Dosen FKTP UNG Temukan Inovasi Pengawetan Ikan Berbasis Kunyit, Lebih Aman dan Ramah Lingkungan

Inovasi pemanfaatan bahan alami kembali dikembangkan oleh akademisi Fakultas Kelautan dan Teknologi Perikanan Universitas Negeri Gorontalo. Tim peneliti yang terdiri dari Rita Marsuci Harmain, Faiza A. Dali, dan Sri Rahayu Kalaka berhasil mengungkap efektivitas larutan kunyit sebagai alternatif pengawet alami untuk menjaga mutu ikan.
Dalam penelitian yang telah dipublikasikan di jurnal ilmiah, tim menemukan bahwa larutan Curcuma domestica Val mampu mempertahankan kualitas ikan beloso (Glossogobius sp.), yang dikenal mudah mengalami pembusukan jika tidak ditangani dengan baik.
Penelitian ini berangkat dari keterbatasan metode pengawetan konvensional menggunakan es, yang dinilai kurang efisien dalam penyimpanan dan distribusi. Sebagai solusi, peneliti menguji larutan kunyit dengan berbagai konsentrasi, yakni 10, 20, hingga 30 persen, serta variasi waktu perendaman hingga 48 jam.
Hasilnya menunjukkan bahwa kombinasi konsentrasi dan lama perendaman memberikan pengaruh signifikan terhadap kualitas ikan, terutama pada parameter pH dan Angka Lempeng Total (ALT) sebagai indikator mikrobiologis. Temuan terbaik diperoleh pada penggunaan larutan kunyit 30 persen dengan waktu perendaman 24 jam.
Pada kondisi tersebut, nilai pH ikan tercatat 5,72 dan nilai ALT sebesar 3,2x10 koloni/gram—masih berada dalam batas standar mutu ikan segar berdasarkan SNI. Penurunan pH ini menunjukkan adanya proses biologis yang mampu menekan pertumbuhan mikroorganisme penyebab pembusukan.
Kandungan senyawa aktif dalam kunyit, seperti fenol, juga berperan penting sebagai antibakteri alami yang mampu menghambat perkembangan bakteri pada ikan. Namun, penelitian ini juga mengingatkan bahwa waktu perendaman yang terlalu lama justru dapat meningkatkan jumlah bakteri, sehingga diperlukan pengaturan yang tepat untuk hasil optimal.
Temuan ini menjadi kontribusi penting dalam pengembangan teknologi pengolahan hasil perikanan berbasis bahan alami. Selain mudah diterapkan oleh masyarakat, metode ini dinilai lebih aman dan ramah lingkungan dibandingkan penggunaan bahan kimia.
Ke depan, tim peneliti merekomendasikan kajian lanjutan untuk menguji parameter kualitas lainnya, seperti Total Volatile Base (TVB), guna memperkuat efektivitas metode ini. Diharapkan, inovasi ini dapat menjadi solusi praktis bagi masyarakat dan pelaku usaha perikanan dalam menjaga kesegaran ikan secara berkelanjutan, sekaligus meningkatkan nilai tambah produk perikanan lokal.





