Semua Berita