Stigma dalam Gerakan, Kajian Sosiolinguistik tentang Tanda Tangan Geng di TikTok

Di era media sosial yang serba cepat, komunikasi tidak lagi terbatas pada kata-kata. Gerakan tubuh, simbol, hingga ekspresi visual kini menjadi bagian penting dari cara manusia berinteraksi. Fenomena ini menarik perhatian seorang mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris Fakultas Sastra dan Budaya Universitas Negeri Gorontalo, Moh Ramadhan, yang meneliti bagaimana makna simbol nonverbal dapat berubah dan memunculkan stigma di ruang digital, khususnya di TikTok.
Dalam penelitiannya yang berjudul “Stigma dalam Gerakan: Sebuah Studi Sosiolinguistik tentang Tanda Tangan Geng di TikTok”, Ramadhan mengangkat fenomena gang hand signs—gerakan tangan yang dalam budaya populer sering diasosiasikan dengan kelompok geng seperti Bloods dan Crips. Ia menemukan bahwa di media sosial, simbol-simbol tersebut kerap mengalami pergeseran makna. Banyak pengguna TikTok menafsirkan gerakan tangan tersebut secara negatif, bahkan ketika digunakan dalam konteks hiburan, parodi, atau konten komedi.
Melalui pendekatan sosiolinguistik, penelitian ini menegaskan bahwa bahasa tidak hanya hadir dalam bentuk verbal, tetapi juga melalui simbol dan gestur yang sarat makna sosial. Dengan menggunakan teori dari Ronald Wardhaugh dan Janet Holmes, serta konsep stigma dari Bruce G. Link dan Jo C. Phelan, Ramadhan menganalisis bagaimana pengguna media sosial membentuk penilaian sosial hanya dari simbol visual yang terbatas.
Data penelitian diambil dari komentar pada lima video prank milik kreator TikTok Zoy March. Hasilnya menunjukkan bahwa bentuk stigma yang paling dominan adalah pelabelan (labeling) dan stereotip. Banyak pengguna dengan cepat mengaitkan gerakan tangan dengan identitas kriminal atau keanggotaan geng, meskipun tidak ada bukti atau konteks yang mendukung asumsi tersebut. Fenomena ini mencerminkan bagaimana publik di ruang digital cenderung melakukan penilaian secara instan berdasarkan persepsi visual.
Lebih jauh, penelitian ini mengungkap bahwa media sosial bukan sekadar ruang hiburan, tetapi juga arena terbentuknya social judgement dan negosiasi identitas. Setiap komentar, reaksi, dan interpretasi pengguna berkontribusi dalam membangun makna kolektif, termasuk dalam memperkuat stigma. Dalam konteks ini, bahasa—baik verbal maupun nonverbal—menjadi alat yang sangat kuat dalam membentuk realitas sosial di dunia digital.
Temuan ini memberikan pesan penting bagi pengguna internet agar lebih kritis dan reflektif dalam menafsirkan konten. Tidak semua simbol memiliki makna tunggal, dan tidak semua ekspresi harus dihubungkan dengan identitas tertentu. Kesadaran ini menjadi kunci untuk menciptakan ruang digital yang lebih inklusif dan bebas dari prasangka.
Pada akhirnya, penelitian ini menunjukkan bahwa perkembangan komunikasi digital membawa tantangan baru dalam memahami hubungan antara bahasa, identitas, dan kekuasaan. Di tengah derasnya arus informasi, kemampuan untuk membaca makna secara bijak menjadi keterampilan yang semakin penting dalam kehidupan modern. (Artikel penelitian dipublikasikan melalui laman berikut)





