Site Logo

Minat Masyarakat terhadap Pendidikan Vokasi Cukup Tinggi

Kemdikti Saintek
Lenny DJ. Muda
13 Apr 2021
12:43 WITA
1.922 dilihat
Minat Masyarakat terhadap Pendidikan Vokasi Cukup Tinggi

Jakarta, Kemendikbud --- Dunia pendidikan terus mengalami evolusi seiring dengan tuntutan perkembangan zaman. Saat ini, pendidikan di Indonesia telah diarahkan untuk mampu mencetak lulusan yang berkualitas. Sekolah menengah kejuruan (SMK) dan pendidikan tinggi vokasi menjadi pilihan masyarakat untuk melanjutkan pendidikan. Saat ini minat masyarakat terhadap pendidikan vokasi cukup tinggi. Hal tersebut terungkap dari riset bertajuk “Survei Ketertarikan Masyarakat terhadap Pendidikan Vokasi” yang diselenggarakan Kemendikbud bekerja sama dengan MarkPlus, Inc.

Hasil survei menunjukkan, sebanyak 82,05 persen responden tertarik melanjutkan pendidikan ke SMK dan 78,6 persen responden tertarik melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi vokasi. Faktor ketertarikan terbesar terhadap SMK dipengaruhi oleh prospek kerja yang dinilai bagus (57,8 persen) dan pilihan jurusan yang banyak (51,95 persen). Sementara itu, faktor ketertarikan terbesar terhadap pendidikan tinggi vokasi dipengaruhi oleh prospek kerja yang bagus (68,7 persen), studi yang singkat (46,1 persen), dan dinilai dapat langsung bekerja setelah lulus (41,7 persen).

Hasil riset dikemukakan dalam sebuah webinar yang diselenggarakan oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Vokasi Kemendikbud pada Jumat (9/4/2021). Direktur Jenderal Pendidikan Vokasi Wikan Sakarinto mengatakan, hasil survei terkait animo masyarakat terhadap pendidikan vokasi merupakan fenomena yang menyenangkan.

“Tetapi, ini harus dituntaskan terus dengan program link and match. Artinya, ini harapan kita untuk mendapatkan peserta didik pendidikan vokasi yang lebih passionate dari sebelumnya,” kata Wikan. Ia menuturkan, hasil survei tersebut menjadi motivasi bagi Kemendikbud, khususnya Ditjen Pendidikan Vokasi, termasuk kepala sekolah, guru, pengawas, dan seluruh pemangku kepentingan, untuk terus memajukan pendidikan vokasi di Indonesia.

Dalam webinar tersebut, hadir juga Founder & Chairman MarkPlus, Inc., Hermawan Kartajaya. Ia mengatakan, hasil survei juga menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan sejumlah responden terhadap pendidikan tinggi vokasi masih berada di bawah SMK. “Namun, mayoritas responden mengaku aware dengan pendidikan SMK dan pendidikan tinggi vokasi, di mana sumber informasi terbesar adalah melalui teman,” ujarnya dalam webinar.

Menurut Hermawan, dari hasil survei tersebut diperlukan adanya peningkatan awareness terhadap pendidikan tinggi vokasi untuk dapat meningkatkan ketertarikan masyarakat. “Setelah awareness dari pendidikan vokasi meningkat, bisa dilanjutkan untuk melakukan komunikasi terhadap kualitas dari SMK dan pendidikan tinggi vokasi, dan akhirnya melakukan pendekatan entrepreneurial marketing untuk pendidikan vokasi, khususnya kepada siswa SMK dan mahasiswa D3,” tutur Hermawan.

Kemendikbud dan MarkPlus, Inc. mengadakan riset bertajuk “Survei Ketertarikan Masyarakat terhadap Pendidikan Vokasi” dengan tujuan untuk mengetahui ketertarikan calon peserta didik/orang tua terhadap pendidikan SMK dan pendidikan tinggi vokasi. Keseluruhan responden berjumlah 890 orang, yang terdiri atas 390 responden untuk target pendidikan SMK dan 500 responden untuk target pendidikan tinggi vokasi. Responden untuk SMK terdiri atas peserta didik SMP, orang tua SMP, dan orang tua SD. Sementara responden untuk pendidikan tinggi vokasi terdiri atas peserta didik SMK, peserta didik SMA, orang tua SMK, dan orang tua SMA.

Ada lima hal yang digali dalam riset ini, yaitu kesadaran atau awareness responden terhadap pendidikan tinggi vokasi maupun SMK; sumber informasi; persepsi peserta terhadap pendidikan tingggi vokasi dan SMK; alasan ketertarikan; dan hingga keinginan rekomendasi. Survei ini tidak hanya melibatkan para siswa, tetapi juga orang tua untuk melihat persepsi orang tua terhadap jenjang pendidikan.

Survei dilakukan di 10 wilayah di Indonesia dengan mempertimbangkan jumlah siswa-siswa terbanyak, persebaran wilayah responden, pemilihan kota/titik utama, juga komposisi siswa SMK. Kesepuluh wilayah tersebut adalah Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah, Sumatera Utara, Sulawesi Selatan, Sumatera Selatan, DKI Jakarta, Kalimantan Barat, Bali, dan Sulawesi Utara. Secara keseluruhan, riset ini menggunakan margin of error 5 persen, dengan tingkat confidence level 95 persen.

Dari sisi awareness, mayoritas responden mengaku aware dengan pendidikan SMK dan pendidikan tinggi vokasi. Sejumlah 92,3 persen responden mengetahui informasi seputar SMK, sedangkan 70,6 persen responden mengetahui informasi mengenai pendidikan tinggi vokasi.

Di sisi lain, responden dengan kategori orang tua siswa SMK, ingin agar anaknya dapat melanjutkan pendidikan ke pendidikan tinggi pada fakultas vokasi dengan pertimbangan prospek ke depan (37,9 persen). Berbeda dengan responden dari kategori orang tua siswa SMA, yang ingin agar anaknya memilih pendidikan tinggi fakultas nonvokasi dengan pertimbangan kualitas dan reputasi dari instansi (41,3 persen).

Selain ketertarikan, riset ini juga menanyakan mengenai pendapat peserta didik SMK terhadap pembelajaran dan pengalaman yang dirasakan pada lembaga/instansi SMK. Dalam skala 1 (sangat tidak setuju) hingga 6 (sangat setuju), hasil riset menemukan bahwa keseluruhan responden sepakat bahwa mereka menyukai dan berbahagia dalam bersekolah di SMK (skala 5,34). Mayoritas responden memilih SMK dengan alasan terdapatnya jurusan yang diminati (skala 5,26). Selain itu, responden juga menyatakan bahwa pemilihan terhadap SMK tersebut didasarkan atas keinginan sendiri (skala 5,23).

Survei ini diharapkan dapat menjadi pacuan bagi dunia pendidikan, terutama pendidikan tinggi vokasi untuk terus meningkatkan awareness dan mengomunikasikan kualitas dan reputasi dari pendidikan vokasi.

Ikuti berita lainnya

66 Lulusan Profesi Ners UNG Resmi Diangkat Sumpah, Siap Mengabdi untuk Kesehatan Masyarakat
05 Jun 2026
02:59 WITA

66 Lulusan Profesi Ners UNG Resmi Diangkat Sumpah, Siap Mengabdi untuk Kesehatan Masyarakat

Abdul Wahid Rauf

Sebanyak 66 lulusan Profesi Ners Angkatan XXII Jurusan Keperawatan Universitas Negeri Gorontalo, resmi mengikuti prosesi Angkat Sumpah Perawat yang berlangsung khidmat, Rabu (3/6), di Gedung Grand Sumberia. Prosesi ini menjadi penanda kesiapan para lulusan untuk memasuki dunia kerja sebagai tenaga kesehatan profesional, yang akan mengemban tanggung jawab kemanusiaan di tengah masyarakat.Suasana haru dan penuh kebanggaan mewarnai jalannya prosesi, yang turut dihadiri Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Alumni UNG, Mohamad Amir Arham. Hadir pula Dekan Fakultas Olahraga dan Kesehatan, Hartono Hadjaratie, serta jajaran Jurusan Keperawatan, Koordinator Program Studi Pendidikan Ners, serta orang tua dan keluarga para lulusan.Koordinator Program Studi Pendidikan Ners, Ibrahim Suleman, menjelaskan bahwa prosesi angkat sumpah merupakan tahap akhir, yang menandai selesainya pendidikan profesi ners sekaligus kesiapan lulusan untuk menjalankan tugas profesional di bidang pelayanan kesehatan.Menurutnya, capaian Angkatan XXII patut diapresiasi, karena seluruh peserta berhasil menyelesaikan tahapan pendidikan akademik dan profesi dengan baik. Bahkan, seluruh lulusan mencatatkan tingkat kelulusan 100 persen pada Uji Kompetensi Mahasiswa Program Profesi Ners (UKOM), sebuah pencapaian yang mencerminkan kualitas pendidikan dan kesiapan kompetensi lulusan.“Angkat sumpah ini menjadi bukti bahwa para lulusan telah memenuhi seluruh persyaratan akademik dan profesional, untuk menjalankan profesi keperawatan serta siap mengabdikan diri kepada masyarakat,” ungkapnya.Sementara itu, Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Alumni UNG, Mohamad Amir Arham, menegaskan bahwa sumpah profesi yang diucapkan bukan sekadar rangkaian seremoni akademik, melainkan komitmen moral yang akan menjadi landasan dalam menjalankan profesi perawat.Ia mengingatkan bahwa profesi perawat memiliki peran strategis dalam sistem pelayanan kesehatan. Dengan bekal ilmu pengetahuan, keterampilan, dan pengalaman yang diperoleh selama menempuh pendidikan, lulusan Profesi Ners UNG diharapkan mampu memberikan pelayanan kesehatan yang berkualitas, humanis, dan berorientasi pada keselamatan pasien.“Profesi perawat adalah profesi kemanusiaan. Melalui pengetahuan dan kemampuan yang dimiliki saat ini, para lulusan diharapkan dapat mengambil peran penting dalam meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat,” ujarnya.Prosesi angkat sumpah tersebut sekaligus menjadi awal perjalanan baru bagi para lulusan untuk mengabdikan diri di berbagai fasilitas pelayanan kesehatan, baik rumah sakit, puskesmas, klinik, maupun institusi kesehatan lainnya di tingkat daerah maupun nasional. (**)

Terbitkan Jurnal Internasional, Dosen UNG Teliti Kebijakan Pendidikan Anak Usia Dini di Slovakia
05 Jun 2026
02:46 WITA

Terbitkan Jurnal Internasional, Dosen UNG Teliti Kebijakan Pendidikan Anak Usia Dini di Slovakia

Abdul Wahid Rauf

GORONTALO – Nama Universitas Negeri Gorontalo kembali harum di panggung akademik internasional. Dr. Pupung Puspa Ardini, M.Pd., dosen Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) UNG, berhasil mempublikasikan artikel ilmiahnya pada salah satu jurnal internasional bereputasi tinggi — International Journal of Child Care and Education Policy — edisi tahun 2026. Pencapaian ini bukan hanya kebanggaan pribadi, melainkan bukti nyata bahwa peneliti dari Gorontalo mampu bersaing dan berkontribusi di level global.Artikel bertajuk "The Policy of the Profession in Early Care and Preschool Education: Historical Dynamics on the Example of Slovakia" ini lahir dari kolaborasi internasional yang apik. Dr. Pupung menggandeng dua peneliti dari Trnava University in Trnava, Slovakia, yakni Branislav Pupala dan Dana Masaryková, untuk mengurai perjalanan panjang kebijakan pendidikan anak usia dini di negara Eropa Tengah tersebut.Kajian ini membawa pembaca menelusuri lorong sejarah kebijakan pendidikan anak usia dini di Slovakia — dari era Austro-Hungaria, melewati era sosialisme, hingga tiba di era demokrasi modern yang penuh dinamika.Penelitian ini tidak sekadar mendokumentasikan masa lalu. Di balik kajian historisnya, tersimpan pesan penting tentang bagaimana sistem pendidikan anak usia dini di Slovakia mengalami transformasi besar — dari pendekatan yang semula berorientasi pada layanan kesehatan dan pengasuhan, menuju model yang semakin menekankan aspek pendidikan secara komprehensif.Studi ini juga menyoroti pergeseran peran para profesional di lapangan — guru taman kanak-kanak dan tenaga pengasuh — serta tantangan kebijakan yang muncul dalam upaya menyeimbangkan dua fungsi utama: mendidik dan mengasuh anak.Tak berhenti di situ, artikel ini menghubungkan pengalaman Slovakia dengan lanskap kebijakan pendidikan anak usia dini yang lebih luas di kawasan Eropa Tengah dan Timur — menegaskan pentingnya sistem pendidikan yang terintegrasi, inklusif, dan mampu mendukung tumbuh kembang anak secara holistik melalui sinergi antara sektor pendidikan, kesehatan, dan layanan sosial.Rektor UNG, Prof. Dr. Ir. Eduart Wolok, S.T., M.T., menyambut hangat capaian ini sebagai bukti konkret kontribusi akademisi UNG, dalam pengembangan ilmu pendidikan anak usia dini di tingkat global. Keterlibatan peneliti UNG dalam publikasi internasional ini menjadi bukti, kontribusi akademisi UNG dalam pengembangan keilmuan pendidikan anak usia dini di tingkat global.“Capaian tersebut sekaligus memperkuat komitmen UNG dalam mendorong budaya riset, publikasi ilmiah bereputasi, serta kolaborasi akademik internasional," ujar Eduart.Prestasi akademisi FIP diharapkan menjadi pemercik semangat bagi seluruh dosen dan mahasiswa UNG untuk terus berkarya, meneliti, dan menghasilkan publikasi ilmiah yang memberi dampak nyata — tidak hanya bagi dunia akademik Indonesia, tetapi juga bagi komunitas ilmiah internasional. (**)

19 Calon Mahasiswa Berebut Kesempatan Kuliah Gratis di UNG Melalui Seleksi Mandiri Berprestasi
05 Jun 2026
02:39 WITA

19 Calon Mahasiswa Berebut Kesempatan Kuliah Gratis di UNG Melalui Seleksi Mandiri Berprestasi

Abdul Wahid Rauf

GORONTALO – Sebanyak 19 calon mahasiswa terbaik, mengikuti tahapan seleksi jalur Seleksi Mandiri Prestasi Universitas Negeri Gorontalo (UNG) Tahun 2026. Mereka bersaing untuk mendapatkan kesempatan menempuh pendidikan tinggi dengan berbagai fasilitas istimewa, termasuk pembebasan biaya Iuran Pengembangan Institusi (IPI) dan Uang Kuliah Tunggal (UKT).Tahapan seleksi berupa penilaian portofolio dan wawancara dilaksanakan pada Jumat (5/6) di Aula Totombowata Biro Akademik, Kemahasiswaan, dan Perencanaan (BAKP). Peserta yang mengikuti seleksi merupakan calon mahasiswa dengan berbagai capaian prestasi tingkat nasional maupun internasional, serta penghafal Al-Qur’an yang memiliki hafalan hingga 20 juz.Kepala Biro Akademik, Kemahasiswaan, dan Perencanaan UNG, Darman, S.Kom., M.Ap., menjelaskan bahwa jalur Seleksi Mandiri Prestasi, merupakan salah satu bentuk apresiasi universitas terhadap generasi muda yang memiliki pencapaian luar biasa di berbagai bidang.“Peserta yang mengikuti seleksi tahun ini berjumlah 19 orang, terdiri dari kategori prestasi bidang sains, olahraga, olimpiade, kesenian serta kategori hafidz Al-Qur’an,” jelas Darman.Menurutnya, proses wawancara dan penilaian portofolio menjadi tahapan penting, untuk memastikan keabsahan seluruh dokumen prestasi yang diajukan peserta. Tim seleksi akan melakukan verifikasi langsung terhadap berbagai pencapaian yang tercantum dalam portofolio, sementara peserta kategori hafidz Al-Qur’an akan menjalani pengujian hafalan secara langsung.“Melalui tahapan ini, kami ingin memastikan bahwa seluruh prestasi yang diajukan benar-benar valid dan sesuai dengan persyaratan yang ditetapkan,” tambahnya.Sementara itu, Wakil Rektor Bidang Akademik UNG, Prof. Dr. Abdul Hafidz Olii, M.Si., menuturkan bahwa jalur Seleksi Mandiri Prestasi, dirancang untuk menjaring calon mahasiswa unggul yang memiliki kemampuan akademik maupun nonakademik yang menonjol.Mahasiswa yang berhasil lolos melalui jalur ini akan memperoleh sejumlah keuntungan, di antaranya pembebasan biaya IPI dan UKT selama memenuhi ketentuan yang ditetapkan universitas.Namun demikian, Hafidz mengingatkan bahwa fasilitas pembebasan UKT tersebut akan dievaluasi setiap tahun. Mahasiswa penerima program diharapkan mampu mempertahankan prestasi yang menjadi dasar penerimaan mereka di UNG.“Jika mahasiswa tidak lagi mampu menunjukkan capaian prestasi sesuai ketentuan yang berlaku, maka fasilitas pembebasan UKT dapat dicabut dan mahasiswa akan dikenakan pembayaran UKT sebagaimana mestinya,” tegasnya.Hasil Seleksi Mandiri Prestasi UNG Tahun 2026 dijadwalkan akan diumumkan pada 8 Juni 2026. Melalui jalur ini, UNG berharap dapat memberikan kesempatan lebih luas kepada putra-putri terbaik bangsa untuk mengembangkan potensi akademik dan prestasinya tanpa terbebani biaya pendidikan. (**)

Sulap Limbah Jadi Produk Bernilai Ekonomi, Mahasiswa KKN Hadirkan GALAPEAT di Desa Dunggala
04 Jun 2026
05:41 WITA

Sulap Limbah Jadi Produk Bernilai Ekonomi, Mahasiswa KKN Hadirkan GALAPEAT di Desa Dunggala

Abdul Wahid Rauf

GORONTALO – Siapa sangka tumpukan sabut kelapa yang selama ini hanya menjadi limbah tak berguna di sudut-sudut kebun warga Desa Dunggala, kini menjelma menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi. Itulah yang berhasil diwujudkan oleh mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik Tahap I Universitas Negeri Gorontalo (UNG) melalui program inovatif bertajuk GALAPEAT.Program yang resmi diluncurkan di Desa Dunggala, Kecamatan Tapa, Kabupaten Bone Bolango ini mengolah sabut kelapa menjadi cocopeat — media tanam organik yang memiliki nilai ekonomi sekaligus mendukung pelestarian lingkungan.GALAPEAT merupakan salah satu program unggulan dalam kegiatan KKN Tematik bertema "Dunggala Digital Hub: Sinergi Multidisiplin dalam Branding Kearifan Lokal melalui Konten Edukasi Berbahasa Inggris untuk Global Marketing."Dari Limbah ke PeluangGALAPEAT lahir bukan sekadar dari ide di atas kertas. Program ini hadir sebagai jawaban nyata atas persoalan lingkungan sekaligus peluang ekonomi yang selama ini terlewatkan begitu saja oleh warga desa.Ketua tim KKN Tematik, Haris Danial, S.Pd., M.A., mengungkapkan bahwa, potensi besar desa ini selama ini tersembunyi di balik tumpukan sabut kelapa yang tak terurus."Sabut kelapa yang sebelumnya dianggap limbah ternyata dapat diolah menjadi produk bernilai ekonomi. Melalui GALAPEAT, kami ingin mendorong masyarakat agar mampu mengembangkan potensi lokal sekaligus membangun identitas desa yang kuat berbasis kearifan lokal," ujar Haris.Program ini dipimpin oleh tim multidisiplin yang solid, terdiri atas Prof. Nonny Basalama, M.A., Ph.D., Muh. Rezky Friesta Payu, M.Si., dan Dr. Indri Wirahmi Bay, M.A. — membuktikan bahwa inovasi terbaik lahir dari kolaborasi lintas ilmu.Warga Belajar, Warga BerdayaTak hanya sekadar sosialisasi, program GALAPEAT mengajak langsung masyarakat, para petani, dan anggota Karang Taruna Desa Dunggala untuk terjun dalam proses produksi cocopeat dari awal hingga akhir.Dalam sesi pelatihan, peserta diperkenalkan pada berbagai manfaat cocopeat — mulai dari fungsinya sebagai media tanam ramah lingkungan yang menyerap air dengan baik, hingga peluangnya sebagai produk siap jual yang menjanjikan. Dengan terlibat langsung dalam proses produksi, warga tidak hanya menonton, tetapi benar-benar memahami dan menguasai keterampilan baru.Desa Inovatif Berbasis Kearifan LokalKehadiran GALAPEAT dan berbagai program pendampingan lainnya semakin menegaskan posisi Desa Dunggala sebagai desa yang inovatif, edukatif, dan berakar pada kearifan lokal.  Lebih dari sekadar program pengabdian, GALAPEAT membuka babak baru bagi ekonomi kreatif desa — sebuah bukti bahwa mahasiswa tidak hanya datang untuk mengabdi, tetapi mampu meninggalkan jejak perubahan yang nyata dan berkelanjutan bagi masyarakat.

Lihat Semua Berita