Site Logo

Pertumbuhan Ekonomi Melesat Menuju Proses Crowding Out

Siaran PersUmum
Abdul Wahid Rauf
15 May 2026
08:53 WITA
10 dilihat
Pertumbuhan Ekonomi Melesat Menuju Proses Crowding Out

Capaian pertumbuhan ekonomi pada Quartal I tahun 2026 secara nasional dan regional patut diberikan apresiasi, bukan tanpa alasan karena di tengah tekanan geopolitik dan ketidakpastian ekonomi global, serta tekanan fiskal, ekonomi masih dapat tumbuh impresif. Secara nasional pertumbuhan ekonomi sebesar 5,61 persen, menjadikan salah satu yang tertinggi di kawasan Asia. Bahkan Indonesia memimpin pertumbuhan ekonomi di antara negara-negara G20 melampaui raksasa ekonomi dunia seperti Tiongkok, Amerika Serikat, dan Arab Saudi, namun masih lebih rendah dari India. Sementara di tingkat regional, pertumbuhan ekonomi Gorontalo mencapai 7,68 persen secara tahunan (year-on-year). Angka ini merupakan yang tertinggi dalam lima tahun terakhir dan menempatkan Gorontalo di posisi keempat tertinggi secara nasional.

Capaian pertumbuhan ekonomi pada Quartal I yang melesat tidak terlepas dari momentum hari raya idul fitri, dan penyaluran THR, menyebabkan pengeluaran konsumsi rumah tangga meningkat, serta percepatan realisasi belanja pemerintah. Meningkatnya konsumsi rumah tangga memberi multiplier effect terhadap pertumbuhan lapangan usaha akomodasi, makanan dan minuman sebesar 13,14 persen, kemudian disusul oleh sektor transportasi dan pergudangan sebesar 8,04 persen karena dorongan aktifitas mudik. Sektor lain yang menopang pertumbuhan ekonomi adalah jasa-jasa lainnya sebesar 9,91 persen, jasa-jasa lain dimaksud disini kategori yang mencakup berbagai kegiatan layanan perorangan, sosial, dan hiburan. Artinya sektor yang mengalami pertumbuhan cukup tinggi tidak beranjak jauh dari sumbanga komponen konsumsi rumah tangga (masyarakat) sehingga terjadi pertumbuhan tinggi pada awal tahun, yang lebih banyak ditopang oleh faktor kegiatan sementara. Sektor informasi dan telekomunikasi turut berperan meningkatkan laju pertumbuhan ekonomi, dimana sektor ini tumbuh sebesar 7,14 persen, tingginya capaian laju pertumbuhan sektor ini tidak terlepas dari kebijakan pelaksanaan Work from Anywhere (WFA).

Bagaimana dengan sektor produktif? Misalnya sektor industri pengolahan. Lapangan usaha ini memang mengalami pertumbuhan positif (5,04 %), sub sektor yang menjadi penggerak utama adalah industri mesin dan perlengkapan. Secara kumulatif trend pertumbuhan sektor industri pengolahan cukup baik, walaupun patut kiranya saya memberi catatan, tidak lain karena sektor manufaktur penanda ekonomi suatu negara mengalami pergeseran struktur ekonomi, sekaligus menggeser komposisi tenaga kerja dari sektor non produktif dibanding di kuar sektor industri. Catatan saya ihwal capaian pertumbuhan sektor industri tidak didukung oleh laju pertumbuhan sektor yang terkait langsung, seperti sektor listrik dan gas. Sektor utilitas ini justru mengalami pertumbuhan negatif secara y-o-y sebesar -0,99 persen dan lebih dalam lagi secara qartal to quartal (-5,23 %). Padahal sejatinya kedua sektor tersebut memiliki korelasional positif, bilamana sektor industri tumbuh positif maka sektor utilitas mengalami kenaikan.

Hal inipun disoroti oleh Lembaga Penyeledikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI), dalam kajian mereka menemukan adanya inkonsistensi internal dalam data produksi BPS. Sehingga kondisi ini sulit dijelaskan secara logis karena industri manufaktur merupakan pengguna listrik terbesar di Indonesia. Jika pasokan listrik mengalami kontraksi, maka pertumbuhan manufaktur tersebut sulit dibenarkan secara fisik. Kritik dari LPEM FEB UI valid secara akademik, sebab dalam statistik makro ekonomi penting melihat konsistensi lintas sektor dan lintas indikator. Walaupun demikian patut kita cermati, agar tidak terlalu cepat menyimpulkan bahwa ada faktor kesengajaan (berbohong dengan statistik). Dalam pandangan kolega saya (Prof. Bambamg Juanda), ahli statistik IPB University lewat diskusi WAG Forum Ekonom Kementerian Keuangan, menilai bahwa setidaknya ada beberapa kemungkinan yang perlu dilihat, misalnya, adanya efisiensi penggunaan energi terutama dari pengguna sektor pemerintah dan utilitas rumah tangga, serta pertumbuhan sektor industri lebih besar di drive oleh subsektor minim energy-insentive.

Ini baru kemungkinan, namun poin penting kritikan dari LPEM FEB UI pada persoalan perlunya menjaga kredibilitas data statistik, sebab ada indikator lainpun menunjukkan ekonomi sedang melambat, alhasil terjadi anomali. Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) mencatat 8.389 pekerja terkena Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) pada kuartal pertama, gelombang PHK masih sangat mendominasi sektor padat karya serta industri manufaktur. Anomali lainnya adalah penurunan konsumsi kelas menengah pada kuartal pertama, ini merupakan tren yang disebabkan oleh meningkatnya biaya hidup (seperti inflasi pangan dan energi) yang tidak diimbangi dengan kenaikan pendapatan riil. Alhasil, kelompok ini terpaksa menahan belanja atau menggunakan tabungan untuk kebutuhan pokok demi mempertahankan kelangsungan hidup. Persoalan pokok lainnya yang patut diperbincangkan bukan seberapa besar pertumbuhan ekonomi secara statistik, namun bagaimana pemerintah menjadi katalisator agar pertumbuhan ekonomi tidak hanya menciptakan -growth without gain-, ekonomi tumbuh namun transmisi ke kesejahteraan masih melemah.

Capaian pertumbuhan tinggi tidak selamanya mencerminkan realitas, dan sebaliknya pertumbuhan yang rendah tidak selalu buruk. Terhadap perbandingan ekonomi Tiongkok misalnya, pada Quartal I tahun 2026 pertumbuhan ekonomi negeri tirai bambu ini hanya tumbuh sebesar 5,0 persen, ditopang oleh kierja ekspor yang kuat dan melonjaknya output sektor manufaktur. Sementara pertumbuhan ekonomi Indonesia kendatipun lebih tinggi, namun masih sangat rapuh karena lebih banyak ditopang oleh faktor musiman. Belum lagi akan menghadapi tekanan serius akibat utang jatuh tempo tertinggi yang mencapai Rp. 833,96 triliun dan defisit APBN mencapai Rp240,1 triliun (0,93% PDB). Posisi utang pemerintah saat ini mendekati Rp. 10.000 triliun, menciptakan beban likuiditas tinggi, efeknya terhadap kemampuan belanja pemerintah untuk sektor produktif yang dapat menciptakan pertumbuhan berkualitas terbatas. Sementara pembentukan modal dari sektor swasta masih lemah, pelemahan kinerja sektor swasta pada awal tahun tercermin dari terbatasnya serapan tenaga kerja, tertahannya laju investasi, serta peningkatan biaya input yang menekan margin keuntungan perusahaan.

Melihat fenomena seperti itu mencerminkan proses terjadinya "crowding out", sekalipun belum bersifat mutlak, namun menjadi risiko yang patut untuk diwaspadai dalam perekonomian Indonesia saat ini. Hal ini terjadi karena tingginya kebutuhan pembiayaan fiskal pemerintah untuk program strategis bersaing dengan ketersediaan modal bagi sektor swasta di pasar keuangan, termasuk upaya menutupi defisit fiskal dengan menarik utang baru di pasar keuangan yang dapat mengerek suku bunga. Eskalasi konflik di Timur Tengah serta ketidakpastian ekonomi global, ditambah dengan tekanan fiskal yang kian berat, kebijakan efisiensi sejatinya berlaku pada semua level dan aspek, sehingga mencerminakn konsistensi kebijakan untuk memperkuat kepercayaan pasar. Selain itu perlunya perbaikan government spending, karena ini sangat krusial untuk mencegah pemborosan dan memastikan dana publik benar-benar mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif. Langkah utama mencakup efisiensi belanja nonprioritas, perbaikan tata kelola birokrasi bagi pengelola anggaran jumbo, dan alokasi yang berfokus pada infrastruktur serta program perlindungan sosial yang tepat sasaran.

Mencermati kondisi perekonomian global, pada Quartal II 2026, perekonomian domestik menghadapi tantangan meliputi gejolak geopolitik global, tekanan inflasi akibat gangguan rantai pasok, volatilitas nilai tukar mata uang lokal yang bertahan pada angka di atas Rp. 17.000, dan suku bunga global yang tinggi. Di luar itu, komponen investasi diharapkan menjadi prime mover pertumbuhan ekonomi sampai akhir tahun tercermin belum menggembirakan, bahkan terjadi perlambatan investasi asing. Ketidakpastian global menahan laju aliran investasi, sehingga pemerintah perlu merumuskan terobosan baru agar pertumbuhan tidak hanya bertumpu pada konsumsi domestik, serta sebatas mengejar pertumbuhan tinggi tapi bersifat Growth without Inclusion/Development. (Artikel ditulis oleh Prof. Dr. Muh. Amier Arham, M.E.)

Ikuti berita lainnya

Rektor UNG Apresiasi Pengukuhan Komisioner KI Pusat 2026–2030, Harapkan Penguatan Keterbukaan Informasi di Era Digital
04 Aug 2026
00:51 WITA

Rektor UNG Apresiasi Pengukuhan Komisioner KI Pusat 2026–2030, Harapkan Penguatan Keterbukaan Informasi di Era Digital

Abdul Wahid Rauf

Menteri Komunikasi dan Digital Republik Indonesia secara resmi mengambil sumpah jabatan sekaligus mengukuhkan tujuh anggota Komisi Informasi (KI) Pusat periode 2026–2030 dalam sebuah prosesi yang berlangsung di Ruang Media Center Kementerian Komunikasi dan Digital RI, Senin (3/8). Pengangkatan tersebut ditetapkan melalui Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 77/P Tahun 2026 tentang Pemberhentian dan Pengangkatan Anggota Komisi Informasi Pusat.Pengukuhan ini menandai dimulainya estafet kepemimpinan baru Komisi Informasi Pusat dalam mengemban amanah untuk memperkuat implementasi keterbukaan informasi publik di Indonesia. Selama lima tahun ke depan, para komisioner akan menjalankan berbagai tugas strategis, mulai dari penyelesaian sengketa informasi publik, penyusunan kebijakan teknis di bidang keterbukaan informasi, hingga memastikan implementasi Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik berjalan optimal di tengah pesatnya transformasi digital.Momentum tersebut mendapat apresiasi dari berbagai kalangan, termasuk Universitas Negeri Gorontalo (UNG), yang selama ini berkomitmen mendukung tata kelola pemerintahan yang transparan, akuntabel, dan berbasis pelayanan publik.Rektor UNG, Prof. Dr. Ir. Eduart Wolok, S.T., M.T., menyampaikan ucapan selamat kepada seluruh anggota Komisi Informasi Pusat periode 2026–2030 atas amanah yang diberikan negara. Menurutnya, kehadiran komisioner baru diharapkan semakin memperkuat budaya keterbukaan informasi, sebagai fondasi penting dalam mewujudkan tata kelola pemerintahan yang baik."Kami mengucapkan selamat kepada seluruh Komisioner Komisi Informasi Pusat periode 2026–2030 yang telah resmi dikukuhkan. Amanah ini memiliki peran yang sangat strategis dalam menjaga hak masyarakat, untuk memperoleh informasi yang terbuka, akurat, dan dapat dipertanggungjawabkan," ujar Eduart.Lebih lanjut, ia berharap kepemimpinan baru KI Pusat dapat terus menghadirkan berbagai inovasi dalam penguatan implementasi keterbukaan informasi publik, terutama di era digital yang menuntut layanan informasi semakin cepat, mudah diakses, dan terpercaya.Dengan kepemimpinan baru Komisi Informasi Pusat, diharapkan sinergi antara pemerintah, lembaga publik, dan perguruan tinggi semakin kuat dalam membangun ekosistem informasi yang terbuka, transparan, dan adaptif terhadap perkembangan teknologi. Langkah tersebut menjadi bagian penting dalam mewujudkan tata kelola publik yang modern sekaligus memperkuat partisipasi masyarakat dalam pembangunan nasional. (**)

74 Mahasiswa Profesi Ners UNG Ikuti PANUM, Awali Langkah Menjadi Perawat Profesional
03 Aug 2026
05:08 WITA

74 Mahasiswa Profesi Ners UNG Ikuti PANUM, Awali Langkah Menjadi Perawat Profesional

Abdul Wahid Rauf

GORONTALO – Fakultas Olahraga dan Kesehatan (FOK) UNG memperkuat kualitas pendidikan profesi keperawatan, melalui pelaksanaan Penerimaan Kepaniteraan Umum (PANUM) bagi mahasiswa Program Studi Pendidikan Profesi Ners Angkatan XXV. Sebanyak 74 mahasiswa resmi memulai tahapan pendidikan profesi melalui kegiatan yang digelar pada Senin (3/8).Kegiatan yang menjadi gerbang awal sebelum mahasiswa memasuki praktik profesi tersebut, dibuka langsung oleh Dekan FOK UNG, Dr. Hartono Hadjarati, S.Pd., M.Pd., AIFO.P., didampingi Wakil Dekan Bidang Akademik FOK UNG, Dr. Nasrun Pakaya, M.Kep.PANUM menjadi momentum penting dalam membentuk kesiapan akademik, etika, dan profesionalisme mahasiswa sebelum terjun ke berbagai wahana praktik klinik, yang akan dilaksanakan selama 3–15 Agustus 2026. Setelah menyelesaikan tahapan tersebut, mahasiswa akan mengikuti Basic Trauma Cardiac Life Support (BTCLS) selama satu minggu sebagai bekal kompetensi dasar kegawatdaruratan sebelum menjalani praktik profesi di rumah sakit dan fasilitas pelayanan kesehatan.Dekan FOK UNG, Dr. Hartono Hadjarati, menegaskan bahwa Kepaniteraan Umum bukan sekadar kegiatan orientasi, tetapi merupakan proses pembentukan karakter profesional bagi calon perawat. Kepaniteraan Umum menjadi langkah awal bagi mahasiswa Profesi Ners untuk memahami tata laksana pendidikan profesi, etika pelayanan, kedisiplinan, serta tanggung jawab sebagai calon tenaga kesehatan.“Mahasiswa harus memiliki kesiapan akademik, mental, dan keterampilan agar mampu memberikan pelayanan keperawatan yang berkualitas," ujarnya.Menurutnya, profesi perawat menuntut kompetensi yang utuh, tidak hanya dalam penguasaan ilmu dan keterampilan klinis, tetapi juga kemampuan berkomunikasi, empati, integritas, serta tanggung jawab terhadap pasien."Melalui PANUM dan BTCLS, kami berharap mahasiswa semakin siap menghadapi pendidikan profesi, serta mampu menunjukkan kualitas terbaik ketika berada di lahan praktik. FOK UNG berkomitmen menghasilkan lulusan Ners yang kompeten, humanis, berintegritas, dan siap menjawab kebutuhan pelayanan kesehatan masyarakat," tambahnya.Sementara itu, Koordinator Program Studi Pendidikan Profesi Ners, Ns. Ibrahim Suleman, S.Kep., M.Kep., menjelaskan bahwa PANUM dirancang sebagai proses transisi mahasiswa dari tahap akademik menuju tahap profesi.Selama dua minggu pelaksanaan, mahasiswa akan memperoleh pembekalan mengenai aturan akademik, tata tertib pendidikan profesi, mekanisme pembimbingan, capaian kompetensi, hingga berbagai aspek teknis yang akan dihadapi selama praktik klinik."PANUM menjadi fondasi penting sebelum mahasiswa memasuki setiap stase profesi. Kami ingin memastikan seluruh mahasiswa memahami sistem pendidikan profesi, memiliki kesiapan akademik dan mental, serta mampu menjalankan praktik keperawatan secara profesional sesuai standar kompetensi," jelas Ibrahim.Melalui penyelenggaraan PANUM, UNG berkomitmen untuk menghasilkan tenaga kesehatan yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki karakter pelayanan yang humanis dan profesional. Dengan pembekalan yang komprehensif sejak awal pendidikan profesi, lulusan Ners UNG diharapkan mampu memberikan kontribusi nyata dalam meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan serta menjawab tantangan dunia kesehatan yang terus berkembang.

PKKMB UNG 2026 Resmi Perkenalkan Logo dan Maskot, Simbol Semangat Kampus Kerakyatan yang Berdampak
31 Jul 2026
08:41 WITA

PKKMB UNG 2026 Resmi Perkenalkan Logo dan Maskot, Simbol Semangat Kampus Kerakyatan yang Berdampak

Abdul Wahid Rauf

Universitas Negeri Gorontalo (UNG) secara resmi memperkenalkan logo dan maskot Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) UNG 2026, sebagai identitas yang akan mewarnai seluruh rangkaian pelaksanaan PKKMB tahun ini. Peluncuran logo dan maskot tersebut menjadi penanda dimulainya semangat baru bagi ribuan mahasiswa baru, yang akan bergabung menjadi bagian dari keluarga besar Universitas Negeri Gorontalo.Mengusung tema "UNG Kampus Kerakyatan, Berdampak untuk Semua", logo dan maskot PKKMB 2026 merepresentasikan komitmen UNG dalam membangun kampus yang inklusif, adaptif, dan mampu menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat melalui pendidikan, penelitian, pengabdian, serta kolaborasi yang berkelanjutan.Pada PKKMB tahun ini, Hulo dan Langi tampil sebagai maskot resmi yang akan menemani seluruh rangkaian kegiatan mahasiswa baru. Keduanya hadir sebagai representasi nilai-nilai keberanian, persatuan, optimisme, dan semangat untuk terus belajar serta berkembang.Hulo dan Langi tidak hanya menjadi karakter visual, tetapi juga membawa pesan bahwa setiap mahasiswa baru memiliki kesempatan yang sama, untuk mengembangkan potensi diri, membangun prestasi, serta memberikan kontribusi positif bagi masyarakat.Melalui kehadiran kedua maskot tersebut, mahasiswa baru diharapkan mampu memulai perjalanan akademik dengan penuh percaya diri, menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan, menghargai keberagaman, serta memiliki kepedulian terhadap lingkungan dan masyarakat.Melalui logo dan maskot PKKMB 2026 ini, UNG kembali menegaskan komitmennya dalam menghadirkan proses pengenalan kehidupan kampus yang edukatif, inspiratif, dan membangun karakter. PKKMB UNG 2026 diharapkan menjadi langkah awal bagi mahasiswa baru untuk mengenal budaya akademik kampus sekaligus mempersiapkan diri menjadi generasi unggul yang siap berkarya, berprestasi, dan memberikan manfaat bagi masyarakat sesuai semangat "UNG Kampus Kerakyatan, Berdampak untuk Semua."

UNG Mengukuhkan Ratusan Lulusan pada Prosesi Wisuda ke-62
31 Jul 2026
00:50 WITA

UNG Mengukuhkan Ratusan Lulusan pada Prosesi Wisuda ke-62

Abdul Wahid Rauf

GORONTALO – Universitas Negeri Gorontalo (UNG) kembali menorehkan langkah penting, dalam mencetak ratusan sumber daya manusia berkualitas melalui pelaksanaan Wisuda ke-62. Sebanyak 700 lulusan dari berbagai program studi resmi dikukuhkan dalam prosesi akademik yang berlangsung khidmat, menandai lahirnya generasi baru yang siap berkarya dan mengabdi bagi masyarakat.Wisudawan yang dikukuhkan berasal dari berbagai jenjang pendidikan, mulai dari program diploma, sarjana, profesi, magister maupun doktor. Prosesi wisuda dipimpin langsung oleh Rektor UNG, Prof. Dr. Ir. Eduart Wolok, S.T., M.T., serta dihadiri jajaran pimpinan universitas, senat akademik, keluarga wisudawan, dan para tamu undangan yang turut menjadi saksi keberhasilan para lulusan menuntaskan perjalanan akademiknya.Suasana haru dan penuh kebanggaan menyelimuti Auditorium UNG ketika satu per satu lulusan dikukuhkan. Tepuk tangan keluarga dan sivitas akademika menjadi bentuk apresiasi atas perjuangan panjang para mahasiswa dalam menyelesaikan pendidikan tinggi di Kampus Kerakyatan.Dalam sambutannya, Rektor UNG, Prof. Dr. Ir. Eduart Wolok, S.T., M.T., menegaskan bahwa wisuda bukanlah garis akhir dari perjalanan, melainkan awal dari babak baru untuk memberikan kontribusi nyata kepada masyarakat."Hari ini bukan akhir dari perjuangan, tetapi awal dari pengabdian. Ilmu yang diperoleh selama di bangku kuliah harus menjadi bekal untuk menghadirkan inovasi, solusi, dan karya nyata bagi masyarakat, daerah, dan bangsa," ujar Rektor.Menurutnya, lulusan UNG harus mampu menjadi insan yang adaptif terhadap perubahan, memiliki integritas, serta mampu bersaing di tengah dinamika global yang terus berkembang. Tantangan masa depan membutuhkan sumber daya manusia yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki karakter kuat, kreativitas, dan kepedulian sosial.Rektor juga mengajak seluruh lulusan untuk terus menjaga nama baik almamater melalui dedikasi dan prestasi di berbagai bidang profesi. Ia meyakini bahwa keberhasilan para alumni akan menjadi cerminan kualitas pendidikan yang dibangun Universitas Negeri Gorontalo."Jadilah agen perubahan di mana pun berada. Bangun karya, ciptakan inovasi, dan berikan manfaat bagi masyarakat sesuai dengan bidang keilmuan yang dimiliki. Itulah makna sesungguhnya dari sebuah pendidikan tinggi," pesannya.Rektor menuturkan momentum wisuda ke-62 menjadi bukti konsistensi UNG dalam menjalankan misinya, sebagai perguruan tinggi yang melahirkan lulusan berdaya saing dan berkarakter. Selain membekali mahasiswa dengan kompetensi akademik dan profesional, UNG juga terus menanamkan nilai-nilai integritas, kepemimpinan, kolaborasi, serta semangat pengabdian yang menjadi fondasi dalam menghadapi tantangan dunia kerja maupun kehidupan bermasyarakat. (**)

Lihat Semua Berita