Hasil Studi FKTP-UNG Ungkap Preferensi Konsumen terhadap Berbagai Merek Nori di Pasaran Gorontalo

Nori kini tidak hanya dikenal sebagai pelengkap sushi, tetapi juga semakin mudah ditemukan sebagai camilan dan produk pangan siap konsumsi. Kondisi tersebut mendorong pentingnya memahami bagaimana konsumen menilai kualitas nori, mulai dari warna, aroma, rasa, tekstur hingga kandungan gizinya. Hal tersebut dikaji dalam penelitian berjudul “Analisis Organoleptik dan Preferensi Konsumen Terhadap Berbagai Merek Nori Komersial di Pasaran Lokal Gorontalo” yang diterbitkan dalam Fisheries Journal, Volume 16 Nomor 2 Tahun 2026, halaman 860–867.
Penelitian ini dilakukan oleh Wila Rumina Nento, Lukman Mile, Nur’ilsya Hasan, Tsania Nurkhaliza Putri Nahdhori, Amelia Audia Asasi, Mega Laguan, Yulan Mooduto, Milya H. Entengo, Nurul Lasatua, Nuratia Soi, Aldiyanto Sedi, Mohamad Farhan Payuyu, Raihan A. Datau, Meivi Lasande, Aryo Mooduto, dan Aspriyanto Adjana, dari Program Studi Teknologi Hasil Perikanan, Fakultas Kelautan dan Teknologi Perikanan, Universitas Negeri Gorontalo.
Tiga Produk Nori Diuji Secara Organoleptik
Penelitian menggunakan tiga produk nori komersial yang diberi kode A, B, dan C. Sebanyak 25 panelis tidak terlatihyang terdiri atas mahasiswa dan staf perguruan tinggi mengikuti pengujian organoleptik dengan skala hedonik lima tingkat. Pengujian dilakukan terhadap karakteristik warna, aroma, rasa, tekstur, dan penerimaan keseluruhan. Penelitian dilaksanakan pada Agustus 2024 di Laboratorium Teknologi Hasil Perikanan, Universitas Negeri Gorontalo.
Hasil pengujian menunjukkan bahwa produk B memperoleh nilai rata-rata organoleptik tertinggi sebesar 4,56, sedangkan produk A memperoleh 3,84 dan produk C sebesar 3,54. Secara deskriptif, produk B memiliki warna gelap mengilap, aroma panggang khas, rasa gurih-manis, serta tekstur renyah yang stabil. Meski demikian, analisis statistik ANOVA menunjukkan tidak terdapat perbedaan yang signifikan (p>0,05) pada atribut sensorik yang diuji di antara ketiga produk.
Kandungan Gizi Berbeda pada Setiap Produk
Selain karakteristik sensorik, penelitian juga membandingkan informasi komposisi gizi yang tercantum pada kemasan. Parameter yang diamati meliputi energi, lemak, karbohidrat, protein, serat, dan natrium. Produk B dan C memiliki energi tertinggi, masing-masing 25 kkal per porsi, sementara produk A sebesar 15 kkal per porsi. Dari sisi lemak, produk C memiliki kandungan tertinggi yaitu 2,5 gram per porsi, disusul produk B sebesar 2 gram dan produk A tidak mencantumkan kandungan lemak.
Sementara itu, produk A memiliki kandungan protein dan karbohidrat masing-masing 2 gram per porsi, lebih tinggi dibandingkan produk B dan C yang masing-masing memiliki 1 gram protein dan 1 gram karbohidrat. Perbedaan lain terlihat pada kandungan natrium. Produk B memiliki kandungan natrium tertinggi sebesar 90 mg, diikuti produk A 40 mg dan produk C 25 mg per porsi. Peneliti mencatat bahwa kandungan natrium perlu diperhatikan, khususnya bagi konsumen yang membatasi asupan garam.
Rasa dan Tekstur Menjadi Bagian Penting dalam Penerimaan
Penelitian menunjukkan bahwa rasa dan tekstur menjadi aspek penting dalam penerimaan konsumen terhadap produk nori. Produk dengan kandungan lemak lebih tinggi cenderung memperoleh penilaian yang lebih baik pada karakteristik kerenyahan dan rasa gurih, sementara formulasi dengan kandungan lemak lebih rendah dapat memiliki karakteristik sensorik yang berbeda.
Secara keseluruhan, penelitian menyimpulkan bahwa ketiga produk nori komersial memiliki karakteristik sensorik dan komposisi gizi yang berbeda. Hasil kajian tersebut dapat menjadi informasi bagi konsumen dalam mempertimbangkan produk sesuai preferensi, sekaligus menjadi masukan bagi produsen untuk mengembangkan formulasi nori yang mampu menyeimbangkan cita rasa, tekstur, dan nilai gizi.





