Site Logo

UNG Peringkat 5 Perguruan Tinggi Terbaik di Indonesia Timur

Abdul Wahid Rauf
03 Nov 2021
14:11 WITA
5.295 dilihat
UNG Peringkat 5 Perguruan Tinggi Terbaik di Indonesia Timur

GORONTALO - Sebuah pencapaian membanggakan berhasil dicatatkan Universitas Negeri Gorontalo, yakni menjadi perguruan tinggi terbaik ke 5 untuk wilayah Indonesia timur. Pencapaian peringkat 5 tersebut berdasarkan pemeringkatan yang dilakukan oleh 4icu uniRank untuk tahun 2021.

UNG sebagai salah satu perguruan tinggi terbaik di kawasan Indonesia timur berada dibawah Universitas Negeri Makassar, Universitas Sam Ratulangi, Universitas Islam Negeri Alauddin dan Universitas Hasanudin.

Menurut Rektor UNG Dr. Eduart Wolok, S.T, M.T, hasil pemeringkatan perguruan tinggi yang dilakukan uniRank, menjadi penyemangat bagi UNG untuk terus meningkatkan kualitas serta prestasi khususnya tridharma perguruan tinggi. Dengan pencapaian tersebut, Rektor mengaku akan terus berusaha dan bekerja keras untuk meningkatkan kualitas UNG agar menjadi kampus yang unggul dan berdaya saing.

"Dengan dukungan seluruh civitas akademika UNG serta seluruh masyarakat Gorontalo kami akan terus berupaya menjadi salah satu Kampus terbaik di Indonesia," harapnya.

UniRank merupakan lembaga pembuat ranking perguruan tinggi internasional yang berpusat di Sydney, Australia. Sebagai lembaga pemeringkatan perguruan tinggi ternama, uniRank telah merilis daftar perguruan tinggi di dunia periode Oktober 2021 termasuk di kawasan Indonesia.(**)

Ikuti berita lainnya

Raih Akreditasi Unggul, Kualitas Pendidikan Profesi Guru UNG Diakui Secara Nasional
22 Oct 2026
07:16 WITA

Raih Akreditasi Unggul, Kualitas Pendidikan Profesi Guru UNG Diakui Secara Nasional

Abdul Wahid Rauf

GORONTALO – Komitmen Universitas Negeri Gorontalo (UNG) dalam meningkatkan kualitas pendidikan tenaga pendidik, memperoleh pengakuan secara nasional. Program Studi Pendidikan Profesi Guru (PPG) pada Program Profesi UNG, berhasil meraih Akreditasi Unggul berdasarkan penilaian Lembaga Akreditasi Mandiri Kependidikan (LAMDIK).Predikat tertinggi tersebut menjadi pengakuan atas kualitas penyelenggaraan pendidikan profesi guru di UNG, mulai dari proses pendidikan dan pembelajaran hingga tata kelola akademik. Capaian ini sekaligus memperkuat peran PPG UNG, dalam menyiapkan guru profesional yang memiliki kompetensi sesuai kebutuhan dunia pendidikan.Rektor UNG, Prof. Dr. Ir. Eduart Wolok, S.T., M.T., menyampaikan rasa syukur dan apresiasi atas capaian tersebut. Menurutnya, keberhasilan meraih Akreditasi Unggul merupakan bukti konkret komitmen UNG dalam menghadirkan pendidikan tinggi yang bermutu, sekaligus menjadi dorongan untuk terus meningkatkan kualitas penyelenggaraan pendidikan profesi.Menurutnya akreditasi Unggul tersebut bukan sekadar pencapaian administratif, melainkan cerminan komitmen institusi dalam menjaga dan meningkatkan mutu pendidikan secara berkelanjutan.“Melalui penyelenggaraan program yang berorientasi pada kualitas, PPG UNG terus memperkuat kapasitasnya untuk menghasilkan calon guru profesional yang siap menjalankan tugas dan tanggung jawab di tengah masyarakat,” ungkapnya.Sebagai perguruan tinggi eks-Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK), Rektor menegaskan bahwa UNG memiliki komitmen kuat untuk memperkuat kualitas pendidikan dan pembelajaran pada Program Studi PPG. Peran tersebut dinilai strategis karena kualitas guru, menjadi salah satu unsur penting dalam mendorong peningkatan mutu pendidikan di Indonesia.“Capaian ini juga menjadi landasan bagi UNG untuk terus mengembangkan penyelenggaraan pendidikan profesi guru yang adaptif terhadap kebutuhan pembelajaran dan tantangan dunia pendidikan,” terang Rektor.Ia berharap penguatan kualitas akademik, tata kelola, serta proses pembelajaran dapat senantiasa berjalan beriringan dengan upaya membentuk guru yang profesional, kompeten, dan mampu memberikan kontribusi nyata bagi kemajuan pendidikan.  Dengan diraihnya Akreditasi Unggul, juga diharapkan dapat semakin memacu PPG UNG, untuk semakin memperkuat kontribusinya dalam menyiapkan sumber daya manusia bidang pendidikan. (**)

Bawa Edukasi Bencana Anak Pesisir, Tim HUYULA UNG Lolos PIMNAS ke-39 Tahun 2026
20 Oct 2026
05:44 WITA

Bawa Edukasi Bencana Anak Pesisir, Tim HUYULA UNG Lolos PIMNAS ke-39 Tahun 2026

Abdul Wahid Rauf

GORONTALO — Berangkat dari kepedulian terhadap keselamatan anak-anak di kawasan pesisir, mahasiswa Universitas Negeri Gorontalo (UNG) berhasil menembus ajang Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS) ke-39 Tahun 2026.Melalui Tim Program Kreativitas Mahasiswa bidang Pengabdian kepada Masyarakat (PKM-PM) HUYULA, mahasiswa UNG menghadirkan inovasi edukasi kesiapsiagaan bencana yang memadukan permainan interaktif, kearifan lokal Gorontalo, dan pemanfaatan sampah plastik pantai.Tim HUYULA mengusung program bertajuk “Penguatan Kesiapsiagaan Bencana Anak Pesisir Tanjung Kramat melalui Pendekatan Huyula Berbasis Edukasi Interaktif dengan Pemanfaatan Alih Guna Sampah Plastik Pantai”. Program ini dirancang untuk membantu anak-anak di wilayah pesisir Tanjung Kramat, Kota Gorontalo, memahami langkah-langkah menghadapi situasi darurat melalui pembelajaran yang menyenangkan, mudah dipahami, dan dekat dengan kehidupan sehari-hari.Tim HUYULA diketuai oleh Nurul Fauziah Sabir, dengan anggota Siti Muthia Sulaeman, Muh Hafizh Afriyad Lamusu, dan Rayhan Ramadhan Ali dari Program Studi Kedokteran, serta Amanda Nuraini P. Zakaria dari Program Studi Ilmu Lingkungan. Tim ini berada di bawah bimbingan dr. Abdi Dzul Ikram Hasanuddin, M.Biomed. Keterlibatan mahasiswa dari bidang kedokteran dan ilmu lingkungan memperlihatkan pendekatan lintas disiplin dalam merancang solusi edukatif yang menjawab kebutuhan masyarakat pesisir.Ketua tim, Nurul Fauziah Sabir, menjelaskan dalam pelaksanaannya, tim menggunakan berbagai metode edukatif, mulai dari permainan interaktif, pengenalan tas siaga bencana, hingga simulasi kebencanaan. Melalui pendekatan tersebut, anak-anak tidak hanya memperoleh pengetahuan mengenai kesiapsiagaan, tetapi juga diajak mengenali tindakan yang perlu dilakukan ketika menghadapi keadaan darurat.“Pembelajaran dirancang agar pesan keselamatan dapat diterima secara lebih menarik dan mudah diingat,” terangnya.Keunikan program ini terletak pada penerapan nilai huyula, yaitu semangat gotong royong dan kerja sama yang menjadi bagian dari kearifan lokal masyarakat Gorontalo. Nilai tersebut diintegrasikan ke dalam proses pembelajaran untuk menanamkan pemahaman bahwa kesiapsiagaan bencana bukan hanya tentang menyelamatkan diri sendiri, melainkan juga membangun kepedulian dan saling membantu ketika menghadapi keadaan darurat.Inovasi HUYULA juga menghubungkan pendidikan kebencanaan dengan persoalan lingkungan melalui pemanfaatan sampah plastik pantai sebagai media pembelajaran. Pendekatan ini membuka ruang bagi anak-anak untuk belajar mengenai pentingnya menjaga kebersihan lingkungan.“Ini juga sekaligus menjadi wadah memahami bahwa kepedulian terhadap kawasan tempat tinggal merupakan bagian dari upaya membangun masyarakat yang lebih tangguh menghadapi bencana,” jelas Nurul.Keberhasilan lolos ke PIMNAS ke-39 menjadi kesempatan bagi Tim HUYULA untuk membawa gagasan pengabdian berbasis potensi lokal Gorontalo ke panggung nasional. Ajang tersebut dijadwalkan berlangsung pada 2–7 November 2026 di Universitas Diponegoro, Semarang. Partisipasi ini sekaligus menjadi ruang bagi mahasiswa untuk mengembangkan gagasan, menguji relevansi inovasi, dan memperluas kontribusi akademik bagi masyarakat.Melalui kiprah Tim HUYULA, UNG terus mendorong mahasiswa agar tidak hanya berprestasi di bidang akademik, tetapi juga mampu menghadirkan solusi kreatif terhadap persoalan nyata di lingkungan sekitar. Perpaduan edukasi kebencanaan, semangat huyula, dan kepedulian terhadap lingkungan diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi pengembangan program pemberdayaan masyarakat yang berkelanjutan, khususnya dalam membangun kesiapsiagaan anak-anak di wilayah pesisir.

Dari Tulang Sotong Menjadi Hand Sanitizer, Peneliti UNG Kembangkan Inovasi Berbasis Kitosan
19 Oct 2026
02:05 WITA

Dari Tulang Sotong Menjadi Hand Sanitizer, Peneliti UNG Kembangkan Inovasi Berbasis Kitosan

Abdul Wahid Rauf

Tulang sotong yang kerap dianggap sebagai hasil samping perikanan ternyata menyimpan potensi untuk dikembangkan menjadi bahan produk kebersihan tangan. Melalui pengolahan menjadi kitosan, bahan ini diteliti sebagai agen antibakteri dalam formulasi spray hand sanitizer untuk menghambat pertumbuhan bakteri Escherichia coli.Hasil samping perikanan tidak selalu harus berakhir sebagai limbah. Dengan pengolahan yang tepat, material yang belum dimanfaatkan secara optimal dapat menjadi bahan baku bernilai tambah. Salah satu contohnya adalah tulang sotong (Sepia sp.) yang berpotensi diolah menjadi kitosan, senyawa yang menarik perhatian dalam pengembangan berbagai produk, termasuk produk kebersihan.Potensi tersebut dikaji oleh Febriyanti Rasyid, Asri Silvana Naiu, dan Lukman Mile dari Faculty of Maritime Affairs and Fisheries Technology, Gorontalo State University atau Universitas Negeri Gorontalo (UNG). Penelitian mereka diterbitkan dalam Industria: Jurnal Teknologi dan Manajemen Agroindustri, Volume 14 Nomor 1 Tahun 2025, halaman 37–52.Penelitian ini mengkaji pemanfaatan kitosan dari tulang sotong sebagai bahan aktif dalam spray hand sanitizer, sekaligus menguji kemampuannya menghambat bakteri Escherichia coli atau E. coli. Bakteri tersebut merupakan salah satu mikroorganisme yang dapat menyebabkan gangguan kesehatan apabila jenis patogeniknya masuk ke dalam tubuh melalui jalur yang sesuai.Kitosan Tulang Sotong Memiliki Karakteristik yang Memenuhi Parameter MutuPenelitian ini berangkat dari kebutuhan akan produk kebersihan tangan yang praktis sekaligus membuka peluang pemanfaatan bahan alami. Dalam penelitian tersebut, tulang sotong diproses melalui tiga tahapan utama, yakni deproteinasi, demineralisasi, dan deasetilasi untuk menghasilkan kitosan yang kemudian digunakan sebagai bahan aktif dalam formulasi spray hand sanitizer.Hasil karakterisasi menunjukkan kitosan yang diperoleh memiliki rendemen 30 persen, kadar air 5,23 persen, kadar abu 3,36 persen, dan derajat deasetilasi 74,78 persen. Penelitian mencatat bahwa kadar air dan kadar abu tersebut berada di bawah batas yang dirujuk dalam SNI 7949:2013, sedangkan derajat deasetilasi telah melampaui batas minimum 70 persen.Kitosan tersebut kemudian diformulasikan dalam tiga konsentrasi, yaitu 5 persen (P1), 10 persen (P2), dan 15 persen (P3). Ketiga formula diuji berdasarkan pH, viskositas, serta aktivitas antibakterinya terhadap E. coli.Konsentrasi Kitosan Meningkatkan Aktivitas AntibakteriHasil pengujian menunjukkan adanya peningkatan aktivitas antibakteri seiring meningkatnya konsentrasi kitosan. Zona hambat terhadap E. coli tercatat sebesar 9,07 ± 1,33 mm pada P1, 22,03 ± 7,40 mm pada P2, dan 25,43 ± 3,96 mm pada P3.Analisis ANOVA menunjukkan adanya perbedaan signifikan antarformula (p<0,05). Dalam interpretasi penelitian, P1 berada pada kategori lemah hingga sedang, P2 tergolong kuat, sedangkan P3 tergolong sangat kuat berdasarkan zona hambat yang dihasilkan. Namun, peningkatan konsentrasi juga diikuti oleh peningkatan viskositas.Formula 10 Persen Menjadi Titik KompromiMenariknya, konsentrasi tertinggi tidak otomatis menghasilkan karakteristik spray yang paling sesuai. Formula P3 dengan kitosan 15 persen menghasilkan zona hambat terbesar, tetapi memiliki viskositas 4.517 ± 680 cP, sehingga berpotensi menurunkan kenyamanan dan konsistensi penyemprotan.Sementara itu, formula P1 memiliki viskositas 750 ± 250 cP dan memberikan kenyamanan semprot yang lebih baik, tetapi aktivitas antibakterinya masih rendah. Formula P2 dengan konsentrasi kitosan 10 persen menghasilkan aktivitas antibakteri kuat dengan viskositas 2.917 ± 1.010 cP, sehingga oleh peneliti dipandang sebagai titik kompromi antara aktivitas antibakteri dan karakteristik fungsional formulasi.Meski demikian, terdapat catatan penting pada aspek pH. Formula 10 persen memiliki pH 9,02 ± 0,17, sementara penelitian menggunakan rentang ideal kulit sekitar 4,5–6,5. Karena itu, peneliti merekomendasikan optimasi sistem penyangga sebelum pengembangan lebih lanjut.Membuka Peluang Pemanfaatan Limbah PerikananDi balik pengujian formulasi dan aktivitas antibakteri, penelitian ini membawa gagasan yang lebih luas mengenai pemanfaatan sumber daya perikanan. Tulang sotong yang belum dimanfaatkan secara optimal berpotensi diolah menjadi bahan baku untuk pengembangan produk bernilai tambah.Pemanfaatan kitosan dari sumber non-krustasea seperti sotong juga memperluas pilihan bahan alami yang dapat diteliti untuk berbagai aplikasi. Jika dikembangkan melalui proses yang tepat, pendekatan ini berpotensi mendukung pemanfaatan hasil samping perikanan sekaligus mendorong inovasi produk berbasis sumber daya laut.Namun, manfaat lingkungan dan kelayakan penerapannya tetap perlu dinilai lebih lanjut, termasuk melalui kajian proses produksi, efisiensi bahan baku, biaya pengolahan, dan dampak lingkungan secara keseluruhan.Penelitian Febriyanti Rasyid, Asri Silvana Naiu, dan Lukman Mile menunjukkan bahwa tulang sotong memiliki potensi sebagai sumber kitosan untuk formulasi spray hand sanitizer dengan aktivitas antibakteri terhadap E. coli dalam pengujian laboratorium. Di antara formula yang diuji, konsentrasi 10 persen dipandang menjanjikan karena menawarkan keseimbangan antara aktivitas antibakteri dan karakteristik fisik, meskipun persoalan pH masih perlu diatasi.Lebih dari sekadar mengembangkan formulasi produk kebersihan, riset ini memperlihatkan bagaimana hasil samping perikanan dapat menjadi titik awal inovasi ilmiah. Dengan penelitian lanjutan dan pengujian keamanan yang memadai, kitosan tulang sotong berpeluang dikembangkan lebih jauh sebagai bahan bernilai tambah dalam industri berbasis sumber daya perikanan. (**)

Tembus Kompetisi Desain Dunia, Mahasiswa FT UNG Raih Penghargaan Internasional Lewat Karya KALA-REKA
19 Oct 2026
01:16 WITA

Tembus Kompetisi Desain Dunia, Mahasiswa FT UNG Raih Penghargaan Internasional Lewat Karya KALA-REKA

Abdul Wahid Rauf

GORONTALO— Berangkat dari gagasan hunian pascabencana yang adaptif dan berkelanjutan, dua mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Negeri Gorontalo (UNG) berhasil membawa karya mereka ke panggung desain internasional. Muhammad Ikhsan dari Program Studi D-IV Arsitektur Bangunan Gedung dan Risky Husain dari Program Studi S1 Arsitektur meraih penghargaan melalui karya bertajuk “KALA-REKA” dalam Taiwan International Student Design Competition (TISDC) 2026, kategori Architecture & Landscape Design.TISDC merupakan kompetisi desain mahasiswa berskala internasional yang didukung oleh World Design Organization (WDO). Tahun ini, kompetisi tersebut mengangkat tema “Resilience” dan mencakup berbagai bidang desain, mulai dari desain produk, visual, animasi digital, arsitektur dan lanskap, hingga desain fesyen. Keberhasilan KALA-REKA menembus jajaran pemenang menjadi capaian membanggakan bagi mahasiswa FT UNG di tengah persaingan karya dari berbagai negara.Skala kompetisi tersebut tergambar dari jumlah partisipasi yang mencapai 22.427 karya dari mahasiswa di 92 negara dan wilayah. Proses penilaian melibatkan 97 juri profesional dari berbagai negara pada tahap awal, kemudian dilanjutkan dengan penilaian akhir oleh 35 juri dari 21 organisasi desain internasional. Di tengah persaingan tersebut, KALA-REKA berhasil menarik perhatian melalui pendekatan desain yang menggabungkan efisiensi pemanfaatan material, fleksibilitas ruang, dan kemandirian sistem.KALA-REKA dikembangkan dengan mengusung tiga gagasan utama, yakni up-cycled, modular, dan independen. Pendekatan up-cycled menekankan pemanfaatan kembali material agar memiliki nilai guna, konsep modular memungkinkan ruang dan komponen bangunan disesuaikan dengan kebutuhan, sedangkan prinsip independen diarahkan pada kemandirian sistem hunian. Ketiga gagasan ini menjadi bagian dari upaya menghadirkan solusi arsitektur yang lebih adaptif terhadap kebutuhan masyarakat, khususnya dalam konteks hunian pascabencana.Capaian internasional ini juga merupakan hasil dari proses pengembangan karya yang berkelanjutan. Sebelum mengikuti TISDC 2026, KALA-REKA telah berpartisipasi dalam Sayembara Wakaf Desain Arsitektur Rumah Pascabencana Banjir Sumatera yang diinisiasi Ikatan Arsitek Indonesia Jawa Barat bersama Yayasan Arsitektur Hijau Nusantara.Pada Maret 2026, karya tersebut terpilih sebagai salah satu karya terbaik dalam ajang tersebut. Pengalaman mengikuti kompetisi nasional menjadi bagian dari perjalanan pengembangan gagasan hingga akhirnya dibawa ke arena internasional.Rektor UNG melalui Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Alumni, Prof. Dr. Mohamad Amir Arham, M.E., menyambut positif capaian tersebut. Menurutnya, keberhasilan Muhammad Ikhsan dan Risky Husain menunjukkan bahwa mahasiswa Arsitektur FT UNG, mampu mengangkat isu kebencanaan dan keberlanjutan ke dalam gagasan desain yang relevan dengan tantangan global.“Keberhasilan KALA-REKA menembus jajaran pemenang merupakan sebuah kebanggaan, ini menunjukkan karya mahasiswa UNG dapat bersaing dengan karya inovatif lainnya dilevel internasional,” ujarnya.Dekan Fakultas Teknik UNG, Prof. Dr. Ir. Sardi Salim, M.Pd., menuturkan bahwa prestasi ini menunjukkan pentingnya keterpaduan proses akademik, pembimbingan, dan partisipasi mahasiswa dalam berbagai kompetisi. Pengalaman mengikuti sayembara nasional hingga menembus kompetisi internasional menjadi ruang pembelajaran bagi mahasiswa untuk mengembangkan kreativitas, memperkuat kualitas karya, serta membangun kepercayaan diri dalam menghadapi persaingan global.Prestasi Muhammad Ikhsan dan Risky Husain diharapkan menjadi inspirasi bagi mahasiswa UNG lainnya, khususnya di lingkungan Fakultas Teknik, untuk terus mengembangkan gagasan inovatif dan berani membawa karya ke tingkat nasional maupun internasional.“Dari Gorontalo, KALA-REKA memperlihatkan bagaimana ide yang berangkat dari persoalan nyata dapat dikembangkan menjadi karya desain yang mendapat pengakuan di panggung dunia,” pungkasnya.

Lihat Semua Berita