Hasil Riset Peneliti UNG Ungkap Tantangan HOTS dalam Pembelajaran Biologi di Sekolah

Kemampuan berpikir tingkat tinggi atau Higher Order Thinking Skills (HOTS) menjadi salah satu indikator penting dalam pembelajaran abad ke-21. Namun, penelitian terbaru dari Universitas Negeri Gorontalo mengungkap bahwa banyak siswa masih mengalami kesulitan dalam mencapai kemampuan tersebut, khususnya dalam pembelajaran Biologi.
Penelitian berjudul “Eksplorasi Kesulitan Belajar Biologi pada Ranah HOTS melalui Concurrent Embedded Strategy: Fondasi Pengembangan Pembelajaran Adaptif Berbasis Deep Learning” ini dilakukan oleh tim yang dipimpin oleh Prof. Dr. Ani N. Hasan, M.Pd., bersama Ilyas H. Husain, S.Pd., M.Pd., Nur Mustaqimah, M.Pd., dan Nurul Fajriyani Usman, M.Pd. Penelitian ini merupakan bagian dari skema Penelitian Fundamental – Reguler Tahun 2025 dengan dukungan pendanaan DPPM Kemdiktisaintek.
Kesulitan belajar Biologi, khususnya pada aspek HOTS, masih menjadi tantangan yang berulang di berbagai jenjang pendidikan, termasuk di tingkat SMA. Banyak siswa belum mampu menguasai keterampilan analisis, evaluasi, hingga kreasi secara optimal. Jika tidak segera diidentifikasi dan ditangani dengan tepat, kondisi ini berpotensi menurunkan motivasi belajar siswa serta memicu kecenderungan untuk menghindari mata pelajaran sains.
Untuk mengkaji permasalahan ini secara mendalam, tim peneliti menggunakan pendekatan mixed methods dengan model Concurrent Embedded Strategy. Metode ini menggabungkan data kualitatif dan kuantitatif secara bersamaan untuk memperoleh gambaran yang lebih komprehensif.
Data dikumpulkan melalui wawancara kognitif untuk menggali kesulitan siswa, tes esai berbasis HOTS, dan angket faktor internal dan eksternal siswa. Analisis dilakukan menggunakan perangkat lunak NVivo untuk data kualitatif dan statistik deskriptif untuk data kuantitatif.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa capaian HOTS siswa masih tergolong rendah. Pada aspek analisis (C4), capaian hanya sekitar 21%, sementara pada aspek evaluasi (C5) dan kreasi (C6) masing-masing berada pada kisaran 14% dan 16%. Temuan ini diperkuat oleh hasil wawancara yang menunjukkan bahwa siswa masih mengalami kesulitan dalam memahami konsep secara mendalam, mengidentifikasi dan mengatasi miskonsepsi, menghubungkan antar konsep, menyusun strategi pemecahan masalah, dan mengembangkan kesadaran metakognitif.
Menariknya, hasil angket menunjukkan bahwa faktor internal seperti minat dan motivasi belajar siswa berada pada kategori tinggi. Dukungan eksternal seperti strategi pembelajaran guru dan lingkungan belajar juga tergolong baik. Namun demikian, tingginya motivasi dan dukungan tersebut belum mampu secara signifikan meningkatkan capaian HOTS siswa. Hal ini menunjukkan adanya kesenjangan antara potensi dan hasil belajar.
Melalui triangulasi data, penelitian ini menegaskan bahwa peningkatan HOTS tidak cukup hanya mengandalkan motivasi atau lingkungan belajar. Dibutuhkan strategi pembelajaran yang lebih adaptif, yang secara khusus dirancang untuk melatih kemampuan analisis, evaluasi, dan kreasi. Pendekatan pembelajaran berbasis deep learning (pembelajaran mendalam) menjadi salah satu solusi yang direkomendasikan untuk menjawab tantangan tersebut.
Penelitian ini tidak hanya mengidentifikasi masalah, tetapi juga menjadi dasar dalam pengembangan model pembelajaran adaptif berbasis deep learning yang lebih efektif dalam meningkatkan kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa.
Temuan ini menegaskan pentingnya transformasi dalam pembelajaran Biologi di sekolah. Di era yang menuntut kemampuan berpikir kritis dan analitis, pendekatan pembelajaran harus mampu mendorong siswa untuk tidak sekadar memahami, tetapi juga mengolah dan mengembangkan pengetahuan secara mendalam.
Ke depan, hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi rujukan bagi guru, sekolah, dan pemangku kebijakan dalam merancang strategi pembelajaran yang lebih efektif dan relevan dengan tuntutan zaman.





