Site Logo

Mengurangi Risiko Fatal di Lapangan Hijau: Analisis Kesiapan Pemain Mini Soccer Menghadapi Cedera Olahraga

Penelitian
Abdul Wahid Rauf
03 Jun 2026
03:08 WITA
2 dilihat
Mengurangi Risiko Fatal di Lapangan Hijau: Analisis Kesiapan Pemain Mini Soccer Menghadapi Cedera Olahraga

Tren olahraga mini soccer (sepak bola mini) tengah mengalami lonjakan popularitas yang luar biasa di berbagai kota besar hingga pelosok Indonesia. Karakteristik permainannya yang dinamis, cepat, serta melibatkan kontak fisik intensif di atas lapangan rumput sintetis menjadikan olahraga ini sangat digemari masyarakat urban. Namun, di balik antusiasme tersebut, lapangan mini soccer menyimpan risiko cedera yang tinggi, mulai dari kram otot, terkilir (sprain), ketegangan otot (strain), hingga dislokasi sendi dan patah tulang.

Dalam dunia medis dan olahraga, penanganan pertama pada menit-menit awal terjadinya cedera (golden period) merupakan faktor penentu. Penanganan yang tepat dapat mencegah komplikasi jaringan yang lebih serius, mengurangi rasa nyeri, serta mempercepat proses pemulihan atlet agar bisa kembali merumput. Sebaliknya, kesalahan fatal dalam penanganan awal (seperti asal urut atau pijat pada cedera akut) justru berisiko memicu cacat permanen. Menjawab tantangan kesehatan komunitas ini, tim peneliti dari Universitas Negeri Gorontalo (UNG) yang terdiri dari Ningsi Yasin, Muhammad Isman Jusuf, Dewi Suryaningsi Hiola, Zulkifli B. Pomalango, dan Gusti Pandi Liputo, melakukan studi komprehensif di K3 Mini Football Gorontalo untuk mengukur sejauh mana tingkat pengetahuan para pemain amatir dalam menghadapi situasi darurat cedera.

Riset kuantitatif deskriptif ini melibatkan 100 responden pemain mini soccer yang dipilih menggunakan teknik probability sampling. Menggunakan instrumen kuesioner tervalidasi berbasis skala Guttman (20 pernyataan medis seputar cedera), penelitian ini menyingkap data yang cukup kontradiktif namun penting bagi edukasi kesehatan nasional:

  1. Mayoritas Memiliki Pengetahuan yang Baik (85%)Secara umum, hasil analisis univariat menunjukkan kabar baik bagi dunia olahraga tanah air. Sebanyak 85% responden terbukti memiliki tingkat pengetahuan yang baik mengenai prinsip dasar penanganan cedera. Mereka secara teori memahami bahwa cedera tidak boleh langsung dipijat secara agresif dan mengenali tanda-tanda kegawatdaruratan pada otot atau sendi. Sementara itu, 14% pemain berada di kategori cukup, dan hanya 1% yang memiliki pengetahuan kurang.

  2. Paradoks Informasi: 64% Pemain Belum Pernah Terpapar Edukasi ResmiMeskipun angka pengetahuan teoritisnya tinggi, riset ini menemukan fakta mengejutkan bahwa 64% responden mengaku tidak pernah mendapatkan informasi atau pelatihan resmi terkait pertolongan pertama cedera olahraga dari tenaga medis maupun institusi terkait. Pengetahuan "baik" yang mereka miliki mayoritas didapatkan secara mandiri melalui adopsi pengalaman visual di media sosial, tayangan pertandingan sepak bola profesional, atau informasi dari mulut ke mulut.

Tingginya angka pemain yang belum pernah mendapatkan edukasi formal menjadi alarm penting. Pengetahuan yang bersumber dari media sosial tanpa standardisasi berisiko memunculkan kesalahpahaman taktik di lapangan. Para ahli keperawatan dan kedokteran dari UNG menegaskan kembali pentingnya penguasaan protokol RICE sebagai standar emas penanganan cedera jaringan lunak akut di lapangan:

  1. Rest (Istirahat): Segera hentikan aktivitas permainan dan istirahatkan bagian tubuh yang cedera untuk mencegah kerusakan jaringan lebih lanjut.

  2. Ice (Es): Kompres bagian yang cedera menggunakan es batu yang dilapisi kain selama 15–20 menit. Es berfungsi menyempitkan pembuluh darah (vasokonstriksi) guna menghentikan perdarahan dalam dan meminimalkan pembengkakan.

  3. Compression (Tekanan): Balut bagian cedera dengan perban elastis secara pas (tidak terlalu ketat) untuk menyangga otot dan menahan laju pembengkakan.

  4. Elevation (Peninggian): Posisikan bagian tubuh yang cedera lebih tinggi dari level jantung saat berbaring guna membantu mempercepat aliran balik cairan limpah dan darah, sehingga bengkak cepat menyusut.

Temuan riset dari Universitas Negeri Gorontalo ini memberikan rekomendasi strategis bagi penguatan sistem kesehatan olahraga di tingkat nasional. Tingginya minat masyarakat pada olahraga rekreasi seperti mini soccer harus diimbangi dengan penyediaan fasilitas dan edukasi keselamatan yang memadai.

Sinergi Pengelola Lapangan dan Tenaga Medis: Riset ini mendesak para pemilik atau pengelola fasilitas olahraga (sport center) di Indonesia untuk tidak hanya menyewakan lapangan, tetapi juga wajib menyediakan kotak Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan (P3K) yang memadai (terutama persediaan es batu dan perban elastis) serta memasang papan informasi visual mengenai protokol RICE di area strategis.

Selain itu, institusi kesehatan dan perguruan tinggi perlu melakukan program pengabdian masyarakat secara masif berupa pelatihan Sport Massage berbasis medis dan teknik fiksasi cedera bagi komunitas-komunitas olahraga amatir. Dengan meratakan pemahaman pertolongan pertama dari hulu, kita dapat menciptakan ekosistem olahraga rekreasi yang tidak hanya menyenangkan dan kompetitif, melainkan juga aman, sehat, dan tanggap terhadap risiko cedera fisik.

Artikel Penelitian Dipublikasikan Melalui Laman Berikut

Ikuti berita lainnya

Racana Nani Wartabone – Mbui Bungale Sambut Mahasiswa Baru Melalui Penerimaan Tamu Racana 2026
01 Sep 2026
01:53 WITA

Racana Nani Wartabone – Mbui Bungale Sambut Mahasiswa Baru Melalui Penerimaan Tamu Racana 2026

Abdul Wahid Rauf

GORONTALO – Gerakan Pramuka Dewan Racana Nani Wartabone–Mbui Bungale Pangkalan Universitas Negeri Gorontalo (UNG) resmi membuka kegiatan Penerimaan Tamu Racana (PTR) Tahun 2026, Jumat (28/8). Mengusung tema “Bersatu dalam Karya, Menyambut Jejak Baru di Racana”, kegiatan ini menjadi langkah awal bagi mahasiswa baru untuk mengenal, berproses, serta mengembangkan potensi diri melalui organisasi kepramukaan di lingkungan perguruan tinggi.Penerimaan Tamu Racana menjadi salah satu tahapan penting, dalam proses pembinaan anggota baru Gerakan Pramuka di tingkat perguruan tinggi. Melalui rangkaian kegiatan tersebut, para peserta tidak hanya diperkenalkan dengan kehidupan organisasi Racana, tetapi juga dibekali pemahaman mengenai nilai-nilai kepramukaan, kepemimpinan, kebersamaan, serta semangat pengabdian kepada masyarakat.Mengusung semangat kebersamaan dan karya, PTR 2026 difokuskan pada penguatan soliditas antaranggota, penanaman nilai-nilai Tri Satya dan Dasa Darma, serta pembekalan orientasi kepramukaan di lingkungan perguruan tinggi. Para calon anggota diharapkan mampu menjadikan Racana sebagai ruang untuk belajar, bertumbuh, dan menghadirkan kontribusi positif melalui berbagai kegiatan yang produktif.Pembina Racana Nani Wartabone–Mbui Bungale UNG, Dr. Rustam I. Husain, S.Ag., M.Pd. dalam arahannya menekankan pentingnya peran kepramukaan di perguruan tinggi, dalam membentuk generasi yang memiliki karakter kuat, jiwa kepemimpinan, loyalitas, serta kepedulian terhadap masyarakat.Menurutnya, Penerimaan Tamu Racana bukan sekadar agenda rutin organisasi, tetapi menjadi proses awal dalam membentuk karakter dan menyiapkan generasi muda yang siap berkarya.“Penerimaan Tamu Racana bukan sekadar agenda rutin organisasi, melainkan langkah awal dalam penempaan karakter, kepemimpinan, dan wadah untuk melahirkan karya-karya produktif,” ungkapnya.Ia berharap kehadiran calon anggota baru dapat membawa energi positif, serta semangat baru bagi perkembangan Racana Nani Wartabone–Mbui Bungale UNG.“Melalui kegiatan ini, para calon Tamu Racana diharapkan mampu membawa semangat baru, memperkuat kebersamaan, serta memberikan kontribusi positif bagi organisasi maupun masyarakat,” tambahnya.Kegiatan penyabutan tamu racana 2026 turut dihadiri jajaran pembina, pengurus Dewan Racana Nani Wartabone–Mbui Bungale, purna racana, serta puluhan mahasiswa calon anggota baru yang mengikuti seluruh rangkaian kegiatan dengan penuh antusias.Melalui penerimaan anggora baru ini, Gerakan Pramuka Pangkalan UNG diharapkan terus menjadi ruang pembinaan generasi muda kampus yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki karakter, jiwa kepemimpinan, semangat kebersamaan, dan kepedulian untuk memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. (**)

Prodi Pendidikan Profesi Apoteker UNG Raih Tingkat Kelulusan di Atas 90 Persen untuk UKOMNAS 2026
01 Sep 2026
01:38 WITA

Prodi Pendidikan Profesi Apoteker UNG Raih Tingkat Kelulusan di Atas 90 Persen untuk UKOMNAS 2026

Abdul Wahid Rauf

GORONTALO – Pelaksanaan ujian Ujian Kompetensi Nasional (UKOMNAS) Peserta Didik Profesi Apoteker (PDPA) periode 2 tahun 2026, menjadi ajang pembuktian Program Studi (Prodi) Pendidikan Profesi Apoteker UNG. Pada ujian yang mengukur kompetensi komprehensif calon apoteker tersebut, prodi pendidikan profesi apoteker menorehkan pencapaian membanggakan dengan tingkat kelulusan peserta mencapai 92,3 persen.Capaian tersebut menjadi bukti keberhasilan proses pendidikan profesi apoteker yang dilaksanakan secara terarah, sekaligus menunjukkan kesiapan mahasiswa dalam memenuhi standar kompetensi sebagai calon tenaga kefarmasian profesional.Dekan FOK UNG, Dr. Hartono Hadjarati, S.Pd., M.Pd., mengungkapkan bahwa tingginya tingkat kelulusan tersebut, tidak terlepas dari komitmen Pendidikan Profesi Apoteker dalam menghadirkan proses pembelajaran yang berkualitas.Menurutnya, penguatan kompetensi mahasiswa dilakukan melalui berbagai proses, mulai dari pembelajaran akademik, pengembangan kompetensi klinis, pembimbingan, hingga persiapan menghadapi tahapan evaluasi kompetensi profesi.“Capaian ini merupakan hasil dari kerja keras mahasiswa, dukungan para dosen, tenaga kependidikan, serta seluruh unsur yang terlibat dalam penyelenggaraan pendidikan profesi apoteker,” ungkapnya.Keberhasilan tersebut, lanjut Hartono, semakin memperkuat komitmen FOK untuk terus menjaga dan meningkatkan mutu pendidikan, khususnya dalam menghasilkan tenaga kesehatan yang kompeten, profesional, dan memiliki integritas.Sementara itu Rektor UNG, Prof. Dr. Ir. Eduart Wolok, S.T., M.T., turut memberikan apresiasi, atas capaian tingkat kelulusan mahasiswa Pendidikan Profesi Apoteker pada UKOMNAS kali ini.Ia berharap keberhasilan tersebut menjadi motivasi bagi seluruh civitas akademika, untuk terus memperkuat kualitas pembelajaran dan layanan akademik, khususnya dalam menyiapkan lulusan profesi kesehatan yang mampu menjawab kebutuhan masyarakat.“Profesi apoteker memiliki peran yang sangat strategis dalam pelayanan kesehatan masyarakat. Karena itu, lulusan Profesi Apoteker UNG harus memiliki kompetensi yang kuat, menjunjung tinggi etika profesional, memiliki kemampuan komunikasi yang baik, serta siap menghadapi berbagai tantangan di dunia pelayanan kefarmasian,” ujar Eduart.Melalui proses pembelajaran yang memadukan penguatan teori, praktik, pengalaman klinis, serta evaluasi kompetensi, UNG terus berupaya menyiapkan calon apoteker yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga siap menjalankan peran profesional dalam mendukung peningkatan kualitas pelayanan kesehatan masyarakat. (**)

Kiprah Tenaga Kependidikan PLP UNG di MUNAS IV PPLPI, Perkuat Jejaring Nasional Pengelolaan Laboratorium
31 Aug 2026
06:03 WITA

Kiprah Tenaga Kependidikan PLP UNG di MUNAS IV PPLPI, Perkuat Jejaring Nasional Pengelolaan Laboratorium

Abdul Wahid Rauf

Gelaran Musyawarah Nasional (MUNAS) IV Perhimpunan Pengelola Laboratorium Pendidikan Indonesia (PPLPI) yang dirangkaikan dengan Workshop dan Sertifikasi Kompetensi pada 27–29 Agustus 2026 di Lombok Raya Hotel, Mataram, resmi berakhir. Ajang nasional bertaraf internasional ini sukses menyedot perhatian 500 peserta dari berbagai perguruan tinggi dan sekolah se-Indonesia.Universitas Negeri Gorontalo (UNG) mencatatkan kiprah strategis dalam perhelatan tersebut melalui tampilnya salah satu ASN Jabatan Fungsional Pranata Laboratorium Pendidikan (PLP) UNG, Nurfaisal Harun, S.T., M.T., MCE, dalam bursa Pemilihan Ketua Umum PPLPI Periode 2026–2030.Kiprah Nurfaisal Harun — yang memiliki kualifikasi pendidik tersertifikasi internasional (Microsoft Certified Educator) — di kancah nasional tersebut membawa aspirasi untuk memperkuat standarisasi dan tata kelola laboratorium daerah. Keikutsertaan hingga potensi kepemimpinan kader UNG di tingkat nasional ini diproyeksikan membuka akses langsung terhadap jejaring kolaborasi pengujian, informasi kebijakan kementerian, hingga peluang kerja sama pemanfaatan sarana riset lintas institusi.Akses dan jaringan nasional tersebut diposisikan sebagai support system bagi sivitasakademika UNG, khususnya dalam menunjangkeandalan fasilitas riset terapan dosen (IKU 5) serta mengoptimalisasi potensi pendapatan non-UKT kampus melalui pengembangan jasa pengujian laboratorium terintegrasi (IKU 9).Di samping itu, rekognisi SDM di tingkat nasional ini turut memperkuat kriteria penilaian Tata Kelola, Penjaminan Mutu, serta Sarana - Prasarana pada akreditasi program studi di lingkungan LAMTEK dan BAN-PT, sekaligus mendongkrak capaian Indeks Profesionalitas ASN (IP-ASN) Universitas Negeri Gorontalo.Keikutsertaan Nurfaisal Harun, S.T., M.T., MCE hingga tuntasnya rangkaian Munas IV PPLPI di Lombok membuktikan bahwa SDM Tenaga Kependidikan dari UNG mampu berkontribusi aktif, bersaing, dan memberikan sumbangsih nyata bagi penguatan ekosistem laboratorium pendidikan di tingkat nasional.Sebelumnya, pembukaan Munas IV PPLPI dihadiri langsung oleh Direktur SDM DiktisaintekKemdiktisaintek, Prof. Dr. Ir. Sri Suning Kusumawardani, S.T., M.T., IPM., Rektor Universitas Mataram Prof. Dr. Sukardi, S.Pd., M.Pd., Asisten I Setda NTB Dr. Fathul Gani, M.Si., sertaperwakilan Pegawai Sains Malaysia ChM.Asrul Azani Mahmood dariUniversiti Malaysia Terengganu (UMT).Dalam pengarahannya, Kemdiktisaintek menegaskan komitmen untuk mempertahankan anggaran Karya Inovasi Laboratorium serta memperkuat diklat pra-uji kompetensi guna mendongkrak sertifikasi PLP, sejalan dengan perankrusial PLP dalam menjaga keandalan serta optimalisasi instrumen laboratorium kampus.

UNG Kawal Program Pengabdian Smart Aquaponic untuk Pangan Bergizi di Desa Ombulo Kabupaten Gorontalo
31 Aug 2026
01:53 WITA

UNG Kawal Program Pengabdian Smart Aquaponic untuk Pangan Bergizi di Desa Ombulo Kabupaten Gorontalo

Abdul Wahid Rauf

GORONTALO – Lahirnya inovasi dari para peneliti, terus berupaya dikawal Universitas negeri Gorontalo sehingga mampu memberikan solusi nyata bagi masyarakat.  Melalui Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM), UNG melakukan monitoring dan evaluasi (monev) terhadap pelaksanaan program pengabdian kepada masyarakat di Desa Ombulo.Kegiatan tersebut dilakukan untuk melihat perkembangan pelaksanaan program sekaligus memastikan inovasi yang dikembangkan oleh tim pengabdi mampu memberikan manfaat nyata dan berkelanjutan bagi masyarakat.Program pengabdian yang dimonitor mengangkat judul “Pemberdayaan Masyarakat Desa Ombulo melalui Integrated Smart Aquaponic Berbasis Green Technology untuk Mendukung Program Makan Bergizi Gratis Berkelanjutan.” Program ini dilaksanakan oleh tim pengabdi UNG yang terdiri atas Faramita Hiola, S.Farm., M.Sc., Dr. Yoyanda Bait, M.DSi., dan Dr. Djuna Lamondo, M.Si.Program tersebut memperoleh dukungan pendanaan dari Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM), Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) Tahun 2026.Melalui program ini, tim pengabdi memperkenalkan penerapan Integrated Smart Aquaponic, sebuah inovasi yang mengintegrasikan budidaya ikan dan tanaman dalam satu sistem dengan pendekatan teknologi yang lebih efisien dan ramah lingkungan.Penerapan teknologi tersebut diharapkan dapat menjadi salah satu alternatif dalam mendukung ketersediaan sumber pangan bergizi bagi masyarakat. Selain menghasilkan komoditas perikanan, sistem aquaponic juga memungkinkan masyarakat melakukan budidaya tanaman secara terintegrasi sehingga pemanfaatan sumber daya dapat dilakukan dengan lebih efektif.Dalam kegiatan monev, tim LPPM UNG meninjau langsung perkembangan pelaksanaan program, capaian kegiatan, serta penerapan teknologi Integrated Smart Aquaponic berbasis green technology yang dikembangkan bersama masyarakat Desa Ombulo.Evaluasi juga dilakukan untuk melihat sejauh mana inovasi tersebut dapat memberikan manfaat bagi masyarakat, serta peluang keberlanjutan program setelah periode pelaksanaan pengabdian berakhir.Ketua LPPM UNG, Prof. Lanto Ningrayati Amali, yang turut hadir dalam kegiatan tersebut, menegaskan bahwa pelaksanaan pengabdian kepada masyarakat harus mampu menjawab persoalan nyata yang dihadapi masyarakat melalui penerapan hasil penelitian dan inovasi.“Melalui monev ini, kami ingin memastikan program yang dilaksanakan tidak hanya berjalan sesuai rencana, tetapi juga memberikan manfaat yang dapat dirasakan masyarakat. Inovasi yang dikembangkan diharapkan dapat terus dimanfaatkan dan dikembangkan oleh masyarakat Desa Ombulo,” ujarnya.Menurutnya, kegiatan pengabdian kepada masyarakat perlu terus diarahkan pada upaya pemecahan berbagai persoalan, melalui penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi yang memiliki nilai manfaat serta keberlanjutan.Melalui pengembangan Integrated Smart Aquaponic, UNG berharap masyarakat Desa Ombulo dapat memperoleh alternatif teknologi dalam mendukung pengembangan sumber pangan yang lebih efisien, ramah lingkungan, dan berkelanjutan.Program ini sekaligus menjadi wujud komitmen UNG dalam memperkuat peran perguruan tinggi melalui kegiatan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat yang berorientasi pada inovasi, pemberdayaan, serta penyelesaian persoalan di tengah masyarakat.Dengan semangat menghadirkan kampus yang berdampak, UNG terus berupaya memastikan setiap inovasi yang lahir dari lingkungan akademik dapat melampaui ruang laboratorium dan kampus, untuk kemudian tumbuh bersama masyarakat serta memberikan manfaat nyata bagi pembangunan dan peningkatan kesejahteraan.

Lihat Semua Berita