Peneliti FSB Ungkap Tantangan Penilaian Kompetensi Penerjemah di Era AI

Perkembangan teknologi kecerdasan buatan telah mengubah banyak aspek kehidupan, termasuk dunia penerjemahan. Kini, siapa pun dapat menerjemahkan teks dalam hitungan detik melalui aplikasi berbasis machine translation. Namun, di balik kemudahan tersebut muncul pertanyaan penting: bagaimana cara menilai kemampuan asli seorang penerjemah di era ketika mesin juga mampu menghasilkan terjemahan yang tampak baik?
Pertanyaan inilah yang menjadi perhatian Novriyanto Napu, dosen Universitas Negeri Gorontalo, melalui publikasi ilmiahnya di jurnal internasional Current Issues in Language Planning. Bersama Usman Pakaya, ia meneliti perkembangan model penilaian kompetensi penerjemahan dalam studi berjudul “From Foundational Frameworks to Future Frontiers: Critical Perspectives of Translation Competence Assessment Models and Emerging Challenges.”
Penelitian ini mengkaji berbagai publikasi ilmiah selama satu dekade terakhir untuk melihat bagaimana dunia pendidikan menilai kemampuan penerjemah atau translation competence (TC). Hasilnya menunjukkan bahwa sistem penilaian penerjemahan selama ini masih terlalu berfokus pada produk akhir, yaitu hasil terjemahan yang dianggap benar atau salah.
Padahal, menurut Novriyanto, kemampuan menerjemahkan jauh lebih kompleks daripada sekadar menghasilkan teks dalam bahasa lain. Seorang penerjemah tidak hanya memindahkan kata, tetapi juga melakukan proses berpikir, memahami konteks budaya, memilih strategi bahasa, dan menyelesaikan berbagai persoalan makna yang muncul selama proses penerjemahan.
Karena itu, tren penilaian global mulai bergeser menuju pendekatan yang lebih komprehensif. Penilaian tidak lagi hanya melihat hasil akhir, tetapi juga memperhatikan proses kerja penerjemah. Pendekatan ini melibatkan berbagai instrumen seperti portofolio, refleksi diri, observasi proses penerjemahan, hingga pemanfaatan teknologi digital dalam evaluasi.
Perubahan ini menjadi semakin penting di tengah pesatnya perkembangan teknologi berbasis kecerdasan buatan. Kehadiran machine translation dan AI memang membantu pekerjaan penerjemahan menjadi lebih cepat dan efisien. Namun di sisi lain, teknologi ini juga menimbulkan tantangan baru dalam dunia pendidikan.
Menurut Novriyanto, dosen kini harus mampu membedakan mana hasil kemampuan mahasiswa dan mana yang dihasilkan oleh mesin. Jika sistem evaluasi tidak diperbarui, proses penilaian berisiko kehilangan akurasi dalam mengukur kompetensi nyata mahasiswa.
Selain persoalan teknologi, penelitian ini juga menyoroti adanya kesenjangan antara dunia pendidikan dan kebutuhan industri penerjemahan modern. Banyak program pendidikan penerjemah dinilai belum sepenuhnya memasukkan keterampilan penting seperti manajemen proyek, literasi digital, kemampuan bekerja dengan perangkat penerjemahan, serta adaptasi terhadap teknologi AI.
Padahal, industri penerjemahan global kini menuntut penerjemah yang tidak hanya mahir berbahasa, tetapi juga mampu bekerja dalam ekosistem digital yang terus berkembang. Kompetensi profesional menjadi semakin luas dan multidimensional.
Melalui penelitiannya, Novriyanto menekankan pentingnya pembaruan sistem evaluasi yang lebih holistik, adil, dan relevan dengan perkembangan zaman. Penilaian ideal tidak hanya mengukur hasil akhir terjemahan, tetapi juga menilai bagaimana mahasiswa berpikir, mengambil keputusan, dan memecahkan masalah selama proses penerjemahan berlangsung.
Lebih dari itu, sistem evaluasi juga perlu memberikan umpan balik yang mendalam agar mahasiswa dapat terus berkembang. Dengan pendekatan seperti ini, pendidikan penerjemah tidak hanya menghasilkan lulusan yang mampu menerjemahkan teks dengan baik, tetapi juga profesional yang siap menghadapi tantangan industri global di era digital.
Pada akhirnya, perkembangan AI bukan berarti menghapus peran manusia dalam penerjemahan. Justru di tengah dominasi teknologi, kemampuan berpikir kritis, memahami konteks budaya, dan membuat keputusan bahasa yang tepat menjadi nilai yang semakin penting. Mesin mungkin mampu menerjemahkan kata, tetapi manusia tetap dibutuhkan untuk memahami makna secara utuh.





