Academic Culture Series FIP UNG, Dosen Muda Hadirkan Inovasi untuk Perkuat Budaya Akademik

Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) UNG terus menunjukkan komitmennya dalam membangun budaya akademik yang inovatif dan adaptif terhadap perkembangan zaman. Komitmen tersebut diwujudkan melalui penyelenggaraan Academic Culture Series, sebuah forum ilmiah yang menjadi ruang bagi para dosen muda untuk mempresentasikan berbagai inovasi dalam bidang pembelajaran, penelitian, layanan akademik, hingga tata kelola pendidikan.
Kegiatan yang berlangsung di Aula FIP UNG ini dibuka secara resmi oleh Dekan FIP UNG, Prof. Dr. Arwildayanto, M.Pd. Menurutnya, perguruan tinggi yang ingin terus berkembang harus mampu menciptakan ruang-ruang akademik yang mendorong lahirnya ide, kolaborasi, dan inovasi dari seluruh sivitas akademika.
"Academic Culture Series ini adalah ruang transformasi gagasan. Dari sinilah lahir ide-ide baru yang mampu memperbaiki dan memperkuat iklim akademik di fakultas. Organisasi hanya akan hidup jika terus bergerak dan berinovasi," ujar Arwildayanto.
Ia menjelaskan bahwa inovasi menjadi salah satu indikator penting dalam meningkatkan kualitas penyelenggaraan pendidikan tinggi. Karena itu, dosen tidak hanya dituntut menghasilkan gagasan, tetapi juga mampu mengimplementasikan inovasi tersebut sehingga memberikan manfaat nyata bagi mahasiswa maupun institusi.
"Produk akademik terbaik adalah yang dapat digunakan dan dirasakan manfaatnya. Ketika inovasi itu dipakai, di situlah nilai tertinggi dari kerja seorang dosen," tambahnya.
Pada forum tersebut, enam dosen muda FIP UNG mempresentasikan inovasi yang dikembangkan sebagai solusi atas berbagai tantangan di dunia pendidikan. Berbagai inovasi tersebut meliputi layanan akademik mahasiswa berbasis digital dan standar operasional prosedur (SOP) terintegrasi, sistem pemetaan Capaian Pembelajaran Lulusan (CPL) dan Capaian Pembelajaran Mata Kuliah (CPMK) dalam penyusunan Rencana Pembelajaran Semester (RPS) berbasis Outcome-Based Education (OBE), optimalisasi lembar kerja mahasiswa menggunakan model case study, pengembangan praktikum IPA berbasis laboratorium virtual, pengembangan Konselor Start Lab untuk meningkatkan efikasi diri mahasiswa Bimbingan dan Konseling, hingga sistem digital pengajuan proposal skripsi.
Beragam inovasi tersebut dipresentasikan oleh Rahmat Olii, M.Pd., Putri Hasanah Kamilah, M.Pd., Sri Handayani, M.Pd., Sri Nur Astuti, M.Pd., Nanda Mirzawati, M.Pd., dan Eko Purwanto Mooduto, M.Pd. Seluruh karya yang dipaparkan menunjukkan keseriusan FIP UNG dalam menghadirkan transformasi layanan akademik berbasis teknologi sekaligus memperkuat implementasi pembelajaran yang berorientasi pada capaian pembelajaran mahasiswa.
Tidak hanya menjadi ajang diseminasi inovasi, Academic Culture Series juga menghadirkan sesi diskusi interaktif yang melibatkan dosen dan peserta. Forum tersebut dimanfaatkan untuk bertukar gagasan, memberikan masukan, serta mengembangkan perspektif baru terhadap berbagai inovasi yang dipresentasikan.
Menurut Arwildayanto, budaya akademik yang kuat tidak dibangun hanya melalui penyampaian materi, tetapi juga melalui keberanian untuk berdialog, mengkritisi, dan saling memperkaya pemikiran.
"Budaya akademik tidak hanya dibangun dari presentasi, tetapi juga dari dialog, kritik, dan pertukaran gagasan. Dari proses itulah akan lahir inovasi yang semakin matang dan memberikan dampak bagi kemajuan institusi," jelasnya.
Melalui penyelenggaraan Academic Culture Series, FIP UNG berharap inovasi yang lahir dari para dosen muda tidak berhenti sebagai hasil presentasi semata, tetapi dapat diimplementasikan secara nyata dalam proses pendidikan, menjadi praktik baik di lingkungan universitas, sekaligus menginspirasi sivitas akademika untuk terus menghadirkan terobosan yang adaptif, kolaboratif, dan berdampak bagi kemajuan pendidikan.





