Duduk Terlalu Lama, Kebugaran Menurun: Mengapa Mahasiswa Perlu Peduli Indeks Massa Tubuh

Di tengah padatnya aktivitas perkuliahan, mahasiswa kerap terjebak dalam rutinitas yang menuntut mereka untuk duduk berjam-jam. Mulai dari mengikuti kelas, mengerjakan tugas, hingga belajar di depan laptop, semuanya dilakukan dalam posisi minim gerak. Sekilas terlihat biasa, namun pola hidup seperti ini diam-diam dapat memengaruhi kondisi kesehatan, terutama tingkat kebugaran tubuh.
Salah satu cara sederhana untuk melihat kondisi tubuh adalah melalui Indeks Massa Tubuh (IMT). IMT merupakan perbandingan antara berat badan dan tinggi badan yang digunakan untuk menentukan status gizi seseorang, apakah termasuk kurus, normal, kelebihan berat badan, atau obesitas. Meski tidak mengukur lemak tubuh secara langsung, IMT tetap menjadi indikator praktis yang digunakan dalam dunia kesehatan.
Namun, kesehatan tidak hanya soal angka di timbangan. Kebugaran tubuh juga menjadi aspek penting yang menentukan kualitas hidup seseorang. Kebugaran mencerminkan kemampuan tubuh dalam menjalankan aktivitas sehari-hari tanpa mengalami kelelahan berlebihan. Ini melibatkan kerja optimal otot, daya tahan tubuh, serta sistem jantung dan paru-paru.
Sebuah penelitian pada mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Negeri Gorontalo memberikan gambaran menarik tentang hubungan antara IMT dan kebugaran. Penelitian yang melibatkan 101 mahasiswa ini menggunakan metode cross-sectional, dengan pengukuran kebugaran melalui Harvard Step Test. Hasilnya menunjukkan bahwa sebagian besar mahasiswa memiliki IMT normal, yakni sekitar 57,4 persen. Meski demikian, masih terdapat mahasiswa yang berada pada kategori kurus, kelebihan berat badan, hingga obesitas.
Di sisi lain, tingkat kebugaran mahasiswa justru belum optimal. Sekitar 59,4 persen berada pada kategori “cukup”, sementara sisanya masuk kategori “kurang” dan “kurang sekali”. Yang menarik, tidak ada mahasiswa yang mencapai kategori kebugaran “sangat baik”. Fakta ini menunjukkan bahwa memiliki berat badan normal belum tentu berarti memiliki kebugaran yang optimal.
Analisis lebih lanjut menemukan adanya hubungan signifikan antara IMT dan kebugaran, dengan nilai korelasi -0,526. Artinya, semakin tinggi IMT seseorang, kebugarannya cenderung menurun. Mahasiswa dengan kelebihan berat badan atau obesitas lebih berisiko memiliki kondisi fisik yang kurang bugar dibandingkan mereka yang memiliki IMT normal.
Secara fisiologis, kondisi ini cukup masuk akal. Penumpukan lemak dalam tubuh dapat mengganggu kerja sistem kardiorespirasi. Pembuluh darah yang menyempit membuat jantung dan paru-paru harus bekerja lebih keras untuk memasok oksigen ke seluruh tubuh. Akibatnya, tubuh menjadi lebih cepat lelah saat beraktivitas.
Faktor lain yang turut berperan adalah gaya hidup sedentari-pola hidup dengan aktivitas fisik yang sangat minim. Perkembangan teknologi dan tuntutan akademik membuat mahasiswa lebih banyak duduk, baik saat belajar maupun saat bersantai menggunakan gawai. Jika kebiasaan ini terus berlangsung tanpa diimbangi aktivitas fisik, risiko penyakit seperti obesitas, penyakit jantung, hingga diabetes dapat meningkat.
Lalu, apa yang bisa dilakukan? Jawabannya tidak harus rumit. Aktivitas sederhana seperti berjalan kaki, bersepeda, atau olahraga ringan secara rutin sudah cukup membantu menjaga kebugaran. Kuncinya adalah konsistensi dan kesadaran untuk bergerak lebih aktif di tengah kesibukan.
Pada akhirnya, menjaga kesehatan bukan hanya soal menghindari penyakit, tetapi juga memastikan tubuh tetap mampu berfungsi secara optimal. Bagi mahasiswa, menjaga keseimbangan antara aktivitas akademik dan aktivitas fisik adalah investasi penting. Dengan IMT yang terjaga dan tubuh yang bugar, produktivitas meningkat, fokus belajar lebih baik, dan kualitas hidup pun ikut terangkat. (Artikel penelitian dipublikasikan melalui laman berikut)





