Mengapa Ibu Sesar Kerap Menggigil Kedinginan? Studi Ungkap Kaitan Bobot Tubuh dan Risiko Hipotermi Pasca-Bedah

Operasi sectio caesarea (SC) atau bedah sesar kini menjadi salah satu prosedur persalinan yang paling umum dilakukan di Indonesia. Dalam pelaksanaannya, metode pembiusan spinal anestesi (anestesi regional melalui tulang belakang) menjadi pilihan utama tim dokter karena pasien tetap dalam kondisi sadar penuh saat menyambut kelahiran sang buah hati. Meski dinilai sangat aman, prosedur ini menyisakan komplikasi pasca-bedah yang sering kali diabaikan, namun sangat mengganggu kenyamanan ibu: hipotermi: kondisi penurunan suhu inti tubuh di bawah 36°C ini ditandai dengan tubuh yang menggigil hebat, bibir membiru, hingga penurunan perfusi jaringan. Fenomena klinis ini tidak hanya memicu ketidaknyamanan, tetapi juga berisiko memperlambat pembekuan darah, meningkatkan risiko infeksi luka operasi, hingga mengganggu proses inisiasi menyusui dini (IMD).
Menjawab tantangan klinis tersebut, tim peneliti dari Fakultas Kedokteran Universitas Negeri Gorontalo (UNG) yang terdiri dari Diah Arimurty, Sri Manovita Pateda, Romdon Purwanto, Nanang Roswita Paramata, dan Abdi Dzul Ikram Hasanuddin melakukan studi observasional analitik di RSUD Prof. Dr. H. Aloei Saboe, Gorontalo. Riset ini menguak hubungan erat antara Indeks Massa Tubuh (IMT) ibu dengan tingkat keparahan hipotermi pascaoperasi sesar.
Mengapa pembiusan lokal pada pinggang ke bawah bisa membuat seluruh tubuh menggigil kedinginan? Secara patofisiologi medis, agen anestesi spinal memblokir jaras saraf simpatis secara masif. Akibatnya, terjadi pelebaran pembuluh darah sirkulasi perifer (vasodilatasi) di area tubuh bagian bawah. Darah hangat dari inti tubuh mengalir deras ke area pinggang dan kaki yang mengalami pelebaran pembuluh darah. Kondisi ini memicu redistribusi panas tubuh yang cepat dari area inti (core) ke area permukaan (periphery). Di saat yang sama, obat bius menekan pusat pengaturan suhu tubuh di otak (hipotalamus), sehingga tubuh kehilangan kemampuan alaminya untuk merespons dingin melalui vasokonstriksi (penyempitan pembuluh darah). Ditambah paparan suhu dingin ruang operasi, penurunan suhu inti tubuh pun terjadi secara progresif.
Peran Lemak Subkutan: Mengapa Berat Tubuh Menjadi Penentu?Melalui analisis data rekam medis terhadap 54 pasien ibu melahirkan yang menjalani operasi sesar dengan teknik purposive sampling, riset ini menemukan data statistik yang sangat signifikan menggunakan uji Chi-Square (p < 0,05):
Angka kejadian hipotermi yang tinggi. Penelitian mencatat bahwa 63% dari total pasien mengalami hipotermi ringan pascatindakan bedah sesar. Hal ini membuktikan bahwa penurunan suhu tubuh merupakan komplikasi nyata yang sangat jamak ditemui di ruang pemulihan (recovery room).
Hubungan Signifikan dengan Indeks Massa Tubuh (IMT). Riset ini membuktikan bahwa ibu dengan IMT rendah atau normal (kategori kurus dan ideal) memiliki risiko jauh lebih tinggi untuk mengalami hipotermi berat dibandingkan dengan ibu yang memiliki IMT tinggi (kategori kelebihan berat badan atau obesitas).
Secara biologis, jaringan lemak subkutan (lemak di bawah kulit) berfungsi sebagai isolator termal alami tubuh.
Ibu dengan IMT tinggi (Overweight/Obesitas): memiliki lapisan lemak subkutan yang tebal. Lapisan lemak ini bertindak layaknya "selimut internal" yang menahan laju perpindahan panas dari dalam tubuh ke lingkungan luar, sehingga mampu mempertahankan suhu inti tubuh tetap stabil meski dalam pengaruh obat bius.
Ibu dengan IMT Rendah/Normal: Ketiadaan lapisan lemak yang memadai membuat konduksi panas tubuh ke luar berlangsung sangat cepat. Akibatnya, mereka menjadi kelompok yang paling rentan mengalami gigil hebat pascaoperasi.Implikasi Klinis dan Strategi Perlindungan Nasional
Temuan dari Universitas Negeri Gorontalo ini memberikan sumbangsih penting bagi standar operasional prosedur (SOP) keperawatan perioperatif di tingkat nasional. Penanganan suhu tubuh pasien pasca-sesar tidak boleh lagi disamaratakan. Tim medis, khususnya penata anestesi dan perawat ruang pemulihan, harus memberikan perhatian dan proteksi termal ekstra pada pasien dengan postur tubuh kurus atau ideal sejak sebelum operasi dimulai. Riset ini merekomendasikan penerapan metode penghangatan aktif secara masif di rumah sakit-rumah sakit Indonesia. Langkah ini dapat dilakukan melalui penggunaan cairan infus yang telah dihangatkan (warmed intravenous fluids), penggunaan alat penghangat udara (forced-air warming blankets), hingga pengaturan suhu ruang operasi yang lebih ramah bagi ibu melahirkan. Dengan deteksi dini berbasis berat badan ini, komplikasi pasca-sesar dapat ditekan seminimal mungkin demi keselamatan dan kenyamanan optimal ibu dan bayi di seluruh Nusantara.





