Site Logo

Pertumbuhan Ekonomi Melesat Menuju Proses Crowding Out

Siaran PersUmum
Abdul Wahid Rauf
15 May 2026
08:53 WITA
136 dilihat
Pertumbuhan Ekonomi Melesat Menuju Proses Crowding Out

Capaian pertumbuhan ekonomi pada Quartal I tahun 2026 secara nasional dan regional patut diberikan apresiasi, bukan tanpa alasan karena di tengah tekanan geopolitik dan ketidakpastian ekonomi global, serta tekanan fiskal, ekonomi masih dapat tumbuh impresif. Secara nasional pertumbuhan ekonomi sebesar 5,61 persen, menjadikan salah satu yang tertinggi di kawasan Asia. Bahkan Indonesia memimpin pertumbuhan ekonomi di antara negara-negara G20 melampaui raksasa ekonomi dunia seperti Tiongkok, Amerika Serikat, dan Arab Saudi, namun masih lebih rendah dari India. Sementara di tingkat regional, pertumbuhan ekonomi Gorontalo mencapai 7,68 persen secara tahunan (year-on-year). Angka ini merupakan yang tertinggi dalam lima tahun terakhir dan menempatkan Gorontalo di posisi keempat tertinggi secara nasional.

Capaian pertumbuhan ekonomi pada Quartal I yang melesat tidak terlepas dari momentum hari raya idul fitri, dan penyaluran THR, menyebabkan pengeluaran konsumsi rumah tangga meningkat, serta percepatan realisasi belanja pemerintah. Meningkatnya konsumsi rumah tangga memberi multiplier effect terhadap pertumbuhan lapangan usaha akomodasi, makanan dan minuman sebesar 13,14 persen, kemudian disusul oleh sektor transportasi dan pergudangan sebesar 8,04 persen karena dorongan aktifitas mudik. Sektor lain yang menopang pertumbuhan ekonomi adalah jasa-jasa lainnya sebesar 9,91 persen, jasa-jasa lain dimaksud disini kategori yang mencakup berbagai kegiatan layanan perorangan, sosial, dan hiburan. Artinya sektor yang mengalami pertumbuhan cukup tinggi tidak beranjak jauh dari sumbanga komponen konsumsi rumah tangga (masyarakat) sehingga terjadi pertumbuhan tinggi pada awal tahun, yang lebih banyak ditopang oleh faktor kegiatan sementara. Sektor informasi dan telekomunikasi turut berperan meningkatkan laju pertumbuhan ekonomi, dimana sektor ini tumbuh sebesar 7,14 persen, tingginya capaian laju pertumbuhan sektor ini tidak terlepas dari kebijakan pelaksanaan Work from Anywhere (WFA).

Bagaimana dengan sektor produktif? Misalnya sektor industri pengolahan. Lapangan usaha ini memang mengalami pertumbuhan positif (5,04 %), sub sektor yang menjadi penggerak utama adalah industri mesin dan perlengkapan. Secara kumulatif trend pertumbuhan sektor industri pengolahan cukup baik, walaupun patut kiranya saya memberi catatan, tidak lain karena sektor manufaktur penanda ekonomi suatu negara mengalami pergeseran struktur ekonomi, sekaligus menggeser komposisi tenaga kerja dari sektor non produktif dibanding di kuar sektor industri. Catatan saya ihwal capaian pertumbuhan sektor industri tidak didukung oleh laju pertumbuhan sektor yang terkait langsung, seperti sektor listrik dan gas. Sektor utilitas ini justru mengalami pertumbuhan negatif secara y-o-y sebesar -0,99 persen dan lebih dalam lagi secara qartal to quartal (-5,23 %). Padahal sejatinya kedua sektor tersebut memiliki korelasional positif, bilamana sektor industri tumbuh positif maka sektor utilitas mengalami kenaikan.

Hal inipun disoroti oleh Lembaga Penyeledikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI), dalam kajian mereka menemukan adanya inkonsistensi internal dalam data produksi BPS. Sehingga kondisi ini sulit dijelaskan secara logis karena industri manufaktur merupakan pengguna listrik terbesar di Indonesia. Jika pasokan listrik mengalami kontraksi, maka pertumbuhan manufaktur tersebut sulit dibenarkan secara fisik. Kritik dari LPEM FEB UI valid secara akademik, sebab dalam statistik makro ekonomi penting melihat konsistensi lintas sektor dan lintas indikator. Walaupun demikian patut kita cermati, agar tidak terlalu cepat menyimpulkan bahwa ada faktor kesengajaan (berbohong dengan statistik). Dalam pandangan kolega saya (Prof. Bambamg Juanda), ahli statistik IPB University lewat diskusi WAG Forum Ekonom Kementerian Keuangan, menilai bahwa setidaknya ada beberapa kemungkinan yang perlu dilihat, misalnya, adanya efisiensi penggunaan energi terutama dari pengguna sektor pemerintah dan utilitas rumah tangga, serta pertumbuhan sektor industri lebih besar di drive oleh subsektor minim energy-insentive.

Ini baru kemungkinan, namun poin penting kritikan dari LPEM FEB UI pada persoalan perlunya menjaga kredibilitas data statistik, sebab ada indikator lainpun menunjukkan ekonomi sedang melambat, alhasil terjadi anomali. Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) mencatat 8.389 pekerja terkena Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) pada kuartal pertama, gelombang PHK masih sangat mendominasi sektor padat karya serta industri manufaktur. Anomali lainnya adalah penurunan konsumsi kelas menengah pada kuartal pertama, ini merupakan tren yang disebabkan oleh meningkatnya biaya hidup (seperti inflasi pangan dan energi) yang tidak diimbangi dengan kenaikan pendapatan riil. Alhasil, kelompok ini terpaksa menahan belanja atau menggunakan tabungan untuk kebutuhan pokok demi mempertahankan kelangsungan hidup. Persoalan pokok lainnya yang patut diperbincangkan bukan seberapa besar pertumbuhan ekonomi secara statistik, namun bagaimana pemerintah menjadi katalisator agar pertumbuhan ekonomi tidak hanya menciptakan -growth without gain-, ekonomi tumbuh namun transmisi ke kesejahteraan masih melemah.

Capaian pertumbuhan tinggi tidak selamanya mencerminkan realitas, dan sebaliknya pertumbuhan yang rendah tidak selalu buruk. Terhadap perbandingan ekonomi Tiongkok misalnya, pada Quartal I tahun 2026 pertumbuhan ekonomi negeri tirai bambu ini hanya tumbuh sebesar 5,0 persen, ditopang oleh kierja ekspor yang kuat dan melonjaknya output sektor manufaktur. Sementara pertumbuhan ekonomi Indonesia kendatipun lebih tinggi, namun masih sangat rapuh karena lebih banyak ditopang oleh faktor musiman. Belum lagi akan menghadapi tekanan serius akibat utang jatuh tempo tertinggi yang mencapai Rp. 833,96 triliun dan defisit APBN mencapai Rp240,1 triliun (0,93% PDB). Posisi utang pemerintah saat ini mendekati Rp. 10.000 triliun, menciptakan beban likuiditas tinggi, efeknya terhadap kemampuan belanja pemerintah untuk sektor produktif yang dapat menciptakan pertumbuhan berkualitas terbatas. Sementara pembentukan modal dari sektor swasta masih lemah, pelemahan kinerja sektor swasta pada awal tahun tercermin dari terbatasnya serapan tenaga kerja, tertahannya laju investasi, serta peningkatan biaya input yang menekan margin keuntungan perusahaan.

Melihat fenomena seperti itu mencerminkan proses terjadinya "crowding out", sekalipun belum bersifat mutlak, namun menjadi risiko yang patut untuk diwaspadai dalam perekonomian Indonesia saat ini. Hal ini terjadi karena tingginya kebutuhan pembiayaan fiskal pemerintah untuk program strategis bersaing dengan ketersediaan modal bagi sektor swasta di pasar keuangan, termasuk upaya menutupi defisit fiskal dengan menarik utang baru di pasar keuangan yang dapat mengerek suku bunga. Eskalasi konflik di Timur Tengah serta ketidakpastian ekonomi global, ditambah dengan tekanan fiskal yang kian berat, kebijakan efisiensi sejatinya berlaku pada semua level dan aspek, sehingga mencerminakn konsistensi kebijakan untuk memperkuat kepercayaan pasar. Selain itu perlunya perbaikan government spending, karena ini sangat krusial untuk mencegah pemborosan dan memastikan dana publik benar-benar mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif. Langkah utama mencakup efisiensi belanja nonprioritas, perbaikan tata kelola birokrasi bagi pengelola anggaran jumbo, dan alokasi yang berfokus pada infrastruktur serta program perlindungan sosial yang tepat sasaran.

Mencermati kondisi perekonomian global, pada Quartal II 2026, perekonomian domestik menghadapi tantangan meliputi gejolak geopolitik global, tekanan inflasi akibat gangguan rantai pasok, volatilitas nilai tukar mata uang lokal yang bertahan pada angka di atas Rp. 17.000, dan suku bunga global yang tinggi. Di luar itu, komponen investasi diharapkan menjadi prime mover pertumbuhan ekonomi sampai akhir tahun tercermin belum menggembirakan, bahkan terjadi perlambatan investasi asing. Ketidakpastian global menahan laju aliran investasi, sehingga pemerintah perlu merumuskan terobosan baru agar pertumbuhan tidak hanya bertumpu pada konsumsi domestik, serta sebatas mengejar pertumbuhan tinggi tapi bersifat Growth without Inclusion/Development. (Artikel ditulis oleh Prof. Dr. Muh. Amier Arham, M.E.)

Ikuti berita lainnya

Jelang Akhir Tahun, Kepala BKKU UNG Ingatkan Tendik Tuntaskan Target Kinerja
02 Nov 2026
00:45 WITA

Jelang Akhir Tahun, Kepala BKKU UNG Ingatkan Tendik Tuntaskan Target Kinerja

Abdul Wahid Rauf

GORONTALO – Menjelang berakhirnya tahun kerja 2026, Universitas Negeri Gorontalo (UNG) terus mendorong optimalisasi kinerja seluruh tenaga kependidikan (tendik) dalam menuntaskan berbagai program dan tanggung jawab di masing-masing unit kerja.Kepala Biro Keuangan, Kerja Sama, dan Umum (BKKU) UNG, Arief Rachman Hakim Abdul, S.Pd., M.Pd., mengingatkan jajaran tendik, untuk semakin meningkatkan produktivitas dan memastikan seluruh pekerjaan dapat diselesaikan tepat waktu.Menurut Arief, penghujung tahun menjadi momentum penting bagi seluruh pegawai untuk mengevaluasi capaian pekerjaan, sekaligus mempercepat penyelesaian berbagai agenda yang masih berjalan. Hal ini diperlukan agar seluruh program kerja yang telah direncanakan dapat dituntaskan sesuai target dan ketentuan yang berlaku.“Peningkatan kinerja tidak hanya berkaitan dengan kecepatan menyelesaikan pekerjaan, tetapi juga kualitas pelaksanaan tugas, kedisiplinan, serta tanggung jawab setiap pegawai dalam mendukung kelancaran penyelenggaraan layanan universitas,” ujar Arief.Untuk mewujudkan hal tersebut, Arief mengimbau seluruh tendik agar terus memperkuat koordinasi dan komunikasi dengan berbagai pihak, baik di lingkungan unit kerja masing-masing maupun antar unit di tingkat universitas.“Koordinasi yang efektif menjadi kunci dalam mengatasi berbagai kendala pekerjaan, menyelaraskan pelaksanaan program, serta memastikan setiap tugas dapat diselesaikan secara optimal tanpa mengabaikan prosedur dan ketentuan yang berlaku,” terangnya.Arief juga mengingatkan agar seluruh pegawai tetap menjaga semangat kerja, serta tidak menunda penyelesaian tugas yang menjadi tanggung jawabnya. Dengan waktu kerja yang semakin mendekati akhir tahun, setiap unit diharapkan mampu mengoptimalkan pelaksanaan program melalui kerja sama dan pembagian tugas yang terarah.Melalui penguatan kinerja dan sinergi antarseluruh tenaga kependidikan, Arief berharap berbagai program kerja tahun 2026 dapat diselesaikan dengan hasil yang maksimal. Langkah ini sekaligus menjadi fondasi untuk mendukung peningkatan kualitas layanan dan pelaksanaan program universitas pada tahun berikutnya. (**)

Perkuat Kiprah Internasional, Akademisi UNG Ikuti Simposium Perikanan Berkelanjutan dan Blue Transformation di Tiongkok
02 Nov 2026
00:34 WITA

Perkuat Kiprah Internasional, Akademisi UNG Ikuti Simposium Perikanan Berkelanjutan dan Blue Transformation di Tiongkok

Abdul Wahid Rauf

GORONTALO – Kiprah akademisi Universitas Negeri Gorontalo (UNG) di kancah internasional terus menunjukkan perkembangan positif. Kali ini, dosen Fakultas Kelautan dan Teknologi Perikanan (FKTP), Dr. Arfiani Rizki Paramata, S.Pi., M.Si., turut ambil bagian dalam International Symposium on Sustainable Fisheries and Aquaculture and Blue Transformation yang berlangsung dalam rangkaian China Fisheries and Seafood Expo 2026 di Qingdao, Tiongkok.Kegiatan internasional yang berlangsung pada 28–30 Oktober 2026 di Qingdao Hongdao International Convention and Exhibition Center tersebut menjadi ajang pertemuan akademisi, peneliti, praktisi, serta pelaku industri perikanan dari berbagai negara untuk membahas inovasi dan masa depan sektor perikanan dan akuakultur yang berkelanjutan.Keikutsertaan Arfiani dalam forum internasional tersebut menjadi langkah penting dalam memperluas wawasan keilmuan sekaligus memperkuat jejaring akademik global, khususnya dalam menghadapi tantangan pengelolaan sumber daya kelautan dan perikanan.Salah satu isu utama yang menjadi perhatian dalam simposium tersebut adalah konsep Blue Transformation atau transformasi biru, sebuah pendekatan yang mendorong pengembangan sektor perikanan dan akuakultur melalui inovasi teknologi, peningkatan produktivitas, ketahanan pangan, serta pengelolaan sumber daya perairan yang tetap memperhatikan kelestarian lingkungan.Menurut Arfiani, transformasi biru menjadi salah satu pendekatan penting dalam menjawab tantangan pembangunan perikanan global. Konsep tersebut menekankan bahwa peningkatan produksi hasil perikanan perlu berjalan beriringan dengan perlindungan ekosistem serta pemanfaatan sumber daya secara bertanggung jawab.“Melalui pendekatan ini, sektor perikanan diharapkan tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan pangan masyarakat, tetapi juga membuka peluang ekonomi yang lebih luas, meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir, dan mendukung keberlanjutan sumber daya perairan bagi generasi mendatang,” ujarnya.Selain mengikuti simposium, kehadiran Arfiani dalam rangkaian China Fisheries and Seafood Expo juga memberikan kesempatan untuk mengenal berbagai perkembangan industri perikanan dunia. Mulai dari inovasi teknologi budidaya, pengolahan hasil perikanan, pengemasan produk, pengendalian mutu, hingga perkembangan perdagangan produk perikanan di pasar internasional.Berbagai pengetahuan dan pengalaman yang diperoleh dari forum tersebut, diharapkan dapat memberikan kontribusi terhadap pengembangan pendidikan dan penelitian di lingkungan FKTP UNG. Khususnya dalam memperkaya pembelajaran mahasiswa, mendorong inovasi penelitian, serta memperluas perspektif akademik mengenai pengelolaan potensi kelautan dan perikanan yang berkelanjutan.“Partisipasi dalam forum internasional ini juga menjadi peluang bagi akademisi UNG untuk membangun komunikasi, dan membuka kesempatan kolaborasi dengan akademisi maupun praktisi dari berbagai negara,” terangnya.Melalui keikutsertaan dosen pada forum ilmiah berskala internasional, Universitas Negeri Gorontalo terus menunjukkan komitmennya dalam mendorong peningkatan kapasitas dan daya saing akademisi, sekaligus memperkuat kontribusi perguruan tinggi terhadap pengembangan ilmu pengetahuan.Kehadiran Arfiani di Tiongkok diharapkan menjadi salah satu langkah dalam memperluas peran FKTP UNG sebagai institusi pendidikan tinggi yang aktif mendukung inovasi, keberlanjutan lingkungan, dan transformasi sektor kelautan dan perikanan di tingkat nasional maupun global.

Tingkatkan Partisipasi Alumni dalam Tracer Study, UNG Perkuat Kemampuan Komunikasi Pegawai
30 Oct 2026
01:47 WITA

Tingkatkan Partisipasi Alumni dalam Tracer Study, UNG Perkuat Kemampuan Komunikasi Pegawai

Abdul Wahid Rauf

GORONTALO – Universitas Negeri Gorontalo (UNG) terus memperkuat upaya penelusuran jejak lulusan melalui peningkatan kompetensi pegawai. Salah satu langkah yang dilakukan yakni menggelar pelatihan public speaking dan komunikasi persuasif bagi pegawai di lingkungan UNG, yang diselenggarakan oleh Biro Akademik, Kemahasiswaan, dan Perencanaan (BAKP), Kamis (29/10).Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya strategis universitas dalam mengoptimalkan pelaksanaan Tracer Study, khususnya untuk meningkatkan partisipasi alumni dalam memberikan informasi mengenai perkembangan karier dan pengalaman mereka setelah menyelesaikan pendidikan di UNG.Perwakilan BAKP UNG, Rahmat Doda, S.T., menuturkan bahwa, kemampuan komunikasi menjadi salah satu faktor penting dalam keberhasilan penelusuran alumni. Melalui pendekatan komunikasi yang tepat, pegawai diharapkan mampu membangun interaksi yang baik, sekaligus mengajak alumni untuk berpartisipasi aktif dalam pengisian Tracer Study.Menurutnya, komunikasi yang efektif tidak hanya berorientasi pada penyampaian informasi, tetapi juga bagaimana membangun pemahaman dan kesadaran alumni, mengenai pentingnya kontribusi mereka dalam mendukung pengembangan kualitas pendidikan di almamater.“Tracer Study menjadi instrumen penting bagi universitas untuk mengetahui kondisi lulusan setelah memasuki dunia kerja, sekaligus memperoleh gambaran mengenai kesesuaian kompetensi yang diperoleh selama kuliah dengan kebutuhan dunia kerja,” ungkap Rahmat.Melalui pelatihan public speaking dan komunikasi persuasif, pegawai dibekali kemampuan untuk menyampaikan informasi secara jelas, menarik, dan meyakinkan. Keterampilan tersebut diharapkan dapat mendukung proses komunikasi dengan alumni, sehingga ajakan untuk berpartisipasi dalam survei dapat diterima dan direspons dengan lebih baik.“Langkah ini menjadi bagian dari komitmen UNG dalam memperkuat pengelolaan data alumni, meningkatkan kualitas layanan akademik, serta mendukung pengambilan kebijakan berbasis data demi terwujudnya pendidikan tinggi yang unggul dan berdaya saing,” terangnya.Pelaksanaan Tracer Study sendiri memiliki peran penting dalam pengembangan mutu perguruan tinggi. Informasi yang dikumpulkan tidak hanya mencakup status pekerjaan lulusan, tetapi juga masa transisi menuju dunia kerja, relevansi bidang pekerjaan dengan pendidikan yang ditempuh, serta masukan alumni terhadap proses pembelajaran selama berada di kampus.Melalui kegiatan ini, BAKP UNG berharap peningkatan keterampilan komunikasi pegawai dapat memberikan dampak positif terhadap efektivitas penelusuran alumni, khususnya dalam meningkatkan jumlah lulusan yang berpartisipasi dan kualitas data Tracer Study yang berhasil dihimpun. (**)

Akademisi Fakultas Sastra dan Budaya UNG Raih Penghargaan pada Konferensi Internasional Kesusastraan
29 Oct 2026
02:00 WITA

Akademisi Fakultas Sastra dan Budaya UNG Raih Penghargaan pada Konferensi Internasional Kesusastraan

Abdul Wahid Rauf

GORONTALO – Pencapaian akademik membanggakan, berhasil ditorehkan akademisi Universitas Negeri Gorontalo (UNG) di tingkat internasional. Dosen Fakultas Sastra dan Budaya (FSB), Jafar Lantowa, S.Pd., M.A., berhasil meraih penghargaan sebagai Pemakalah Favorit dan Presenter Terbaik, pada Konferensi Internasional Kesusastraan (KIK) ke-35 yang diselenggarakan di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), 26–27 Oktober 2026.Penghargaan yang diumumkan pada penutupan konferensi tersebut menjadi capaian membanggakan bagi UNG, sekaligus menunjukkan kualitas dan kontribusi akademisi kampus dalam pengembangan kajian sastra di forum ilmiah internasional.Keberhasilan tersebut diraih Jafar melalui presentasi karya ilmiah berjudul “Constructing Images of Indonesia and France in Leila S. Chudori’s Home”, yang mengkaji bagaimana citra Indonesia dan Prancis dikonstruksi melalui pengalaman tokoh-tokoh dalam novel Home, versi bahasa Inggris dari novel Pulang karya Leila S. Chudori.Dalam penelitiannya, Jafar yang saat ini tengah menempuh pendidikan doktoral pada Program Studi Ilmu-Ilmu Humaniora Universitas Gadjah Mada (UGM) dengan konsentrasi Sastra Indonesia, mengangkat persoalan identitas kebangsaan, pengasingan politik, serta ingatan budaya yang tergambar dalam karya sastra.“Melalui pendekatan imagologi Joep Leerssen, penelitian ini mengungkap bagaimana Indonesia dan Prancis direpresentasikan secara berbeda berdasarkan pengalaman dan sudut pandang para tokoh dalam novel,” ujarnya.Hasil kajian menunjukkan bahwa Indonesia digambarkan sebagai tanah air yang tetap hidup dalam ingatan dan kecintaan para eksil politik, meskipun pada saat bersamaan menjadi negara yang membatasi kepulangan mereka. Sementara itu, Prancis hadir sebagai tempat perlindungan dan ruang kebebasan berekspresi, namun tidak sepenuhnya mampu menggantikan ikatan emosional terhadap tanah air.Menariknya, penelitian Jafar juga menyoroti perbedaan cara pandang antargenerasi melalui tokoh Dimas dan Lintang. Dimas memandang Indonesia sebagai tanah air yang tidak pernah hilang dari ingatannya meskipun harus menjalani kehidupan dalam pengasingan. Sebaliknya, Lintang yang tumbuh besar di Prancis membangun pemahamannya tentang Indonesia melalui cerita keluarga, warisan budaya, dan pengalaman ketika mengunjungi Jakarta.“Temuan tersebut memperlihatkan bahwa identitas kebangsaan tidak semata-mata ditentukan oleh tempat kelahiran maupun tempat tinggal seseorang, tetapi juga dibentuk oleh pengalaman sejarah, ingatan kolektif, serta interaksi dengan kebudayaan lain,” jelas Jafar.Melalui kajian tersebut, Jafar menunjukkan bahwa karya sastra memiliki peran penting dalam merepresentasikan sejarah, membangun pemahaman lintas budaya, serta memperkenalkan pengalaman bangsa Indonesia kepada masyarakat dunia.Konferensi Internasional Kesusastraan ke-35 sendiri mengusung tema “Dinamika Sastra Bandingan: Sastra Indonesia sebagai Warga Sastra Dunia”. Forum ilmiah ini diselenggarakan oleh Himpunan Sarjana-Kesusastraan Indonesia (HISKI) bekerja sama dengan Fakultas Bahasa, Seni, dan Budaya Universitas Negeri Yogyakarta. (**)

Lihat Semua Berita