Site Logo

Ratri Rahmatya Hiola, Mahasiswa FEB UNG, Tampil di World Economic & Leadership Forum 2026

Rachmad Hidayah
08 Oct 2026
03:41 WITA
45 dilihat
Ratri Rahmatya Hiola, Mahasiswa FEB UNG, Tampil di World Economic & Leadership Forum 2026

Denpasar — Mahasiswa Jurusan Ilmu Ekonomi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Negeri Gorontalo (UNG), Ratri Rahmatya Hiola, menjadi satu-satunya perwakilan Indonesia bagian timur yang tampil sebagai presenter sekaligus Impact Delegate pada World Economic & Leadership Forum (WELF) 2026.

Forum internasional yang diselenggarakan oleh Sustainable Development League bekerja sama dengan Warmadewa University tersebut berlangsung pada 1–4 Oktober 2026 di Denpasar, Bali. WELF 2026 mempertemukan generasi muda dari berbagai negara, di antaranya Rusia, Malaysia, Vietnam, Bangladesh, Uzbekistan, London, Papua Nugini, dan Indonesia, untuk membahas berbagai isu strategis terkait ekonomi global, teknologi, rekonstruksi, perubahan iklim, serta kepemimpinan generasi muda.

Dalam forum tersebut, Ratri membawa nama Universitas Negeri Gorontalo dan berpartisipasi dalam berbagai rangkaian diskusi sebagai Impact Delegate. Kehadirannya menjadi bagian dari kontribusi mahasiswa UNG dalam membawa perspektif akademik ke ruang diskusi internasional yang melibatkan peserta dari berbagai latar belakang dan negara.

Tidak hanya mengikuti rangkaian forum, Ratri juga berkesempatan mempresentasikan proyek bertajuk “Youth Economic Policy Lab: Building Economic Resilience in an Uncertain Global Environment.” Gagasan tersebut merupakan inisiatif berbasis kepemudaan yang dirancang untuk menghubungkan economic research, policy dialogue, dan youth engagement dalam membangun pemahaman serta pemikiran kebijakan ekonomi yang lebih responsif terhadap ketidakpastian global.

Melalui Youth Economic Policy Lab, mahasiswa dan generasi muda diarahkan untuk memahami berbagai persoalan ekonomi melalui pendekatan berbasis data. Gagasan tersebut juga membuka ruang bagi generasi muda untuk berdiskusi bersama akademisi dan praktisi, sekaligus menerjemahkan hasil kajian menjadi gagasan serta rekomendasi yang lebih mudah dipahami masyarakat.

“Youth Economic Policy Lab saya gagas sebagai ruang yang menghubungkan penelitian ekonomi dengan diskusi kebijakan dan keterlibatan anak muda. Saya melihat bahwa generasi muda tidak hanya perlu memahami bagaimana kebijakan ekonomi memengaruhi kehidupan mereka, tetapi juga perlu memiliki ruang untuk menyampaikan gagasan dan terlibat dalam pembahasan isu ekonomi,” ujar Ratri.

Gagasan yang dibawa Ratri dalam forum tersebut turut berangkat dari pengalaman akademiknya dalam melakukan penelitian mengenai kebijakan fiskal dan Foreign Direct Investment (FDI) di negara-negara ASEAN+3 periode 2010–2023.

Penelitian tersebut menjadi salah satu pijakan dalam melihat bagaimana data dan riset ekonomi dapat dimanfaatkan untuk memahami hubungan antara kebijakan fiskal, kondisi makroekonomi, dan investasi dalam menghadapi berbagai ketidakpastian ekonomi global.

Melalui proyek tersebut, Ratri menekankan bahwa economic resilience tidak hanya berkaitan dengan kemampuan suatu negara menghadapi guncangan ekonomi. Menurutnya, ketahanan ekonomi juga membutuhkan kebijakan yang kredibel, kapasitas fiskal yang kuat, investasi produktif, serta keterlibatan masyarakat dan generasi muda dalam memahami berbagai persoalan ekonomi.

“Pengalaman mengikuti WELF membuat saya melihat bahwa persoalan ekonomi tidak dapat diselesaikan hanya dengan satu kebijakan atau satu indikator. Ketahanan ekonomi membutuhkan kombinasi antara kebijakan yang baik, institusi yang kuat, investasi produktif, dan keterlibatan berbagai pihak. Di sinilah saya melihat ruang bagi generasi muda untuk berkontribusi melalui riset, dialog, dan aksi,” lanjut Ratri.

Keikutsertaan dalam WELF 2026 diharapkan dapat menjadi ruang bagi Ratri untuk terus mengembangkan gagasan Youth Economic Policy Lab, khususnya sebagai wadah pembelajaran dan diskusi bagi mahasiswa dalam memahami isu ekonomi dan kebijakan publik secara lebih kritis serta berbasis bukti.

Partisipasi tersebut sekaligus menjadi bagian dari kontribusi mahasiswa FEB UNG dalam memperluas jejaring akademik dan membawa perspektif Universitas Negeri Gorontalo ke dalam forum internasional. Kehadiran Ratri juga menunjukkan peran mahasiswa UNG dalam mengambil bagian pada diskusi mengenai ekonomi, pembangunan, dan tantangan global yang semakin kompleks.


Ikuti berita lainnya

Dari UNG untuk Indonesia, Mahasiswa dan Alumni FOK UNG Persembahkan Medali di Asian Games 2026
08 Oct 2026
02:25 WITA

Dari UNG untuk Indonesia, Mahasiswa dan Alumni FOK UNG Persembahkan Medali di Asian Games 2026

Abdul Wahid Rauf

GORONTALO — Prestasi membanggakan kembali ditorehkan sivitas akademika Universitas Negeri Gorontalo (UNG) di panggung olahraga internasional. Mahasiswa dan alumni Fakultas Olahraga dan Kesehatan (FOK) UNG turut berkontribusi, mempersembahkan medali bagi Indonesia pada ajang Asian Games 2026 melalui cabang olahraga sepak takraw.Tiga insan olahraga yang memiliki keterkaitan dengan FOK UNG, tampil membawa nama Indonesia di kompetisi olahraga terbesar di Asia tersebut. Mereka adalah mahasiswa UNG Jelki Ladada, serta dua alumni Gelvin Usman dan Rizki Yusuf Djaina.Jelki Ladada berhasil mencatatkan prestasi dengan menyumbangkan medali perak dan perunggu untuk kontingen Indonesia. Sementara itu, dua alumni FOK UNG, Gelvin Usman dan Rizki Yusuf Djaina, masing-masing turut mempersembahkan medali perunggu bagi Merah Putih.Raihan tersebut menjadi kebanggaan tersendiri bagi UNG, khususnya Fakultas Olahraga dan Kesehatan. Prestasi para atlet tidak hanya menunjukkan kemampuan mereka bersaing di tingkat Asia, tetapi juga menjadi gambaran kontribusi pendidikan dan pembinaan olahraga di lingkungan kampus.Rektor UNG, Prof. Dr. Ir. Eduart Wolok, S.T., M.T., menyampaikan apresiasi atas pencapaian mahasiswa dan alumni Jurusan Pendidikan Kepelatihan dan Olahraga FOK UNG tersebut. Menurutnya, keberhasilan membawa pulang medali dari Asian Games merupakan pencapaian luar biasa yang membanggakan seluruh sivitas akademika UNG.“Keberhasilan meraih medali perak dan perunggu pada cabang olahraga sepak takraw merupakan sebuah pencapaian luar biasa dan membanggakan, khususnya bagi sivitas akademika UNG,” ungkap Eduart.Menurut Rektor, prestasi tersebut sekaligus memperlihatkan kualitas pembinaan olahraga yang terus dikembangkan FOK UNG. Cabang olahraga sepak takraw menjadi salah satu bidang, yang menunjukkan kontribusi nyata melalui kiprah mahasiswa dan alumni di tingkat internasional.“Capaian Jelki, Gelvin, dan Rizki menjadi bukti bahwa perjalanan seorang atlet tidak berhenti ketika meninggalkan ruang kelas. Dari kampus, mereka membawa bekal pendidikan, pembinaan, dan pengalaman untuk kemudian tampil di panggung Asia dengan membawa nama Indonesia,” terangnya.Prestasi tersebut diharapkan semakin memotivasi mahasiswa UNG untuk mengembangkan potensi, baik di bidang akademik maupun olahraga. Di sisi lain, capaian ketiga atlet tersebut menjadi bentuk komitmen UNG dalam membina atlet terbaik, khususnya dalam olahraga sepaktakraw untuk kemudian berkompetisi dan menghadirkan prestasi bagi Indonesia khususnya di tingkat internasional.

Pendekatan Berbasis Ekosistem untuk Pengelolaan Cumi-Cumi di Teluk Tomini
08 Oct 2026
00:19 WITA

Pendekatan Berbasis Ekosistem untuk Pengelolaan Cumi-Cumi di Teluk Tomini

Abdul Wahid Rauf

Teluk Tomini menyimpan potensi perikanan yang besar, termasuk sumber daya cumi-cumi (Loligo spp.) yang menjadi salah satu komoditas penting bagi masyarakat pesisir. Namun, di balik potensi tersebut, keberlanjutan sumber daya cumi-cumi menghadapi sejumlah tantangan. Penelitian Universitas Negeri Gorontalo (UNG) menunjukkan adanya kecenderungan penurunan hasil tangkapan yang perlu menjadi perhatian dalam pengelolaan perikanan di kawasan Teluk Tomini.Penelitian bertajuk “Integration of ecosystem approach in Loligo spp. resource management in Tomini Bay” dilakukan oleh Yuniarti Koniyo, Abdul H. Olii, Wila R. Nento, dan Muhammad R. Gobel. Penelitian tersebut mengkaji status pengelolaan perikanan cumi-cumi dengan menggunakan pendekatan Ecosystem Approach to Fisheries Management (EAFM) dan Flag Model. Pendekatan ini tidak hanya melihat kondisi sumber daya ikan, tetapi juga mempertimbangkan aspek habitat, teknologi penangkapan, sosial, ekonomi, serta kelembagaan.Salah satu temuan penting penelitian terlihat dari perubahan Catch Per Unit Effort (CPUE), yaitu jumlah hasil tangkapan yang diperoleh dalam setiap satuan upaya penangkapan. Data menunjukkan CPUE cumi-cumi di Teluk Tomini turun dari 21,78 kg per perjalanan pada 2019 menjadi 17,02 kg per perjalanan pada 2023. Pada periode yang sama, produksi cumi-cumi juga mengalami penurunan, dari sekitar 4,79 juta kilogram pada 2019 menjadi 3,72 juta kilogram pada 2023.Penurunan tersebut menjadi sinyal bahwa tekanan terhadap sumber daya cumi-cumi perlu diperhatikan. Penelitian mengindikasikan bahwa peningkatan aktivitas penangkapan belum selalu menghasilkan tangkapan yang lebih tinggi. Kondisi ini dapat berkaitan dengan meningkatnya tekanan penangkapan maupun perubahan lingkungan yang memengaruhi ketersediaan cumi-cumi di perairan.Dari sisi teknologi, nelayan di kawasan Teluk Tomini menggunakan sejumlah alat tangkap, dengan pancing cumi dan circle gill net menjadi alat yang dominan di beberapa wilayah. Penelitian menilai teknologi penangkapan yang digunakan relatif selektif, meskipun risiko tertangkapnya spesies non-target masih ada. Karena itu, peningkatan selektivitas alat tangkap tetap diperlukan agar pemanfaatan sumber daya dapat berlangsung lebih berkelanjutan.Tantangan pengelolaan juga berkaitan dengan kondisi habitat. Penelitian mencatat adanya kerusakan ekosistem terumbu karang akibat aktivitas manusia, termasuk praktik penangkapan yang merusak. Padahal, kondisi habitat memiliki hubungan penting dengan keberadaan dan keberlanjutan sumber daya perikanan. Perubahan lingkungan dan dampak perubahan iklim juga menjadi faktor yang perlu diperhitungkan dalam pengelolaan Teluk Tomini.Persoalan keberlanjutan tidak berhenti pada aspek ekologi. Penelitian menemukan bahwa kondisi ekonomi rumah tangga nelayan cumi-cumi masih relatif rendah, dengan pendapatan yang dalam banyak kasus berada di bawah upah minimum provinsi. Kepemilikan aset produktif dan kemampuan menabung juga masih terbatas. Di sisi sosial, partisipasi berbagai pemangku kepentingan dalam pengelolaan dinilai tinggi, tetapi konflik antara nelayan maupun antara nelayan dan pemerintah masih terjadi.Hasil penilaian enam domain EAFM menunjukkan nilai rata-rata pengelolaan sebesar 58 yang masuk kategori sedang. Domain teknologi penangkapan dan sosial memperoleh kategori baik, sementara sumber daya ikan dan aspek ekonomi masih berada pada kategori kurang. Aspek kelembagaan juga memerlukan penguatan, terutama karena belum adanya rencana pengelolaan perikanan Teluk Tomini yang secara khusus diterapkan sebagai dasar pengelolaan bersama.Temuan tersebut menegaskan bahwa menjaga keberlanjutan cumi-cumi di Teluk Tomini membutuhkan pendekatan yang lebih menyeluruh. Peneliti merekomendasikan penggunaan alat tangkap yang semakin selektif, rehabilitasi ekosistem, peningkatan kesejahteraan nelayan, serta penguatan kerja sama antarlembaga dan keterlibatan para pemangku kepentingan.Dengan pendekatan berbasis ekosistem, pengelolaan cumi-cumi tidak hanya diarahkan untuk mempertahankan hasil tangkapan, tetapi juga menjaga keseimbangan lingkungan dan memastikan sumber daya tersebut tetap dapat dimanfaatkan oleh masyarakat pesisir dalam jangka panjang.Artikel Penelitian Dipublikasikan Melalui Tautan Berikut

Prodi S1 Kesehatan Masyarakat dan D3 Farmasi Raih Akreditasi Unggul, Tegaskan Komitmen Pendidikan Kesehatan Berkualitas
06 Oct 2026
05:07 WITA

Prodi S1 Kesehatan Masyarakat dan D3 Farmasi Raih Akreditasi Unggul, Tegaskan Komitmen Pendidikan Kesehatan Berkualitas

Abdul Wahid Rauf

GORONTALO - Komitmen Universitas Negeri Gorontalo (UNG) dalam menghadirkan pendidikan tinggi berkualitas membuahkan hasil membanggakan. Dua program studi (Prodi) di Fakultas Olahraga dan Kesehatan (FOK), yakni Program Studi S1 Kesehatan Masyarakat (Kesmas) dan Program Studi D3 Farmasi, berhasil meraih predikat Akreditasi Unggul dari Lembaga Akreditasi Mandiri Pendidikan Tinggi Kesehatan (LAM-PTKes).Capaian tersebut menjadi kebanggaan tersendiri bagi FOK UNG, sekaligus menegaskan konsistensi fakultas dalam menjaga dan meningkatkan mutu pendidikan di bidang kesehatan. Predikat Unggul menjadi pengakuan atas kualitas pendidikan dan pembelajaran yang dimiliki, tata kelola program studi, serta pengembangan kompetensi lulusan.Dekan FOK UNG, Dr. Hartono Hadjarati, M.Pd., menyambut capaian tersebut dengan penuh apresiasi. Menurutnya, keberhasilan meraih Akreditasi Unggul merupakan hasil kerja bersama, seluruh sivitas akademika yang terus berkomitmen menjaga standar mutu pendidikan.“Capaian ini menjadi bukti nyata komitmen seluruh sivitas akademika dalam menjaga mutu pendidikan, meningkatkan kualitas pembelajaran, memperkuat tata kelola program studi, serta menghasilkan lulusan bidang ilmu kesehatan yang kompeten, profesional, dan siap berkontribusi bagi masyarakat,” ungkap Hartono.Ia menegaskan, predikat Unggul bukan menjadi titik akhir, melainkan momentum untuk semakin memperkuat budaya mutu dan mendorong inovasi di lingkungan kedua program studi. Capaian tersebut diharapkan menjadi energi baru, bagi Prodi S1 Kesehatan Masyarakat dan Prodi D3 Farmasi untuk terus berkembang serta meningkatkan daya saing.Apresiasi juga disampaikan Rektor UNG, Prof. Dr. Ir. Eduart Wolok, S.T., M.T., kepada seluruh sivitas akademika FOK yang telah memberikan kontribusi terhadap pencapaian tersebut. Menurutnya, Akreditasi Unggul menunjukkan bahwa kualitas kedua program studi, telah memperoleh pengakuan dan mampu disejajarkan dengan perguruan tinggi terbaik di Indonesia.“Akreditasi Unggul merupakan pengakuan bahwa kualitas kedua prodi tersebut, telah sejajar dengan perguruan tinggi terbaik di Indonesia. Capaian ini adalah buah dari dedikasi berbagai pihak, yang terus berkontribusi dalam meningkatkan kualitas pendidikan di UNG,” ujar Eduart.Eduart menambahkan, capaian akreditasi tersebut sekaligus memperkuat komitmen UNG untuk menghadirkan pendidikan tinggi yang berkualitas, adaptif, dan berdaya saing. Pengakuan ini diharapkan tidak hanya menjadi kebanggaan institusi, tetapi juga menjadi motivasi bagi seluruh sivitas akademika untuk menjaga konsistensi mutu, dan terus memberikan layanan pendidikan terbaik kepada masyarakat.Dengan diraihnya predikat Unggul oleh Prodi S1 Kesehatan Masyarakat dan D3 Farmasi, FOK UNG kini memiliki modal penting untuk melangkah lebih jauh. Capaian tersebut menjadi pijakan untuk terus berinovasi, memperkuat kualitas lulusan, dan menghadirkan kontribusi nyata pendidikan kesehatan bagi masyarakat. (**)

Mahasiswa KKN UNG Kenalkan Pirolisis, Ubah Sampah Plastik Jadi Peluang Edukasi Energi di Desa Luhu
06 Oct 2026
01:42 WITA

Mahasiswa KKN UNG Kenalkan Pirolisis, Ubah Sampah Plastik Jadi Peluang Edukasi Energi di Desa Luhu

Abdul Wahid Rauf

GORONTALO — Tumpukan sampah plastik yang selama ini dipandang sebagai persoalan lingkungan mulai dilihat dari sudut pandang berbeda oleh mahasiswa KKN Tematik Infrastruktur Universitas Negeri Gorontalo (UNG) Tahun 2026. Melalui kegiatan edukasi dan demonstrasi di Desa Luhu, mahasiswa memperkenalkan teknologi pirolisis sebagai salah satu alternatif pengolahan sampah plastik sekaligus mengajak masyarakat memperkuat kebiasaan memilah sampah sejak dari sumbernya.Kegiatan tersebut menjadi ruang pembelajaran bagi masyarakat untuk mengenal bagaimana plastik tertentu dapat diolah melalui proses pemanasan dalam kondisi oksigen terbatas. Dalam proses pirolisis, uap yang dihasilkan kemudian didinginkan hingga membentuk cairan yang dikenal sebagai minyak pirolisis.Mahasiswa KKN juga menjelaskan bahwa hasil pengolahan tidak hanya ditentukan oleh proses pemanasan, tetapi turut dipengaruhi oleh jenis plastik, kondisi proses, hingga penanganan produk dan residu yang dihasilkan. Karena itu, teknologi pirolisis diperkenalkan bukan sebagai solusi tunggal persoalan sampah, melainkan sebagai bagian dari edukasi dan penjajakan teknologi yang perlu dilakukan secara tepat dan aman.Koordinator Desa KKN, Haikal, mengatakan bahwa perubahan dalam pengelolaan sampah dapat dimulai dari langkah sederhana yang dilakukan secara konsisten oleh masyarakat.“Melalui kegiatan ini, kami ingin menunjukkan bahwa pengelolaan sampah dapat dimulai dari langkah sederhana, terutama pemilahan. Teknologi pengolahan perlu dijalankan secara aman dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat,” ujarnya.Dalam edukasi tersebut, mahasiswa turut menekankan bahwa minyak pirolisis tidak dapat langsung dianggap setara dengan bahan bakar seperti bensin atau solar. Pemanfaatannya membutuhkan pengujian mutu, penilaian emisi, pengelolaan residu, serta perhatian terhadap aspek keselamatan.Pendekatan tersebut sekaligus menempatkan kegiatan KKN sebagai ruang untuk membangun pemahaman masyarakat secara lebih utuh. Sebelum berbicara mengenai teknologi pengolahan, masyarakat diajak terlebih dahulu memahami pentingnya mengurangi penggunaan plastik dan memilah sampah agar jenis sampah yang terkumpul dapat dikelola sesuai karakteristiknya.Melalui KKN Tematik Infrastruktur 2026, mahasiswa berharap kegiatan ini dapat membuka ruang diskusi yang lebih luas antara masyarakat dan pemerintah Desa Luhu mengenai sistem pengumpulan sampah plastik, pilihan teknologi yang sesuai, serta langkah tindak lanjut yang dapat dikelola secara berkelanjutan. (**)

Lihat Semua Berita