Site Logo

Waspada Ketika Wajab Tiba-Tiba Membeku, Riset Fakultas Kedokteran Ungkap Bahaya Bell’s Palsy yang Mengintai Di Usia Muda

PenelitianSiaran Pers
Abdul Wahid Rauf
04 Jun 2026
02:21 WITA
415 dilihat
Waspada Ketika Wajab Tiba-Tiba Membeku, Riset Fakultas Kedokteran Ungkap Bahaya Bell’s Palsy yang Mengintai Di Usia Muda

Pernahkah Anda mendapati seseorang tiba-tiba kesulitan tersenyum, sudut mulut tampak mencong ke satu sisi, atau kelopak mata tidak bisa menutup sempurna? Kondisi ini bukan sekadar kelelahan otot biasa. Dalam dunia medis, gejala tersebut dikenal sebagai Bell's Palsy — kelumpuhan saraf wajah yang terjadi secara tiba-tiba pada satu sisi wajah.

Kini, kondisi ini menjadi perhatian serius setelah sebuah studi deskriptif yang dilakukan di RSUD Prof. Dr. H. Aloei Saboe, Gorontalo (2023–2025) mengungkap pola yang tak terduga: Bell's Palsy ternyata banyak menyerang penduduk di usia produktif. Temuan ini menggeser anggapan lama bahwa gangguan saraf identik dengan kelompok lanjut usia.

Bukan Penyakit "Orang Tua"

Salah satu temuan paling mengejutkan dari studi ini adalah tingginya prevalensi Bell's Palsy pada kelompok usia 20–29 tahun, yakni mencapai 38,5% dari seluruh kasus yang tercatat. Angka ini jauh melampaui kelompok usia lainnya dan memicu diskusi ilmiah yang serius mengenai peran gaya hidup modern sebagai faktor risiko.

Para ahli berpendapat bahwa generasi muda masa kini rentan karena kombinasi beberapa faktor: paparan suhu dingin yang berlebihan — baik dari pendingin ruangan maupun angin saat berkendara malam hari — serta tingkat stres tinggi yang secara kronis melemahkan sistem imun. Kondisi inilah yang diduga memicu reaktivasi virus laten, khususnya virus Herpes Simplex, yang kemudian menyerang saraf kranial ketujuh atau saraf wajah.

Data studi ini juga mencatat bahwa perempuan lebih banyak terdampak dibandingkan laki-laki, dengan proporsi mencapai 65,4% dari total kasus. Meski mekanisme pasti di balik perbedaan ini masih terus diteliti, fluktuasi hormonal dan perbedaan respons imun diyakini turut berkontribusi.

Mengenali Gejala Sejak Dini

Bell's Palsy tidak datang tanpa tanda. Studi ini mencatat beberapa gejala dominan yang perlu diwaspadai:

  1. Asimetri wajah — sudut mulut mencong ke satu sisi, ditemukan pada 31,4% pasien, merupakan gejala yang paling mudah dikenali secara visual.

  2. Gangguan pada mata — kesulitan menutup kelopak mata sepenuhnya dialami oleh 19,6% pasien. Bila dibiarkan, kondisi ini berisiko menimbulkan mata kering, iritasi, bahkan kerusakan kornea.

  3. Nyeri di belakang telinga — kerap muncul sebagai gejala awal sebelum kelumpuhan wajah terjadi sepenuhnya, namun sering diabaikan karena dianggap tidak berbahaya.

Mengenali gejala-gejala ini sejak dini adalah kunci utama keberhasilan pengobatan.

Kecepatan Penanganan Adalah Segalanya

Meskipun perubahan wajah yang mendadak kerap menimbulkan kepanikan, studi ini membawa kabar yang menggembirakan: sebanyak 65,4% pasien berhasil sembuh total. Namun, kesembuhan tersebut sangat bergantung pada satu faktor krusial — kecepatan penanganan.

Penggunaan kortikosteroid pada fase akut, yaitu dalam 72 jam pertama sejak gejala muncul, terbukti secara klinis meningkatkan peluang pemulihan secara signifikan. Sebaliknya, pasien yang terlambat mendapatkan penanganan medis — terutama mereka yang lebih memilih pengobatan alternatif yang tidak berbasis bukti ilmiah — berisiko mengalami pemulihan yang tidak sempurna, bahkan kecacatan permanen pada otot wajah.

Bell's Palsy Bukan Sekadar "Masuk Angin"

Di masyarakat, Bell's Palsy masih sering disalahartikan sebagai dampak dari "masuk angin" atau terkena kipas angin langsung. Mitos ini berbahaya karena dapat menunda pasien untuk segera mencari pertolongan medis.

Secara ilmiah, Bell's Palsy adalah kondisi neurologis kompleks yang melibatkan proses peradangan pada saraf wajah. Pendekatan yang tepat bukan panik, melainkan segera bertindak: kenali gejalanya, dan pergi ke fasilitas kesehatan dalam waktu sesingkat mungkin.

Studi dari Gorontalo ini menjadi pengingat penting, khususnya bagi generasi muda Indonesia, bahwa menjaga kesehatan sistem imun — melalui pola tidur yang cukup, manajemen stres, dan perlindungan dari paparan dingin ekstrem — bukan sekadar gaya hidup sehat, melainkan bentuk nyata pencegahan gangguan saraf yang dapat mengubah kualitas hidup secara drastis.

(Artikel penelitian dipublikasikan melalui laman berikut)

Ikuti berita lainnya

Dua Prodi FEB UNG Raih Akreditasi Unggul, Tegaskan Komitmen pada Pendidikan Berkualitas
19 Jul 2026
12:25 WITA

Dua Prodi FEB UNG Raih Akreditasi Unggul, Tegaskan Komitmen pada Pendidikan Berkualitas

Rachmad Hidayah

Gorontalo – Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Negeri Gorontalo (UNG) kembali mencatatkan prestasi membanggakan. Dua program studi di lingkungan FEB resmi meraih predikat Akreditasi Unggul dengan masa berlaku lima tahun dari dua lembaga akreditasi mandiri.Program Studi S1 Manajemen memperoleh predikat Unggul dari Lembaga Akreditasi Mandiri Ekonomi, Manajemen, Bisnis, dan Akuntansi (LAMEMBA) berdasarkan Keputusan Nomor 178/DE/A.5/LAMEMBA-U/VII/2026, berlaku mulai 10 Juli 2026 hingga 10 Juli 2031. Sementara itu, Program Studi S1 Pendidikan Ekonomi juga berhasil meraih predikat Unggul dari Lembaga Akreditasi Mandiri Kependidikan (LAMDIK) berdasarkan Keputusan Nomor 1391/SK/LAMDIK/Ak/S/VII/2026, yang berlaku mulai 17 Juli 2026 hingga 16 Juli 2031.Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis UNG, Dr. Raflin Hinelo, S.Pd., M.Si., menyampaikan bahwa capaian tersebut merupakan hasil dari kerja keras seluruh sivitas akademika fakultas dalam membangun budaya mutu yang berkelanjutan."Akreditasi Unggul yang diraih oleh Program Studi S1 Manajemen dan S1 Pendidikan Ekonomi merupakan pencapaian yang sangat membanggakan bagi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Negeri Gorontalo. Keberhasilan ini adalah buah dari kerja keras, komitmen, dan kolaborasi seluruh sivitas akademika dalam membangun tata kelola pendidikan yang berkualitas, memperkuat tridarma perguruan tinggi, serta meningkatkan daya saing lulusan,” ujarnya.Raflin menambahkan, raihan Akreditasi Unggul menjadi penyemangat bagi seluruh sivitas akademika Fakultas Ekonomi dan Bisnis UNG untuk terus berinovasi, meningkatkan mutu pembelajaran, memperkuat jejaring kemitraan, serta menghasilkan lulusan yang mampu beradaptasi dengan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan tuntutan dunia kerja.Sementara itu, Wakil Dekan Bidang Akademik FEB UNG, Dr. Irawati Abdul, S.E., M.Si., menjelaskan bahwa keberhasilan dua program studi memperoleh Akreditasi Unggul merupakan hasil dari proses evaluasi yang panjang dan komprehensif."Capaian ini menunjukkan bahwa sistem akademik di Fakultas Ekonomi dan Bisnis telah berjalan secara konsisten sesuai dengan standar yang ditetapkan oleh lembaga akreditasi,” jelasnya.Ia menambahkan, keberhasilan tersebut menjadi dorongan bagi seluruh program studi di lingkungan FEB untuk terus meningkatkan kualitas penyelenggaraan pendidikan."Kami akan terus memperkuat penjaminan mutu, meningkatkan kualitas kurikulum, pembelajaran, penelitian dan pengabdian kolaboratif mahasiswa dan dosen, penelitian kolaboratif internasional, serta pelayanan akademik agar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Negeri Gorontalo mampu mempertahankan bahkan meningkatkan reputasinya untuk terus mendukung UNG sebagai kampus yang unggul dan berdaya saing," ujarnya.

Prodi S1 Manajemen UNG Raih Akreditasi Unggul, Perkuat Posisi sebagai Program Studi Berdaya Saing Nasional
16 Jul 2026
09:35 WITA

Prodi S1 Manajemen UNG Raih Akreditasi Unggul, Perkuat Posisi sebagai Program Studi Berdaya Saing Nasional

Abdul Wahid Rauf

GORONTALO – Program Studi Sarjana (S1) Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) meraih predikat Akreditasi Unggul, dari Lembaga Akreditasi Mandiri Ekonomi, Manajemen, Bisnis, dan Akuntansi (LAMEMBA) berdasarkan Keputusan LAMEMBA Nomor 178/DE/A.5/LAMEMBA-U/VII/2026.Capaian ini menjadi pengakuan atas konsistensi prodi  manajemen dalam menyelenggarakan pendidikan tinggi yang bermutu, adaptif terhadap perkembangan zaman, dan berorientasi pada peningkatan kualitas secara berkelanjutan.Keberhasilan meraih Akreditasi Unggul tidak diperoleh secara instan. Prodi manajemen harus melalui serangkaian proses penilaian, mulai dari evaluasi dokumen, asesmen lapangan, hingga verifikasi berbagai aspek penyelenggaraan pendidikan oleh tim asesor LAMEMBA.Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis UNG, Dr. Raflin Hinelo, M.Pd., menyampaikan bahwa pencapaian tersebut merupakan hasil kerja keras seluruh sivitas akademika dalam membangun budaya mutu yang berkelanjutan.Menurutnya, predikat Akreditasi Unggul menjadi bukti bahwa prodi manajemen telah memenuhi standar tertinggi dalam berbagai aspek penilaian, mulai dari tata kelola prodi, implementasi kurikulum berbasis luaran (Outcome-Based Education), kualitas sumber daya manusia, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, kemahasiswaan, hingga jejaring kerja sama.“Akreditasi Unggul merupakan bukti kualitas yang dimiliki prodi manajemen. Hasil ini menunjukkan bahwa seluruh aspek penyelenggaraan pendidikan telah memenuhi standar terbaik yang ditetapkan LAMEMBA. Tentu capaian ini merupakan hasil kolaborasi seluruh dosen, tenaga kependidikan, mahasiswa, alumni, serta para mitra yang selama ini mendukung pengembangan program studi,” ujar Raflin.Ia menambahkan, capaian tersebut sekaligus menjadi motivasi untuk terus meningkatkan kualitas layanan akademik agar mampu menjawab tantangan dunia pendidikan tinggi dan kebutuhan dunia kerja yang terus berkembang.Apresiasi juga disampaikan Rektor UNG, Prof. Dr. Ir. Eduart Wolok, S.T., M.T. Menurutnya, raihan Akreditasi Unggul semakin memperkuat posisi prodi manajemen, sebagai salah satu prodi yang mampu menghasilkan lulusan kompeten, profesional, berintegritas, serta memiliki daya saing di tingkat nasional maupun internasional.“Predikat ini menunjukkan bahwa prodi manajemen telah memiliki kualitas yang diakui secara nasional. Capaian ini harus menjadi motivasi untuk terus menghadirkan inovasi dalam pembelajaran, memperkuat budaya riset, meningkatkan kolaborasi dengan dunia usaha dan dunia industri, serta memperluas jejaring kerja sama internasional," ungkap Eduart.Namun demikian, Rektor menegaskan bahwa predikat Akreditasi Unggul bukanlah garis akhir dari proses peningkatan mutu.  Pengakuan tersebut justru menjadi amanah besar bagi seluruh sivitas akademika untuk terus menjaga kualitas pendidikan, meningkatkan pelayanan akademik, serta memperkuat kontribusi program studi dalam menghasilkan sumber daya manusia unggul yang mampu memberikan dampak nyata bagi pembangunan daerah maupun nasional. (**)

Mahasiswa FSB Lolos Program Bergengsi Belajar Bersama Maestro 2026, Siap Menimba Ilmu dari Maestro Seni Indonesia
16 Jul 2026
02:00 WITA

Mahasiswa FSB Lolos Program Bergengsi Belajar Bersama Maestro 2026, Siap Menimba Ilmu dari Maestro Seni Indonesia

Abdul Wahid Rauf

GORONTALO – Prestasi membanggakan kembali ditorehkan mahasiswa Universitas Negeri Gorontalo (UNG) di tingkat nasional. Muhammad Najmi, mahasiswa Program Studi Pendidikan Seni Drama, Tari, dan Musik (Sendratasik), Fakultas Sastra dan Budaya (FSB) UNG, berhasil lolos sebagai peserta Program Belajar Bersama Maestro (BBM) 2026, sebuah program prestisius yang diselenggarakan oleh Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia untuk melahirkan generasi muda pelestari seni dan budaya Nusantara.Keberhasilan tersebut menempatkan Muhammad Najmi sebagai salah satu mahasiswa terbaik dari berbagai daerah di Indonesia yang akan memperoleh kesempatan langka belajar secara langsung bersama para maestro seni dan budaya Indonesia. Program ini akan berlangsung selama satu bulan, mulai 15 Juli hingga 15 Agustus 2026, di Jakarta.Belajar Bersama Maestro merupakan program nasional yang dirancang untuk menjembatani proses transfer pengetahuan, keterampilan, filosofi, hingga nilai-nilai budaya dari para maestro kepada generasi muda. Selama mengikuti program, peserta tidak hanya memperoleh pengalaman praktik berkesenian, tetapi juga mendalami proses kreatif yang menjadi ciri khas para seniman dan budayawan Indonesia.Keikutsertaan Muhammad Najmi merupakan hasil dari proses seleksi yang berlangsung sangat kompetitif. Selain kemampuan artistik, peserta juga dinilai berdasarkan komitmen mereka dalam menjaga, mengembangkan, dan mewariskan kekayaan budaya Indonesia kepada generasi mendatang.Bagi Muhammad Najmi, kesempatan mengikuti BBM 2026 menjadi pengalaman akademik sekaligus ruang pembelajaran yang tidak dapat diperoleh di ruang kelas. Melalui interaksi langsung dengan para maestro, ia akan memperluas wawasan mengenai teknik berkesenian, nilai-nilai budaya, serta pendekatan kreatif dalam melestarikan seni tradisional Indonesia.Dekan Fakultas Sastra dan Budaya UNG, Prof. Dra. Nonny Basalama, M.A., Ph.D., menyampaikan apresiasi atas keberhasilan mahasiswa FSB tersebut. Menurutnya, capaian ini menjadi bukti bahwa mahasiswa FSB UNG memiliki kompetensi, kreativitas, dan daya saing yang mampu bersaing pada program-program nasional bergengsi di bidang seni dan budaya."Program Belajar Bersama Maestro merupakan kesempatan yang sangat berharga bagi mahasiswa untuk belajar langsung dari para maestro seni Indonesia. Pengalaman ini tidak hanya memperkaya pengetahuan dan keterampilan berkesenian, tetapi juga membentuk karakter mahasiswa sebagai generasi pelestari budaya bangsa," ungkap Prof. Nonny.Ia berharap pengalaman yang diperoleh Muhammad Najmi selama mengikuti program dapat ditransformasikan kepada mahasiswa lainnya, sehingga mampu memperkuat budaya akademik sekaligus mendorong lahirnya lebih banyak prestasi di bidang seni dan budaya.Sementara itu, Rektor UNG melalui Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Alumni, Prof. Dr. Mohamad Amir Arham, M.E., menilai keberhasilan tersebut semakin menegaskan kualitas mahasiswa UNG yang mampu bersaing pada program-program nasional bergengsi.Menurutnya, partisipasi mahasiswa dalam Program Belajar Bersama Maestro sejalan dengan komitmen Universitas Negeri Gorontalo dalam mencetak lulusan yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga kreatif, inovatif, serta memiliki kepedulian terhadap pelestarian seni dan budaya Indonesia."Ilmu dan pengalaman yang diperoleh Muhammad Najmi selama mengikuti program, diharapkan dapat ditransformasikan kepada mahasiswa lainnya, sehingga mampu memperkuat budaya akademik sekaligus mendorong lahirnya lebih banyak prestasi di bidang seni dan budaya,” harap Amir.

Lihat Semua Berita