Site Logo

Ketika Sastra Menjadi Suara Alam: Penelitian Mahasiswa FSB Ungkap Pesan Ekologis dalam Novel Batu Berkaki

Penelitian
Abdul Wahid Rauf
12 May 2026
09:29 WITA
13 dilihat
Ketika Sastra Menjadi Suara Alam: Penelitian Mahasiswa FSB Ungkap Pesan Ekologis dalam Novel Batu Berkaki

Di tengah meningkatnya berbagai persoalan lingkungan, sastra ternyata mampu menjadi media yang efektif untuk membangun kesadaran ekologis masyarakat. Hal inilah yang terungkap dalam penelitian skripsi yang dilakukan oleh Witrian Harun, mahasiswa Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra dan Budaya (FSB), Universitas Negeri Gorontalo.

Melalui penelitian berjudul “Eksploitasi Lingkungan dalam Novel Batu Berkaki Karya Chandra Bientang”, Witrian mengkaji bagaimana karya sastra dapat merefleksikan berbagai persoalan kerusakan lingkungan sekaligus menawarkan nilai-nilai etika yang mendorong manusia untuk hidup lebih harmonis dengan alam.

Penelitian yang dibimbing oleh Dr. Sitti Rachmi Masie, M.Pd. dan Zilfa Achmad Bagtayan, S.Pd., M.A. ini berangkat dari novel Batu Berkaki, sebuah karya yang mengisahkan perjuangan masyarakat menghadapi kerusakan lingkungan akibat keserakahan manusia. Novel tersebut tidak hanya menampilkan dampak eksploitasi alam, tetapi juga menggambarkan upaya memulihkan keseimbangan lingkungan melalui kesadaran moral dan tanggung jawab ekologis.

Dalam penelitiannya, Witrian menggunakan pendekatan ekokritik yang dikembangkan oleh Greg Garrard untuk mengidentifikasi bentuk-bentuk eksploitasi lingkungan dalam novel. Selain itu, penelitian ini juga memanfaatkan teori etika lingkungan dari A. Sonny Keraf guna mengungkap nilai-nilai moral yang terkandung di dalam cerita.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa novel Batu Berkaki sarat dengan gambaran kerusakan lingkungan. Witrian menemukan 42 data eksploitasi lingkungan yang mencakup pencemaran, perusakan hutan, ancaman terhadap satwa, hilangnya ruang hidup masyarakat, hingga eksploitasi bumi secara berlebihan. Temuan tersebut menunjukkan bahwa persoalan lingkungan menjadi isu sentral yang dibangun secara kuat dalam alur cerita novel.

Namun demikian, di balik gambaran kerusakan tersebut, novel ini juga menghadirkan pesan-pesan positif mengenai hubungan manusia dengan alam. Penelitian menemukan 19 data yang merepresentasikan etika lingkungan, seperti sikap hormat terhadap alam, tanggung jawab ekologis, solidaritas dengan lingkungan, kasih sayang terhadap makhluk hidup, prinsip tidak merusak alam, hingga pentingnya integritas moral dalam menjaga kelestarian lingkungan.

Menurut Witrian, pesan-pesan ekologis yang terkandung dalam novel menunjukkan bahwa sastra bukan sekadar sarana hiburan, melainkan juga media edukasi yang mampu membangun kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga lingkungan hidup.

“Melalui tokoh, konflik, dan peristiwa yang dihadirkan dalam cerita, pembaca diajak untuk merefleksikan dampak eksploitasi alam serta memahami pentingnya menjaga keseimbangan antara kebutuhan manusia dan kelestarian lingkungan,” ungkapnya.

Temuan penelitian ini semakin menegaskan bahwa karya sastra memiliki peran strategis dalam merespons isu-isu global, termasuk krisis lingkungan yang saat ini menjadi perhatian dunia. Pesan yang disampaikan Chandra Bientang melalui Batu Berkaki memperlihatkan bahwa kesadaran ekologis dapat ditanamkan melalui pendekatan yang lebih humanis dan reflektif.

Bagi dunia pendidikan, hasil penelitian ini membuka peluang pemanfaatan karya sastra sebagai media pembelajaran lingkungan yang lebih kontekstual. Melalui cerita yang dekat dengan kehidupan masyarakat, siswa dan pembaca dapat memahami persoalan lingkungan tidak hanya dari sisi ilmiah, tetapi juga dari perspektif moral dan kemanusiaan.

Penelitian Witrian Harun menjadi bukti bahwa mahasiswa FSB UNG tidak hanya mengkaji bahasa dan sastra sebagai karya estetik, tetapi juga sebagai instrumen penting dalam membangun kesadaran sosial dan lingkungan. Di tengah tantangan perubahan iklim dan degradasi alam yang semakin nyata, sastra hadir sebagai pengingat bahwa menjaga bumi bukan hanya tanggung jawab pemerintah atau aktivis lingkungan, melainkan tugas bersama seluruh umat manusia. (Artikel penelitian selengkpnya dapat dilihat disini)

Ikuti berita lainnya

Rektor UNG Apresiasi Pengukuhan Komisioner KI Pusat 2026–2030, Harapkan Penguatan Keterbukaan Informasi di Era Digital
04 Aug 2026
00:51 WITA

Rektor UNG Apresiasi Pengukuhan Komisioner KI Pusat 2026–2030, Harapkan Penguatan Keterbukaan Informasi di Era Digital

Abdul Wahid Rauf

Menteri Komunikasi dan Digital Republik Indonesia secara resmi mengambil sumpah jabatan sekaligus mengukuhkan tujuh anggota Komisi Informasi (KI) Pusat periode 2026–2030 dalam sebuah prosesi yang berlangsung di Ruang Media Center Kementerian Komunikasi dan Digital RI, Senin (3/8). Pengangkatan tersebut ditetapkan melalui Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 77/P Tahun 2026 tentang Pemberhentian dan Pengangkatan Anggota Komisi Informasi Pusat.Pengukuhan ini menandai dimulainya estafet kepemimpinan baru Komisi Informasi Pusat dalam mengemban amanah untuk memperkuat implementasi keterbukaan informasi publik di Indonesia. Selama lima tahun ke depan, para komisioner akan menjalankan berbagai tugas strategis, mulai dari penyelesaian sengketa informasi publik, penyusunan kebijakan teknis di bidang keterbukaan informasi, hingga memastikan implementasi Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik berjalan optimal di tengah pesatnya transformasi digital.Momentum tersebut mendapat apresiasi dari berbagai kalangan, termasuk Universitas Negeri Gorontalo (UNG), yang selama ini berkomitmen mendukung tata kelola pemerintahan yang transparan, akuntabel, dan berbasis pelayanan publik.Rektor UNG, Prof. Dr. Ir. Eduart Wolok, S.T., M.T., menyampaikan ucapan selamat kepada seluruh anggota Komisi Informasi Pusat periode 2026–2030 atas amanah yang diberikan negara. Menurutnya, kehadiran komisioner baru diharapkan semakin memperkuat budaya keterbukaan informasi, sebagai fondasi penting dalam mewujudkan tata kelola pemerintahan yang baik."Kami mengucapkan selamat kepada seluruh Komisioner Komisi Informasi Pusat periode 2026–2030 yang telah resmi dikukuhkan. Amanah ini memiliki peran yang sangat strategis dalam menjaga hak masyarakat, untuk memperoleh informasi yang terbuka, akurat, dan dapat dipertanggungjawabkan," ujar Eduart.Lebih lanjut, ia berharap kepemimpinan baru KI Pusat dapat terus menghadirkan berbagai inovasi dalam penguatan implementasi keterbukaan informasi publik, terutama di era digital yang menuntut layanan informasi semakin cepat, mudah diakses, dan terpercaya.Dengan kepemimpinan baru Komisi Informasi Pusat, diharapkan sinergi antara pemerintah, lembaga publik, dan perguruan tinggi semakin kuat dalam membangun ekosistem informasi yang terbuka, transparan, dan adaptif terhadap perkembangan teknologi. Langkah tersebut menjadi bagian penting dalam mewujudkan tata kelola publik yang modern sekaligus memperkuat partisipasi masyarakat dalam pembangunan nasional. (**)

74 Mahasiswa Profesi Ners UNG Ikuti PANUM, Awali Langkah Menjadi Perawat Profesional
03 Aug 2026
05:08 WITA

74 Mahasiswa Profesi Ners UNG Ikuti PANUM, Awali Langkah Menjadi Perawat Profesional

Abdul Wahid Rauf

GORONTALO – Fakultas Olahraga dan Kesehatan (FOK) UNG memperkuat kualitas pendidikan profesi keperawatan, melalui pelaksanaan Penerimaan Kepaniteraan Umum (PANUM) bagi mahasiswa Program Studi Pendidikan Profesi Ners Angkatan XXV. Sebanyak 74 mahasiswa resmi memulai tahapan pendidikan profesi melalui kegiatan yang digelar pada Senin (3/8).Kegiatan yang menjadi gerbang awal sebelum mahasiswa memasuki praktik profesi tersebut, dibuka langsung oleh Dekan FOK UNG, Dr. Hartono Hadjarati, S.Pd., M.Pd., AIFO.P., didampingi Wakil Dekan Bidang Akademik FOK UNG, Dr. Nasrun Pakaya, M.Kep.PANUM menjadi momentum penting dalam membentuk kesiapan akademik, etika, dan profesionalisme mahasiswa sebelum terjun ke berbagai wahana praktik klinik, yang akan dilaksanakan selama 3–15 Agustus 2026. Setelah menyelesaikan tahapan tersebut, mahasiswa akan mengikuti Basic Trauma Cardiac Life Support (BTCLS) selama satu minggu sebagai bekal kompetensi dasar kegawatdaruratan sebelum menjalani praktik profesi di rumah sakit dan fasilitas pelayanan kesehatan.Dekan FOK UNG, Dr. Hartono Hadjarati, menegaskan bahwa Kepaniteraan Umum bukan sekadar kegiatan orientasi, tetapi merupakan proses pembentukan karakter profesional bagi calon perawat. Kepaniteraan Umum menjadi langkah awal bagi mahasiswa Profesi Ners untuk memahami tata laksana pendidikan profesi, etika pelayanan, kedisiplinan, serta tanggung jawab sebagai calon tenaga kesehatan.“Mahasiswa harus memiliki kesiapan akademik, mental, dan keterampilan agar mampu memberikan pelayanan keperawatan yang berkualitas," ujarnya.Menurutnya, profesi perawat menuntut kompetensi yang utuh, tidak hanya dalam penguasaan ilmu dan keterampilan klinis, tetapi juga kemampuan berkomunikasi, empati, integritas, serta tanggung jawab terhadap pasien."Melalui PANUM dan BTCLS, kami berharap mahasiswa semakin siap menghadapi pendidikan profesi, serta mampu menunjukkan kualitas terbaik ketika berada di lahan praktik. FOK UNG berkomitmen menghasilkan lulusan Ners yang kompeten, humanis, berintegritas, dan siap menjawab kebutuhan pelayanan kesehatan masyarakat," tambahnya.Sementara itu, Koordinator Program Studi Pendidikan Profesi Ners, Ns. Ibrahim Suleman, S.Kep., M.Kep., menjelaskan bahwa PANUM dirancang sebagai proses transisi mahasiswa dari tahap akademik menuju tahap profesi.Selama dua minggu pelaksanaan, mahasiswa akan memperoleh pembekalan mengenai aturan akademik, tata tertib pendidikan profesi, mekanisme pembimbingan, capaian kompetensi, hingga berbagai aspek teknis yang akan dihadapi selama praktik klinik."PANUM menjadi fondasi penting sebelum mahasiswa memasuki setiap stase profesi. Kami ingin memastikan seluruh mahasiswa memahami sistem pendidikan profesi, memiliki kesiapan akademik dan mental, serta mampu menjalankan praktik keperawatan secara profesional sesuai standar kompetensi," jelas Ibrahim.Melalui penyelenggaraan PANUM, UNG berkomitmen untuk menghasilkan tenaga kesehatan yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki karakter pelayanan yang humanis dan profesional. Dengan pembekalan yang komprehensif sejak awal pendidikan profesi, lulusan Ners UNG diharapkan mampu memberikan kontribusi nyata dalam meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan serta menjawab tantangan dunia kesehatan yang terus berkembang.

PKKMB UNG 2026 Resmi Perkenalkan Logo dan Maskot, Simbol Semangat Kampus Kerakyatan yang Berdampak
31 Jul 2026
08:41 WITA

PKKMB UNG 2026 Resmi Perkenalkan Logo dan Maskot, Simbol Semangat Kampus Kerakyatan yang Berdampak

Abdul Wahid Rauf

Universitas Negeri Gorontalo (UNG) secara resmi memperkenalkan logo dan maskot Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) UNG 2026, sebagai identitas yang akan mewarnai seluruh rangkaian pelaksanaan PKKMB tahun ini. Peluncuran logo dan maskot tersebut menjadi penanda dimulainya semangat baru bagi ribuan mahasiswa baru, yang akan bergabung menjadi bagian dari keluarga besar Universitas Negeri Gorontalo.Mengusung tema "UNG Kampus Kerakyatan, Berdampak untuk Semua", logo dan maskot PKKMB 2026 merepresentasikan komitmen UNG dalam membangun kampus yang inklusif, adaptif, dan mampu menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat melalui pendidikan, penelitian, pengabdian, serta kolaborasi yang berkelanjutan.Pada PKKMB tahun ini, Hulo dan Langi tampil sebagai maskot resmi yang akan menemani seluruh rangkaian kegiatan mahasiswa baru. Keduanya hadir sebagai representasi nilai-nilai keberanian, persatuan, optimisme, dan semangat untuk terus belajar serta berkembang.Hulo dan Langi tidak hanya menjadi karakter visual, tetapi juga membawa pesan bahwa setiap mahasiswa baru memiliki kesempatan yang sama, untuk mengembangkan potensi diri, membangun prestasi, serta memberikan kontribusi positif bagi masyarakat.Melalui kehadiran kedua maskot tersebut, mahasiswa baru diharapkan mampu memulai perjalanan akademik dengan penuh percaya diri, menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan, menghargai keberagaman, serta memiliki kepedulian terhadap lingkungan dan masyarakat.Melalui logo dan maskot PKKMB 2026 ini, UNG kembali menegaskan komitmennya dalam menghadirkan proses pengenalan kehidupan kampus yang edukatif, inspiratif, dan membangun karakter. PKKMB UNG 2026 diharapkan menjadi langkah awal bagi mahasiswa baru untuk mengenal budaya akademik kampus sekaligus mempersiapkan diri menjadi generasi unggul yang siap berkarya, berprestasi, dan memberikan manfaat bagi masyarakat sesuai semangat "UNG Kampus Kerakyatan, Berdampak untuk Semua."

UNG Mengukuhkan Ratusan Lulusan pada Prosesi Wisuda ke-62
31 Jul 2026
00:50 WITA

UNG Mengukuhkan Ratusan Lulusan pada Prosesi Wisuda ke-62

Abdul Wahid Rauf

GORONTALO – Universitas Negeri Gorontalo (UNG) kembali menorehkan langkah penting, dalam mencetak ratusan sumber daya manusia berkualitas melalui pelaksanaan Wisuda ke-62. Sebanyak 700 lulusan dari berbagai program studi resmi dikukuhkan dalam prosesi akademik yang berlangsung khidmat, menandai lahirnya generasi baru yang siap berkarya dan mengabdi bagi masyarakat.Wisudawan yang dikukuhkan berasal dari berbagai jenjang pendidikan, mulai dari program diploma, sarjana, profesi, magister maupun doktor. Prosesi wisuda dipimpin langsung oleh Rektor UNG, Prof. Dr. Ir. Eduart Wolok, S.T., M.T., serta dihadiri jajaran pimpinan universitas, senat akademik, keluarga wisudawan, dan para tamu undangan yang turut menjadi saksi keberhasilan para lulusan menuntaskan perjalanan akademiknya.Suasana haru dan penuh kebanggaan menyelimuti Auditorium UNG ketika satu per satu lulusan dikukuhkan. Tepuk tangan keluarga dan sivitas akademika menjadi bentuk apresiasi atas perjuangan panjang para mahasiswa dalam menyelesaikan pendidikan tinggi di Kampus Kerakyatan.Dalam sambutannya, Rektor UNG, Prof. Dr. Ir. Eduart Wolok, S.T., M.T., menegaskan bahwa wisuda bukanlah garis akhir dari perjalanan, melainkan awal dari babak baru untuk memberikan kontribusi nyata kepada masyarakat."Hari ini bukan akhir dari perjuangan, tetapi awal dari pengabdian. Ilmu yang diperoleh selama di bangku kuliah harus menjadi bekal untuk menghadirkan inovasi, solusi, dan karya nyata bagi masyarakat, daerah, dan bangsa," ujar Rektor.Menurutnya, lulusan UNG harus mampu menjadi insan yang adaptif terhadap perubahan, memiliki integritas, serta mampu bersaing di tengah dinamika global yang terus berkembang. Tantangan masa depan membutuhkan sumber daya manusia yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki karakter kuat, kreativitas, dan kepedulian sosial.Rektor juga mengajak seluruh lulusan untuk terus menjaga nama baik almamater melalui dedikasi dan prestasi di berbagai bidang profesi. Ia meyakini bahwa keberhasilan para alumni akan menjadi cerminan kualitas pendidikan yang dibangun Universitas Negeri Gorontalo."Jadilah agen perubahan di mana pun berada. Bangun karya, ciptakan inovasi, dan berikan manfaat bagi masyarakat sesuai dengan bidang keilmuan yang dimiliki. Itulah makna sesungguhnya dari sebuah pendidikan tinggi," pesannya.Rektor menuturkan momentum wisuda ke-62 menjadi bukti konsistensi UNG dalam menjalankan misinya, sebagai perguruan tinggi yang melahirkan lulusan berdaya saing dan berkarakter. Selain membekali mahasiswa dengan kompetensi akademik dan profesional, UNG juga terus menanamkan nilai-nilai integritas, kepemimpinan, kolaborasi, serta semangat pengabdian yang menjadi fondasi dalam menghadapi tantangan dunia kerja maupun kehidupan bermasyarakat. (**)

Lihat Semua Berita