Mengukur Kemampuan Berpikir Kritis Mahasiswa di Era Digital dengan Pendekatan MFRM

Kemampuan berpikir kritis mahasiswa, khususnya calon guru, menjadi salah satu kompetensi penting di era digital. Namun, menilai kemampuan tersebut secara objektif dan akurat masih menjadi tantangan. Menjawab persoalan ini, tim peneliti dari Universitas Negeri Gorontalo mengembangkan instrumen dan model pengukuran berbasis pendekatan statistik modern.
Penelitian berjudul “Pengembangan Instrumen dan Pemodelan Kemampuan Berpikir Kritis Mahasiswa dalam Menilai Kredibilitas dan Validitas Informasi Digital: Pendekatan Multi-Facet Rasch Model” ini dipimpin oleh Lukman A. R. Laliyo, bersama Moh. Hidayat Koniyo, Sardi Salim, dan Lilyan Hadjarati. Penelitian ini merupakan bagian dari pendanaan DPPM Kemditisaintek melalui skema Penelitian Dasar tahun 2025.
Di tengah maraknya arus informasi digital, kemampuan mahasiswa dalam menilai kredibilitas dan validitas informasi menjadi semakin krusial. Namun, berbagai kajian menunjukkan bahwa kemampuan berpikir kritis, khususnya dalam konteks literasi digital, masih belum berkembang secara optimal. Mahasiswa calon guru sering kali kesulitan dalam melakukan analisis mendalam, evaluasi informasi, hingga refleksi terhadap sumber yang mereka gunakan. Di sisi lain, instrumen penilaian yang ada masih bersifat konvensional dan belum mampu menangkap kompleksitas kemampuan berpikir kritis secara menyeluruh.
Sebagai solusi, penelitian ini menggunakan pendekatan Multi-Facet Rasch Model (MFRM), sebuah metode analisis yang mampu mengukur berbagai aspek secara simultan, termasuk karakteristik soal, kemampuan responden, dan peran penilai. Pendekatan ini dinilai lebih adil dan akurat karena dapat mengidentifikasi potensi bias dalam proses penilaian, sekaligus memberikan gambaran kemampuan yang lebih komprehensif.
Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan instrumen Evaluasi Kritis Digital (EKD) yang dirancang khusus untuk mengukur kemampuan mahasiswa dalam menilai informasi digital. Instrumen ini mencakup berbagai indikator, mulai dari kemampuan analisis, evaluasi, hingga refleksi terhadap informasi. Proses pengembangan dilakukan secara bertahap, mulai dari penyusunan konstruk teoretis, validasi instrumen oleh para ahli, hingga uji coba terbatas dan analisis data menggunakan perangkat lunak Winsteps.
Pada tahun pertama, penelitian melibatkan lima validator yang menilai 42 item instrumen berdasarkan 12 kriteria. Hasilnya menunjukkan bahwa instrumen yang dikembangkan memiliki kualitas yang baik. Nilai rata-rata Infit/Outfit Mean Square (MNSQ) berada di kisaran 1,00–1,07, yang menunjukkan kesesuaian data dengan model. Selain itu, reliabilitas aspek item (0,84), kriteria (0,79), dan penilai (98,98) tergolong tinggi. Analisis lebih lanjut juga menunjukkan bahwa beberapa item memiliki tingkat kesulitan yang lebih tinggi, terutama yang berkaitan dengan aspek argumentatif dan penalaran logis.
Penelitian ini juga menemukan adanya potensi bias dalam penilaian, misalnya perbedaan latar belakang pendidikan validator yang memengaruhi hasil penilaian. Selain itu, beberapa kriteria penilaian tertentu terdeteksi cenderung bias dan perlu disempurnakan. Temuan ini menjadi penting karena menunjukkan bahwa pendekatan MFRM tidak hanya mengukur kemampuan, tetapi juga mampu meningkatkan kualitas sistem penilaian itu sendiri.
Hasil penelitian ini memberikan dasar ilmiah bagi pengembangan sistem penilaian berpikir kritis yang lebih objektif dan berbasis data. Instrumen yang dikembangkan diharapkan dapat digunakan dalam pembelajaran, khususnya pada mata kuliah literasi digital bagi mahasiswa calon guru. Selain itu, penelitian ini juga mendukung pengembangan metode penilaian psikometrik yang lebih modern, transparan, dan adil dalam dunia pendidikan tinggi.
Di tengah tantangan era pasca-kebenaran, kemampuan berpikir kritis menjadi kompetensi utama yang harus dimiliki oleh calon pendidik. Melalui pendekatan ilmiah dan berbasis data, penelitian ini menjadi langkah strategis dalam membentuk generasi guru yang tidak hanya cakap mengajar, tetapi juga mampu berpikir kritis dalam menghadapi informasi digital.





