Site Logo

Tembus Kompetisi Desain Dunia, Mahasiswa FT UNG Raih Penghargaan Internasional Lewat Karya KALA-REKA

Siaran PersPrestasi Mahasiswa
Abdul Wahid Rauf
19 Oct 2026
01:16 WITA
26 dilihat
Tembus Kompetisi Desain Dunia, Mahasiswa FT UNG Raih Penghargaan Internasional Lewat Karya KALA-REKA

GORONTALO— Berangkat dari gagasan hunian pascabencana yang adaptif dan berkelanjutan, dua mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Negeri Gorontalo (UNG) berhasil membawa karya mereka ke panggung desain internasional. Muhammad Ikhsan dari Program Studi D-IV Arsitektur Bangunan Gedung dan Risky Husain dari Program Studi S1 Arsitektur meraih penghargaan melalui karya bertajuk “KALA-REKA” dalam Taiwan International Student Design Competition (TISDC) 2026, kategori Architecture & Landscape Design.

TISDC merupakan kompetisi desain mahasiswa berskala internasional yang didukung oleh World Design Organization (WDO). Tahun ini, kompetisi tersebut mengangkat tema “Resilience” dan mencakup berbagai bidang desain, mulai dari desain produk, visual, animasi digital, arsitektur dan lanskap, hingga desain fesyen. Keberhasilan KALA-REKA menembus jajaran pemenang menjadi capaian membanggakan bagi mahasiswa FT UNG di tengah persaingan karya dari berbagai negara.

Skala kompetisi tersebut tergambar dari jumlah partisipasi yang mencapai 22.427 karya dari mahasiswa di 92 negara dan wilayah. Proses penilaian melibatkan 97 juri profesional dari berbagai negara pada tahap awal, kemudian dilanjutkan dengan penilaian akhir oleh 35 juri dari 21 organisasi desain internasional. Di tengah persaingan tersebut, KALA-REKA berhasil menarik perhatian melalui pendekatan desain yang menggabungkan efisiensi pemanfaatan material, fleksibilitas ruang, dan kemandirian sistem.

KALA-REKA dikembangkan dengan mengusung tiga gagasan utama, yakni up-cycled, modular, dan independen. Pendekatan up-cycled menekankan pemanfaatan kembali material agar memiliki nilai guna, konsep modular memungkinkan ruang dan komponen bangunan disesuaikan dengan kebutuhan, sedangkan prinsip independen diarahkan pada kemandirian sistem hunian. Ketiga gagasan ini menjadi bagian dari upaya menghadirkan solusi arsitektur yang lebih adaptif terhadap kebutuhan masyarakat, khususnya dalam konteks hunian pascabencana.

Capaian internasional ini juga merupakan hasil dari proses pengembangan karya yang berkelanjutan. Sebelum mengikuti TISDC 2026, KALA-REKA telah berpartisipasi dalam Sayembara Wakaf Desain Arsitektur Rumah Pascabencana Banjir Sumatera yang diinisiasi Ikatan Arsitek Indonesia Jawa Barat bersama Yayasan Arsitektur Hijau Nusantara.

Pada Maret 2026, karya tersebut terpilih sebagai salah satu karya terbaik dalam ajang tersebut. Pengalaman mengikuti kompetisi nasional menjadi bagian dari perjalanan pengembangan gagasan hingga akhirnya dibawa ke arena internasional.

Rektor UNG melalui Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Alumni, Prof. Dr. Mohamad Amir Arham, M.E., menyambut positif capaian tersebut. Menurutnya, keberhasilan Muhammad Ikhsan dan Risky Husain menunjukkan bahwa mahasiswa Arsitektur FT UNG, mampu mengangkat isu kebencanaan dan keberlanjutan ke dalam gagasan desain yang relevan dengan tantangan global.

“Keberhasilan KALA-REKA menembus jajaran pemenang merupakan sebuah kebanggaan, ini menunjukkan karya mahasiswa UNG dapat bersaing dengan karya inovatif lainnya dilevel internasional,” ujarnya.

Dekan Fakultas Teknik UNG, Prof. Dr. Ir. Sardi Salim, M.Pd., menuturkan bahwa prestasi ini menunjukkan pentingnya keterpaduan proses akademik, pembimbingan, dan partisipasi mahasiswa dalam berbagai kompetisi. Pengalaman mengikuti sayembara nasional hingga menembus kompetisi internasional menjadi ruang pembelajaran bagi mahasiswa untuk mengembangkan kreativitas, memperkuat kualitas karya, serta membangun kepercayaan diri dalam menghadapi persaingan global.

Prestasi Muhammad Ikhsan dan Risky Husain diharapkan menjadi inspirasi bagi mahasiswa UNG lainnya, khususnya di lingkungan Fakultas Teknik, untuk terus mengembangkan gagasan inovatif dan berani membawa karya ke tingkat nasional maupun internasional.

“Dari Gorontalo, KALA-REKA memperlihatkan bagaimana ide yang berangkat dari persoalan nyata dapat dikembangkan menjadi karya desain yang mendapat pengakuan di panggung dunia,” pungkasnya.

Ikuti berita lainnya

Dari Tulang Sotong Menjadi Hand Sanitizer, Peneliti UNG Kembangkan Inovasi Berbasis Kitosan
19 Oct 2026
02:05 WITA

Dari Tulang Sotong Menjadi Hand Sanitizer, Peneliti UNG Kembangkan Inovasi Berbasis Kitosan

Abdul Wahid Rauf

Tulang sotong yang kerap dianggap sebagai hasil samping perikanan ternyata menyimpan potensi untuk dikembangkan menjadi bahan produk kebersihan tangan. Melalui pengolahan menjadi kitosan, bahan ini diteliti sebagai agen antibakteri dalam formulasi spray hand sanitizer untuk menghambat pertumbuhan bakteri Escherichia coli.Hasil samping perikanan tidak selalu harus berakhir sebagai limbah. Dengan pengolahan yang tepat, material yang belum dimanfaatkan secara optimal dapat menjadi bahan baku bernilai tambah. Salah satu contohnya adalah tulang sotong (Sepia sp.) yang berpotensi diolah menjadi kitosan, senyawa yang menarik perhatian dalam pengembangan berbagai produk, termasuk produk kebersihan.Potensi tersebut dikaji oleh Febriyanti Rasyid, Asri Silvana Naiu, dan Lukman Mile dari Faculty of Maritime Affairs and Fisheries Technology, Gorontalo State University atau Universitas Negeri Gorontalo (UNG). Penelitian mereka diterbitkan dalam Industria: Jurnal Teknologi dan Manajemen Agroindustri, Volume 14 Nomor 1 Tahun 2025, halaman 37–52.Penelitian ini mengkaji pemanfaatan kitosan dari tulang sotong sebagai bahan aktif dalam spray hand sanitizer, sekaligus menguji kemampuannya menghambat bakteri Escherichia coli atau E. coli. Bakteri tersebut merupakan salah satu mikroorganisme yang dapat menyebabkan gangguan kesehatan apabila jenis patogeniknya masuk ke dalam tubuh melalui jalur yang sesuai.Kitosan Tulang Sotong Memiliki Karakteristik yang Memenuhi Parameter MutuPenelitian ini berangkat dari kebutuhan akan produk kebersihan tangan yang praktis sekaligus membuka peluang pemanfaatan bahan alami. Dalam penelitian tersebut, tulang sotong diproses melalui tiga tahapan utama, yakni deproteinasi, demineralisasi, dan deasetilasi untuk menghasilkan kitosan yang kemudian digunakan sebagai bahan aktif dalam formulasi spray hand sanitizer.Hasil karakterisasi menunjukkan kitosan yang diperoleh memiliki rendemen 30 persen, kadar air 5,23 persen, kadar abu 3,36 persen, dan derajat deasetilasi 74,78 persen. Penelitian mencatat bahwa kadar air dan kadar abu tersebut berada di bawah batas yang dirujuk dalam SNI 7949:2013, sedangkan derajat deasetilasi telah melampaui batas minimum 70 persen.Kitosan tersebut kemudian diformulasikan dalam tiga konsentrasi, yaitu 5 persen (P1), 10 persen (P2), dan 15 persen (P3). Ketiga formula diuji berdasarkan pH, viskositas, serta aktivitas antibakterinya terhadap E. coli.Konsentrasi Kitosan Meningkatkan Aktivitas AntibakteriHasil pengujian menunjukkan adanya peningkatan aktivitas antibakteri seiring meningkatnya konsentrasi kitosan. Zona hambat terhadap E. coli tercatat sebesar 9,07 ± 1,33 mm pada P1, 22,03 ± 7,40 mm pada P2, dan 25,43 ± 3,96 mm pada P3.Analisis ANOVA menunjukkan adanya perbedaan signifikan antarformula (p<0,05). Dalam interpretasi penelitian, P1 berada pada kategori lemah hingga sedang, P2 tergolong kuat, sedangkan P3 tergolong sangat kuat berdasarkan zona hambat yang dihasilkan. Namun, peningkatan konsentrasi juga diikuti oleh peningkatan viskositas.Formula 10 Persen Menjadi Titik KompromiMenariknya, konsentrasi tertinggi tidak otomatis menghasilkan karakteristik spray yang paling sesuai. Formula P3 dengan kitosan 15 persen menghasilkan zona hambat terbesar, tetapi memiliki viskositas 4.517 ± 680 cP, sehingga berpotensi menurunkan kenyamanan dan konsistensi penyemprotan.Sementara itu, formula P1 memiliki viskositas 750 ± 250 cP dan memberikan kenyamanan semprot yang lebih baik, tetapi aktivitas antibakterinya masih rendah. Formula P2 dengan konsentrasi kitosan 10 persen menghasilkan aktivitas antibakteri kuat dengan viskositas 2.917 ± 1.010 cP, sehingga oleh peneliti dipandang sebagai titik kompromi antara aktivitas antibakteri dan karakteristik fungsional formulasi.Meski demikian, terdapat catatan penting pada aspek pH. Formula 10 persen memiliki pH 9,02 ± 0,17, sementara penelitian menggunakan rentang ideal kulit sekitar 4,5–6,5. Karena itu, peneliti merekomendasikan optimasi sistem penyangga sebelum pengembangan lebih lanjut.Membuka Peluang Pemanfaatan Limbah PerikananDi balik pengujian formulasi dan aktivitas antibakteri, penelitian ini membawa gagasan yang lebih luas mengenai pemanfaatan sumber daya perikanan. Tulang sotong yang belum dimanfaatkan secara optimal berpotensi diolah menjadi bahan baku untuk pengembangan produk bernilai tambah.Pemanfaatan kitosan dari sumber non-krustasea seperti sotong juga memperluas pilihan bahan alami yang dapat diteliti untuk berbagai aplikasi. Jika dikembangkan melalui proses yang tepat, pendekatan ini berpotensi mendukung pemanfaatan hasil samping perikanan sekaligus mendorong inovasi produk berbasis sumber daya laut.Namun, manfaat lingkungan dan kelayakan penerapannya tetap perlu dinilai lebih lanjut, termasuk melalui kajian proses produksi, efisiensi bahan baku, biaya pengolahan, dan dampak lingkungan secara keseluruhan.Penelitian Febriyanti Rasyid, Asri Silvana Naiu, dan Lukman Mile menunjukkan bahwa tulang sotong memiliki potensi sebagai sumber kitosan untuk formulasi spray hand sanitizer dengan aktivitas antibakteri terhadap E. coli dalam pengujian laboratorium. Di antara formula yang diuji, konsentrasi 10 persen dipandang menjanjikan karena menawarkan keseimbangan antara aktivitas antibakteri dan karakteristik fisik, meskipun persoalan pH masih perlu diatasi.Lebih dari sekadar mengembangkan formulasi produk kebersihan, riset ini memperlihatkan bagaimana hasil samping perikanan dapat menjadi titik awal inovasi ilmiah. Dengan penelitian lanjutan dan pengujian keamanan yang memadai, kitosan tulang sotong berpeluang dikembangkan lebih jauh sebagai bahan bernilai tambah dalam industri berbasis sumber daya perikanan. (**)

UNG Evaluasi Pelaksanaan Program Pengabdian kepada Masyarakat Pendanaan Kemdiktisaintek 2026
17 Oct 2026
08:41 WITA

UNG Evaluasi Pelaksanaan Program Pengabdian kepada Masyarakat Pendanaan Kemdiktisaintek 2026

Abdul Wahid Rauf

Universitas Negeri Gorontalo melalui Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) melaksanakan Monitoring dan Evaluasi (Monev) Internal terhadap program pengabdian kepada masyarakat yang memperoleh pendanaan Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) Tahun Anggaran 2026. (8/9).Kegiatan yang berlangsung di Aula LPPM UNG tersebut diikuti oleh para dosen pelaksana program pengabdian. Monev dilaksanakan untuk melihat perkembangan pelaksanaan program sekaligus mengevaluasi capaian kegiatan dan luaran yang telah direncanakan oleh masing-masing tim.Ketua LPPM UNG, Prof. Lanto Ningrayati Amali, mengatakan bahwa monev internal menjadi bagian penting dalam memastikan program pengabdian berjalan sesuai dengan rencana dan target yang telah ditetapkan.“Monev ini menjadi ruang untuk melihat sejauh mana program yang dilaksanakan telah mencapai target, sekaligus memberikan masukan bagi tim pelaksana terhadap hal-hal yang masih perlu diperkuat. Yang kita harapkan, program pengabdian tidak hanya selesai secara administratif, tetapi juga memberikan manfaat yang nyata bagi masyarakat mitra,” ujar Prof. Ning.Ia menambahkan, evaluasi secara berkala diperlukan agar pelaksanaan program dapat terus diperbaiki hingga seluruh rangkaian kegiatan selesai. Masukan dari reviewer diharapkan dapat menjadi bahan bagi dosen pelaksana dalam memperkuat capaian program maupun luaran yang telah ditargetkan.Dalam pelaksanaannya, proses evaluasi dilakukan oleh tim reviewer internal yang terdiri atas Prof. Lanto Ningrayati Amali, S.Kom., M.Kom., Ph.D., Prof. Dr. Margaretha Solang, M.Si., Prof. Dr. Dra. Novri Youla Kandowangko, M.P., dan Dr. Nova Elysia Ntobuo, S.Pd., M.Pd.Para reviewer melakukan penilaian terhadap perkembangan masing-masing program yang dipaparkan oleh tim pelaksana. Evaluasi diarahkan pada perkembangan kegiatan, kesesuaian pelaksanaan dengan rencana yang telah ditetapkan, capaian program, serta perkembangan luaran pengabdian.Monev internal juga memberikan kesempatan kepada para dosen pelaksana untuk memperoleh masukan langsung dari reviewer. Proses tersebut menjadi bagian dari penguatan kualitas program, khususnya dalam memastikan kegiatan yang telah dirancang dapat terlaksana secara optimal dan menghasilkan luaran sesuai target.Melalui kegiatan ini, UNG terus mendorong peningkatan kualitas pelaksanaan pengabdian kepada masyarakat yang didanai Kemdiktisaintek. Hasil evaluasi diharapkan menjadi bahan perbaikan bagi setiap tim pelaksana dalam menyelesaikan program sekaligus memastikan manfaat kegiatan dapat dirasakan secara berkelanjutan oleh masyarakat mitra.

Lulus 100 Persen UKOM, Profesi Ners FOK UNG Raih Penghargaan Platinum Terbaik Nasional
17 Oct 2026
03:42 WITA

Lulus 100 Persen UKOM, Profesi Ners FOK UNG Raih Penghargaan Platinum Terbaik Nasional

Abdul Wahid Rauf

GORONTALO — Prestasi membanggakan kembali ditorehkan Universitas Negeri Gorontalo (UNG) di tingkat nasional. Program Studi Pendidikan Profesi Ners, Jurusan Keperawatan, Fakultas Olahraga dan Kesehatan (FOK) UNG, berhasil meraih Penghargaan Persentase Kelulusan Terbaik Nasional Kategori Peserta 60–99 dengan Peringkat Platinum (100 persen) pada Uji Kompetensi Ners Indonesia (UKOM Ners) Periode I Tahun 2026.Penghargaan tersebut diserahkan dalam rangka Rapat Tahunan Anggota (RTA) ke-24 Asosiasi Institusi Pendidikan Ners Indonesia (AIPNI) Tahun 2026 yang berlangsung di Manado pada 16 Oktober 2026. Capaian ini diraih setelah seluruh 66 peserta UKOM Ners dari Program Studi Pendidikan Profesi Ners FOK UNG dinyatakan lulus, sehingga mencatatkan tingkat kelulusan sempurna sebesar 100 persen.Dekan FOK UNG, Dr. Hartono Hadjarati, S.Pd., M.Pd., menyampaikan kebanggaan dan apresiasi kepada seluruh mahasiswa, dosen, pengelola program studi, serta pihak-pihak yang telah berkontribusi dalam pencapaian tersebut. Menurutnya, penghargaan Platinum menjadi bukti membanggakan sekaligus dorongan untuk terus meningkatkan mutu penyelenggaraan pendidikan profesi keperawatan di UNG.Penghargaan Platinum dengan tingkat kelulusan 100 persen merupakan pencapaian yang sangat membanggakan bagi FOK UNG, dimana seluruh 66 peserta berhasil lulus UKOM Ners Periode I Tahun 2026.“Ini menjadi motivasi bagi kami untuk terus memperkuat kualitas pendidikan, meningkatkan pembinaan mahasiswa, dan memastikan proses pembelajaran berjalan sesuai standar yang ditetapkan,” ungkapnya.Ia menegaskan, keberhasilan dalam uji kompetensi nasional tidak semata-mata diukur dari tingginya persentase kelulusan. Lebih dari itu, capaian tersebut harus menjadi landasan untuk memperkuat kualitas lulusan secara menyeluruh, baik dari sisi pengetahuan, keterampilan, maupun sikap profesional dalam menjalankan tugas sebagai tenaga keperawatan.Rektor UNG, Prof. Dr. Ir. Eduart Wolok, S.T., M.T., turut menyambut gembira pencapaian Program Studi Pendidikan Profesi Ners FOK UNG. Menurutnya, keberhasilan seluruh peserta melewati uji kompetensi nasional merupakan capaian yang membanggakan sekaligus memperkuat komitmen universitas dalam menyelenggarakan pendidikan profesi yang berkualitas dan berorientasi pada standar kompetensi nasional.“Penghargaan Platinum ini bukan sekadar pengakuan atas keberhasilan meraih kelulusan sempurna, tetapi juga menjadi motivasi untuk terus melahirkan perawat profesional yang kompeten, beretika, dan siap berkontribusi dalam pelayanan kesehatan,” terang Eduart.Capaian tersebut diharapkan semakin membuktikan kualitas pendidikan profesi ners, sehingga dapat memperkuat kepercayaan masyarakat untuk mengikuti proses pendidikan perawat di UNG.Eduart juga menegaskan bahwa UNG tidak hanya mendorong mahasiswa berhasil dalam uji kompetensi, tapi juga menjadi seorang perawat profesional dengan memberikan pelayanan keperawatan terbaik dan berkualitas, serta berorientasi pada kebutuhan masyarakat. (**)

Dari Limbah Jadi Berkah, Inovasi BioNira Zero Waste UNG Buka Peluang Ekonomi di Dulamayo Selatan
14 Oct 2026
05:40 WITA

Dari Limbah Jadi Berkah, Inovasi BioNira Zero Waste UNG Buka Peluang Ekonomi di Dulamayo Selatan

Abdul Wahid Rauf

GORONTALO — Limbah pengolahan gula aren yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal, kini dikembangkan menjadi produk bernilai tambah oleh tim pengabdian kepada masyarakat Universitas Negeri Gorontalo (UNG). Melalui inovasi BioNira Zero Waste, limbah kolang-kaling dan kulitnya diolah menjadi serbuk serat Nano Fiber serta pelet biomassa, yang berpotensi membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat Desa Dulamayo Selatan, Kabupaten Gorontalo.Program bertajuk “BioNira Zero Waste: Inovasi Nano Fiber dan Pelet Biomassa Limbah Biji Nira Berbasis Pemberdayaan Karang Taruna Dulamayo Selatan” ini dilaksanakan oleh Rifka Anggraini Anggai, M.Farm., Dr. Dra. Ha. Sri Endang Saleh, M.Si., dan Angry Pratama Solihin, M.Sc. Kegiatan tersebut merupakan bagian dari program pengabdian kepada masyarakat, yang memperoleh pendanaan Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM), Kemdiktisaintek Tahun 2026.Gagasan ini berangkat dari pengamatan tim terhadap aktivitas pengolahan gula aren di Desa Dulamayo Selatan, yang melibatkan banyak pengrajin dan pelaku usaha. Di balik aktivitas ekonomi tersebut, terdapat limbah yang belum dimanfaatkan secara maksimal. Kondisi ini mendorong tim menghadirkan pendekatan zero waste dengan mengolah sisa bahan produksi, menjadi produk baru sekaligus melibatkan Karang Taruna sebagai mitra utama dalam pengembangan inovasi di tingkat desa.Ketua tim pengabdian, Rifka Anggraini Anggai, menjelaskan bahwa program ini memanfaatkan kolang-kaling dan kulit kolang-kaling untuk menghasilkan dua jenis produk berbeda. Kolang-kaling diolah menjadi serbuk serat Nano Fiber, menggunakan peralatan yang diserahkan kepada pengurus Karang Taruna, sedangkan kulitnya dimanfaatkan sebagai bahan baku pelet biomassa yang lebih ramah lingkungan.“Buah kolang-kaling kami olah dengan beberapa alat yang kami berikan kepada pengurus Karang Taruna untuk dijadikan serbuk serat Nano Fiber, sementara kulitnya dijadikan pelet biomassa yang ramah lingkungan,” jelas Rifka.Tidak berhenti pada penyediaan peralatan, tim UNG juga memberikan pendampingan agar mitra mampu menjalankan proses produksi secara lebih terarah. Pendampingan mencakup tahapan pengolahan bahan baku, hingga penyusunan Standar Operasional Prosedur (SOP) pembuatan serbuk serat Nano Fiber dan pelet biomassa. Langkah ini diharapkan menjadi fondasi bagi mitra, untuk menjaga konsistensi proses produksi dan mengembangkan kegiatan secara berkelanjutan.Penguatan kapasitas mitra juga diarahkan pada aspek pemasaran dan digital branding. Melalui pemanfaatan berbagai platform digital, produk yang dikembangkan diharapkan memiliki peluang untuk dikenal lebih luas. Dengan demikian, pemberdayaan tidak hanya berfokus pada keterampilan mengolah limbah, tetapi juga pada kemampuan mengelola produksi dan memperkenalkan produk kepada calon konsumen.Melalui BioNira Zero Waste, UNG mendorong perubahan cara pandang terhadap limbah hasil pengolahan aren, dari sisa produksi yang belum termanfaatkan menjadi sumber daya yang berpotensi menghasilkan nilai ekonomi. Keterlibatan Karang Taruna menjadi bagian penting dalam membangun kemampuan masyarakat, untuk mengelola inovasi secara mandiri sekaligus memperkuat peran generasi muda dalam pengembangan potensi desa.Program ini diharapkan menjadi langkah awal bagi pemanfaatan limbah aren yang lebih produktif di Desa Dulamayo Selatan. Dengan dukungan teknologi tepat guna, pendampingan, dan penguatan pemasaran, inovasi BioNira Zero Waste mencerminkan upaya UNG dalam menghubungkan ilmu pengetahuan dengan kebutuhan masyarakat, sekaligus membuka peluang bagi tumbuhnya kegiatan ekonomi berbasis pemanfaatan sumber daya lokal.

Lihat Semua Berita