Dorong Wisata Hiu Paus Mendunia, Mahasiswa KKN UNG Hadirkan Transformasi Digital di Desa Botubarani

GORONTALO – Desa Botubarani, yang selama ini dikenal sebagai "rumah" bagi Hiu Paus (Whale Shark), kini bersiap naik kelas dalam hal promosi dan pengelolaan wisata. Sebanyak mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik Tahap I Universitas Negeri Gorontalo (UNG) resmi memulai misi pengabdian selama 45 hari di desa tersebut, Senin (4/5/2026).
Kedatangan tim KKN yang disambut hangat oleh pemerintah Desa Botubarani ini membawa semangat baru melalui tema: “Pemberdayaan Masyarakat melalui Pengembangan Media Informasi Digital untuk Mendukung Sport Tourism Hiu Paus Berkelanjutan.”
Di era digital saat ini, keindahan alam saja tidak cukup tanpa jangkauan informasi yang luas. Mahasiswa KKN UNG melihat peluang besar untuk memperkuat branding wisata Hiu Paus melalui pendekatan berbasis teknologi.
Program kerja mahasiswa tidak hanya sebatas teori. Mereka akan fokus pada:
1) Pengembangan Konten Digital: Menciptakan visual dan narasi yang menarik untuk mempromosikan pesona Hiu Paus di berbagai platform media sosial.2) Platform Informasi Wisata: Membangun ekosistem informasi digital yang memudahkan wisatawan mendapatkan akses data terpadu.3) Edukasi Berkelanjutan: Memberikan pemahaman kepada warga desa dan pelaku wisata mengenai pentingnya praktik sport tourism yang ramah lingkungan agar kelestarian Hiu Paus tetap terjaga
Dosen Pendamping Lapangan (DPL), Nur Oktavin Idris, M.Eng, mengungkapkan bahwa strategi digital adalah kunci untuk meningkatkan daya saing desa wisata di kancah nasional maupun internasional.
"Pendekatan berbasis digital bukan sekadar tren, melainkan strategi penting untuk meningkatkan daya saing desa wisata. Mahasiswa diharapkan dapat membantu masyarakat tidak hanya dalam mempromosikan wisata secara lebih luas, tetapi juga memastikan pesan tentang wisata yang berkelanjutan tersampaikan dengan baik kepada wisatawan," jelas Nur Oktavin.
Pemerintah Desa Botubarani menyambut positif inisiatif ini. Sinergi antara mahasiswa, perangkat desa, dan masyarakat setempat menjadi motor penggerak untuk mewujudkan ekosistem wisata yang lebih profesional dan berbasis teknologi.
Kehadiran mahasiswa lintas disiplin ilmu ini diharapkan tidak hanya meninggalkan output berupa platform digital, tetapi juga mentransformasi pola pikir masyarakat desa agar lebih siap menghadapi tantangan pariwisata modern.





