Site Logo

Ketika Stres Mengubah Cara Remaja Makan, Perspektif Ilmiah tentang Emotional Eating dan Status Gizi

Penelitian
Abdul Wahid Rauf
26 Mar 2026
16:23 WITA
291 dilihat
Ketika Stres Mengubah Cara Remaja Makan, Perspektif Ilmiah tentang Emotional Eating dan Status Gizi

Remaja merupakan kelompok usia yang berada pada fase perkembangan paling dinamis dalam kehidupan manusia. Pada masa ini terjadi perubahan yang sangat cepat, baik secara biologis, psikologis, maupun sosial. Masa remaja sering disebut sebagai periode transisi dari anak menuju dewasa yang sarat dengan berbagai tantangan perkembangan. Perubahan tersebut menjadikan remaja sangat rentan terhadap berbagai tekanan emosional yang dapat memengaruhi perilaku sehari-hari, termasuk pola makan dan status gizi mereka. Dalam konteks kesehatan masyarakat, status gizi remaja merupakan indikator penting yang mencerminkan keseimbangan antara asupan nutrisi dengan kebutuhan tubuh. Status gizi yang baik sangat diperlukan untuk mendukung pertumbuhan fisik, perkembangan kognitif, serta kesiapan remaja menghadapi masa dewasa. Namun, berbagai penelitian menunjukkan bahwa masalah gizi pada remaja masih menjadi isu yang cukup kompleks. Tidak hanya kekurangan gizi, tetapi juga kelebihan gizi semakin banyak ditemukan pada kelompok usia ini.

Secara global, laporan Organisasi Kesehatan Dunia menunjukkan bahwa sebagian remaja mengalami masalah gizi yang beragam, mulai dari kekurangan berat badan hingga obesitas. Fenomena ini menggambarkan adanya ketidakseimbangan antara kebutuhan energi tubuh dengan pola konsumsi makanan yang dijalani oleh remaja. Masalah tersebut tidak hanya dipengaruhi oleh faktor biologis, tetapi juga oleh faktor sosial, ekonomi, lingkungan, serta kondisi psikologis individu. Salah satu faktor psikologis yang sering kali kurang mendapatkan perhatian dalam kajian gizi remaja adalah stres. Dalam kehidupan remaja, stres dapat muncul dari berbagai sumber, seperti tekanan akademik, hubungan sosial dengan teman sebaya, tuntutan keluarga, hingga ketidakpastian mengenai masa depan. Tekanan tersebut dapat memicu perubahan emosional yang cukup kuat, sehingga memengaruhi perilaku sehari-hari, termasuk pola makan.

Secara psikologis, stres merupakan respons alami individu ketika menghadapi situasi yang dianggap menantang atau melebihi kemampuan adaptasi mereka. Pada tingkat tertentu, stres dapat membantu seseorang menjadi lebih waspada dan termotivasi. Namun, ketika stres berlangsung dalam intensitas yang tinggi atau dalam waktu yang lama, kondisi ini dapat memengaruhi berbagai fungsi tubuh, termasuk regulasi nafsu makan. Pada sebagian remaja, stres dapat menyebabkan penurunan nafsu makan sehingga mereka makan lebih sedikit dari kebutuhan tubuh. Kondisi ini berpotensi menyebabkan status gizi kurang. Sebaliknya, pada sebagian remaja lainnya, stres justru memicu peningkatan nafsu makan yang berlebihan. Mereka cenderung mengonsumsi makanan sebagai cara untuk meredakan ketegangan emosional yang dirasakan.

Fenomena tersebut dikenal sebagai emotional eating, yaitu perilaku makan yang dipengaruhi oleh kondisi emosi, bukan oleh rasa lapar secara fisiologis. Emotional eating sering muncul ketika seseorang mengalami emosi negatif seperti stres, kecemasan, kesedihan, atau kebosanan. Dalam kondisi tersebut, makanan menjadi semacam mekanisme koping untuk memperoleh rasa nyaman secara sementara. Penelitian menunjukkan bahwa remaja yang memiliki kecenderungan emotional eating sering kali mengonsumsi makanan tinggi gula, lemak, dan kalori. Jenis makanan ini sering disebut sebagai comfort food karena dapat memberikan rasa nyaman dalam waktu singkat. Namun, konsumsi makanan tersebut secara berlebihan dapat menyebabkan ketidakseimbangan energi dan berujung pada peningkatan berat badan.

Di sisi lain, emotional eating tidak selalu berujung pada kelebihan berat badan. Dalam beberapa kasus, remaja yang mengalami tekanan emosional justru mengalami penurunan nafsu makan sehingga mengonsumsi makanan dalam jumlah yang lebih sedikit dari kebutuhan tubuh. Kondisi ini menunjukkan bahwa respons terhadap stres tidak selalu sama pada setiap individu. Penelitian yang dilakukan pada remaja di SMA Negeri 7 Kota Gorontalo menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat stres, perilaku emotional eating, dan status gizi remaja. Hasil analisis statistik menunjukkan bahwa tingkat stres memiliki hubungan bermakna dengan status gizi, demikian pula perilaku emotional eating. Temuan ini menegaskan bahwa kondisi psikologis memiliki pengaruh yang cukup besar terhadap pola makan dan kesehatan gizi remaja.

Menariknya, penelitian tersebut juga menunjukkan bahwa sebagian besar remaja mengalami tingkat stres pada kategori sedang. Kondisi ini menggambarkan bahwa tekanan yang dialami remaja dalam kehidupan sehari-hari cukup nyata, terutama yang berkaitan dengan tuntutan akademik dan dinamika hubungan sosial di lingkungan sekolah. Selain itu, penelitian juga menemukan bahwa sebagian remaja menunjukkan kecenderungan emotional eating yang cukup tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa makanan sering kali digunakan sebagai cara untuk mengatasi tekanan emosional. Kebiasaan ini dapat berkembang menjadi pola makan yang tidak sehat jika tidak diimbangi dengan kesadaran gizi dan pengelolaan emosi yang baik.

Temuan tersebut memberikan gambaran bahwa masalah gizi remaja tidak dapat dipahami hanya dari perspektif nutrisi semata. Faktor psikologis, terutama stres dan regulasi emosi, memiliki peran penting dalam membentuk perilaku makan remaja. Oleh karena itu, pendekatan dalam mengatasi masalah gizi remaja perlu dilakukan secara lebih holistik dengan mempertimbangkan aspek mental dan emosional.

Dalam konteks kesehatan masyarakat, hal ini memiliki implikasi yang sangat penting. Upaya peningkatan status gizi remaja tidak cukup hanya dilakukan melalui edukasi tentang pola makan sehat. Intervensi yang berfokus pada kesehatan mental remaja juga perlu diperkuat, terutama dalam membantu mereka mengelola stres dan emosi secara lebih adaptif. Sekolah memiliki peran strategis dalam upaya tersebut. Lingkungan sekolah bukan hanya tempat belajar akademik, tetapi juga ruang penting untuk membentuk kebiasaan hidup sehat. Program pendidikan kesehatan, konseling psikologis, serta kegiatan yang mendukung kesejahteraan emosional remaja dapat membantu mengurangi risiko perilaku makan yang tidak sehat.

Pada akhirnya, memahami hubungan antara stres, emotional eating, dan status gizi remaja memberikan perspektif baru bahwa kesehatan fisik dan kesehatan mental tidak dapat dipisahkan. Keduanya saling berkaitan dan memengaruhi satu sama lain. Jika kesehatan mental remaja dapat dijaga dengan baik, maka peluang untuk membentuk pola makan yang sehat juga akan semakin besar. Dengan demikian, upaya meningkatkan status gizi remaja tidak hanya berfokus pada makanan yang dikonsumsi, tetapi juga pada bagaimana remaja mengelola emosi dan tekanan yang mereka hadapi dalam kehidupan sehari-hari. (Artikel penelitian dipublikasikan melalui laman berikut)

Ikuti berita lainnya

Prodi S1 Manajemen UNG Raih Akreditasi Unggul, Perkuat Posisi sebagai Program Studi Berdaya Saing Nasional
16 Jul 2026
09:35 WITA

Prodi S1 Manajemen UNG Raih Akreditasi Unggul, Perkuat Posisi sebagai Program Studi Berdaya Saing Nasional

Abdul Wahid Rauf

GORONTALO – Program Studi Sarjana (S1) Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) meraih predikat Akreditasi Unggul, dari Lembaga Akreditasi Mandiri Ekonomi, Manajemen, Bisnis, dan Akuntansi (LAMEMBA) berdasarkan Keputusan LAMEMBA Nomor 178/DE/A.5/LAMEMBA-U/VII/2026.Capaian ini menjadi pengakuan atas konsistensi prodi  manajemen dalam menyelenggarakan pendidikan tinggi yang bermutu, adaptif terhadap perkembangan zaman, dan berorientasi pada peningkatan kualitas secara berkelanjutan.Keberhasilan meraih Akreditasi Unggul tidak diperoleh secara instan. Prodi manajemen harus melalui serangkaian proses penilaian, mulai dari evaluasi dokumen, asesmen lapangan, hingga verifikasi berbagai aspek penyelenggaraan pendidikan oleh tim asesor LAMEMBA.Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis UNG, Dr. Raflin Hinelo, M.Pd., menyampaikan bahwa pencapaian tersebut merupakan hasil kerja keras seluruh sivitas akademika dalam membangun budaya mutu yang berkelanjutan.Menurutnya, predikat Akreditasi Unggul menjadi bukti bahwa prodi manajemen telah memenuhi standar tertinggi dalam berbagai aspek penilaian, mulai dari tata kelola prodi, implementasi kurikulum berbasis luaran (Outcome-Based Education), kualitas sumber daya manusia, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, kemahasiswaan, hingga jejaring kerja sama.“Akreditasi Unggul merupakan bukti kualitas yang dimiliki prodi manajemen. Hasil ini menunjukkan bahwa seluruh aspek penyelenggaraan pendidikan telah memenuhi standar terbaik yang ditetapkan LAMEMBA. Tentu capaian ini merupakan hasil kolaborasi seluruh dosen, tenaga kependidikan, mahasiswa, alumni, serta para mitra yang selama ini mendukung pengembangan program studi,” ujar Raflin.Ia menambahkan, capaian tersebut sekaligus menjadi motivasi untuk terus meningkatkan kualitas layanan akademik agar mampu menjawab tantangan dunia pendidikan tinggi dan kebutuhan dunia kerja yang terus berkembang.Apresiasi juga disampaikan Rektor UNG, Prof. Dr. Ir. Eduart Wolok, S.T., M.T. Menurutnya, raihan Akreditasi Unggul semakin memperkuat posisi prodi manajemen, sebagai salah satu prodi yang mampu menghasilkan lulusan kompeten, profesional, berintegritas, serta memiliki daya saing di tingkat nasional maupun internasional.“Predikat ini menunjukkan bahwa prodi manajemen telah memiliki kualitas yang diakui secara nasional. Capaian ini harus menjadi motivasi untuk terus menghadirkan inovasi dalam pembelajaran, memperkuat budaya riset, meningkatkan kolaborasi dengan dunia usaha dan dunia industri, serta memperluas jejaring kerja sama internasional," ungkap Eduart.Namun demikian, Rektor menegaskan bahwa predikat Akreditasi Unggul bukanlah garis akhir dari proses peningkatan mutu.  Pengakuan tersebut justru menjadi amanah besar bagi seluruh sivitas akademika untuk terus menjaga kualitas pendidikan, meningkatkan pelayanan akademik, serta memperkuat kontribusi program studi dalam menghasilkan sumber daya manusia unggul yang mampu memberikan dampak nyata bagi pembangunan daerah maupun nasional. (**)

Mahasiswa FSB Lolos Program Bergengsi Belajar Bersama Maestro 2026, Siap Menimba Ilmu dari Maestro Seni Indonesia
16 Jul 2026
02:00 WITA

Mahasiswa FSB Lolos Program Bergengsi Belajar Bersama Maestro 2026, Siap Menimba Ilmu dari Maestro Seni Indonesia

Abdul Wahid Rauf

GORONTALO – Prestasi membanggakan kembali ditorehkan mahasiswa Universitas Negeri Gorontalo (UNG) di tingkat nasional. Muhammad Najmi, mahasiswa Program Studi Pendidikan Seni Drama, Tari, dan Musik (Sendratasik), Fakultas Sastra dan Budaya (FSB) UNG, berhasil lolos sebagai peserta Program Belajar Bersama Maestro (BBM) 2026, sebuah program prestisius yang diselenggarakan oleh Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia untuk melahirkan generasi muda pelestari seni dan budaya Nusantara.Keberhasilan tersebut menempatkan Muhammad Najmi sebagai salah satu mahasiswa terbaik dari berbagai daerah di Indonesia yang akan memperoleh kesempatan langka belajar secara langsung bersama para maestro seni dan budaya Indonesia. Program ini akan berlangsung selama satu bulan, mulai 15 Juli hingga 15 Agustus 2026, di Jakarta.Belajar Bersama Maestro merupakan program nasional yang dirancang untuk menjembatani proses transfer pengetahuan, keterampilan, filosofi, hingga nilai-nilai budaya dari para maestro kepada generasi muda. Selama mengikuti program, peserta tidak hanya memperoleh pengalaman praktik berkesenian, tetapi juga mendalami proses kreatif yang menjadi ciri khas para seniman dan budayawan Indonesia.Keikutsertaan Muhammad Najmi merupakan hasil dari proses seleksi yang berlangsung sangat kompetitif. Selain kemampuan artistik, peserta juga dinilai berdasarkan komitmen mereka dalam menjaga, mengembangkan, dan mewariskan kekayaan budaya Indonesia kepada generasi mendatang.Bagi Muhammad Najmi, kesempatan mengikuti BBM 2026 menjadi pengalaman akademik sekaligus ruang pembelajaran yang tidak dapat diperoleh di ruang kelas. Melalui interaksi langsung dengan para maestro, ia akan memperluas wawasan mengenai teknik berkesenian, nilai-nilai budaya, serta pendekatan kreatif dalam melestarikan seni tradisional Indonesia.Dekan Fakultas Sastra dan Budaya UNG, Prof. Dra. Nonny Basalama, M.A., Ph.D., menyampaikan apresiasi atas keberhasilan mahasiswa FSB tersebut. Menurutnya, capaian ini menjadi bukti bahwa mahasiswa FSB UNG memiliki kompetensi, kreativitas, dan daya saing yang mampu bersaing pada program-program nasional bergengsi di bidang seni dan budaya."Program Belajar Bersama Maestro merupakan kesempatan yang sangat berharga bagi mahasiswa untuk belajar langsung dari para maestro seni Indonesia. Pengalaman ini tidak hanya memperkaya pengetahuan dan keterampilan berkesenian, tetapi juga membentuk karakter mahasiswa sebagai generasi pelestari budaya bangsa," ungkap Prof. Nonny.Ia berharap pengalaman yang diperoleh Muhammad Najmi selama mengikuti program dapat ditransformasikan kepada mahasiswa lainnya, sehingga mampu memperkuat budaya akademik sekaligus mendorong lahirnya lebih banyak prestasi di bidang seni dan budaya.Sementara itu, Rektor UNG melalui Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Alumni, Prof. Dr. Mohamad Amir Arham, M.E., menilai keberhasilan tersebut semakin menegaskan kualitas mahasiswa UNG yang mampu bersaing pada program-program nasional bergengsi.Menurutnya, partisipasi mahasiswa dalam Program Belajar Bersama Maestro sejalan dengan komitmen Universitas Negeri Gorontalo dalam mencetak lulusan yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga kreatif, inovatif, serta memiliki kepedulian terhadap pelestarian seni dan budaya Indonesia."Ilmu dan pengalaman yang diperoleh Muhammad Najmi selama mengikuti program, diharapkan dapat ditransformasikan kepada mahasiswa lainnya, sehingga mampu memperkuat budaya akademik sekaligus mendorong lahirnya lebih banyak prestasi di bidang seni dan budaya,” harap Amir.

Inovasi Mahasiswa untuk Sekolah Dipamerkan, UNG Mengajar Batch 9 Tunjukkan Kontribusi Nyata bagi Pendidikan di Kabupaten Gorontalo
15 Jul 2026
08:20 WITA

Inovasi Mahasiswa untuk Sekolah Dipamerkan, UNG Mengajar Batch 9 Tunjukkan Kontribusi Nyata bagi Pendidikan di Kabupaten Gorontalo

Abdul Wahid Rauf

GORONTALO – Beragam inovasi pembelajaran hasil kreativitas mahasiswa UNG dipamerkan dalam Pameran Produk Program UNG Mengajar Batch 9 Wilayah Kabupaten Gorontalo, yang diselenggarakan oleh Lembaga Pengembangan Pembelajaran dan Penjaminan Mutu (LPMPP) UNG, Rabu (8/7), di SMP Negeri 3 Limboto Barat.Pameran ini menjadi ajang diseminasi berbagai luaran Program UNG Mengajar yang telah dijalankan selama satu semester di sekolah-sekolah mitra. Tidak sekadar menampilkan hasil karya, kegiatan ini juga menjadi bukti nyata kontribusi mahasiswa dalam menghadirkan inovasi untuk mendukung peningkatan kualitas pembelajaran di Kabupaten Gorontalo.Pada pelaksanaan UNG Mengajar Batch 9, universitas menugaskan 217 mahasiswa untuk mengabdi di 19 sekolah mitra, yang terdiri atas jenjang SD, SMP, SMA, dan MA di Kabupaten Gorontalo. Selama berada di sekolah, para mahasiswa berkolaborasi dengan guru dalam mengembangkan berbagai metode dan media pembelajaran yang lebih kreatif, inovatif, dan sesuai dengan kebutuhan peserta didik.Berbagai produk inovatif dipamerkan, mulai dari modul ajar Kurikulum Merdeka, media pembelajaran berbasis teknologi digital, alat peraga edukatif, perangkat pembelajaran interaktif, hingga program penguatan literasi dan pendidikan karakter. Seluruh karya tersebut merupakan hasil implementasi program yang telah diterapkan langsung di sekolah-sekolah mitra.Kepala LPMPP UNG, Prof. Dr. Elya Nusantari, M.Pd., menjelaskan bahwa pameran produk merupakan wadah untuk memperlihatkan berbagai inovasi yang telah dikembangkan mahasiswa selama mengikuti Program UNG Mengajar.Menurutnya, kegiatan tersebut tidak hanya menjadi media publikasi hasil program, tetapi juga ruang berbagi pengalaman dan inspirasi antarmahasiswa, guru, maupun sekolah dalam mengembangkan praktik pembelajaran yang lebih efektif.“Berbagai produk yang dipamerkan meliputi media pembelajaran, alat peraga edukatif, perangkat pembelajaran, serta hasil program kerja yang telah diterapkan di masing-masing sekolah. Melalui pameran ini, kami berharap inovasi yang dihasilkan dapat menjadi referensi bagi sekolah lain dan terus dikembangkan untuk meningkatkan mutu pendidikan,” ujar Elya.Suasana pameran berlangsung semarak dengan hadirnya 19 stan sekolah mitra yang menampilkan berbagai hasil karya mahasiswa bersama peserta didik. Pengunjung dapat melihat secara langsung media pembelajaran inovatif, proyek kolaboratif siswa, hingga dokumentasi kegiatan mahasiswa selama menjalankan program di sekolah.Sementara itu, Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Kerja Sama, dan Sistem Informasi UNG, Dr. Harto Malik, M.Hum., mengapresiasi sinergi yang telah terbangun antara Universitas Negeri Gorontalo, Pemerintah Kabupaten Gorontalo, serta sekolah-sekolah mitra dalam menyukseskan Program UNG Mengajar.Ia berharap berbagai produk yang dihasilkan mahasiswa tidak berhenti sebagai hasil pameran semata, tetapi dapat dimanfaatkan dan dikembangkan secara berkelanjutan oleh sekolah sebagai bagian dari upaya meningkatkan kualitas proses belajar mengajar.“Diharapkan inovasi yang telah dihasilkan mahasiswa dapat terus digunakan dan disempurnakan oleh sekolah. Kolaborasi antara perguruan tinggi dan sekolah seperti ini menjadi langkah strategis dalam mendorong peningkatan mutu pendidikan di daerah," ungkap Harto.Apresiasi juga disampaikan Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Gorontalo, Dr. Abd. Waris, S.Pd., M.Pd. Menurutnya, kehadiran mahasiswa UNG Mengajar telah memberikan kontribusi positif bagi sekolah, terutama dalam menghadirkan inovasi pembelajaran yang mampu meningkatkan kreativitas guru dan peserta didik.“Semoga kerja sama antara Pemerintah Kabupaten Gorontalo dan UNG dapat terus berlanjut, sehingga semakin banyak sekolah yang merasakan manfaat dari program tersebut,” harapnya.Melalui Pameran Produk UNG Mengajar Batch 9, Universitas Negeri Gorontalo kembali menegaskan komitmennya dalam menghadirkan inovasi pendidikan yang berdampak langsung bagi sekolah dan masyarakat. Program ini tidak hanya menjadi ruang pembelajaran bagi mahasiswa, tetapi juga menjadi wujud nyata kontribusi perguruan tinggi dalam memperkuat kualitas pendidikan melalui kolaborasi, kreativitas, dan pengabdian. (**)

Lihat Semua Berita