Riset UNG Kembangkan Sistem Enkripsi Berbasis Aljabar Max-Plus dan Pelabelan Graf untuk Perkuat Keamanan Data

Di tengah meningkatnya ancaman keamanan digital, inovasi di bidang kriptografi menjadi semakin penting. Penelitian terbaru dari Universitas Negeri Gorontalo menghadirkan pendekatan baru dalam sistem enkripsi dengan menggabungkan konsep aljabar max-plus dan pelabelan graf untuk meningkatkan keamanan data.
Penelitian berjudul “Konstruksi Keamanan Sistem Enkripsi Algoritma Kriptografi Berbasis Aljabar Max-Plus dan Pelabelan Graf” ini dipimpin oleh Nurwan, bersama tim peneliti Nisky Imansyah Yahya, Armayani Arsal, dan Any Muanalifah, yang merupakan penerima pendanaan dari DPPM Kemdiktisaintek melalui skema Penelitian Fundamental Reguler tahun 2025.
Kriptografi merupakan metode penting untuk menjaga kerahasiaan, integritas, dan autentikasi data, terutama dalam proses komunikasi digital. Seiring berkembangnya teknologi, ancaman seperti penyadapan (eavesdropping) dan manipulasi data juga semakin kompleks. Penelitian ini berangkat dari kebutuhan untuk mengembangkan sistem enkripsi yang tidak hanya aman, tetapi juga efisien secara komputasi dan mampu diterapkan dalam berbagai sistem komunikasi modern.
Berbeda dari metode kriptografi konvensional, penelitian ini mengombinasikan dua pendekatan matematis, yaitu Aljabar max-plus, yang dikenal efisien dalam komputasi berbasis matriks, dan Pelabelan graf yang mampu merepresentasikan hubungan kompleks antar data. Melalui kombinasi ini, sistem enkripsi dibangun dengan struktur yang lebih kompleks namun tetap memiliki efisiensi tinggi dalam proses komputasi.
Algoritma yang dikembangkan terdiri dari beberapa tahapan utama, antara lain:
Pembentukan tabel encoding
Konstruksi graf
Pelabelan graf dan pemberian bobot
Pembentukan matriks
Operasi vektor blok
Substitusi dan permutasi berbasis max-plus
Penyusunan ciphertext
Proses ini menghasilkan teks terenkripsi (ciphertext) yang sulit diuraikan tanpa kunci yang tepat.
Untuk mengembalikan data ke bentuk semula, sistem menggunakan proses dekripsi yang merupakan kebalikan dari tahapan enkripsi. Ciphertext dibagi menjadi beberapa blok, kemudian dilakukan inversi operasi matriks dan substitusi untuk merekonstruksi plaintext. Pendekatan ini memastikan bahwa hanya pihak yang memiliki kunci yang dapat mengakses informasi asli.
Salah satu fokus utama penelitian ini adalah menguji tingkat keamanan algoritma. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa sistem memiliki ketahanan tinggi terhadap serangan brute force, yaitu metode percobaan semua kemungkinan kunci secara sistematis. Struktur kombinasi substitusi–permutasi yang digunakan membuat proses dekripsi tanpa kunci menjadi sangat sulit secara komputasi. Selain itu, analisis juga menunjukkan efisiensi dalam waktu eksekusi dan penggunaan memori, sehingga algoritma tetap praktis untuk digunakan.
Dengan tingkat keamanan dan efisiensi yang ditawarkan, algoritma ini berpotensi diterapkan pada berbagai bidang, seperti sistem komunikasi digital, keamanan data perbankan, perlindungan informasi pada jaringan komputer, dan sistem keamanan berbasis internet. Penelitian ini juga telah menghasilkan luaran berupa publikasi pada jurnal internasional bereputasi, yang menunjukkan kontribusi signifikan dalam pengembangan ilmu kriptografi.
Penelitian ini menegaskan bahwa pendekatan matematika, seperti aljabar dan teori graf, dapat menjadi fondasi kuat dalam membangun sistem keamanan digital yang lebih canggih. Di tengah era transformasi digital, inovasi seperti ini menjadi langkah penting dalam memastikan bahwa data dan informasi tetap terlindungi dari berbagai ancaman siber yang terus berkembang.





