Bahasa Gorontalo di Ambang Kepunahan? Inilah Strategi 'Menjemput Kembali' Identitas Budaya Kita

GORONTALO – Bahasa bukan sekadar alat komunikasi. Ia adalah rumah bagi nilai-nilai, sejarah, dan cara pandang sebuah bangsa terhadap dunia. Ketika sebuah bahasa mati, maka mati pula ingatan kolektif masyarakatnya. Pertanyaannya kini, bagaimana nasib Bahasa Gorontalo di tengah arus modernisasi yang kian kencang?
Kenyataannya, Bahasa Gorontalo kini berada di titik yang rentan. Dominasi bahasa nasional dan bahasa asing di ruang publik serta kehidupan sehari-hari membuat Bahasa Gorontalo perlahan tersingkir dari tutur kata masyarakatnya sendiri, terutama di kalangan generasi muda. Jika tidak segera "dijemput kembali", bukan tidak mungkin bahasa ini akan menjadi warisan sejarah yang hanya bisa kita baca dalam buku, bukan lagi didengar dari lisan masyarakat.
Membaca Masalah, Merumuskan Solusi
Menyadari ancaman serius tersebut, tim peneliti dari Universitas Negeri Gorontalo (UNG) bergerak cepat. Dipimpin oleh Prof. Dr. Dakia N. Djou, M.Hum., bersama Dr. Ellyana G. Hinta, M.Hum., dan Dr. Salam, M.Pd., mereka melakukan riset mendalam melalui skema Penelitian Fundamental Reguler 2025 yang didanai oleh DPPM Kemdiktisaintek.
Penelitian berjudul “Strategi Revitalisasi Bahasa Gorontalo sebagai Upaya Penyelamatan Kepunahan Bahasa Daerah di Provinsi Gorontalo” ini bukan sekadar kajian di atas kertas. Menggunakan pendekatan kualitatif dengan melibatkan tokoh adat, guru, akademisi, hingga penutur lintas generasi, tim peneliti berhasil membedah mengapa Bahasa Gorontalo mulai kehilangan taringnya.
Diagnosa: Mengapa Bahasa Gorontalo Memudar?
Hasil riset mengungkapkan fakta yang cukup membuat kita menahan napas. Penurunan vitalitas Bahasa Gorontalo disebabkan oleh beberapa faktor sistemik:
1) Lingkungan Keluarga: Transmisi bahasa dari orang tua ke anak semakin melemah. Banyak orang tua merasa lebih bangga jika anaknya berkomunikasi dengan bahasa asing atau nasional.
2) Ruang Pendidikan: Bahasa Gorontalo belum terintegrasi secara maksimal dalam kurikulum sekolah, ditambah minimnya bahan ajar dan literatur yang memadai.
3) Dukungan Kelembagaan: Belum adanya kebijakan yang kuat dan sistematis dalam pelestarian bahasa di tingkat formal.
Strategi Holistik: Bukan Hanya Tanggung Jawab Satu Pihak
Namun, penelitian ini juga menemukan secercah harapan. Peran aktif komunitas adat, praktik budaya yang masih hidup, hingga komitmen pemerintah daerah adalah modal besar untuk revitalisasi.
Kunci dari strategi yang dirumuskan Prof. Dakia dan tim adalah pendekatan holistik. Mereka menegaskan bahwa pelestarian bahasa tidak bisa dilakukan secara parsial atau "jalan sendiri-sendiri". Strategi yang ditawarkan mencakup:
a) Sinergi Keluarga: Menjadikan rumah sebagai laboratorium bahasa pertama di mana Bahasa Gorontalo digunakan sebagai bahasa pengantar sehari-hari.
b) Revitalisasi Sekolah: Mendorong integrasi bahasa daerah ke dalam kurikulum lokal dengan materi yang kreatif dan mudah dicerna siswa.
c) Ruang Komunitas: Memperbanyak ruang kreatif berbasis budaya agar bahasa daerah tetap relevan dengan selera zaman.
d) Regulasi Pemerintah: Mendorong kebijakan konkret yang melindungi dan mempromosikan penggunaan bahasa daerah di ruang publik dan formal.
Bahasa adalah Identitas, Mari Menjaganya
Strategi ini telah melalui proses validasi ketat bersama para pemangku kepentingan (stakeholders) melalui Focus Group Discussion (FGD), sehingga apa yang dirumuskan benar-benar membumi dan aplikatif sesuai kebutuhan masyarakat Gorontalo.
Hasil penelitian ini bukan hanya menjadi catatan akademik, melainkan sebuah "peta jalan" (roadmap) bagi pemerintah dan masyarakat untuk menyelamatkan Bahasa Gorontalo. Pelestarian bahasa daerah adalah tugas kolektif. Sebab, ketika kita melestarikan bahasa, kita sejatinya sedang merawat jati diri kita sendiri di tengah dunia yang terus berubah.




