Site Logo

Ketika Cerita Menjadi Edukasi, Storytelling Berbasis Komik untuk Meningkatkan Kesadaran Bahaya Merkuri pada Anak di Wilayah Pertambangan

Penelitian
Abdul Wahid Rauf
22 Mar 2026
16:12 WITA
99 dilihat
Ketika Cerita Menjadi Edukasi, Storytelling Berbasis Komik untuk Meningkatkan Kesadaran Bahaya Merkuri pada Anak di Wilayah Pertambangan

Di berbagai wilayah pertambangan di Indonesia, persoalan kesehatan lingkungan sering kali menjadi isu yang tidak terlihat secara langsung, namun memiliki dampak jangka panjang yang serius. Salah satu ancaman terbesar yang kerap luput dari perhatian masyarakat adalah paparan merkuri. Logam berat ini banyak digunakan dalam proses pengolahan emas tradisional, terutama pada pertambangan rakyat. Meskipun memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat setempat, penggunaan merkuri dalam aktivitas pertambangan juga membawa konsekuensi kesehatan yang signifikan, terutama bagi kelompok rentan seperti anak-anak.

Merkuri merupakan zat beracun yang dapat mencemari lingkungan melalui udara, tanah, maupun air. Paparan merkuri dapat masuk ke dalam tubuh manusia melalui inhalasi uap, konsumsi makanan yang terkontaminasi, atau kontak langsung dengan lingkungan yang tercemar. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa paparan merkuri memiliki efek neurotoksik yang kuat, terutama terhadap sistem saraf pusat. Pada anak-anak, paparan tersebut dapat mengganggu perkembangan neurologis, menurunkan kemampuan kognitif, serta memengaruhi koordinasi motorik dan fungsi gerak tubuh.

Masalah ini menjadi semakin kompleks ketika dikaitkan dengan kondisi masyarakat yang tinggal di sekitar wilayah pertambangan. Anak-anak yang tumbuh di lingkungan tersebut sering kali tidak memiliki pengetahuan yang memadai mengenai bahaya bahan kimia beracun di sekitar mereka. Tanpa pemahaman yang cukup, mereka berpotensi terpapar zat berbahaya dalam kehidupan sehari-hari, baik melalui lingkungan tempat tinggal maupun aktivitas keluarga yang berkaitan dengan pertambangan. Oleh karena itu, edukasi kesehatan sejak dini menjadi langkah penting untuk meningkatkan kesadaran dan membangun perilaku preventif dalam masyarakat.

Dalam konteks ini, pendekatan edukasi konvensional seperti ceramah sering kali kurang efektif ketika diterapkan kepada anak usia sekolah dasar. Anak-anak cenderung lebih mudah memahami informasi yang disampaikan melalui cerita, visual, dan pengalaman yang dekat dengan kehidupan mereka. Hal inilah yang melatarbelakangi penggunaan storytelling sebagai metode komunikasi kesehatan yang lebih kontekstual dan menarik.

Storytelling bukan sekadar metode bercerita. Dalam perspektif pendidikan kesehatan, storytelling merupakan strategi komunikasi yang mampu menghubungkan informasi ilmiah dengan pengalaman emosional dan kognitif audiens. Melalui alur cerita yang menarik, pesan kesehatan dapat disampaikan secara lebih sederhana, namun tetap mempertahankan makna ilmiah yang mendasarinya. Ketika anak-anak terlibat secara emosional dalam sebuah cerita, mereka cenderung lebih mudah memahami dan mengingat pesan yang disampaikan.

Penggunaan media komik dalam storytelling semakin memperkuat efektivitas metode ini. Komik menggabungkan teks naratif dengan ilustrasi visual yang menarik, sehingga memudahkan anak-anak dalam memahami konsep yang kompleks. Dalam konteks edukasi kesehatan lingkungan, komik dapat menggambarkan hubungan sebab-akibat antara paparan bahan berbahaya dan dampaknya terhadap kesehatan tubuh secara lebih konkret.

Pendekatan ini diterapkan dalam kegiatan edukasi kesehatan yang dilakukan kepada siswa sekolah dasar di wilayah pertambangan. Melalui storytelling berbasis komik, siswa diperkenalkan pada konsep dasar mengenai merkuri, bentuk paparan yang mungkin terjadi di lingkungan sekitar, serta dampaknya terhadap kesehatan tubuh, khususnya sistem saraf dan fungsi gerak. Cerita yang disampaikan tidak hanya berfokus pada informasi ilmiah, tetapi juga dikemas dalam alur naratif yang dekat dengan kehidupan anak-anak.

Hasil kegiatan tersebut menunjukkan bahwa pendekatan storytelling berbasis komik mampu meningkatkan pemahaman siswa mengenai bahaya paparan merkuri. Sebelum kegiatan edukasi dilakukan, sebagian besar siswa hanya mengetahui bahwa merkuri merupakan zat berbahaya, tanpa memahami bagaimana zat tersebut dapat memengaruhi kesehatan tubuh. Setelah mengikuti sesi storytelling, siswa dapat menjelaskan kembali pengertian merkuri, mengenali bentuk paparannya, serta memahami risiko kesehatan yang dapat ditimbulkannya.

Lebih dari sekadar peningkatan pengetahuan, kegiatan ini juga menunjukkan bahwa metode pembelajaran yang kreatif dapat meningkatkan partisipasi aktif siswa. Selama proses storytelling berlangsung, siswa terlihat lebih antusias dalam mendengarkan cerita, mengajukan pertanyaan, dan berdiskusi mengenai materi yang disampaikan. Hal ini menunjukkan bahwa pendekatan naratif mampu menciptakan suasana belajar yang lebih interaktif dibandingkan dengan metode ceramah konvensional.

Dari perspektif fisioterapi, kegiatan edukasi ini memiliki makna yang lebih luas. Selama ini, fisioterapi sering dipahami hanya sebagai layanan rehabilitasi setelah terjadinya cedera atau gangguan fungsi gerak. Padahal, fisioterapi juga memiliki peran penting dalam upaya promotif dan preventif kesehatan masyarakat. Edukasi mengenai faktor risiko lingkungan yang dapat memengaruhi sistem neuromotor merupakan salah satu bentuk kontribusi fisioterapi dalam pencegahan gangguan kesehatan sejak dini.

Paparan merkuri, misalnya, diketahui dapat memengaruhi sistem saraf yang berperan penting dalam koordinasi gerak, keseimbangan, serta fungsi motorik tubuh. Dengan memahami risiko tersebut sejak usia sekolah, anak-anak diharapkan memiliki kesadaran yang lebih tinggi untuk menjaga kesehatan tubuh dan lingkungan di sekitarnya. Edukasi kesehatan yang diberikan tidak hanya meningkatkan pengetahuan, tetapi juga menumbuhkan kesadaran mengenai pentingnya menjaga fungsi gerak sebagai bagian dari kualitas hidup.

Selain itu, pendekatan storytelling berbasis komik juga menunjukkan bahwa edukasi kesehatan tidak harus selalu disampaikan melalui metode formal yang kaku. Integrasi antara cerita, ilustrasi, dan interaksi sosial dapat menciptakan pengalaman belajar yang lebih bermakna bagi anak-anak. Dalam jangka panjang, pendekatan seperti ini berpotensi menjadi model edukasi kesehatan masyarakat yang lebih efektif, terutama di wilayah dengan risiko lingkungan yang tinggi.

Namun demikian, upaya edukasi ini tidak dapat berdiri sendiri. Perubahan perilaku kesehatan memerlukan dukungan dari berbagai pihak, termasuk keluarga, sekolah, dan komunitas masyarakat. Kolaborasi antara tenaga kesehatan, pendidik, serta pemangku kepentingan di bidang lingkungan menjadi faktor penting dalam memastikan bahwa pesan kesehatan yang disampaikan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Pada akhirnya, pengalaman ini menunjukkan bahwa cerita memiliki kekuatan yang luar biasa dalam menyampaikan pesan kesehatan. Ketika informasi ilmiah dikemas dalam bentuk cerita yang sederhana dan menarik, anak-anak tidak hanya memahami pesan tersebut, tetapi juga mampu menginternalisasikannya dalam cara berpikir mereka. Dalam konteks wilayah pertambangan yang sarat dengan risiko kesehatan lingkungan, pendekatan edukasi yang kreatif seperti storytelling berbasis komik dapat menjadi jembatan penting antara pengetahuan ilmiah dan kesadaran masyarakat. Melalui cara ini, edukasi kesehatan tidak lagi sekadar penyampaian informasi, tetapi menjadi proses pembelajaran yang membangun kesadaran, kepedulian, dan tanggung jawab terhadap kesehatan diri serta lingkungan. (Artikel penelitian dipublikasikan melalui laman berikut)

Ikuti berita lainnya

Prodi S1 Manajemen UNG Raih Akreditasi Unggul, Perkuat Posisi sebagai Program Studi Berdaya Saing Nasional
16 Jul 2026
09:35 WITA

Prodi S1 Manajemen UNG Raih Akreditasi Unggul, Perkuat Posisi sebagai Program Studi Berdaya Saing Nasional

Abdul Wahid Rauf

GORONTALO – Program Studi Sarjana (S1) Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) meraih predikat Akreditasi Unggul, dari Lembaga Akreditasi Mandiri Ekonomi, Manajemen, Bisnis, dan Akuntansi (LAMEMBA) berdasarkan Keputusan LAMEMBA Nomor 178/DE/A.5/LAMEMBA-U/VII/2026.Capaian ini menjadi pengakuan atas konsistensi prodi  manajemen dalam menyelenggarakan pendidikan tinggi yang bermutu, adaptif terhadap perkembangan zaman, dan berorientasi pada peningkatan kualitas secara berkelanjutan.Keberhasilan meraih Akreditasi Unggul tidak diperoleh secara instan. Prodi manajemen harus melalui serangkaian proses penilaian, mulai dari evaluasi dokumen, asesmen lapangan, hingga verifikasi berbagai aspek penyelenggaraan pendidikan oleh tim asesor LAMEMBA.Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis UNG, Dr. Raflin Hinelo, M.Pd., menyampaikan bahwa pencapaian tersebut merupakan hasil kerja keras seluruh sivitas akademika dalam membangun budaya mutu yang berkelanjutan.Menurutnya, predikat Akreditasi Unggul menjadi bukti bahwa prodi manajemen telah memenuhi standar tertinggi dalam berbagai aspek penilaian, mulai dari tata kelola prodi, implementasi kurikulum berbasis luaran (Outcome-Based Education), kualitas sumber daya manusia, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, kemahasiswaan, hingga jejaring kerja sama.“Akreditasi Unggul merupakan bukti kualitas yang dimiliki prodi manajemen. Hasil ini menunjukkan bahwa seluruh aspek penyelenggaraan pendidikan telah memenuhi standar terbaik yang ditetapkan LAMEMBA. Tentu capaian ini merupakan hasil kolaborasi seluruh dosen, tenaga kependidikan, mahasiswa, alumni, serta para mitra yang selama ini mendukung pengembangan program studi,” ujar Raflin.Ia menambahkan, capaian tersebut sekaligus menjadi motivasi untuk terus meningkatkan kualitas layanan akademik agar mampu menjawab tantangan dunia pendidikan tinggi dan kebutuhan dunia kerja yang terus berkembang.Apresiasi juga disampaikan Rektor UNG, Prof. Dr. Ir. Eduart Wolok, S.T., M.T. Menurutnya, raihan Akreditasi Unggul semakin memperkuat posisi prodi manajemen, sebagai salah satu prodi yang mampu menghasilkan lulusan kompeten, profesional, berintegritas, serta memiliki daya saing di tingkat nasional maupun internasional.“Predikat ini menunjukkan bahwa prodi manajemen telah memiliki kualitas yang diakui secara nasional. Capaian ini harus menjadi motivasi untuk terus menghadirkan inovasi dalam pembelajaran, memperkuat budaya riset, meningkatkan kolaborasi dengan dunia usaha dan dunia industri, serta memperluas jejaring kerja sama internasional," ungkap Eduart.Namun demikian, Rektor menegaskan bahwa predikat Akreditasi Unggul bukanlah garis akhir dari proses peningkatan mutu.  Pengakuan tersebut justru menjadi amanah besar bagi seluruh sivitas akademika untuk terus menjaga kualitas pendidikan, meningkatkan pelayanan akademik, serta memperkuat kontribusi program studi dalam menghasilkan sumber daya manusia unggul yang mampu memberikan dampak nyata bagi pembangunan daerah maupun nasional. (**)

Mahasiswa FSB Lolos Program Bergengsi Belajar Bersama Maestro 2026, Siap Menimba Ilmu dari Maestro Seni Indonesia
16 Jul 2026
02:00 WITA

Mahasiswa FSB Lolos Program Bergengsi Belajar Bersama Maestro 2026, Siap Menimba Ilmu dari Maestro Seni Indonesia

Abdul Wahid Rauf

GORONTALO – Prestasi membanggakan kembali ditorehkan mahasiswa Universitas Negeri Gorontalo (UNG) di tingkat nasional. Muhammad Najmi, mahasiswa Program Studi Pendidikan Seni Drama, Tari, dan Musik (Sendratasik), Fakultas Sastra dan Budaya (FSB) UNG, berhasil lolos sebagai peserta Program Belajar Bersama Maestro (BBM) 2026, sebuah program prestisius yang diselenggarakan oleh Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia untuk melahirkan generasi muda pelestari seni dan budaya Nusantara.Keberhasilan tersebut menempatkan Muhammad Najmi sebagai salah satu mahasiswa terbaik dari berbagai daerah di Indonesia yang akan memperoleh kesempatan langka belajar secara langsung bersama para maestro seni dan budaya Indonesia. Program ini akan berlangsung selama satu bulan, mulai 15 Juli hingga 15 Agustus 2026, di Jakarta.Belajar Bersama Maestro merupakan program nasional yang dirancang untuk menjembatani proses transfer pengetahuan, keterampilan, filosofi, hingga nilai-nilai budaya dari para maestro kepada generasi muda. Selama mengikuti program, peserta tidak hanya memperoleh pengalaman praktik berkesenian, tetapi juga mendalami proses kreatif yang menjadi ciri khas para seniman dan budayawan Indonesia.Keikutsertaan Muhammad Najmi merupakan hasil dari proses seleksi yang berlangsung sangat kompetitif. Selain kemampuan artistik, peserta juga dinilai berdasarkan komitmen mereka dalam menjaga, mengembangkan, dan mewariskan kekayaan budaya Indonesia kepada generasi mendatang.Bagi Muhammad Najmi, kesempatan mengikuti BBM 2026 menjadi pengalaman akademik sekaligus ruang pembelajaran yang tidak dapat diperoleh di ruang kelas. Melalui interaksi langsung dengan para maestro, ia akan memperluas wawasan mengenai teknik berkesenian, nilai-nilai budaya, serta pendekatan kreatif dalam melestarikan seni tradisional Indonesia.Dekan Fakultas Sastra dan Budaya UNG, Prof. Dra. Nonny Basalama, M.A., Ph.D., menyampaikan apresiasi atas keberhasilan mahasiswa FSB tersebut. Menurutnya, capaian ini menjadi bukti bahwa mahasiswa FSB UNG memiliki kompetensi, kreativitas, dan daya saing yang mampu bersaing pada program-program nasional bergengsi di bidang seni dan budaya."Program Belajar Bersama Maestro merupakan kesempatan yang sangat berharga bagi mahasiswa untuk belajar langsung dari para maestro seni Indonesia. Pengalaman ini tidak hanya memperkaya pengetahuan dan keterampilan berkesenian, tetapi juga membentuk karakter mahasiswa sebagai generasi pelestari budaya bangsa," ungkap Prof. Nonny.Ia berharap pengalaman yang diperoleh Muhammad Najmi selama mengikuti program dapat ditransformasikan kepada mahasiswa lainnya, sehingga mampu memperkuat budaya akademik sekaligus mendorong lahirnya lebih banyak prestasi di bidang seni dan budaya.Sementara itu, Rektor UNG melalui Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Alumni, Prof. Dr. Mohamad Amir Arham, M.E., menilai keberhasilan tersebut semakin menegaskan kualitas mahasiswa UNG yang mampu bersaing pada program-program nasional bergengsi.Menurutnya, partisipasi mahasiswa dalam Program Belajar Bersama Maestro sejalan dengan komitmen Universitas Negeri Gorontalo dalam mencetak lulusan yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga kreatif, inovatif, serta memiliki kepedulian terhadap pelestarian seni dan budaya Indonesia."Ilmu dan pengalaman yang diperoleh Muhammad Najmi selama mengikuti program, diharapkan dapat ditransformasikan kepada mahasiswa lainnya, sehingga mampu memperkuat budaya akademik sekaligus mendorong lahirnya lebih banyak prestasi di bidang seni dan budaya,” harap Amir.

Inovasi Mahasiswa untuk Sekolah Dipamerkan, UNG Mengajar Batch 9 Tunjukkan Kontribusi Nyata bagi Pendidikan di Kabupaten Gorontalo
15 Jul 2026
08:20 WITA

Inovasi Mahasiswa untuk Sekolah Dipamerkan, UNG Mengajar Batch 9 Tunjukkan Kontribusi Nyata bagi Pendidikan di Kabupaten Gorontalo

Abdul Wahid Rauf

GORONTALO – Beragam inovasi pembelajaran hasil kreativitas mahasiswa UNG dipamerkan dalam Pameran Produk Program UNG Mengajar Batch 9 Wilayah Kabupaten Gorontalo, yang diselenggarakan oleh Lembaga Pengembangan Pembelajaran dan Penjaminan Mutu (LPMPP) UNG, Rabu (8/7), di SMP Negeri 3 Limboto Barat.Pameran ini menjadi ajang diseminasi berbagai luaran Program UNG Mengajar yang telah dijalankan selama satu semester di sekolah-sekolah mitra. Tidak sekadar menampilkan hasil karya, kegiatan ini juga menjadi bukti nyata kontribusi mahasiswa dalam menghadirkan inovasi untuk mendukung peningkatan kualitas pembelajaran di Kabupaten Gorontalo.Pada pelaksanaan UNG Mengajar Batch 9, universitas menugaskan 217 mahasiswa untuk mengabdi di 19 sekolah mitra, yang terdiri atas jenjang SD, SMP, SMA, dan MA di Kabupaten Gorontalo. Selama berada di sekolah, para mahasiswa berkolaborasi dengan guru dalam mengembangkan berbagai metode dan media pembelajaran yang lebih kreatif, inovatif, dan sesuai dengan kebutuhan peserta didik.Berbagai produk inovatif dipamerkan, mulai dari modul ajar Kurikulum Merdeka, media pembelajaran berbasis teknologi digital, alat peraga edukatif, perangkat pembelajaran interaktif, hingga program penguatan literasi dan pendidikan karakter. Seluruh karya tersebut merupakan hasil implementasi program yang telah diterapkan langsung di sekolah-sekolah mitra.Kepala LPMPP UNG, Prof. Dr. Elya Nusantari, M.Pd., menjelaskan bahwa pameran produk merupakan wadah untuk memperlihatkan berbagai inovasi yang telah dikembangkan mahasiswa selama mengikuti Program UNG Mengajar.Menurutnya, kegiatan tersebut tidak hanya menjadi media publikasi hasil program, tetapi juga ruang berbagi pengalaman dan inspirasi antarmahasiswa, guru, maupun sekolah dalam mengembangkan praktik pembelajaran yang lebih efektif.“Berbagai produk yang dipamerkan meliputi media pembelajaran, alat peraga edukatif, perangkat pembelajaran, serta hasil program kerja yang telah diterapkan di masing-masing sekolah. Melalui pameran ini, kami berharap inovasi yang dihasilkan dapat menjadi referensi bagi sekolah lain dan terus dikembangkan untuk meningkatkan mutu pendidikan,” ujar Elya.Suasana pameran berlangsung semarak dengan hadirnya 19 stan sekolah mitra yang menampilkan berbagai hasil karya mahasiswa bersama peserta didik. Pengunjung dapat melihat secara langsung media pembelajaran inovatif, proyek kolaboratif siswa, hingga dokumentasi kegiatan mahasiswa selama menjalankan program di sekolah.Sementara itu, Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Kerja Sama, dan Sistem Informasi UNG, Dr. Harto Malik, M.Hum., mengapresiasi sinergi yang telah terbangun antara Universitas Negeri Gorontalo, Pemerintah Kabupaten Gorontalo, serta sekolah-sekolah mitra dalam menyukseskan Program UNG Mengajar.Ia berharap berbagai produk yang dihasilkan mahasiswa tidak berhenti sebagai hasil pameran semata, tetapi dapat dimanfaatkan dan dikembangkan secara berkelanjutan oleh sekolah sebagai bagian dari upaya meningkatkan kualitas proses belajar mengajar.“Diharapkan inovasi yang telah dihasilkan mahasiswa dapat terus digunakan dan disempurnakan oleh sekolah. Kolaborasi antara perguruan tinggi dan sekolah seperti ini menjadi langkah strategis dalam mendorong peningkatan mutu pendidikan di daerah," ungkap Harto.Apresiasi juga disampaikan Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Gorontalo, Dr. Abd. Waris, S.Pd., M.Pd. Menurutnya, kehadiran mahasiswa UNG Mengajar telah memberikan kontribusi positif bagi sekolah, terutama dalam menghadirkan inovasi pembelajaran yang mampu meningkatkan kreativitas guru dan peserta didik.“Semoga kerja sama antara Pemerintah Kabupaten Gorontalo dan UNG dapat terus berlanjut, sehingga semakin banyak sekolah yang merasakan manfaat dari program tersebut,” harapnya.Melalui Pameran Produk UNG Mengajar Batch 9, Universitas Negeri Gorontalo kembali menegaskan komitmennya dalam menghadirkan inovasi pendidikan yang berdampak langsung bagi sekolah dan masyarakat. Program ini tidak hanya menjadi ruang pembelajaran bagi mahasiswa, tetapi juga menjadi wujud nyata kontribusi perguruan tinggi dalam memperkuat kualitas pendidikan melalui kolaborasi, kreativitas, dan pengabdian. (**)

Lihat Semua Berita