Site Logo

Duduk Terlalu Lama, Kebugaran Menurun: Mengapa Mahasiswa Perlu Peduli Indeks Massa Tubuh

Penelitian
Abdul Wahid Rauf
28 Apr 2026
13:32 WITA
233 dilihat
Duduk Terlalu Lama, Kebugaran Menurun: Mengapa Mahasiswa Perlu Peduli Indeks Massa Tubuh

Di tengah padatnya aktivitas perkuliahan, mahasiswa kerap terjebak dalam rutinitas yang menuntut mereka untuk duduk berjam-jam. Mulai dari mengikuti kelas, mengerjakan tugas, hingga belajar di depan laptop, semuanya dilakukan dalam posisi minim gerak. Sekilas terlihat biasa, namun pola hidup seperti ini diam-diam dapat memengaruhi kondisi kesehatan, terutama tingkat kebugaran tubuh.

Salah satu cara sederhana untuk melihat kondisi tubuh adalah melalui Indeks Massa Tubuh (IMT). IMT merupakan perbandingan antara berat badan dan tinggi badan yang digunakan untuk menentukan status gizi seseorang, apakah termasuk kurus, normal, kelebihan berat badan, atau obesitas. Meski tidak mengukur lemak tubuh secara langsung, IMT tetap menjadi indikator praktis yang digunakan dalam dunia kesehatan.

Namun, kesehatan tidak hanya soal angka di timbangan. Kebugaran tubuh juga menjadi aspek penting yang menentukan kualitas hidup seseorang. Kebugaran mencerminkan kemampuan tubuh dalam menjalankan aktivitas sehari-hari tanpa mengalami kelelahan berlebihan. Ini melibatkan kerja optimal otot, daya tahan tubuh, serta sistem jantung dan paru-paru.

Sebuah penelitian pada mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Negeri Gorontalo memberikan gambaran menarik tentang hubungan antara IMT dan kebugaran. Penelitian yang melibatkan 101 mahasiswa ini menggunakan metode cross-sectional, dengan pengukuran kebugaran melalui Harvard Step Test. Hasilnya menunjukkan bahwa sebagian besar mahasiswa memiliki IMT normal, yakni sekitar 57,4 persen. Meski demikian, masih terdapat mahasiswa yang berada pada kategori kurus, kelebihan berat badan, hingga obesitas.

Di sisi lain, tingkat kebugaran mahasiswa justru belum optimal. Sekitar 59,4 persen berada pada kategori “cukup”, sementara sisanya masuk kategori “kurang” dan “kurang sekali”. Yang menarik, tidak ada mahasiswa yang mencapai kategori kebugaran “sangat baik”. Fakta ini menunjukkan bahwa memiliki berat badan normal belum tentu berarti memiliki kebugaran yang optimal.

Analisis lebih lanjut menemukan adanya hubungan signifikan antara IMT dan kebugaran, dengan nilai korelasi -0,526. Artinya, semakin tinggi IMT seseorang, kebugarannya cenderung menurun. Mahasiswa dengan kelebihan berat badan atau obesitas lebih berisiko memiliki kondisi fisik yang kurang bugar dibandingkan mereka yang memiliki IMT normal.

Secara fisiologis, kondisi ini cukup masuk akal. Penumpukan lemak dalam tubuh dapat mengganggu kerja sistem kardiorespirasi. Pembuluh darah yang menyempit membuat jantung dan paru-paru harus bekerja lebih keras untuk memasok oksigen ke seluruh tubuh. Akibatnya, tubuh menjadi lebih cepat lelah saat beraktivitas.

Faktor lain yang turut berperan adalah gaya hidup sedentari-pola hidup dengan aktivitas fisik yang sangat minim. Perkembangan teknologi dan tuntutan akademik membuat mahasiswa lebih banyak duduk, baik saat belajar maupun saat bersantai menggunakan gawai. Jika kebiasaan ini terus berlangsung tanpa diimbangi aktivitas fisik, risiko penyakit seperti obesitas, penyakit jantung, hingga diabetes dapat meningkat.

Lalu, apa yang bisa dilakukan? Jawabannya tidak harus rumit. Aktivitas sederhana seperti berjalan kaki, bersepeda, atau olahraga ringan secara rutin sudah cukup membantu menjaga kebugaran. Kuncinya adalah konsistensi dan kesadaran untuk bergerak lebih aktif di tengah kesibukan.

Pada akhirnya, menjaga kesehatan bukan hanya soal menghindari penyakit, tetapi juga memastikan tubuh tetap mampu berfungsi secara optimal. Bagi mahasiswa, menjaga keseimbangan antara aktivitas akademik dan aktivitas fisik adalah investasi penting. Dengan IMT yang terjaga dan tubuh yang bugar, produktivitas meningkat, fokus belajar lebih baik, dan kualitas hidup pun ikut terangkat. (Artikel penelitian dipublikasikan melalui laman berikut)

Ikuti berita lainnya

PKKMB UNG 2026 Resmi Perkenalkan Logo dan Maskot, Simbol Semangat Kampus Kerakyatan yang Berdampak
31 Jul 2026
08:41 WITA

PKKMB UNG 2026 Resmi Perkenalkan Logo dan Maskot, Simbol Semangat Kampus Kerakyatan yang Berdampak

Abdul Wahid Rauf

Universitas Negeri Gorontalo (UNG) secara resmi memperkenalkan logo dan maskot Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) UNG 2026, sebagai identitas yang akan mewarnai seluruh rangkaian pelaksanaan PKKMB tahun ini. Peluncuran logo dan maskot tersebut menjadi penanda dimulainya semangat baru bagi ribuan mahasiswa baru, yang akan bergabung menjadi bagian dari keluarga besar Universitas Negeri Gorontalo.Mengusung tema "UNG Kampus Kerakyatan, Berdampak untuk Semua", logo dan maskot PKKMB 2026 merepresentasikan komitmen UNG dalam membangun kampus yang inklusif, adaptif, dan mampu menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat melalui pendidikan, penelitian, pengabdian, serta kolaborasi yang berkelanjutan.Pada PKKMB tahun ini, Hulo dan Langi tampil sebagai maskot resmi yang akan menemani seluruh rangkaian kegiatan mahasiswa baru. Keduanya hadir sebagai representasi nilai-nilai keberanian, persatuan, optimisme, dan semangat untuk terus belajar serta berkembang.Hulo dan Langi tidak hanya menjadi karakter visual, tetapi juga membawa pesan bahwa setiap mahasiswa baru memiliki kesempatan yang sama, untuk mengembangkan potensi diri, membangun prestasi, serta memberikan kontribusi positif bagi masyarakat.Melalui kehadiran kedua maskot tersebut, mahasiswa baru diharapkan mampu memulai perjalanan akademik dengan penuh percaya diri, menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan, menghargai keberagaman, serta memiliki kepedulian terhadap lingkungan dan masyarakat.Melalui logo dan maskot PKKMB 2026 ini, UNG kembali menegaskan komitmennya dalam menghadirkan proses pengenalan kehidupan kampus yang edukatif, inspiratif, dan membangun karakter. PKKMB UNG 2026 diharapkan menjadi langkah awal bagi mahasiswa baru untuk mengenal budaya akademik kampus sekaligus mempersiapkan diri menjadi generasi unggul yang siap berkarya, berprestasi, dan memberikan manfaat bagi masyarakat sesuai semangat "UNG Kampus Kerakyatan, Berdampak untuk Semua."

UNG Mengukuhkan Ratusan Lulusan pada Prosesi Wisuda ke-62
31 Jul 2026
00:50 WITA

UNG Mengukuhkan Ratusan Lulusan pada Prosesi Wisuda ke-62

Abdul Wahid Rauf

GORONTALO – Universitas Negeri Gorontalo (UNG) kembali menorehkan langkah penting, dalam mencetak ratusan sumber daya manusia berkualitas melalui pelaksanaan Wisuda ke-62. Sebanyak 700 lulusan dari berbagai program studi resmi dikukuhkan dalam prosesi akademik yang berlangsung khidmat, menandai lahirnya generasi baru yang siap berkarya dan mengabdi bagi masyarakat.Wisudawan yang dikukuhkan berasal dari berbagai jenjang pendidikan, mulai dari program diploma, sarjana, profesi, magister maupun doktor. Prosesi wisuda dipimpin langsung oleh Rektor UNG, Prof. Dr. Ir. Eduart Wolok, S.T., M.T., serta dihadiri jajaran pimpinan universitas, senat akademik, keluarga wisudawan, dan para tamu undangan yang turut menjadi saksi keberhasilan para lulusan menuntaskan perjalanan akademiknya.Suasana haru dan penuh kebanggaan menyelimuti Auditorium UNG ketika satu per satu lulusan dikukuhkan. Tepuk tangan keluarga dan sivitas akademika menjadi bentuk apresiasi atas perjuangan panjang para mahasiswa dalam menyelesaikan pendidikan tinggi di Kampus Kerakyatan.Dalam sambutannya, Rektor UNG, Prof. Dr. Ir. Eduart Wolok, S.T., M.T., menegaskan bahwa wisuda bukanlah garis akhir dari perjalanan, melainkan awal dari babak baru untuk memberikan kontribusi nyata kepada masyarakat."Hari ini bukan akhir dari perjuangan, tetapi awal dari pengabdian. Ilmu yang diperoleh selama di bangku kuliah harus menjadi bekal untuk menghadirkan inovasi, solusi, dan karya nyata bagi masyarakat, daerah, dan bangsa," ujar Rektor.Menurutnya, lulusan UNG harus mampu menjadi insan yang adaptif terhadap perubahan, memiliki integritas, serta mampu bersaing di tengah dinamika global yang terus berkembang. Tantangan masa depan membutuhkan sumber daya manusia yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki karakter kuat, kreativitas, dan kepedulian sosial.Rektor juga mengajak seluruh lulusan untuk terus menjaga nama baik almamater melalui dedikasi dan prestasi di berbagai bidang profesi. Ia meyakini bahwa keberhasilan para alumni akan menjadi cerminan kualitas pendidikan yang dibangun Universitas Negeri Gorontalo."Jadilah agen perubahan di mana pun berada. Bangun karya, ciptakan inovasi, dan berikan manfaat bagi masyarakat sesuai dengan bidang keilmuan yang dimiliki. Itulah makna sesungguhnya dari sebuah pendidikan tinggi," pesannya.Rektor menuturkan momentum wisuda ke-62 menjadi bukti konsistensi UNG dalam menjalankan misinya, sebagai perguruan tinggi yang melahirkan lulusan berdaya saing dan berkarakter. Selain membekali mahasiswa dengan kompetensi akademik dan profesional, UNG juga terus menanamkan nilai-nilai integritas, kepemimpinan, kolaborasi, serta semangat pengabdian yang menjadi fondasi dalam menghadapi tantangan dunia kerja maupun kehidupan bermasyarakat. (**)

Gandeng Organisasi IDI, TBM Cutaneus Fakultas Kedokteran UNG Layani Ratusan Anak pada Sirkumsisi Massal di Kabupaten Gorontalo
30 Jul 2026
04:43 WITA

Gandeng Organisasi IDI, TBM Cutaneus Fakultas Kedokteran UNG Layani Ratusan Anak pada Sirkumsisi Massal di Kabupaten Gorontalo

Abdul Wahid Rauf

GORONTALO – Semangat pengabdian kepada masyarakat kembali ditunjukkan, melalui sinergi antara organisasi profesi kedokteran dan perguruan tinggi. Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Cabang Kabupaten Gorontalo bersama Tim Bantuan Medis (TBM) Cutaneus Fakultas Kedokteran UNG menggelar Bakti Sosial Sirkumsisi Massal di Puskesmas Pilohayanga, Kabupaten Gorontalo, Minggu (26/7/).Kegiatan kemanusiaan tersebut mendapat sambutan luar biasa dari masyarakat. Sekitar 100 anak memperoleh layanan sirkumsisi secara gratis melalui penanganan tim medis yang profesional. Program ini menjadi bagian dari upaya memperluas akses layanan kesehatan yang aman, berkualitas, dan mudah dijangkau, sekaligus memperkuat kolaborasi antara organisasi profesi, fasilitas pelayanan kesehatan, dan institusi pendidikan.Dalam pelaksanaannya, TBM Cutaneus FK UNG menerjunkan tim medis yang dipimpin oleh dr. Rizky Asri, Sp.B. sebagai dokter penanggung jawab. Tim juga diperkuat oleh dr. Randi Mokodoto, dr. Bryan Achmad Otoluwa, dan dr. Dean Gusti Daniel Purba, S.Ked., bersama anggota TBM Cutaneus yang berperan aktif dalam seluruh rangkaian pelayanan.Tidak hanya memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat, kegiatan ini juga menjadi ruang pembelajaran klinis bagi mahasiswa Fakultas Kedokteran UNG. Mahasiswa yang tergabung dalam TBM Cutaneus terlibat langsung dalam berbagai tahapan pelayanan, mulai dari skrining peserta, persiapan tindakan, sterilisasi peralatan, pendampingan selama prosedur sirkumsisi, hingga observasi pascatindakan di bawah supervisi tenaga medis profesional.Ketua Umum TBM Cutaneus FK UNG, Muh. Syahrul Ramadhan, mengatakan bahwa partisipasi organisasi dalam kegiatan sosial merupakan bagian dari komitmen mahasiswa kedokteran untuk terus berkontribusi dalam bidang kesehatan sekaligus memperkuat kerja sama dengan berbagai mitra strategis."Kolaborasi seperti ini tidak hanya memberikan manfaat bagi masyarakat, tetapi juga menjadi wadah bagi mahasiswa untuk belajar, mengasah keterampilan klinis, serta menumbuhkan jiwa pengabdian sebagai calon tenaga kesehatan," ujarnya.Pelaksanaan bakti sosial berlangsung tertib dengan dukungan penuh dari tenaga kesehatan, mahasiswa, serta berbagai pihak yang terlibat. Antusiasme masyarakat menunjukkan tingginya kebutuhan terhadap layanan kesehatan yang mudah diakses sekaligus menjadi bukti bahwa kolaborasi antara organisasi profesi dan perguruan tinggi mampu menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat.“Melalui keterlibatan tersebut, mahasiswa memperoleh pengalaman praktik lapangan yang sangat berharga dalam mengasah keterampilan klinis, meningkatkan kemampuan bekerja dalam tim, serta menumbuhkan empati dan jiwa pengabdian sebagai calon dokter,” terangnya. Melalui kegiatan ini, FK UNG kembali menegaskan komitmennya dalam mendukung peningkatan derajat kesehatan masyarakat melalui pendidikan, pelayanan, dan pengabdian. Sinergi antara IDI Cabang Kabupaten Gorontalo dan TBM Cutaneus FK UNG diharapkan terus berlanjut sebagai model kolaborasi yang tidak hanya memperluas akses pelayanan kesehatan, tetapi juga mencetak tenaga kesehatan yang kompeten, profesional, dan memiliki kepedulian sosial yang tinggi.

Peneliti UNG Ungkap Tepung Ikan Cakalang Berpotensi Tingkatkan Produktivitas Ayam Lokal
30 Jul 2026
02:33 WITA

Peneliti UNG Ungkap Tepung Ikan Cakalang Berpotensi Tingkatkan Produktivitas Ayam Lokal

Abdul Wahid Rauf

Kebutuhan bahan baku pakan unggas terus meningkat, sementara harga tepung ikan sebagai salah satu sumber protein utama dalam pakan cenderung semakin mahal dan sebagian masih bergantung pada pasokan dari luar negeri. Kondisi tersebut mendorong para peneliti mencari bahan baku alternatif yang lebih ekonomis, mudah diperoleh, sekaligus mampu mendukung produktivitas ternak. Salah satu sumber yang dinilai menjanjikan adalah limbah pengolahan ikan cakalang yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal.Potensi tersebut menjadi fokus penelitian kolaboratif yang dilakukan oleh Srisukmawati Zainudin, Hartutik, Edhy Sudjarwo, dan Osfar Sjofjan melalui penelitian berjudul The Effects of Replacing Fish Meal with Skipjack Tuna Offal Meal on the Growth Performance and Carcase Quality of Local Chickens. Penelitian ini mengevaluasi tingkat penggunaan tepung limbah ikan cakalang kukus (steamed skipjack tuna offal meal/SSFO) sebagai pengganti tepung ikan dalam pakan ayam lokal untuk memperoleh tingkat penggunaan yang paling optimal dalam meningkatkan performa pertumbuhan dan kualitas karkas ayam.Penelitian ini memiliki relevansi yang tinggi bagi Indonesia, khususnya Gorontalo, yang merupakan salah satu daerah penghasil ikan cakalang. Data yang dikutip dalam penelitian menunjukkan bahwa produksi cakalang di Gorontalo mencapai lebih dari 13 ribu ton pada tahun 2020. Selama ini, bagian sisa pengolahan seperti usus, lambung, hati, jantung, paru-paru, dan telur ikan masih belum dimanfaatkan secara maksimal, padahal memiliki kandungan nutrisi yang berpotensi menjadi bahan baku pakan ternak.Untuk menguji potensinya, para peneliti mengganti tepung ikan dalam ransum dengan tepung limbah ikan cakalang kukus pada beberapa tingkat penggunaan. Selama pemeliharaan, berbagai parameter diamati, mulai dari konsumsi pakan, pertambahan bobot badan, rasio konversi pakan (feed conversion ratio/FCR), nilai income over feed cost (IOFC), bobot karkas, persentase karkas, hingga kandungan protein dan lemak daging ayam.Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan 5% tepung limbah ikan cakalang kukus memberikan performa terbaik. Pada tingkat ini, ayam lokal menghasilkan bobot badan akhir dan bobot karkas yang lebih tinggi, disertai nilai FCR yang lebih rendah dibandingkan perlakuan lainnya. Artinya, ayam mampu memanfaatkan pakan secara lebih efisien untuk menghasilkan pertambahan bobot badan. Selain itu, nilai IOFC juga menjadi yang tertinggi, menunjukkan bahwa penggunaan bahan pakan tersebut berpotensi meningkatkan keuntungan usaha peternakan.Dari sisi kualitas daging, penelitian menemukan bahwa penggantian tepung ikan dengan tepung limbah ikan cakalang kukus tidak memberikan pengaruh nyata terhadap kandungan protein daging, sehingga kualitas protein tetap terjaga. Sementara itu, kandungan lemak daging mengalami perubahan, namun masih berada dalam kisaran normal untuk daging ayam. Peneliti juga melaporkan bahwa persentase karkas dada tidak berbeda nyata antarperlakuan, meskipun bobot karkas meningkat pada tingkat penggunaan tertentu.Temuan ini menunjukkan bahwa limbah ikan cakalang memiliki potensi besar untuk dimanfaatkan sebagai bahan baku pakan alternatif. Selain membantu mengurangi ketergantungan terhadap tepung ikan, pemanfaatan hasil samping industri perikanan juga dapat mengurangi limbah organik sekaligus meningkatkan efisiensi pemanfaatan sumber daya. Pendekatan ini sejalan dengan konsep ekonomi sirkular, yaitu mengubah limbah menjadi produk yang memiliki nilai tambah.Bagi peternak, hasil penelitian ini membuka peluang untuk memanfaatkan bahan baku lokal yang lebih mudah diperoleh tanpa mengorbankan performa produksi ayam. Di daerah penghasil cakalang seperti Gorontalo, inovasi ini berpotensi menekan biaya pakan sekaligus meningkatkan nilai ekonomi limbah hasil perikanan.Secara keseluruhan, penelitian ini menunjukkan bahwa tepung limbah ikan cakalang kukus dapat digunakan sebagai pengganti tepung ikan hingga tingkat 5% dalam pakan ayam lokal. Penggunaan pada tingkat tersebut terbukti mampu meningkatkan performa pertumbuhan, memperbaiki efisiensi penggunaan pakan, meningkatkan bobot karkas, serta berpotensi meningkatkan keuntungan peternak. Temuan ini menjadi salah satu alternatif inovasi pakan yang tidak hanya lebih ekonomis, tetapi juga mendukung pemanfaatan sumber daya lokal dan pengembangan peternakan yang lebih berkelanjutan. (Artikel penelitian ini dipublikasikan melalui laman berikut)

Lihat Semua Berita