Harmoni Penyembuhan, Terapi Musik Klasik Efektif Reduksi Nyeri dan Kecemasan Pasien Hipertensi

Hipertensi atau tekanan darah tinggi kerap dijuluki sebagai the silent killer karena gejalanya sering kali muncul tanpa keluhan khas, namun secara perlahan meningkatkan risiko penyakit jantung, stroke, hingga gagal ginjal. Di ranah klinis, pasien hipertensi yang menjalani rawat inap tidak hanya berjuang melawan tekanan darah yang melonjak, tetapi juga kerap didera oleh dualisme keluhan: nyeri akut (seperti sakit kepala hebat) dan kecemasan (anxiety) akibat kondisi penyakitnya. Guna mengoptimalkan kualitas pelayanan medis tanpa bergantung sepenuhnya pada obat-obatan kimia (farmakologi), tim peneliti dari Universitas Negeri Gorontalo (UNG) terdiri dari Mutia, Muhammad Isman Jusuf, dan Gusti Pandi Liputo melakukan sebuah studi klinis di RSUD Otanaha, Kota Gorontalo. Riset ini menguji efektivitas terapi musik klasik sebagai intervensi komplementer untuk meredakan nyeri dan kecemasan pada pasien hipertensi.
Ketika seseorang mengalami kecemasan atau merasakan nyeri yang hebat, tubuh secara otomatis akan mengaktifkan sistem saraf simpatis. Kondisi ini merangsang kelenjar adrenal untuk memproduksi hormon stres seperti kortisol dan adrenalin secara berlebihan. Akibatnya, jantung berdetak lebih cepat dan pembuluh darah mengalami penyempitan (vasokonstriksi), yang secara langsung memicu lonjakan tekanan darah ke tingkat yang berbahaya. Untuk memutus rantai umpan balik negatif ini, diperlukan stimulus eksternal yang mampu merangsang tubuh untuk masuk ke fase relaksasi.
Terapi musik klasik dipilih karena memiliki struktur nada yang teratur, ritme yang stabil (umumnya berkisar antara 60–80 ketukan per menit, selaras dengan detak jantung normal manusia), serta tidak menggunakan lirik yang dapat mendistorsi fokus pikiran. Secara neurosains, proses penyembuhan lewat musik ini berlangsung melalui beberapa tahapan:
Penerimaan Stimulus: Gelombang suara dari musik klasik ditangkap oleh telinga luar, menggetarkan gendang telinga, dan diteruskan ke pusat pendengaran di otak.
Stimulasi Sistem Limbik: Otak merespons alunan musik dengan menstimulasi sistem limbik (pusat emosi) dan merangsang hipotalamus.
Pelepasan Hormon Kebahagiaan: Respons relaksasi ini menurunkan aktivitas sistem saraf simpatis dan memicu kelenjar di otak untuk memproduksi hormon endorfin serta enkeform (pereda nyeri alami tubuh). Di saat yang sama, kadar hormon stres (kortisol) di dalam darah menurun drastis.
Studi eksperimental ini dilakukan terhadap pasien hipertensi yang dirawat di Ruang Internal 2 RSUD Otanaha menggunakan pendekatan One Group Pre-test and Post-test Design. Parameter nyeri diukur menggunakan skala penilaian numerik, sementara tingkat kecemasan diukur secara objektif sebelum dan sesudah intervensi. Hasil riset menunjukkan adanya perubahan klinis yang sangat signifikan:
Penurunan Skala Nyeri: Sebelum terapi, pasien rata-rata mengeluhkan nyeri kepala atau tengkuk pada tingkat sedang hingga berat. Setelah mendengarkan terapi musik klasik secara teratur dengan durasi tertentu, skala nyeri mengalami penurunan yang drastis ke tingkat ringan, bahkan sebagian besar pasien merasa nyeri mereka hilang sepenuhnya.
Reduksi Tingkat Kecemasan: Musik klasik terbukti efektif menenangkan gelombang otak pasien, mengurangi ketegangan otot, dan menurunkan skor kecemasan secara signifikan dari kategori cemas sedang/berat menjadi tidak cemas atau cemas ringan.
Temuan dari Universitas Negeri Gorontalo ini memberikan kontribusi penting bagi dunia keperawatan dan kedokteran di tingkat nasional. Terapi musik klasik membuktikan bahwa pemulihan pasien tidak selalu harus berpusat pada penambahan dosis obat analgetik (pereda nyeri) atau obat penenang, melainkan bisa diintegrasikan dengan terapi berbasis kenyamanan lingkungan. Solusi Murah, Aman, dan Efektif: Keunggulan utama dari terapi musik klasik adalah sifatnya yang noninvasif (tidak melukai), tidak memiliki efek samping toksik bagi organ tubuh, serta sangat efisien dari segi biaya. Oleh karena itu, riset ini merekomendasikan kepada manajemen rumah sakit dan tenaga kesehatan di seluruh Indonesia untuk menerapkan terapi musik klasik sebagai bagian dari asuhan keperawatan rutin bagi penderita hipertensi. Selain di rumah sakit, intervensi mandiri ini juga sangat disarankan untuk diterapkan oleh masyarakat di rumah sebagai metode relaksasi harian demi menjaga stabilitas tekanan darah dan mewujudkan masyarakat Indonesia yang lebih sehat secara holistik.
Sources: https://www.jurnal.unismuhpalu.ac.id/index.php/IJHESS/article/view/8330





