Lebih dari Sekadar Selempang, Mahasiswa UNG yang Jadikan Peran Duta sebagai Wadah Pengabdian

GORONTALO – Di mata sebagian orang, menjadi seorang Duta sering kali dianggap sebagai simbol prestise, popularitas, atau sekadar ajang unjuk diri. Namun, paradigma ini dipatahkan oleh Jessy Berliana Chelsea Manopo. Bagi mahasiswi Program Studi S1 Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Negeri Gorontalo (UNG) ini, posisi Duta adalah sebuah tanggung jawab moral untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat, bukan sekadar mencari pelayanan.
"Menjadi Duta itu bukan soal untuk memperoleh pelayanan, melainkan untuk memberikan pelayanan," ujar Jessy dengan tegas. Baginya, nilai diri seseorang tidak diukur dari gelar yang disandang, melainkan dari seberapa besar kontribusi nyata yang mampu ia berikan kepada lingkungan sekitar.
Motivasi Jessy melangkah ke dunia duta berangkat dari keinginan yang sederhana namun mulia: menjadi pribadi yang bermanfaat dan mampu memberdayakan sesama. Dalam perannya, Jessy tidak sekadar menjadi wajah promosi, tetapi ia memilih untuk "turun tangan" pada isu-isu sosial yang mendesak, khususnya yang dihadapi generasi muda.
Bersama pasangannya, ia aktif menyuarakan edukasi mengenai bahaya seks pranikah, pencegahan pernikahan usia dini, hingga risiko penyalahgunaan NAPZA. Jessy sangat sadar bahwa ketiga permasalahan ini adalah "bom waktu" bagi kualitas generasi muda di masa depan.
Tak berhenti di situ, ia juga menaruh perhatian besar pada isu stunting. Ia percaya bahwa keterlibatannya dalam memberikan pemahaman mengenai kesehatan dan gizi dapat membantu memutus rantai masalah tersebut di tengah masyarakat.
Jessy menyadari bahwa generasi muda saat ini tidak bisa didekati dengan cara-cara konvensional. Untuk memperluas jangkauan edukasinya, ia memadukan aksi langsung di lapangan dengan pemanfaatan platform digital.
Menjadi figur publik tentu tidak mudah. Jessy mengakui bahwa tantangan terbesarnya adalah menjaga konsistensi dalam menginspirasi tanpa kehilangan jati diri. Ia berprinsip bahwa pengaruh positif yang paling kuat datang dari sosok yang tetap autentik.
"Menjadi Duta berarti kita harus tetap jujur dengan diri sendiri sambil terus membawa pengaruh baik bagi banyak orang," jelasnya.
Kisah Jessy Manopo menjadi pengingat bagi mahasiswa lainnya bahwa peran aktif di luar kampus bukan sekadar untuk menambah daftar prestasi di CV, melainkan tentang bagaimana ilmu yang didapatkan di bangku kuliah dapat diimplementasikan untuk menyelesaikan masalah sosial yang nyata. Dengan dedikasi dan cara pandang yang jernih, Jessy membuktikan bahwa anak muda bisa menjadi motor perubahan jika mereka berani mengambil peran.





