Jurusan Farmasi Gelar Kuliah Pakar, Bahas Komunikasi Efektif untuk Meningkatkan Keselamatan Pasien

GORONTALO - Jurusan Farmasi Fakultas Olahraga dan Kesehatan (FOK) Universitas Negeri Gorontalo (UNG) menggelar Kuliah Pakar dengan tema “Meningkatkan Keselamatan Pasien melalui Komunikasi Efektif dalam Pelayanan Kefarmasian” pada 6 April 2026. Kegiatan ilmiah ini menghadirkan narasumber Bustanul Arifin, S.Farm., Apt., M.Sc., MPH., Ph.D dari Fakultas Farmasi Universitas Hasanuddin.
Kuliah pakar ini menjadi momentum penting bagi mahasiswa dan sivitas akademika Jurusan Farmasi FOK UNG untuk memperluas wawasan terkait peran strategis komunikasi dalam pelayanan kefarmasian. Dalam praktik pelayanan kesehatan, komunikasi yang efektif dinilai menjadi salah satu faktor utama dalam mendukung keselamatan pasien, meminimalkan kesalahan penggunaan obat, serta meningkatkan kualitas layanan secara menyeluruh.
Dekan FOK UNG, Hartono Hadjaratie, menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kuliah pakar tersebut sebagai bagian dari komitmen fakultas dalam menghadirkan forum akademik yang relevan dan inspiratif bagi mahasiswa. Ia menilai tema yang diangkat sangat penting karena sejalan dengan tuntutan penguatan kompetensi lulusan di bidang kesehatan, khususnya dalam pelayanan yang berorientasi pada keselamatan pasien.
“Kami menyambut baik pelaksanaan kuliah pakar ini sebagai sarana penguatan wawasan akademik dan profesional bagi mahasiswa Jurusan Farmasi. Tema keselamatan pasien melalui komunikasi efektif sangat relevan dengan kebutuhan pelayanan kesehatan saat ini. Kami berharap kegiatan ini dapat memperkaya pemahaman mahasiswa serta mendorong lahirnya lulusan yang tidak hanya kompeten secara keilmuan, tetapi juga unggul dalam komunikasi dan pelayanan,” ujarnya.
Dalam pemaparannya, Bustanul Arifin, S.Farm., Apt., M.Sc., MPH., Ph.D menjelaskan bahwa pelayanan kefarmasian tidak hanya berfokus pada obat, tetapi juga pada bagaimana informasi obat itu disampaikan secara benar kepada pasien. Menurutnya, komunikasi yang efektif merupakan bagian integral dari upaya keselamatan pasien.
“Keselamatan pasien tidak hanya ditentukan oleh ketepatan terapi, tetapi juga oleh bagaimana informasi disampaikan dan dipahami dengan baik. Tenaga kefarmasian harus mampu membangun komunikasi yang jelas, akurat, dan berempati agar setiap pelayanan benar-benar memberikan manfaat optimal bagi pasien,” ujarnya.
Ia juga menekankan bahwa di era pelayanan kesehatan modern, tenaga farmasi dituntut memiliki kompetensi komunikasi yang baik agar mampu berkolaborasi dengan profesi kesehatan lainnya sekaligus memberikan edukasi yang tepat kepada masyarakat. Dengan demikian, apoteker dan tenaga kefarmasian memiliki kontribusi besar dalam menciptakan sistem pelayanan kesehatan yang aman dan berkualitas.





