Site Logo

Mengelola Hipertensi pada Lansia, Kunci Kualitas Hidup Ada pada Self-Management

Penelitian
Abdul Wahid Rauf
13 Mar 2026
15:14 WITA
136 dilihat
Mengelola Hipertensi pada Lansia, Kunci Kualitas Hidup Ada pada Self-Management

Hipertensi atau tekanan darah tinggi masih menjadi salah satu masalah kesehatan terbesar di dunia, terutama pada kelompok lanjut usia. Penyakit ini sering disebut sebagai silent killer karena dapat berkembang tanpa gejala yang jelas, tetapi berpotensi menimbulkan komplikasi serius seperti stroke, penyakit jantung, hingga gagal ginjal. Karena sifatnya yang kronis, hipertensi tidak hanya memengaruhi kondisi fisik seseorang, tetapi juga berpengaruh besar terhadap kualitas hidup penderita. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan lebih dari 1,28 miliar orang dewasa berusia 30–79 tahun di dunia mengalami hipertensi, dan sebagian besar di antaranya tinggal di negara berpendapatan rendah dan menengah. Lebih memprihatinkan lagi, hampir setengah dari penderita hipertensi tidak menyadari bahwa mereka memiliki penyakit tersebut. Kondisi ini membuat hipertensi menjadi salah satu penyebab utama kematian dini di dunia.

Di Indonesia, situasinya juga tidak jauh berbeda. Survei Kesehatan Indonesia tahun 2023 menunjukkan bahwa prevalensi hipertensi pada penduduk usia 18 tahun ke atas mencapai sekitar 30,8 persen. Angka ini cenderung meningkat seiring bertambahnya usia. Pada kelompok usia lanjut, risiko hipertensi meningkat secara signifikan karena perubahan fisiologis yang terjadi pada tubuh, terutama pada sistem kardiovaskular. Seiring bertambahnya usia, elastisitas pembuluh darah menurun sehingga tekanan darah lebih mudah meningkat. Kondisi ini menjelaskan mengapa hipertensi sering ditemukan pada kelompok lansia. Namun, hipertensi pada lansia bukan sekadar persoalan angka tekanan darah yang tinggi. Penyakit ini juga berkaitan erat dengan kualitas hidup penderita, baik dari aspek fisik, psikologis, sosial, maupun lingkungan.

Hipertensi dan Kualitas Hidup Lansia

Kualitas hidup merupakan konsep yang menggambarkan bagaimana seseorang memandang kondisi kehidupannya secara keseluruhan. Dalam konteks kesehatan, kualitas hidup tidak hanya dilihat dari kondisi fisik, tetapi juga mencakup kesejahteraan psikologis, hubungan sosial, serta lingkungan tempat seseorang hidup. Hipertensi yang tidak terkontrol dapat mengganggu berbagai aspek kehidupan lansia. Secara fisik, penderita dapat mengalami kelelahan, sakit kepala, atau penurunan kemampuan dalam melakukan aktivitas sehari-hari. Secara psikologis, kondisi penyakit kronis juga dapat memunculkan rasa cemas atau kekhawatiran terhadap kesehatan di masa depan. Penelitian yang dilakukan di wilayah kerja Puskesmas Limboto, Gorontalo, menunjukkan gambaran yang cukup menarik mengenai hubungan antara hipertensi dan kualitas hidup lansia. Penelitian tersebut melibatkan 66 responden lansia dengan hipertensi, dan hasilnya menunjukkan bahwa sebagian besar responden masih memiliki kualitas hidup yang cukup baik. Sekitar 36,4 persen lansia berada pada kategori kualitas hidup baik, sementara 28,8 persen bahkan memiliki kualitas hidup yang sangat baik. Temuan ini menunjukkan bahwa hipertensi tidak selalu berarti penurunan kualitas hidup secara drastis. Banyak lansia yang tetap mampu menjalani kehidupan secara aktif dan produktif meskipun memiliki penyakit kronis. Kuncinya terletak pada bagaimana mereka mengelola penyakit tersebut dalam kehidupan sehari-hari.

Peran Penting Self-Management

Salah satu faktor penting yang memengaruhi kualitas hidup penderita hipertensi adalah self-management, yaitu kemampuan seseorang dalam mengelola penyakitnya secara mandiri. Self-management mencakup berbagai perilaku kesehatan, seperti memantau tekanan darah secara rutin, mengonsumsi obat sesuai anjuran dokter, menjaga pola makan, melakukan aktivitas fisik, serta mengelola stres. Hasil penelitian di Puskesmas Limboto menunjukkan bahwa sekitar 65,2 persen lansia memiliki kemampuan self-management yang baik, sementara 31,8 persen berada pada kategori cukup dan hanya sebagian kecil yang memiliki self-management rendah. Yang lebih menarik, analisis statistik menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang sangat signifikan antara self-management dan kualitas hidup lansia dengan hipertensi. Nilai signifikansi penelitian menunjukkan p-value sebesar 0,000, yang berarti hubungan tersebut sangat kuat secara statistik. Selain itu, koefisien korelasi sebesar 0,717 menunjukkan bahwa hubungan antara kedua variabel tersebut tergolong kuat dan bersifat positif. Artinya, semakin baik kemampuan seseorang dalam mengelola hipertensi, semakin baik pula kualitas hidup yang dapat ia rasakan.

Mengapa Self-Management Penting?

Self-management berperan penting karena hipertensi merupakan penyakit yang membutuhkan pengelolaan jangka panjang. Tidak cukup hanya mengandalkan pengobatan dari tenaga kesehatan; pasien juga harus aktif terlibat dalam menjaga kondisi kesehatannya sendiri. Lansia yang mampu menerapkan self-management dengan baik biasanya lebih disiplin dalam menjalani pengobatan, menjaga pola makan rendah garam, serta melakukan aktivitas fisik secara teratur. Mereka juga lebih sadar untuk memantau tekanan darah secara rutin dan mengikuti anjuran tenaga kesehatan. Sebaliknya, lansia yang kurang mampu mengelola penyakitnya cenderung mengalami berbagai kendala kesehatan. Kurangnya pemantauan tekanan darah, ketidakpatuhan dalam mengonsumsi obat, serta pola hidup yang tidak sehat dapat memperburuk kondisi hipertensi dan pada akhirnya menurunkan kualitas hidup. Self-management juga berkaitan erat dengan faktor dukungan sosial. Lansia yang memiliki dukungan dari keluarga, pasangan, maupun tenaga kesehatan cenderung lebih mampu mengelola penyakitnya dengan baik. Dukungan ini dapat berupa pengingat untuk minum obat, bantuan dalam mengakses layanan kesehatan, hingga motivasi untuk menjalani gaya hidup sehat.

Mendorong Lansia Lebih Mandiri dalam Mengelola Kesehatan

Hasil penelitian tersebut memberikan pelajaran penting bagi upaya pengendalian hipertensi di masyarakat, khususnya pada kelompok lansia. Pengelolaan hipertensi tidak cukup dilakukan hanya melalui pelayanan kesehatan di fasilitas medis. Pendekatan yang lebih efektif adalah dengan mendorong pasien untuk berperan aktif dalam menjaga kesehatannya. Program edukasi kesehatan di puskesmas, seperti penyuluhan tentang hipertensi, konseling gizi, serta kegiatan senam lansia, dapat menjadi sarana penting dalam meningkatkan kemampuan self-management pada lansia. Dengan pengetahuan yang cukup, lansia akan lebih memahami bagaimana cara mengontrol tekanan darah dan mencegah komplikasi. Pada akhirnya, hipertensi memang merupakan penyakit kronis yang tidak dapat disembuhkan sepenuhnya. Namun, dengan pengelolaan yang tepat, penyakit ini dapat dikendalikan sehingga penderita tetap dapat menjalani kehidupan yang sehat dan produktif. Self-management bukan sekadar konsep dalam dunia kesehatan. Bagi para lansia yang hidup dengan hipertensi, kemampuan mengelola penyakit secara mandiri merupakan kunci penting untuk menjaga kualitas hidup tetap baik. Ketika lansia mampu memahami tubuhnya, disiplin menjalani terapi, serta didukung oleh lingkungan yang positif, hipertensi bukan lagi menjadi penghalang untuk tetap menjalani hidup dengan bermakna. (Artikel penelitian dipublikasikan melalui laman berikut)

Ikuti berita lainnya

Prodi S1 Manajemen UNG Raih Akreditasi Unggul, Perkuat Posisi sebagai Program Studi Berdaya Saing Nasional
16 Jul 2026
09:35 WITA

Prodi S1 Manajemen UNG Raih Akreditasi Unggul, Perkuat Posisi sebagai Program Studi Berdaya Saing Nasional

Abdul Wahid Rauf

GORONTALO – Program Studi Sarjana (S1) Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) meraih predikat Akreditasi Unggul, dari Lembaga Akreditasi Mandiri Ekonomi, Manajemen, Bisnis, dan Akuntansi (LAMEMBA) berdasarkan Keputusan LAMEMBA Nomor 178/DE/A.5/LAMEMBA-U/VII/2026.Capaian ini menjadi pengakuan atas konsistensi prodi  manajemen dalam menyelenggarakan pendidikan tinggi yang bermutu, adaptif terhadap perkembangan zaman, dan berorientasi pada peningkatan kualitas secara berkelanjutan.Keberhasilan meraih Akreditasi Unggul tidak diperoleh secara instan. Prodi manajemen harus melalui serangkaian proses penilaian, mulai dari evaluasi dokumen, asesmen lapangan, hingga verifikasi berbagai aspek penyelenggaraan pendidikan oleh tim asesor LAMEMBA.Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis UNG, Dr. Raflin Hinelo, M.Pd., menyampaikan bahwa pencapaian tersebut merupakan hasil kerja keras seluruh sivitas akademika dalam membangun budaya mutu yang berkelanjutan.Menurutnya, predikat Akreditasi Unggul menjadi bukti bahwa prodi manajemen telah memenuhi standar tertinggi dalam berbagai aspek penilaian, mulai dari tata kelola prodi, implementasi kurikulum berbasis luaran (Outcome-Based Education), kualitas sumber daya manusia, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, kemahasiswaan, hingga jejaring kerja sama.“Akreditasi Unggul merupakan bukti kualitas yang dimiliki prodi manajemen. Hasil ini menunjukkan bahwa seluruh aspek penyelenggaraan pendidikan telah memenuhi standar terbaik yang ditetapkan LAMEMBA. Tentu capaian ini merupakan hasil kolaborasi seluruh dosen, tenaga kependidikan, mahasiswa, alumni, serta para mitra yang selama ini mendukung pengembangan program studi,” ujar Raflin.Ia menambahkan, capaian tersebut sekaligus menjadi motivasi untuk terus meningkatkan kualitas layanan akademik agar mampu menjawab tantangan dunia pendidikan tinggi dan kebutuhan dunia kerja yang terus berkembang.Apresiasi juga disampaikan Rektor UNG, Prof. Dr. Ir. Eduart Wolok, S.T., M.T. Menurutnya, raihan Akreditasi Unggul semakin memperkuat posisi prodi manajemen, sebagai salah satu prodi yang mampu menghasilkan lulusan kompeten, profesional, berintegritas, serta memiliki daya saing di tingkat nasional maupun internasional.“Predikat ini menunjukkan bahwa prodi manajemen telah memiliki kualitas yang diakui secara nasional. Capaian ini harus menjadi motivasi untuk terus menghadirkan inovasi dalam pembelajaran, memperkuat budaya riset, meningkatkan kolaborasi dengan dunia usaha dan dunia industri, serta memperluas jejaring kerja sama internasional," ungkap Eduart.Namun demikian, Rektor menegaskan bahwa predikat Akreditasi Unggul bukanlah garis akhir dari proses peningkatan mutu.  Pengakuan tersebut justru menjadi amanah besar bagi seluruh sivitas akademika untuk terus menjaga kualitas pendidikan, meningkatkan pelayanan akademik, serta memperkuat kontribusi program studi dalam menghasilkan sumber daya manusia unggul yang mampu memberikan dampak nyata bagi pembangunan daerah maupun nasional. (**)

Mahasiswa FSB Lolos Program Bergengsi Belajar Bersama Maestro 2026, Siap Menimba Ilmu dari Maestro Seni Indonesia
16 Jul 2026
02:00 WITA

Mahasiswa FSB Lolos Program Bergengsi Belajar Bersama Maestro 2026, Siap Menimba Ilmu dari Maestro Seni Indonesia

Abdul Wahid Rauf

GORONTALO – Prestasi membanggakan kembali ditorehkan mahasiswa Universitas Negeri Gorontalo (UNG) di tingkat nasional. Muhammad Najmi, mahasiswa Program Studi Pendidikan Seni Drama, Tari, dan Musik (Sendratasik), Fakultas Sastra dan Budaya (FSB) UNG, berhasil lolos sebagai peserta Program Belajar Bersama Maestro (BBM) 2026, sebuah program prestisius yang diselenggarakan oleh Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia untuk melahirkan generasi muda pelestari seni dan budaya Nusantara.Keberhasilan tersebut menempatkan Muhammad Najmi sebagai salah satu mahasiswa terbaik dari berbagai daerah di Indonesia yang akan memperoleh kesempatan langka belajar secara langsung bersama para maestro seni dan budaya Indonesia. Program ini akan berlangsung selama satu bulan, mulai 15 Juli hingga 15 Agustus 2026, di Jakarta.Belajar Bersama Maestro merupakan program nasional yang dirancang untuk menjembatani proses transfer pengetahuan, keterampilan, filosofi, hingga nilai-nilai budaya dari para maestro kepada generasi muda. Selama mengikuti program, peserta tidak hanya memperoleh pengalaman praktik berkesenian, tetapi juga mendalami proses kreatif yang menjadi ciri khas para seniman dan budayawan Indonesia.Keikutsertaan Muhammad Najmi merupakan hasil dari proses seleksi yang berlangsung sangat kompetitif. Selain kemampuan artistik, peserta juga dinilai berdasarkan komitmen mereka dalam menjaga, mengembangkan, dan mewariskan kekayaan budaya Indonesia kepada generasi mendatang.Bagi Muhammad Najmi, kesempatan mengikuti BBM 2026 menjadi pengalaman akademik sekaligus ruang pembelajaran yang tidak dapat diperoleh di ruang kelas. Melalui interaksi langsung dengan para maestro, ia akan memperluas wawasan mengenai teknik berkesenian, nilai-nilai budaya, serta pendekatan kreatif dalam melestarikan seni tradisional Indonesia.Dekan Fakultas Sastra dan Budaya UNG, Prof. Dra. Nonny Basalama, M.A., Ph.D., menyampaikan apresiasi atas keberhasilan mahasiswa FSB tersebut. Menurutnya, capaian ini menjadi bukti bahwa mahasiswa FSB UNG memiliki kompetensi, kreativitas, dan daya saing yang mampu bersaing pada program-program nasional bergengsi di bidang seni dan budaya."Program Belajar Bersama Maestro merupakan kesempatan yang sangat berharga bagi mahasiswa untuk belajar langsung dari para maestro seni Indonesia. Pengalaman ini tidak hanya memperkaya pengetahuan dan keterampilan berkesenian, tetapi juga membentuk karakter mahasiswa sebagai generasi pelestari budaya bangsa," ungkap Prof. Nonny.Ia berharap pengalaman yang diperoleh Muhammad Najmi selama mengikuti program dapat ditransformasikan kepada mahasiswa lainnya, sehingga mampu memperkuat budaya akademik sekaligus mendorong lahirnya lebih banyak prestasi di bidang seni dan budaya.Sementara itu, Rektor UNG melalui Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Alumni, Prof. Dr. Mohamad Amir Arham, M.E., menilai keberhasilan tersebut semakin menegaskan kualitas mahasiswa UNG yang mampu bersaing pada program-program nasional bergengsi.Menurutnya, partisipasi mahasiswa dalam Program Belajar Bersama Maestro sejalan dengan komitmen Universitas Negeri Gorontalo dalam mencetak lulusan yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga kreatif, inovatif, serta memiliki kepedulian terhadap pelestarian seni dan budaya Indonesia."Ilmu dan pengalaman yang diperoleh Muhammad Najmi selama mengikuti program, diharapkan dapat ditransformasikan kepada mahasiswa lainnya, sehingga mampu memperkuat budaya akademik sekaligus mendorong lahirnya lebih banyak prestasi di bidang seni dan budaya,” harap Amir.

Inovasi Mahasiswa untuk Sekolah Dipamerkan, UNG Mengajar Batch 9 Tunjukkan Kontribusi Nyata bagi Pendidikan di Kabupaten Gorontalo
15 Jul 2026
08:20 WITA

Inovasi Mahasiswa untuk Sekolah Dipamerkan, UNG Mengajar Batch 9 Tunjukkan Kontribusi Nyata bagi Pendidikan di Kabupaten Gorontalo

Abdul Wahid Rauf

GORONTALO – Beragam inovasi pembelajaran hasil kreativitas mahasiswa UNG dipamerkan dalam Pameran Produk Program UNG Mengajar Batch 9 Wilayah Kabupaten Gorontalo, yang diselenggarakan oleh Lembaga Pengembangan Pembelajaran dan Penjaminan Mutu (LPMPP) UNG, Rabu (8/7), di SMP Negeri 3 Limboto Barat.Pameran ini menjadi ajang diseminasi berbagai luaran Program UNG Mengajar yang telah dijalankan selama satu semester di sekolah-sekolah mitra. Tidak sekadar menampilkan hasil karya, kegiatan ini juga menjadi bukti nyata kontribusi mahasiswa dalam menghadirkan inovasi untuk mendukung peningkatan kualitas pembelajaran di Kabupaten Gorontalo.Pada pelaksanaan UNG Mengajar Batch 9, universitas menugaskan 217 mahasiswa untuk mengabdi di 19 sekolah mitra, yang terdiri atas jenjang SD, SMP, SMA, dan MA di Kabupaten Gorontalo. Selama berada di sekolah, para mahasiswa berkolaborasi dengan guru dalam mengembangkan berbagai metode dan media pembelajaran yang lebih kreatif, inovatif, dan sesuai dengan kebutuhan peserta didik.Berbagai produk inovatif dipamerkan, mulai dari modul ajar Kurikulum Merdeka, media pembelajaran berbasis teknologi digital, alat peraga edukatif, perangkat pembelajaran interaktif, hingga program penguatan literasi dan pendidikan karakter. Seluruh karya tersebut merupakan hasil implementasi program yang telah diterapkan langsung di sekolah-sekolah mitra.Kepala LPMPP UNG, Prof. Dr. Elya Nusantari, M.Pd., menjelaskan bahwa pameran produk merupakan wadah untuk memperlihatkan berbagai inovasi yang telah dikembangkan mahasiswa selama mengikuti Program UNG Mengajar.Menurutnya, kegiatan tersebut tidak hanya menjadi media publikasi hasil program, tetapi juga ruang berbagi pengalaman dan inspirasi antarmahasiswa, guru, maupun sekolah dalam mengembangkan praktik pembelajaran yang lebih efektif.“Berbagai produk yang dipamerkan meliputi media pembelajaran, alat peraga edukatif, perangkat pembelajaran, serta hasil program kerja yang telah diterapkan di masing-masing sekolah. Melalui pameran ini, kami berharap inovasi yang dihasilkan dapat menjadi referensi bagi sekolah lain dan terus dikembangkan untuk meningkatkan mutu pendidikan,” ujar Elya.Suasana pameran berlangsung semarak dengan hadirnya 19 stan sekolah mitra yang menampilkan berbagai hasil karya mahasiswa bersama peserta didik. Pengunjung dapat melihat secara langsung media pembelajaran inovatif, proyek kolaboratif siswa, hingga dokumentasi kegiatan mahasiswa selama menjalankan program di sekolah.Sementara itu, Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Kerja Sama, dan Sistem Informasi UNG, Dr. Harto Malik, M.Hum., mengapresiasi sinergi yang telah terbangun antara Universitas Negeri Gorontalo, Pemerintah Kabupaten Gorontalo, serta sekolah-sekolah mitra dalam menyukseskan Program UNG Mengajar.Ia berharap berbagai produk yang dihasilkan mahasiswa tidak berhenti sebagai hasil pameran semata, tetapi dapat dimanfaatkan dan dikembangkan secara berkelanjutan oleh sekolah sebagai bagian dari upaya meningkatkan kualitas proses belajar mengajar.“Diharapkan inovasi yang telah dihasilkan mahasiswa dapat terus digunakan dan disempurnakan oleh sekolah. Kolaborasi antara perguruan tinggi dan sekolah seperti ini menjadi langkah strategis dalam mendorong peningkatan mutu pendidikan di daerah," ungkap Harto.Apresiasi juga disampaikan Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Gorontalo, Dr. Abd. Waris, S.Pd., M.Pd. Menurutnya, kehadiran mahasiswa UNG Mengajar telah memberikan kontribusi positif bagi sekolah, terutama dalam menghadirkan inovasi pembelajaran yang mampu meningkatkan kreativitas guru dan peserta didik.“Semoga kerja sama antara Pemerintah Kabupaten Gorontalo dan UNG dapat terus berlanjut, sehingga semakin banyak sekolah yang merasakan manfaat dari program tersebut,” harapnya.Melalui Pameran Produk UNG Mengajar Batch 9, Universitas Negeri Gorontalo kembali menegaskan komitmennya dalam menghadirkan inovasi pendidikan yang berdampak langsung bagi sekolah dan masyarakat. Program ini tidak hanya menjadi ruang pembelajaran bagi mahasiswa, tetapi juga menjadi wujud nyata kontribusi perguruan tinggi dalam memperkuat kualitas pendidikan melalui kolaborasi, kreativitas, dan pengabdian. (**)

Lihat Semua Berita