Penelitian Kolaboratif Ungkap Faktor Dominan Penyebab Situasi Kritis Keselamatan Berkendara Sepeda Motor

Keselamatan berkendara masih menjadi salah satu tantangan utama dalam sistem transportasi di Indonesia. Tingginya penggunaan sepeda motor sebagai moda transportasi harian belum diimbangi dengan menurunnya angka kecelakaan lalu lintas. Untuk memahami penyebab munculnya situasi yang berpotensi mengarah pada kecelakaan, Idham Halid Lahay, dosen Universitas Negeri Gorontalo, turut berkontribusi dalam sebuah riset kolaboratif yang mengkaji karakteristik dan penyebab Safety Critical Events (SCE) atau situasi kritis keselamatan berkendara pada pengendara sepeda motor di enam kota di Indonesia.
Hasil penelitian tersebut dipublikasikan dalam jurnal internasional bereputasi Heliyon Volume 11 Tahun 2025 melalui artikel berjudul Naturalistic Riding Study: Characteristics and Causes of Safety Critical Events in Six Indonesian Cities. Penelitian ini merupakan kolaborasi peneliti dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Universitas Kristen Maranatha, dan Universitas Negeri Gorontalo, sebagai bagian dari upaya menghasilkan dasar ilmiah yang lebih kuat dalam meningkatkan keselamatan transportasi di Indonesia.
Berbeda dengan penelitian keselamatan lalu lintas yang umumnya menganalisis data setelah kecelakaan terjadi, penelitian ini menggunakan pendekatan Naturalistic Driving Study (NDS). Melalui metode ini, aktivitas berkendara diamati secara langsung menggunakan kamera yang dipasang pada sepeda motor sehingga peneliti dapat merekam berbagai situasi kritis yang terjadi secara alami tanpa memengaruhi perilaku pengendara. Pendekatan tersebut memungkinkan identifikasi faktor-faktor yang memicu kecelakaan bahkan sebelum kecelakaan benar-benar terjadi.
Penelitian dilakukan di enam kota di Indonesia dengan karakteristik lalu lintas yang beragam. Dari hasil pengamatan terhadap ratusan perjalanan sepeda motor, tim peneliti menemukan bahwa sebagian besar situasi kritis dipicu oleh faktor manusia, baik yang berasal dari pengendara sepeda motor maupun pengguna jalan lainnya. Pelanggaran lalu lintas, manuver yang tidak aman, serta rendahnya kepatuhan terhadap aturan menjadi penyebab paling dominan munculnya situasi yang berpotensi berujung pada kecelakaan.
Penelitian ini juga menunjukkan bahwa bentuk situasi kritis berbeda pada setiap kota. Di beberapa lokasi, pelanggaran seperti menerobos lampu lalu lintas, berkendara di trotoar, dan tidak menggunakan helm masih sering dijumpai. Sementara itu, di lokasi lain, risiko lebih banyak dipicu oleh perpindahan jalur secara tiba-tiba, manuver menyalip yang tidak aman, maupun konflik dengan kendaraan lain di ruang lalu lintas yang padat. Temuan tersebut menunjukkan bahwa karakteristik lingkungan lalu lintas turut memengaruhi jenis risiko yang dihadapi pengendara.
Analisis lebih lanjut mengungkap bahwa faktor perilaku memiliki pengaruh yang lebih besar dibandingkan kondisi jalan maupun faktor lingkungan. Rendahnya disiplin berlalu lintas dan kurangnya kepatuhan terhadap peraturan menjadi penyebab utama munculnya berbagai Safety Critical Events. Di salah satu lokasi penelitian, lebih dari separuh situasi kritis yang tercatat berkaitan dengan pelanggaran lalu lintas, menegaskan bahwa perubahan perilaku berkendara merupakan aspek penting dalam upaya menekan risiko kecelakaan.
Selain itu, penelitian ini memperlihatkan karakteristik lalu lintas Indonesia yang memiliki kompleksitas tersendiri. Dominasi sepeda motor, tingginya interaksi dengan berbagai jenis kendaraan, serta belum tersedianya jalur khusus sepeda motor di banyak wilayah menyebabkan potensi konflik di jalan menjadi lebih tinggi dibandingkan sistem transportasi yang telah memiliki pemisahan jalur secara memadai. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa peningkatan keselamatan lalu lintas memerlukan pendekatan yang disesuaikan dengan karakteristik lokal.
Berdasarkan hasil penelitian, tim peneliti menekankan bahwa upaya menurunkan angka kecelakaan tidak cukup hanya melalui pembangunan infrastruktur jalan. Peningkatan kualitas pendidikan keselamatan berlalu lintas, penguatan penegakan hukum, penyediaan fasilitas jalan yang lebih aman, serta pemanfaatan teknologi keselamatan menjadi bagian penting dalam menciptakan sistem transportasi yang lebih selamat bagi seluruh pengguna jalan.
Melalui kolaborasi lintas perguruan tinggi, penelitian ini tidak hanya memperkaya kajian ilmiah mengenai perilaku berkendara di Indonesia, tetapi juga menyediakan bukti empiris yang dapat dimanfaatkan sebagai dasar penyusunan kebijakan keselamatan lalu lintas berbasis data.
Hasil penelitian ini memberikan pesan bahwa pencegahan kecelakaan harus dimulai sebelum kecelakaan terjadi, yaitu dengan memahami berbagai situasi kritis yang dialami pengguna jalan dalam aktivitas berkendara sehari-hari. Dengan pendekatan tersebut, strategi peningkatan keselamatan dapat dirancang secara lebih tepat sasaran, sehingga mampu mendukung terwujudnya sistem transportasi yang lebih aman, berkelanjutan, dan berorientasi pada perlindungan seluruh pengguna jalan di Indonesia.





