Site Logo

Pola Makan dan Hipertensi, Kebiasaan Sehari-hari yang Menentukan Kesehatan Jantung

Penelitian
Abdul Wahid Rauf
30 Mar 2026
09:53 WITA
114 dilihat
Pola Makan dan Hipertensi, Kebiasaan Sehari-hari yang Menentukan Kesehatan Jantung

Hipertensi atau tekanan darah tinggi merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat yang paling banyak ditemukan di berbagai negara, termasuk Indonesia. Penyakit ini sering disebut sebagai silent killer karena dapat berkembang tanpa gejala yang jelas, namun memiliki potensi menimbulkan komplikasi serius seperti stroke, penyakit jantung, dan gagal ginjal. Dalam banyak kasus, hipertensi baru terdeteksi ketika kondisi kesehatan seseorang sudah berada pada tahap yang lebih berat. Secara medis, seseorang dikatakan mengalami hipertensi apabila tekanan darah sistolik mencapai ≥140 mmHg dan tekanan darah diastolik ≥90 mmHg. Kondisi ini menunjukkan bahwa pembuluh darah mengalami tekanan yang lebih tinggi dari kondisi normal, sehingga jantung harus bekerja lebih keras untuk memompa darah ke seluruh tubuh. Apabila tekanan darah tinggi berlangsung dalam waktu lama, dinding pembuluh darah dapat mengalami kerusakan yang berpotensi menimbulkan berbagai penyakit kardiovaskular.

Hipertensi kini tidak lagi dipandang sebagai masalah kesehatan individu semata, tetapi telah berkembang menjadi tantangan global dalam bidang kesehatan masyarakat. Organisasi Kesehatan Dunia memperkirakan bahwa lebih dari satu miliar orang di seluruh dunia hidup dengan kondisi hipertensi dan angka ini terus meningkat setiap tahunnya. Bahkan diperkirakan sekitar 9,4 juta kematian setiap tahun berkaitan dengan hipertensi. Kondisi ini menjadikan hipertensi sebagai salah satu penyebab kematian tertinggi di dunia. Di Indonesia, hipertensi juga menjadi masalah kesehatan yang cukup serius. Data kesehatan nasional menunjukkan bahwa penyakit ini termasuk dalam tiga penyebab kematian tertinggi pada berbagai kelompok usia. Tingginya angka kejadian hipertensi tidak hanya berkaitan dengan faktor biologis, tetapi juga sangat dipengaruhi oleh gaya hidup masyarakat, khususnya pola makan sehari-hari.

Pola makan merupakan salah satu faktor risiko yang paling signifikan dalam perkembangan hipertensi. Dalam kehidupan modern, masyarakat cenderung mengonsumsi makanan yang tinggi natrium, lemak, dan gula, sementara konsumsi buah serta sayur masih relatif rendah. Ketidakseimbangan pola konsumsi ini dapat memicu berbagai gangguan metabolik yang berkontribusi terhadap peningkatan tekanan darah. Penelitian yang dilakukan di wilayah kerja Puskesmas Bonepantai Kabupaten Bone Bolango memberikan gambaran nyata mengenai hubungan antara pola makan dan kejadian hipertensi di masyarakat. Penelitian tersebut menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain cross-sectional terhadap 71 responden yang merupakan peserta program pengelolaan penyakit kronis (Prolanis). Hasil penelitian menunjukkan bahwa 52,1% responden memiliki pola makan yang tidak baik, sementara 49,3% responden diketahui menderita hipertensi.

Hasil analisis statistik menggunakan uji Chi-Square menunjukkan nilai p-value 0,000, yang berarti terdapat hubungan yang signifikan antara pola makan dengan kejadian hipertensi. Temuan ini menegaskan bahwa pola konsumsi makanan memiliki pengaruh nyata terhadap risiko peningkatan tekanan darah dalam masyarakat. Dalam penelitian tersebut juga ditemukan bahwa masyarakat di wilayah pesisir cenderung mengonsumsi makanan yang tinggi natrium, seperti ikan asin, ikan teri, serta makanan yang mengandung penyedap rasa (MSG). Selain itu, makanan berlemak seperti gorengan juga sering dikonsumsi sebagai bagian dari menu sehari-hari. Kombinasi antara konsumsi natrium yang tinggi dan lemak berlebih ini menjadi faktor yang berkontribusi terhadap meningkatnya tekanan darah responden.

Secara fisiologis, konsumsi natrium yang berlebihan dapat menyebabkan tubuh menahan lebih banyak cairan di dalam pembuluh darah. Natrium memiliki sifat mengikat air, sehingga peningkatan kadar natrium dalam darah akan meningkatkan volume darah secara keseluruhan. Akibatnya, jantung harus bekerja lebih keras untuk memompa darah, yang pada akhirnya meningkatkan tekanan darah. Selain itu, konsumsi makanan berlemak secara berlebihan juga dapat menyebabkan penumpukan plak pada dinding pembuluh darah. Penumpukan lemak ini dapat mempersempit lumen pembuluh darah sehingga aliran darah menjadi lebih sulit. Kondisi tersebut menyebabkan jantung memerlukan tekanan yang lebih besar untuk mengalirkan darah, yang pada akhirnya memicu hipertensi.

Temuan penelitian juga menunjukkan bahwa sebagian responden yang memiliki pola makan tidak sehat mengalami tekanan darah yang sangat tinggi, bahkan mencapai 200/100 mmHg pada beberapa kasus. Kondisi ini menunjukkan bahwa kebiasaan makan sehari-hari memiliki dampak langsung terhadap kesehatan sistem kardiovaskular seseorang. Namun demikian, hipertensi tidak hanya dipengaruhi oleh pola makan semata. Faktor lain seperti usia, aktivitas fisik, stres, serta faktor genetik juga berperan dalam meningkatkan risiko penyakit ini. Penelitian menunjukkan bahwa risiko hipertensi cenderung meningkat seiring bertambahnya usia, terutama pada kelompok usia di atas 40 tahun. Hal ini disebabkan oleh penurunan elastisitas pembuluh darah yang terjadi secara alami dalam proses penuaan.

Meski demikian, pola makan tetap menjadi faktor risiko yang paling mudah dimodifikasi dalam upaya pencegahan hipertensi. Berbeda dengan faktor genetik atau usia yang tidak dapat diubah, pola makan dapat diperbaiki melalui perubahan perilaku dan edukasi kesehatan yang tepat. Dalam perspektif kesehatan masyarakat, temuan ini memiliki implikasi yang sangat penting. Upaya pengendalian hipertensi tidak cukup hanya melalui pengobatan medis, tetapi juga harus disertai dengan perubahan gaya hidup, terutama dalam pola konsumsi makanan sehari-hari. Organisasi Kesehatan Dunia merekomendasikan agar konsumsi garam dibatasi hingga kurang dari 5 gram per hari, serta meningkatkan konsumsi buah dan sayur minimal 400 gram per hari. Selain itu, pola makan seperti diet DASH (Dietary Approaches to Stop Hypertension) juga dianjurkan karena terbukti efektif dalam menurunkan tekanan darah melalui konsumsi makanan tinggi serat, rendah lemak jenuh, serta rendah natrium.

Pada akhirnya, hipertensi mengingatkan kita bahwa kesehatan jantung sangat dipengaruhi oleh kebiasaan kecil yang dilakukan setiap hari. Pilihan makanan yang tampak sederhana, seperti mengurangi garam atau mengganti gorengan dengan makanan yang lebih sehat, dapat memberikan dampak besar bagi kesehatan tubuh dalam jangka panjang. Dengan meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya pola makan sehat, risiko hipertensi dapat ditekan secara signifikan. Dalam jangka panjang, upaya ini tidak hanya membantu menurunkan angka penyakit kardiovaskular, tetapi juga berkontribusi pada peningkatan kualitas kesehatan masyarakat secara keseluruhan. (Artikel penelitian dipublikasikan melalui laman berikut)

Ikuti berita lainnya

Prodi S1 Manajemen UNG Raih Akreditasi Unggul, Perkuat Posisi sebagai Program Studi Berdaya Saing Nasional
16 Jul 2026
09:35 WITA

Prodi S1 Manajemen UNG Raih Akreditasi Unggul, Perkuat Posisi sebagai Program Studi Berdaya Saing Nasional

Abdul Wahid Rauf

GORONTALO – Program Studi Sarjana (S1) Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) meraih predikat Akreditasi Unggul, dari Lembaga Akreditasi Mandiri Ekonomi, Manajemen, Bisnis, dan Akuntansi (LAMEMBA) berdasarkan Keputusan LAMEMBA Nomor 178/DE/A.5/LAMEMBA-U/VII/2026.Capaian ini menjadi pengakuan atas konsistensi prodi  manajemen dalam menyelenggarakan pendidikan tinggi yang bermutu, adaptif terhadap perkembangan zaman, dan berorientasi pada peningkatan kualitas secara berkelanjutan.Keberhasilan meraih Akreditasi Unggul tidak diperoleh secara instan. Prodi manajemen harus melalui serangkaian proses penilaian, mulai dari evaluasi dokumen, asesmen lapangan, hingga verifikasi berbagai aspek penyelenggaraan pendidikan oleh tim asesor LAMEMBA.Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis UNG, Dr. Raflin Hinelo, M.Pd., menyampaikan bahwa pencapaian tersebut merupakan hasil kerja keras seluruh sivitas akademika dalam membangun budaya mutu yang berkelanjutan.Menurutnya, predikat Akreditasi Unggul menjadi bukti bahwa prodi manajemen telah memenuhi standar tertinggi dalam berbagai aspek penilaian, mulai dari tata kelola prodi, implementasi kurikulum berbasis luaran (Outcome-Based Education), kualitas sumber daya manusia, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, kemahasiswaan, hingga jejaring kerja sama.“Akreditasi Unggul merupakan bukti kualitas yang dimiliki prodi manajemen. Hasil ini menunjukkan bahwa seluruh aspek penyelenggaraan pendidikan telah memenuhi standar terbaik yang ditetapkan LAMEMBA. Tentu capaian ini merupakan hasil kolaborasi seluruh dosen, tenaga kependidikan, mahasiswa, alumni, serta para mitra yang selama ini mendukung pengembangan program studi,” ujar Raflin.Ia menambahkan, capaian tersebut sekaligus menjadi motivasi untuk terus meningkatkan kualitas layanan akademik agar mampu menjawab tantangan dunia pendidikan tinggi dan kebutuhan dunia kerja yang terus berkembang.Apresiasi juga disampaikan Rektor UNG, Prof. Dr. Ir. Eduart Wolok, S.T., M.T. Menurutnya, raihan Akreditasi Unggul semakin memperkuat posisi prodi manajemen, sebagai salah satu prodi yang mampu menghasilkan lulusan kompeten, profesional, berintegritas, serta memiliki daya saing di tingkat nasional maupun internasional.“Predikat ini menunjukkan bahwa prodi manajemen telah memiliki kualitas yang diakui secara nasional. Capaian ini harus menjadi motivasi untuk terus menghadirkan inovasi dalam pembelajaran, memperkuat budaya riset, meningkatkan kolaborasi dengan dunia usaha dan dunia industri, serta memperluas jejaring kerja sama internasional," ungkap Eduart.Namun demikian, Rektor menegaskan bahwa predikat Akreditasi Unggul bukanlah garis akhir dari proses peningkatan mutu.  Pengakuan tersebut justru menjadi amanah besar bagi seluruh sivitas akademika untuk terus menjaga kualitas pendidikan, meningkatkan pelayanan akademik, serta memperkuat kontribusi program studi dalam menghasilkan sumber daya manusia unggul yang mampu memberikan dampak nyata bagi pembangunan daerah maupun nasional. (**)

Mahasiswa FSB Lolos Program Bergengsi Belajar Bersama Maestro 2026, Siap Menimba Ilmu dari Maestro Seni Indonesia
16 Jul 2026
02:00 WITA

Mahasiswa FSB Lolos Program Bergengsi Belajar Bersama Maestro 2026, Siap Menimba Ilmu dari Maestro Seni Indonesia

Abdul Wahid Rauf

GORONTALO – Prestasi membanggakan kembali ditorehkan mahasiswa Universitas Negeri Gorontalo (UNG) di tingkat nasional. Muhammad Najmi, mahasiswa Program Studi Pendidikan Seni Drama, Tari, dan Musik (Sendratasik), Fakultas Sastra dan Budaya (FSB) UNG, berhasil lolos sebagai peserta Program Belajar Bersama Maestro (BBM) 2026, sebuah program prestisius yang diselenggarakan oleh Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia untuk melahirkan generasi muda pelestari seni dan budaya Nusantara.Keberhasilan tersebut menempatkan Muhammad Najmi sebagai salah satu mahasiswa terbaik dari berbagai daerah di Indonesia yang akan memperoleh kesempatan langka belajar secara langsung bersama para maestro seni dan budaya Indonesia. Program ini akan berlangsung selama satu bulan, mulai 15 Juli hingga 15 Agustus 2026, di Jakarta.Belajar Bersama Maestro merupakan program nasional yang dirancang untuk menjembatani proses transfer pengetahuan, keterampilan, filosofi, hingga nilai-nilai budaya dari para maestro kepada generasi muda. Selama mengikuti program, peserta tidak hanya memperoleh pengalaman praktik berkesenian, tetapi juga mendalami proses kreatif yang menjadi ciri khas para seniman dan budayawan Indonesia.Keikutsertaan Muhammad Najmi merupakan hasil dari proses seleksi yang berlangsung sangat kompetitif. Selain kemampuan artistik, peserta juga dinilai berdasarkan komitmen mereka dalam menjaga, mengembangkan, dan mewariskan kekayaan budaya Indonesia kepada generasi mendatang.Bagi Muhammad Najmi, kesempatan mengikuti BBM 2026 menjadi pengalaman akademik sekaligus ruang pembelajaran yang tidak dapat diperoleh di ruang kelas. Melalui interaksi langsung dengan para maestro, ia akan memperluas wawasan mengenai teknik berkesenian, nilai-nilai budaya, serta pendekatan kreatif dalam melestarikan seni tradisional Indonesia.Dekan Fakultas Sastra dan Budaya UNG, Prof. Dra. Nonny Basalama, M.A., Ph.D., menyampaikan apresiasi atas keberhasilan mahasiswa FSB tersebut. Menurutnya, capaian ini menjadi bukti bahwa mahasiswa FSB UNG memiliki kompetensi, kreativitas, dan daya saing yang mampu bersaing pada program-program nasional bergengsi di bidang seni dan budaya."Program Belajar Bersama Maestro merupakan kesempatan yang sangat berharga bagi mahasiswa untuk belajar langsung dari para maestro seni Indonesia. Pengalaman ini tidak hanya memperkaya pengetahuan dan keterampilan berkesenian, tetapi juga membentuk karakter mahasiswa sebagai generasi pelestari budaya bangsa," ungkap Prof. Nonny.Ia berharap pengalaman yang diperoleh Muhammad Najmi selama mengikuti program dapat ditransformasikan kepada mahasiswa lainnya, sehingga mampu memperkuat budaya akademik sekaligus mendorong lahirnya lebih banyak prestasi di bidang seni dan budaya.Sementara itu, Rektor UNG melalui Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Alumni, Prof. Dr. Mohamad Amir Arham, M.E., menilai keberhasilan tersebut semakin menegaskan kualitas mahasiswa UNG yang mampu bersaing pada program-program nasional bergengsi.Menurutnya, partisipasi mahasiswa dalam Program Belajar Bersama Maestro sejalan dengan komitmen Universitas Negeri Gorontalo dalam mencetak lulusan yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga kreatif, inovatif, serta memiliki kepedulian terhadap pelestarian seni dan budaya Indonesia."Ilmu dan pengalaman yang diperoleh Muhammad Najmi selama mengikuti program, diharapkan dapat ditransformasikan kepada mahasiswa lainnya, sehingga mampu memperkuat budaya akademik sekaligus mendorong lahirnya lebih banyak prestasi di bidang seni dan budaya,” harap Amir.

Inovasi Mahasiswa untuk Sekolah Dipamerkan, UNG Mengajar Batch 9 Tunjukkan Kontribusi Nyata bagi Pendidikan di Kabupaten Gorontalo
15 Jul 2026
08:20 WITA

Inovasi Mahasiswa untuk Sekolah Dipamerkan, UNG Mengajar Batch 9 Tunjukkan Kontribusi Nyata bagi Pendidikan di Kabupaten Gorontalo

Abdul Wahid Rauf

GORONTALO – Beragam inovasi pembelajaran hasil kreativitas mahasiswa UNG dipamerkan dalam Pameran Produk Program UNG Mengajar Batch 9 Wilayah Kabupaten Gorontalo, yang diselenggarakan oleh Lembaga Pengembangan Pembelajaran dan Penjaminan Mutu (LPMPP) UNG, Rabu (8/7), di SMP Negeri 3 Limboto Barat.Pameran ini menjadi ajang diseminasi berbagai luaran Program UNG Mengajar yang telah dijalankan selama satu semester di sekolah-sekolah mitra. Tidak sekadar menampilkan hasil karya, kegiatan ini juga menjadi bukti nyata kontribusi mahasiswa dalam menghadirkan inovasi untuk mendukung peningkatan kualitas pembelajaran di Kabupaten Gorontalo.Pada pelaksanaan UNG Mengajar Batch 9, universitas menugaskan 217 mahasiswa untuk mengabdi di 19 sekolah mitra, yang terdiri atas jenjang SD, SMP, SMA, dan MA di Kabupaten Gorontalo. Selama berada di sekolah, para mahasiswa berkolaborasi dengan guru dalam mengembangkan berbagai metode dan media pembelajaran yang lebih kreatif, inovatif, dan sesuai dengan kebutuhan peserta didik.Berbagai produk inovatif dipamerkan, mulai dari modul ajar Kurikulum Merdeka, media pembelajaran berbasis teknologi digital, alat peraga edukatif, perangkat pembelajaran interaktif, hingga program penguatan literasi dan pendidikan karakter. Seluruh karya tersebut merupakan hasil implementasi program yang telah diterapkan langsung di sekolah-sekolah mitra.Kepala LPMPP UNG, Prof. Dr. Elya Nusantari, M.Pd., menjelaskan bahwa pameran produk merupakan wadah untuk memperlihatkan berbagai inovasi yang telah dikembangkan mahasiswa selama mengikuti Program UNG Mengajar.Menurutnya, kegiatan tersebut tidak hanya menjadi media publikasi hasil program, tetapi juga ruang berbagi pengalaman dan inspirasi antarmahasiswa, guru, maupun sekolah dalam mengembangkan praktik pembelajaran yang lebih efektif.“Berbagai produk yang dipamerkan meliputi media pembelajaran, alat peraga edukatif, perangkat pembelajaran, serta hasil program kerja yang telah diterapkan di masing-masing sekolah. Melalui pameran ini, kami berharap inovasi yang dihasilkan dapat menjadi referensi bagi sekolah lain dan terus dikembangkan untuk meningkatkan mutu pendidikan,” ujar Elya.Suasana pameran berlangsung semarak dengan hadirnya 19 stan sekolah mitra yang menampilkan berbagai hasil karya mahasiswa bersama peserta didik. Pengunjung dapat melihat secara langsung media pembelajaran inovatif, proyek kolaboratif siswa, hingga dokumentasi kegiatan mahasiswa selama menjalankan program di sekolah.Sementara itu, Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Kerja Sama, dan Sistem Informasi UNG, Dr. Harto Malik, M.Hum., mengapresiasi sinergi yang telah terbangun antara Universitas Negeri Gorontalo, Pemerintah Kabupaten Gorontalo, serta sekolah-sekolah mitra dalam menyukseskan Program UNG Mengajar.Ia berharap berbagai produk yang dihasilkan mahasiswa tidak berhenti sebagai hasil pameran semata, tetapi dapat dimanfaatkan dan dikembangkan secara berkelanjutan oleh sekolah sebagai bagian dari upaya meningkatkan kualitas proses belajar mengajar.“Diharapkan inovasi yang telah dihasilkan mahasiswa dapat terus digunakan dan disempurnakan oleh sekolah. Kolaborasi antara perguruan tinggi dan sekolah seperti ini menjadi langkah strategis dalam mendorong peningkatan mutu pendidikan di daerah," ungkap Harto.Apresiasi juga disampaikan Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Gorontalo, Dr. Abd. Waris, S.Pd., M.Pd. Menurutnya, kehadiran mahasiswa UNG Mengajar telah memberikan kontribusi positif bagi sekolah, terutama dalam menghadirkan inovasi pembelajaran yang mampu meningkatkan kreativitas guru dan peserta didik.“Semoga kerja sama antara Pemerintah Kabupaten Gorontalo dan UNG dapat terus berlanjut, sehingga semakin banyak sekolah yang merasakan manfaat dari program tersebut,” harapnya.Melalui Pameran Produk UNG Mengajar Batch 9, Universitas Negeri Gorontalo kembali menegaskan komitmennya dalam menghadirkan inovasi pendidikan yang berdampak langsung bagi sekolah dan masyarakat. Program ini tidak hanya menjadi ruang pembelajaran bagi mahasiswa, tetapi juga menjadi wujud nyata kontribusi perguruan tinggi dalam memperkuat kualitas pendidikan melalui kolaborasi, kreativitas, dan pengabdian. (**)

Lihat Semua Berita