Site Logo

Riset FKTP UNG Kembangkan Sosis Ikan Tongkol dengan Penambahan Wortel

Penelitian
Abdul Wahid Rauf
30 Sep 2026
10:44 WITA
6 dilihat
Riset FKTP UNG Kembangkan Sosis Ikan Tongkol dengan Penambahan Wortel

Diversifikasi produk hasil perikanan terus dikembangkan untuk meningkatkan nilai tambah sekaligus menghadirkan produk pangan yang lebih beragam. Salah satunya melalui penelitian yang dilakukan oleh Adhan Labatjo, Rahim Husain, dan Fernandy M. Djailani dari Program Studi Teknologi Hasil Perikanan, Fakultas Kelautan dan Teknologi Perikanan (FKTP), Universitas Negeri Gorontalo (UNG). Penelitian berjudul “Pengaruh Penambahan Wortel (Daucus carota L.) terhadap Karakteristik Kimia dan Organoleptik Sosis Ikan Tongkol (Euthynnus affinis)” tersebut diterbitkan dalam Research Review: Jurnal Ilmiah Multidisiplin, Vol. 5 No. 1 Tahun 2026, halaman 330–338, dengan DOI 10.54923/researchreview.v5i1.342.

Mengolah Ikan Tongkol Menjadi Produk Sosis

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh tingginya kandungan protein ikan tongkol, namun pemanfaatannya masih dinilai kurang beragam. Pengolahan ikan tongkol menjadi sosis menjadi salah satu bentuk diversifikasi produk hasil perikanan.

Dalam penelitian tersebut, wortel digunakan sebagai bahan tambahan untuk melihat pengaruhnya terhadap karakteristik kimia dan organoleptik sosis, termasuk kadar air, protein, vitamin A, rasa, aroma, tekstur, dan kenampakan. Penelitian dilaksanakan pada Januari–Februari 2026. Proses pembuatan sosis dilakukan di Kelurahan Dulomo Selatan, Kota Gorontalo, sedangkan pengujian kimia dilakukan di Balai Pengendalian dan Pengujian Mutu Hasil Perikanan (BPPMHP) dan pengujian organoleptik dilaksanakan di FKTP UNG.

Tiga Tingkat Penambahan Wortel

Penelitian utama menggunakan tiga perlakuan penambahan wortel, yaitu 60 gram, 70 gram, dan 80 gram. Ikan tongkol terlebih dahulu dibersihkan, dipisahkan dari tulang dan kulit, kemudian dihaluskan. Wortel juga diolah sesuai perlakuan sebelum dicampurkan dengan daging ikan dan bahan pendukung lainnya. Adonan kemudian dimasukkan ke dalam selongsong sosis dan dikukus hingga matang. Produk yang telah matang selanjutnya didinginkan untuk menjalani pengujian organoleptik dan analisis kimia.

Penambahan Wortel Berpengaruh terhadap Mutu Sensori

Hasil pengujian terhadap 30 panelis menunjukkan bahwa penambahan wortel memberikan pengaruh nyata terhadap tingkat kesukaan pada parameter rasa, aroma, tekstur, dan kenampakan. Pada parameter rasa, skor rata-rata berkisar 5,77–6,73, dengan nilai tertinggi pada penambahan wortel 80 gram sebesar 6,73±1,60.

Untuk aroma, nilai tertinggi juga diperoleh perlakuan 80 gram, yaitu 6,87±1,25. Pada tekstur, perlakuan 80 gram memperoleh nilai 6,97±1,33, sedangkan perlakuan 60 gram memperoleh nilai 5,87±1,33. Hasil uji Kruskal-Wallis menunjukkan adanya pengaruh nyata penambahan wortel terhadap tekstur dengan nilai signifikansi 0,009. Sementara itu, pada parameter kenampakan, nilai tertinggi juga diperoleh perlakuan 80 gram, yaitu 6,77±1,46. Peneliti mencatat bahwa peningkatan jumlah wortel menghasilkan warna oranye alami yang semakin kuat dan lebih disukai panelis.

Vitamin A Meningkat Seiring Penambahan Wortel

Salah satu temuan penting penelitian terdapat pada kandungan vitamin A. Nilai vitamin A meningkat dari 3,84±0,05pada penambahan wortel 60 gram menjadi 4,22±0,02 pada 70 gram dan 4,65±0,03 pada 80 gram. Hasil analisis menunjukkan penambahan wortel memberikan pengaruh signifikan terhadap kadar vitamin A dengan nilai signifikansi 0,000 (p<0,05). Uji lanjut Duncan juga menunjukkan bahwa ketiga perlakuan berbeda nyata satu sama lain. Peningkatan tersebut dikaitkan dengan kandungan β-karoten dalam wortel yang merupakan prekursor vitamin A. Dengan demikian, semakin tinggi penambahan wortel dalam formulasi, semakin tinggi pula kadar vitamin A yang terukur pada produk penelitian.

Kadar Air dan Protein Tidak Berbeda Nyata

Berbeda dengan parameter sensori dan vitamin A, penambahan wortel 60–80 gram tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan terhadap kadar air dan protein. Rata-rata kadar air meningkat secara deskriptif dari 72,86% pada perlakuan 60 gram menjadi 74,04% pada 70 gram dan 74,65% pada 80 gram. Namun, hasil analisis menunjukkan perbedaan tersebut tidak signifikan secara statistik. Kadar protein juga menunjukkan kecenderungan meningkat, yakni 11,97% pada 60 gram, 12,07% pada 70 gram, dan 13,14% pada 80 gram. Meski demikian, hasil analisis menunjukkan perbedaan tersebut belum signifikan secara statistik (p>0,05).

Potensi Diversifikasi Produk Perikanan

Secara keseluruhan, penelitian menunjukkan bahwa penambahan wortel memberikan pengaruh nyata terhadap karakteristik sensori sosis ikan tongkol serta meningkatkan kandungan vitamin A. Sementara itu, kadar air dan protein tidak mengalami perubahan yang signifikan secara statistik pada variasi penambahan wortel 60–80 gram. Hasil penelitian ini memperlihatkan potensi pengembangan sosis ikan tongkol dengan tambahan bahan nabatisebagai salah satu alternatif diversifikasi produk hasil perikanan.

Penelitian selanjutnya direkomendasikan mengeksplorasi jumlah wortel yang lebih beragam maupun bentuk bahan seperti puree, tepung, dan ekstrak wortel, serta menambahkan parameter seperti kadar lemak, daya simpan, tekstur, dan penerimaan konsumen secara lebih luas. Temuan tersebut menjadi salah satu kontribusi riset FKTP UNG dalam mengembangkan inovasi pengolahan hasil perikanan berbasis bahan lokal, dengan menggabungkan potensi ikan tongkol dan bahan pangan nabati untuk menghasilkan produk olahan yang lebih beragam.

Ikuti berita lainnya

Lulus 100 Persen UKOM, Profesi Ners FOK UNG Raih Penghargaan Platinum Terbaik Nasional
17 Oct 2026
03:42 WITA

Lulus 100 Persen UKOM, Profesi Ners FOK UNG Raih Penghargaan Platinum Terbaik Nasional

Abdul Wahid Rauf

GORONTALO — Prestasi membanggakan kembali ditorehkan Universitas Negeri Gorontalo (UNG) di tingkat nasional. Program Studi Pendidikan Profesi Ners, Jurusan Keperawatan, Fakultas Olahraga dan Kesehatan (FOK) UNG, berhasil meraih Penghargaan Persentase Kelulusan Terbaik Nasional Kategori Peserta 60–99 dengan Peringkat Platinum (100 persen) pada Uji Kompetensi Ners Indonesia (UKOM Ners) Periode I Tahun 2026.Penghargaan tersebut diserahkan dalam rangka Rapat Tahunan Anggota (RTA) ke-24 Asosiasi Institusi Pendidikan Ners Indonesia (AIPNI) Tahun 2026 yang berlangsung di Manado pada 16 Oktober 2026. Capaian ini diraih setelah seluruh 66 peserta UKOM Ners dari Program Studi Pendidikan Profesi Ners FOK UNG dinyatakan lulus, sehingga mencatatkan tingkat kelulusan sempurna sebesar 100 persen.Dekan FOK UNG, Dr. Hartono Hadjarati, S.Pd., M.Pd., menyampaikan kebanggaan dan apresiasi kepada seluruh mahasiswa, dosen, pengelola program studi, serta pihak-pihak yang telah berkontribusi dalam pencapaian tersebut. Menurutnya, penghargaan Platinum menjadi bukti membanggakan sekaligus dorongan untuk terus meningkatkan mutu penyelenggaraan pendidikan profesi keperawatan di UNG.Penghargaan Platinum dengan tingkat kelulusan 100 persen merupakan pencapaian yang sangat membanggakan bagi FOK UNG, dimana seluruh 66 peserta berhasil lulus UKOM Ners Periode I Tahun 2026.“Ini menjadi motivasi bagi kami untuk terus memperkuat kualitas pendidikan, meningkatkan pembinaan mahasiswa, dan memastikan proses pembelajaran berjalan sesuai standar yang ditetapkan,” ungkapnya.Ia menegaskan, keberhasilan dalam uji kompetensi nasional tidak semata-mata diukur dari tingginya persentase kelulusan. Lebih dari itu, capaian tersebut harus menjadi landasan untuk memperkuat kualitas lulusan secara menyeluruh, baik dari sisi pengetahuan, keterampilan, maupun sikap profesional dalam menjalankan tugas sebagai tenaga keperawatan.Rektor UNG, Prof. Dr. Ir. Eduart Wolok, S.T., M.T., turut menyambut gembira pencapaian Program Studi Pendidikan Profesi Ners FOK UNG. Menurutnya, keberhasilan seluruh peserta melewati uji kompetensi nasional merupakan capaian yang membanggakan sekaligus memperkuat komitmen universitas dalam menyelenggarakan pendidikan profesi yang berkualitas dan berorientasi pada standar kompetensi nasional.“Penghargaan Platinum ini bukan sekadar pengakuan atas keberhasilan meraih kelulusan sempurna, tetapi juga menjadi motivasi untuk terus melahirkan perawat profesional yang kompeten, beretika, dan siap berkontribusi dalam pelayanan kesehatan,” terang Eduart.Capaian tersebut diharapkan semakin membuktikan kualitas pendidikan profesi ners, sehingga dapat memperkuat kepercayaan masyarakat untuk mengikuti proses pendidikan perawat di UNG.Eduart juga menegaskan bahwa UNG tidak hanya mendorong mahasiswa berhasil dalam uji kompetensi, tapi juga menjadi seorang perawat profesional dengan memberikan pelayanan keperawatan terbaik dan berkualitas, serta berorientasi pada kebutuhan masyarakat. (**)

Dari Limbah Jadi Berkah, Inovasi BioNira Zero Waste UNG Buka Peluang Ekonomi di Dulamayo Selatan
14 Oct 2026
05:40 WITA

Dari Limbah Jadi Berkah, Inovasi BioNira Zero Waste UNG Buka Peluang Ekonomi di Dulamayo Selatan

Abdul Wahid Rauf

GORONTALO — Limbah pengolahan gula aren yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal, kini dikembangkan menjadi produk bernilai tambah oleh tim pengabdian kepada masyarakat Universitas Negeri Gorontalo (UNG). Melalui inovasi BioNira Zero Waste, limbah kolang-kaling dan kulitnya diolah menjadi serbuk serat Nano Fiber serta pelet biomassa, yang berpotensi membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat Desa Dulamayo Selatan, Kabupaten Gorontalo.Program bertajuk “BioNira Zero Waste: Inovasi Nano Fiber dan Pelet Biomassa Limbah Biji Nira Berbasis Pemberdayaan Karang Taruna Dulamayo Selatan” ini dilaksanakan oleh Rifka Anggraini Anggai, M.Farm., Dr. Dra. Ha. Sri Endang Saleh, M.Si., dan Angry Pratama Solihin, M.Sc. Kegiatan tersebut merupakan bagian dari program pengabdian kepada masyarakat, yang memperoleh pendanaan Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM), Kemdiktisaintek Tahun 2026.Gagasan ini berangkat dari pengamatan tim terhadap aktivitas pengolahan gula aren di Desa Dulamayo Selatan, yang melibatkan banyak pengrajin dan pelaku usaha. Di balik aktivitas ekonomi tersebut, terdapat limbah yang belum dimanfaatkan secara maksimal. Kondisi ini mendorong tim menghadirkan pendekatan zero waste dengan mengolah sisa bahan produksi, menjadi produk baru sekaligus melibatkan Karang Taruna sebagai mitra utama dalam pengembangan inovasi di tingkat desa.Ketua tim pengabdian, Rifka Anggraini Anggai, menjelaskan bahwa program ini memanfaatkan kolang-kaling dan kulit kolang-kaling untuk menghasilkan dua jenis produk berbeda. Kolang-kaling diolah menjadi serbuk serat Nano Fiber, menggunakan peralatan yang diserahkan kepada pengurus Karang Taruna, sedangkan kulitnya dimanfaatkan sebagai bahan baku pelet biomassa yang lebih ramah lingkungan.“Buah kolang-kaling kami olah dengan beberapa alat yang kami berikan kepada pengurus Karang Taruna untuk dijadikan serbuk serat Nano Fiber, sementara kulitnya dijadikan pelet biomassa yang ramah lingkungan,” jelas Rifka.Tidak berhenti pada penyediaan peralatan, tim UNG juga memberikan pendampingan agar mitra mampu menjalankan proses produksi secara lebih terarah. Pendampingan mencakup tahapan pengolahan bahan baku, hingga penyusunan Standar Operasional Prosedur (SOP) pembuatan serbuk serat Nano Fiber dan pelet biomassa. Langkah ini diharapkan menjadi fondasi bagi mitra, untuk menjaga konsistensi proses produksi dan mengembangkan kegiatan secara berkelanjutan.Penguatan kapasitas mitra juga diarahkan pada aspek pemasaran dan digital branding. Melalui pemanfaatan berbagai platform digital, produk yang dikembangkan diharapkan memiliki peluang untuk dikenal lebih luas. Dengan demikian, pemberdayaan tidak hanya berfokus pada keterampilan mengolah limbah, tetapi juga pada kemampuan mengelola produksi dan memperkenalkan produk kepada calon konsumen.Melalui BioNira Zero Waste, UNG mendorong perubahan cara pandang terhadap limbah hasil pengolahan aren, dari sisa produksi yang belum termanfaatkan menjadi sumber daya yang berpotensi menghasilkan nilai ekonomi. Keterlibatan Karang Taruna menjadi bagian penting dalam membangun kemampuan masyarakat, untuk mengelola inovasi secara mandiri sekaligus memperkuat peran generasi muda dalam pengembangan potensi desa.Program ini diharapkan menjadi langkah awal bagi pemanfaatan limbah aren yang lebih produktif di Desa Dulamayo Selatan. Dengan dukungan teknologi tepat guna, pendampingan, dan penguatan pemasaran, inovasi BioNira Zero Waste mencerminkan upaya UNG dalam menghubungkan ilmu pengetahuan dengan kebutuhan masyarakat, sekaligus membuka peluang bagi tumbuhnya kegiatan ekonomi berbasis pemanfaatan sumber daya lokal.

UNG Siapkan Lulusan Go Global, Perkuat Kerja Sama Pelatihan Calon Pekerja Migran Indonesia
13 Oct 2026
08:01 WITA

UNG Siapkan Lulusan Go Global, Perkuat Kerja Sama Pelatihan Calon Pekerja Migran Indonesia

Abdul Wahid Rauf

GORONTALO — Peluang berkarier di luar negeri kini semakin terbuka bagi lulusan Universitas Negeri Gorontalo (UNG). Melalui kerja sama dengan Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (KemenP2MI) melalui Balai Pelayanan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP3MI) Sulawesi Utara, UNG memperkuat langkah menyiapkan sumber daya manusia terdidik yang memiliki keterampilan, kemampuan bahasa asing, dan pemahaman tentang pelindungan pekerja migran.Komitmen tersebut diwujudkan melalui penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS) antara UNG dan KemenP2MI/BP2MI melalui BP3MI Sulawesi Utara, Senin (12/10/2026). Penandatanganan dilakukan langsung oleh Rektor UNG, Prof. Dr. Ir. Eduart Wolok, S.T., M.T., IPU, ASEAN Eng., dan Kepala BP3MI Sulawesi Utara, AKBP Hendrick Situmorang, S.H., S.I.K., M.Si.Kerja sama ini difokuskan pada penguatan kapasitas dan keterampilan calon pekerja migran terdidik asal Gorontalo. Melalui program prioritas SMK Go Global, UNG dipersiapkan menjadi pusat pelatihan intensif bahasa asing sekaligus pembekalan kompetensi kerja agar calon pekerja migran memiliki kesiapan yang lebih baik sebelum memasuki pasar kerja internasional.Rektor UNG, Prof. Dr. Ir. Eduart Wolok, ST., MT.,menegaskan bahwa peluang kerja global perlu ditangkap secara strategis, terutama di tengah bonus demografi Indonesia. Sejumlah negara, seperti Jepang, Korea Selatan, Selandia Baru, Australia, hingga negara-negara Eropa, menghadapi tantangan penuaan penduduk dan kebutuhan tenaga kerja produktif. Kondisi tersebut membuka peluang bagi tenaga kerja Indonesia yang memiliki kompetensi sesuai kebutuhan negara tujuan.“Perguruan tinggi memiliki peran penting untuk memastikan lulusan tidak hanya mengantongi ijazah, tetapi juga mempunyai keterampilan praktis, kemampuan berkomunikasi dalam bahasa asing, serta kesiapan menghadapi lingkungan kerja yang berbeda,” ungkapnya.Untuk mendukung program tersebut, UNG akan mengoptimalkan fasilitas Unit Pelaksana Akademik (UPA) Bahasa sebagai sarana penguatan kemampuan bahasa asing. Selain itu, fasilitas Rumah Susun Mahasiswa (Rusunawa) UNG direncanakan dapat dimanfaatkan sebagai pusat pelatihan terpadu untuk mendukung pelaksanaan program.Melalui dukungan fasilitas dan kolaborasi antarlembaga, program ini diharapkan dapat membantu mempersiapkan calon pekerja migran yang profesional, kompetitif, dan memahami hak serta mekanisme pelindungan hukum selama bekerja di luar negeri. Aspek keselamatan, prosedur penempatan yang sesuai ketentuan, dan pemahaman terhadap negara tujuan menjadi bagian penting agar peluang kerja internasional dapat dimanfaatkan secara bertanggung jawab.“Kerja sama ini sekaligus memperluas peran UNG dalam menyiapkan lulusan menghadapi tantangan dunia kerja yang semakin terbuka. Kampus tidak hanya menjadi tempat memperoleh pengetahuan, tetapi juga ruang pengembangan kompetensi yang relevan dengan kebutuhan pasar kerja global,” ujar Rektor.Melalui kemitraan tersebut, UNG berharap semakin banyak putra-putri Gorontalo yang mampu bersaing di tingkat internasional dengan bekal pendidikan, keterampilan, dan pemahaman pelindungan yang memadai. Langkah ini menjadi bagian dari komitmen UNG untuk memperluas kesempatan lulusan, memperkuat daya saing sumber daya manusia, dan menghadirkan dampak pendidikan tinggi yang lebih luas bagi masyarakat.

Raih Prestasi Gold Medal dan Best Paper, Mahasiswa Fakultas Teknik UNG Bersinar di Idea Fest 6
12 Oct 2026
01:43 WITA

Raih Prestasi Gold Medal dan Best Paper, Mahasiswa Fakultas Teknik UNG Bersinar di Idea Fest 6

Abdul Wahid Rauf

GORONTALO — Dua mahasiswa Universitas Negeri Gorontalo (UNG) membuktikan bahwa gagasan, yang dikembangkan melalui proses akademik mampu bersaing dan mendapat pengakuan di tingkat nasional. Adelia Syafarusi Sahadat dan Haida Arianti, mahasiswa Jurusan Teknik Industri, Fakultas Teknik (FT) UNG, berhasil meraih Gold Medal sekaligus penghargaan Best Paper pada ajang Idea Fest 6 yang diselenggarakan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), 10–11 Oktober 2026, di Malang.Prestasi tersebut diraih pada subtema Pariwisata dan Budaya. Raihan dua penghargaan sekaligus menjadi pencapaian membanggakan karena tidak hanya menunjukkan keberhasilan tim dalam kompetisi, tetapi juga menegaskan pengakuan terhadap kualitas karya tulis ilmiah yang mereka hasilkan.Gold Medal menjadi apresiasi atas capaian dalam kompetisi, sementara penghargaan Best Paper menunjukkan bahwa karya yang diusung memiliki kualitas penulisan ilmiah yang mendapat pengakuan dari penyelenggara. Prestasi ini sekaligus memperlihatkan kemampuan mahasiswa Teknik Industri UNG dalam mengembangkan gagasan analitis dan inovatif pada isu yang melampaui bidang keilmuan mereka.Keberhasilan Adelia dan Haida tidak terlepas dari persiapan dan pendampingan akademik yang mereka jalani. Keduanya merupakan mahasiswa bimbingan Idham Halid Lahay, S.T., M.Sc., yang mendampingi proses pengembangan gagasan hingga persiapan mengikuti kompetisi.Pendampingan dosen menjadi bagian penting dalam mempertajam ide, memperkuat substansi karya, serta mempersiapkan mahasiswa menyampaikan gagasan secara ilmiah. Kolaborasi tersebut menunjukkan bahwa proses pembelajaran di perguruan tinggi dapat berkembang menjadi karya nyata yang memperoleh apresiasi di luar lingkungan kampus.Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Alumni UNG, Prof. Dr. Mohamad Amir Arham, M.E., menyampaikan apresiasi atas pencapaian kedua mahasiswa tersebut beserta peran dosen pembimbing. Menurutnya, prestasi ini menjadi bagian dari upaya memperkuat budaya akademik yang mendorong mahasiswa untuk aktif berkarya, mengikuti kompetisi, dan mengembangkan kemampuan komunikasi ilmiah.Ia berharap capaian tersebut dapat menjadi motivasi bagi mahasiswa lainnya, agar semakin percaya diri membawa gagasan dan karya mereka ke berbagai forum kompetitif.“Penghargaan yang diraih melalui proses pembimbingan akademik juga menunjukkan pentingnya lingkungan kampus, dalam menyediakan ruang bagi mahasiswa untuk mengembangkan potensi dan kreativitas,” terangnya.Raihan Gold Medal dan Best Paper oleh Adelia Syafarusi Sahadat dan Haida Arianti menjadi kebanggaan bagi fakultas dan juga universitas. Prestasi ini diharapkan menjadi pemantik bagi lahirnya lebih banyak karya mahasiswa yang inovatif, berkualitas, dan mampu memberikan kontribusi melalui forum akademik di tingkat nasional maupun internasional. (**)

Lihat Semua Berita