Model Akuntansi Manajemen Inklusif Berbasis Motiayo untuk Keberlanjutan Industri Kreatif Upiya Karanji Gorontalo

Upaya memperkuat industri kreatif berbasis kearifan lokal kembali mendapat perhatian serius dari kalangan akademisi. Tim peneliti Universitas Negeri Gorontalo berhasil mengembangkan model akuntansi manajemen inklusif berbasis nilai budaya Motiayo untuk mendukung keberlanjutan industri kreatif Upiya Karanji di Gorontalo.
Penelitian bertajuk “Model Akuntansi Manajemen Inklusif Kosmopolitik Berbasis Motiayo untuk Penguatan Keberlanjutan Industri Kreatif Upiya Karanji di Gorontalo” ini dipimpin oleh Dr. Tri Handayani Amaliah, SE., Ak., M.Si., CA., bersama Dr. Hapsawati Taan, ST., MM. dan Ayu Rakhma Wuryandini, SE., M.SA. Penelitian ini merupakan bagian dari pendanaan DPPM Kemdiktisaintek melalui skema Penelitian Fundamental Reguler (PFR) Tahun 2025.
Upiya Karanji merupakan salah satu produk industri kreatif khas Gorontalo yang memiliki nilai estetika sekaligus potensi ekonomi yang besar. Berdasarkan data daerah, terdapat ratusan unit usaha yang bergerak di sektor ini dengan nilai investasi mencapai ratusan juta rupiah dan kontribusi ekonomi yang terus berkembang. Namun demikian, pengelolaan industri kreatif ini masih menghadapi berbagai tantangan, mulai dari aspek manajerial, keberlanjutan usaha, hingga regenerasi pelaku industri. Kondisi ini menuntut pendekatan baru yang tidak hanya berbasis ekonomi, tetapi juga mengintegrasikan nilai budaya lokal.
Penelitian ini mengangkat nilai budaya Motiayo sebagai fondasi utama dalam membangun sistem akuntansi manajemen yang inklusif. Motiayo mencerminkan nilai kebersamaan, kejujuran, tanggung jawab, dan harmoni dalam kehidupan sosial masyarakat Gorontalo. Dengan mengintegrasikan nilai-nilai tersebut ke dalam praktik manajemen, sistem yang dihasilkan tidak hanya berorientasi pada efisiensi, tetapi juga pada keadilan sosial dan keberlanjutan usaha. Nilai Motiyayo terbukti tidak hanya relevan secara budaya, tetapi juga mampu memperkuat praktik manajerial yang transparan dan berkelanjutan.Salah satu keunggulan penelitian ini terletak pada pendekatan kosmopolitik, yaitu upaya mengintegrasikan nilai-nilai lokal dengan prinsip manajemen modern dalam konteks yang lebih luas. Pendekatan ini memungkinkan sistem akuntansi yang dikembangkan tetap kontekstual terhadap budaya lokal, namun adaptif terhadap dinamika ekonomi global. Dengan demikian, model yang dihasilkan tidak hanya relevan bagi industri lokal, tetapi juga memiliki potensi untuk diadaptasi di berbagai konteks industri kreatif lainnya.
Penelitian ini menggunakan pendekatan mixed methods eksploratoris yang menggabungkan data kualitatif dan kuantitatif. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara mendalam, serta Focus Group Discussion (FGD) dengan pelaku industri, pemerintah daerah, akademisi, dan pemangku kepentingan lainnya. Analisis kuantitatif dilakukan menggunakan metode Structural Equation Modelling (SEM) dengan pendekatan Partial Least Square (PLS), untuk mengidentifikasi hubungan antar variabel yang memengaruhi keberlanjutan industri kreatif.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa integrasi nilai Motiayo dalam sistem akuntansi manajemen memberikan pengaruh signifikan terhadap keberlanjutan industri kreatif Upiya Karanji. Model ini terbukti mampu meningkatkan transparansi dan akuntabilitas pengelolaan usaha, memperkuat kepercayaan dan kohesi sosial antar pelaku industri, mendukung praktik bisnis yang adil dan berkelanjutan, dan memperkuat identitas budaya dalam aktivitas ekonomi. Selain itu, faktor kompetensi pelaku usaha dan dukungan kelembagaan (ekosistem) juga memiliki kontribusi penting dalam keberhasilan implementasi model ini. Analisis menunjukkan bahwa ketiga aspek tersebut saling berkaitan dalam membentuk sistem pengelolaan usaha yang berkelanjutan.
Penelitian ini menghasilkan model akuntansi manajemen inklusif kosmopolitik berbasis Motiayo yang terdefinisi secara konseptual dan empiris. Model ini dirancang sebagai pendekatan adaptif yang menggabungkan nilai lokal dengan prinsip manajemen modern. Dengan pendekatan ini, industri kreatif seperti Upiya Karanji diharapkan mampu berkembang secara berkelanjutan tanpa kehilangan identitas budaya yang menjadi kekuatan utamanya.
Penelitian ini menegaskan bahwa penguatan industri kreatif memerlukan pendekatan yang tidak hanya berorientasi pada aspek ekonomi, tetapi juga pada nilai sosial dan budaya. Integrasi kearifan lokal seperti Motiayo menjadi kunci dalam menciptakan sistem yang inklusif, berkeadilan, dan berkelanjutan. Ke depan, model yang dikembangkan oleh tim UNG ini berpotensi menjadi referensi dalam pengembangan industri kreatif di berbagai daerah, sekaligus memperkuat peran budaya lokal sebagai fondasi pembangunan ekonomi.





